Si Muka Pucat di Villa Yogyakarta - 250 Views

Halo guys, perkenalkan nama saya Ahmad raihan firdaus saya berasal dari Jakarta Selatan, tepatnya di daerah pasar minggu baru, saya sedikit ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya saat saya perpisahan SMP ke Yogyakarta. Ayo kita mulai. Saat itu saya dan teman teman saya mempunyai rencana pergi perpisahan ke Yogyakarta selama tiga hari, saat saya mengadakan perpisahan tersebut saya semua kelas saya kompak mengikuti perpisahan tersebut, saya berangkat tanggal 14 agustus saat itu saya menaiki bus pariwisata H*BA dari pasar minggu pukul 3 sore melalui jalur Pantura.

Saat bus saya sampai di jalur Pantura sekitar malam hari perasaan saya mulai tidak enak saat berhenti di peristirahatan bus H*BA di daerah Salatiga. Saat itu saya pergi ke toilet untuk sekedar cuci muka untuk menghilangkan kantuk di benak saya *hehe, selesai saya cuci muka saya melihat ada seorang bapak masuk kedalam toilet dan tak kunjung keluar. Saat saya duduk di depan teras toilet sambil menikmati bakso hangat, saya tak kunjung melihat bapak tersebut, saat saya menanyakan hal aneh tersebut kepada tukang bakso di depan toilet.

Saya: mas kok tadi ada yang masuk ke toilet nggak keluar-keluar ya mas?
Pedagang bakso: Leee , disini sudah biasa leee jangan kan tidak keluar-keluar yang meninggal di toilet ini saja ada.
Saya: (mendengar hal tersebut saya langsung pucat dan diam), kalau boleh tahu kapan pak meninggalnya?
Pedagang bakso: waktu itu leee sekitar tahun 2005, bapak sudah dagang bakso disini dari tahun 2001 lee.

Mendengar hal tersebut saya langsung bergegas masuk kedalam bus untuk lekas tidur, dan saya langsung membayar bakso bapak tersebut dengan uang 20.000 tanpa meminta kembaliannya. Saat saya sampai di bus, teman-teman saya sudah tidur, saya duduk di barisan paling belakang, saat saya hendak tidur saya merasa ada angin yang meniup telinga saya saat itu.

Saya langsung berdoa kepada Allah SWT agar saya lekas tidur, keesokannya saya dan teman-teman saya sampai di villa tujuan saya di daerah Tugu, Jogja dekat dengan Malioboro, villa itu bernama villa semar, saat saya memasuki villa tersebut hal aneh terjadi lagi, suasana villa sangat sepi. Di depan villa terlihat pohon mahoni yang sangat besar di liputi pagar di sekelilingnya, saat saya masuk kedalam kamar villa ternyata villa tersebut memiliki 10 kamar yang cukup besar.

Saya menempati kamar lantai 3 yang berisi 2 kamar, di kamar saya beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa pegal-pegal seusai naik bus tersebut, selesai istirahat saya pergi ke pasar klewer untuk membeli perlengkapan selama 3 hari misalnya jagung sosis dan lain-lain, selesai membeli perlengkapan saya pun bergegas mengisi perut dengan bakar-bakar bersama teman-teman saya.

Selesai bercengkrama dengan teman saya, lalu saya bermain game dengan teman saya yaitu game mencari uang koin, saat saya memulai game pertama saya memulainya dengan 6 pemain yaitu saya, rudi, arif, elsa, putri, wiwit. Team di bagi menjadi 2 team yaitu team laki-laki dan perempuan, saat saya selesai bermain game dan saya pemenangnya, *wkwk pamer *hehe.

loading...

Malam sudah terlalu larut, anak peremupuan pun bergegas masuk kamarnya masing-masing, berhubung saya panitianya, saya mengarahkan sekitar pukul 23.45 untuk masuk kedalam kamar masing-masing (perempuan) setelah itu, kami menikmati malam di pinggir kolam renang yang kedalamannya sekitar 1 meter. Anak-anak lain ada yang benrcengkrama, ada yang mendengarkan musik, ada yang bermain gitar, ada yang bermain kartu, ada yang berenang, dan lain-lain.

Setelah selesai sebagian dari anak laki-laki masuk ke kamar masih masing untuk istirahat, untuk mengumpulkan tenaga untuk esok pergi ke Candi Borobudur, di pinggir kolam renang tersisa saya bertiga yaitu saya, rudi dan maman, saya masih disana sampai jam 01.25 malam. Setelah saya selesai bermain gitar dan perut pun sudah kenyang, saya pun pergi ke atas sendiri karena saya ingin ke kamar kecil dahulu yang berada di lantai 3.

Karena kamar kecil disana hanya ada di lantai 1 untuk perempuan dan lantai 3 untuk laki-laki, setelah saya sampai di ruang tamu sambil memakan sisa jagung yang tadi saya bakar, hal aneh muncul kembali. Saya melihat teman saya yang 1 kamar dengan saya sedang duduk di samping tangga dengan posisi menunduk dan wajah pucat serta rambut terurai kedepan, setelah saya sapa.

“Buset lu cepet banget sudah disini, kan lu tadi sama saya di kolam? Oh iya lu nggak keatas man, sudah malam gak baik diam disini sendiri”.

Dia hanya menunduk dan menggelengkan kepala tanpa melihat ke arah saya, tanpa rasa penasaran saya pun naik keatas sambil berkata.

“Baik-baik lu disini banyak teman lu, Setaaan, *ahahah”.

Sesampainya saya di kamar kecil, saya buang air kecil dan hal aneh terjadi lagi saat pintu saya kunci, ternyata ada yang ngetuk-ngetuk sebanyak 3 kali dengan keras tanpa bersuara dari luar kamar kecil tersebut tanpa saya hiraukan saya teriak.

“Sabar woi! Sudah malam jangan berisik!”.

Saat saya keluar saya tidak menemukan siapa-siapa di luar, saya langsung menuju kamar saya setelah saya lihat kamar saya ternyata tidak ada siapa-siapa, saat saya baru menaruh gitar saya melihat 2 teman saya datang ke kamar saya, dengan perasaan takut, dia berkata.

“Buset! Lu kan tadi di tanggal han kenapa ada disini?”.
Saya menjawab: *ngaco lu, saya tadi ke toilet ada yang ketuk-ketuk, lu ngerjain saya ya?!
Herman: lu tadi ada di bawah han di tangga muka lu pucet, saya tanya cuma geleng-geleng.
Saya: lu yang tadi di bawah man, di tangga saya tegur juga gak nyahut-nyahut cuma geleng geleng.
Herman: seriusan lu?!
Saya: ngapain saya bohong!

Seketika kami langgsung turun ke lantai satu untuk mencari penjaga vila tersebut yang bernama mas Raka, saya ceritakan semua kejadian yang saya alami, setelah saya cerita dia membalas dengan senyuman saja, dan berkata.

“Memang gitu disini mas, dulu tahun 1999 ada yang meniggal di sini tenggelam di kolam renang anak umur 15 tahun asal Jakarta, makanya saya saranin kalau mau bermalam disini/di kolam renang, maksimal sampai jam 22.00 saja mas biar nggak di ganggu”.

Seketika saya langsung ketakutan, serta bulu kuduk merinding. Saya pun minta di temani mas raka untuk 1 kamar denganku *hehe, karena aku ketakutan mas raka menjawab.

“*Yo wis baca bismilah saja mas insya Allah *ndak di ganggu lagi”.

Seketika saya menuruti perkataan mas raka. Sampai hari terakhir saya di villa saya masih bisa menggingat moment yang tak terlupakan dalam hidup saya. Tamat.