Sabtu kliwon, 19 Oktober 2013 bertepatan dengan bulan Purnama Kapat dalam penanggalan Hindu. Hari dimana kuburan nenek harus di bongkar agar jasadnya dapat di kremasi setelah konon selama 40 tahun dikebumikan. Selepas maghrib hari itu, semua keluarga berangkat ke pasetran (kuburan), mencabut nisan-nisan dan mulai menggali kuburan, hingga menemukan tulang-belulang dan tengkorak.

Di kisahkan oleh adik nenek. Aku memanggilnya Pekak (kakek: bahasa bali), nenek semasa hidupnya pernah berjaya dalam berdagang. Memiliki 11 orang anak tentu menjadi beban berat bagi orang tua untuk menghidupi anak-anaknya. Tapi tidak bagi nenek, nenek adalah pedagang yang tekun. Segala jenis kain ia perjual-belikan dengan menaiki pedati ditarik lembu jantan. Hidupnya makmur hingga menimbulkan kedengkian pada hati saudara-saudaranya.

“Nenekmu di santet. Di dalam perutnya ada ular yang menggeliat-geliat tiap malam Legi dan Wage. Bisa berhenti bergerak sementara jika ular di dalam perut itu diketuk menggunakan gayung tempurung kelapa” cerita Pekak padaku.
“Jika nanti kamu temukan 2 bilah pusaka di dalam pelukan tengkorak nenekmu, ambil dan bawa pulang” tambahnya.

2 bilah pusaka itu dikisahkan adalah pusaka nenek semasa hidupnya. Sebilah keris luk 9 dan sebilah mata tombak. Sebelum ajal menjemputnya lewat derita santet, nenek berpesan pada Pekak.

“Ari (Adik), kalau aku mati nanti, 2 pusaka itu sertakan di atas dadaku di dalam kain kafan. Jangan gunakan batu atau tanah untuk bantalku, tapi kayu leher lembu pedati”.
“Untuk apa, Mbok?” tanya Pekak.
“Aku akan balas dendam, Ari (Dik). Kamu lihat saja. Sebelum 40 hari aku genap di kubur, orang-orang yang menyantet aku ini akan mati”.

Pekak hanya mengiyakan pesan nenek kala itu. Sore harinya nenek dinyatakan meninggal. Belum juga 40 hari setelah nenek meninggal, 4 orang saudaranya sendiri, bahkan sepupu-sepupunya meninggal dengan keadaan yang tragis. Wajah pecah seperti di iris-iris. Dada dan jantung berlubang seperti di hujani tombak, kepala dan bahu lebam-lebam layaknya di hantam pukulan benda keras.

Cerita pekak berhenti di sana sebelum aku berangkat ke pasetran. Bilah-bilah pusaka itu betul-betul aku temukan di dalam pelukan kerangka nenek. Aku menangkupkan kedua tangan menghormati nenek, seraya mengucapkan: Dadong (nenek), aku sudah mendengar cerita tentang Dadong. Biar pusaka-pusaka ini aku bawa pulang. Dendam nenek sudah berpuluh tahun selesai. Agar nenek tenang di alam sana.

Sebelum aku angkat kerangka itu, lebih dulu aku punguti pusaka itu. Bilah-bilah yang anyir dan terlihat sangat berkarat. Bahkan bekas kain kafan menempel di sana. Bekas darah juga. Kayu leher lembu pedati sudah tiada, pasti hancur di makan masa di dalam kubur. Kerangka nenek di angkat, di sucikan kemudian di kremasi di Pura Prajapati malam itu di bawah asuhan sinar purnama. Esoknya abu di larung di bibir pantai. Pekak menangis ketika melihat pusaka-pusaka itu aku serahkan di dalam tas kresek warna hitam. Mungkin Pekak teringat masa-masa lalu ketika Pekak menaruhnya di jasad nenek, untuk membalas dendam.

“Lantas di apakan ini?” tanyaku.
“Besok sucikan, jamasi. Sekarang taruh saja di belakang rumah. Jangan di dalam rumah”.

Aku melakukan seperti kata kakek. Kebetulan di rumah sedang berkumpul adikku, istrinya dan anaknya yang masih balita. Membawa serta mainan-mainan. Malam itu sangat mengerikan. Mainan-mainan itu beterbangan dan berbunyi sendiri. Padahal baterainya sudah habis tenaganya.

loading...

“Tolong nak, tolong” suara tanpa rupa merengek-rengek dari belakang rumah.
“Itu suara nenekmu” Pekak ikut terbangun sambil berkaca-kaca matanya.

Pusaka itu tidak bisa bersih ketika di jamas. Jeruk nipis, mengkudu, air kelapa muda bahkan sabun cuci piring sudah aku gunakan. Kain kafan dan darah itu tetap menempel pada bilahnya.

“Rainan Galungan hari rabu lusa aku larung saja pusaka ini, Pekak. Di laut tempat abu nenek di sebar”.
“Tidak apa-apa. Larunglah. Bekas darah memang tidak baik di piara. Sementara, biar pusaka-pusaka ini aku pendam di belakang rumah, di bawah pohon srigading”.

23 Oktober 2013 jam 10 pagi. Aku menggali tempat itu. Namun, pusaka-pusaka itu telah raib tanpa jejak. Menghilang begitu saja. Seluruh penghuni rumah tidak tahu menahu. Tetap berangkat aku ke pantai dengan membawa bunga serta dupa.

“Raka tenggelam! Raka tenggelam!” kawan-kawanku berteriak mengejarku. Ombak tiba-tiba tinggi hendak menggulungku.

Tapi aku dapat berlari mengelak meninggalkan sebaran bunga dan dupa yang tertancap di pasir laut.

“Dadong, belum selesaikah dendam Dadong?” batinku berbisik memandangi bunga yang timbul-tenggelam bersama riak ombak.
“Nenek istri pekak belum mati. Ilmunya terlalu tinggi. Mungkin Dadong baru akan tenang jika istri Pekak telah mati”.
“Maksud Ibu?” tanyaku membalas kalimat Ibu-ku.
“Istri pekak juga mempunyai andil pada kematian Dadongmu”.
“Menyantet?”.
“Nah (Iya). Harta Dadong yang akan ia rebut setelah saingan-saingannya mati”.

Aku tertengun. Sedemikan hebatkah dendam itu?