Lala dan Keriting - 195 Views

Pada sore hari saat senja di sebuah kota mati. Terlihat seorang gadis cantik yang bernama Lala sedang berlari di jalanan gang rumah. Lala di kejar oleh iblis yang bernama Lautek. Lala terus berlari hingga akhirnya keluar dari gang kecil dan menemui jalanan besar. Merasa lelah Lala memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah drum.

“*Krekek, krekek” sebuah gerobak yang sedang di dorong oleh seorang anak muda. Seorang anak muda bernama Keriting yang sedang berjualan susu kotak keliling. Seketika Keriting menghentikan gerobaknya setelah melihat sosok menyeramkan yang tiba-tiba keluar dari sebuah gang kecil. Sosok tinggi besar yang terlihat seperti serigala namun berjalan tegak.

Lautek: anak muda apa kamu melihat seorang gadis yang membawa pedang?

Keriting jadi semakin merasa takut karena sosok seram itu bisa berbicara. Sebenarnya Keriting mengetahui kalau gadis itu sedang bersembunyi di balik sebuah drum.

Keriting: maaf aku tidak tahu (ucapnya sambil gemetaran ketakutan).

“*Bruakh, tlarak, tak” sebuah gerobak hancur berkeping-keping. Lautek langsung pergi melanjutkan pencarian setelah menghancurkan gerobak milik Keriting. Sementara Keriting jadi berdiam diri meratapi gerobaknya yang rusak parah. Melihat Lautek sudah pergi jauh dan tidak terlihat lagi akhirnya Lala keluar dari persembunyiannya.

Lala: terima kasih kamu sudah menolong aku.

Tapi Keriting tidak menjawab dan masih berdiam diri. Yang Keriting lakukan hanya mengambil sekotak susu jualannya yang masih utuh. Melihat hal itu akhirnya Lala berniat pergi meninggalkan Keriting untuk melanjutkan pelarian.

Keriting: hey, tunggu.
Lala: ada apa? (Seketika Lala berhenti).
Keriting: kamu mau kemana?

Melihat matahari hampir terbenam Lala pun langsung kembali berlari.

Lala: cepat ikuti aku.

Keriting pun langsung berlari mengikutinya. Hingga akhirnya Lala berhenti berlari di depan sebuah rumah.

Lala: cepat masuklah kedalam rumah.

Tapi Keriting hanya berdiri di depan pintu dan melihat Lala yang sedang menaruh beberapa bola kecil berwarna kuning di sekitar rumah.

Lala: ayo masuk, kita aman di rumah ini.

Dengan kebingungan Keriting ikut masuk kedalam rumah. Lala langsung menghela napas dan kemudian duduk di teras dalam rumah. Setelah itu Lala bersandar pada dinding dan menaruh sebuah pedang. Sementara Keriting masih saja berdiri terdiam memegang sekotak susu.

Lala: tidak ada air minum ya di rumah ini, aku haus banget.
Keriting: dua puluh ribu rupiah. (Sambil menunjukkan sekotak susu yang ada di pegangan tangannya).
Keriting: tapi masih bisa kurang kok.
Lala: kamu tidak bisa menggunakan uang di kota ini.

Lala langsung berdiri lalu berjalan menghampiri Keriting. Kemudian Lala mengambil kotak susu yang ada di pegangan tangan Keriting dan “*glek, glek, glek”.

Keriting: jangan di habiskan, aku juga haus.
Lala: iya, ini.

Keriting langsung meminum sisa susu kotak yang Lala berikan. Sedangkan Lala langsung berjalan-jalan mencari sesuatu di dalam rumah dan menemukan sebuah lampu minyak.

Lala: kamu punya korek api?
Keriting: tidak punya.

“*Srink” Lala mengeluarkan sebilah pisau.

Keriting: aku benaran tidak punya korek api, aku tidak merokok.

Lala bersiap melesatkan sebilah pisau pada Keriting.

Keriting: ampun jangan bunuh aku.

“*Sreetth” sebilah pisau melesat dengan sangat cepat ke arah Keriting. “*Creebh” sebilah pisau itu tertancap. Terlihat ada darah segar yang mengalir di sebilah pisau. Lala langsung berlari mengambil kotak susu kosong yang ada di pegangan tangan Keriting. Lalu berlari lagi ke arah tikus yang tertancap pisau di belakang Keriting. Dan kemudian Lala mengucurkan darah tikus itu ke dalam sebuah kotak susu kosong.

Lala: pakai ini. (Sambil melempar sebuah kalung ke arah keriting).

Setelah menangkap kalung itu Keriting langsung memakainya.

Lala: ayo ikut aku.

Lala berjalan keluar rumah sambil membawa sekotak darah tikus. Dengan terheran-heran Keriting juga berjalan keluar rumah dan mengikutinya. Keriting sangat terkejut saat keluar dari rumah tersebut. Dari matahari terbit yang terlihat di kota mati hanya rumah dan gedung yang rusak, kotor serta tidak terawat. Tapi setelah matahari terbenam rumah dan gedung itu menjadi bersih, rapi dan terlihat mewah. Suasana jalanan yang tadinya sepi berubah menjadi sangat ramai. Banyak sosok seram seperti jin, iblis, dan hantu yang lewat berlalu lalang di jalanan.

Lala: jangan takut dan tetap berjalan di belakang aku.

Sambil menahan rasa takut keriting terus berjalan mengikuti Lala. Hingga Lala berhenti di sebuah toko.

Lala: korek api. (Ucap Lala sambil menaruh sekotak darah tikus di atas meja toko).

Tidak lama ada sosok kuntilanak yang menaruh satu buah korek api di atas meja toko. Lala langsung mengambil korek api tersebut.

Lala: ayo kita harus kembali.

Dengan jantung yang terus berdebar-debar dan kaki yang gemetaran Keriting terus berjalan mengikuti Lala. Setelah sampai kembali di sebuah rumah Lala langsung menyalakan lampu minyak dengan korek api. Kemudian Lala kembali duduk di teras dalam rumah dan bersandar pada dinding.

Lala: tidur saja, besok kita cari jalan keluar dari kota ini.

Dengan perasaan masih kebingungan Keriting langsung sedikit membersihkan teras dari debu lalu duduk dan bersandar pada dinding.

Keriting: ini kalung apa?
Lala: jika kita memakainya iblis, jin, atau hantu tidak akan mengetahui kalau kita adalah manusia.
Keriting: kenapa rumah ini tidak berubah seperti rumah lain yang ada di kota ini?
Lala: aku sudah menaruh beberapa bola kecil yang akan mengunci rumah ini sehingga ruma ini akan tetap seperti ini dan makhluk itu tidak akan bisa masuk ke rumah ini.
Keriting: pedang apa yang kamu bawa?
Lala: ini adalah pedang tujuh naga, aku ingin tahu kenapa kamu bisa ada di kota ini?

loading...

Keriting: dari pagi hari tadi tidak ada seorangpun yang membeli kotak susu yang aku jual, aku memutuskan berjualan ke tempat lain hingga aku menemukan sebuah jembatan, setelah melewati jembatan aku sampai di kota ini, aku terus mendorong gerobak tapi tidak ada seorangpun yang aku temui di kota ini, sangat sepi hanya ada rumah dan gedung kosong, aku mencoba mencari jembatan yang aku lewati untuk kembali tapi jembatan itu sudah menghilang, sampai akhirnya aku melihat kamu dan sosok aneh itu keluar dari gang kecil.

Lala: jembatan itu berpindah-pindah, tapi tidak usah khawatir karena aku memiliki alat penunjuk jembatan itu.
Keriting: kamu sendiri kenapa ada di kota ini?

Lala: sudah empat hari aku di kota ini, aku datang ke kota ini untuk mengambil pedang tujuh naga, iblis penguasa kota mati telah merampas pedang ini dari kedua orang tua aku, sepuluh tahun yang lalu saat aku berusia sebelas tahun malam itu ibuku yang bernama Ling membangunkan ayahku yang bernama Lung, tanpa membangunkan aku mereka keluar ke depan rumah, karena mendengar suara gaduh aku langsung bangun dan berjalan ke arah jendela depan rumah, aku melihat ayah dan ibuku sedang berkelahi melawan segerombolan iblis berjumlah lebih dari seratus di depan rumah, ibuku yang di bantu ayahku berhasil mengalahkan segerombolan iblis itu dengan pedang tujuh naga hingga akhirnya datang satu iblis yang sangat kuat bernama Chentong, ayah dan ibuku kalah dan tergeletak tidak berdaya, Chentong mengambil pedang tujuh naga yang ada di pegangan tangan ibuku, lalu menebas leher ayah dan ibuku, saat itu tiba-tiba ada seorang nenek yang menutup mataku dan membawa aku pergi, namanya nenek bulan hitam, nenek bulan hitam mengangkat aku sebagai murid dan mengajari aku keahlian bertarung, tapi dia melarang aku untuk membalas dendam, nenek bulan hitam sudah meninggal karena sakit, dan sekarang aku sangat ingin membalas dendam atas kematian ayah dan ibuku.

Keriting: kenapa kamu tidak melawan iblis yang mengejar kamu, bukankah kamu sudah mendapatkan pedang tujuh naga.
Lala: iblis yang nengejarku bernama Lautek, dia adalah iblis terkuat kedua setelah iblis Chentong, aku bisa dengan mudah mengalahkan Lautek menggunakan pedang tujuh naga ini, tapi Lautek akan hidup kembali, walau aku membunuhnya berkali-kali jika di kota mati, aku akan membiarkannya terus mengejarku dan memancingnya keluar dari kota mati ini.

Keriting: bagaimana dengan iblis Chentong?
Lala: iblis Chentong memiliki kekebalan, sampai saat ini tidak ada satu pun senjata yang dapat menggores kulitnya walau di luar wilayah kota mati, termasuk pedang tujuh naga, selain itu Chentong juga punya keahlian bertarung yang hebat.
Keriting: oh ya nama aku Keriting, nama kamu siapa?
Lala: Lala.

To be continue lala dan keriting bagian 2.