Kisah Sang Kyai Guru Bagian 18 - 198 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 17.

“Sebenarnya masalah apa yang kamu hadapi?” tanyaku menyelidik.
Hendra menarik napas panjang lalu berkata, “Gini mas, aku pernah mencintai wanita, selama ini dia yang selalu aku idam-idamkan, selama ini dia yang selalu dalam angan dan pikiranku, selalu aku pikirkan, siang malam”.
“Terus bagaimana?” kataku tak sabar, mendengar kata muluk berbumbu tumpahan perasaan.
“Ya itu mas, aku mencintai dia, menyayangi dia, bahkan sering memberinya hadiah-hadiah, karena sayangku padanya” kata Hendra makin muluk-muluk.
“Iya apa kamu sudah nyampaikan atau ngutarakan cintamu padanya?” kataku tak sabaran.
“Itulah mas”.
“Itulah gimana maksudmu?”.

“Dah beberapa tahun itu pengutaraan cinta ku tunggu-tunggu, sampai ada waktu yang cocok”.
“Ah njlimet amat, masa ngutarakan cinta pakai waktu yang cocok? Jangan-jangan pakai hitungan Jawa, pakai hitungan weton, kenapa gak langsung di utarakan?”.
“Ya itu mas susah nyari waktu yang pas”.
“La kenapa gak pakai surat? Jadi waktu pengutaraannya gak usah banyak waktu plintat-plintut, tulis to the point Iove You, kan sudah, kenapa repot?”.

“Ya tak tahulah mas, yang jelas saya nunggu setahun sampai bisa mengutarakannya”.
“Lalu bagaimana?”.
“Ya saya utarakan, mas”.
“Iya kelanjutannya bagaimana, maksudmu, kamu di terima atau di tolak?”.
“Aku di tolak mas” jawab Hendra lemas, aku cuma ketawa.
“Kenapa ketawa mas?” tanya Hendra.
“La gimana tak ketawa, la cuma di tolak sekali saja sudah lemas, murung, frustasi, hidup itu perjuangan Ndra, la orang bikin anak sampai jadi cewek yang kamu demeni itu saja tak sehari-dua hari, la di tolak sekali, agak jual mahal, agak jinak-jinak merpati, la itu kan sudah sifatnya cewek, la kalau cewek nyeruduk saja, kayaknya kok tak ada seninya, kurang ada nilai lebih, gak ada gregetnya, ya gak?”.

“Tapi penolakannya itu langsung telak mas, aku di larang datang, aku di larang dekat-dekat dengannya”.
“Woh itu mah wajar”.
“Tapi dia bilang malu mas, kalau aku ada di dekatnya”.
“Ah alasan kan boleh saja di buat, mau alasan malu-mau alasan kamu bau, ckikikik, la wong alasan kok di ributkan, dia mau bikin alasan apa saja, kalau kamu gigih, ku kira juga dia akan takluk” kataku memberi semangat, sebenarnya maksudku, hanya menarik kembali Hendra dari jalan yang salah, jalan kepada penyimpangan xxx.

loading...

“Lalu apa yang harus ku lakukan mas?”.
“Wah itu urusanmu sendiri, tapi kalau kamu mau, aku akan memberimu amalan, supaya cewek itu kau dapatkan, kamu mau?”.
“Wah mau-mau mas“.
“Tapi syaratnya berat Ndra!” kataku, memancing kesungguhannya.
“Syaratnya apa mas? Apa ngambil tanah dalam kuburan?”.
“Wah ndak seberat itu Ndra, malah juga di bilang ini juga berat bagi orang tertentu”.
“Terus apa syaratnya mas?”.

“Syaratnya kamu jangan meninggalkan shalat, jangan minum-minuman keras, dan jangan kau pakai perempuan itu barang permainan, gimana kamu sanggup?”.
“Cuma itu saja mas syaratnya?” kata Hendra,
“La kamu sanggup tidak? Kan selama ini shalatmu jarang-jarang”.
“La kok mas tahu?”.
“Wah itu mudah di tebak Ndra!”.
“Aku sanggup mas”.
“Benar sanggup?” tanyaku meyakinkannya.
“Sanggup sekali mas”.
“Baiklah, sini aku minta pena ama kertas, biar ku tuliskan amalannya” kataku yang segera di carikan oleh Hendra dan tak sampai lima menit dia datang membawa pena dan kertas, dan amalan makhabah pun ku tulis.

Setelah menyerahkan amalan, dan memberikan pesan cara kerja dan bagaimana pakainya, aku pun minta diri karena hari telah menjelang subuh. Setelah shalat subuh, aku ikut kereta barang ke arah Surabaya. Jam satu siang sampai di stasiun Pasar Turi, aku tak bingung, walau tak pernah ke Surabaya, ya bagaimana harus bingung, karena bingung adalah hak bagi orang yang punya tujuan, sedang aku tak punya tujuan sama sekali, jadi aku sama sekali tak mencari alasan untuk bingung, aku duduk saja di kursi peron, tak seperti orang linglung, walau tak ada uang serupiah pun di kantongku.

Aku tak takut, akan dapat makan dari mana, walau aku juga manusia biasa, kalau boleh bilang aku teramat lapar, walau itu tak jadi beban pikiranku, aku tekuni saja berdzikir, tanpa henti dan tanpa bosan, karena hanya Robku saja sandaranku, dan yang aku kenal sekarang ini, aku yakin, kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang ibuku, perhatian-Nya melebihi siapa pun di muka bumi ini, aku kemudian berjalan keluar stasiun, tapi baru keluar dari pintu seorang perempuan memanggilku.

“Mas sini mas!” panggilnya.

Aku segera mendekat, ku lihat dia membawa banyak jualan, yang di tenteng, yang di jinjing, juga yang di gendong di punggung, tapi mulai di turunkan, ibu itu mungkin seumur empat puluh tahun.

“Ada apa bu?” tanyaku sambil mendekat, mungkin aku di minta membantu barang bawaannya, pikirku.

Dia membuka makanan dan meramu pecel, dan meletakkan satu paha ayam di bungkusan yang di pegangnya.

“Ini makan!” katanya menyodorkan sebungkus pecel yang di raciknya.
“Ah ndak bu” kataku mundur.
“Ndak mau gimana? Sudah ini di makan!” katanya berdiri dan menyodorkan bungkusan padaku.
“Saya ndak punya uang bu, maaf” kataku terus terang.
“Yang nyuruh anak ini bayar siapa? Ibu hanya minta anak makan ini”.
“Tapi bu?” kataku masih belum menerima nasi bungkus pemberiannya.

“Sudah ini di makan dulu” katanya, yang tak bisa ku tolak.

Lalu ibu itu mengeluarkan kursi dari dalam keranjang dagangannya dan menyuruhku duduk, dan setelah menyatakan terima kasih, aku pun makan dengan lahap.

“Nambah?” tanyanya sambil menyodorkan segelas teh di dekatku.
“Ah sudah bu, sudah kenyang sekali” kataku.
“Ibu bikinin lagi ya” tawarnya dengan pandangan kasih nan lembut.
“Sudah bu, benar nih, sudah kenyang sekali” kataku, sambil meminum teh manis, tapi ku lihat ibu itu masih membuat racikan pecel juga, dan membungkusnya dalam kresek, lalu di sodorkan padaku.
“Ini, untuk bekal dalam perjalanan” katanya sambil mengansurkan kresek ke arahku, dan memaksaku menerimanya.
“Kenapa ibu baik padaku?” tanyaku heran.

“Nak, ibu hanya minta kamu mendoakan ibu” katanya menatapku dengan serius.
“Mendoakan?” tanyaku heran.
“Ah ibu ini, saya ini dosanya terlalu menumpuk bu, masa di suruh mendoakan? Ya apa di perduli oleh Allah, lihatlah pakaianku ini bu kotor banget, dekil, kumal, jarang mandi” kataku sambil menunjukkan pakaian yang ku pakai.
“Kalau begitu, kamu tak mau ya mendoakan ibu?” katanya sambil air matanya mulai menetes.
“Oh, mau, mau, bu, mau” kataku gelagapaan melihat ibu itu mulai menangis.
“Iya, iya bu, kan ku dokan, ibu minta di doakan supaya apa?” tanyaku cepat-cepat supaya dia tak keburu menangis.
“Ya ibu minta di doakan supaya mati khusnul khotimah” katanya sambil mengusap air matanya dengan selendang, untuk menggendong jualan.
“Baik ibu yang mengamini ya, biar aku yang berdoa” kataku, kemudian mulai berdoa, aku tak perduli setiap orang yang lewat menatap aneh padaku, memang sejak pertama, aku tak pernah perduli dengan orang lain.

Selesai berdoa, ibu itu menggenggam tanganku, dan mengucapkan terima kasih, aku juga mengucapkan terima kasih, dan pamit untuk melanjutkan perjalanan, kemudian meneruskan mengayunkan kaki tanpa arah dan tujuan pasti, karena memang aku tak mau di sibukkan oleh arah, tak mau di risaukan oleh tujuan, aku hanya ingin mengenal gerak gerik Allah dalam membimbingku, menuju pencarian tanpa berkesudahan, melatih cinta dan tak menduakannya, melatih tawakal, dan meresapi sunyinya bercumbu dengan kesunyian dengan-Nya sendiri, walau dalam keramaian, tenggelam dalam samudra kepasrahan, tanpa ingin di tolong oleh siapa saja, kecuali oleh rengkuhan kasih-Nya, tanpa embel-embel balas budi.

Melangkah, melangkah, dan melangkah, Surabaya begitu luas, aku kadang menyeberang, kadang berhenti di tepi jalan, tak terasa sandal jepit yang selama ini menemaniku telah tembus, sehingga telapak kakiku berdarah, karena sering tergores aspal panas jalan, juga mungkin tersandung batu, sehingga tak ku pikir dan perhatikan, itu ku ketahui, ketika sandalku telah putus, sehingga ku buang, aku kaget, oh Allah maafkan aku, kalau hatiku sekejap melupakan-Mu karena tersita oleh rasa sakit di kakiku, setelah sandal ku buang aku pun berjalan lagi, tak ku perdulikan sudah lecet di kaki.

Aku sampai di Tunjungan Plaza, di tahun 1994 Plaza Tunjungan mungkin yang terkenal di Surabaya, setidaknya itu menurut pandanganku, aku duduk saja di sekitar plaza, kalau malam kadang nongkrong dengan para pelukis jalanan, yang menggelar lukisan di sekitar plaza, kalau hari telah larut malam, aku pun tidur di emperan toko, menggeletak saja tanpa perduli apa-apa, untuk makan aku kadang mengorek tempat sampah, ada saja yang ku temukan, entah nasi bungkus, entah roti berjamur, sekedar untuk mengganjal perut, lalu kalau untuk shalat aku cari musholla atau masjid di sekitar, itu sampai beberapa hari, sampai suatu siang aku jalan, tanpa satu tujuan, dan sampai di jembatan merah, plazanya baru di bikin, lalu ada truk berhenti, aku pun naik.

Dalam pikirku, tak tahu aku akan di bawa kemana, yang penting truk ini berhenti, maka aku turun, lalu aku tiduran dalam truk, sampai terbangun dan truk pun sudah berhenti, aku turun, masih dengan kaki terlanjang, hari telah beranjak malam, aku berjalan, setelah melihat tulisan yang terpampang di depan toko, maka aku pun tahu kalau aku ada di daerah Sidoarjo, aku pun berjalan, sampai kakiku menendang sesuatu, karena gelap aku teliti, ternyata sebuah sandal, sandal carvil, lumayan bagus untuk menjadi ganjalan kakiku yang telah lecet.

Aku cepat-cepat mencari pasangan sandal, karena yang ku temukan tinggal satu, ku cari kesana ke mari, karena gelap lumayan susah juga, walau akhirnya ku temukan, dan ternyata sudah putus jepitannya, lalu aku pun punya inisiatif untuk menusuk bawah jepitan dengan paku, setelah mencari paku dan menusuk belakang jepitan dengan palu dari batu, sandal pun bisa di pakai, kelihatannya lumayan masih baru, mungkin di buang orangnya karena putus talinya saja, lumayanlah, sehingga luka di kakiku yang lecet tak sakit lagi karena terkena kerikil.

Aku lanjutkan perjalanan, sampai juga aku di depan plaza, Sidoarjo, aku duduk, sebenarnya mau shalat tapi tak tahu di mana ada masjid, aku nggelosor saja di depan plaza, yang sudah tutup karena sudah malam sekali, tanpa sadar, karena teramat lelahnya aku pun tertidur, sampai terdengar suara adzan subuh, dan aku teramat heran, karena adzan subuh terdengar dekat sekali, lalu aku menuju arah suara adzan, dan masjid ternyata cuma di belakang plaza saja, aku pun segera masuk masjid, dan mengkodho shalat yang ku tinggal, dan mengikuti jamaah subuh, selesai shalat aku pun keluar masjid dan nongkrong saja di pinggir jalan, sambil wirid dan melihat orang yang lalu lalang, kelaparan perutku aku isi dengan air yang tadi ku bawa dari masjid, dan itu setidaknya sudah menipu nafsu makan cacing yang ada dalam perutku, dan tidak berontak lagi.

Hari jum’at, ah sampai tidak berpikir kalau ini hari jum’at, orang berbondong-bondong ke masjid, aku pun melangkah dengan pelan ke masjid, pertama yang ku lakukan adalah mengisi perut dengan air sebanyak-banyaknya, lalu wudhu dan masuk masjid, melakukan shalat tahiyatul majid, lalu duduk di pojok, aku tak mau mengganggu orang lain, ya pakaian yang kumal, gelandangan shalat di masjid, tentu banyak orang yang memandang dengan pandangan mengucilkan, dan sedikit ada unsur hina, di setiap percikan mata mereka, bahkan di hati mereka, tapi aku mencoba tenggelam dalam dzikir, setelah shalat jum’at, dan melakukan dzikir sebentar. Lalu aku keluar masjid, memakai sandal dan melangkah pergi, tapi tiba-tiba, sebuah tangan menarik baju belakangku, dan aku di seret begitu saja.

“Pencuri sandal!” bentak orang yang menyeretku, ke kantor pengurus masjid, ku lihat orang itu tinggi dan berkumis tebal garang, dia menyeretku, terus ke dalam kantor, dan di dalam ada beberapa orang, aku segera di banting ke lantai, terduduk.
“Kau maling sandal hina!” bentaknya lagi.
“Ah, sampean salah” kataku, tenang.
“Salah bagaimana, sudah jelas-jelas mencuri sandal” bentaknya.
“Ayo ngaku!” aku diam saja.

Dan tiba-tiba orang itu menarik sabuk yang di pakai, dan wuuut sabuk di hantamkan ke punggungku. Aku hanya memejamkan mata, ketika sabuk itu mengenai punggungku, dan tanpa mengeluh, karena entah kenapa aku tak merasakan sakit, tapi itu malah membuat orang yang menyeretku itu makin beringas mencambukiku.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 19.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632