Kisah Sang Kyai Guru Bagian 43 - 159 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 42.

“Bagaimana tahunya kita ini sudah ikhlas atau belum?” tanya Muhsin.

“Ikhlas itu suatu proses, tak ada batas akhir suatu keikhlasan seseorang, tapi ada batas antara orang itu ikhlas dengan tidak ikhlas, yang penting kita berusaha beramal tidak mengharap balasan dan menjauhkan diri dari pamrih ingin mendapatkan segala sesuatu, selain menjalani perintah Allah, jadi hilangkan harapan dan tujuan ingin mendapatkan sesuatu, apapun yang di lakukan atas dasar keinginan maka itu berarti nafsu, jadi jangan menyandarkan suatu perbuatan ibadah karena keinginan mendapat sesuatu atau menyandarkan keinginan kita, atau keinginan orang lain, tapi lakukan melulu karena Allah memerintahkan, tanda seorang itu telah menapaki pelataran ikhlas, yaitu hati telah tidak berubah, ada atau tidak anugerah yang di terima dari Allah saat menjalani ibadah, hati selalu tetap, tidak lalu bersemangat karena adanya fadhilah yang di terima, dan malas karena tidak adanya fadhilah, semangat karena ada hadiahnya, dan malas karena tak ada hadiahnya, dan orang ikhlas itu tidak seperti itu, selalu konsisten, istiqomah, dan berubah-rubah hatinya karena perubahan keadaan yang di hadapi, makanya Syaikh Abdul Qodir mengatakan kalau Al istiqomatu afdholu min alfi karomah, istiqomah itu lebih utama dari seribu kekeramatan seorang wali, sebab istiqomah menunjukkan nilai keikhlasan seseorang” jelasku.

“Wah berarti jarang orang yang bisa ikhlas dalam menjalankan ibadah?”.

“Ikhlas itu bukan sesuatu yang di ucap, sebab amaliyah hati, tak terlihat, dan tak teraba, bahkan oleh malaikat khofdzoh yang membawa amal ibadah seseorang ke langit, bisa saja orang yang gembar-gembor itu ikhlas, bisa juga orang yang diam tidak ikhlas, atau sebaliknya, tapi amaliyah yang ikhlas atau tidak itu pasti ada efeknya di jiwa, hati, roh, dan perbuatan orang yang melakukan amaliyah, sebab amal perbuatan itu kan pasti ada hasilnya, orang masak beras, hasilnya, beras menjadi nasi. Jika sepuluh tahun di masak kok tak jadi nasi, berarti masaknya tak benar.

Seperti shalat saja, Allah berfirman dalam Al Qur’an kalau shalat itu bisa mencegah yang menjalankan, mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, perbuatan keji, ya kayak lisan suka menyumpah, suka membicarakan aib orang lain, suka mencela, menghasut, mengadu domba, dan tangan suka mencuri, nyopet, pokoknya orang lain tak aman bila di samping kita, maka jelas kita masih menjalankan perbuatan keji, dan perbuatan mungkar atau perbuatan yang menjadi larangan agama, kok perbuatan itu masih kita lakukan sementara kita juga shalat, maka shalat kita itu pasti, bukan mungkin tapi pasti belum benar, sebagaimana orang memasak beras kok sepuluh tahun di masak belum juga jadi nasi, bisa jadi kompornya tak nyala, atau hal apapun yang menjadi kendala perbuatan itu dilakukan dengan benar”.

“Oh ya mas ada temanku dari Maroko mau main ke kamar mas Ian boleh?” tanya Muhsin.
“Boleh saja”.
“Soalnya dia juga mau minta tolong, soal anaknya”.
“Ya ajak saja kesini”.
“Apa perlu anaknya di ajak kesini juga?” tanya Muhsin.
“Tak perlu, juga di lihat masalahnya apa dulu” kataku.
“Oh ya juga ada orang Pakistan yang sudah sepuluh tahun tak punya anak, apa mas bisa memberi solusi?”.
“Coba saja lelakinya suruh bicara denganku, soal solusi itu nanti di lihat apa kasusnya”.

Karena tak banyak pekerjaan yang ku lakukan, maka aku sering ikut kerja orang lain, kadang memasang wallpaper, atau memasang ternit, atau karpet lantai, atau mengecat pintu dan kusen, sehingga aku sering terlihat kerja dengan banyak orang, bahkan di bagian lain yang bukan bagianku, sebab pekerja itu di kelompokkan dalam bagian atau section, dan bagianku adalah welfare, dan aku sering ikut bagian general services.

Karena sering bekerja dengan pekerja lain, maka aku cepat banyak teman dan kenalan, dari orang India, Pakistan, Maroko, Sudan, Yaman, dan Arab, bahkan Banglades. Walaupun aku orangnya tak banyak bicara, sehari pun bicara bisa di hitung dengan jari, tiap kerja kebanyakan diam, hanya bicara dengan orang yang ku rasa cocok bisa di ajak membahas ilmu dan tukar pikiran.

Aku di pasangkan bekerja dengan orang Maroko bernama Muhammad, orangnya tubuhnya besar dan suka berkelahi, baru dua hari lalu dia memukul orang Banggali sampai KO. Aku lumayan cocok dengan Muhammad sebab kalau ku ajak ngobrol dia memakai bahasa Arab baku, sehingga pembicaraan kami lancar. Kami sering bersama entah dalam bekerja juga dalam keseharian, Muhammad juga sering main ke kamarku.

“Kamu tahu ilmu dari kitab syamsul ma’arif?” tanya Muhammad suatu hari.
“Tahu, itu dalam pesantren di Indonesia itu di namakan ilmu hikmah” jawabku
“Itu banyak di pelajari di Maroko” kata Muhammad sambil merontokkan ternit lama karena kami dapat pekerjaan lembur merusak internit villa, untuk di ganti internit baru.
“Ku dengar syamsul ma’arif di larang di pelajari di Saudi, bahkan kalau ada orang yang membawa kitab syamsul ma’arif jika ketangkap polisi akan di tangkap dan yang mengamalkan bisa di hukum pancung” kataku.

“Iya, aku dengar juga begitu” jawab Muhammad.
“Ku rasa peraturan Saudi soal itu ada benarnya juga, karena menyangkut aqidah, lebih banyak orang yang belajar kitab syamsul ma’arif, abu ma’sar alfalaqi, aufaq, syamsul anwar, jika tidak kuat aqidahnya, kebanyakan akan tersesat, artinya akan terseret pada penggantungan diri meminta pada khodam, bukan pada Allah” kataku.
“Kok bisa seperti itu?” tanya Muhammad.
“Iya karena khodam yang ada di amalan yang tertera yang akan memberi kekuatan, kekuatan khodam tuju bintang yang jadi sandaran, jadi kemudian akan di mintai tolong” jelasku.

“Begitu ya, padahal aku belajar syamsul ma’arif sudah lama”.
“Pantesan kau memiliki pukulan yang ampuh” kataku bercanda.
“Ilmu paling murni itu ilmu toreqoh” kataku.
“Apa yang kamu maksud toreqoh yang tasawuf itu”
“Tasawuf itu tata cara pengalaman ubudiyah soal hati” jelasku.
“Dan toreqoh itu lebih luas”.
“Bisakah kau jelaskan sedikit padaku, di Maroko juga ada toreqoh tapi kok orangnya kebanyakan miskin-miskin” kata Muhammad.

“Toreqoh itu jalan menuju Allah, yang punya sanad atau sandaran ilmu yang bersambung dari Nabi Muhammad SAW, jadi ada ketersambungan guru sampai kepada Nabi, itulah keunggulannya, sebab jika di umpamakan amaliyah, paralon itu sambungan guru, dan pompa air yang menyala itu di umpamakan amalan kita, jika dari pompa air itu tak menyambung kepada sumur, sumur itu umpama Nabi, dan sumber air itu fadhilah dan anugerah Allah, jika kita punya amaliyah, tapi tidak menyambung pada Nabi, itu seperti sanyo yang kita nyalakan siang malam, kita amalkan siang malam tapi tidak menyambung ke sumur, maka sekalipun kita amalkan siang malam maka tidak akan keluar airnya, artinya fadhilah Allah tak akan keluar, sebab tidak menyambung ke sumur, lalu syamsul ma’arif itu tak ada menyambung sanad dari Nabi, maka tidak ada fadhilah Allah akan keluar, jadi pentingnya sanad ilmu, juga menentukan hasil pencapaian yang di raih, tapi begitu juga, dalam toreqoh itu sekalipun guru mursyid maka mereka punya kedudukan yang berbeda, seperti wadah air, guru itu seperti tabung penyimpanan air, jika dari atas hanya sedikit atau kecil sambungan air, maka akan sedikit juga paralon di bawahnya akan menerima air dari sambungan atasnya yang sedikit, maka guru mursyid yang punya sambungan banyak amat sangat berpengaruh pada besar kecil fadhilah yang di hasilkan murid, guruku mempunyai sambungan toreqoh ke atas sampai kurang lebih 13 jalur, dan tertampung dalam guruku, maka murid di bawahnya akan banyak mendapat manfaat, karena aliran fadhilah yang besar”.

“Hm masuk akal juga, jadi tertarik aku dengan toreqoh, bolehkan aku belajar lebih banyak lagi?”.
“Aku sendiri juga seorang murid, orang yang mencari, dan masih berusaha istiqomah, kita saling berbagi saja” kataku.
“Baik, tapi aku tetap mau minta di bimbing” kata Muhammad.
“Dalam toreqoh ada juga kedudukan seorang mursyid itu beda-beda” jelasku.
“Ada yang seperti itu ya?” tanya Muhammad sambil kami terus bekerja.
“Contoh, tahu kan Syaikh Abdul Qodir Jailainai RA?”.
“Iya tahu”.

“Syaikh Abdul Qodir itu punya kedudukan sultonul auliya’, ghousil a’dzom, quthub, ahli talkin, ahli silsilah, ahli tawasul, ahli nasab, jadi berbagai kedudukan itu menjadi satu, makanya banyak karomahnya, karena setiap seseorang punya kedudukan itu maka akan dengan sendirinya mempunyai pakaian kebesaran berbagai atribut dari kedudukan yang di miliki, seperti seorang jendral dari sebuah ketentaraan dalam suatu negara, jika banyak tanda pangkat di sandangnya maka akan makin banyak kelebihan yang di miliki, seperti berhak kemana-mana membawa pistol, membawahi beberapa peleton tentara, jika kedudukannya cuma penjaga keamanan toko tentu beda” kataku menjelaskan yang masuk akalnya Muhammad.

“Hm, sepertinya juga masuk akal” kata Muhammad.
“Dalam toreqoh juga ada wakil talkin, wakil bai’at, jika kita di bai’at atau di talkin wakil talkin, maka selamanya kita hanya akan jadi prajurit, dan karena jadi prajurit maka tak akan meningkat pada kedudukan yang tinggi, sebab hanya prajurit, bisa jadi orang daerahmu, orang toreqoh yang kamu sebut miskin-miskin itu orang yang tak mempunyai kedudukan. Dalam ketentaraan juga kan orang yang kedudukannya rendah tak punya gaji tinggi”.
“Iya bisa jadi juga”.

“Kalau ku umpamakan, seorang kalau mau mendapat gaji dari pabrik, maka jangan hanya mengulurkan tangan di pintu gerbang, tapi masuklah ke pabrik, daftar, dan menjadi karyawan, maka pasti akan menerima gaji” kataku.
“Iya itu benar, lalu apa hubungannya dengan toreqoh?” tanya Muhammad tak mengerti.
“Sama pabrik itu ku umpamakan pabrik fadhilah dan rakhmat Allah, jika kita cuma minta dan tanpa mengikat diri masuk dalam pabrik fadhilah dan rakhmat Allah, cuma wira-wiri di sekitar pabrik, berdo’a, maka kita sangat jauh kemungkinan akan di ijabah do’a kita, tapi kalau kita masuk di talkin dan di bai’at masuk secara resmi ke dalam pabrik, maka sekalipun tak minta, sekalipun tak berdo’a kita akan tetap mendapat gaji bulanan, apalagi meminta, pasti Allah tak segan-segan memberi” jelasku.

loading...

“Hem, biar ku pikirkan apa yang kau katakan, soalnya aku kurang paham seluruhnya”.
“Sepertinya pekerjaan kita sudah selesai, apa kita pulang dulu?” tanyaku.
“Tidak, nanti menunggu jam pulang bareng pekerja lain, pas jam enam, ini baru jam lima lebih sedikit” kata Muhammad.
“Lalu bagaimana jika aku ingin mengamalkan toreqoh? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Muhammad.

“Sebenarnya harus di talkin, di talkin itu penyaringan seorang murid kalau dalam masuk universitas ya kayak melakukan pendaftaran dan menjalani seleksi, setelah selama seleksi itu seorang murid di pantau oleh guru dan ternyata tak pernah melakukan dosa besar, maka akan di bai’at, menjadi murid secara resmi” jelasku.
“Maksudnya dosa besar itu apa saja?” tanya Muhammad.
“Ya seperti main perempuan, main judi, mencuri/merampok/mencopet, korupsi, semua golongan yang mengambil hak orang lain, mabuk-mabukan, mengkonsumsi narkoba”.

“Jika tidak menjalankan dosa berarti kita bisa di bai’at ya?” tanya Muhammad.
“Iya.. tapi kalau jauh sama guru kan juga susah juga”.
“Iya aku juga mau tanya soal itu, kayak aku di Saudi gini kan jauh susah jika mau di bai’at?” kata Muhammad sambil menyalakan rokok putihan.
“Itu bisa menjalankan amaliyah dulu, jadi misal nanti di bai’at atau di talkin, diri sudah ada tanah tempat menanam ilmu, sebab puasa itu kan membersihkan tanah hati, dari segala penyakit di sertai menyuburkannya, dan di talkin itu guru kita umpama memberi biji ilmu yang kita tanam di hati kita, jika hati, tanahnya sudah subur maka berbagai macam ilmu yang di tanam akan tumbuh subur”.
“Boleh aku minta amalannya?”.

“Iya nanti ku catatkan, sekalipun amalan ini sama dengan amalan dari siapapun, nilainya beda, bukan karena aku yang memberi, tapi karena amalan ini ada sanad sambungan guru kepada Nabi Muhammad, dari malaikat jibril, dari Allah Ta’ala, jadi jelas amalan walaupun sama-sama lafad Allah, yang pemberian dari Allah, beda yang pemberian seorang ulama atau kyai tapi tak punya sambungan sanad yang menyambung kepada Allah, ya kayak paralon yang ku contohkan masuk kedalam sumur dan menyedot air”.

“Lalu apa amalanku yang dari syamsul ma’arif ku hentikan?” tanya Muhammad.
“Ya di hentikan, sekarang gini saja, selama ini amalan itu kamu amalkan apa yang kamu dapat? Sudah berapa tahun kamu mengamalkan?”.
“Iya sih tak ada yang ku dapat, walau sudah lima tahun aku mengamalkannya”.
“Nah nanti rasakan, kamu menjalankan amalan puasa yang 21 hari dariku, bandingkan dengan amalan yang kamu jalankan lima tahun”.
“Jadi puasanya 21 hari ya?” tanya Muhammad.

“Iya itu paling dasar, di atasnya ada 41 hari, 3 bulan, 7 bulan. dan seterusnya, seperti orang sekolah, maka setiap meningkat ke tahapan di atasnya, maka akan memiliki kelebihan yang di anugerahkan Allah, entah bisa mengobati orang sakit, entah bisa melihat gaib, mengusir jin, dan lain-lain, dan setiap orang berbeda-beda kelebihan yang akan di dapat, tapi ingat dalam menjalankan jangan mengharap ingin bisa sesuatu, lakukan dengan ikhlas, karena Allah, amal apapun itu jika tanpa adanya keikhlasan maka seperti tubuh tanpa roh, seperti motor tanpa mesin, maka tak bisa pergi kemana-mana, jika di paksakan pergi, maka akan menyusahkan orang yang membawa, begitu juga amal tanpa adanya keikhlasan maka akan menyusahkan orang yang di dekat orang yang beramal, misal memberi uang maka uang nanti kan akan di undat-undat, di ungkit-ungkit, di minta dikembalikan, bukankah itu menyusahkan pada orang yang di dekat”.

“Iya”.

“Jadi amaliyah itu ada dzohir ada bathin, keduanya harus saling melengkapi, jika ingin amal itu sampai pada tujuan, itu namanya asbab, jadi dalam beramal seseorang itu jika masih dalam kedudukan sebab asbab, maka dia tak lepas dari sebab, musabab, dan akibat, seperti orang sakit kepala minum parasetamol lalu penyakitnya sembuh, padahal sebenarnya yang menyembuhkan Allah, maka orang tersebut namanya masih menetap di maqom atau kedudukan asbab, artinya segala sesuatunya membutuhkan sebab, kenyang sebab makan, dan segala sesuatunya di kaitkan dengan sebab termasuk dalam ubudiyahnya, karena dia ibadah, lalu dia menjadi dekat dengan Allah, tapi ada juga orang yang sudah tak tergantung oleh asbab, karena sudah memandang segala sesuatu itu di kehendaki Allah terjadinya, dan segala sesuatu itu telah di takdirkan terjadi, maka terjadi, sakit juga jika Allah menghendaki sembuh, maka akan sembuh, begitu dalam pemikiran orang yang sudah di kedudukan tanpa sebab, karena tak ada selain Allah itu bisa menjadi sebab kepada Allah, karena kesempurnaannya, semua menjadi sebab karena Allah menghendakinya menjadi sebab, dan Allah itu tak membutuhkan sebab agar sesuatu terjadi, juga seseorang itu ibadah tak akan menambah kekayaan Allah, jika semua orang maksiat juga tak menjadikan Allah menjadi miskin, jadi Allah tak terpengaruh oleh gerak gerik semua makhluk, karena semua makhluk itu bergerak dan berhenti atas kehendak Allah, jadi amal juga tidak bisa mendekatkan atau menjadikan dekat dengan Allah, jika seseorang itu mengandalkan amalnya sendiri maka dia tak akan kemana-mana, karena jika rohnya di cabut nyatanya berangkat ke kuburan pun harus di pikul ramai-ramai, menunjukkan bahwa amal kita itu tidak bisa menjadikan kita dekat dengan Allah, tapi Allah yang menghendaki kita menjadi dekat”.

“Lalu bagaimana kita tahu, misal aku ini di maqom asbab atau maqom tajrid?”.
“Seorang yang menempatkan jati diri itu hanya perlu berusaha istiqomah dalam ibadah, seperti orang yang kerja di pabrik jika di jadwal jamnya jam 7 masuk dan jam 4 pulang, ya harus konsisten, mengikuti aturan yang di tetapkan untuk dirinya, tanpa melakukan tindakan yang menjadikan absensinya merah, soal nanti di naikkan kedudukan menjadi manager itu bukan urusan dia, sama dengan seorang yang beribadah pada Allah, ada ibadah pokok, adalah waktu pokok bekerja, dan ibadah sunnah adalah waktu lemburan, jika seseorang mengandalkan gaji pokok atau penghasilan pokok maka di pastikan manusia itu akan merugi, sebab kebutuhan itu selalu ada yang tidak di prediksi, misal sakit butuh obat, hujan butuh payung, sama dengan orang yang menyandarkan ibadah pokok, suatu saat bepergian, maka mengqodho shalat, jadi orang yang tak merugi yang selalu sedia payung sebelum hujan, lakukan amal dengan tekun, maka kemudian seseorang akan meningkat di kedudukan yang di tentukan Allah, dengan sendirinya akan menempati pada kedudukan tanpa sebab, menyembuhkan penyakit tanpa obat, rejeki tanpa mencari, dan menempuh tempat yang jauh tanpa proses perjalanan”.

“Oh sudah habis jamnya” kata Muhammad.

Dan kami pun di jemput mobil pengangkut karyawan untuk kembali ke tempat bagian kami masing-masing melakukan tanda tangan keluar kerja. Tak terasa telah hampir dua tahun aku di Saudi, waktu berjalan amat cepat, dan sudah sekali aku pulang cuti, hutangku di PJTKI juga sudah ku lunasi, malah uangku di kembalikan lagi oleh PJTKI di belikan emas seharga sepuluh juta dan di serahkan pada istriku. Aku sudah mau mengajukan resign, berhenti dari pabrik, tapi aku ingin Hajian agar tak percuma aku di Saudi, pas Hajian di tahun pertama dan kedua aku baru pulang dari Indonesia sehingga tak ada uang untuk biaya hajian, semoga di tahun ketigaku aku bisa hajian, sehingga aku bisa segera pulang ke Indonesia.

Sebenarnya di tahun kedua Muhammad telah membujukku untuk hajian dengan biaya di tanggung dia, tapi aku orangnya selamanya tak mau menyusahkan orang lain, walau saat itu Muhammad memaksa-maksa katanya sebagai tawadhuk murid kepada guru, tapi aku tetap tak mau. Pulang kerja aku langsung mandi, setelah mandi shalat maghrib, enaknya di Saudi setiap kamar ada kamar mandi dan WC, jadi setiap orang tak perlu repot antri, cuma kamar cuci yang mesinnya hanya satu, jadi kalau nyuci harus nunggu yang lain selesai. Setelah shalat ponsel bunyi.

“Halo mas, minuman sama ayam bakar ku taruh di pintu, tolong di ambil, tadi ku ketuk-ketuk gak nyahut jadi ku taruh saja di pintu” suara Muhsin.
“Oh ya, aku tadi lagi mandi, jadi pintu kamar aku kunci” jawabku.

Biasa Muhsin membawakanku kalau tidak minuman kaleng, ya ayam bakar atau kepala kambing, atau babat sapi, atau kepala ikan laut yang jika di masak seminggu gak habis-habis, sehingga aku tak makan di kantin dan memasak sendiri, dia juga aktif membawakan indomie sekardus, juga beras sekarung, kadang meja sampai penuh untuk menaruh makanan.

“Nanti habis shalat isya’ mau kesitu” kata Muhsin lagi.
“Ya” jawabku.

Ada yang mengetuk pintu, ku buka ternyata Amir Khan, orang Pakistan, tak biasa-biasanya main ke kamarku.

“Silahkan duduk” kataku dengan bahasa Arab. “Kok tak biasanya main ke kamar?”.
“Ya maaf mengganggu ustad” kata Amir Khan.

Aku tak tahu kenapa kebanyakan pada memanggilku ustad, padahal sama sekali juga aku tak pernah mengajar atau menunjukkan punya ilmu apa-apa.

“Begini ustadz, saya mau minta tolong, sebab saya dengar ustadz sering di mintai tolong teman-teman” kata Amir Khan.
“Soal apa itu? Maaf sebenarnya aku sendiri tak bisa apa-apa, jadi kalau nantinya mengecewakan” kataku.
“Ini soal anak saya di rumah”.
“Memangnya kenapa anaknya?”.
“Saya sendiri tak tahu sebab musababnya ustadz, tiba-tiba sekitar sebulan ini anak perempuan saya yang berumur 10 tahun lumpuh, dan tak bisa berjalan”.
“Itu awalnya bagaimana?”.

“Makanya itu ustadz, cerita istri anak saya itu tak panas juga tak sakit, ketika bangun tidur, begitu saja menjadi lumpuh”.
“Oh begitu, apa bisa di rumah di sediakan air?”.
“Maksudnya air apa ustad?”.
“Maksudku air mineral, ya air itu di biarkan semalam, biar ku transfer obat ke dalam air tersebut, besok pagi airnya di upayakan di minum, dan di pakai mandi, bagaimana, bisa tidak?”.

“Sebentar, saya akan menghubungi istri saya” kata Amir Khan, sambil mengeluarkan ponsel dan menghubungi rumahnya.
“Oh ya sekalian suruh airnya di campurkan air untuk mengepel rumah” kataku di antara pembicaraannya dengan istrinya.
“Iya sudah di sediakan air” jawab Amir Khan.
“Iya nanti di tunggu saja perkembangan selanjutnya” jelasku.
“Makasih ustad saya mohon diri dulu” kata Amir khan.

Selang beberapa saat Muhsin masuk kamar membawa bungkusan makanan.

“Apa itu?” tanyaku menanyakan yang di bawa Muhsin.
“Ini nasi jagung plus ayam, titipan dari orang Maroko, bernama Abduh yang ku mintakan do’a tentang anaknya dulu, Alhamdulillah anaknya sudah baikan dan sehat” jelas Muhsin. “Ayo di makan”.
“Wah kalau nasi jagung kurang pas kalau tak di sambalkan, biar aku nyambal sebentar” kataku segera meramu sambal terasi andalan.
“Kayaknya tadi Amir Khan dari sini?” tanya Muhsin.

“Iya dia meminta di do’akan, anaknya sakit di Pakistan sana” jawabku.
“Oh wah enak ya kalau mendo’akan orang sakit di mana-mana bisa sembuh” celetuk Muhsin.
“Ya semua orang juga bisa, la wong berdo’a saja apa susahnya” kataku.
“Tapi kan ndak semua di ijabah” jawab Muhsin.

“Semua juga mempunyai hak di ijabah yang sama, dan Allah juga memberi hak di ijabah yang sama, cuma manusia sendiri yang menjadikan do’anya terhalang oleh ijabah, nafsunya sendiri yang menjadi penghalang terijabahnya do’a, aku sendiri kan juga bukan orang hebat, sama doyan nasi jagung, sama doyan bakso, dan sama doyan semua yang halal, jadi tak ada bedanya dengan orang lain, sampean atau siapapun”.

“Itulah yang malah sulit membedakan, karena samanya, jadi sulit di lihat perbedaannya” kata Muhsin.
“Kita sebenarnya hanya perlu melakukan cara ibadah yang benar, yang menjauhi yang di larang dengan benar, memakan makanan yang terjaga kehalalannya, ya sebenarnya hanya itu” kataku sambil memindah sambal yang selesai ku ulek.

Orang Maroko punya tradisi jika hari jum’at mereka memasak nasi jagung, nasi jagungnya sama dengan masakan Jawa Timur, aku yang memang suka nasi jagung, walau di Saudi, jadi hampir setiap jum’at mendapat kiriman nasi jagung dari orang Maroko, karena mempunyai murid orang Maroko.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 44.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET