Kisah Sang Kyai Guru Bagian 16 - 322 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 15.

“Ah jangan ngomong ngaco ah, terus kalau semua tak kamu jadikan istri kan pasti yang tak jadi istrimu akan sakit hati?”.
“Kan aku terbuka, mereka mau jadi cewekku, kan udah aku ceritain semua tentang aku, lagian aku udah ngenalin antara satu dengan yang lain”.
“Benar-benar tak habis pikir aku Yan, wah jangan-jangan kamu pakai ilmu pelet? Wah jangan-jangan juga aku kamu pelet?”.
“Pelet semar ngakak? Ya kamu ngerasa di pelet enggak?”.

“Benar aku ingat kamu terus” katanya serius.
“Kalau malam ingat sampai kebawa mimpi?” tanyaku.
“He-eh” jawabnya manggut.
“Wah kamu dah kena penyakit cinta, ckakakak” kataku dan Eka pun mencubit lenganku.

Itulah aku dengan Eka selalu terbuka lepas, tapi betapapun Eka sayang padaku, tapi kami tak pernah menjalin asmara, karena aku tak pernah mau memutuskan sepihak pada pacarku, dan hubungan kami sebatas sahabat, sahabat yang saling mengerti, sampai aku bertaubat, dan meninggalkan masa lalu kelam, bayangan Eka pun ikut hilang menjadi masa lalu, masa lalu yang ingin ku hapus dari ingatanku, masa lalu yang hanya ku ingat ketika aku menangis pada satu kekasih yaitu Allah. Menghaturkan hina dan dosaku yang minta di ampuni.

“Yan! Kenapa kamu menjadi begini” suara Eka memelukku dari belakang, tak perduli pakaianku yang kotor, tak perduli pandangan aneh semua orang yang ada di stasiun. Aku ingin menjelaskan pada Eka, aku bukanlah Ian yang di kenalnya dulu, tapi aku ragu apa dia akan mengerti.
“Ka. Kamu tak malu di lihat semua orang?”.
“Aku tak rela kamu begini Yan” katanya, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku, dan mengajakku berdiri, air matanya meleleh membasahi jilbab coklat mudanya.

Dulu Eka bukan gadis yang suka memakai jilbab. Sampai pada pertemuan yang terakhir kami, aku mengantarnya mendaftar di perguruan tinggi. Kami dalam satu bus menuju Surabaya.

“Yan! Andai kau menghayal punya istri, kamu mengharap punya istri yang bagaimana?” tanyanya dengan tatapan serius ke wajahku.
“Aku?” aku menerawang, “aku membayangkan punya istri yang sholikhah, ya setidaknya yang memakai jilbab” kataku pasti.
“Berarti aku bukan termasuk kategori yang kau harapkan ya?” tanyanya seperti pertanyaan adikku minta permen.
“Ah sudahlah Ka, jodoh kan di tangan yang kuasa, andai kamu jodohku, aku juga tak kan menolak” kataku tandas.

loading...

Tapi sampai di Surabaya, Eka mengajakku ke Butik busana muslim dan dia memborong jilbab.

“Wah untuk apa Ka, jilbab sebanyak ini?” tanyaku heran.
“Untuk persediaan saja Yan, siapa tahu, aku jadi jodohmu, hehe” katanya sambil tersenyum manis, karena salah satu jilbab langsung dia kenakan.
“Hm. Kamu makin cantik saja Ka, kalau makai jilbab” pujiku tulus.
“Ah yang benar” katanya dengan pipi bersemu merah.

Dan sekarang, hatiku teriris, Eka menangis di depanku, karena menangisi keadaanku.

“Ya Allah, ampunkan aku, kenapa kau jadikan hatiku selalu runtuh oleh tangis wanita. Kenapa tak kau uji aku dengan yang lain saja” keluh hatiku, dan aku seperti kerbau yang di cocok hidungnya, mengikuti saja, kemana Eka menarik tanganku.

Aku di seretnya masuk depot makan, lalu dia memesan nasi dan sepotong ayam panggang, juga dua gelas es jeruk. “Nih makan. Pasti kamu beberapa hari tak makan” katanya menyodorkan ke depanku, seperti seorang ibu menyodorkan nasi pada anaknya.

Ku pandangi nasi di depanku, betapa nikmatnya ayam bakar, sambel kecap, air liur begitu saja terkuras dari sela-sela gigi membasahi tenggorokan yang tak sabar ingin menikmati kelezatan. Tapi aku terpaku, hatiku seperti terbang entah ke mana, ke dunia yang penuh asma Allah.

“Heh makan!” kata Eka suaranya seakan jauh, walau tepukannya di pundakku.
“Apa kamu sudah lupa cara makan, nih biar ku suapi” kata Eka yang segera mengambil piring di depanku, dan mulai menyuapiku, pandangan mataku kosong.

Aku telah berjalan jauh, jauh, dan teramat jauh, sampai di kedalaman dunia, dunia yang hanya kedamaian, danau menghijau, suara airnya melantunkan ayat-ayat suci, pohon-pohon menghijau, tertiup angin sinkronisasi, mengalunkan dzikir dengan suara berirama, embun yang setiap waktu turun dan seakan enggan sampai ke tanah, karena terlena oleh puja puji pada sang Khaliq. Matahari yang bersinar lembut, dengan kehangatan yang seakan di ukur oleh dokter paling ahli, sehingga seperti selimut yang membuatku teramat mengantuk dan terlena, dan aku tak sadar lagi.

“Yan!” suara itu mengagetkanku, suara Eka yang menangis dan memelukku, air matanya membasahi pipi dan bajuku. Aku kaget, segera melepas pelukannya. Ku lihat piring di depanku telah ludes, juga wedang jeruk telah tinggal gelasnya saja.
“Yan, sadar Yan!” Eka menepuk-nepuk pipiku.
“Aku sadar” kataku.
“Sudahlah Ka, mending kamu tinggalin aku” kataku.
“Tak bisa, kalau perlu aku akan ikut denganmu” katanya tegang.

“Kamu ini aneh-aneh saja, ya tak bisalah, kamu lihat sendiri keadaanku, bagaimana kamu mau ikut denganku?”.
“Kamu mau lari dari kenyataan Yan? Kamu tak menerima keadaanmu, hingga mau pura-pura gila?” tanya Eka mencari kesepakatan.
“Siapa yang lari dari kenyataan? Bahkan aku sangat menerima kenyataan, sudahlah Ka, jangan ngajak berdebat, untuk saat ini biarlah aku sendiri” kataku memelas,
“Tapi Yan, aku tak rela kamu begini” Eka menangis lagi, tanganku di raihnya dan di tempel ke pipinya, ada air mata mengaliri punggung tanganku.
“Kadang sesuatu, harus di relakan, aku juga bukan mau mati, kenapa musti kau tangisi”.

Eka melepas tanganku, dan mencopot gelang, cincin, kalung yang di pakainya dan menggenggamkannya ke tanganku.

“Ini buatlah bekal, jangan lupakan aku” katanya dan beranjak pergi.

Sekejap aku bengong, tapi segera mengejar ke arah mana Eka pergi, ku lihat dia berdiri di tepi jalan, mencegat bus jurusan Tuban.

“Ka ini apa-apaan,” kataku mengangsurkan segenggam emas ke tangannya.
“Sudah pakai untuk bekalmu” katanya menampik tanganku.
“Gak bisa Ka, kamu mau aku di tangkap Polisi, dengan tuduhan merampokmu?”.
“Siapa? Polisi mana yang mau menangkap, kan itu ku berikan ikhlas padamu”.
“Ka, tak bisa Ka” ku angsurkan lagi emas ke tangannya tapi dia tolak.

“Maumu apa sih Yan? Aku ikut denganmu tak boleh, aku tak tega kau begini, aku tak bawa uang, biar perhiasanku untuk kau jadikan bekal, tolong Yan. Jangan kau biarkan aku menangis tiap malam karena mengkuatirkanmu” Eka menangis lagi.
“Mengapa tak juga kau mengerti, betapa aku menyayangimu, dan teramat menyayangimu” katanya sambil berjongkok dan menangis sampai tubuhnya terguncang.
“Baik Ka, sekarang apa yang kau mau? Tapi jangan kau suruh aku membawa perhiasanmu” kataku ikut berjongkok.

Dia membuka tapak tangannya yang di tutupkan ke wajahnya.

“Sekarang ikut pulang ke rumahku” katanya sambil mengusap air mata yang membasahi pipi.
“Baik, ini terima perhiasanmu dan simpan” kataku mengangsurkan perhiasan ke tangannya, saat ada bus jurusan Tuban berhenti, dan kami pun segera naik.

Sampai di rumah Eka, aku pun turun dari bus, masih di gandeng Eka, dengan tatapan aneh para penumpang bus, sampai di dalam rumah, aku langsung di geret ke sumur, ah biarlah, Eka juga tak akan membunuhku, tatapan bu Asih, dan pak Junaidi, yang ada di kamar tamu, tak di gubris, kedua orang itu cuma sempat ngomong, “lho Ka, kok sama mas Ian” tapi kata mereka tak di jawab, juga tak sempat aku jawab, aku telah di geret ke sumur, dan air satu timba di guyurkan padaku.

“Sudah Ka, aku bisa mandi sendiri” kataku repot, gelagapan.
“Sudah biar aku yang mandiin” katanya sambil mengambil sampo dan mencuci rambut panjangku yang gimbal.
“Sudah Ka. Biar aku mandi sendiri! Sudah ambilin handuk saja” kataku, ketika Eka mau mencopot kaos lengan panjangku.

Eka tanpa berkata, pergi meninggalkanku, aku telah selesai mandi ketika Eka datang membawa handuk dan pakaian ganti, dan tanpa babibu, dia langsung mengelap rambut dan tubuhku.

“Sudah aku ke kamar mandi dulu, mau ganti baju” kataku mengambil baju ganti dari tangan.
“Ku tunggu di kamar tamu ya, tuh ayah nanyain” kata Eka dari luar kamar mandi.
“Heeh, sudah nanti aku ke sana” jawabku.

Setelah ganti baju, aku segera ke ruang tamu, pak Junaidi, pegawai Pemda, orangnya ramah dan suka bercanda, bu Asih ibunya Eka, seorang guru SMP, mereka berdua pun menyambutku dengan ramah, aku bersalaman dan duduk di kursi.

“Ketemu di mana, dengan Eka dik Iyan?” tanya bu Asih.
“Wah tadi ku temukan di stasiun, lagi jadi gelandangan” kata Eka, yang baru keluar dari dalam dan membawa sisir, lalu begitu saja menyisir rambutku, ku tolak tapi tetep saja Eka menyisir sambil berdiri di kursi yang ku duduki.
“Sudah makan nak Ian? Mbok sana Ka di siapkan makan” kata pak Junaidi.
“Em, Ku buatkan pecel lele kesukaanmu ya?” tawar Eka masih menyisir rambutku.

“Sudah Ka, jangan repot-repot” jengahku.
“Iya Ka, sana beli lele” kata bu Asih.
“Dan Eka segera beranjak”.

Tinggal aku dan pak Junaidi, sementara bu Asih masuk. Sebentar kami terdiam, sampai pak Junaidi membuka pembicaraan.

“Nak Ian, gimana khabar orang tuanya, baik?” tanya pak Junaidi.
“Alhamdulillah baik pak”.
“Ini sebenarnya saya mau tanya ke nak Ian, jangan tersinggung lo ya?” kata pak Junaidi dengan nada hati-hati.
“Tanya saja pak, tak usah rikuh” kataku tak enak dengan nada kehati-hatian pak Junaidi.
“Begini nak Ian, apakah sebenarnya hubungan nak Ian dengan Eka?” tanya pak Junaidi, sebentar terdiam, “sekedar teman, atau pacaran. Maksudku kekasih”.

“Ya selama ini kami cuma berteman akrab kok pak, tak lebih, juga bukan sepasang kekasih” jawabku tenang.
“Tapi Eka itu sayang banget sama nak Ian, yang di ceritakan tiap hari ke ibunya, hanya nak Ian saja” tambah pak Junaidi.
“Saya juga sayang sama Eka kok pak, tapi sayang antara sahabat, tak terkotori nafsu birahi, saya menghargai dan menghormati Eka, jika ada yang mengganggu Eka, saya akan membelanya dengan sekuat saya” kataku masih tanpa emosi.
“Ya kalau begitu bapak mengerti. Silahkan di minum tehnya nak, bapak tinggal dulu” kata pak Junaidi meninggalkanku.

Sebentar kemudian Eka telah datang membawa ikan lele segar, dan langsung memasaknya jadi pecel lele, kami makan bareng. Sore itu aku pamitan, Eka dan ayah ibunya memintaku tinggal lebih lama, tapi aku memaksa pergi, Eka mengantarku sampai jalan raya, dan sampai aku mau naik bus, dia memasukkan amplop ke sakuku.

“Ini untuk bayar bus” katanya melepasku.

Aku segera naik bus, ketika kondektur minta ongkos bus, aku ingat uang yang di masukkan Eka ke dalam sakuku, ku ambil satu dan tanpa melihat ku serahkan pada kondektur.

“Wah mas, apa tak ada yang kecil?” katanya.

Aku kaget ternyata yang ku serahkan uang seratusan ribu. Aku terima uang dari kondektur itu, lalu kembali merogoh ke dalam amplop, tapi tiap ku keluarkan ternyata semua seratusan ribu, wah jadi Eka memberikan uang padaku 1 juta,

“Tak ada yang kecil mas, cuma ini” kataku menyerahkan uang seratusan.

Di Bojonegoro kembali aku turun di stasiun kereta api.

Bersambung kisah sang kyai bagian 17.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632