Teman Perjalanan - 255 Views

Assalamualaikum penghuni KCH. Perkenalkan nama saya Muhammad Adha,dan ini cerita pertama saya juga pengalaman pribadi waktu mendaki gunung di Jawa Tengah. Langsung ke cerita. Siang itu sehabis shalat jumat seorang teman secara mendadak mengajak aku untuk mendaki gunung, saya pun bingung karena tak ada persiapan sama sekali, dan karena memang sedikit hobby aku tak kuasa untuk menolak *hehe.

Tepat jam dua, kami nyalakan motor bebek yang selama ini menemani petualangan kami, motor yang kumuh tua dan tetap bertenaga. Jam setengah lima kami baru sampai di pos pendakian dan kami langsung registrasi, dan ada sedikit percakapan dengan si penjaga pos pendakian.

P: petugas pendakian
S: saya

P: berdua saja mas?
S: iya pak.
P: mas dari dataran tinggi dieng ya?
S: iya pak, pak kalau dari sini sampai pos 1 kira-kira berapa lama perjalanan ya?
P: kalau buat anak muda ya bisa 3 sampai 4 jam mas. Hati-hati ya mas, yang sopan jangan *sembrono, nanti saat di pos 2 sama 3 jangan ngomong kasar. Kalau bisa cari teman satu lagi jangan cuma berdua, atau tunggu pendaki selanjutnya.
S: iya pak, terima kasih infonya, kalau masalah menunggu pendaki lain, wah bisa kemalaman pak di jalan, dan kami pun pamit untuk persiapan.

Pendakian sampai pos 1 alhamdulillah masih berjalan seperti mendaki biasanya, begitu juga sampai pos 2 dan pos 3. Hanya saja saat di pos 3 kami sudah kelelahan dan kelaparan hingga terpaksa kami istirahat sejenak untuk santap malam di tengah hutan. Gelap, dingin, sepi, dan saya merasakan merinding luar biasa saat dengar suara anak-anak berlarian sambil ketawa. Teman saya duduk sekitar 10 meter dari saya dan dia juga merasakan hal yang sama, dia juga dengar dan “tetap tenang, jangan takut kita gak ganggu” kata dia.

Setelah capek hilang kita lanjut lagi menuju ke pos 4, dengan sisa tenaga yang ada karena terkuras jalur pendakian, kita terus berjalan semoga lekas sampai ke pos 4. Belum juga sampai pos 4, kami ketemu seorang pemuda yang penampilanya cukup aneh dengan parfum yang aneh juga. Jujur pertama kali aku mencium bau parfum yang model kayak gini. Pemuda berselendang merah yang di ikatkan di leher, rambut agak panjang mentupi mata dan wangi parfum aroma dupa.

P: pemuda
T: teman saya

P: berdua ya mas?
T: iya mas,mas sama siapa?
P: saya ber lima, cuma teman saya sudah jalan lebih dulu. Boleh gabung dan numpang tidur?
T: boleh mas, kebetulan kami cuma berdua.

Setelah ber (*bla, bla, bla) kami lanjutkan lagi agar cepat sampai pos 4. Dan kata pemuda tadi, pos 4 itu gak ada yang ada 1, 2, 3, 5, 6, 7. Pantas saja dari tadi gak ketemu ketemu pos 4. Setelah tahu pos 4 gak ada kami lanjut ke pos 5. Pos 5 lancar seperti biasa hingga pos 6. Di pos 6 kami istirahat dan memutuskan untuk tidur agar perjalanan ke pos 7 besok tenaga sudah prima. Setelah pasang tenda, kami memasak air untuk bikin susu coklat buat teman merokok. 3 gelas di keluarkan dari ransel dan pemuda tadi bertanya.

P: mas buatin buat aku ya? Aku gak haus mas.
A: memang gak lapar gak haus mas? Kalau mau makan ada mie instan sama roti, sosis, coba cari saja di ransel apa yang mas suka.
P: gak mas terima kasih. Mas berdua saja yang makan.

Pemuda tadi lalu bongkar ransel miliknya yang isinya hanya gula merah dan dua bungkus rokok kretek yang masih terbungkus rapi. Dengan wajah yang tertutup rambut dia senyum terus berbaring untuk istirahat. Aku lihat jam tangan sudah hampir jam 3 pagi, dan aku belum terlelap. Aku lihat temanku sudah tertidur pulas dengan posisi meringkuk, sementara pemuda tadi tidur terlentang dengan kedua tangan di dada.

(*Kriing) alarm bunyi tepat jam setengah lima, pemuda tadi sudah duduk di luar tenda. Sementara temanku masih terlena dengan impianya. “Njol-njol bangun” temanku bangun terus menyalakan rokok. Dia sempat bertanya “siapa sebenarnya pemuda itu?”. Aku hanya gelengkan kepala. Perjalanan ke pos 7 pun di lanjutkan. 1 jam perjalanan sudah nampak pos 7 dengan gubuk sederhananya, rasanya lega melihat pos terakhir, rasa lelah hilang sudah, rasa dingin lenyap di telan terbitnya matahari. Jam 6 pagi kami tepat di bawah pos 7 dengan jalan setapak yang kanan dan kiri di penuhi ilalang dan juga tumbuhan liar.

7 meter temanku berjalan lebih dulu, sementara pemuda tadi 4 meter di belakangku. Aku panggil temanku dan dia membalasnya dengan jempol tangannya, tandanya semua baik-baik saja. Lalu aku toleh belakang ke pemuda tadi. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya dan melangkah ke semak-semak, aku pikir dia cuma mau buang air kecil. Aku lanjutkan perjalanan sama temanku sampai pos 7 sembari menunggu pemuda tadi. Setengah jam berlalu, satu jam berlalu, matahari sudah mulai panas tapi pemuda tadi tak kunjung juga kelihatan. Ah mungkin dia tertidur, pikirku.

Setelah capek menunggu kami putuskan sampi ke puncak, dan ternyata di puncak kami juga cuma berdua. Mana teman pemuda itu yang katanya sudah jalan lebih dulu tanya temanku, *haha. Aku sedikit tertawa mengingat pemuda itu. Singkat cerita, matahari sudah di ubun-ubun tandanya kami harus turun. Sesampainya di pos pendakian kami langsung mengambil kartu identitas kemarin saat registrasi, karena penasaran saya pun coba tanya si penjaga pos pendakian.

P: penjaga pos
S: saya

loading...

S: pak ada yang sudah turun gak pak sore ini?
P: turun gimana *wong dari kemarin yang mendaki cuma kalian berdua.
S: serius pak? Lha yang semalam ketemu terus tidur bareng kami siapa?
P: kan bapak kemarin sudah bilang, lebih baik nunggu pendaki lainya. Mas saja yang gak mau dengar saran bapak *hehe, kata bapak penjaga pos sambil ketawa.

Segini saja sobat KCH, maaf kalau nulisnya berantakan, maaf juga kalau gak seram.