Halo semua, nongol lagi nih, mau lanjutin cerita saya jiwa yang kosong. Ok, gak usah lama-lama langsung saja ke TKP *hehe. Jadi saat pancing, tas dan sandal di temukan di pinggiran rawa. Ada satu pancing yang tertancap di tanah pinggiran rawa dekat warga menemukan barang-barang lek har.

Dan senar dari pancing yang tertancap itu mengarah ke air seperti ada ikan yang memakan umpan pancing itu. Dan benar saja, setelah salah satu warga mencoba menarik senar pancing itu, memang seperti ada yang memakan umpan pancing tersebut, di tambah dengan adanya gerakan di air yang tak begitu jauh dari pinggiran rawa.

loading...

Memang terlihat seperti ada ikan besar yang tersangkut di kail pancing. Lalu beberapa dari warga pun langsung saja berenang mengikuti arah senar itu. Karena warga melihat tanda-tanda yang menunjukan kalau lek har juga masuk ke air rawa tersebut dengan di temukannya sandal dan jejak kaki yang memang menuju ke air.

Tak salah lagi, memang benar ada ikan besar yang tersangkut di kail pancing yang kurang lebih beratnya 3KG-an kalau di lihat dari ukuran ikannya. Dan saat salah satu warga mencoba menarik ikan itu ke pinggiran rawa, sayang senar pancingnya putus.

Dan sebagian warga yang berada di air pun mencari cari lek har ke dasar rawa, karena di kawatirkan lek har masuk ke air bermaksud untuk mengambil ikan itu tapi lalu tenggelam. Jam menunjukan pukul 8:45 malam, usaha warga untuk mencari lek har juga belum menemukan hasil juga. Walaupun sudah beberapa kali warga menyelam di dasaran rawa tempat senar pancing itu mengarah, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan lek har sama sekali.

Warga pun semakin ramai yang berdatangan untuk ikut mencari, walaupun ada sebagian yang hanya datang karena penasaran, karena lokasi rawa terlihat dari jalan besar, seketika di pinggiran rawa itu pun di penuhi warga yang kebetulan mau melihat pasar malam. Dan percaya gak percaya, saat itu warga yang ada di lokasi rawa jauh lebih banyak dari pada di tempat pasar malam, mungkin karena penasaran juga ingin melihat.

Saat jam 9 an, warga mulai banyak yang masuk ke air untuk ikut mencari lek har, karena ada salah satu warga yang menemukan topi lek har di pinggiran rawa, tapi agak jauh dari lokasi di temukannya pancing dan tas tadi. Saya pun gak mau ketinggalan masuk ke air juga, dengan membawa jirigen yang di bawa warga sebagai pelampung.

Jam 10:55 malam lek har belum juga di temukan, sebagian warga juga sudah mulai naik ke permukaan karena kedinginan, hanya tinggal 4 orang saja yang masih di air, termasuk saya. Tapi karena tak ada hasil dari pencarian warga, akhirnya dari pihak keluarga memanggil tim sar untuk ikut membantu pencarian. Dan selain memanggil tim sar, keluarga korban juga menanyakan kepada beberapa orang pintar. Tapi jawaban yang di berikan dari beberapa orang pintar yang di datangi semua hampir sama.

“Masih gelap, kalau belum waktunya, mau di cari sampai kapanpun gak bakalan ketemu” begitu lah kurang lebih yang di bilang orang pintar yang di datangi.

Sampai ada salah satu dari beberapa orang pintar itu yang mau datang ke lokasi. Dia langsung duduk di pinggiran rawa dengan terus menatap ke arah rawa. Memang benar masih belum ada tanda-tanda dari lek har menurut penerawangan orang pintar itu. Tapi dia meminta untuk mencari di tepian rawa saja, gak usah ke tengah katanya.

“Bentar lagi pasti juga di kembalikan” ucap orang pintar itu.

Malam pun semakin larut, menunjukan sudah hampir jam 12 malam. Bantuan dari tim sar pun akhirnya datang, hanya 2 orang saja yang datang. Setelah melakukan persiapan, mereka pun langsung memulai pencarian bersama satu kawan saya, jadi hanya tinggal 4 orang yang mencari di air. Saya, kawan saya dan 2 tim sar tadi.

Kami pun akhirnya menyusuri rawa itu bersamaan beharap ada hasil yang di dapat, tapi karena saya tidak kebagian jas pelampung yang di bawa tim sar, saat mereka dan satu teman saya maju untuk mencari ke tengah, saya gak ikut karena hanya membawa 2 jerigen yang saya pegang sebagai pelampung. (Oh iya sekedar info, sebenarnya rawa itu gak terlalu dalam, mungkin tempat yang paling dalam hanya 2 meter lebih saja).

Dan kami pun lanjut mencari, saat 3 orang tadi mencari menuju ke tengah, saya malah berenang mundur sendirian, karena susah juga pakai pelampung jerigen. Sebenarnya saya juga merasa takut saat mereka mulai menjauh dari saya, sekitar 10 meter dari saya, dan dari tepian rawa tempat orang-orang menunggu pun kurang lebih 10 meteran juga.

Jadi saya berenang mundur sambil membawa senter kepala yang saya pinjam dari warga, bermaksud mendekat di kerumunan warga, karena sedikit takut juga. Dan saat saya terus berenang mundur sambil mengayun-ayunkan kaki saya kedasaran rawa, nah tanpa sengaja saat di tempat dimana warga sudah mencari-cari di arah senar pancing tadi, terasa seperti ada yang menyentuh kaki saya.

*Greng, terasa dari ujung kaki sampai kepala saya seolah bergetar. Saya hanya bisa terdiam kaku di tempat itu, lalu saya manggil-manggil teman saya yang berada di depan 10 meter dari saya bersama tim sar tadi.

“Sal, sal, faisal (sebut saja teman saya faisal). Woi faisal”.
“Apa?”.
“Cepat sini”.
“Kenapa?”.
“Sudah, cepatan sini, ada disini nih, di bawah kakiku” (sambil gemetaran saya).
“Yang benar kamu? Awas kalau bohong ya”.
“Sudah cepetan sini”.

Akhirnya teman saya menuju ke arah saya. Sumpah, saya benaran sudah ketakutan, sampai gak berani mau kemana-mana kecuali menunggu teman saya tadi. Dan saat teman saya sudah di dekat saya, lalu saya bilang.

“Ada di bawah saya sal”.
“Yang benar kamu?”.
“Benaran sal, coba saja periksa dulu, kakiku seperti ada yang nyentuh tadi”.
“Alah batu paling”.
“Bukan go***k. Sudah cepat, kamu lihat saja dulu”.
“Ya sudah bentar, awas kalau kamu bohong ya”.

Lalu faisal pun menyelam di bawah kaki saya, suasana jadi hening, karena warga yang ada di pinggiran rawa mendengar apa yang saya bicarakan dengan faisal.

“Ya allah, iya benaran disini” ujar faisal saat dia naik lagi.
“Up, up, up disini om bantu angkat” teriak faisal kepada tim sar yang tak lagi jauh dari kami.

Saya pun masih saja terdiam kaku, takut, merinding campur bingung harus gimana. Lalu mereka bertiga sama-sama berusaha mengangkat mayat lek har ke permukaan, saya diam sendiri tanpa ikut menyelam. Dan saat tubuh lek har berhasil di angkat ke permukaan, senter yang ada di kepala saya tepat sekali tersorot ke arah tubuh lek har yang berhasil di temukan. Dengan mata kepala saya sendiri, saat masih di air dan teman saya menyisihkan rambut yang gak terlalu panjang dari wajah lek har.

*Eng, ing, eng. Terlihat pemandangan yang sungguh tidak ingin saya lihat lagi. Dengan jelasnya senter saya menerangi mata yang terbuka dan wajah yang tersenyum jelas terlihat dari wajah lek har.

“Ya Allah, kenapa harus saya ya Allah”.

Berat rasanya badan saya saat mau menuju ke tepian mengikuti tubuh lek har yang barhasil di temukan. Jam 12 an lewat tepatnya tubuh lek har berhasil di temukan. Dengan sebentar pun lokasi dimana tubuh lek har di bawa ke tepian rawa langsung ramai di penuhi warga.

Anehnya lagi, kondisi tubuh lek har saat di temukan sudah tidak memakai celana, baju melingkar di kedua tangannya yang sudah kaku dengan posisi seperti memeluk sesuatu. Tanpa ada luka dan perut sama sekali tidak mengembang, padahal hilang di air dari jam 6 an sampai jam 12 an, tapi tak terlihat tanda-tanda habis tenggelam.

Akhirnya mayat lek har di bawa pulang ke rumah keluarganya, sampai jam 4 pagi saya masih di rumah dimana mayat lek har di bawa. Jam 4 lewat saya pun pulang dengan ibu saya yang kebetulan ada disitu. Waktu sampai rumah dan mau mandi. *Hem, segede ini saya nyuruh ibu saya untuk tunggu saya di depan pintu kamar mandi sampai saya selesai mandi. Sungguh, masih saja terbayang senyum dengan mata terbuka waktu mayat di angkat tadi. 3 hari saya menjadi penakut banget, karena masih teringat terus.

Nah itulah cerita yang real saya alami sendiri tanpa rekayasa. Info yang saya dengar dari orang-orang. Katanya lek har memang di minta sama penguni rawa itu, lek har di ajak senang-senang sama sesosok perempuan waktu dia mau pulang. Di tambah waktu itu memang malam jumat kliwon, dan katanya lek har juga ada masalah dengan istri dan anaknya (lek har sudah cerai sama istrinya di Jawa).

“Jiwa dan pikirannya saat kejadian itu lagi kosong karena masalahnya, jadi bisa sampai kejadian seperti itu” kata orang pintar.

Selama beberapa hari, ada beberapa orang yang melihat lek har berjalan pulang atau lebih tepatnya sih khodam yang pulang. Selesai juga, sambung dengan cerita lainnya lagi lain waktu kawan. Maaf kalau ada salah salah dalam penulisan.