Malam itu pukul tiga dini hari, hampir ke empat sebenarnya. Pak hansip membawa pentungannya, memukul-mukul tiang agar orang-orang tahu jika dia sedang berjaga. Di sepanjang jalan itu sepi. Dia pindah dari tiang satu ke tiang lain tiap sekitar sepuluh menit. Dia sempat bergidik setelah memperhatikan pohon di salah satu rumah warga, yaitu pak hartono. Dia di kenal juragan nangka.

Pak hartono punya perkebunan nangka sekitar dua hektar dan salah satu pohonnya dia tanam di rumah. Pohon itu sekarang besar dan cukup tinggi, daun rimbun dan buahnya sudah ranum. Tapi bukan itu yang pak hansip perhatikan. Kalau dia tidak salah lihat, barusan ada sesuatu bertengger di dekat buah-buah itu menggantung. Namun pak hansip mengindahkannya, ‘mungkin hanya kucing’ pikirnya. Jadi dia buru-buru jalan.

Di perkampungan, keadaan tidak seperti kota yang setiap kiri dan kanan ada rumah penduduk. Di sini, rumah penduduk hanya tiap sekitar dua puluh meteran saja dan lahan-lahan kosong tersebut biasanya jadi lapangan atau kebun terbengkalai yang di tumbuhi banyak tanaman perdu.

Di siang hari mungkin tempat-tempat itu terlihat biasa. Tapi sekarang, pak hansip cuma bisa lihat area yang di terangi oleh lampu jalan saja, selebihnya gelap gulita. Lalu dia sampai di tikungan panjang, di mana ada sebuah rumah kosong yang konon kata orang-orang penghuninya mati gantung diri.

Dia kembali bergidik dan agak berlari ketika menuju tiang lampu berikutnya. Saat dia mengetuk tiang dengan pentungan, dia seperti mendengar gemanya ‘tung-tung-tung’ tapi agak samar. Lalu dia kembali mengetuknya dan gema itu semakin jelas. Dia menghela nafas “cuma gema”.

Pak hansip melanjutkan tugas. Di sepanjang tugasnya dia selalu mendengar gema, semakin ke sini terasa begitu dekat dan jelas. Ketika dia menoleh untuk memastikan, tidak ada seorangpun yang mengikuti di belakang, kiri kanannya lapangan yang luas milik Pak Haji Kodir sangat gelap dan tidak mungkin ada sesuatu yang berani sembunyi di sana. Pak hansip kembali mengetuk tiang ‘tung-tung-tung’. Tapi dia mendengar ‘gemanya’ begitu dekat, asalnya seperti dari tiang sebelumnya yang berada sekitar dua puluh lima meteran dari sini.

Dia berlari, tidak menoleh lagi. Menurutnya ini saatnya pulang ke pos. Dia berniat memutari kampung untuk sampai ke pos. Pak hansip bahkan sudah lupa tugasnya untuk mengetuk-ngetuk tiang. Namun, gema itu terus menerus berbunyi ‘tung-tung-tung, tung-tung-tung’ perlahan semakin jelas. Di sepanjang ia berlari, gema itu terus menerus berbunyi.

loading...

Pak hansip berlari sekencang dia bisa, karena kondisi tubuhnya masih lumayan bugar jadi dia bertahan cukup lama sampai akhirnya melihat sebuah pabrik besar nan gelap. Pabrik terabaikan yang dulu pernah terjadi kebakaran, ratusan karyawannya meninggal terbakar.

Pak hansip masih berlari dan sekarang semakin kencang karena suara gema itu semakin jelas dan banyak, padahal dia tidak mengetuk-ngetuk tiang. Suara gema itu begitu jelas dan banyak sekali sehingga dia berhenti berlari, asal suaranya bukan dari belakang tapi dari tiang di depannya.

Suara gema itu seperti tidak hanya di pukul satu orang saja tapi ada puluhan orang. Pak hansip hendak berbalik arah ketika dia melihat banyak sosok datang, hitam-hitam seperti ratusan orang yang terbakar. Ada sosok yang lehernya di lilit tambang karena mati gantung diri dan sesosok perempuan berbaju kurung putih si penunggu pohon nangka. Suara-suara gema itu semakin jelas karena di pukul dari tiang di dekatnya.

‘Trung-tung-tung, trung-tung-tung, trung-tung’. Ternyata mereka mengikuti pak hansip sepanjang malam itu. Keesokan harinya pak hansip di temukan tertidur di pos-nya dan kemarin malam mungkin hari terakhirnya jadi hansip, karena dia mau bekerja di tempat lain. Kalau kalian mau baca beberapa cerita horor, kesini saja.

Blog: jelagapekat.blogspot.com