Rina dan lisa sepulang kerja dua orang perempuan berjalan pulang, karena mereka baru pindah ke sebuah kontrakan yang lebih dekat dengan temat kerja mereka. Mereka berdua teman dekat sejak SMP, bahkan ketika mencari kerja pun mereka mendapatkan pekerjaan di tempat yang sama sehingga mereka hanya menyewa 1 rumah untuk di kontrak berdua, agar lebih irit.

Mungkin di hari biasa mereka akan baik-baik saja, tapi sekarang mereka mendapat shift 2 dan harus pulang jam setengah 5 pagi atau bisa dibilang subuh. Jalan yang mereka lewati harus melewati celah dinding pembatas kawasan, dan pada akhirnya melewati gang lurus sepanjang 100 meter yang hanya bisa di lewati maksimal 2 motor. Jalan tersebut sangat sepi dan dan gelap, hanya 1 lampu pijar di tengah jalan tersebut yang membuat jalan lebih mencekam. Ketika mereka pulang sore hari jalan ini tidak menyeramkan dan sangat ramai di lewati orang, tapi sekarang sangat terasa mencekam.

Lisa yang pada dasarnya pemberani tidak mempermasalahkan hal ini tapi rina yang penakut menggenggam erat tangan lisa karena ketakutan, mereka berjalan dengan lisa yang memimpin. Baru beberapa langkah mereka berjalan, mereka melihat seorang perempuan berambut panjang di ujung jalan dan menuju ke arah mereka. Seketika rina menarik tangan lisa sehngga mereka berhenti berjalan.

Lisa: kenapa rin? Sambil menoleh kebelakang.
Rina: mendingan kita tunggu terang saja deh, lebih aman.
Lisa: lah kenapa, kalau cepat pulang kita kan cepat istirahat.
Rina: aku takut.
Lisa: kenapa takut, itu aja ada orang. Ya kan mba” sambil berteriak ke arah perempuan yang menuju ke arah mereka.

“Jangan di sapa” peringatan rina benar-benar membuat lisa penasaran, badan rina yang tiba-tiba gemetar tanpa henti sambil memeluk tangan lisa. Sebuah ingatan melintas di kepala lisa, lisa mengingat bahwa temannya yang satu ini sering di gosipi bisa merasakan makhluk gaib. Di masa lalau lisa tidak terlalu menanggapi hal ini, tapi memang beberapa kali rina selalu menggenggam tangannya ketika melalui tempat sepi atau tempat yang sering di bilang angker.

Mendadak lisa sadar semua maksud omongan rina kemudian dia melihat ke arah orang tersebut yang hanya terlihat sebagai bayangan hitam pekat, saat bayangan tersebut mendekati lampu pijar tiba-tiba bayangan tersebut menghilang. Lisa paham yang barusan dia lihat bukanlah sesuatu yang wajar. Dia melihat temannya di belakang yang masih memejamkan mata sambil memeluk tangannya.

“Kayaknya kita nongkrong dulu saja deh di warung depan PT itu” sambil tersenym takut.

Balasan dari temannya hanya mengangguk 2 kali. Mereka tidak berbalik arah tapi mencoba berjalan mundur selangkah demi selangkah. Ketika keluar dari gang tersebut mereka langsung berjalan cepat ke warung terdekat, baru pada saat duduk rina melepaskan tangannya kepada lisa dan bernafas lega. Pada akhirnya mereka menunggu hingga pukul setengah 7 baru berani melewati jalan tadi, di mana cahaya cukup terang sehingga seluruh jalan tersebut terlihat dengan jelas dari ujung ke ujung.

loading...