Cerita Hantu > Kisah Nyata > Arwah Nenek Berdongeng

Arwah Nenek Berdongeng

Kisah ini sudah lama sekali. Narasumbernya adalah papaku sendiri. Dulu kami masih tinggal di Kalimantan sebelum pindah ke Medan. Kakekku meninggal saat aku kecil sedangkan nenekku meninggal disaat aku SMP entah kelas berapa, lupa. Jadi di cerita ini tinggal nenekku yang masih hidup.

Saat nenekku masih hidup, nenek entah kenapa lebih suka tinggal sama kami (papa) dari pada sama anaknya yang lain (saudara-saudara papa). Jadi nenek itu dari aku kecil sampai SMP suka banget cerita dongeng kepadaku. Papa dan saudara-saudaranya dulupun sewaktu kecil sering di dongengin. Jadi nenekku ini kebanyakan kalau mendongeng itu dongeng asli dari korea, ya nenekku asli orang sana.

Matahari dan bulan, Kumiho/Gumiho (rubah ekor sembilan), pengorbanan Hyangdeok, Dokkaebi (goblin), Samjok O dan lainnya. Banyak banget dongeng yang diceritakannya. Buku dongengnya juga ada, sampai sekarang aku tetap menyimpannya. Jadi singkatnya nenekku meninggal karena penyakit paru-paru, nenekku pun dimakamkan dan malamnya kami mengadakan tahlilan. (Narasumbernya papa dan aku akan menjadi sebagai papa).

Read Another Stories:

Ibuku meninggal diumurnya yang ke-68 tahun. Kami pun mengadakan tahlilan untuk mendoakan ibuku. Tapi sesuatu hal aneh terjadi saat tahlilan di hari ke-3. Semua orang sudah pulang dari tahlilan. Saat malam harinya, aku merasa lapar, aku pun beranjak pergi ke dapur. Sebelum ke arah dapur, aku melewati kamar anak-anakku dulu, Gina dan Aldan (Herin sekamar denganku dan istriku, dia masih berumur 5 bulan).

Tapi saat aku melewati kamar Gina, pintu kamarnya tidak tertutup. Aneh, dia tidak seperti biasanya membuka pintu saat tidur. Aku pun mngintip dibalik pintu, karena pintu hanya terbuka seperempat. Dan saat kulihat, aku sangat terkejut. Aku melihat almarhum ibuku sedang memegang buku dongeng dan mendongeng untuk Gina. Memang sebelum meninggal, aktivitas itu selalu dilakukan ibuku disetiap malamnya.

Mendongengkan Gina sebelum tidur, walau dia sudah remaja, ibuku tetap suka mendongengkan dia. “Apa ini halusinasiku saja atau?” aku mengucek mataku berulang, tapi aku masih melihat almarhum ibuku berada disamping Gina. Padahal Gina sudah tidur. Aku takut, walau itu ibuku sendiri. Aku pelan-pelan mundur dari pintu dan beranjak lari kearah kamar, tapi tiba-tiba tidak sengaja aku menginjak sebuah buku.

Ya, buku dongeng. Itu buku yang barusan aku lihat dipegang oleh ibuku. Aku pun mengambil buku tersebut dan aku langsung menangis saat aku membaca sebuah tulisan, entah dari mana. Tapi aku yakin kalau itu berasal dari ibuku yang menitip salam yang tak bisa terucapkannya langsung kepada Gina saat ia meninggal. Karena saat ia meninggal, Gina masih berada di sekolah. “Nenek sayang sama Gina”. Mendengar penjelasan dari papa, aku menangis sejadi-jadinya. Sekian.