Kisah Sang Kyai Guru Bagian 20 - 356 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 19. Acara makan-makan pun cepat berlalu, apa yang di pesan tidak sampai seperempat jam telah pindah ke perut kami bertiga, dan terakhir ku seruput es kelapa muda, ah memang restoran memang kebanyakan cuma gengsinya doang, kelapa mudanya juga enakan yang bikinan pinggir jalan, bukannya aku ndak terima dengan apa yang telah aku telan, ini cuma bahan tulisan saja, atau kali saja lidahku yang lidah jalanan, tapi ndak kok memang ndak enak setidaknya menurut ukuran harga es kelapa muda di restoran kalau di belikan kelapa muda di jalan, kayaknya dapat sejerigen, berlebihan ya, yang ku buat perumpamaan?

Ya kalau ndak gitu nanti tidak ada yang di omongkan, nyatanya orang lebih suka menjual gengsi dari pada nilai suatu kejujuran, juga lebih suka bangga membeli gengsi dari pada makan yang sesuai di lidah, yah itulah perputaran kehidupan, kami segera naik mobil lagi, dan kami minta turun di lorong arah menuju ke tempat kami menginap yaitu di rumah pak Sugeng.

“Yan, mbak Lina itu naksir kamu habis” kata Edi saat kami berjalan bertiga di gang arah rumah menginap,
“Kok tahu mas Edi?” kataku, sambil menyalakan rokok, yang selama di mobil ini aku tahan ingin ngerokok, minta ampun lebih kebelet dari pada orang yang mau ke toilet.
“Kita ini sudah enam tahun, baru sekarang mbak Lina ngajak kita makan-makan, la kalau ndak naksir kamu, apa alasan lain yang lebih masuk akal?” tanya Edi juga ikutan nyalain rokok.

Ikhrom yang tidak ngerokok memang dia tidak merokok, itu saja bibirnya sudah hitam banget, mungkin alasan dia tidak ngrokok juga agar bibirnya tidak malah hitam, tapi aku tak pernah bertanya ke situ.

“Bisa saja karena alasan lain” kataku sekenanya, karena juga aku bukan orang yang ingin di taksir oleh mbak Lina, walau menurutku dia cantik lebih cantik dari standar ukuran cantik yang ku pakai ukuran.
“Kita lihat saja nanti” kataku menambahkan, sambil nyedot rokok kuat-kuat, biar agak mantapan dikit.
“Mbak Lina itu habis putus pacar lo Yan” kata Ikhrom nambahi.
“Masa?” kataku agak neleng, kayak serius menanggapi.
“Iya, cowoknya yang dulu di tendang, katanya ndak setia” tambah Edi, kayak makin senang saja ngomongin orang.
“Lah mbak Lina secantik itu masa cowoknya bisa ndak setia?” tanyaku asli merasa heran bukan ku buat-buat, karena memang aneh juga kalau orang cantik kok ada cowoknya yang ndak setia.
“Sebenarnya itu sih alasan saja, mbak Linanya sendiri yang sudah bosan” kata Edi menutup pembicaraan, karena kami sudah sampai pintu rumah pak Sugeng.

Setelah shalat isya kami pun berangkat tidur, waktu telah menunjukkan jam 12 lebih lima menit, seperti biasa, aku dan Edi tidur satu kamar, dan Ikhrom tidur di kamar lain.

“Yan kalau mbak Lina naksir kamu benaran, kamu mau jadi cowoknya?” tanya Edi berbisik, padahal tidak usah berbisik juga suara Edi kurang keras, karena kebiasaan Edi kalau mau tidur nyalain tape recorder, dari tape mobil yang sudah bodol, dan yang di putar lagu itu-itu saja, lagunya Koes Plus kalau ndak salah judulnya Telaga Sunyi, dan urutannya yang aku sampai hapal itu lagu Mari Nyanyi Bersama, ya kalau di dengar-dengar lagu itu makin bosan, tapi lama-lama enak juga untuk pengantar tidur, tapi malah membuatku tidak konsentrasi untuk wirid dalam hati.

“Apa?” tanyaku karena memang suara Edi yang tak jelas.
“Ya kalau mbak Lina benaran naksir kamu, kamu mau gak jadi cowoknya?” tanyanya mengulang pertanyaannya dengan nada yang tak sama.
“Kalau nurut kamu aku mau apa ndak?” tanyaku.
“Lhoh ini kan yang jalanin kamu Yan kok malah tanya aku lagi?” rungut Edi.
“La aku sendiri tidak tahu, aku baiknya mau apa nggak? Sudahlah besok saja di bicarakan lagi, sekarang tidur” kataku sambil menutupkan tangan pada atas mata.

Hari berlalu seperti melewati lingkaran yang berputar dalam satu poros, kami ini seperti tikus yang berlari dalam putaran roda, makin lama kami berlari, maka tetap saja kami ada di jalan yang sama, Matahari departement store, jalan rumah nginap, kok aku pikir makin jenuh saja, pagi jam sembilan berangkat kerja, jam sepuluh buka toko, sebelumnya sarapan dulu, menghadapi pembeli, sore pulang, kayaknya kalau kami pikir seperti robot saja, terus terang kalau aku ndak berjiwa muda, artinya masih anak muda, jenuhnya minta ampun, untung aku ini anak muda, sekali waktu nggodain cewek cantik yang jalan-jalan ngelewati toko kami, atau kadang kala aku iseng nggoda cewek, supaya membeli sepatu yang ku pajang.

Aku goda sampai akhirnya beli, padahal asal ngecap saja, kubilang kalau pakai sepatu yang ku pajang itu malah cakep, malah kelihatan modis, padahal aku ndak ngerti modis itu apa, dan kadang yang bikin aku ketawa, cewek yang jelas-jelas wanita, namanya juga cewek ya pasti wanita, ku godain supaya beli sepatu yang bergaya lelaki, dan ku bilang malah cuantik, dan akhirnya beli dan di pakai, padahal jelas nyalahi, tapi kok ya mau saja. Ah kalau di pikir memang makin ngawur dunia, kebanyakan remaja itu ngikuti kata orang, ndak tahu kalau orang yang di ikuti itu ngawur bicaranya ya mereka tetap saja ngikuti.

“Yan, sini” tiba-tiba pak Sugeng manggil aku.
“Ada apa pak?” tanyaku setelah ada di depannya.
“Ya sudah besok kamu kerja di sepatu bata, ndak usah potong rambut” kata pak Sugeng.
“Oh gitu ya pak?” tanyaku.
“Iya, orangnya bilang, kamu yang rapi saja, rambutnya di ikat ke belakang yang rapi, besok mulai kerja di sepatu bata ya” tambah pak Sugeng jawab tanyaku.
“Iya pak” kataku hormat, mengingat pak Sugeng banyak menolongku.

Toko sepatu bata tak jauh dari tempatku kerja sekarang, di pisah empat toko, toko jam tangan, toko emas, butik bak lina, dan toko es krim, jadi toko sepatu bata pas sebelah toko es krim dan roti. Waktu istirahat aku sempatkan nyamperin ke tempat toko sepatu bata, lalu berkenalan dengan pemiliknya dan dua gadis pelayannya yang nantinya jadi teman keseharianku.

“Mas ini ya yang besok kerja di sini?” tanya gadis bernama Mona, wajah gadis itu biasa saja, kayak gadis desa, rambut sebahu, tampang malu-malu, kulit sawo matang, tingginya pun paling seratus enam puluhan, dia memakai seragam, dan gadis yang satunya bernama Anna, cantik juga, lumayan tinggi mungkin tingginya seratus enam puluh enam, wajah cantik, bibir tipis, rambut lurus sepunggung, kulit kuning langsat, hidung mungil, cuma bedaknya rada tebal, mungkin untuk menyembunyikan jerawat yang ada di pipinya, padahal nurut aku makin banyak bedak, makin mudah jerawatan, karena pori-pori tertutup, itu juga menurut pendapat ndesoku.

Setelah kami melakukan perkenalan sebentar aku pun kembali ke tempat kerjaku setelah shalat dzuhur di masjid belakang plaza, esoknya pagi-pagi aku berangkat lagi sama Edi, walau mulai sekarang aku tak kerja lagi bareng Edi, tapi tetap tidurku bareng sama Edi di tempat pak Sugeng. Kami berjalan, melewati lorong panjang pasar pagi dadakan, yang buka tiap pagi menjual sayur di jalur plaza, ya pasar yang entah berapa kali di gusur oleh Satpol PP, tapi tetap saja buka tiap pagi, aku juga tak mau menyalahkan para pedagang yang tiap pagi jualan.

loading...

Mungkin mereka mau menyewa tempat untuk berdagang secara benar, tidak menggunakan ruas jalan, tapi mungkin harga sewa kios terlalu mahal, jadi karena modal cekak akhirnya juga tetap jualan di ruas jalan, dan yang terang saja mengganggu kelancaran lalu lintas, juga aku tak menyalahkan petugas Satpol PP, yang selalu mengobrak abrik dagangan mereka, karena tuntutan tugas menertibkan kota, tapi hari berlalu seperti itu akan terulang kalau pemerintah tak bijak mengambil keputusan, seakan pedagang itu bukan rakyat Indonesia, mereka di gusur, padahal dagangan itu mungkin dari modal ngutang, untuk menghidupi keluarganya, ku rasa kalau ini berjalan terus tanpa adanya suatu solusi bijak, yang di rugikan akhirnya semua, orang yang lewat, juga pedagang kurasa tak banyak mengambil banyak untung dari dagangan yang di orat-arit.

Aku hanya menatap pada petugas Satpol PP, yang memakai tampang di garangkan, padahal mungkin orang tua mereka juga bisa saja salah satu yang di gusur, andai orang Satpol PP itu sedikit berpikir andai mereka yang di gusur bagaimana, dan pedagangnya yang sekali waktu di suruh jadi petugas Satpol PP, ya carut marut ini sebenarnya kuncinya ada di pemerintah, kalau rakyat tak miskin, kurasa kejadian seperti kejar-kejaran pedagang dan petugas tak mungkin terjadi. Tapi inilah yang terjadi, terjadi dan terus terjadi entah sampai kapan?

“Yan” suara Edi mengagetkanku.
“Ada apa” kataku sambil menghindari orang yang hilir mudik di jalan yang hampir menabrakku.
“Soal mbak Lina, gimana tuh Yan?” tanyanya lagi sambil berjalan cepat di sampingku.
“Gimana apanya?” aku balik bertanya.
“Maksudku apa ndak kamu kasih perhatian?”.
“Perhatian yang gimana lagi?” aku balik bertanya.
“Ya apa kamu ndak terima dia?” tanyanya lagi.

“Terima gimana, la dia juga gak nyatain apa-apa, ndak ngasih apa-apa, aku mau terima apa?” kataku dan kami mulai berjalan tenang karena telah melewati pasar sayur.
“Si Lina itu naksir aku, atau suka padaku, itu kan masih perkiraanmu saja, la kenapa harus ribut” kataku, ku buat dengan nada mangkel, tapi mulutku masih tertawa.
“Ya ndak gitu Yan, ya memang ini masih perkiraan, tapi andaikan ini benar-benar terjadi, dia jatuh cinta padamu, ini misalkan lo ya, kalau di nilai dari sudut pandangmu, dia termasuk cewek tipe idamanmu gak?” tanyanya.

“Ya, ku akui si Lina tuh cantik, kaya, malah cantik dan kayanya sudah di atas bayanganku, tapi terus terang bukan aku takut apabila nanti aku jadi cowoknya, dia bosan, lalu aku di buangnya kayak buang ingus, di campakkannya kayak nyampakkan sampah ke tong sampah, bukan takut seperti itu, tapi jujur dia bukan tipeku, terlalu muluk la bagiku, atau mungkin entahlah, walau aku jujur, aku juga lelaki normal, yang jelas tertarik dan merasa wah dengan kecantikannya dan keunggulannya, tapi kalau di tanya hati nuraniku, aku tak ingin jadi kekasihnya, hanya bikin kebat-kebit saja, nyiksa hati” kataku panjang lebar, tak tahu apa Edi paham dengan yang ku maksudkan.

“Wah kenapa kebat-kebit kuatir Yan?”
“Banyaklah alasannya, kalau di uraikan satu persatu, akan makan waktu lama” kataku singkat, tak terasa kami berdua telah sampai di belakang Plaza.
“Aku ndak ikut ke tempat mbak Ningsih ya” kataku langsung masuk ke Plaza.
“Lhoh ndak sarapan?” kata Edi berhenti.
“Gampanglah nanti saja” kataku nyelonong masuk lorong depan etalase kerja di sepatu bata, dan melakukan kesibukan tiap hari, membersihkan barang dagangan, menawarkan dan merayu pembeli yang datang, apalagi kalau gadis yang datang, pasti kena ku rayu untuk beli sepatu, kadang padahal aku rayu untuk beli sepatu pria, tapi karena rayuanku pas jadi ya akhirnya mau juga, apalagi aku copot sepatunya dan ku pakaikan sepatu baru, kayaknya ku lihat berbunga-bunga wajahnya pertama ada rasa senang.

Tapi mulai satu minggu bekerja di temani pelayan wanita yang ada, membuatku bosan, walau dua wanita pelayan sering mengajakku ngobrol, ah kayaknya duniaku bukan di sini, aku seperti orang yang tersesat saja, monoton dan tak tahu jalan, gelap dan teramat bisu dari perkembangan, aku seperti robot yang di pakaikan pakaian manusia, suntuk mulai menggelayuti pikiranku, untung ada hari jum’at libur giliran, jadi aku bisa menelaah diri, mengurai dan memikirkan apakah ini jalan yang ku ingini?

Seperti hari jum’at itu, aku libur dan ku pakai jalan, mengobati rasa rinduku, dari pagi aku sudah berangkat, bilang pada Edi dan Ikrom untuk jalan-jalan, karena liburan, aku tak mau suntuk dalam kamar, aku jalan saja, tak tahu arah, dan tak memilih arah, jam sepuluh sudah sampai di pintu tol Porong, aku belok ketika ku lihat sebuah masjid, ah kurasakan batinku lebih tenang kalau aku jalan seperti ini lebih bebas dan tanpa terikat siapapun, lebih bebas merenungi dan menangkap segala gerak-gerik Allah atas dunia ini, ku ambil wudhu dan masuk masjid lalu setelah shalat takhiyatul masjid, aku pun tiduran selonjoran, ah betapa damainya, dunia tanpa beban. Seseorang setengah tua, menghampiriku, lalu mengucap salam, ku jawab, dan bersalaman dengan ku dia memperkenalkan diri bernama pak Teguh.

“Dari mana mas?” tanyanya sopan.
“Jalan saja pak, saya kerja di Matahari Plaza” jawabku juga ku buat halus.
“Kok di masjid ini, apa gak kerja?” tanyanya lagi.
“Lagi libur pak, ini lagi jalan-jalan, nyari suasana baru” jawabku ringan.

Kami pun berdialog, yang asalnya membahas tentang perkenalan kami, sampai membahas tentang kesukaanku jalan kaki ternyata pak Teguh juga orang yang suka jalan, walau tak sesering sepertiku, dia juga cerita kalau dia asalnya bekerja di jawatan kereta api, sampai waktu adzan kami ngobrol, dan adzan di kumandangkan, kami pun sibuk dengan diri masing-masing, aku mencari Al-qur’an ku baca sambil menunggu imam naik ke mimbar, untuk khotbah jum’ah.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 21.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632