Jangan Balik! Jangan Balik! - 74 Views

Halo perkenalkan nama saya Jo dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini cerita pertama saya yang saya alami sendiri beberapa tahun yang lalu tepatnya tahun 2004 (lupa bulan pastinya). Dari kecil saya percaya bahwa ada kehidupan atau dunia lain selain manusia. Walaupun penasaran dengan dunia yang tak kasat mata, saya orang bisa di bilang penakut.

Kejadian ini terjadi ketika saya masih sekolah kelas 1 SMA. Saat itu saya tinggal bersama om (namanya om Shal) saya di Labuan Bajo (tempatnya Komodo dragon), sedangkan tante bersama 3 orang sepupu saya di kabupaten lainnya di karenakan pekerjaan. Singkat cerita sekitar 4 bulan lebih saya tinggal sendirian bersama om shal, saya sering di tinggal sendiri karena om lebih sering tugas dinas di luar kota.

Kami tinggal di perumahan BTN yang di kelilingi oleh bukit-bukit dan letak rumahnya persis di ujung gang yang berbatasan langsung dengan hutan dan semak belukar. Selama saya di tinggal om shal keluar daerah otomatis saya sendiri di rumah. Jika hari mulai malam saya sering merasa di awasi dan bahkan sering di ganggu dengan suara-suara aneh yang entah dari mana.

Awalnya walaupun takut, tadi karena sudah terbiasa saya pun *cuek-cuek saja dengan berpura-pura menonton televisi dengan volume yang *cetar membahana. Sampai suatu hari sepulang dari sekolah saya pun makan kemudian sekitar jam 3 sore saya tertidur hingga larut malam dengan kondisi pintu dan jendela yang masih terbuka lebar.

Posisi tidur saya saat itu menyamping dan menghadap tembok yang ada jendelanya dan membelakangi pintu kamar serta sebuah lemari kaca yang lengkap dengan kursinya. Mungkin dalam keaadan setengah sadar, saya merasa ada sesuatu yang masuk dengan menembus jendela kamar, seketika suhu kamar pun mendadak berubah menjadi dingin. Tak berselang lama saya mencoba membuka mata dan hendak membalikan badan.

Tapi entah suara dari mana (suara laki-laki) atau mungkin suara hati saya seperti berteriak “jangan balik! Jangan balik! Ada kuntilanak di belakang” (mungkin kuntilanaknya lagi duduk sambil menyisir rambutnya sambil berkaca). Saat suara itu terdengar seperti memberi peringatan sekejap itu juga seisi kamar bergetar hebat, badan saya pun lemas, semua sendi terasa kaku dan hanya bola mata yang tak biss di tutup seperti di paksa untuk melihat sesuatu.

Akal sehat pun hampir sirna jika suara itu tidak muncul lagi, ya suara hati atau apalah itu kembali seolah berteriak “Berdoa” dan saya pun berdoa “doa Bapa kami” dengan mata yang terbuka. Setelah doa itu saya ulang yang ketiga kali semua badan sudah seperti bertenaga kembali. Dengan sekejap mata saat si dia menghilang saya pun menghilang keluar rumah dengan langkah seribu.

loading...
Agen Bola SBOBET