Kisah Sang Kyai Guru Bagian 17 - 248 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 16. Malam itu kembali aku menginap di stasiun, besoknya aku ikut kereta api KRD ke Surabaya, setelah dapat tempat duduk, aku pun tenggelam dalam wiridku, kereta belum juga berangkat, walau jam telah melewati waktu jadwal keberangkatan, di sebelahku kursi kosong, datang seorang pemuda kurus ceking dan duduk di sebelahku.

“Assalamualaikum mas” sapa pemuda kurus di sebelahku.
“Waalaikum salam” jawabku acuh, karena masih tenggelam menulis lafad Allah di kalbuku.
“Maaf mas, mengganggu” katanya.
“Tak apa-apa, wong tempat duduk ini di sediakan untuk penumpang” kataku tak acuh.
“Bukan itu mas, maksudku mas kan yang gila di stasiun Bojonegoro? Sebab tadi saya tanya para pedagang asong, kalau yang selama ini jadi orang gila di stasiun itu mas” kata lelaki ceking itu, dan membuatku terperanjat.
“Ada apa sampean mencari saya?” tanyaku heran.

“Anu mas, biar saya ceritakan saja diri saya, saya dari keluarga berbagai macam agama, di keluarga saya ada yang Hindu, Budha, Kristen, dan saya bingung mau milih agama apa? Saya pernah mencoba berbagai agama, selain Islam, tapi saya tak pernah merasa sreg dan cocok, nurani saya mengatakan semua tak benar, nah seminggu yang lalu saya ke salah satu kyai di Kediri minta petunjuk, lhoh kok dia malah menyuruhku minta petunjuk pada orang gila yang masih muda, berambut gondrong yang ada di stasiun Bojonegoro, kemarin saya sudah datang di stasiun tapi orang gila yang di cirikan oleh kyai Kediri itu tidak ada di stasiun Bojonegoro, lalu saya malamnya menginap di seorang kenalan, lalu tadi pagi saya datang lagi ke stasiun, saya cari-cari, juga tak ada, lalu saya tanya pada penjual asongan ciri-ciri orang gila yang ada di stasiun, pasti mereka pernah melihat, lalu mereka pada menunjukkan mas, yang saat itu tengah duduk di bangku, saya ragu, sebab mas tak seperti orang gila, maaf, pakaian, tubuh, juga tampang bersih, jadi saya ragu, lalu mas naik kereta jurusan Surabaya, ya dari pada pencarian saya tak mendapatkan hasil, maka saya samperin saja mas, dan inilah yang terjadi”.

“Siapa namamu?” tanyaku.
“Saya, Arifin mas, dari Jombang” jawabnya.
“Lalu apa yang kau inginkan dariku?”.
“Aku minta petunjuk dari mas, apa yang harusnya ku lakukan?” katanya, sementara kereta mulai jalan.

“Kau sudah mendapat hidayah dari Allah, memeluk agama Islam, adalah hidayah yang lebih mahal dari nyawa, karena apa gunanya amaliyah segunung, kalau tidak muslim, maka tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kebaikan di dunia, di akhirat hanya menerima rentetan siksa demi siksa tanpa ujung dan perhentian, maka jika kamu bisa menjadi Islam, sungguh suatu karunia yang tiada terkira, di suatu daerah aku pernah melihat anak kecil seorang anak keluarga Kristen, tapi aneh walau anak itu baru berumur 10 tahun, dia telah masuk Islam, tanpa ada yang mengajak, waktu ulang tahun yang di minta ke orang tuanya apa? Peci, baju taqwa, dan sajadah, lalu dia ikut jamaah di masjid, orang tuanya tahu itu kemudian marah, dia di pukul sampai babak belur, di siksa, tapi tetap saja dia ke masjid, nah itulah hidayah dari Allah”

“Aku jadi merinding mas, lalu apa yang harus ku lakukan mas?”.
“Pergilah ke kyai Maimun Zubair, Sarang Rembang, ceritakan keadaanmu, dan mintalah di Islamkan”.

“Prak, bug, prak!” tiba-tiba terjadi ribut dalam kereta, tepat di depanku dua preman berantem, dan terjadi pergumulan yang seru, karena entah merebutkan apa, nampak pemuda yang satu sudah benjol wajahnya karena di pukul, para penumpang menjerit, tiba-tiba pemuda yang benjol mencabut pisau dan di hujamkan ke pemuda musuhnya, sepersekian detik aku tak sadar begitu saja melompat, tanganku menangkis pisau, hingga pisau mental, dan otomatis aku di tengah jadi sasaran pukulan kedua preman yang telah gelap mata, kedua tanganku ku bentang menangkis kedua pergelangan dua pemuda itu.

“Krak!” Kedua pemuda itu mengaduh dan mundur memegangi pergelangan masing-masing, keduanya menatapku, heran dan ada pandangan takut, padahal bodi keduanya besar jauh di atasku.

“Kalau bikin ribut dalam kereta, ku lempar kalian keluar!” bentakku.
“Enggak mas! Enggak” jawab mereka berdua mundur-mundur, dan sebentar datang kondektur menenangkan suasana, dan aku pun duduk di tempat dudukku semula.
“Wah mas berani, aku sudah takut kalau sampai ada yang terluka” kata Arifin.
“Ah tak apa-apa, cuma anak berandalan” kataku tenang.
“Lalu bagaimana mas, tentang saya?”.

“Iya kamu pergi saja ke pesantren Sarang Rembang” kataku menerangkan agak keras, karena suara rem kereta yang berderit keras, dan kereta perlahan berhenti di stasiun Babat.
“Aku turun sini saja” kataku pada Arifin.
“Lho ndak ke Surabaya to mas?” tanya arifin.
“Enggak” jawabku sambil lalu berdesakan dengan para penumpang yang mau naik kereta.

Setelah turun kereta, aku pun mencari warung untuk sarapan pagi, ku masuk sebuah warung dan memesan pecel khas Lamongan, makan dan sambil memandang orang yang lalu lalang. Seharian tak ada aktivitas yang ku lakukan, kecuali diam di mushola stasiun menjalankan wirid sampai tertidur, lalu shalat dzuhur dan wirid lagi, tenggelam di dasar suara hati. Malam itu, sekitar pukul 3 dini hari, aku tidur sendiri di mushola stasiun, tiba-tiba serasa ada yang membangunkanku.

Aku terperanjat dan bangun, tengak tengok tak ada siapa-siapa, aku heran, lalu siapa yang membangunkanku? Aku bangkit dan keluar dari mushola, di luar segera angin dingin berhembus, menebar bau minyak pelumas roda kereta yang tercecer, suasana teramat hening, tak ada seorangpun berkeliaran, ku berjalan ke salah satu kursi tunggu, duduk dan mengeluarkan rokok Djarum dan menyalakan dengan korek.

Belum sampai lima menit aku duduk di kursi tunggu, kereta barang tiba dari Surabaya, suara rodanya beradu dengan rel menjerit memekakkan telinga, kereta berhenti perlahan, beberapa penumpang gelap melompat dari sambungan gerbong, turun, aku tetap santai menikmati hisapan demi hisapan rokok. Tiga penumpang, yang turun dari sambungan gerbong ternyata pemuda-pemuda, dan ketiganya menghampiriku, dan aku kaget, ternyata salah satunya adalah pemuda yang kemarin siang ku tangkis pisaunya.

“Benar ini orangnya” kata pemuda yang kemarin ku tangkis pisaunya.
“Wiiit, wiiiet!” pemuda yang lain bersiul nyaring.

Dan dari setiap gerbong melompat pemuda, dan banyak sekali, dan membuatku tergetar juga, mungkin sebanyak 20 orang atau bahkan lebih, dan kilauan pedang di setiap genggaman mereka.

“Apa mau kalian?” kataku berdiri dari kursi, dan menikmati sedotan terakhir dari puntung rokok yang ku pegang.

Ah mati aku, tentu mereka akan mengeroyokku, aku membayangkan tubuhku di cacah pedang dan di biarkan tergeletak di rubung lalat, dan kemudian di bungkus tikar, lalu tercatat di surat kabar, seorang gelandangan di bunuh di stasiun, dan ayah ibuku menangisi kematianku, ah betapa pendeknya usia, berdesir darahku, suara jantungku bledag bledug tak karuan, aku manusia biasa, yang tak tahu kapan akan mati, dan akan mati yang bagaimana? Ah benar-benar membuat keberanianku kuncup, terbang atau entah kemana?

Aku jadi ingat waktu jadi ketua gank dan di keroyok 20 orang, dulu aku nekat, tapi sekarang, hidup dengan iman begitu nikmat dan mengasikkan, andai di suruh memilih mati yang bagaimana? Aku lebih memilih mati dalam keadaan shalat, tidak mati di keroyok, tapi apa dayaku, aku coba tenang dan membangkitkan tenaga yang selama ini mengeram di pusarku, walau ku lihat sudah tidak keburu, karena kulihat semua orang telah merangsek maju, memburu menikam dan membacok tubuhku, aku hanya sempat mengucap takbir, melompat maju, membuat perlawanan sekenanya.

Berkelit kesana sini dan melepas bogem, sekenanya, tanpa memilih mana dan siapa yang kupukul, yang jelas perlawanan karena di timbulkan dalam kepanikan, tapi hatiku yang telah tiap hari ku gantungkan pada-Nya tak lupa berdoa, “Wahai Dzat, wahai Kekasih, apakah kau biarkan aku teraniaya mati di sini? Engkau yang lebih kuasa dari segala sesuatu”. Mungkin baru 2 orang yang kupukul, dan dalam kengerian dan kepengecutanku aku memukul dengan mata terpejam teramat rapat.

Suasana sepi, aku belum membuka mata, apakah aku telah mati? Membuka mata ku rasa lebih menakutkan. Tanganku masih mengepal gemetar, mata masih terpejam, suara kereta api barang telah tak ada, bau minyak rem, terbawa desir angin, apakah aku yang telah mati dan beginikah rasanya, tapi kenapa tak kurasakan sakit sama sekali, sakitnya nyawa di betot dari badan, nyawa yang di betot dan karena telah terikat dengan urat-urat maka akan menyisakan sakit di sekujur badan, karena urat-urat semua akan putus, dan rasa sakitnya akan sampai kiamat masih terasakan, setidaknya begitu yang kubaca tentang ruh dari kitab-kitab kuning.

loading...

Tapi ini aku tak merasakan sakit sama sekali, perlahan ku buka mataku sebelah, memicing, sebab begitu takutnya aku andai menyaksikan kenyataan yang pahit, yaitu aku telah mati. Ah aku masih berdiri, dan tak ada orang lain yang berdiri kecuali aku, lalu kemana semua penyerangku? Aku heran ku lihat semua terkapar, bukan hanya 3 langkah di depanku saja, tapi ada juga yang kelihatannya baru mau berlari ke arahku juga nyungsep tak bergerak, perlahan ku teliti satu persatu, semua pingsan.

Heran? Jelas aku heran, dalam angan anganku yang terkapar harusnya aku, mengapa malah para pengeroyokku? Sambil ku seret tubuh pemuda-pemuda yang pada pingsan itu dan kukumpulkan menjauhi rel kereta, takut kalau ada kereta yang lewat, dan terlindas, aku memikirkan siapa orang yang telah membantuku, menundukkan semua pengeroyokku? Tapi andai manusia dan punya ilmu yang teramat tinggi, dan bisa bergerak demikian cepat, tentu aku masih merasa kehadirannya, tapi ini kehadirannya tidak kurasakan, ah entahlah mungkin pertolongan Allah, membuat pingsan orang satu negara saja bisa, apalagi cuma beberapa gelintir orang, biarlah semua jadi misteri.

Ku kumpulkan beraneka macam senjata yang akan di buat menyerangku, ada pisau, golok, pedang, pentungan, semua ku buang ke tempat sampah di pojok stasiun. Lalu aku mengambil air wudhu dan melakukan shalat malam, terdengar sayup adzan pertama, dari masjid Muhammadiyah. Aku wirid sambil menunggu saat memasuki waktu subuh. Dua hari aku masih di stasiun Babat. Dan malam berikutnya, mungkin musim kemarau, udara terasa panas, sehingga aku duduk sendiri, mencari udara yang agak tak terasa gersang di perasaan, malam telah menunjukkan jam 2 dini hari, sambil memutar tasbih, aku duduk di kursi peron, kulihat seorang wanita tua tidur mendengkur di pojok dekat pintu, menunggu dagangan pecel, yang akan di jual besok hari.

Ah kejamnya dunia, bagaimana orang setua itu masih menanggung kepahitan hidup, kadang anak-anaknya, menunggu di rumah, untuk meminta uang dengan marah-marah, lalu di buat hura-hura, aku ingat tetanggaku si Zuhdi yang selalu mengejar-ngejar orang tuanya dengan parang hanya untuk minta uang buat mabuk-mabukan, salah siapa sebenarnya, kegetiran hidup di rasakan hampir seluruh lapisan bawah, rakyat negeri ini?

Jerit rakyat, tindihan keluarga, keadilan yang di putar balikkan, seperti mengikuti tangan penguasa kemana mengarahkan, ah entahlah, terlalu rumit, kenyataan dan terlalu pahit untuk di rasakan, moga-moga saja mereka masuk surga, walau di dunia tak dapat kebahagiaan, setidaknya di akhirat masih ada harapan, ku teruskan wiridku, sambil kaki selonjoran di kursi, malam mulai membawa angin segar angin pagi, udara sejuk, mengalir menghembus tubuhku.

Ku lihat seorang pemuda berjalan kearahku dari depan stasiun, aku menengok, ketika langkah kakinya terdengar di telingaku, kemudian dia duduk di kursi, dari dua kursi yang ku duduki, mungkin umur pemuda itu dua tahun lebih tua dariku, wajahnya mengguratkan keresahan hati, duduknya serba tak tenang, setidaknya di penglihatanku, saat malam makin mendesirkan kesunyian yang rindu akan suara, geseran tubuh pemuda itu terdengar jelas, seperti mengganggu ketentraman, dan konsentrasi wiridku, tiba-tiba dia berjalan ke arahku, dan berdiri di depanku.

“Sendiri mas?” tanyanya sekedar basa basi, atau ngomong sembarangan dari pada tidak ada yang di omong.
“Iya” jawabku singkat, tanpa nada suara yang meledak.
“Apa ndak kuatir mas sendirian?” tanyanya lagi.
“Kuatir kenapa?” aku balik bertanya.
“Ya kalau-kalau di rampok orang”.
“Apa yang harus di rampok dariku? La uang seripis saja ndak punya” jawabku dengan tertawa, walau tidak tertawa getir.
“Nginap saja di tempatku!” katanya, dengan nada yang aku mencium, entah apa terasa di telingaku, kurang berkenan.
“Ah ndak lah, aku biasa tidur di sini, kemarin juga tidur di sini”.
“Nggak mas, di tempatku juga ndak ada orang, jadi kalau mau, nginap dan tidur sepuasnya juga gak ada yang akan menyalahkan”.

Setelah di bujuk-bujuk akhirnya akupun mau, kami berjalan menyelusuri lorong-lorong dekat pasar Babat, dan dalam perjalanan pun kami saling ngobrol, dan ku kenal, pemuda itu bernama Hendra. Rumah Hendra tak terlalu besar, walau tidak bisa di katakan kecil, cat rumah juga sudah banyak yang terkelupas, ada kesan rumah yang tak terurus, atau orangnya yang malas ngurus, segala macam pakaian tergantung, dan menumpuk di sana-sini, ya mungkin Hendra ini, terlalu malas, setidaknya seukuran orang yang tak punya istri, aku di suruh duduk di kursi, yang teramat apek, mungkin lebih nyaman di stasiun, aku pun mendudukkan pantat di kursi, yang busanya sudah pada bolong, mungkin di makan tikus yang nyari makan sudah tidak ada yang lain, jadi busa juga di makan, mungkin di bayangkan sebagai roti, ah apakah tikus juga berhayal seperti manusia?

Hendra keluar dari kamar, dan mengajakku masuk, “ayo mas masuk, maaf, kamarnya berantakan banget” ah ndak usah dia bilang berantakan, aku juga sudah tahu. Ah kamarnya juga gelap sekali, lampu bohlamp, cuma 5 watt, dan sudah banyak di hinggapi sarang laba-laba, benar-benar tak ada nyamannya sama sekali, mestinya kalau tahu begini aku tadi tidak mau untuk di ajak ke rumahnya, ku lihat tape recorder dan amplier terletak begitu saja di tanah, dekil, dan kelihatan jarang di sentuh, atau yang bersih cuma pencetan playnya, entahlah aku seperti merasakan suntuk yang teramat sangat, kok kerasan Hendra tinggal di rumah, dan kamar yang seperti ini.

“Ayo tidur, atau mau ngobrol saja?” katanya mengagetkanku.

Aku tak menjawab, tapi langsung merebahkan diri, ke atas kasur, yang tak berkapuk lagi, mungkin telah teramat tipis, setipis triplek, rasanya makin penat saja, tapi ku relakan urat-uratku, yang sebetulnya tak pegal, Hendra pun ikut naik ke atas ranjang, sehingga aku yang mepet ke tembok. Tiba-tiba tangan Hendra memelukku, aku menepiskan.

“Apa-apaan sih Ndra!” kataku agak jengkel dan risih.
“Ah masa nggak ngerti” kata Hendra sambil tangannya berusaha di dekapkan ke arahku. Ah dah gila ini orang, kembali ku tepiskan tangannya.
“Ayolah mas, kita kan sama-sama dewasa, masa mas ndak ngerti” katanya dengan nada merajuk.
“Sialan kamu jangan macam-macam” kataku jijik.
“Apakah aku harus main paksa?” kata Hendra dengan tangannya cepat memelukku, tapi tangan itu segera ku tangkap pergelangan tangannya, dan untung dulu pernah tahu ilmu gunting, yang melatihnya dengan menjepit besi sampai gepeng, begitu tangan Hendra dalam genggamanku, rapal pun ku ucap, Hendra menjerit.

“Aduh sakit mas!”.
“Jika aku ingin mematahkan tanganmu, sama mudahnya mematahkan roti kering” kataku bukan sekedar mengancam, dan mempererat cengkeraman, sehingga Hendra menjerit kencang.
“Apa mau ku patahkan?” tanyaku, sementara Hendra telah memelintir, melintirkan tubuh menahan sakit yang teramat sangat.
“Ampun-ampun mas, tobat!” katanya, matanya mulai basah, entah karena rasa sakit yang di rasakan atau karena memang dia menyesali dengan apa yang telah di perbuat, dan Hendra pun benar-benar menangis, akupun melepaskan cengkeraman tanganku, di pergelangan tangannya, ku lihat pergelangan tangan Hendra membiru,

“Maafkan aku, mas, aku ndak tahu kalau mas orang isi”.
“Memang kalau aku tidak berisi, kamu akan berbuat sekehendak hatimu?”.
“Aku ndak berani mas, maafkan” suaranya di sela isak tangisnya.
“Aku jadi begini juga karena ada sebabnya mas, bukan karena kelainan, tapi lebih karena kekecewaan”.
“Apa maksudmu?” tanyaku yang mulai mengendap kemarahanku.
“Sudah nangisnya!” bentakku karena melihatnya sesenggukan menangis.
“Kamu itu lelaki, masa menangis” Hendra terdiam, dan menghapus air matanya.
“Aku orang yang malang mas” katanya.

“Malang bagaimana apa kamu kejatuhan bom yang mau di jatuhkan di Irak sana, ku lihat tubuhmu juga masih utuh, ya kalau kamu kejatuhan bom, berarti kamu masih termasuk orang yang selamat, karena seluruh tubuhmu ndak terluka” jengekku.
“Mas jangan bercanda” kata Hendra.
“Bercanda gimana? Kan katamu kamu ini orang yang malang, la malang saja, tubuh kamu masih utuh, sehat wal afiat tak kurang suatu apa, gimana aku tak heran, yang malang sebelah mana?”.
“Yang malang hatiku mas”.
“Wah kalau yang malang hatimu, itu pasti karena pola tingkahmu sendiri, dan tak siapnya kamu menghadapi kenyataan”.

“Ndra! setiap orang itu mempunyai kadar rasa yang sama, rasa sakit, rasa senang, duka, kecewa, enak nikmat, pahit getir, semua mempunyai kadar yang sama, semua di beri keadilan untuk mengecap rasa itu, tergantung kita sendiri menyikapi, dan membuat ukuran kadar dalam peluapannya, ada orang mau di suntik dokter, semua pasti merasakan yang sama, jarum nusuk kulit, tapi ada yang cuma njengkit kaget, ada juga yang teriak, bahkan ada juga belum kena jarum sudah teriak-teriak, jadi tergantung bagaimana, menyikapinya, semua kembali pada diri masing-masing”.

Hendra cuma mantuk-mantuk, tak tahu paham apa enggak dengan keteranganku, wong aku yang menerangkan sendiri saja bingung apa lagi yang mendengar, ya dari pada tidak memberi solusi, lebih baik ngasih solusi, setidaknya untuk pengalih perhatian.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 18.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632