Iblis Yoni Kartu Lintrik - 501 Views

Pengalaman yang bagiku cukup memukul sekaligus menjadikan pelajaran berharga bagiku maupun bagi orang-orang lain yang bersedia mendengarkan atau membaca kisahku ini. Beberapa tahun lalu, sebagai seorang pelajar SMA, aku menjadi salah satu siswa yang cukup rupawan dan menyumbang trophy juara terbanyak kepada sekolah. Tapi di samping bahagianya orang tuaku dan di elu-elu kan di seantero sekolah bahkan di seluruh area kota raya, tidak sedikit yang membenciku. Apapun mereka lakukan agar aku jatuh.

Mulai dari di ancam berkelahi hingga di serang dengan kekuatan-kekuatan gaib. Bahkan kepalaku sudah pernah hampir mengganjal roda sebuah mobil box, tinggal sejari saja. Remuk sudah kepala. Sebut saja Tante T. Seorang janda kesepian yang mungkin senang di temani oleh pemuda-pemuda. Perkenalanku dengan dia bukan tanpa sebab. Temanku, aku memanggilnya Gun, yang mengenalkan aku dengan Tante T.

Entah apa maksud Gun. Aku tahu Gun adalah pemuda sembrono yang ngawur berbuat kesana kemari, tapi mengenalkan aku dengan Tante T ku nilai sebagai tindakan yang sangat lancang, karena aku tidak pernah meminta diperkenalkan kepada orang-orang tertentu atau aku ingin mendapat benefit apa-apa dari kenalanku. Didikan keluargaku sebagai bangsawan trah salah satu keraton di tanah Jawa, menjadikan aku orang yang cukup arif dalam bersikap dan berkenalan dengan seseorang baru.

Aku pun tidak meninggalkan nomor handphone pada Tante T dan tidak menunjukan Fanpage akun Facebookku padanya. Tapi aku yakin sekali, Gun adalah orang yang banyak bicara pada Tante T. Tante T mulai mengundangku untuk chat di BBM bahkan meneleponku, sering mengingatkan makan, istirahat, menanyakan ada PR atau tidak, bahkan menawariku oleh-oleh, barang-barang bahkan makanan.

Suatu hari aku sampai minta ditemani kakakku yang berprofesi sebagai polisi agar mengantarkanku berangkat sekolah sekaligus menjemputku pulang. Mungkin terdengar lucu, tapi guyonan-guyonan tentang penculikan sudah mulai membuat otakku paranoid.

“Siapa yang mau nyulik anak bongsor kayak kamu? Sudah seminggu kakak antar kamu. Aman-aman saja kan?” kakakku selalu berkata begitu dengan tertawa.
“Ya sudah, aku berangkat sendiri” gerutuku sambil menyahut kunci kontak motor.

Deru mesin memenuhi jalan hingga aku sampai di sekolah. Aman. Tapi aku apes pada saat aku hendak pulang.

“Shakti!” teriak Tante T di seberang jalan sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Mati gue. Mati” batinku menggerutu.
“Oh iya Te? Nyari Gun? Dia masih piket nyapu kelas Te. Di tunggu saja Te. Saya keburu ada urusan di rumah” yang ada dipikiranku cuma kabur, kabur dan kabur dari Tante T.
“Lhoh, enggak Ti. Tante ada sesuatu buat kamu. Juga Tante mau tanya kabar saja. Semingguan BBM Tante ke Shakti cuma D saja. Telepon juga gak di angkat. Ngambek ya?”.
“Oh, anu, itu, eh, enggak kok Te, maklum tugas banyak, makanya saya ini, mmh, itu, buru-buru pulang, hehe, oh. Sehat ini saya kabarnya” ,mungkin kalau ada yang lihat wajahku saat itu, sudah merah kayak tomat.
“Oalah, ya sudah kalau gitu. Ini Shakti, oleh-oleh dari Tante. Ada kue-kue dan oleh-oleh lain. Shakti baru saja ulang tahun kan kemarin lusa?”.
“Oh iya Te, maaf gak ngabarin. Repot soalnya. Hehe”.
“Bawa ya Ti. Kalau gitu Tante juga mau pulang. Tadinya mau ngajak Shakti buat makan-makan tapi ternyata Shakti repot” cetusnya sambil menaruh bingkisan di bungkus kantong bunga-bunga biru di kaitan barang motor.
“Oh iya Te, maaf ya Te, lain waktu mungkin bisa. Makasih banyak oleh-olehnya”.
“Ya sudah, hati-hati ya Ti”.

Motor aku pacu kencang-kencang. Harap-harap segera hilang dari pandangan Tante T. Ku lirik spion. Dia masih tersenyum padaku. Ngeri ku rasa. Sampai kamar ku bongkar bingkisan itu. Cokelat berbentuk hati masing-masing cokelat ada 1 huruf yang sudah di rangkai menjadi kalimat ‘Shakti’ namaku. Ada kaos hitam motif sablon kepala tengkorak, kesukaanku. Topi baru yang pricetag-nya sudah di koyak, berwarna abu-abu dan masih bau toko. Seikat bunga mawar, tulip dan edelweis yang semuanya imitasi dan sudah di semprot parfum, manis bau parfum perempuan.

Dan satu lagi, lampu berbentuk lilin yang ketika kita menepuk tangan, dia menyala. Kalau kita tepuk tangan sekali lagi maka lampu akan mati. Unik juga. Tapi ada hal yang aneh. Lampu itu di lilit kawat tembaga. Lilitan yang tidak rapi, jika keluar pabrik dengan menyertakan lilitan itu pasti di buat rapi. Toh simpulnya terlihat asal-asalan. Ah, biar saja dah. Di kasih juga.

Di sana lah awal kegilaanku di mulai. Hari demi hari. Tante T selalu muncul dipikiranku. Padahal sebelumnya aku sangat berusaha menghindar darinya. Bahkan sekedar memikirkannya saja aku ogah. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Materi pelajaran tidak nyambung di otak. Malah buku bagian belakang penuh dengan coretan nama Tante T. Seminggu kemudian badanku sudah mulai kurus. Lupa makan, lupa apapun. Yang di ingat cuma nama dan wajah Tante T. Tidak beres.

Beberapa malam berikutnya, di luar jendela kamar. Nampak seseorang sedang melambai-lambaikan tangannya kepadaku. ‘Shakti. Shakti’ persis suara Tante T. Tapi wujud itu hanya berupa siluet hitam yang mana mata, mana hidung, mana mulut, tidak terlihat dari dalam. “Tante?” aku gila. Aku begitu bahagia saat mendengar suara panggilan yang mirip dengan suara Tante T. Aku meloncat turun dari ranjang menuju keluar ke arah jendela kamarku. Tidak ada Tante T. Aku di buat bingung. Sangat bingung. Tante T tidak kirim chat BBM atau telepon seperti kemarin-kemarin. Aku juga gengsi mau memberi kabar. Tersiksa sekali rasanya.

loading...

“Le, putuku. Kowe keno lintrik Ngger. Tangiyo njupuk banyu wulu. Age-age shalat. Ilmu Aji Jalasutra sing tau mbah wedarake enggal diwoco Angger putuku. Ati-ati, iku iblis! Iku ifrit!” (Le, cucuku. Kamu kena lintrik nak. Bangunlah ambil air wudlu. Cepat-cepat shalat. Ilmu Aji Jalasutra yang pernah mbah ajarkan agar di baca, nak cucuku. Hati-hatilah, itu iblis! Itu Ifrit!).

Aku terkesiap bangun dari tidur yang tak nyenyak. Suara kakekku yang telah terlewat 1000 harinya itu terdengar sangat jelas walau aku tak tahu bagaimana rupa kakek atau sedang pakai baju apa saat itu. Cepat-cepat aku ambil air wudlu, shalat dan membaca Ajian yang pernah diajarkan kakek dulu waktu aku masih duduk di bangku SMP. Untuk senjata, kata beliau. Padahal aku lebih naksir pada keris yang terkunci di dalam kotak kayu dibungkus kain merah di kamar kakek dulu.

“Metu! Metu! Ayo tarung! (Keluar! Keluar! Ayo bertarung!)” suara orang marah-marah di luar jendela kamarku. Pasti aku terkaget. Suara laki-laki membentak-bentak di tengah malam. Tapi dengan suara sekeras itu, tidak ada 1 pun keluargaku yang terbangun. Aku keluar.

Terlihatlah sosok itu. Dengan mata terbelah tengah seperti mata kucing di siang hari, biru dan merah. Kakinya sepanggul sebentuk dengan kaki kuda bagian belakang. Seluruh tubuhnya bersisik hijau, kepala plontosnya juga dipenuhi sisik hijau, hidungnya hidung kerbau, dari mulut lebarnya keluar taring runcing seperti jarum-jarum putih besar, punya ekor seperti ekor gajah, tangannya berjari 3 dan berkuku layaknya kuku seekor beruang. Baunya seperti bau kapur barus yang disematkan di antara sendi tubuh mayat bercampur dengan bau busuknya sampah. Belum lagi bau kemenyan yang makin bercampur aduk membuat pikiran bergidik dan merasa bertambah ngeri.

Dia mulai membuka mulut dan menjulurkan lidah merah bercabangnya. Mencibirku. Bismillah aku ucapkan di tengah gemetar bibir. Dan pesan kakek, Aji Jalasutra. Konon ajian ini ampuh melumpuhkan jin dan dedemit-dedemit. 3 kali aku ulang dengan menahan nafas. Sekuat-kuatnya hingga aku tak kuat menahan, sehingga udara dalam paru-paru tersentak keluar di sertai irama hampir terbatuk.

Namun seketika itu juga, sosok iblis garang mengerang dan tersungkur. Hilang secara misterius bersama desisan asap tipis. Aku merasa sangat lega. Seperti hilang beban. Enteng dan dapat merasakan segar. Terima kasih, kakek. Terima kasih. Hari hari berikutnya, aku kembali ‘waras’ dan dapat melakukan aktivitas seperti sebelum-sebelumnya. 3 hari kemudian, kabarnya Gun dan Tante T mengalami kecelakaan. Sama-sama patah betisnya. Giginya rontok membentur jalan. Dia tidak pernah lagi menghubungi atau berusaha menemui sampai sekarang.