Kisah Sang Kyai Guru Bagian 44 - 316 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 43. Besok aku dikirim ke pabrik baru di Tahamah, perjalanan dari pabrik yang ku tempati di tempuh kira-kira delapan jam, sore hari pulang kerja aku cepat-cepat pulang ke kamar, melewati jalan pintas gerumbul semak perdu, walau di Arab karena kepedulian pabrik, jadi ada pengolahan air dinamakan water treatment di mana air kotor di olah menjadi air bersih, dan sebagian di pakai menyirami tanaman, sehingga sekitar pabrik semua tanaman tumbuh subur, kebun mangga ada, kebun jambu, kebun pisang, kebun jeruk, yang paling menyenangkan di sini burung bebas berkeliaran.

Bahkan di pohon kadang penuh sarang burung, bergantungan, dan semua tiap pagi bernyanyi ramai sekali, juga tiap ada tiang lampu jalan, pasti di tempati sarang elang, atau bangau, bahkan di atap-atap pabrik, penuh sarang merpati, cuma teman-temanku pernah mengambil banyak merpati, karena kalau di sarangnya di tangkap tak lari, jadi mengambil merpati sampai dapat setengah karung, herannya dagingnya rasanya langu, mungkin yang di makan bukan biji-bijian jagung.

Yang aku heran di sini juga ada ayam liar, atau kalau di Indonesia ayam alas, tapi bentuknya kayak kalkun, cuma sebesar ayam kampung, juga bisa terbang, jadi sulit untuk menangkapnya, banyak juga ayam liar, kadang mereka berkelompok. Walau tak pernah hujan, tumbuhan tak mati karena setiap pohon mendapat jatah air dari selang yang dialirkan sepanjang jalan. Jadi suasana amat rimbun, cuma kalau panas ya tetap panas, walau di bawah pohon, sebab panas terbawa hembusan angin.

“Ustadz, terima kasih” kata suara seseorang di belakangku, ternyata Amir Khan orang Pakistan yang semalam meminta tolong.
“Bagaimana kabar anaknya?” tanyaku masih tetap jalan, dan Amir Khan berjalan di sampingku.
“Alhamdulillah kata ibunya tadi pas istirahat siang telepon, katanya anaknya sudah bisa jalan, walau pelan-pelan, ibunya juga merasa kaget, tiba-tiba anaknya turun dari ranjang” kata Amir Khan.
“Ya syukur kalau begitu” jawabku.
“Ustadz, ustadz mau dibelikan apa? Katakan saja, pasti saya turuti” kata Amir Khan.
“Aku?” tanyaku.
“Iya” jawab Amir.

“Wah aku tak ingin beli apa-apa, sudah yang penting anaknya sehat”.
“Tapi saya mau berterima kasih pada ustadz” kata Amir Khan.
“Berterima kasih saja pada Allah, aku hanya meminta pada-Nya” jelasku.
“Bolehkah saya menjadi murid Ustad?” tanya Amir Khan.
“Ah aku orang bodoh, tak pantas di angkat menjadi guru, juga pas kebetulan aku berdo’a, dan Allah pas menurunkan kemurahannya dan anakmu di beri kesembuhan” kataku, dan sampai di kamar.
“Terima kasih ustadz” kata Amir Khan karena aku akan masuk kamar.
“Sama-sama” jawabku.

Akhirnya berangkat juga ke Tahamah, satu mobil jeep di isi sembilan orang, sepanjang perjalanan hanya pemandangan padang pasir, batu, gunung, dan rumah-rumah di puncak gunung, sekali waktu berhenti di tempat makan, untuk mengisi perut, dan di sini ya paling enak makannya nasi minyak, dan ayam bakar, tanpa rasa apa-apa, beda di Indonesia yang ada aneka makanan pilihan, bahkan bumbunya ayam bakar juga cuma cabe utuh, itu juga kalau minta, biasanya cuma di kasih kecap sama irisan bawang bombai.

Sebenarnya jika ke pasar aku lebih suka makan roti canai, atau roti yang kayak martabak tanpa isi telur jadi cuma adonan tepung tapi di goreng, makannya di suwir di colek ke kare daging, rasanya sih lumayan, mendekati rasa rendang padang, cuma kebanyakan kunyitnya, ya dari pada tak ada, ya itu termasuk makanan lezat. Biasanya juga di jalan-jalan ada warung teh plus nyedot sisa, rokok ala Saudi, dan tehnya dari daun menthol yang di rebus, di Saudi namanya daun Nak-nak, rasanya di minum panas ya hangat-hangat semriwing.

Jam 2 siang, aku sampai di pabrik Tahamah, ketemu juga banyak orang Indonesia, dan kumpul sebagian rombonganku yang dahulu berangkat bersama dari Indonesia, cuma kemudian yang lain di kirim ke pabrik beda daerah. Malamnya pada main ke kamarku, ngobrol ngalor ngidul, ya menanyakan kabar dan lain sebagainya.

Pabrik Tahamah adalah pabrik baru yang sebelumnya katakanlah daerah tanpa penduduk, hanya wilayah gunung mati, jadi entah salah satu gunung di pangkas, di ledakkan, di datarkan, kemudian di bangun sebuah pabrik, dan segala macam kebutuhan yang di perlukan pabrik, sehingga jika mau ke kota maka amat jauh, di kanan kiri depan belakang, dan kemana arah mata memandang yang ada hanya gunung dan deretan gunung-gunung batu, pabrik ini seperti sebuah koloni di dunia antah berantah, tak seperti di Indonesia yang gunungnya terdiri dari pepohonan dan hutan, kalau di Saudi, maka gunungnya hanya terdiri dari batu dan batu. Bahkan gunung itu seperti batu yang utuh.

Beberapa hari di Tahamah, bingung juga pertama sebab ternyata soal pekerjaan sama sekali tak ada, barang-barang yang ku butuhkan sama sekali tak tersedia, di Tahamah hampir-hampir di kuasai oleh orang India, insinyur dan teknisinya juga orang India, tahulah orang India jika insinyur sekalipun belum tentu insinyur benaran artinya ijazah dari beli, jadi soal kerja sama sekali tak mengerti.

Bahkan aku sendiri ikut di pekerjakan melayani tukang batu, memang apes kalau bekerja dengan India, apalagi orang Saudi yang tak mengerti ijazah palsu atau bukan, jadi ingat orang India yang kerja di klinik, sakit apapun di beri obat parasetamol, padahal ijazahnya dokter. Ah tak tahulah yang penting tak menyalahi aturan Allah, mau orang lain menyalahi aturan bukan urusan diri. Untung ada tukang-tukang dari Maroko, sehingga aku tak di minta bekerja berat, karena tahu menjadi pelayan tukang batu bukan bidangku.

Sementara untuk mulai bekerja di kaligrafi entah harus menunggu kapan, untuk meminta material dan peralatan yang ku butuhkan prosesnya sangat ribet, tak ada yang mengurus, dan aku harus mengurus sendiri, mengajukan permintaan kepada bagian yang anehnya semua tak merasa membawahi pekerjaanku, aku jadi ketawa sendiri, la aku harus minta pada siapa? Sungguh pabrik besar yang semrawut. Padahal material yang ku butuhkan tak seberapa harganya.

Dari pada nganggur, mending aku jadi tukang sapu, aku tak rela memakan gaji buta, walau ini pabrik, tak rela rasanya tanpa mengeluarkan keringat lalu menerima gaji, biarlah aku menyapu gudang tiap hari, sampai sebulan dua bulan, aku hanya menyapu ruangan yang panjangnya hampir lima puluh meter persegi. Sampai Muhsin telepon, menanyakan kabarku.

“Bagaimana pekerjaan di sana?” tanya Muhsin.
“Kerja apaan di sini sampai sekarang cuma jadi tukang sapu” jawabku.
“Lhoh kirain sudah mulai kerja kaligrafi?” tanya Muhsin.
“Ya aku ngajukan minta material yang ku butuhkan juga belum di kasih, malah sampai sekarang ndak jelas, ini aku ikut general services apa ikut welfare section, semuanya tak jelas, jadi aku cuma jadi tukang sapu”.
“Wah memang kalau di pegang orang India semua pekerjaan semrawut, nanti aku menghadap manager” kata Muhsin.

Ponsel pun di tutup, sebenarnya aku sudah perduli, mau kerja apa juga, asal tak terlalu berat. Selama di pabrik baru aku, ternyata semua orang Indonesia juga terkena penyakit telepon-teleponan sama TKW, malah ada yang sampai ketemuan, janjian, padahal di Indonesia punya anak dan istri, nyatanya semua orang tak tahan banting. Dulu aku merasa kaget waktu di Jakarta, melihat teman pesantrenku tak pada shalat, padahal mereka jebolan pesantren Lerboyo, ada juga yang jebolan pesantren Sarang Rembang, tapi begitu di Jakarta, shalat sudah di tinggalkan.

Yang baru ku sadari, ternyata setiap tempat itu mempunyai karakter cobaannya sendiri-sendiri, di Saudi mungkin saja shalat di lakukan tapi keluarga kemudian di hianati. Aku tak ambil pusing dengan apa yang mereka lakukan, karena aku tahu betul jika aku mengingatkan mereka maka itu sama sekali tak akan membuat mereka sadar, malah bisa jadi aku malah akan di musuhi.

Ada beberapa orang yang tak terseret oleh godaan saling telepon dengan TKW, dan ada dua kelompok yang tak suka main teleponan dengan TKW, yang satu berkumpul di kamar yang ada TV nya, yang lain yang sering main ke kamarku, ya kalau di kamarku paling ku settingkan internet gratis dan sedikit ku ajak ngobrol tentang ilmu. Dan sebagian meminta amalan, dan menjalankan puasa. Ada salah satu orang meminta satu kamar denganku namanya Lukman, katanya ingin biar bisa lebih dapat ku bimbing.

Aku tahu Lukman mempunyai banyak masalah, di keluarganya, dan aku tahu kalau dia ingin sekamar denganku hanya ingin agar bisa ngobrol berdua membicarakan masalahnya. Dan dugaanku tak meleset, saat semua orang sudah tak ada main di kamarku. Lukman mulai mengungkap unek-uneknya padaku.

“Mas! Terus terang aku punya masalah yang ingin ku sampaikan ke mas Ian” kata Lukman yang kurus dan tubuhnya ceking, tapi tinggi semampai.
“Masalah apa? Ya kalau aku bisa membantu, insya Allah akan ku bantu mencarikan solusinya, tapi jika aku tak bisa membantu, ya aku minta maaf” kataku, yang tidur di ranjang satunya.
“Ini yang bisa membantu hanya mas Ian“.

“Wah kok bisa gitu? Kan yang lain banyak teman-teman kita, kenapa mesti aku?” tanyaku heran.
“Kan mas Ian yang punya ilmu terawangan, melihat dari jarak jauh” kata Lukman.
“Wah kata siapa? Itu mengada-ada”.
“La buktinya kan banyak, misal soal mas Sarno, terus kemarin kan ada tukang kayu yang pasahnya hilang, kan juga yang nunjukkan di taruh di atas lemarinya orang Arab kan juga mas Ian, akhirnya pasahnya di temukan”.

“Ah itu sih kebetulan, pas tukang kayu orang Indo pasahnya hilang, dan dia habis ngerjain rumahnya orang Arab, ya ku bilang saja pasahnya di atas lemarinya orang Arab, dan pas kebetulan di cari di atas lemari pas ketemu, jadi bukan berarti aku bisa terawang atau melihat dari jarak jauh”.
“Ah mas saja yang merendah”.
“Bukan, memang aku tak punya ilmu seperti itu, jika pas kebetulan itu juga kan bukan berarti aku punya ilmu seperti itu”.
“Jadi mas Ian tak mau membantu masalahku?”.

“Bukan tak mau, aku mau saja membantu jika aku mampu, kenapa tak mau membantu orang lain, tapi itu jika mampu, kalau tidak mampu lalu membantu bukankah akan malah menambah susah saja”.
“Baik begini mas, aku punya istri, punya anak satu yang masih kecil”.
“Lalu?”.
“Kalau bisa di lihatkan bagaimana istri saya? Soalnya hati saya tak enak sekali” kata Lukman.
“Lebih baik bekerja dengan baik, dan tak terlalu menyangka yang tidak-tidak, hanya akan membuat hati tak tenang” nasehatku.
“Ya tolong di lihatkan mas” Lukman merajuk.

Lukman lalu mengeluarkan foto istri dan anaknya.

“Ini mas, foto istriku” Lukman menyodorkan foto ke arahku.
“Kamu itu hanya rindu pada keluarga, dan semua orang yang bekerja di Saudi itu pasti mengalami cobaan itu, namanya juga jauh dari keluarga, jadi jangan kemudian menjadikan diri terseret pada prasangka dan bayangan yang membuat diri tak tenang”.
“Tidak mas, ini masalahnya lain”.
“Sudahlah tenangkan saja diri, banyak-banyak dzikir, minta pada Allah agar hati tenang” kataku.

Malam itu tetap saja tak ku jawab kemauan Lukman, diriku memang serba susah, apalagi menyangkut rumah tangga orang, aku sama sekali tak ingin ikut campur dalam rumah tangga orang. Besoknya pulang kerja seperti biasa banyak orang yang berkumpul di kamarku, ada yang tua ada juga yang muda, dan setiap waktu ada saja orang yang biasanya tak pernah ikut main ke kamarku, lalu tiba-tiba saja main, pasti ada maksudnya. Ini ada tiga orang yang biasanya tak main ke kamarku, dan kali ini main, ada Iwan, pak Purwanto, dan Sodikun, pak Purwanto orangnya sudah umur 50 an tahun, juga Sodikun sekitar umur 50 an tahun. Iwan masih muda.

“Mas, saya mau ada perlu” Sodikun mendahului bicara.
“Ada apa pak?” tanyaku.
“Ini soal anak perempuan saya” jawab Sodikun.
“Kenapa anak perempuannya?”.
“Anak perempuan saya kemarin di bawa ke rumah sakit, dan di vonis mengidap kanker rahim”.
“Hm, terus?” kataku sambil membuang abu rokok marlboro merah di asbak.
“Maksud saya ingin minta bantuan mas, minta di do’akan supaya penyakitnya sembuh tanpa harus operasi” jelas Sodikun.

“Ya ndak apa-apa, saya do’akan, wong mendo’akan juga ndak bayar kok, tinggal minta saja sama Allah, yang di rumah di suruh saja sedia air, nanti obatnya saya transfer ke air itu, sana di telepon dulu yang di rumah” kataku.
“Iya mas, makasih sebelumnya” kata Sodikun kemudian menelepon rumahnya.
“Ini ada apa Wan kok gak biasanya main ke kamarku?”.
“Anu mas, saya juga mau minta tolong” kata Iwan.
“Wah lama-lama aku di anggap dukun ini di Saudi” candaku.
“Ya beda to mas, kalau dukun kan pakai menyan, kembang, sesajen, la panjenengan kan minta langsung sama Allah” sela pak Purwanto.

loading...

“Ada apa dengan nenekmu Wan?” tanyaku.
“Nenekku itu sudah lima tahun lumpuh tak bisa jalan, mas”.
“Lalu?”.
“Ya saya minta mas mendo’akan nenek saya itu di beri kesembuhan oleh Allah, soalnya selama ini sudah di obatkan kemana-mana juga hasilnya nihil, sudah banyak biaya yang kami keluarkan”.
“Ya suruh saja di rumah sedia air mineral, biar obatnya ku transfer ke air itu, sudah sana yang di rumah di hubungi” kataku.
“Iya makasih mas sebelumnya” kata Iwan lalu berlalu menelepon rumahnya.

“Ini pak Pur ada apa?” tanyaku pada pak Purwanto.
“Sama mas, mau minta do’anya untuk anakku yang di rumah, anak lelakiku sebesar mas tapi pikirannya kayak terganggu”.
“Terganggunya bagaimana pak?” tanyaku.
“Dulu pernah mengalami kecelakaan motor dan sejak saat itu jadi sering diam, kayak orang bengong gitu”.
“Hm, ya sama kalau begitu di rumah di suruh saja sedia air mineral, biar obatnya nanti ku transfer ke air itu”.
“Ya mas makasih, biar saya telepon ke rumah” kata Purwanto.

Sodikun sudah menghadap lagi.

“Sudah saya suruh sedia air mas” kata Sodikun.
“Bapak tulis nama dan nama bapak di kertas, besok pagi airnya suruh minum ke anak bapak, moga saja sembuh” kataku.

Dan Sodikun pun menulis nama anaknya dan nama dia.

“Nanti airnya di minum waktu pagi ya mas?” tanya Sodikun.
“Iya minumnya waktu pagi, sebelum makan atau minum apapun, insya Allah kalau Allah mengizinkan sembuh, nanti tumornya akan hancur, terbuang lewat jalan pembuangannya” kataku.
“Jadi kalau keluar daging dan darah banyak tak usah terkejut dan kaget”.
“Iya mas, makasih” kata Sodikun, dan minta diri dari kamarku.

“Ini mas, airnya sudah di sediakan” kata Iwan.
“Suruh saja besok pagi di minum nenekmu, dan di usapkan di kakinya, tapi Wan, belum tentu kesembuhan itu membawa kebaikan” jelasku.
“Ya mas, asal nenekku sembuh, kasihan dia sudah sakit sejak lama” kata Iwan.
“Moga-moga saja sembuh” kataku.
“Makasih mas” kata Iwan.
“Iya sama-sama”.

“Airnya sudah di sediakan mas” kata pak Purwanto.
“Iya besok, airnya di minumkan ke anaknya, dan di pakaikan mandi” kataku.
“Besok pagi ya mas?“.
“Iya besok pagi, moga saja di beri kesembuhan oleh Allah”.
“Makasih banyak mas, semoga Allah membalas kebaikan mas Ian”.
“Aamiin”.

Pak Pur pun berlalu, dan masih beberapa orang yang ngobrol ngalor ngidul tak karuan. Aku tertidur, dan tak tahu orang-orang sudah pergi, ketika bangun, segera menjalankan shalat isya’, dan mendo’akan yang minta di do’akan. Lukman masuk, baru pulang kerja lembur, wajahnya nampak kusut. Aku melanjutkan dzikirku. Setelah selesai dzikir, aku membuat indomie, karena perut keroncongan. Ku buatkan sekalian Lukman yang masih mandi.

“Ayo makan indomie” kataku ketika Lukman selesai mandi.
“Makasih mas, gak nafsu makan” katanya tak semangat.
“Lhoh jangan gitu, ini sudah terlanjur ku buat dua, sudah, ada masalah bisa di pikirkan dengan perut kenyang, kalau perut lapar, masalah kecil juga tak akan selesai, jangan karena satu masalah lalu diri terseret dalam arusnya, tenangkan diri, hanya hati yang tenang yang mampu menyelesaikan masalah, ayo makan” akhirnya Lukman mau, dan kami makan.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 45.

Whatsapp: 0852 1406 0632