Sekolah Psikolog - 311 Views

Cerita horor ini mengisahkan tentang seorang anak yang mengeluhkan perilaku orang tuanya kepada seorang psikolog yang bekerja di sekolahnya. Sang psikolog pun membereskan masalah sang anak dengan cara yang tidak biasa, bahkan bisa di bilang mengerikan. Ketika aku berumur 12 tahun, aku mengambil kesimpulan, bahwa seluruh orang di dunia, termasuk keluargaku sendiri, membenciku. Aku bukanlah anak yang bermasalah, namun orang tuaku memperlakukanku seolah aku anak yang nakal.

Sebagai contoh, aku harus tiba di rumah pukul 5 sore setiap hari. Ini jelas mengekang waktu bermainku di luar rumah. Teman-temanku tak boleh berkunjung kedalam rumah dan aku juga tak boleh berkunjung ke rumah temanku. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan rumahku begitu aku tiba di rumah. Orang tuaku juga menolak membelikanku video games dan memaksa aku membaca buku dan kemudian menulis laporan resensi buku itu untuk membuktikan aku benar-benar membacanya!

Walaupun semua aturan itu membuatku frustasi saat aku kecil, bukanlah itu yang membuatku merasa sedih. Yang benar-benar menyakitiku adalah kurangnya cinta kasih yang ditunjukkan oleh kedua orang tuaku. Ibuku adalah wanita bermulut pahit yang hanya bisa membuatku merasa bersalah atas semua kesalahan yang aku lakukan. Ayahku hanya mengenal satu emosi: frustasi. Satu-satunya saat dimana ia berbicara padaku adalah saat ia berteriak kepadaku karena nilai jelek yang kuperoleh.

Cukup tentang mereka, sekarang mari bicarakan psikolog sekolahku. Untuk menjaga privasinya, marilah kita sebut dia Mr. Tanner. Seperti SMP kebanyakan di Amerika, seorang psikolog selalu disediakan pada jam sekolah untuk mendampingi konseling bagi para murid, baik karena masalah emosi, akademis, sosial, perilaku, dan lainnya.

Jujur, aku tak pernah melihat ada murid yang berbicara dengan Mr. Tanner. Setiap hari, aku akan melewati kantornya ketika aku dalam perjalanan ke kantin dan mengintip melalui kaca jendelanya. Ia selalu sendiri di sana, dengan kertas-kertas pekerjaannya.

Aku menduga anak-anak lain terlalu takut untuk membicarakan masalah mereka dengan seorang dewasa yang asing bagi mereka. Untuk alasan ini, butuh 3 minggu bagiku untuk mengumpulkan keberanian untuk menemuinya di kantornya. Pada 2 Maret 1993, akhirnya aku memutuskan untuk membicarakan masalahku pada Dr. Tanner. Selama istirahat makan siang, aku berdiri di depan pintu kantornya dan mengetuk.

Melalui jendela, aku bisa melihatnya mendongakkan kepalanya, tersenyum, dan melambaikan tanganku untuk memanggilku masuk. Ia menyambutku dengan memperkenalkan dirinya dan menanyakan namaku. Dr. Tanner adalah seorang pria bersuara lembut yang tampaknya selalu memancarkan kebaikan. Kurang dari 30 menit, aku curhat bertele-tele tentang betapa kejam perlakuan orang tuaku dan bagaimana mereka tidak memperdulikanku sama sekali. Setelah beberapa lama, suaraku mulai gemetar dan aku berhenti berbicara. Sang psikolog mendengarkan dengan sabar atas segala perkataanku dengan tangan terlipat sambil sesekali mengangguk. Aku mengira ia akan mulai berbicara bahwa aku salah dan orang tuaku mencintaiku dan bla bla bla, namun tidak.

Dr. Tanner mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil tersenyum dan berkata, “kau tahu, aku adalah psikolog sekolah terbaik di dunia. Aku berjanji akan memperbaikinya untukmu.

“Oke, tapi bagaimana caranya?” tanyaku.
“Aku punya caraku sendiri” jawabnya.
“Aku memegang teguh kata-kataku tadi. Dalam sebulan, aku berjanji hubunganmu dengan orang tuamu akan berubah, lebih baik. Selamanya”.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan. “Namun, terlebih dahulu kau harus berjanji padaku. Kau harus berjanji bahwa kau akan kembali ke kantorku besok sepulang sekolah dan jangan katakan pada siapapun tentang percakapan kita hari ini. Ini akan menjadi rahasia kecil kita”.
“Aku berjanji”.

Hari berikutnya, aku kembali ke ruangan Dr. Tanner sepulang sekolah. Saat itu sudah sekitar jam 4 sore ketika aku memasuki kantornya. Setelah menyambutku dengan hangat, ia memintaku untuk duduk di depan mejanya lagi. Setelah duduk, aku melihat Dr. Tanner menutup tirai jendela kantornya.

“Nah” ia tersenyum.
“Sekarang kita memiliki semua privasi yang kita butuhkan”.

Kami mulai berbincang mengenai hobiku, mata pelajaran kesukaanku di sekolah, guru yang paling kubenci, dan lain-lain. Setelah sejam bercakap-cakap, Dr tanner menawariku soft drink. Aku dengan gembira menerima tawarannya, menimbang bahwa orang tuaku tak akan pernah membiarkanku minum soda. Dr. Tannner menjangkau lemari es kecilnya dan menjentikkan jarinya sebentar sebelum menaruh dua kaleng soda dalam keadaan terbuka kehadapanku.

Sesudahnya, kami melanjutkan percakapan mengenai keseharianku. Namun tidak lama kemudian aku pingsan karena obat yang dimasukkan Dr. Tanner ke dalam minumanku. Membutuhkan waktu semenit untuk membiasakan pandanganku yang kabur begitu terbangun. Dan ketika aku telah dapat melihat dengan lebih jelas, aku sama sekali tak menduga hal yang telah terjadi. Aku di borgol ke sebuah ranjang dan mulutku tertutup oleh lakban. Aku mulai segera panik dan mencoba melepaskan tanganku dari borgol itu, namun percuma.

Mataku membuka tak percaya ketika melihat ke sekeliling ruangan. Ada banyak poster superhero tertempel di dinding, begitu juga foto-foto dari atlit terkenal. Di tengah ruangan terdapat sebuah televisi tua dan Super Nintendo, juga berbagai macam kaset video games tertumpuk di sekitarnya.

Aku tak tahu apa yang harus kupikirkan. Di sini aku berada, dikelilingi semua benda yang setengah mati diinginkan anak-anak seumuranku. Aku mungkin akan menangis bahagia jika saja aku bisa melupakan sejenak kenyataan bahwa aku tengah di rantai disini. Perutku bergejolak ketika pintu terbuka dan Dr. Tanner masuk ke dalam. Ia kemudian duduk di tepian tempat tidur.

“Sekarang dengarkan” katanya.
“Ingat bahwa aku ada di sini untuk menolongmu dan aku takkan pernah menyakitimu, oke?” Dr. Tanner dengan lembut melepaskan lakban dari mulutku dan kemudian membuka borgol di tanganku.

Insting pertamaku adalah mulai menangis, namun ada sesuatu mengenai Dr. Tanner yang membuatku merasa aman. Ia tersenyum kepadaku.

“Kamu akan tinggal di sini untuk beberapa lama” Ia melanjutkan, “dan selama itu, kamu diperbolehkan untuk memainkan semua permainan yang ada di dalam ruangan ini, namun hanya ketika aku ada di rumah”.
“Ketika aku meninggalkan rumah, aku perlu untuk memborgol salah satu tanganmu di tempat tidur. Kamu masih bisa melihat televisi, namun aku ingin kau hanya menonton channel berita ketika aku tidak ada”.

Aku duduk membisu, masih mencoba memproses semua informasi yang ia berikan kepadaku.

“Jadi” kata Dr. Tanner sambil menepuk lututku, “bersantailah, aku akan datang kembali saat sudah tiba waktunya makan malam”.

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke tengah ruangan, dan menyalakan televisi sebelum mengunci pintu di belakangnya. Beberapa menit berlalu sebelum aku menyadari bahwa Dr. Tanner sama sekali tidak bercanda. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah bermain Nintendo dan bermain Mario hingga malam. Sekitar pukul 7, ia kembali ke kamar membawa dua piring kentang tumbuk dan potongan ayam. Aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bertanya berapa lama aku akan ada di sini.

“Baik, sekitar sebulan” jawabnya, “harus ada yang kulakukan terlebih dulu”.

Pagi berikutnya, aku terbangun karena tangan Dr. Tanner mengelus kepalaku.

“Hei, teman kau tak perlu bangun sekarang jika kau tidak mau, namun aku harus memakaikan ini lagi” bisiknya sambil memakaikan borgol di pergelangan tanganku dan menguncinya di jeruji tempat tidur.

Aku mendongak menatapnya. Ia mengenakan kemeja dengan jas sambil membawa tas koper. Ia tampak seperti akan berangkat kerja ke sekolah. Sebelum pergi, ia menempatkan remote televisi di dekatku dan menyuruhku untuk menyalakannya dan melihat acara berita. Hal pertama yang kulihat adalah segmen “Breaking News” dimana beberapa polisi yang tampak berpangkat tinggi berdiri di podium di kelilingi wartawan. Salah seorang di antaranya mulai berpidato.

“Kondisi darurat telah diberlakukan di seluruh penjuru negara bagian pagi ini. Kami telah menempatkan beberapa penyelidik lapangan untuk menangani kemungkinan kasus penculikan. Namun hingga saat ini, belum banyak bukti yang berhasil dikumpulkan. Saksi mata menyatakan bahwa anak ini terakhir terlihat pukul 5 sore kemarin”.

Aku mulai merasa mual ketika melihat fotoku terpampang di layar. Itu adalah fotoku yang di ambil dari buku tahunan sekolahku tahun kemarin. Tulisan pada foto tersebut menunjukkan nama, umurku, sekolah, hingga nama kota tempat tinggalku. Di bawah fotoku tertulis judul “FBI memulai pencarian korban dan pelaku penculikan masih misterius”.

Tayangan langsung berlanjut dan dua sosok yang langsung kukenali sebagai ayah dan ibuku menanjak naik ke atas podium. Mata keduanya tampak merah. Air mata mengalir deras dari wajah ibuku ketika ia berbicara di depan mikrofon. Aku tak pernah melihat sebegitu besar emosi mengalir dari dalam ibuku sebelumnya. Ia terisak di depan kamera, terbata-bata saat mengucapkan kalimat seperti.

“Tolong kembalikan anakku padaku,” dan “maafkan aku”, serta “kembalilah pulang kepada kami”.

Ketika ayahku mengambil mikrofon, aku berpikir ia masih akan sedingin batu, namun air mata juga mengalir dari matanya. Ia memohon kepada dunia agar membawa anaknya pulang dengan selamat dan memohon pengampunanku. “Aku tahu aku tak pernah menjadi ayah yang baik, demi Tuhan aku sangat menyesal. Tolong kembalikan putraku kepadaku”.

loading...

Aku mematikan televisi saat itu. Emosiku campur aduk karena tak pernah sebelumnya aku melihat ayahku menangis. Aku merasa menderita melihat orang tuaku mengalami cobaan seberat itu, namun di saat yang sama, aku merasa lega. Aku sekarang tahu betapa dalam ayah dan ibuku mencintaiku.

Hampir empat minggu berlalu dan Dr. Tanner memperlakukanku sebaik mungkin. Ia meninggalkanku dalam keadaan terborgol sebelum berangkat kerja, namun kembali saat siang untuk makan siang. Ia juga akan menikmati makan malam bersamaku, bahkan bermain games bersama-sama. Namun pada suatu pagi, saat Dr. Tanner membangunkanku, ia tak tampak seperti biasanya. Wajahnya tampak tegang. Selain itu, aku juga menyadari bahwa ia membangunkanku tiga jam lebih awal ketimbang biasanya.

“Kamu harus melihat berita hari ini, Nak. Tak ada pengecualian. Aku ingin kau memperhatikan televisi seharian dan memperhatikannya!” katanya dengan nada serius.

Tentu tak ada yang bisa kulakukan kecuali melihatnya berjalan keluar ruangan. Setelah dua jam kemudian, sebuah segmen “Breaking News” memotong sebuah iklan pasta gigi yang kusaksikan. Judulnya “jenazah ditemukan”. Seorang pembawa acara berwajah tegang ketika ia menyampaikan beritanya.

“Kami dengan sedih memberitakan bahwa pagi ini ditemukan kemajuan dalam kasus penculikan anak sebulan lalu”.

Pembawa berita itu menganggukkan kepalanya dengan sedih sambil membaca kertas-kertas di hadapannya.

“Sisa-sisa jenazah telah ditemukan di dalam kantong sampah di bawah jembatan tol. Diperkirakan bahwa itu adalah jenazah seorang anak, walaupun tak banyak yang tersisa untuk bisa benar-benar dipastikan. Kepalanya telah di penggal sementara sisa-sisa tubuhnya telah di bakar dan hanya menyisakan abu dan tulang”.

Gambar beralih ke helikopter, tampak di bawah jalan raya dengan lusinan polisi berkumpul di bawah jembatan. Suara sang pembawa berita masih terdengar.

“Dalam tas polisi menemukan sebuah kartu pelajar berikut ini”.

Layar menunjukkan kartu pelajarku yang selalu kubawa di dalam ranselku. Plastik pembungkusnya tampak meleleh, namun foto dan namaku masih utuh. Kamera berganti menunjukkan wajah orang tuaku, di apit dua reporter. Wajah ibuku tampak menahan kesakitan yang amat dalam sedangkan ayahku membenamkan kepalanya ke atas kedua lututnya. Aku mematikan televisi itu.

Dr. Tanner kembali sangat terlambat. Ia segera masuk ke kamarku, membuka borgolku, dan memberikanku sebotol minuman bersoda. Ia menempatkan kedua tangannya ke pundakku dan tersenyum.

“Aku sudah berjanji kan?”.

Aku mengangguk, air mata keluar dari pelupuk mataku.

“Kamu harus berjanji lagi kepadaku” bisiknya.

Ia mengatakan padaku untuk meminum seluruh isi botol itu-itu akan membantuku tertidur dan bahwa aku takkan mengatakan apapun, bahkan menyangkal pertemuanku dengannya. Aku setuju.

“Sudah kukatakan, aku adalah psikolog sekolah terbaik di dunia, ya kan?”.

Dan ia memang benar. Aku terbangun malam itu, menemukan diriku terbaring di atas rumput. Bintang bersinar dengan cerah di atas langit malam. Aku mengenali bahwa aku berada di sebuah taman yang tak jauh dari sekolahku. Aku kemudian mulai berjalan dan menemukan rumahku. Lampu di dalam rumah padam, namun aku masih bisa melihat bayangan ayahku duduk di tangga di depan pintu masuk.

Dengan ragu, aku memanggilnya. Ayahku mengangkat kepalanya dengan perlahan dan begitu melihatku, ia langsung berlari memelukku sambil meneriakkan namaku. Ibuku melakukan hal yang sama begitu keluar dari dalam rumah. Dr. Tanner benar. Segalanya berubah menjadi lebih baik semenjak itu. Orang tuaku tersenyum setiap saat dan memperlakukanku penuh kasih sayang. Aku tak bisa meminta akhir yang lebih bahagia dari ini.

Sejak hari itu, aku masih sering melihat Dr. Tanner di sekolahku. Kami jarang berbicara, bahkan untuk bertukar pandangan sekalipun. Namun kadang kala, ia akan tersenyum ke arahku. Aku selalu memegang janjiku padanya dan berpura-pura tak pernah bertemu dengannya. Namun ada satu pertanyaan yang selamanya akan selalu terngiang dalam benakku. Siapa anak yang Dr. Tanner penggal?