Wewe Gombel Menyerupai Ibu Yadi

Aku ingat sekali kejadiannya sore hari, malamnya adalah malam jumat, temanku yang bernama Yadi, Yadi adik kelasku, waktu itu aku masih duduk di kelas 3 SD dan Yadi kelas 2 SD, umurku saat itu 8 tahunan. Cerita wewe gombel menyerupai ibu Yadi ini dimulai ketika sore hari, Yadi sedang bermain bersama anak-anak lainnya di samping rumah aku, saat menjelang maghrib teman-teman Yadi sudah pulang semua kerumahnya masing-masing, karena hari sudah mulai gelap.

Tinggalah Yadi seorang diri yang sedang asyik bermain tanah dibawah pohon mangga rumahku, namanya anak kecil main apa saja, yang menurut seneng yah jadi lupa waktu. Saat ibunya memanggil Yadi untuk segera pulang kerumah, panggilan ibunya tak di hiraukan. Saat kumandang adzan maghrib terdengar, ibu Yadi pun bergegas menuju mushola untuk melaksanakan shalat berjamaah, ibu Yadi pun lupa, kalau Yadi itu belum pulang kerumah, saat tadi dia mau menjemputnya.

Yadi yang masih bermain dibawah pohon mangga itu, melihat ibunya datang kembali, Yadi segera menghentikan bermainnya, takut dirinya kena marah oleh ibunya, pikirnya saat itu. Ibu Yadi langsung menggandeng tangan Yadi dengan kuat, dan menuntunnya berjalan untuk segera pulang kerumah. Saat itu Yadi merasa heran, mengapa ibunya gak banyak bicara sama sekali, hanya diam datar saja tak seperti biasanya.

Lalu Yadi terus berjalan dengan ibunya yang jelmaan dari makhluk gaib, saat itu Yadi patuh saja, jalan yang belum pernah Yadi lalui membuat Yadi bertanya-tanya dalam hati, jalan yang sangat jauh sekali menurut penglihatan Yadi waktu itu, kemudian Yadi dituntun berjalan belok, ke rumah yang sangat mewah sekali, bangunan rumah bertembok, berpilar dan kokoh

Pada saat Yadi masuk ke rumah mewah tersebut, nyatanya Yadi hanya masuk rumahku tetapi lewat pintu belakang dapur, yang saat itu penerangannya hanya lampu dari minyak tanah. Oh iya, aku beri sedikit gambaran rumahku, halamannya cukup luas, ada sekitar 10 pohon mangga dan pohon nangka dan sebagian besarnya banyak juga pohon bambu yang tumbuh berjajar, dan ada kandang kambingnya.

Ternyata Yadi sebenarnya memang hanya masuk kedalam rumahku saja, dalam penglihatan Yadi dia masuk rumah yang bagus dan mewah. Saat Yadi berdiri dipintu dapur, kami pun terkejut semua. Kebetulan saat itu pintu dapurku belum di tutup masih terbuka. Ibuku langsung bicara dengan Yadi.

“Yadi, ngapain kamu malam-malam masih keluyuran disini? Nanti Emak kamu cari loh”.

“Gak apa-apa Budhe, aku mau main disini saja! Di sini rumahnya bagus banget”.

Ibuku keheranan, dan kami saling berpandangan saat itu, walah apa gak salah ini bocah (anak) tempat dapur kok dibilang rumah bagus?!

“Ya sudah sana kamu masuk Yadi, ada mbak Nurul dan mas Pipin tuh, Budhe gorengkan tahu ya, kalian makan tahu dengan kecap”.

Kami pun serentak berkata “iya”, suasana diluar rumahku ternyata turun hujan rintik-rintik. Setelah kami makan tahu dan kecap yang dibuat oleh ibu, aku tidak melihat keanehan pada diri Yadi, malam itu aku, Yadi dan mas Pipin gembira-gembira saja layaknya anak kecil.

Di luar rumah warga sekampung, sedang heboh atas kehilangannya Yadi, warga dikampungku bila ada anak yang menghilang secara tiba-tiba pasti membawa peralatan dapur untuk ditabuh lalu berjalan keliling kampung, mereka sudah mengerti bila ada anak warga yang menghilang pasti itu ulah “Wewe Gombel”, kalau sekarang berbeda, bila ada anak yang menghilang secara tiba-tiba, sudah pasti ulah pencuri anak.

loading...

Seperti wajan, dandang, panci pasti semua ditabuh. *Bluk, neng. *Bluk, neng. *Bluk, neng. *Bluk, neng. Ibu Yadi pun berusaha meminta pertolongan kepada orang yang memahami ilmu gaib, untuk mencari tahu keberadaan anaknya saat itu. Para warga pun tidak tinggal diam untuk membantu ibu Yadi secara bersama-sama, menelusuri pemakaman disekitar desa.

Anehnya saat itu. kami dan keluarga dirumah, tidak mendengar sama sekali suara gaduh yang ditabuh para warga saat itu, padahal arah menuju pemakaman harus melewati rumah aku terlebih dahulu. Hari pun hampir pagi, para warga mulai lelah dan menghentikan pencariannya, pencarian akan dilanjutkan esok malamnya. Di malam itu aku, Yadi dan mas Pipin tertidur lelap sekali, aku lihat sebelum beranjak tidur, Yadi mengganti bajunya yang dipinjamkan oleh adikku, aku perhatikan tidak ada yang aneh dengan diri Yadi.

Setelah hampir pagi sekitar jam 5 subuh, Yadi dibangunkan oleh ibu lalu disuruh pulang kerumahnya. Kehebohan para warga terjadi waktu melihat Yadi keluar dari halaman rumahku. Yadi pun ditanya oleh warga dan tetangga.

“Semalam kamu pergi kemana Yadi? Ibumu menangis mencarimu”.

“Aku juga heran, Pakde, Budhe, waktu ibu menjemput aku saat maghrib, ibu menuntun aku untuk pulang kerumah, kenapa pulangnya kerumah mbak Nurul, aku jadi bingung Pakde, waktu ibu lebih banyak diam dan Pay*dara ibu besar dan memanjang”.

Para warga dan tetangga pun sudah mengerti pasti ini ulah dari hantu wewe gombel.

“Ya sudah mari pakde, budhe antar kerumahmu”.

Sesampai dirumah Yadi, ibu Yadi menangis bahagia, karena anaknya pulang dengan selamat dan masih hidup, tidak ada luka sedikitpun, lalu ibu Yadi segera memandikan Yadi dengan kembang 7 rupa. Sejak kejadian Yadi mendadak hilang dari halaman rumahku, warga dan tetangga mengetahui kalau dihalaman rumahku bersarang ada sesosok penampakan wewe gombel, anak-anak disekitar desa bila orang tuanya menyuruhnya pulang kerumah saat maghrib, mereka menjadi amat patuh. Tamat.

Salim

Salim

Kasih sayang terhadap sesama, walau pun kita berbeda agama dan ras. Kita berbeda-berbeda bahasa namun tetap satu tujuan (Bhineka Tunggal Ika).

All post by:

Salim has write 16 posts

Please vote Wewe Gombel Menyerupai Ibu Yadi
Wewe Gombel Menyerupai Ibu Yadi
Rate this post