Yang Kunci Kamar Tadi Siapa Ya? Misteri Yang Terungkap

Namaku Muhammad Fardiansyah Fasya Raffaysa, aku suka berbagi kisah dengan teman-teman. Inilah lanjutan dari kisah kemarin.

“Ibu, Ayah buka pintunya! Aku menggedor-gedor pintu kamar orang tua. Aku terpaksa mendobrak pintu kamar orang tuaku. Hah! aneh kemana ayah dan ibuku? lalu siapa yang mengunci dari dalam pintunya. Aku merinding dan kembali memeriksa kedua orang tuaku dikamar orang tua, tapi tidak ada. Biasanya jika Ac kamarnya rusak, maka kedua orang tuaku tidur di kamar tamu lantai 2.

Aku berlari memeriksa dan astaga tetap tidak ada. Aku merinding kembali dan segera menuruni tangga kembali masuk ke bilik kamarku. Hah! apa lagi yang terjadi, Masya Allah! bukankah sebelum ke lantai dua, aku masuk ke bilik air di kamar kedua orang tuaku dan melihat keran airnya tidak menyala dan aku tidak mematikan lampu? Tapi kenapa saat aku kembali keran airnya menyala dan lampunya mati.

Aku masuk ke bilik tidurku dan mendengar suara gaduh dari dapur. Ku lihat dari jendela ternyata ada dua anak kecil berwajah pucat sedang mondar-mandir kesana kemari. Aku pun langsung menutup badanku dengan selimut dan membaca ayat kursi dengan mengharapkan perlindungan dari Allah. Aku pun tertidur dan terbangun kembali saat ibu membangukanku, ternyata ibu dan ayah sedang menjenguk Hanin yang sedang sakit. “nak, bangun!” kata ibu membangunkanku. Aku langsung peluk ibu dan ibu memelukku. Ibu bertanya tentang hal apa yang membuat aku takut. Aku pun menceritakan pada ibu tentang kejadian yang baru saja kualami.

Ibu menceritakan kepada ayah, namun ayah hanya menanggapi hal itu hanya isapan jempolku. Malam berikutnya, aku minta ayah dan ibuku menemaniku tidur dikamarku. Namun, kali ini cukup aku harus tidur sendiri tanpa ditemani ayah dan ibuku. Syukurlah, adikku datang menemaniku. Malam itu, aku belum tertidur karena menyelesaikan PR yang menumpuk dari sekolahku.

Aku kembali mendengar suara gaduh dari dapur. Aku memberanikan diri melihat dari jendela. Hah, Masya Allah. kali ini empat orang anak kecil dan wanita yang memakai baju merah yang sudah koyak. Aku membangunkan adikku. “a.. apa sih, berisik, hah?” Ia terbangun dengan mata terbelakak melihat hal aneh di dapur. Ia menangis dan menyuruhku menutup gorden kamar. “Esok, kita ceritakan kepada ayah dan ibu.” katanya kepadaku. Aku hanya mengangguk-angguk.

Esok paginya, aku dan adikku menceritakan hal aneh tersebut. Tapi kali ini ayah membenarkannya, karena ayah juga mendengar suara gaduh dari dapur. Ibu yang menceritakan pada ayah bahwa ayah menyuruh ibu mengambil air di dapur dan ibu melihat wanita yang berbaju merah menatap ke arah ibu. Ibu sangat ketakutan dan kembali ke kamar juga menceritakan hal itu. Kali ini ayah tidak menanggapinya sebagai isapan jempolku. Malamnya, aku kembali mendengar suara kotak Musik dari ruang tengah.

Aku masih trauma menyaksikan hal yang baru saja kualami. Ku lihat ayah memeriksa sekelilingnya namun tidak ada yang ada hanya lantunan lagu kotak Musik dan aku melihat ada anak kecil yang sedang berdiri disamping kotak musik. Ayah kemudian mematikan kotaknya. Lho, kenapa aku yang dapat melihat hal-hal seperti itu? Ayah kembali menenangkanku dan mengatakan tidak ada apa-apa yang terjadi.

Esok harinya sebelum berangkat ke sekolah, Aku menceritakan kembali kepada ayah dan ibu, ayah masih menjawab dengan jawaban yang sama dan ibu masih terlihat gugup dan takut. Kami berangkat ke sekolah, di sekolah banyak guru/cikgu yang menanyakan aku kenapa terlambat, aku mulai menceritakan semua kisah yang kualami kepada teman-teman dan guru.

Cikgu Rasni menyarankan agar pindah saja dari rumah baru itu karena masih banyak rumah yang dijual dan lebih bagus, namun aku hanya tersenyum. Kali ini pelajaran Matematika dan aku masih terlihat gugup dan kurang focus oleh teman-temanku. Kali ini aku pulang lebih awal dijemput ayah dan sepulang sekolah rumahku ramai ternyata saat digali bawah dapur ditemukan kerangka seorang wanita dan empat orang anak kecil dan ternyata rumahku adalah rumah milik seorang wanita yang ditinggal suaminya beserta empat orang anak yang masih kecil.

Pada awal November lalu, rumah wanita tersebut dirampok dan korbannya dibunuh dan dikubur di dapur. Saat ditemukan rangka dari korban, maka korban langsung dikubur di pemakaman. Ayah, Ibu, Aku dan adikku menghadiri pemakaman korban. Sebagai tanda hormat rumahnya telah kami tempati.

loading...

Malam setelah pemakaman korban, aku mendengar suara ucapan terima kasih dari dapur namun kali ini aku melihat dari jendela wanita tersebut menoleh kearahku sambil mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan kearahku. Mudah-Mudahan korban dan anak-anak korban tenang di alam sana. Alhamdulillah, sejak saat itu, kami tidak lagi merasakan hal-hal aneh dari rumah yang kami tempati dan kami menjalankan kegiatan kami dengan tenang tanpa ada yang mengganggu.

Share This: