Wanita Bergaun Merah

Namaku Teguh dulu aku seorang mahasiswa di perguruan tinggi dijalan Setia Budi, sebagai seorang senior aku sudah merasakan asam garam kampus tercintaku ini. kini aku sudah lulus, banyak cerita yang aku alami dikampusku termasuk pengalaman terburukku dimana sampai saat ini aku masih mengingatnya tentang sosok wanita bergaun merah.

loading...

Malam itu aku dan temanku baru saja selesai mempersiapkan untuk PAB (pengukuhan anggota baru) yang akan dilaksanakan besok disubang, setelah cukup lelah kamipun bersantai sambil mengobrol dikelas bahasa yang sekarang telah diratakan. Waktu itu jam menunjukan 00:30 malam suasana kampuspun memang benar-benar sudah sepi, sesekali terdengar bunyi jangkrik. Saat itu aku berinisiatif ambil gitar untuk menghilangkan rasa sepi dan kantuk.

Dan kami pun menyanyi sambil tertawa-tawa. Sampai kami mendengar ada suara yang menyuruh kami diam. Tapi, saat aku coba dengar lagi suara itu mendadak hilang dan tidak muncul lagi. Semakin malam udara semakin dingin, aku kembali kedalam sebentar untuk membawa jaket dan buang air kecil. Memang gedung kelas ini adalah gedung kelas tua yang penerangannya kurang bagus dan toilet juga sangat tua, saat aku berada didalam toilet aku tidak berpikir apa-apa, hingga saat aku mengambil air menggunakan gayung.

Hah!! rambut siapa nich. Banyak sekali rambut panjang didalam bak itu, dan tiba-tiba saja ada tetesan air dari atas toilet ini. Saat aku melihat keatas, ternyata memang ada saluran yang bocor, walaupun penasaran lalu akupun kembali kedepan. Namun saat aku baru saja keluar dari kamar mandi, mendadak tercium semerbak wangi melati lalu disusul dengan suara tangisan seorang wanita.

Awalnya kupikir itu temanku, aku coba mencari sumber suara itu dan aduh saat kulihat kearah balkon. ada seorang wanita bergaun merah berdiri disana, wanita itu berambut panjang terurai menutupi mukanya dan dia berdiri diujung balkon seperti hendak akan terjun. Karena takut spontan aku langsung membalikan badanku, kurasakan badanku lemas dan bulu kudukku berdiri.

Aku langsung berjalan keluar menemui teman-temanku. Tapi saat sampai diluar, aku sudah mendapati teman-temanku sudah tidak berada disana. Kemana nich mereka, sempat terpikir mereka sudah kembali ke ruang himpunan. Dan aku putuskan untuk menyusul mereka, sambil menggerutu karena mereka semua meninggalkan aku sendiri. Jarak dari gedung ini keruang himpunan lumayan jauh, nyaliku sebenarnya ciut setelah melihat sosok perempuan tadi, aku lalu berjalan menuju ke ruang himpunan itu sendirian.

Aku berjalan melewati taman, yang banyak terdapat pohon besar disana. Dan aku merasa suara tangis yang tadi kudengar itu, sepertinya mengikutiku. aku berhenti sebentar dan melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Aku makin ketakutan, kuteruskan lagi perjalananku ke ruang himpunan, namun sekarang yang kudengar. Bukanlah suara tangisan lagi tapi suara langkah, seperti serombongan orang yang sedang berlari.

Suaranya berasal dari belakangku, saat aku lihat kebelakang. Dibelakangku berbaris beberapa orang seperti serombongan tentara, awalnya aku pikir kalo itu serombongan keamanan kampus yang sedang menerima pendidikan dasar juga. Tapi saat suara dan gerak langkah itu semakin dekat berada dibelakangku dan tak lama mereka melewatiku. Hah! aku tidak percaya dengan apa yang sekarang aku lihat.

Kumpulan itu ternyata bukanlah serombongan keamanan kampusku melainkan adalah sekumpulan tentara yang sedang berlari dan mereka semuanya tanpa kepala. Mereka berlari sambil memegang kepala sendiri, seketika badanku lemas, jantungku seperti mau berhenti, nafasku sesak. Sekumpulan tentara itu menjauh dan menghilang. Aku pun langsung berlari panik menuju ruang himpunan, sesampainya dihimpunan aku tidak menemukan siapa-siapa disana.

Kemana perginya mereka, antara marah dan takut aku memaki-maki mereka “woy yang benerlah, pada dimana sich”. ruang himpunan sangatlah gelap dan pintunya terkunci, dari jendela aku mengintip dan melihat layar komputer yang masih menyala dan dalam keadaan panik, aku mencoba menggedor pintunya “woy kalian didalamkan, bukain pintunya dong”.

Ketika aku terlihat mencoba membangunkan mereka, tiba-tiba kurasakan, ada yang mengelus pundakku. Di sambung suara tertawa yang sangat seram, dan suara itu berasal dari arah atas. Saat aku menengadah keatas. Reflek aku berteriak, sosok tadi, wanita bergaun merah yang kulihat dibalkon kini ada diatasku, dia mengikutiku dan kali ini melayang disekitar pohon yang tinggi-tinggi itu.

Aku gedor lagi ruang himpunan sambil terus berteriak, sambil kutendang pintu aku lihat apakah wanita itu masih melayang diatasku. Ternyata sosok itu sudah menghilang, perasaanku agak tenang. aku gedor lagi pintu himpunan untuk membangunkan teman-temanku dan perlahan. Pintu itupun terbuka, saat pintu itu terbuka yang keluar bukanlah temanku, tapi wanita itu. Wanita berbaju merah dan berambut panjang itu sekarang berdiri tepat didepanku, dia tertawa sambil menyeringai.

Aku yang ketakutan langsung membalikan badan berlari. Yang aku ingat kemudian, aku tersandung sesuatu dan terjatuh tersungkur dan seketika pandanganku gelap. Esoknya aku ditemukan temanku didepan himpunan, setelah digotong kedalam. aku sempat panik dan melihat sekelilingku, setelah ditenangkan oleh temanku. aku pun bercerita kepada beberapa orang yang ada disana, setelah selesai bercerita salah seorang seniorku melanjutkan dengan cerita yang dia tau.

Katanya memang kalo sudah malam, disana kita tidak boleh berisik karena bisa mengundang atau mengusik makhluk yang ada di area ini seperti semalam, dan konon sosok tentara tanpa kepala itu sering muncul berjalan-jalan disekitaran kampus tapi tidak hanya sosok itu saja. Ada juga sosok wanita dengan rambut panjang bergaun merah yang menghuni gedung bahasa dan bahkan sering bergentayangan disekitar kolam tepatnya didekat pohon beringin. Itu aku yakin yang aku lihat tadi malam adalah kedua sosok tersebut.

Share This: