Kisah Sang Kyai Guru Bagian 12 - 255 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 11.

“Aku di panggil muridku untuk menghadapi pengganggu ketenangan tempatnya” kata bayangan satunya berpakaian besar ala warok Ponorogo.
“La sampean dulu meninggalnya kenapa kang?” tanya orang yang berpakaian warok.
“Aku menemukan lawan yang tangguh di, dan dia melukai punggungku sampai sobek melintang, yang mengakibatkan kematianku” jawab orang yang berpakaian adat ala Madura sambil menunjukkan luka menganga tanpa darah di punggungnya.

“La kamu matinya bagaimana di? Bukannya kamu punya ilmu kebal senjata?” tanya orang yang berpakaian warok.
“Ah, kang, ilmu kebalku ternyata ada yang mampu menembusnya, lihat ini perutku” orang yang berpakaian ala Madura itu menyingkap pakaian penutup perutnya dan luka menganga menyobek perutnya sehingga ususnya terburai.
“Ya sudah lah kang, sekarang kita membereskan orang yang mengganggu murid kita”.
“Duar!” suara letupan pecut hampir saja merobek telingaku, pecut tambang yang sebelumnya mengikat kepala warok Wiro Gubras, si Madura itu memanggil, tiba-tiba di lolos dari kepalanya dan di hantamkan ke arahku yang sedang berdiri mengawang di atas meja, untung aku terpeleset, sehingga lecutan cambuk tak mengenaiku tapi aku terjengkang di lantai.

Tanpa daya. Aryo Lincang nama orang berpakaian Madura itu melompat menebaskan celuritnya, aku benar-benar tak berdaya, tubuh kaku dan tak bisa di gerakan sama sekali. Aku sudah berusaha menggerakkan tubuhku tapi rasanya tubuhku seperti terhipnotis. Aku hanya bisa mendelikan mata, ketika celurit Aryo Lincang menderu ke arah dadaku. Dan “wuuut!” begitu saja Aryo Lincang terlempar seperti daun yang di terbangkan angin. Dan bau harum tapi lembut ku hirup seperti melepas kelumpuhanku, nampak orang berpakaian jubah putih membelakangiku, orang tinggi besar, dengan surban pengikat kepala ala Mesir, juga berwarna putih.

Singo Gubras dan Aryo Lincang juga kedua muridnya segera melompat dari jendela, saat mengetahui orang yang datang. Dan segera lenyap di telan kegelapan. Orang yang datang dan membelakangiku itupun membalik tubuhnya, ketika aku tahu itu siapa, aku pun bersimpuh takzim, ya Syaih Abdul Qodir Aljailani, ketiga kali ini mendatangiku, dengan idzin Allah menolongku, aku segera menyalaminya tanpa berani menatap agung wajahnya.

“Nah inilah ngger, maksudku, kenapa dulu aku menyuruhmu untuk segera berbai’at toriqohku” katanya dengan penuh perbawa yang sulit di ceritakan dengan kata-kata. Aku masih menyucup tangannya ketika Syaih telah pergi dari hadapanku. Perlahan aku bangkit, dalam benakku timbul semangat untuk lebih banyak melakukan amaliyah, agar aku tak tertaklukan oleh syaitan dan jin yang durjana.

Aku pun segera melesat pulang. Sampai di pesantren telah subuh, aku segera mengambil air wudhu dan shalat subuh, habis shalat aku wirid wajib. Dan kemudian berangkat tidur. Jam 11 siang pergi ke sungai mandi, setelah mandi aku kembali ke pesantren, ada Macan dan pak Abdulloh tamu Kyai. Aku segera menyalami, pak Abdulloh bertanya “orang mana nih?” tanyanya singkat sambil tertawa.

“Orang Tuban pak” jawabku juga singkat. Kami pun ngobrol panjang lebar, karena ternyata kami adalah tetangga desa, satu kecamatan. Sehingga seperti ketemu saudara. Setelah lama kami ngobrol tiba-tiba pak Abdulloh berkata di tujukan pada Macan.

“Can, Ian ini di kawinkan sama adikku, cocok gak Can?” kata pak Abdulloh yang membuatku kaget. Aku kaget, bukan apa-apa, terus terang walau aku tak pernah merasa rendah diri karena kemelaratanku, tapi melihat pak Abdullah yang kaya raya, punya banyak perusahaan, mobil mewah berderet-deret, masa menghendaki aku jadi adiknya, ah aku bukan tipe orang yang matrialistis, aku tipe orang yang bahagia dalam kemiskinan, susah dan suntuk kalau kaya, mimpi pun jadi kaya tak pernah terbayang dalam benakku, karena bukan cita-citaku, cita-citaku sepele, bahagia di jalan Allah, ini di tawari kawin milyarder, ah enggak lah!

“Wah cocok sekali pak” kata Macan mengerling penuh arti.
“Halah jangan bercanda ah, nanti jadi benaran” kataku rikuh.
“Bercanda gimana? Ini serius” kata pak Abdulloh.
“Wah saya belum berani kawin pak”.
“Jangan-jangan kamu mandul, tak bermutu, gak berfungsi, ckakaka” Macan ngakak.
“Eh jangan kira, paling kamu yang lembek, harus di bantu pakai lidi” kataku jengkel memang Macan kalau bercanda suka kelewatan, walau ku akui tak ada temanku sebaik Macan.

“Gimana, mau enggak?” tanya pak Abdul mendesak.
“Wah nanti dulu lah pak, aku pikir-pikir dulu, lagian pak Abdullah kan belum tahu siapa aku?”.
“Halah jangan banyakan mikir, keburu karatan” Macan ngakak lagi.

Setelah Macan dan pak Abdulloh pergi aku pun mikir, ah mungkin Allah lagi mencobaku, sejauh mana aku tahan oleh godaan. Aku makin serius dalam wiridku, tak ada waktu tanpa wirid sampai-sampai semua wirid yang di bebankan oleh Kyai selesai semua. Malam itu aku di panggil Kyai menghadap.

“Ada apa Kyai?” kataku, setelah ada di depan Kyai.
“Ini ada yang nawari” kata Kyai sambil ketawa.
“Nawari apa Kyai?”.
“Nawari nikah, mas Ian ikut saja, nanti di lihat cocok apa enggak, kalau cocok, ya bagus, biar mas Ian jadi orang sini saja, biar dekat sama Kyai” lagi orang nawari nikah, aku jadi berpikir apa aku ini sudah saatnya nikah? Ataukah ini cuma ujian dari Allah? Entahlah.

Malam itu pun aku ngikuti Kyai naik mobil kijang hidrolik meluncur ke tempat yang di tuju, ke sebuah pesantren Salafiyah, tak jauh amat dari pesantrenku, sekitar 10 kiloan, kami di sambut oleh Kyai pesantren bernama kyai Ghofur, orangnya sudah tua sekali, jenggotnya putih sampai ke dada, wajahnya putih kemerahan penuh wibawa. Pesantren yang ku datangi, lumayan banyak dan tempat pemondokan dari bambu beratap daun alang-alang, dan yang lebih mengesankan pesantren sama sekali tak berlistrik, karena di pesantren ini memang tidak boleh memakai listrik, jadi penerangan memakai lampu minyak, aku, kyai dan sopir segera di persilahkan.

Setelah duduk, Laila Aulya gadis yang di jodohkan denganku keluar, membawa makanan dan minuman, Kyai mencolek lenganku, “gimana cantik gak?” kata Kyai dengan nada berbisik. Aku pun tanpa sadar menatap gadis yang meletakkan minuman di depan. Mak deg! Aku terpana melihat kilauan bintang gemintang di tengah telaga mata Laila. Wah kecantikan yang sempurna, hidung ala artis India. Membuatku tak sengaja mengelus pipi, karena membayangkan andai pipiku di cium olehnya aku lebih takut hidungku akan terluka oleh lancip mancung hidungnya. Bibir yang seperti di bentuk dengan kehati-hatian ranum dan seakan menyimpan berbagai rasa buah, ah aku jadi ngelantur.

“Sudah jangan lama-lama memandangnya” bisik Kyai.

Mak deg! Ketika mata Laila mengerling padaku, untung aku duduk di atas kursi, kalau berdiri mungkin aku langsung terjengkang pingsan, aku lelaki biasa, yang masih punya perasaan sebagaimana lelaki pada umumnya, tapi aku juga Febrian lelaki kerdil dengan segudang kekurangan, salah satu kekerdilanku adalah tak berani beristri terlampau cantik, takut nanti rusak bila ku sentuh dengan tangan kasarku. Laila bagiku terlampau cantik dan mahal, ah aku ingin yang biasa, aku tak mau nanti terlalu jatuh cinta dan mengenyampingkan Allah, aku tak mau menduakan Allah, lebih baik tak aku terima, sebelum cinta ini terhunjam dalam menawan seumur hidupku. Melupakan siapa aku, “cantik sekali, Kyai” bisikku.

“Ya kalau begitu tak usah” bisik Kyai seakan telah membaca galau hatiku. Dan terasa aku di bebaskan dari himpitan gunung. Mak plong. Kami pun ngobrol dengan kyai Ghofur sampai larut malam, dan kembali pulang ke pesantren Pacung dengan perasaan lega. Pagi baru saja beranjak, aku memasukkan baju dan keperluan ke dalam tas punggung butut andalanku, untuk pergi ke Jakarta mencari uang untuk keperluanku hidup di pesantren.

Ya beginilah hidupku, hidup di pesantren kalau uang ada, kalau uang habis, ya aku harus nyari lagi, walau makan sudah di jatah kyai, tapi aku orang yang tak suka terus-terusan jadi benalu, hidupku adalah aku yang harus menjalani dan membiayai. Untung masih ada uang untuk ke Jakarta, ke tempat temanku, Macan atau tempat temanku Karim di Cipinang Muara. Setelah pamitan kepada Kyai aku pun beranjak, baru seratus meteran berjalan ada mobil di belakangku. Pak Jahru. Bos barang bekas, tamunya Kyai mengklaksonku. Aku berhenti, dan mobil kijang warna biru berhenti di sampingku, kaca pintu terbuka.

loading...

“Ayo naik!” kata pak Jahru, dengan tawa khasnya.
“Mau kemana mas?” tanyanya setelah aku duduk di kursi jok.
“Ke Jakarta pak” jawabku enteng.
“Wah kalau begitu mas Ian tak antar saja, Jakartanya mana?”.
“Ke Cipinang Muara pak” Mobil pun jalan, lumayan ada nunutan, jadi gak usah keluar uang.

Pak Jahru, adalah pengusaha sukses barang bekas, orangnya pendiam tak banyak bicara, menurut ceritanya dulu dia orang miskin, sekolah saja mungkin sampai kelas 4 SD. Lalu merantau ke Jakarta dan menjadi pemulung, suatu hari tengah dia memulung di datangi pemilik pabrik besi untuk membersihkan besi bekas, nah di saat yang hampir bersamaan datang juga orang minta di pulungkan besi, maka pak Jahru pun tinggal mengoper.

Itulah awal karir pemulungnya menanjak, sekarang yang di pulungnya sudah alat berat kyak buldoser. Dalam perjalanan sampai Jakarta aku tak banyak omong dengan pak Jahru, aku di antar sampai ke Cipinang Muara, sebelumnya di ajak ke tempat pak Jahru menginap semalam dan besoknya aku di antar ke kontrakan Karim, teman sekolahku waktu di MI. Di tempat kontrakan kumpul teman-teman sedesaku. Ada Sengkle, Renges, Tro, Klewer, ah memang nama panggilan semua, sampai nama aslinya kami sudah lupa, dan nama-nama itu jadi simbol keakraban, satu nasib sepenanggungan.

“Wah kamu di sini juga Nges” tanyaku ketika teman sepermainanku di kampung ini menyalamiku, Renges, pemuda seumuranku 24 tahun, hidung pesek habis, lubang hidung melebar, karena sering di congkel-congkel pakai jari, untuk mengambil kotoran hidung, kadang dia mencongkel hidung ngotot sambil berpegangan pada tiang, kayak sesuatu yang teramat susah di ambil dan membutuhkan tenaga extra, rambutnya panjang sebahu, wajahnya lebih mirip Kaka personel Slank.

“Iya Ian, dah datang sebulan yang lalu, kamu sendiri kesini ngapain?”.
“Wah, aku mau nyari uang saku untuk di pondok” kataku.
“Eh Ian, dah lama datangnya” Karim masuk kontrakan, langsung menyapaku, dia baru datang, kerjanya di kantor miliknya pak Abdullah.
“Baru saja Rim” jawabku.
“Terus ada perlu apa?”.
“Biasa nyari tambahan modal untuk di pondok alias nyari kerjaan”.
“Iyalah besok aku carikan kerjaan”.

Begitulah dialog-dialog ringan di antara kami. Tapi setelah itu nyampai seminggu pun aku belum dapat kerjaan, makan nebeng, ah jadi tambah susah.

“Wah sudah ku carikan pekerjaan, tapi susah tak dapat-dapat tuh Ian, gimana?” tanya Karim pada suatu sore.
“Wah gimana ya Rim, la aku kalau balik ya lebih repot lagi” jawabku prihatin.
“Kenapa gak bikin lukisan sendiri saja Ian?” sela Renges.
“Nanti tak bantu njualin deh”.
“Wah kalau itu perlu modal Nges”.
“Biar aku yang modalin, kamu anggap beres saja, butuh berapa?” kata Karim mantap.
“Ya paling butuh 4 ratusan ribu” kataku.
“Ya sudahlah besok beli barang keperluanmu” kata Karim.

Maka besoknya aku pun beli barang keperluan, aku membuat lukisan kaca, yaitu lukisan kebalik. Melukis dari dalam, jadi bisa dilihat dari luar. Kelihatan bagus, tiga hari ku selesaikan lukisan besar, enam buah lukisan pemandangan. Setelah selesai di bingkai, aku dan Renges mulai menawarkan lukisan dari pintu ke pintu, dari gang ke gang, banyak yang melihat lukisan, dan menawar tapi tak ada yang mau beli setelah ku kasih tahu harganya, satu lukisan ku tawarkan dengan harga 2 ratus ribu. Untuk mengejar isi perut yang keroncongan.

“Nges, perasaan kita mutar-mutar di jalan ini-ini saja?” kataku pada Renges sebagai penunjuk jalan.
“Maksudmu kita bingung?” kata Renges, seakan aku tak percaya atas kefasihannya menghapal jalan Jakarta.
“Iya” jawabku, dari pada mutar-mutar lagi.

Karena perut belum ke isi dan pegelnya kaki minta ampun.

“Aku ini sudah hapal jalan di Jakarta, lebih hapal jalan dari pada mata pelajaran di sekolah” kata Renges sambil nepuk dada.
“Hapal jalan saja bingung, apalagi tak hapal jalan?” kataku jengkel.
“Kamu itu yang bingung, karena lukisannya tak laku” kata Renges juga marah.
“Sudah gini saja, kita lihat tuh ada toko Sarinah, nah mari kita jalan, apa balik ke toko Sarinah lagi apa enggak?” kataku menengahi keributan kami, dan kami pun melanjutkan perjalanan. Dan memang sesuai dengan apa yang aku bilang, kami kembali ke toko Sarinah.

“Heran, kenapa bisa bingung gini ya?” kata Renges sambil duduk di regol.
“Sudah nges, mending kita cari masjid, ini waktu dzuhur hampir habis” kataku sambil lalu pergi nanya pada orang arah masjid, dan kami pun di tunjukkan masjid yang jaraknya 300 meteran. Kami pun segera pergi ke masjid dan menjalankan shalat dzuhur. Selesai shalat kami memajang lukisan di depan masjid, yang kebetulan pertigaan jalan yang ada pohon mahoni tua.

Tapi sampai jam menunjukkan jam setengah lima, tak juga ada yang beli, walau banyak yang nawar, tapi sebatas nawar, kalau harus pulang ke kontrakan dengan tanpa lukisan terjual sama sekali, ah betapa jauhnya, kami berdua harus berjalan, belum lagi perut yang lapar karena dari pagi kami belum makan. Ah kami lebih parah dari pada tentara yang kalah perang, pulang memanggul senjata, setidaknya mereka punya uang.

“Gimana Ian?” kata Renges, wajahnya yang bertampang suntuk, makin suntuk saja.
“Aku tak kuat, kalau gini, sudah jauh, perut lapar, bisa klenger benaran nih” tambahnya, makin menambah beban masalah saja keluhnya.
“Ya mau gimana lagi Nges, la memang tak laku”.
“Satu saja di jual 50 ribu saja deh, buat naik angkot. Dan untuk beli nasi bungkus” katanya mengiba.
“Ya sudahlah nanti kalau ada yang nawar, kasihkan saja” kataku agak berat, karena kepikiran untuk mengembalikan uangnya Karim.

Selang beberapa menit, ada sepeda motor menghampiri kami dan menanyakan harga lukisan, eh sudah di kasih harga 50 ribu rugi harga produksi, masih tak laku juga, maunya 30 ribu, ya jelas aku tak mau, memangnya kacang garing, semurah itu, orang bermotor itupun pergi, meninggalkan harapan kami yang tercabik-cabik.
“Wah! Sudah Ian aku tak kuat lagi, mending sekarang pulang saja, dari pada nanti kemalaman” kata Renges, kayak mau nangis, rupanya keuletan dan kesabarannya telah memasuki batas toleransi.

“Gini saja, biar aku wirid di dalam masjid sebentar, siapa tahu masih bisa laku, kita masih punya Allah, aku akan meminta supaya lukisan kita terjual” kataku masih sabar.
“Ah Jakarta ini keras Ian, tak ada Allah, Allahan, di sini itu siapa kuat maka jaya” kata Renges masgul.
“Tapi ndak salah kan di coba?”.
“Ya sudahlah sana, biar aku nunggu di sini, jangan lama-lama!”.
“Setengah jam saja” kataku sambil berjalan ke dalam masjid.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 13.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632