Kisah Sang Kyai Guru Bagian 15 - 267 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 14.

Dua hari perjalanan, akhirnya aku sampai di kota Bojonegoro, selama dua hari ini aku tidur di alam bebas, juga hanya makan jambu hutan dan pisang yang tumbuh di hutan, jadi perut kempes, tapi aku berusaha untuk tawakal berserah pada yang memberi hidup, sore hari ketiga setelah keluar dari tempat pak Fadhol aku sampai ke Bojonegoro, aku berjalan terus arah selatan terminal lama, aku berjalan sampai di satu mushola daerah Pacul, aku berbelok mengambil wudhu kemudian shalat ashar, setelah shalat aku duduk tenggelam dalam wirid, tiba-tiba di belakangku terdengar piring dan gelas di letakkan di lantai mushola. Setelah wirid selesai aku menengok seorang pemuda berambut panjang dan berpeci putih tengah duduk, di depannya ada nasi lengkap dengan lauk pauk, umur pemuda itu sekitar 30 tahun, dia tersenyum padaku.

loading...

“Mari mas makan dulu” katanya ramah.
“Wah saya sudah menunggu dari tadi, takutnya mengganggu wirid”.

Aku mengulurkan tangan, mengajak kenalan, “Febrian” kataku menjabat tangannya.

“Mashur” ucapnya memperkenalkan diri.
“Sudah ayo makan dulu, ngobrolnya di lanjutkan nanti, sambil makan” katanya sambil mengangsurkan piring ke hadapanku, kulihat sayur terong, ikan bandeng, sambal terasi sebagai lauk, terasa nikmat.
“Mas Ian ini musafir ya?” tanyanya.
“Iya” jawabku sambil menikmati makan yang nikmat.
“Kok tahu aku musafir?” tanyaku.
“Ada seorang pemuda yang dari kemarin telah menunggu mas di rumahku” katanya.
“Seorang pemuda?”.

“Iya mas, katanya dia mendapat bisikan dari gaib di suruh menunggu mas, pokoknya orang yang ciri-cirinya seperti mas ini, yang akan singgah di mushola ini, itu orangnya masih di rumahku” kata Mashur menjelaskan.
“Wah ada apa ya?” tanyaku heran.
“Nanti saja tanya sendiri mas ke orangnya, wah ayo mas, nasinya nambah lagi”.

Kami makan dengan lahap, hampir satu bakul kami habiskan berdua, seakan kami ini kenalan lama, di sela-sela makan kami bercanda. Mashur orangnya supel dan ramah, dia hidup dengan istri dan dua anaknya, punya pesantren kecil di belakang rumah, yang isinya santri-santri yang ada sambil sekolah, juga ada yang sambil kerja. Muridnya cuma 10 orang. Setelah makan aku di ajak menemui seorang pemuda yang katanya telah menunggu kedatanganku sejak kemarin di rumah Mashur.

Pemuda itu bernama Ilham, ketika masuk ke rumah Mashur pandang mataku segera menangkap sosok pemuda kurus, ceking, matanya menjorok ke dalam, pertanda telah mengalami berbagai keprihatinan, tapi setelah sebentar mengamati, aku seperti pernah melihat pemuda ini, tapi aku mengingat-ingat sebentar. Ya pemuda ini pernah ada dalam satu mimpiku, entah 3 bulan atau berapa bulan yang lalu, aku telah melihat masa lalunya tanpa aku tahu bagaimana caranya, kami bersalaman, dia mencium tanganku, ku biarkan saja.

“Ilham” katanya menyebutkan nama. Aku juga memperkenalkan namaku. Aku manggut-manggut ku lihat aura hitam menggumpal-gumpal melingkupi tubuhnya, dan aku benar-benar ingat pada semua mimpiku. Dalam mimpi itu aku melihat pemuda ini mempelajari ilmu tanpa guru, jadi dari membaca-baca buku, tanpa pembimbing, dia mengikuti petunjuk buku itu, dia menyepi di salah satu makam yang di keramatkan, berhari-hari dia menyepi, berpuasa dan menekuni amalan dari buku tersebut, entah di hari yang ke berapa, di suatu malam di makam itu, sendiri dia membaca wirid dari buku, dan datanglah orang tua berjenggot panjang.

“Ngger, aku akan memberikan ilmu padamu, tapi kau harus menghentikan shalat 5 waktu, bersediakah kau ngger?” tanya orang tua itu. Ilham pun manggut. Maka orang tua berjenggot itu memasukkan cahaya dari tapak tangannya ke kepala Ilham. Persis setelah kejadian itu Ilham tak pernah shalat, tapi aneh dia bisa mengobati berbagai penyakit. Waktu berlalu Ilham masih aktif duduk di makam keramat itu, sambil membaca amalan dari buku.

Entah yang ke berapa malam, dia di datangi bung Karno, presiden RI yang pertama, ”Ngger Ilham, aku akan memberi ilmu padamu, tapi kau harus mau membakar warung tempat menjual minuman keras di ujung desa” pesan bung Karno. Setelah pulang dari makam, Ilham linglung, betapa tidak, bagaimana harus membakar sebuah warung minuman? Bagaimana kalau nanti seluruh desa terbakar? Tapi ini perintah presiden RI, yang akan memberikan ilmu padanya, tiap malam Ilham merenung, tiap hari dia bengong karena suara bisikan yang berkecamuk tumpang tindih dalam hatinya.

Malam itu jam 2 dini hari, Ilham telah bertekat, berangkat dengan motornya dan berbekal bensin 5 liter, dia mendatangi warung bensin di ujung desa, motor dia standarkan, dia menghampiri warung dan menyiram pinggir dan dinding warung dengan bensin, korek api di nyalakan dan wus, warung pun terbakar, Ilham kabur dan mengawasi dari jauh hasil karyanya, dengan seringai puas, sementara api menjilat habis warung dan segala isinya, rumah di sebelah warung pun mulai terjilat api, untung yang punya rumah segera terbangun dan berteriak kebakaran, jadi satu keluarga masih bisa menyelamatkan diri, orang desa mendengar teriakan kebakaran segera berdatangan bahu membahu memadamkan api, walau tak urung rumah di sebelah warung ludes terbakar, tapi api telah dapat di padamkan.

Pemilik warung, suami istri dan anaknya yang masih bayi hangus terbakar, tak bisa tertolong lagi. Orang-orang bertanya-tanya apa sebenarnya penyebab kebakaran, tapi tak ada yang tahu. Sementara Ilham besok malamnya menunggu di pemakaman keramat, dan bung Karno pun datang menyerahkan sebuah keris. Setelah mendapat keris itu, Ilham makin sakti, kebal senjata, dan dia makin serius di pemakaman keramat, hari-hari berlalu.

Malam itu, Ilham masih tekun membaca amalan, hio telah beberapa kali padam dan dia nyalakan hio yang baru, tiba-tiba tercium bau wewangian teramat harum menyeruak memenuhi seantero pemakaman keramat, baunya amat harum, sehingga membangkitkan birahi, dan perlahan tapi pasti, nampak bentuk perempuan cantik di depan Ilham, cantik tiada terkira, tak pernah Ilham melihat wanita cantik sesempurna perempuan muda yang ada di depannya, biar kata semua artis Indonesia di satukan lalu di kareti, masih tak mampu menandingi perempuan ini, cantiknya sulit di gambarkan, sampai biasanya Ilham yang tak begitu doyan cewek, kali ini jakunnya naik turun kayak gergaji, seperti kehausan yang teramat sangat di tenggorokannya, kayak jakun itu kurang oli.

“Apakah kau tak ingin jadi suamiku? Dan tak ingin kaya?” tanya perempuan itu, suaranya merdu, seperti alat musik petik yang di petik dengan hati-hati takut putus senarnya, atau suling yang di tiup dengan nafas yang telah berlatih menemukan nada terhalus dari suara.
“Ho-oh mau, mau, mau” kata Ilham air liurnya sampai membanjir tak karuan, apalagi melihat baju biru tipis yang membungkus tubuh si perempuan, sehingga memperlihatkan samar pemandangan yang membangkitkan birahi.
“Tapi kau harus memenuhi syaratku” kata perempuan itu, sambil melenggak lenggok di depan Ilham, yang membuat pemuda itu makin empot-empotan.
“Apa, apa syaratnya?” tanya Ilham dadanya sesek, sampai nahan nafsu yang membuncah.
“Syaratnya kau harus membakar pasar kecamatan” kata perempuan itu dan Ilham terlongong-longong sampai perempuan itu sirna dari hadapannya.

Setelah pulang dari makam keramat, Ilham pun linglung, membakar pasar kecamatan Bangilan? Bagaimana mungkin? Tempat orang-orang menggantungkan nafkah keluarga, bahkan ibunya Ilham berjualan pakaian di pasar itu. Tapi ketika terdengar bisikan merdu merayu, dan tercium harum memabukkan, tanpa sadar Ilham pun memacu motornya ke pasar yang berjarak dua kiloan dari rumahnya dengan membawa jerigen bensin, tapi begitu sampai di pasar, kesadaran dan nuraninya menolak, maka dia pun linglung, menggelosor begitu saja di tengah pasar, dan kalau sudah begitu orang-orang di pasar pun ramai, yang susah juga ibunya Ilham harus membawanya pulang dengan becak.

Dan hal itu terjadi berulang-ulang, orang pasar pun menganggap Ilham gila, karena terjadi terus menerus. Ilham pun di kunci dalam kamar, kalau bisikan datang dia menggedor-gedor pintu, ingin membakar pasar, tapi kalau kesadarannya muncul maka Ilham cuma merenung bengong. Telah bermacam dukun dan paranormal di datangkan untuk mengobati, tapi malah ada yang di banting dan ada juga yang sampai di gotong pingsan, itulah yang ku lihat dalam mimpiku.

“Bagaimana kabarnya?” tanyaku setelah duduk di kursi kayu rumah Mashur.
“Ah ndak baik mas” katanya, dengan pandangan cowong matanya menjorok ke dalam, dan ada kantung mata di sekitar mata Ilham, menunjukkan dia tak pernah nyenyak tidur.
“Hehe. Kamu kan yang membakar warung minuman keras?” tanyaku sambil tertawa.
“Iya mas, tentu mas sudah tahu keadaanku” kata Ilham menunduk.
“Kata siapa aku sudah tahu keadaanmu? Tapi sudahlah yang penting 3 jin dalam tubuhmu mesti di hilangkan”.

“Saya pasrah saja, apa yang terbaik menurut mas Ian” katanya mengiba.
“Tapi aku ingin tahu dulu, kenapa kok kamu bisa tahu aku akan singgah di mushola sini?”.
“Ceritanya begini mas, saat aku di kunci terus dalam kamar oleh orang tuaku, waktu antara sadar dan tidak, maksudku tidur dan terjaga, aku di datangi orang tua, yang mengaku kakek buyutku” katanya bercerita, dia menarik nafas dalam. Biar ceritanya tambah lama.

“Kakek itu berpesan, tunggu pemuda di mushola Annur daerah Pacul, minta tolong untuk membantu masalahmu, apa yang dia katakan turuti saja. Begitu pesan kakek itu, yang mengaku sebagai kakek buyutku,” kata Ilham mengakhiri ceritanya.
“Lalu bagaimana kamu tahu pemuda yang kau tunggu itu aku?” tanyaku.
“Kakek itu juga menyebutkan ciri mas lengkap, dan saya cerita sama mas Mashur juga, jadi ketika mas muncul di mushola, baru saya yakin mimpi saya bukan mimpi bohong”.
“Begitu rupanya” kataku, padahal pakaianku uapek banget, juga bauku kulit yang terbakar matahari.
“Terus sekarang bagaimana mas?” tanya Mashur yang dari tadi diam menyimak.
“Ya jinnya harus di keluarkan” kataku menjawab.

“Wah apa perlu kembang setaman, dan menyan mas? Kalau iya, biar saya yang ke pasar, apa saja syaratnya mas?” tanya Mashur.
“Ya tak perlu syarat apa-apa” kataku. “Cuma perlu persetujuan Ilham saja”.
“Persetujuan apa lagi mas?” tanya Ilham setengah bengong.
“Ya kamu benar-benar sudah ikhlas, jin yang ada dalam tubuhmu ku cabut?” tanyaku menunggu jawaban mantap dari raut wajahnya.
“Kan sudah saya bilang, saya pasrah pada mas Ian, apa yang terbaik, jadi saya rela serela-relanya” katanya mantap.
“Walau semua ilmumu hilang?” tanyaku.

Ilham sebentar merenung, tapi kemudian berucap, “sudah saya siap, walau tak punya ilmu, tak apa-apa, yang penting saya bisa hidup wajar seperti orang lain”.
“Baiklah. Sekarang duduk membelakangiku” kataku, sementara aku berpikir, ah aku ini belum pernah mencabut ilmu seseorang, juga jin yang menyatu karena seseorang mengamalkan ilmu, apakah aku bisa dan mampu?

Ku ingat Kyai waktu mencabut ilmu seseorang, cuma seperti mengambil buah dari punggung orang itu, di genggam lalu di buang, kalau aku, ah tentu belum bisa setarapan itu, lalu bagaimana? Pikiranku mencari jalan keluar, tapi tanganku perlahan menempel ke punggung Ilham, wirid ku baca tiga kali-tiga kali, aliran hawa panas dan dingin segera menggebu dalam pusarku naik mengalir ke tanganku. Tiba-tiba, tanganku seperti tersedot kekuatan tak kasat mata di punggung Ilham, karuan tanganku menempel pada punggung Ilham, ku pejam mata, kurasakan tenang dari tubuhku menggulung-gulung masuk tubuh Ilham.

Aku segera membaca doa khijab dan minta pada Allah, supaya mukzijatnya Nabi dan karomahnya para wali masuk ke tubuhku, ku rasakan udara dingin, mendekat sejuk mengalir ke setiap pori tubuhku, tangan ku renggangkan ku sedot apa yang ada di dalam tubuh Ilham ku genggam dalam satu tangan, dan tangan kiriku membuat gerakan mengikat, lalu ku lempar jauh-jauh, sementara Ilham menggelosor di kursi, entah pingsan, entah tidur, tapi wajahnya menyiratkan kedamaian. Ku ambil teh yang terhidang di meja, untuk membasahi tenggorokanku yang lumayan kering, lalu ku nyalakan rokok djarum yang di suguhkan di meja.

“Bagaimana kang?” tanya Mashur.
“Syukur mas, sudah beres, sudah biarkan dia tidur” kataku sambil mengusap keringat yang mengalir di jidat.
“Wah mau minta doanya mas, biar pondok saya ramai” kata Mashur, ketika kami berdua duduk di emperan mushola, meninggalkan Ilham yang tengah tidur di kursi.
“Ah kita ini sama kang Hur, kang Hur di beri tangan dan kaki dua, saya juga, jadi pada kenyataannya kita ini sama” kataku.
“Kenapa kang Hur tidak berdoa sendiri, minta pada Sang Kholik agar apa yang kang Hur harap bisa terwujud”.
“Kalau begitu, saya mbok di kasih amalan, biar santri saya tambah banyak” kata Mashur sambil menyedot dalam-dalam rokok mlinjo.

Aku pun minta pena dan kertas, dan menulis amalan untuk mendapatkan santri banyak.

“Aku sebenarnya nyari tempat untuk nyepi, mengheningkan diri, apa di sini ada?” kataku setelah menyerahkan catatan amalan.

Kulihat Mashur menerawang, lama tak menjawab pertanyaanku.

“Mas Ian mau, ada tempat di pasar Pacul, tempatku yang tak terpakai” katanya kemudian.
“Ya kita lihat saja dulu” jelasku.

Dengan naik motor GL aku di antar Mashur ke pasar Pacul, yang telah terlantar tak terurus, dan menunjukkan toko yang telah jebol dinding papannya, ya cukuplah untuk tempatku menyepi, maka malam itu aku mulai membersihkan bekas toko itu, dan di tinggal sendirian di pasar. Ku ambil air di sumur pompa belakang pasar, sedang waktu maghrib telah tiba, ku ambil air wudhu dan menjalankan shalat di dalam toko, tapi waktu aku selesai wudhu, seorang jin menghadangku, perawakannya hitam, pakaian sobek-sobek, dan tubuh hitam legam, seperti mandi oli.

“Ada apa kau menghadangku?” tanyaku, sambil mengusap air wudhu yang mengalir di jenggot kecilku.

Wajah tirusnya mengguratkan rasa takut, bibir merahnya dan taring yang mencuat, meneteskan air liur, yang membuatku tak bisa untuk tak meludah, dia mundur, “ada apa?” tanyaku lagi.

Terdengar suaranya mendengung, seperti suara lebah, tapi dengan nada berat, aku pun membuka batin.
“Aku mewakili, para penghuni pasar ini, kami minta tuan tidak bertempat di pasar ini” katanya.
“Memangnya kenapa?”.
“Kami merasa panas”.
“Kalau aku tetap bertempat di sini bagaimana?”.
“Sungguh kami sangat memohon tuan” katanya dan perlahan menghilang.

Aku pun melangkah ke dalam dan melakukan shalat maghrib, setelah wirid, aku pun beranjak, keluar, ah mungkin aku tak usah mengganggu keberadaan para jin, aku pun memutuskan pergi, menelusuri jalan sampai ke stasiun kereta api. Setelah shalat isya di mushola stasiun, aku selonjorkan tubuh di kursi stasiun.

Seminggu telah berlalu, aku hidup di stasiun Bojonegoro, tak pernah mandi, tidur seadanya, kadang menggelosor di lantai stasiun saja, jadi tubuh dan lengan panjang, celana jean belel sudah tak karuan warnanya, karena tertempel debu dan oli kereta, juga rambut panjangku lengket dan gimbal, hingga tak jarang orang menyebutku gila. Aku tak perduli, terlalu terlena dengan robul izati, tenggelam dalam wirid-wiridku, tenggelam teramat dalam, bahkan aku pun tak memikirkan makan, karena memang tak ada sejumputpun rupiah di saku, aku kadang makan sepotong nasi yang jatuh ke tanah.

Kadang juga cuma minum air wudhu, walau seminggu tubuhku telah teramat kurus. Hari itu hari minggu, setasiun teramat ramai, aku menggelosor aja di lantai, tenggelam dalam wiridku, tiba-tiba tangan halus menepukku dari belakang.

“Iyan? Iyan kan?”.

Ku buka mataku yang terpejam, dan menengok ke belakang, seraut wajah gadis cantik nan anggun dengan balutan jilbab coklat tua, membungkuk di belakangku. “Ya Allah, Ian, kenapa sampai jadi gini” kata gadis bernama Eka Damayanti, dia langsung memelukku dari belakang. Eka Damayanti, nama gadis itu, ku kenal waktu aku kelas 2 SMA dan masih aktif menulis di majalah remaja, pertama perkenalanku, dia waktu itu mencari rumahku, dan dia salah satu dari penggemar karya tulisku, aku pulang sekolah ketika Eka berdiri di pinggir jalan menuju lorong rumahku, dia menghentikanku.

“Mas. Mas berhenti” tegurnya. Aku baru turun dari Angkot.

Aku pun berhenti, dan menunggunya datang menghampiri, saat itu Eka masih belum memakai jilbab, rambutnya di ikat dengan pita merah, dan wajahnya anggun, menyiratkan kedewasaan.

“Ada apa mbak?” tanyaku.
“Maaf ngeganggu sebentar, mau tanya nih mas?” katanya dengan nada datar tapi merdu dan terdengar centil di telingaku.
“Tahu alamat ini gak mas?” tanyanya, sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat. Di situ tertulis, Febrian, kulon pon pes Al-alawi Sendang.
“Wah itu aku mbak” kataku setelah membaca sebaris alamat di kertas yang di tunjukkan padaku.
“Ih yang benar?” katanya tersenyum ceria, dan ada binar bintang di matanya.
“Ya benarlah, masa bohong, tahu dari mana tentang alamatku? Perasaan aku tak punya kerabat kayak embak” kataku menyelidik.

“Aku ini bukan kerabatmu, tapi penggemarmu, kamu penulis kan? Nah aku ini salah satu penggemar beratmu” katanya menjelaskan dengan mimik yang lucu, kayak guru TK menerangkan pada muridnya.
“Wah jadi malu nih, aku cuma penulis kacangan, karyaku juga cuma ngawur saja, gak bermutu” kataku salah tingkah.
“Tapi aku benar-benar kagum, sungguh, kamu calon penulis besar” katanya memuji.
“Wah ini mau ke rumah atau ngobrol di sini saja” kataku, karena kami dari tadi cuma berdiri di pinggir jalan.

“Eh iya, kayaknya aku juga belum kenal namamu?” kataku setengah bertanya, saat kami berdua menyusuri tanggul paping blok jalan di depan rumah,
“Eka Damayanti” katanya, sembari menyodorkan tangan mungilnya. Aku pun menjabat erat, penuh persahabatan.
“Febrian, dah tahu namaku kan?” candaku.

Dan tak terlalu lama kami pun nyampai depan rumahku. Itulah perkenalanku dengan Eka, dan sejak saat itu kami menjadi akrab, karena Eka hampir tiap minggu main ke rumahku, rumah dia di daerah Rengel, jadi masih satu kabupaten denganku. Setahun telah berlalu, dan aku telah kelas tiga SMA, dan Eka menjadi salah satu sahabat, yang mengagumiku, dia selalu mensuportku untuk menghasilkan karya-karya tulisku. Aku teramat terbuka dengan Eka, sampai soal pacar-pacarku Eka juga tahu, suatu hari aku dan Eka jalan-jalan ke Tanjung Kodok, “Yan” kata Eka, ketika kami duduk di bawah tenda dan menikmati es kelapa muda, sambil merasakan semilir udara pantai yang membawa bau air laut yang khas.

“Ada apa?” tanyaku sembari mengeluarkan rokok djarum merah.
“Umpama kita jadian gimana?” katanya dengan tatapan kepadaku, serius.
“Maksudmu makhluk jadi-jadian?” kataku mencandainya, memang aku paling suka kalau dia mbesengut.
“Ah kamu, aku ini serius” benar juga dia mbesengut, dan dari situ terlihat jelas kecantikannya yang khas.
“Iya, iya, aku ngerti kamu serius” kataku buru-buru mencegah kemarahannya.
“Terus gimana? Kamu setuju enggak?” tanyanya.
“Kamu tahu sendiri lah Ka, aku kan ceweknya banyak, aku tak tega kalau kamu jadi kemakan hati”.
“Kenapa semua cewekmu tak kamu putusin saja!?”.

“Wah, aku juga tak setega itu untuk memutusin mereka” memang waktu itu cewekku ada 18-an, ah bisa di bilang raja pelet.
“Wah kamu ini tak tega atau kemaruk, tamak, aku heran juga kenapa mereka, cewek-cewek itu mau-maunya kamu renteng-renteng kayak tasbih”.
“Itu kan urusan mereka Ka”.
“Aku jadi heran Yan”.
“Heran kenapa?”.
“Ya, apa mereka semua akan kamu jadikan istri semua?”.
“Wah la ya enggak lah, mana mampu aku melayani mereka semua, bisa habis darah di hisap dan aku tinggal tulang”.
“Memangnya cewek lintah? Ngaco kamu”.
“Ya mending ngomong ngaco, dari pada diam kayak batu, bisa-bisa di anggap arca, terus di gotong orang di taruh di Klenteng, ckakakak”.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 16.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632