To the point saja ya ke cerita berjudul di culik kolong wewe. Kronologisnya dulu, saat umur saya masih belia banget sekitar 2-3 tahun. Saya adalah anak semata wayang, anak satu-satunya gak punya kakak dan belum punya adik. Saya di bawa sama orang tua saya ke sawah selepas terbit matahari. Saat itu sedang musim palawija dan kebetulan orang tua saya menanam jagung.

Saya di tinggal begitu saja di tengah-tengah ladang yang di tumbuhi jagung karena orang tua saya sedang membersihkan gulma jagung (rumput etc), namun tak jauh dan tak luput dari pengawasan orang tua saya. Sekelebat mata tiba-tiba saya hilang dari pandangan orang tua saya. Orang tua saya kebingungan mencari-cari saya dari sudut ke sudut, dari pangkal hingga ujung ladang pun saya tidak di ketemukan/terlihat oleh orang tua saya.

Padahal dengan jelas saya melihat mereka mondar-mandir. Tapi saya diam saja. Saya sedang asik bermain giling-gilingan (semacam pabrik kalau nalar saya), jadi tiba-tiba ada separuh tempurung kelapa yang berlubang. Di masukan tanah/pasir terus mancur deh. Nalar saya sih itu namanya giling-gilingan. *Hehe ya namanya bocah.

Back to the story. Ayah dan ibu saya masih kebingungan mencari saya. Tak berapa lama ada 2 pemuda yang menghampiri sepulang dari ngarit (cari rumput) membawa karung dan sabit dan mereka melihat saya sedang duduk bermain di seperempat ladang. Mereka menghampiri saya dan menggendong saya. Dan saya pun menangis. Kedua pemuda itu menemukan saya berkalungkan rumput grinting dan belahan tempurung kelapa tadi.

Bergegas orang tua saya membawa saya pulang. Orang kampung seluruh desa langsung berbondong-bondong menuju ladang setelah mendengar cerita kedua pemuda yang sudah pulang duluan itu. Kata orang tua sih saya di culik kolong wewe. Saat saya gak kelihatan, sayanya di tutupin sama si kolong wewe. Tapi kok anehnya saya gak ngelihat wujud si kolong wewe ya? *Hmm.

loading...

Dan katanya lagi kalau sampai jam 9 pagi saya tidak ketemu, katanya saya bakal di bawa selamanya menuju alamnya. Untunglah saat itu saya di temukan sekitar pukul 8 kurang. Percaya gak percaya ya. Saya sampai malu sudah gede masih saja ada orang bercandain “iki bocah seng mbiyen ilang neng ladang kae yo” (ini anak yang dulu hilang di sawah itu ya). Kalau reader sekalian masih gak percaya boleh tanya sama orang kampung daerah saya. Everybody knows my story. Sekian.