Babadagna Lelembutna Hayu Urang Uih - 176 Views

Babadagna (raganya), lelembutna (jiwanya) hayu urang uih (mari kita pulang)! Sebenarnya cerita ini terjadi ketika aku berumur sekitar 9 tahun, keluargaku yang menceritakannya kembali kepadaku. Hari minggu cerah, seluruh keluargaku berkumpul di rumah orang tuaku, mereka berencana untuk pergi ke acara ngaliwet, yang akan dilaksanakan di sawah nenekku.

Singkat cerita, seluruh keluargaku berangkat menuju kearah pesawahan yang notabene letaknya lumayan jauh dari rumah orang tuaku. Setelah sampai di tempat tujuan maka acara masak nasi liwet pun di mulai, candaan, tawaan, semuanya terdengar begitu ceria, padahal sesuatu yang aneh akan segera terjadi, kepadaku!

Tepat di depan sawah yang di jadikan tempat memasak nasi liwet itu, terdapat sungai yang airnya mengalir begitu deras, keruh berwarna coklat, serta banyak benda hanyut terbawa arus, aku terus menatap sungai sambil sesekali aku menoleh ke arah hulu sungai, “mungkin saja sesuatu yang aneh terbawa arus” begitu pikirku.

“Bayu. Bayu!!” teriak ibuku, dia memanggilku berkali-kali, tapi tak sedikitpun aku menoleh ke arahnya! Karena aku tak kunjung menghampiri ibuku, ibuku datang dan langsung menarik tanganku.

“Kamu jangan main jauh-jauh nak!” bisik ibuku.
“kamu main sama Noni saja”.

Noni adalah saudara sepupuku, dia seumuran denganku, bisa dibilang kalau dia punya bakat, kelima inderanya lebih peka dari orang kebanyakan. Noni tak henti-hentinya menangis sambil merangkul ibunya, bibiku sungguh kebingungan, antara kesal dan juga khawatir, akhirnya diputuskan bibiku membawa pulang Noni.

Dan sekarang, hanya akulah anak kecil di antara anggota keluargaku yang lain. Saat orang-orang dewasa hilir mudik, kesana kemari, ada yang mengurusi nasi, ada yang memasak ikan asin, memetik lalapan, dan sebagainya. Aku cuma bisa berdiam diri di dekat ibuku yang sesekali memasukan kayu bakar ke dalam tungku. Samar-samar terdengar olehku suara seorang anak kecil, ketawa sambil memanggil namaku.

“Bayu. Bayu. Bayu”.

Awalnya kuhiraukan suara itu. Dan kemudian kembali terdengar suara tawa anak kecil yang entah dimana keberadaannya itu. Aku berlari kearah suara itu datang, aku berbohong pada ibuku kalau aku ingin buang air kecil. Aku berjalan ke arah suara anak kecil tadi, dan seorang anak kecil terlihat olehku, sedang melambaikan tangannya ke arahku, anak itu berada di seberang sungai. Tak mau ambil resiko di marahi ibuku, aku kembali ke tempat semula saat aku meninggalkan ibu, tapi saat perjalanan, anak itu sudah berada di depanku, dia meraih tanganku, bersalaman denganku, dan dia mengajakku duduk di sebuah batu besar yang letaknya tidak jauh dari lokasi “ngaliwet”.

Anak misterius itu bercerita tentang keluarganya, akupun menimpali ceritanya dengan menceritakan ibuku, bapakku, dan semua keluargaku. Kami tertawa bersama, bermain-main, bahkan sampai berlari-lari di sawah kering, saat itu adalah saat yang menyenangkan bagiku. Ya, setidaknya bagiku! Sementara itu ibuku hanya melihat aku tertawa dan bermain seorang diri. Mungkin ibu mengira aku bermain dengan teman imajinasiku.

Kira-kira waktunya dzuhur, rombongan keluarga besarku memutuskan untuk pulang, setelah nasi liwetnya ludes habis tentunya. Ibuku menghampiriku lagi, dan kali ini, beliau langsung menuntunku. Anak misterius itu mengikutiku, dia menggenggam tanganku, kali ini dia bersedih, wajahnya yang pucat membuat anak itu terlihat seperti orang mati. Anak itu berbisik kepadaku.

“Ayo main lebih lama!”.
“Aku mau pulang” bisikku.

Setelah berkata seperti itu, rasa kantuk menyerangku, sampai aku minta ibu untuk menggendongku. Akupun tertidur. Tak lama kemudian, aku membuka mataku, aku terbangun di tempat yang sama sekali tak ku kenal, bukan kamarku, bukan juga kamar orang tuaku. Lalu, dimana aku!? Ruangan yang begitu luas, kasur tempatku terbaring sangat empuk, halus, dan wangi.

Tiba-tiba, anak misterius itu menghampiriku kali ini wajahnya terlihat bahagia, dia merangkulku dan menuntunku entah kemana, kami berjalan melewati lorong panjang, yang di sebelah kiri-kanannya adalah dinding yang terdapat lukisan-lukisan wajah orang yang memakai mahkota, seperti lukisan silsilah keluarga. Tak lama setelah kami keluar dari lorong tersebut, terdapatlah sebuah lapangan luas, seperti tempat orang berlatih bela diri, sungguh tempat yang sangat tidak bersahabat, orang-orang disana sama sekali tidak ramah, mereka memandangku dengan wajah marah, bahkan aku ingat saat seorang nenek tua, melotot ke arahku dengan mata merahnya, sambil mengunyah sesuatu, mengunyah daun sirih? (Kalau di dunia manusia) .

Mungkin karena aku masih seorang bocah polos, aku tidak menghiraukan semuanya, saat anak itu melepaskan tanganku dan berhenti di depan sebuah pintu yang sangat besar. Anak itu berteriak, dan menggedor pintu dengan keras, tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya keluar dari balik pintu besar tersebut sambil berbisik.

“Aden kemana saja, Tuan sangat marah, karena Aden tak kunjung pulang” (aku ingat bagian itu, tentu saja mereka berbicara dengan bahasa Sunda).
“Jangan beritahu Ayah, aku mau ajak Bayu ke pasar!”.

Seraya anak itu menoleh ke arahku, lengkap dengan senyum nakalnya.

“Ampun Aden, bibi tak sanggup menghadapi Tuan yang sedang gelisah” jawab si bibi dengan suara lirih.
“Tenang bi, Aku bawakan oleh-oleh dari pasar untuk Ayah nanti!” sambil anak misterius itu membawaku berlari, menuju arah pasar. Sepertinya keberadaanku disini sangat di rahasiakan oleh anak misterius itu.

Di sepanjang perjalanan, aku melihat kanan-kiri, tempat itu begitu aneh, langitnya biru cerah, tak terdapat sedikitpun awan, tak ada juga matahari, pohon-pohon berjejer sepanjang jalan dan tak ada angin yang berhembus. Saat itu kami melewati daerah yang terdapat banyak sekali rumah, sekali lagi. Semuanya tampak tak biasa bagiku, tidak seperti rumah normal yang lainnya.

Rumah-rumah itu memiliki pintu yang sangat tinggi, atapnya terbuat dari jerami, sementara dindingnya seperti terbuat dari kayu gelondongan, “mirip seperti rumah orang zaman dulu” pikirku. Bukan hanya rumah, hewan ternaknya pun terlihat sangat aneh, aku tidak tahu hewan apa itu, bentuknya menyerupai ayam, tapi lehernya terlalu panjang, dan bulu ekornya indah, panjang dan berwarna merah. Saat sedang asik melihat hewan-hewan aneh saat itu, tiba-tiba aku seperti menabrak dinding yang sangat keras, seketika itu pula aku terjatuh, dan saat kepalaku mendongak ke atas, aku melihat sesuatu yang menakutkan, bukan manusia, apalagi hewan.

Seorang pria tinggi besar, bulu dadanya yang sangat lebat, perutnya buncit, sementara wajahnya sangat menyeramkan mata besar seperti hendak meloncat keluar, hidungnya sebesar kepalan tanganku, dan bibirnya hitam, terlihat taring yang mencuat di kedua sisi mulutnya. Aku tak bisa bergerak, menangispun aku tak bisa. Tapi untung saja, makhluk itu cuma mendengus dan pergi begitu saja. Aku sama sekali tidak bisa berdiri, lututku lemas, kakiku benar-benar tak bisa di gerakan, aku ketakutan setengah mati. Di saat seperti itu, anak misterius membisikan kata-kata yang tak ku mengerti, bahkan tak pernah kudengar. Dan seketika itu pula, rasa takutku lenyap, akupun melupakan makhluk besar yang ku tabrak itu.

Entah berapa lama kami berdua berjalan, akhirnya sampai di tempat tujuan, yaitu sebuah pasar, tempat itu sangat ramai, banyak orang-orang berlalu lalang, berteriak, tertawa, ataupun mengobrol. Tapi aku sama sekali tak mengerti bahasa mereka. Anak misterius itu menarik ujung bajuku, sambil tersenyum dia berbisik ke telingaku.

“Di sini kamu panggil aku Gondewa” (yang baru-baru ini aku baru tahu kalau Gondewa artinya panah). Aku dan Gondewa, berkeliling pasar dan entah apa yang di cari anak itu di tempat aneh seperti ini. Mungkin sekitar beberapa jam akhirnya Gondewa menunjukan sesuatu kepadaku sambil tersenyum, sebuah vas dengan ukiran burung hitam yang sedang menggenggam permata berwarna merah, kemudian anak itu menyimpan sesuatu ke dalam vas tersebut, entah apa.

Langit masih saja biru, tak ada tanda-tanda akan berubah menjadi gelap layaknya malam hari, tapi rasa kantukku tak bisa di tahan lagi, semenjak aku pulang dari pasar bersama Gondewa, aku langsung di suruh beristirahat di kamar tempatku semula. Dan akupun tertidur pulas.

Di rumah orang tuaku, ibuku panik, ibuku sangat khawatir denganku. Bagaimana tidak, semenjak pulang dari acara Ngaliwet tadi, aku tertidur sangat lelap, ibuku sudah berusaha membangunkanku, tapi semuanya percuma. Aku tertidur sudah hampir dua hari, segala cara sudah ibuku lakukan untuk membangunkanku, bahkan sampai memanggil orang pintar. Hari ketiga, bapakku pulang dari Jakarta. Beliau langsung mengajak ibuku untuk berkonsultasi dengan gurunya, jadi, bapakku berencana untuk pergi ke pesantren tempat gurunya tinggal. Jarak dari rumahku ke pesantren tempat guru dari bapakku sekitar setengah jam menggunakan kendaraan. Ibuku tak berpikir panjang, ibuku nekat pergi dengan bapak, meninggalkan aku yang tertidur pulas tanpa penjagaan.

Sore harinya, bapak, ibu dan guru dari bapakku yang memutuskan untuk melihat keadaanku, terheran melihatku bangun, aku tertawa kemudian menangis, berjalan kemudian terjatuh, lalu bergumam sendiri, menurut ibuku aku bergumam dengan bahasa aneh yang tidak jelas. Guru dari Bapakku adalah seorang kiyai ternama di tempat asalku.

“Lelembutan na, teu ngilu balik ieu mah!” (Kesadarannya tidak ikut pulang), begitulah menurut pak Kiyai.

Jadi saat itu, yang mengisi ragaku adalah makhluk lain, dan yang pulang bersama ibuku, yang tertidur di gendongan ibuku hanyalah tubuh tanpa kesadaran. Sementara kesadaranku terjebak di negeri antah berantah. Mendengar hal itu, ibuku semakin bersedih, begitu pula bapakku. Pak Kiyai menyarankan untuk mengadakan pengajian di rumah orang tuaku. Maka di adakanlah pengajian yang di maksud di malam harinya, delapan orang santri (murid dari pak Kiyai), termasuk bapakku, mengelilingi tubuhku, mereka membaca ayat-ayat Al-Quran.

Tak lama setelah itu, tubuhku bereaksi, menggeliat, dan berteriak kepanasan. Makhluk yang berada di dalam tubuhku mengancam, kalau pengajiannya tidak di hentikan, makhluk itu akan menghancurkan tubuhku dari dalam. Ibuku pingsan, beliau tak kuasa melihat aku menggeliat, seperti sangat menderita dan kesakitan. Kejadian itu berakhir saat Pak Kiyai memegang dahiku, serta memelukku seraya melantunkan ayat-ayat Suci Al-Quran, makhluk di dalam tubuhku menyerah, dan menceritakan dimana keberadaan Kesadaranku.

Gondewa kembali membangunkanku, kali ini dia mengajakku untuk bermain di batas negara. “Negara?” pikirku. Saat hendak keluar dari lingkungan rumah Gondewa, terdengar suara menggelegar, suara orang yang sangat berwibawa, seketika itu aku dan Gondewa menoleh ke arah datangnya suara. Seseorang yang berbadan tinggi besar, memakai mahkota, berselendang sutra berwarna kuning, sungguh orang yang penuh kharisma, layaknya seorang Raja.

“Kamu sadar apa yang kamu Lakukan Gondewa!?” bentak orang itu
“Aku hanya kesepian Ayah, aku ingin bermain” jawab Gondewa tak mau kalah.
“Dia itu manusia”.
“Tapi Ayahanda” belum sempat Gondewa menyelesaikan kalimatnya, sekelompok orang yang berpakaian seperti prajurit mengelilingi kami.
“Ampun Baginda Raja, apa yang harus kami lakukan kepada anak manusia ini?” tanya salah seorang prajurit.
“Bawa dia kedalam tahanan” titah sang Raja.

loading...

Tapi aku tak mau tertangkap oleh orang-orang aneh itu. Aku berlari entah kemana, Gondewa hendak mengejarku, tapi Ayahnya menarik tangannya.

“Kejar anak itu” perintah sang Raja.

Para prajurit tinggi besar itu mengejarku, seorang anak kecil berlari dari kejaran orang-orang menyeramkan. Tak ada seorangpun yang sudi menolongku, bahkan cuma sekedar menyembunyikanku. Aku berlari tanpa menghiraukan sekelilingku, entah berada dimana aku saat itu. Yang terpikirkan olehku hanyalah orang tuaku, aku menangis di sepanjang pelarianku, tak peduli orang seperti apa yang memperhatikanku, aku hanya bisa menangis dan menangis, bahkan aku sempat memanggil ibu dan bapakku. Orang-orang berbadan besar itu berhasil mengejarku, mereka menangkapku tepat saat seorang pria tua menghampiriku, pria tua itu berkata “tolong lepaskan cucu saya tuan”.

“Titah paduka Baginda tidak bisa di ganggu gugat” jawab salah seorang prajurit.
“Kalau begitu, pertemukan saya dengan Tuanmu” pria tua itu memohon.
“Baik. Ikut saya” kata si prajurit dengan tegas.

Tak lama kemudian, aku, pria tua, dan para prajurit tiba di halaman istana.

“Jadi selama ini aku tinggal di istana!?” gumamku

Pria tua itu menoleh ke arahku dan tersenyum. Kemudian aku dan pria tua, di persilahkan menghadap sang Raja.

“Ada apa kau manusia ingin bertemu denganku!?” tanya sang Raja.
“Saya hanya ingin menjemput cucu saya”.
“Dia menyusup kemari, maka dia harus di tahan disini” perkataan sang Raja ini menbuatku gemetar dan menggigil, bagaimana jadinya kalau aku harus hidup terkurung di negeri asing, jauh dari orang tuaku.

“Bukan cucu saya yang menyusup, tapi Anak andalah yang membawa cucu saya kemari” pria tua itu menunjuk Gondewa dengan ibu jarinya.
“Benarkah itu Anaking!?”.
“Iya Ayah” jawab Gondewa lemas.

Sang Raja tertawa terbahak-bahak, sementara si pria tua hanya tersenyum.

“Tidak baik bagi kaum kita, bermusuhan hanya karna hal sepele” ucap pria tua kemudian.
“Benar sekali Tuan” sang Raja kembali tertawa.
“Anakku benar-benar suka memberontak, dia pergi ke negara manusia dengan sembunyi-sembunyi”.
“Maafkan dia, anak kecil cenderung mempunyai rasa ingin tahu yang besar” begitulah kata si pria tua.

Si pria tua kemudian berpamitan kepada sang Raja, ku lihat wajah Gondewa kembali bersedih, kulambaikan tangan pada Gondewa, dalam hatiku aku berjanji, tidak akan pernah menginjakan kaki di negeri aneh ini lagi. Si pria tua kemudian bergumam, seperti berdo’a, tepat sesaat setelah pria tua selesai berdo’a, penglihatanku kabur, semuanya buram, dan kemudian semuanya menjadi gelap, aku tak ingat apa-apa lagi. Pikiranku masih kacau, samar-samar kudengar suara ibuku, kemudian bapakku, lalu suara seseorang yang tampak familiar, ya suara si pria tua itu. Aku membuka mataku pelan-pelan. Melihat sekeliling, ramai sekali, banyak orang-orang duduk mengelilingiku. Tiba- tiba, ibuku merangkulku, sambil berkata “kau sudah pulang nak!?”.

“Pulang?” pikiranku menerawang jauh.
“Tapi aku baru saja bangun tidur”.
“Pulang dari mana?”.
“Sudah-sudah, biarkan anakmu beristirahat, dia baru saja mengalami perjalanan jauh” ucap pria tua.
“Iya pak Kiyai” sahut ibuku.

Aku sama sekali tak ingat apa yang terjadi, tapi setelah bertahun-tahun. Mimpi itu kembali mendatangiku, wajah Gondewa, bahkan wajah Sang Raja kembali kedalam ingatanku. Sampai sekarang, aku masih ragu, apakah kejadian itu asli atau hanya sekedar mimpi bagiku. Tapi temanku pernah berkata, kalau aku adalah juara tidur.

“Kalau urusan tidur, si Bayu yang jago, tiga hari gak bangun, bisa dia mah” begitu katanya.

Waktu aku kelas 6 SD, tetanggaku bertanya padaku.

“Si Bayu mah pernah nyaba ka pageto” (si Bayu itu pernah bertamasya ke esok lusa).

Saat ku beranikan diri bertanya kepada guru bapakku (yang sekarang jadi guruku juga), beliau hanya tersenyum, dan berkata “simpan kenangan itu, ambil baiknya, buang buruknya!”.

Konon, orang tua zaman dulu, ketika mengajak anaknya bertamasya, atau bermain kemanapun. Ketika waktunya pulang, orang tua akan menuntun anaknya dan berkata. Babadagna Lelembutna, Hayu Urang Uih. Mungkin maksudnya, raganya, jiwanya (dalam hal ini mungkin alam bawah sadar si anak) mari kita pulang. -SEKIAN-.