Lala dan Keriting Bagian 10 - 90 Views

Sebelumnya lala dan keriting bagian 9. Dengan perlahan iblis Chentong berjalan masuk ke dalam kamar untuk melihatnya. Dan ternyata di dalam kamar tersebut Keriting sedang berdiri melepaskan sebuah perban yang membelit bagian kepala dan badannya. Bersamaan dengan itu Lala yang tergeletak tidak sadarkan diri di depan rumah sudah mulai kembali siuman.

Dengan sedikit membuka mata dan dengan pandangan mata yang berkunang-kunang. Lala melihat ke arah sebuah tangkai tanaman yang tidak jauh berada di depan wajahnya. Di tangkai tanaman tersebut terlihat ada kupu-kupu yang baru saja menetas keluar dari sebuah kepompong. Kupu-kupu itu mulai berjalan di dahan lalu terbang ke arah rumah kemudian berbelok ke atas rumah dan terus terbang jauh hingga tidak terlihat lagi.

Perlahan-lahan Lala berusaha untuk bangkit berdiri lalu melangkah berjalan dan kemudian mengambil sebuah pedang tujuh naga yang tergeletak di depannya. Tidak lama setelah itu “*dhugr, tlerekh, terkh” iblis Chentong terlihat terhempas menghancurkan tembok depan rumah dan “*brugh” tubuhnya terhenti menghantam pohon besar. Setelah menghantam pohon besar dan terjatuh iblis Chentong langsung segera berdiri lalu kemudian langsung meningkatkan kekuatannya.

Iblis Chentong: kekuatan saya sekarang sudah 100%, anda berdua akan mati, bersiaplah!

loading...

“*Taph, taph, taph” Keriting yang hanya memakai celana panjang hitam tanpa baju dan tanpa sandal terlihat sedang melangkah keluar dari rumah bersama segelas air yang ada di pegangan tangannya. Keriting terus melangkah berjalan dan berhenti tepat di samping Lala.

Keriting: kamu tidak apa-apa?
Lala: iya, aku baik-baik saja.
“*Krichcikh, krichikh, krichikh” segelas air yang Keriting bawa di kucurkan pada pedang tujuh naga yang sedang Lala genggam. Setelah itu Keriting langsung menatap Lala dan kemudian Lala juga langsung membalasnya dengan tatapan yang sama. Dengan sedikit mengangguk Keriting memberikan isyarat kepada Lala. Dan dengan memakai hijab berwarna pink dan baju kaos lengan panjang berwarna hitam serta celana rok panjang berwarna hitam Lala langsung memegang erat pedang tujuh naga.

Lalu kemudian melesat cepat tanpa ragu sedikitpun dan “*sracth” satu tebasan di berikan kepada iblis Chentong. Setelah itu “*srepkh” Lala menancapkan pedang tujuh naga ke tanah tepat di depan iblis Chentong. Kemudian “*taph, taph, taph” Lala kembali melangkah berjalan menghampiri Keriting dan berhenti tepat di depan Keriting.

Lala: jurus air apa itu?
Keriting: itu bukan jurus tapi hanya air biasa, semua orang bisa melakukannya termasuk kamu, karena aku hanya membacakan surat al-Fatihah dan ayat Qursi pada air itu.

Di iringi terbitnya mentari Lala dan Keriting melangkah berjalan meninggalkan tempat tersebut. Rerumputan dan dedaunan yang bergoyang tertiup angin terlihat menari menemani langkah Lala dan Keriting yang berjalan bergandengan tangan. Sementara iblis Chentong yang masih berdiri terdiam tidak berkutik tiba-tiba “*brukh” terjatuh dekat pedang tujuh naga yang tertancap di tanah dengan kepala dan badannya terbelah menjadi dua bagian.

Keriting: kenapa kamu meninggalkan pedang tujuh naga itu?
Lala: aku sudah tidak membutuhkannya, karena sekarang aku sudah punya pedang baru, pedang yang tidak hanya dapat melindungi aku tapi juga bisa memberikan kebahagiaan baik lahir maupun batin.

Saat menulis cerita ini berasa kayak waktu main rumah-rumahan semasa kecil. Beda banget sama waktu nulis cerita sebelumnya yang saat menulis, mengingat dan membayangkan hantunya itu berasa ketakutan sendiri. Sekian dan terima kasih om admin KCH dan semua sahabat author KCH serta reader KCH. Tamat.