Kisah Sang Kyai Guru Bagian 10 - 365 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 9.

“Siapa kalian?” tanyaku
“Hei kau bisa melihat kami?” jawab mereka hampir serempak.
“Kenapa tak bisa?”.
“Berarti kau juga arwah penasaran seperti kami?” tanya mereka balik.

Dan prasangkaku tak salah. Bahwa mereka arwah penasaran.

“Oh jadi kalian yang selama ini membuat isu hantu, menakut-nakuti warga sini?”.
“Kami hanya butuh tempat, dan tak mau di ganggu, jadi kami takut-takuti warga”.
“Apakah kalian juga yang menewaskan seluruh keluarga pak Makrum?” tanyaku.
“Ah, apalah artinya hidup buat mereka, malah susah saja, miskin, dan kalau mati setidaknya membantu kami, agar orang takut tinggal di daerah ini” kata salah satu arwah itu.
“Kalian keji sekali, melihat kalian jadi arwah penasaran, tentu kalian hidup selalu berbuat jahat, tapi setelah matipun masih melakukan kejahatan”.

Aku jadi ingat kejadian waktu aku kecil teman sekolahku meninggal dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar ketika pulang dari sekolah.

“Apakah kalian juga yang membunuh Muflida, gadis kecil yang berumur sepuluh tahun?” tanyaku penasaran.
“Heh gadis itu, aku yang mencekiknya, karena dia melihatku” kata salah satu arwah, dengan senyum mengejek.
“Apakah kalian juga yang membuat anak bernama Saeri, yang tulang kering kakinya patah, dan sekarang jadi anak pincang?”.
“Aku yang memukul kakinya dengan kayu, hahaha” kata arwah satunya.
“Sekarang juga kalian harus hengkang dari sini, minggat sejauh-jauhnya”.
“E, e, e kau ini siapa? Berani melarang kami tinggal di sini, kami di sini sebelum kau lahir”.
“Baiklah aku akan memaksa kalian” kataku melompat menerjang.

Aku ingat kata kyai kalau di alam gaib supaya membayangkan yang kita inginkan, maka aku membayangkan tanganku membara, mengeluarkan panas yang berlipat-lipat, lalu dengan tangan itu aku memukul mereka, mereka berdua kaget dan meloncat mundur, tapi tubuhku yang enteng bisa melayang segera memburu, dan satu pukulan mengenai salah satu dada arwah itu. Dia menjerit di seret kawannya mundur, karena dadanya telah berlubang, segenggaman tangan, dan mengeluarkan bau sangit terbakar. Asap tipis mengepul dari luka yang terbakar itu, dan arwah itu mengaduh-aduh, sementara temannya segera memanggulnya.

“Tunggu besok di sini kalau berani, guru kami akan menghajarmu” katanya sambil melesat pergi, melompati jendela madrasah yang tinggi.

Aku tak mengejar, aku juga melesat pergi, pulang ke rumahku dan mau melihat jam dinding, ah ternyata baru jam dua belas kurang seperempat. Aku keluar lagi melayang ke atas masjid, turun di ujung mustaka, berdiri melihat sekitar, depan masjid adalah jalan raya, dan tempat angker lagi adalah dekat jembatan, dimana waktu pembangunannya dulu, mengakibatkan banyak korban, entah korban jatuh dari menara bok, atau tertumbuk palu paku bumi.

Aku melesat ke arah jembatan yang berjarak dua ratus meter dari masjid, dan hanya tiga detik aku telah berdiri di atas jembatan, suasana sepi, tapi pandangan mataku menangkap sosok baju putih melayang malah di jauh sekali di pertigaan jurusan makam, tanpa pikir panjang aku melesat mengejar sampai di pertigaan aku turun dan clingak-clinguk, aku ingat di pertigaan ini sering terjadi kecelakaan, ada anak taman kanak-kanak yang di hantam mobil dan seketika meninggal di tempat.

Juga ada seorang petani yang mau pergi ke sawah di tabrak mobil dan terseret lima meter, walau tak sampai mati.
Keadaan masih sunyi, aku tak melihat bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa mangkal, orang-orang memanggilnya Wakman, kulihat dia masih duduk di plester regol, sambil menghisap rokoknya, tiba-tiba dia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan sendalnya, lalu beranjak ke gerobak baksonya.

“Ih merinding ada apa ini?” keluhnya.

Dan Wakman mendorong gerobak baksonya berjalan, saat itulah aku melihat perempuan baju putih bertengger di atas gerobak bakso.

“Hei siapa kau?” bentakku.

Perempuan itu kaget dan melayang pergi. Dengan suara ketawa yang menggidikkan bulu roma. Aku pun segera mengejar, ah pasti ini kuntilanak. Dia melesat ke arah rumah salah seorang pengasuh pesantren. Karena melayangnya pelan, akupun dengan mudah menyusul, dan menghadangnya.

“Huu-huuu, jangan tangkap aku, huu” dia menangis.
“Aku tak bermaksud menangkapmu, tapi aku hanya ingin tahu kau ini siapa?” tanyaku dengan lembut.

Dia menghentikan tangisnya, memandangku, aku di pandangnya begidik juga, perempuan ini sungguh menyeramkan sekali, jika aku bukan sukma mungkin aku telah lari pontang-panting. Rambut perempuan ini awut-awutan, dan di sana-sini nggimbal lengket oleh tanah, sementara, wajahnya putih, tanpa darah, di sekitar matanya menghitam, dan matanya melotot keluar tanpa cahaya, pipi kanan kirinya berlubang, sehingga giginya terlihat, dan ada ulat-ulat yang keluar dari pipi, putih, kecil-kecil menggeliat.

“Kau ini siapa nyai?” tanyaku lagi.
“Aku ini istri kamituwo Gerot” katanya tanpa menggerakkan giginya, sehingga suaranya seperti suara yang teramat jauh, tapi jelas di telingaku.

Aku mengingat-ingat nama kamituwo Gerot, ingatanku pun tertuju pada sumur gerot, yaitu sumur yang di bangun sesepuh desa dulu, ada enam sumur penjuru desa, yang di buat oleh pendiri desaku. Enam sumur juga di sebut sumur gede. Karena memang sumbernya teramat besar, dan menjadi tumpuan mengambil air bagi semua penduduk yang kekeringan. Dulu sumur-sumur itu selalu di adakan ngunduh sajen, yaitu acara nanggap wayang untuk mengucap terima kasih pada danyang penunggu desa, tapi setelah di sadarkan oleh kyai Fatah dan kyai Sidik maka acara-acara itu pun di hilangkan. Kamituwo Gerot, aku berpikir. Dan ada kamituwo ya adanya di kampung Degan.

“Sampean dari mana nyi? Dari kampung apa?”.
“Aku dari kampung Degan” suaranya masih tetap terdengar dalam.
“Kok sampean klambrangan gak karu-karuan begini nyi? Boleh aku tahu sebabnya?”.

Perempuan ini menjerit melengking kemudian dia menangis hahahuhu, ah perempuan, jadi hantu masih juga cengeng. Aneh begitu saja kisah perempuan di depanku ini, terpampang runtut seperti melihat film layar lebar, namanya juga alam gaib, jadi serba gaib, nyleneh dan tak masuk akal. Perempuan ini bernama Sunti. Seorang ledek dari daerah Tambak Boyo, untuk mendapatkan penglaris maka dia mencari orang yang mumpuni dalam memasang susuk pengasihan, ada orang yang menyarankannya ke tempat kamituwo Gerot, maka pergilah Sunti ke tempat kamituwo, yang umurnya lebih pantas jadi ayahnya, Sunti umur delapan belas tahun dan kamituwo umur empat puluh lima tahun.

Saat itu kamituwo adalah duda, yang istrinya minta cerai, karena tak tahan dengan kesenangan suaminya yang suka main perempuan. Memang ilmu kejawen kamituwo terkenal ampuh, dari ilmu kekebalan, aji kesantikan, sirep, gendam, pasang susuk pengasihan sampai aji pelet, sehingga jangankan perempuan yang masih perawan, yang sudah punya suamipun bisa di buat meninggalkan suaminya.

Melihat Sunti yang cantik, menik-menik, tentu saja ki gerot langsung jatuh hati, maka ketika tahu gadis itu meminta susuk pengasihan, maka ki gerot pun memberikan susuk yang terbaik, tapi juga memelet Sunti dengan ilmu pelet yang paling hebat. (Maaf, sebenarnya ini tak pantas di ceritakan, tapi semoga menjadi pelajaran untuk tidak mendatangi aneka macam dukun dan paranormal).

Pelet yang di pakai ki gerot adalah kulit kemaluan wanita perawan yang meninggal di rebu wage. Jika ada perempuan meninggal di saat itu maka ki gerot malamnya akan membongkar makamnya dan menguliti kemaluannya mayat, setelah itu, kemaluan tadi di keringkan, dan bila di butuhkan akan di cuil sedikit dan di campurkan dalam minuman, dengan mantra-mantra. Malang nasib Sunti, dia meminum teh yang telah di campur ramuan pelet yang ganas itu, seketika gadis itu mabuk kepayang pada ki gerot, dia seperti telah minum bergalon arak cinta.

Maka ketika ki gerot menuntunnya ke kamar dan mengajaknya berzina, Sunti tak kuasa menolaknya. Begitu juga ketika Sunti telah pulang ke rumahnya dan ki gerot melamarnya, maka Sunti pun ho-oh saja. Setelah menjadi istri ki gerot, Sunti masih menjadi penari ledek, karena di dukung oleh susuk ki gerot yang ampuh, Sunti pun menjadi ledek yang laris dengan bayaran tinggi, dan uangnya semua masuk ke kantong ki gerot, membuatnya jadi orang terkaya di kampung Degan.

Tapi sesuatu yang di lakukan di luar sunatulloh atau aturan hidup yang di atur oleh Sang Pencipta, maka adalah kerusakan. Allah Ta’ala melarang sesuatu, bukan untuk kepentingannya, tapi untuk kehidupan tentram manusia, sebab sesuatu di larang itu karena bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Seperti memasang susuk, karena Allah melarangnya, maka itu adalah perbuatan yang membahayakan diri, dunia dan akhirat. Di samping tidak bersyukur atas anugrah Allah, juga terlalu tak menerima kodrat yang telah Allah berikan.

Satu ketika, seperti biasa, Sunti di tambah lagi susuk intan di dagunya oleh ki gerot. Awalnya tak apa-apa, tapi selang tiga hari dagu Sunti membiru, dan Sunti kejang-kejang. Ki gerot pontang-panting, membawa Sunti ke rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tak tahu penyakitnya. Sementara Sunti sudah berulang kali tak sadar, dan akhirnya Sunti meninggal dengan wajah lebam membiru. Hari itu juga Sunti di kuburkan, dengan sederhana.

Namun esoknya semua orang kampung Degan geger karena melihat makam Sunti kosong. Dan mayatnya hilang tak tahu kenapa. Awalnya yang tahu adalah penggembala kambing yang biasa menggembala di area pemakaman. Ketika dia tahu bahwa kubur Sunti di bongkar orang. Sebenarnya apakah yang terjadi? Malam itu setelah siang tadi Sunti di kuburkan, kira-kira jam satu dinihari, nampak pekuburan Sunti bergerak-gerak, asap tipis bau daging terbakar menyeruak, tiba-tiba, “bleg” Terdengar ledakan seperti petasan dalam tanah, dan terlemparlah tubuh Sunti, seperti gedebok pisang tapi langsung melayang pergi.

Sementara itu ketika jam menunjukan jam tiga seperempat, seorang perempuan tua tergopoh-gopoh, berjalan melintasi jalan raya dekat pemakaman, orang biasa memanggilnya Nyiyam, seorang dukun beranak yang mendapat panggilan di desa Karanglor, dia harus melewati pekuburan Degan, ada rasa merinding di tengkuk Nyiyam. Perempuan umur enam puluh tahunan itu menguatkan hati, memang dia rasa malam ini terasa sunyi, suara jangkrik saja tak ada, atau suara katak setidaknya untuk menghiburnya.

Hanya suaru burung hantu, kadang dari jauh terdengar satu, malam yang teramat mencekam, bulan di atas pun yang tinggal seujung kuku seperti di selimuti warna hitam, walau tak ada mendung, kabut tebal mulai turun, walau tak menahan jarak pandang, tapi bagi perempuan tua setangguh Nyiyam, itu bukan apa-apa, walau sebagai manusia, rasa takut seperti menggelitik perasaannya.

Soal di goda hantu, perempuan tua ini pengalamannya sudah tak terhitung lagi, dari di tiup obornya terus, di lempar ke kali, bahkan pernah di temukan warga di tengah-tengah pohon bambu, sehingga warga harus mengeluarkannya dengan menebangi pohon bambu. Keadaan teramat sunyi, hanya sandal jepit tipis, yang sebagian sudah berlubang karena gesekan, terdengar srek-srek, seakan paling berisik sendiri, ah entah telah berapa tahun sandal ini menemani tugasnya. Melintasi malam, mengukur keikhlasannya menolong perempuan yang akan melahirkan, yang kadang hanya di upah setandan pisang, atau cuma ucapan terima kasih saja.

Nyinyam mengetatkan selendangnya, ketika dia rasakan bulu kuduknya makin meremang, ah makam juga sudah terlewati, dan di depan adalah pos kamling, apa yang di takutkan, mungkin masih ada yang jaga, tapi kenapa seluruh bulu di tubuhnya berdiri semua, Nyiyam mempercepat langkahnya, apalagi di pos kamling jarak sepuluh meter dia melihat bayangan orang dari mata rabunnya. Bajunya putih dan sarungnya putih.

Nyiyam telah memutuskan, dia tak akan menyapa pada petugas ronda, dan kalau dia di sapa akan menjawab, dan kalau tak di sapa maka akan berlalu saja, tapi kenapa dia merasakan makin merinding saja. Tepat di depan bayangan yang ada di pos. “Mau kemana Nyi?” suara perempuan, serrr! Semua bulu kuduknya berdiri tegak semua, kepalanya sampai terasa kribo, bukan suara perempuan yang membuatnya merinding, walau itu juga iya, tapi yang lebih membuatnya merinding adalah suara itu seperti suara dari alam lain, bukan alam ini, tapi alam kegelapan.

“Ss-ssa-s-siapa, k-kau?” Nyiyam merasakan lidahnya seperti selembar triplek yang di emutnya, kaku tak bisa di gerakkan untuk mengeluarkan ucapan. Perempuan di depannya ini menunduk, rambutnya gimbal, dan masih ada tanah menempel. Sebagian rambut menutupi wajahnya hingga tak terlihat.

“Hii-hik, hihihh” terdengar suara tertawa yang teramat aneh, yang membuat kaki Nyiyam gemetar. Bahkan buang air kecil pun merembes dari jaritnya ketika bau bangkai menyengat terbawa angin, bau bangkai orang mati. Walau bagaimana nenek tua ini masih berusaha tabah, untung dia ingat Allah, setidaknya mengurangi, ketakutannya.

loading...

“Kau ini siapa nduk? Kembalilah ke tempatmu nduk?” kata Nyiyam yang mulai kuat menahan batinnya.
“Aku Sunti nyai, aku tak di terima nyai, tolong aku nyai, huhuu” suara perempuan itu mengguguk.
“Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku ini orang bodo” kata Nyiyam kemudian dalam hati membaca ayat kursi berulang-ulang.
“Aduh nyai panas, panas. Aduh kau apakan aku nyai?” perempuan itu menjerit dan tubuhnya seketika melayang ke atas, dan melayang pergi sambil ketawa haha-hihi.

Sejak malam itu, rumah ki Gerot pun di ganggu dan di teror Sunti yang krambyangan, sampai karena sudah tak kuat, dukun yang anti ngaji itupun mengundang orang-orang untuk mengaji di rumahnya, sampai gangguan dari Sunti tiada lagi.

“Maukah kau ku sempurnakan?” tanyaku pada Sunti.
“Hihi, bocah bau kencur mau melawanku, hiiihii”.

Aku tanpa kata lagi jariku kuputar, seakan melingkarinya lalu kutulis bak di tengah, seketika.

“Hai apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya, karena tubuhnya terkurung.

Lalu kubaca basmalah tiga kali, tahan nafas, “kullu saiin halikun illa wajhah. Allahu Allahu. Allahu akbar” tangan yang telah tersaluri tenaga dari pusarku ku hantamkan berbareng, dengan tapak tangan terbuka ke arah Sunti, dan “hlukgh”, terdengar ledakan kecil, dan sebuah asap mengepul, bersatu tersedok ke satu titik lalu lenyap.

Mungkin sudah jam tiga pagi, aku segera melesat, di atas desaku, melesat ku cepatkan, aku ingin mencoba paling cepat les. Ku rasakan aku telah ada dalam tubuhku sendiri. Dan ku lihat jam tanganku, jam tiga seperempat. Aku menata bantal dan tidur, ah pengalaman rogo sukmo pertamaku. Lumayan mengesankan.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 11.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632