Anak Kecil Bermain di Irigasi - 202 Views

Di sebuah pabrik makanan ringan, paman saya yang bernama burhan (kami biasa panggil mang burhan) bekerja. Dan seperti halnya pabrik-pabrik yang lain, di tempat kerja mang burhan ini pun di terapkan sistem kerja shift. Saat itu, kebetulan mang burhan ini harus masuk kerja shift 2. Yang artinya, masuk jam 3 sore dan pulang kerja jam 11 malam.

Singkat cerita, bel waktu pulang kerja berbunyi jam 11 malam. Maka seluruh karyawan harus segera meninggalkan pabrik dan di ganti shift yang ketiga. Seperti hari-hari biasanya, mang burhan jika pulang jam 11 malam pasti di jemput oleh mertuanya yaitu abah ohen menggunakan motor karena mang burhan ini tidak bisa mengendarai motor dan jika pulang jalan kaki, orangnya sangat penakut (prinsip beliau, lebih baik ketemu begal dari pada ketemu hantu).

Waktu terus bergulir, tak terasa setengah jam berlalu mang burhan menunggu mertuanya yang belum kunjung tiba. Satu persatu teman shiftnya menawari beliau untuk pulang bersama, namun mang burhan menolaknya dengan halus karena beliau memutuskan untuk tetap menunggu mertuanya. Saat jam menunjukkan pukul 23.50, telepon di pos sekuriti berdering (maklum zaman dulu, handphone adalah barang mewah dan tidak semua orang punya).

Oke kembali ke cerita, ternyata orang yang menelepon ke sekuriti itu adalah mertuanya mang burhan. Mertuanya menyampaikan permintaan maaf karena beliau tidak bisa menjemput mang burhan dengan alasan diare. Sebuah situasi yang membingungkan untuk mang burhan, mau tidak mau mang burhan harus pulang dengan jalan kaki dan satu-satunya jalan tercepat adalah melewati area pesawahan dan irigasi.

Dengan mengumpulkan keberanian serta cahaya bulan menyinari, mang burhan berjalan menyusuri area pesawahan itu. Karena sangat penakut, mang burhan berjalan pelan sambil menundukan kepalanya agar mengurangi rasa takutnya. Terus saja mang burhan berjalan dengan keadaan demikian hingga terdengar lah suara tawa anak kecil.

“Ah akhirnya ada juga teman dalam perjalananku pulang”, gumamnya dalam hati.

Saat mengadahkan pandangannya, ternyata benar di jembatan saluran irigasi itu ada sekumpulan anak-anak sedang mandi. Kira-kira jumlahnya 5 orang, melihat itu, mang burhan mempercepat langkahnya dengan semangat hingga tibalah di jembatan itu. Tawa anak-anak itu tiba-tiba senyap, mang burhan yang merasa aneh dengan diamnya anak-anak itu, mencoba mencairkan suasana dengan menyapa mereka.

“Wah senangnya kalian mandi-mandi malam di terangi cahaya bulan” kata mang burhan.

Tak ada satupun dari mereka menghiraukan apa yang d iucapkan mang burhan dan malah anak-anak itu menatap mang burhan dengan tatapan heran. Mang burhan yang merasa di tatap demikian, kemudian berkata.

“Ya sudah, kalian teruskan saja mandi-mandinya. Saya hanya numpang lewat saja”.

Baru beberapa langkah meninggalkan mereka, mang burhan memberhentikan langkahnya, dan berpikir apa yang di ucapkannya serta melihat situasi saat itu sambil melihat bulan di langit. Mang burhan kemudian berkata dalam hatinya.

“Ini kan tengah malam? Kok ada anak kecil mandi di irigasi tanpa di dampingi orang dewasa? Itu manusia bukan ya? Tenang *hmm”.

Karena otaknya baru *ngeh dengan pemandangan yang terjadi malam itu, mang burhan mencoba melirik ke belakang dan ternyata, sekumpulan anak kecil itu hilang! Jantung mang burhan berdegup kencang saat itu. Wajahnya tiba-tiba pucat dan di sepinya pesawahan saat itu, beliau lari sambil teriak “hantu, tolong!” karena area pesawahan itu jauh dari pemukiman penduduk, tak ada satupun yang mendengar teriakannya.

Karena lari kencang di pesawahan, mang burhan tak sengaja menginjak pinggiran sawah dan kemudian mang burhan terjerembab ke sawah dengan wajah dan menghujam sawah *haha. Saking takutnya, mang burhan yang terjerembab itu langsung bangkit kembali tanpa menghiraukan wajah dan badannya yang kotor terkena lumpur sawah.

Beliau terus berlari dengan kencangnya hingga sampailah di pintu depan rumahnya. Kemudian pintu rumah yang terkunci itu di gedor sangat keras hingga membangunkan bi titi (istri mang burhan) dari tidurnya. Dengan keadaan masih setengah sadar, bi titi bergegas membukakan pintu dan “astaghfirullahaladzim” kata-kata yang keluar dari mulut bi titi karena melihat keadaan mang burhan yang penuh lumpur wajah dan badannya.

Karena itu juga bi titi langsung pingsan depan rumah! Melihat bi titi yang pingsan, mang burhan mencoba membangukan istri namun beliau melihat keadaannya yang penuh lumpur, jika di bangunkan istrinya bakal pingsan lagi melihat keadaannya. Akhirnya mang burhan ke kamar mandi membersihkan wajahnya yang terkena lumpur kemudian membangunkan istrinya. Setelah siuman, mang burhan menceritakan semua kronologi yang menimpanya dan mereka berdua pun tertawa. Demikianlah cerita ini sesuai dari yang di ceritakan oleh mang burhan kepada saya. Nantikan cerita selanjutnya dari saya.

loading...