Perempuan di Kost Baru - 715 Views

Surabaya. Kota besar seribu cerita. Mungkin keramaian menutupi cerita mistis, harmoni alam seberang terlibat kabur, kalah dengan sorotan lampu jalan bahkan kalah gemerlap di banding pancaran warna-warni lampu diskotik. Suara gelegak tawa riang dan suara musik yang berdentum-dentum seolah memberi isyarat pada bisikan halus agar tetap tidak bersuara bahkan menghipnotis hati nurani agar tetap tidur.

loading...

Kost baru-ku terhimpit antar rumah yang saling beradu tinggi. Pagar yang berlomba saling silang dan rapat. Sinar matahari hanya sedikit yang mampu meraba kamar-kamar kost. 2 hari aku menempati kamar baru-ku, tidak ada sesuatu yang janggal. Walau kost sering sepi. Suatu malam aku masih duduk di atas sajadah selepas sembahyang pukul 22.00. Doa ku gumamkan dan tasbih masih ada tangan. Karena kesemutan terlalu lama menekuk kaki. Aku merebahkan diri, menutup mata barang sejenak. Sosok wanita muda itu duduk di samping kanan kakiku. Pintu sudah aku kunci padahal, toh ini adalah kost khusus laki-laki.

“Kamu siapa?” tanyaku.
“Sisca”.
“Siska?”.
“Sisca” sahutnya.

Tidak ingin huruf C namanya di ganti dengan huruf K. Gaunnya seperti gaun anak kompeni zaman dulu. Warna kuning dengan banyak renda dan bentuk bunga. Sebatas bawah lutut. Rambutnya rata di potong segaris bahu.

“Ada perlu apa?”.
“Aku takut dengan doa-doamu. Tolong jangan usir aku dari sini”.
“Aku tidak berniat untuk mengusir siapapun dari sini. Asal tidak mengganggu, tidak masalah”.

Dia mengangguk.

“Kamu dari mana?”
“Kamar kanan”.

Memang kamar sebelah kanan dari kamarku adalah kamar kosong.

“Qorin?”.

Dia mengangguk

“Dulu ikut siapa?”.
“Sisca. Anak kedua juragan beras bernama Koh Li. Mati jatuh dari teras atas rumah” dia menunjukkan kepalanya bagian kanan belakang telinga, pecah.
“Jangan usir aku”.
“Tidak. Kembalilah. Jangan ganggu siapapun yang menempati kost ini. Aku kirim al fatihah, kebetulan ada dupa. Nanti aku bakarkan untuk kamu”.
“Iya. Terima kasih banyak mas” katanya disambi senyum yang sangat riang.

Ia bangkit dari duduknya. Terlihat sekali ia sangat senang. Giginya putih dan rapi, matanya cokelat lebar dan berbinar. Betul-betul hantu yang cantik. Esoknya. Teman-teman sedang mengantri kamar mandi pada sore hari. Mereka bingung dengan suara televisi di kamar sebelah yang menyala dan terdengar suara nyanyian lagu-lagu berbahasa cina, kadang berganti dengan lagu-lagu berbahasa belanda. Padahal meteran listrik kamar itu sudah dimatikan dari luar. Pintu juga di gembok dari luar.

Mereka bingung hendak mematikan televisi yang kata mereka suka menyala sendiri. Mencari bapak kost, tapi beliau pergi kondangan ke kota sebelah. Tok, tok, tok, aku mengetuk pintu kamar itu.

“Sisca, pelanin suara televisinya ya”.
“Ngomong sama siapa mas?” tanya teman-teman kost yang lain.
“Anak kost. Satu-satunya perempuan di sini”.
“He?” mereka bertambah bingung.

Tapi benar saja, tidak lama kemudian volume televisi itu mengecil bahkan nyaris tanpa suara.

“Makasih Sisca” ucapku.

Tok, tok. Balasnya mengetuk meja.