Game Maut - 665 Views

Hay, namaku Ego Rajayah member baru. Semoga kalian suka ceritaku. Sabtu tepatnya tanggal 14 Februari. Namaku Dimas, aku dan temanku (Mia, Siti, Agus) pergi untuk membeli buku komik di gang sebeleh untuk menemani Siti. Sampai disana aku dan Agus hanya menunggu Siti dan Mia dari luar toko, Agus bercerita bahwa dirinya mimpi aneh tentang game. Namun itulah Agus dia sangat suka hal yang berbau misterius.

Setelah Siti selesai kami pun pulang, saat jalan pulang Agus mengusulkan untuk membeli sebuah game. Aku setuju untuk menemaninya, namun karena sudah senja Siti dan Mia tidak bisa ikut. 17:43 aku dan agus masih mencari game namun tidak menemukan game yang bagus, namun tiba-tiba Agus melihat toko “Game Tousien” sebuah toko usang di pinggir hutan sedikit jauh dari pemukiman.

Aku pernah dengar cerita siapa saja yang ke toko itu selang seminggu mereka hilang dan jasadnya terpotong di pinggir sungai, aku sudah memberitahu agus namun dia tetap pergi ke toko itu. Saat di dalam tidak ada yang menjaga toko itu. Aku kaget karena Agus tiba-tiba berlari ke sudut ruangan dan mengambil game yang tak jelas namanya tapi yang pasti covernya sangat mengerikan seperti kumpulan organ yang minta tolong.

Tidak lama seorang pejaka tua datang, dia bilang akan memberikan game itu gratis asal kami memainkannya secara bersama. Aku terdiam melihat tampangnya yang buruk sambil memegang celurit. Namun tidak begitu dengan Agus, “baiklah terima kasih Kek” jawab Agus tanpa pikir panjang dan aku pun ikut keluar dari toko sambil melihat penjaga toko itu yang terus tersenyum licik.

Sampainya kami di rumah pukul 18:21 Agus berencana memainkan game ini langsung bersama Siti dan Mia karena orang tuanya sedang pergi untuk dua hari, aku langsung menelepon mereka. Tak lama setelah itu mereka datang sambil membawa cemilan.

“Wah asyik nih ayo kita mulai” kata Mia yang terlihat gembira.

Tetapi berbeda denganku, aku terus saja memandang game, karena menurutku setiap kali aku berpindah pandangan seketika gambar game itu bergerak.

“Uh baiklah itu tidak mungkin” kataku dalam hati.

Agus mencolokan game itu dan setelah hidup, kami serentak teriak! Karena game itu menyanyikan lagu dengan alur menyakitkan telinga dan membuat takut apalagi dengan screen sebuah pisau putih dengan darah. Namun apa? Tiba-tiba lampu mati, aku teriak memanggil temanku namun aku tak sadarkan diri karena seseorang mencekikku.

“Uhk, uhk, hmm aku dimana?”.

Saat itu aku perlahan mulai sadarkan diri dan melihat diriku ada di sebuah gedung. Namun ini lebih mirip ruang penyiksaan karena banyak organ dan darah berceceran. Aku kaget saat melihat ke atas, disana ada teman-temanku di gantung dengan kail pancing di leher mereka, sungguh pedih aku tak menyangka mereka sudah tak memiliki kedua tangan dan satu bola mata yang keluar dari kepala mereka.

Aku tak bisa teriak, entah kenapa leherku seperti terisi dengan lem. Aku hanya bisa terdiam sambil menangis menyesal karena tidak melarang mereka bermain game bi*dab ini. “Ssttt” aku dengar, ya aku dengar suara seseorang, aku senang ternyata Mia masih hidup dan dia bersembunyi di balik papan kayu. Aku pun mendekati dia namun. “Srakk” seketika tangan kiriku jatuh dengan tulang yang keluar dari darah akibat sayatan celurit yang panjang. Bersambung game maut bagian 2.

Facebook: Egho Anandha

loading...