Kisah Sang Kyai Guru Bagian 42 - 307 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 41. Sebagian orang ingin membunuh sepi, dengan tikaman paling sederhana, lalu sepi mati dan tak pernah datang lagi selama hidupnya, tapi sebagian pejalan pencari hakikat selalu mencari sepi seperti mencari anak yang hilang, yang sangat di kasihi, yang bisa mencerai beraikan hati, sekaligus juga menautkannya. Sebab hanya dengan kehilangan yang fana hati bisa menemukan yang kekal.

Sukmaku segera membumbung, melesat melintasi gunung batu dan malam yang membeku, laut yang mencair, dan perahu yang mencari harapan, setiap nafas itu adalah perjuangan, atau keterbuangan hembusan tanpa makna, tanpa aksara, sampai juga di satu pemakaman umum, dan satu makam dikeramatkan, dan orang mencari serpihan harapan yang mungkin ditinggalkan orang yang telah mati atau di tindih tipuan salah satu tipu daya dari sekian banyak tipu daya setan yang telah di rancang sedemikian rupa untuk menyesatkan manusia pada puncak ketersesatan.

Aku juga tak tahu kenapa aku tertarik ke arah yang tak ku mengerti, lalu aku melesat lagi sampai ke masjid tua, yang lantainya dari papan kayu, yang sudah halus di elus kaki-kaki yang mengurai harapan, dari sisi yang di yakini kebenarannya, ku lihat orang ramai shalat, aku sekalian mengambil wudhu dan ikut barisan jama’ah, sekalian shalat isya’ yang belum ku tunaikan.

Tak ada seorangpun yang melihatku, selesai shalat aku mengkonsentrasikan tujuanku, tapi aku malah terseret ke arah air terjun kecil, lalu baru melesat lagi dan berhenti di dekat pohon sawo tua, ku lihat jin lebih tinggi dari pohon sawo tua, mungkin tingginya ada sepuluh meter lebih, aku mengitarinya dengan melayang di udara.

Ku lihat tubuhnya biru tua, bukan hijau, tapi biru ke arah ungu, matanya merah menyala, tak ada taring, tapi lengannya sebesar pohon kelapa, aku yakin perwujudannya seperti itu karena sifat yang dimilikinya, bibirnya basah oleh darah, entah darah siapa, tiba-tiba tangannya mengibas menyerangku, aku menghindar, dan berkali-kali aku di serang, aku berkelit seperti burung srigunting, meliuk di antara ketiaknya yang bau bangkai, dan membuatku merasa mual mau muntah.

Aku mencoba mengitarinya dengan ikatan gaib tak terlihat yang ku bangun dengan lafad Ba’, seperti jaring laba-laba, berulang kali ku kitari tubuhnya, dan setelah dengan susah payah ku ringkus, aku menyeretnya, ku seret sepanjang perjalanan, dia menyumpah-nyumpah dengan bahasa sunda yang tak ku mengerti, ku seret terus sampai di pinggir air terjun. Dan ku ikat kuat-kuat di akar-akar pohon yang menjuntai.

Lalu ku pukul telak dengan petir yang ku bayangkan tercipta dari takbir, dia pun pingsan. Lalu aku pun melesat pergi lagi. Setengah jam ku tempuh perjalanan jauh, dan sampai di tubuhku, kamar telah sepi, Safi telah tertidur sambil mengigau-ngigau, aku pejamkan mata, mengucap syukur, Allah telah mempermudah dan memberi izin tugasku. Dan aku berangkat tidur, setelah ku lihat jam di meja menunjukkan jam dua dini hari.

Jika segala masalah selesai semudah pembuat roti mencampur tepung membuat adonan roti, dan semangat karena hasil akhir yang di harap kenikmatan merasakan setiap gigitan, walau nafsu itu sesepele makanan melintasi lidah dan semua telah tak bisa di bedakan jika telah dikeluarkan, nilai nafsu sebenarnya tak sebernilai ketika di banding perjuangan memuaskan kepuasannya.

Perjuangan yang meneteskan setiap keringat dari pori-pori, dan di nikmati lebih cepat dari kedipan mata, dan selalu rasa bosan itu meraja, sekalipun seorang lelaki jatuh bangun memperjuangkan gadis yang siang malam di mimpikan, tak akan lama juga akan bosan jika telah diraihnya. Dan jika hal itu tidak juga di sadari, maka manusia hanya mengulang-ulang kisah yang sama di waktu dan kondisi yang berbeda.

Toni masuk kamarku dengan wajah yang tak bersemangat seperti biasanya, bahkan ku candai dia tak tertawa.

loading...

“Kenapa, kok murung amat?” tanyaku datar, sambil memainkan game Bubblet.

Arif, Ibnu, Heri, Fathur, menyusul masuk, semua pada tertawa ngakak.

“Ada apa kok pada ketawa?” tanyaku heran.
“Ini mas si Toni sudah dapat foto dari perempuan yang di ajak telepon-teleponan” jelas Arif.
“Benar Ton? Coba sini aku lihat!” kataku.
“Sudah ku hapus” jawab Toni.
“Hahaha, jelek banget mas” sela Ibnu.
“Lebih jelekan dari Kunti, ampun deh, tua, monyong, hitam, aku malah jadi merinding melihatnya, hahaha” canda Arif.
“Ah yang benar, apa separah itu? Coba mana Ton”.

Toni mengulurkan ponsel lipatnya, lalu ku buka.

“Di mana kamu nyimpannya?” tanyaku.
“Ya masih di inbox SMS” jawab Toni.

Ku buka inbox dan memang perempuannya jelek banget, sudah hitam, gemuk, mulutnya kayak omas, rambutnya di lepas memang kelihatan seram.

“Ya kan ada baiknya Ton, kamu tahu sebelum terlambat, setidaknya kamu kan tidak yang-yangan setiap malam, sudah habis pulsa banyak, eh tahunya perempuannya kayak gitu, emakmu saja gak bakal ridho kamu kawin sama orang kayak gitu” jelasku.
“Di ikat di bawah ranjang untuk nakutin tikus mas” canda Ibnu.
“Ah itu pasti bukan foto asli” bantah Toni.

Semua terdiam, memang bisa jadi bukan foto asli.

“Ya untuk membuktikan kan mudah, misal itu foto orang lain” kataku.
“Caranya bagaimana?” tanya Toni.
“Ya bilang ke perempuan itu, kalau itu bukan foto asli, lalu minta foto baru, foto yang setengah telanj*ng, atau telanj*ng sekalian, jika itu yang di foto orang lain, apa mungkin mau di minta foto telanj*ng?”.
“Terus kalau dia tak mau?” tanya Toni.
“Ah gampang itu aku yang atur, dia pasti mau, ya maksudku, biar jelas sekalian, dari pada uang kamu habis untuk hal yang tak karuan juntrungnya, telepon-teleponan sama cewek mulu, aku dengar saja telinga rasanya gatal”.

“Lalu caranya bagaimana?” tanya Toni.
“Sekarang kamu telepon saja, minta foto yang baru, untuk membuktikan foto itu asli, maka kamu minta foto yang setengah telanj*ng, atau yang telanj*ng” jelasku.
“Kalau dia tak mau?” tanya Toni.
“Ya langsung saja tutup ponselnya, nanti kalau dia nelepon lagi biar aku yang jawab” jelasku.

Sudah ku jamin dia mau ngasih foto yang telanj*ng. Memang aku kalau lagi ngacau, lebih ngacau dari siapa saja. Toni menelepon, dan pasti jawabannya perempuannya marah-marah, dan tak mau memberi foto telanj*ng. Toni menjawab akan memutuskan hubungan. Ponsel di tutup sama Toni.

Aku kasihan sama Toni, dia sudah 4 tahun di Saudi, dia kerja di Saudi karena ibunya bekerja jadi pembantu di rumah manajer pabrik semen, makanya dia walau umurnya di bawah dua puluh tapi bisa bekerja di pabrik semen, tapi gara-gara teleponan sama TKW, gaji bulanannya ludes, bukan masalah membeli pulsa, tapi TKW yang selalu ngajak teleponan selalu minta di kirimi pulsa, kalau ndak ngirim akan di putuskan, ya anak muda seumuran Toni ya jelas susah melepaskan kesenangan walau cuma mendengar suara cewek yang mendesah-desah.

Sebab kadangkala orang yang kesepian cenderung di bisiki syaitan sampai mempunyai kelainan hayalan. Dari mendengar desahan saja bisa membangkitkan birahi, ya ujung-ujungnya melakukan on*ni yang merusak badan dan pikiran, sekalipun aku tak bisa menghentikan kebiasaan buruk orang-orang itu, setidaknya aku berusaha. Bahkan dari usaha yang buruk sekalipun, jika tidak tercatat sebagai amal baikku di sisi Allah, tak apa-apa, asal teman-temanku bisa utuh uangnya, bisa mengirimkan kepada orang yang lebih berhak, yaitu istri dan anak atau keluarga mereka. Bukan diberikan kepada orang yang bicara di ponsel yang ah-uh tak karuan. Lama juga kami menunggu ponsel Toni bunyi lagi, tak juga bunyi. Safi masuk, sambil telepon dengan suara perempuan, semua tertawa.

“Fi, sudah kasihan, jangan seperti itu, matikan ponselnya” kataku.

Safi segera mematikan ponselnya.

“Coba panggil pak Bunawi kesini” kataku pada Arif. Yang segera beranjak ke kamar pak Bunawi.

Sebentar kemudian pak Bunawi muncul di sertai Arif.

“Pak Bun, pak Bun suka telepon teleponan sama cewek ya?” tanyaku pada orang tua berumur 55 tahun itu.
“Ah gak juga” jawab pak Bun.
“He pak Bun, cewek yang pak Bun telepon, dan pak Bun kirimi pulsa itu bukan cewek benaran” kataku.
“Tidak kok itu cewek, kami malah mau ketemuan kalau aku cuti nanti, kami mau ketemuan di Indonesia” jawab pak Bun.
“Wah bisa pedang ketemu pedang, gini pak Bun, yang pak Bun telepon itu sebenarnya Safi” jelasku.
“Lhoh kok bisa nomor cewek itu ada di Safi?” tanya pak Bun tak mengerti.
“Bukan nomornya ada di Safi, tapi itu ya Safi itu” jelasku.
“Coba Saf, kamu telepon pak Bun biar aku tak banyak menjelaskan”.

Safi pun menelpon pak Bun, dan ponsel pak Bun pun bunyi tanda ada telepon masuk, lalu diangkat oleh pak Bun, dan Safi bicara dengan suara perempuan, pak Bun gemetar.

“Bagaimana pak Bun? Sudah percaya dengan ucapanku? Sudahlah kembali ke tujuan awal, ke Saudi itu untuk mencari uang, bukan untuk menghabiskan uang untuk mengisi kesepian, ya kalau sudah jauh-jauh ke Saudi, tapi malah pulang tidak bawa uang, hanya habis untuk telepon teleponan, mending pulang, kerja kumpul keluarga, biar pendapatan sedikit asal berkah, dari pada sudah jauh anak istri, tapi malah hati tak tenang, namanya tak kuat cobaan dan ujian” kataku dengan halus menjelaskan.

Pak Bun salah tingkah, ya tak apa-apa dari pada terlanjur kemana-mana, aku harus menjelaskan kebenaran, semoga nantinya dijadikan pelajaran, walau aku sendiri tak berharap banyak, sebab kebanyakan manusia selalu kalah oleh nafsunya. Hanya orang yang selalu sadar, dan ingat akan selamat, eleng lan waspodo, sebab tipuan nafsu itu memang sulit di lawan, nafsu itu seperti duri dalam daging ikan, jika tanpa duri, nyatanya ikan itu butuh duri, tapi jika memakai duri maka ikan akan sulit jika mau di makan.

Seperti tulang di tubuh manusia, jika tanpa tulang, jelas manusia itu akan lemas seperti plembungan kempes, jadi membutuhkan tulang, tapi karena ada tulang maka manusia jadi patah tulang dan kalau di pukul jadi benjut. Nyatanya manusia itu butuh nafsu, agar punya semangat hidup, mengejar bayangan yang ingin di raih, tapi juga karena nafsu manusia punya sifat pembunuh dan suka menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diharapkannya.

Suara ponsel Toni bunyi, dan di lihat ternyata ceweknya itu yang nelepon, namanya sih keren, Cintia, aku angkat.

“Halo mas Toni” suaranya mendayu-dayu kayak ayunan.
“Maaf mbak ini siapa?” tanyaku.
“Mas Toninya ada?”.
“Ada mbak, ini lagi di pegangi teman-temannya” jawabku asal sambil memberi isyarat jari agar yang lain jangan ribut.
“Memangnya kenapa?” tanya dari Cintia
“Gak tahu mbak, tadi ngamuk-ngamuk, p*l*rnya sendiri di pukul-pukul pakai batu bata, sampai setengah hancur” jawabku ngawur.
“Ini juga di pegangi berusaha berontak, maunya katanya ngancurin p*l*rnya sendiri, tadi sih bilangnya sedikit-sedikit katanya biar tak di miliki perempuan, gak tahu maksudnya apa, kasihan juga, dia jerit-jerit” ku kasih isyarat pada yang lain agar membantu membuat suara gaduh.

“Pegangi tangannya, jangan sampai narik p*l*rnya lagi” kata Arif.
“Kakinya-kakinya jangan di lepas” kata Safi.
“Darahnya itu jangan netes di kasur” kata Ibnu.
“Aduh, lepas, lepas, biar aku mati saja” kata Toni.

Suasana jadi ramai, ada yang menggebrak meja, ribut amat, macam menangani orang gila yang lepas.

“Percuma aku hidup” kata Toni.
“Awas dia mau gigit lidahnya, janggel giginya dengan sepatu” kataku menambahi.
“Mas! Mas, ada apa sebenarnya?” kata Cintia panik.
“Ya gak tahu tadi habis teleponan kok jadi kayak orang kerasukan, apa tadi nelepon minta apa ke ceweknya gak di kasih, jadinya setengah edan gini, ambil tambang ikat di pohon” kataku seakan mengalami hal yang sebenarnya.

Di selangi teriakan semua temanku ramai, padahal kami lagi nongkrong santai di dalam kamar.

“Iya, iya mas bilang aku mau ngasih apa yang dia minta, jangan menyiksa diri” kata Cintia panik.
“Mau ngasih apa mbak?” tanyaku pura-pura tak tahu.
“Sudah pokoknya bilang sebentar lagi ku kirim” jawab Cintia.
“Oh iya mbak akan ku kasih tahu, he Ton, sudah jangan ngamuk, mbak ini mau ngasih apa yang kamu minta. Hee, jangan biarkan Toni pegang bata itu, ambilkan obat merah” kataku.

Dan ponsel Cintia di matikan. Sungguh sandiwara yang aneh, memang sesuatu yang serba bayangan harus menyelesaikannya dengan bayangan. Sepuluh menit kemudian ada kiriman MMS masuk di ponsel Toni, dan tetap foto wanita itu yang terkirim dalam keadaan telanj*ng.

“Nah sekarang bagaimana Ton, apa mau di lanjut, kamu kirim pulsa ke cewek itu, atau mau kamu nikahin atau bagaimana, sekarang sudah ku tunjukkan kenyataan” kataku mengingatkan.
“Rasanya masih tak percaya kalau dia sejelek itu, padahal suaranya merdu habis” kata Toni lemas.

“Dunia itu tak sesederhana itu Ton, dalam agama saja seorang lelaki tak harus asal cantik saja mencari pendamping hidup, nabi mengajarkan, kalau mencari pendamping hidup yang bernasab, nasabnya baik, bukan anak zina yang gak jelas bapaknya, juga kalau bisa yang kaya, kalau bisa yang cantik, dan kalau bisa yang sempurna agamanya, kalau cantik terus di tinggal sebentar sudah di bawa kabur lelaki lain kan juga makan hati. Jadi cari yang jelas jangan yang cuma lewat ponsel, moroti uangmu, kan uang kamu bisa dibelikan sawah, nanti pulang dari Saudi bisa di garap sawahnya atau digarapkan orang lain, atau dibelikan sapi atau kambing, di suruh merawat orang, nanti kan bisa di jual, dari pada kamu kasihkan orang yang tak jelas gitu, apa kamu mau di Saudi sampai tua?”.

“Iya mas, memang aku sudah habis banyak”.
“Iya kamu ngirimi dia pulsa tiap hari, dia jual pulsa itu pada temannya di sana, insaf, mending nanti pulang cuti, nikah sekalian” kataku.
“Iya makasih mas, mungkin kalau mas tidak mengarahkan, aku akan makin habis-habisan” kata Toni.

Pabrik semen punya tiga cabang tempat, yang dua di daerah Bissa, dan Tahamah. Dan ketiga pabrik itu penulis kaligrafinya cuma aku, jadi satu saat bisa saja aku di kirim ke Bissa atau ke Tahamah. Di Bissa menurut teman-temanku daerahnya dingin, jadi biasanya yang pulang dari sana bibir akan pecah-pecah, dan kulit ari pada terkelupas, karena hawa dingin dan matahari terik, jadi orang kayak kena penyakit panas dalam.

Sedang di Tahamah adalah pabrik baru yang baru di bangun, juga baru selesai, jadi amat membutuhkan banyak tulisan kaligrafi, entah untuk pintu kantor, nama-nama manager dan nama vila, sampai papan rambu jalan. Sepertinya dalam waktu dekat aku akan di kirim ke Tahamah, teman sepenerbanganku sudah di kirim ke Tahamah, namanya juga pabrik baru, jadi segala fasilitas belum selengkap pabrik lama, aku akan sering di kirim untuk mengerjakan pekerjaan kaligrafi, dengan sistim kirim dan balik lagi, tak seperti yang lain tinggal menetap. Memang resiko pekerjaan, kerjaan ringan tapi wira-wiri.

Muhsin datang ke kamar, sambil menenteng tas kresek.

“Ini mas ada titipan dari Mabrur, dia tadi siang main ke tempatku, dan mengucapkan terima kasih karena masalahnya sudah beres” kata Muhsin.
“Oh ya syukur kalau begitu”.
“Saya juga mau mulai puasa mas”.

“Ya bagus, puasa itu untuk tempat lahan ilmu, puasa itu untuk membersihkan tanah hati, jika mau di tanami ilmu, maka puasa, seperti tanah mau di tanami padi maka di bersihkan dari rumput dan batu, juga di cangkul, agar di dapat kesuburan yang di dapat, biji-biji fadhilah dari Allah akan tumbuh dengan subur, lalu di siram, di pupuk dan di istiqomahi dengan dzikir, kapan mulai puasa?” tanyaku kemudian.
“Baiknya kapan mas?” tanya Muhsin.

“Kapan saja tak masalah, ingat ikhlaskan dalam menjalankan, jangan punya pamrih apa-apa, jangan punya keinginan ingin bisa sesuatu, laksanakan dzikir karena memenuhi perintah Allah wadzkurulloha katsiro, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, banyak menurut Allah tak terbilang menurut manusia, di akhirat saja sehari sama dengan lima ratus tahun di dunia, dan jangan mengeluh waktu dzikir, jangan membuat kalkulasi, dzikir segini selesai segini jam, sebab dalam dzikir itu tak bisa di kalkulasi, hitungan penetapan itu hanya agar seseorang itu istiqomah, walau di dalamnya menyimpan banyak rahasia, tapi jangan mengkalkulasi dzikir dengan itungan jam dan ketetapan waktu, sebab Allah sendiri membuat penekanan, wayarzuqhu min khaisu la yakhtasib, Allah memberi rejeki dalam artian umum, sebab rejeki itu bukan cuma harta, tapi juga waktu, kesempatan dan berbagai macam, itu dengan arah yang tak dapat di prediksi, di hitung, di khisab, makanya ada istilah to’yul wakti, atau melipat waktu, seperi Nabi SAW, mi’roj ke langit tujuh sampai sidrotul muntaha, hanya memerlukan waktu satu malam, kalau di perhitungan dengan ilmu paling canggih di zaman ini, mungkin langit satu saja butuh waktu jutaan tahun perjalanan kecepatan cahaya baru sampai, cahaya matahari yang sampai ke bumi bukan cahaya yang di hari ini, tapi cahaya yang ribuan tahun silam, makanya kalau sudah unsur Allah, maka tidak bisa di hitung dengan perhitungan manusia, sebab Allah itu menjadikan yang mustahil di pemikiran manusia menjadi sesuatu yang nyata, kalau diri masih eyel-eyelan dengan kekuatan akal sendiri, maka tak akan keluar dari kemuskilan, sebab masih menyandarkan pada kekuatan akal sendiri, jika mendekatkan diri pada Allah harus mau menutup indera, dan biarkan Allah memberikan nur makrifat kepahaman pada hati, dan menjauhkan diri penyandaran pada akal” kataku panjang lebar.

“Iya, insya Allah mas, mohon bimbingannya” kata Muhsin.
“Jika menemui hal aneh, misal mimpi di temui oleh orang berjubah putih, ingat jangan mudah tertipu oleh rupa-rupa syaitan, orang Arab juga semua berpakaian putih, lalu mimpi ketemu orang berpakaian putih misal kamu kemudian sampai di suruh ini, di perintah itu, maka kamu nurut, berarti kamu telah disesatkan” kataku.
“Lho kok bisa mas, misal aku di suruh membaca Qur’an, apa aku juga di sesatkan, kan itu membaca Qur’an” kata Muhsin.

“Iya itu di sesatkan, kamu sendiri tahu kan, orang ibadah itu bagaimana, niat shalat itu bagaimana, niat puasa itu bagaimana? Kan ujungnya lillahi ta’ala, karena Allah ta’ala, la kok kemudian kamu menjalankan bacaan Qur’an karena di perintah oleh orang yang kamu temui di dalam mimpi yang berjubah putih, bukankah kamu membaca Qur’an berarti karena perintah orang dalam mimpi itu, bukan menuruti perintah Allah, paham tidak”.
“Oh ya, ya, baru aku berpikir kesana”.

“Ingat namanya ikhlas dalam toreqoh itu, tak menganggap ibadah yang kita jalankan itu perbuatan kita sendiri, tapi itu adalah perbuatan Allah, sebab semua tubuh, jiwa, ruh, hati dan sampai kita bisa bergerak dan melakukan ibadah dengan cara dan ilmunya, itu tidak ada lain atas izin, kesempatan dan kekuatan Allah yang diberikan pada kita, sehingga tubuh mati kita bisa hidup dan bergerak melakukan ibadah, maka ibadah itu secara hakikinya bukan perbuatan kita, karena bukan perbuatan kita, maka tak selayaknya kita mengharap balasan, nah baru amal itu bernilai, dan pantas mendapat balasan yang setimpal”.

“Jika wirid, upayakan hati dzikir, dzikir itu ingat dan dzikir itu hanya Allah dan nama-namanya, wadzkurulloh, ala bidzikrillahi, jadi semua berhubungan dengan Allah, dan dzikir itu di hati secara umumnya, dan di latifah-latifah secara penempatannya, cukup ketika wirid itu hati menuliskan lafad Allah, dan memegangnya dan menahannya dalam dada, sampai dada itu terasa pecah dan mengalirkan cahaya ilahiyah, serasa dingin seperti aliran air dari kulkas, mengaliri seluruh urat, dan menenangkan, menunjukkan hati telah mulai subur, setiap waktu cahaya makrifat itu menyinari hati, tapi jika hati penuh oleh keinginan nafsu, maka cahaya makrifat itu berlalu tanpa efek sama sekali, seperti kita bercermin di kaca, sementara kaca tertutup berbagai macam barang, itu seperti ketika cahaya makrifat melintas di hati dan hati tertutup berbagai keinginan nafsu, maka ada ilham yang sampai di hati tak terbaca” kataku.

“Hm, iya mas”.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 43.

Whatsapp: 0852 1406 0632