Kisah Sang Kyai Guru Bagian 45 - 159 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 44.

“Bagaimana soal istri saya?” tanya Lukman lagi setelah kami selesai makan.
“Hehehe, kembali lagi, mbok gak usah nanyakan soal istrimu” kataku sambil menyalakan rokok.
“Aku benar-benar belum tenang mas, jika belum tahu hal yang sebenarnya” kata Lukman.

“Perlu kamu tahu, aku melihat aib orang lain itu, akan sangat membuat mata hatiku buta, jadi ada batas-batas mana yang tak boleh aku lihat, dan mana yang boleh aku lihat, apa yang ku miliki ini anugerah, maunah dari Allah, jadi tidak bisa diriku asal diriku seenaknya memakai, misal melihat aib orang lain, atau melihat misal perempuan mandi, bisa jadi apa yang ku miliki ini akan tercabut”.

“Tapi mas, aku minta sekali ini saja, mas membantuku”.
“Ketahuilah, jika kamu tahu, ku katakan sejujurnya, itu tak akan menjadikanmu malah semakin baik, tapi malah akan merusakmu, maka tak tahu akan lebih baik” jelasku.
“Tolong lah mas” kata Lukman menangis.

“Baik-baik, semoga Alloh mengampuni dosaku, dan suatu saat mengembalikan mata hatiku yang buta dan semoga kyaiku mema’afkan kesalahan yang akan ku perbuat, ku katakan istrimu selingkuh” kataku dengan berat hati.
“Apa benar mas?” tanya Lukman, menatapku mencari kepastian.
“Biar sekalian detail, kamu nanti bisa telepon istrimu dan mencari kejelasan dengan apa yang ku katakan nanti, dengarkan baik-baik, dia kenal dengan lelaki selingkuhannya di sebuah taman, lelaki itu bernama Rohman, perawakannya sedang, kulit kuning, dia juga sudah punya istri, awalnya istrimu curhat, lalu bertemu kembali ketika menonton bola volly, lalu bertemu kembali di hotel, jadi uang yang kau kirimkan di pakai berdua membayar hotel, malah waktu ke hotel di temani anak kecilmu, nah sudah aku tak bisa bicara banyak, ini sudah menyiksaku” kataku panjang lebar.

Dan Lukman menangis.

“Sebaiknya kau bicara dengan istrimu, menanyakan kejelasan, sebagai lelaki sejati harus tegar, hadapi kenyataan sepahit apapun itu, jangan cengeng, itu kenyataan, sudah ku katakan tak tahu mungkin akan lebih baik”.

Aku tinggal Lukman tidur, sementara dia menelepon istrinya, dan walau awalnya istrinya membantah, tapi akhirnya mengakui semua, setelah apa yang ku katakan pada lukman di ungkap, sampai istrinya heran karena suaminya yang di Saudi bisa tahu sedetail itu, tapi setelah pengungkapanku itu, mata batinku seperti tertutup, aku tak bisa melihat lagi kegaiban di sekitarku, tak bisa lagi menterjemahkan apa yang tersirat di balik kejadian, ah memang perjalananku harus mengulang, aku meneteskan air mata. Sore sepulang kerja, dan selesai mandi Sodikun sudah menungguku.

“Maaf mas, kata mas benar, anak perempuanku, seharian ini berak dan kencing mengeluarkan gumpalan daging yang banyak sekali, ini bagaimana mas, katanya tubuhnya sampai lemas” kata Sodikun.
“Ya ndak apa-apa, bagus, ya di bawa ke rumah sakit lagi saja, biar di lihat apa tumornya masih ada” jelasku.
“Begitu ya mas?” tanya Sodikun.
“Ya, sebaiknya begitu”.

Malamnya Iwan juga masuk, membawa beberapa bungkus rokok di taruh di mejaku.

“Apa ini?” tanyaku.
“Ini mas sekedar terima kasihku” kata Iwan.
“Terima kasih apa?”.
“Nenekku sudah bisa jalan” kata Iwan.
“Ndak perlu repot-repot wan”.
“Gak apa-apa mas”.

“Aku mau pulang ke Indonesia mas” kata Lukman.
“Cuti?” tanyaku.
“Tidak mas, aku berhenti kerja di pabrik”.
“Lhoh kok gitu?”.
“Iya mas, apa perlunya kalau aku kerja jauh-jauh di Saudi, kalau rumah tanggaku hancur”.
“Kamu sudah mengajukan berhenti?” tanyaku pada Lukman.
“Sudah mas” jawabnya singkat.

“Ingat segala sesuatunya apapun kejadian di dunia ini sudah di gariskan oleh Allah, jangan menyalahkan keadaan dan apapun yang terjadi, sadari diri kenyataannya mengalami itu, lalu kembalikanlah kepada Allah, hati itu kadang harus terluka, seperti tanah itu kadang di cangkul di bajak, agar tanah menjadi subur, dan mau kembali ingat kepada Allah, jika kita tidak melakukan kehalusan diri membajak hati kita sendiri maka Allah akan memperingatkan kita dengan kasar, dan lewat cobaan-cobaan yang maksudnya agar kita ingat, hati menjadi subur, dan kembali ke jalan yang tak mengutamakan ego, manusia itu dalam kenyataannya di buat menjadi makhluk yang lemah, tapi bisa jadi karena suatu ilmu atau kekuasaan maka kemudian merasa diri kuat, dan egois, maka Allah kemudian memperingatkan kembali keberadaan manusia kembali sebagai diri yang lemah, Allah ledakan gunung, Allah goyangkan bumi dengan gempa, Allah tumpahkan laut dengan tsunami, Allah perintahkan angin untuk memporak-porandakan bumi, agar hati manusia menyadari kelemahan, dan kembali menggantungkan diri pada dzat yang paling perkasa dan maha menolong yaitu Allah, sebaiknya sebelum pulang, umroh dulu ke Makkah, dan sedikit tenangkan hati, ingat hanya orang yang hatinya tenang yang akan mampu menyelesaikan masalah yang di hadapi” jelasku panjang lebar.
“Iya mas, rencana juga mau umroh dulu” jawab Lukman.

Aku sudah tidak di pekerjakan menjadi tukang sapu, aku di suruh menunggu material yang ku butuhkan datang, dan aku di tempatkan di belakang Banggala, Banggala kalau di Indonesia ya mini market, menjual berbagai kebutuhan, dan walau cuma menunggu untung tak jenuh karena ada internet, di Saudi hanya dua sim card, yaitu Al-jawal dan mobile, aku selalu memakai Al-jawal, karena internetnya dapat ku tembus, bisa internetan gratis, sehingga mau apa saja, asal internetan pasti gratis, semua konten p*rno di Saudi itu tak bisa di buka, entah pakai ponsel atau komputer, asal ada unsur p*rno, xxx, warna biru, dan ada tulisan p*rno, s*x, ad*lt pasti jika di buka langsung di blok, tapi kalau pakai gratisan malah tidak, karena tidak terbaca operator kita membuka apa.

Dan tentu saja aku bebas membuka, tanpa ada blok, karena bisa membuka sehingga orang-orang kebanyakan ingin ku ajari, setidaknya dapat mengurangi kesenangan mereka telepon-teleponan dengan TKW, yang kebanyakan menghabiskan gaji sebulan, ya tak apalah mereka ku ajari membobol internet, ku settingkan, asal tidak menghabiskan uang, di pakai nelepon.

Karena banyakan nganggur sehingga tiap hari paling ngobrol sama teman-teman di Indonesia, lewat ebbudy, atau lewat forumku di jowo.jw.lt, dan makwa.mw.lt, atau iseng-iseng menulis CERBER cerita berantai yang di gagas oleh temanku Asim, atau menulis cerita-cerita pendek, setidaknya waktu tak membosankan, dan yang pasti internet gratis.

Apalagi setelah membeli laptop aku memakai antena wireless adapter, dan memakai pemancar wajan bolik, menyadap modem orang Arab yang di biarkan bocor tanpa password, internetan makin seru, setiap hari habis pulang kerja langsung saja membuka internet, kalau kamis jum’at libur, habis kerja seharian sampai malam jam empat pagi baru tidur, karena membuka internet, semua orang Indonesia kemudian juga membeli laptop, dan berinternetan gratis. Tak ada lagi telepon-teleponan dengan TKW, di kamarku tiap hari ada saja yang minta di ajari memakai laptop, bahkan orang Pakistan dan Yaman juga ada yang datang minta di ajari.

“Mas! Nenekku meninggal” kata Iwan suatu pagi bicara padaku dengan wajah murung.
“Innalillahi wainna ilaihi roji’uun, kapan wan?” tanyaku.
“Semalam, karena mungkin ingin mengambil air, atau mau ke kamar mandi, jadi jalan sendiri, menurut tembok, dan menabrak televisi, dan tertimpa, dan di temukan sudah meninggal” cerita Iwan.
“Sabar Wan, setiap orang juga akan mati, segala sesuatu pasti ada sebabnya, semua kejadian tak lepas dari takdir yang telah di gariskan” hiburku.
“Iya mas, cuma kenapa aku jadi lupa tak meminta mas juga mendo’akan agar sakit mata nenekku sembuh, soalnya matanya sudah susah melihat mas, makanya dia berjalan merambati tembok, sehingga nabrak televisi”.
“Nah itu juga tak lepas dari ketentuan dan rancangan Allah” jelasku.
“Mungkin saja kematiannya lebih baik, dari pada menanggung derita selama ini”.

Seperti biasa, aku cuma duduk-duduk di ruang kerjaku, karena tidak ada pekerjaan, Sodikun masuk ke ruang kerjaku, wajahnya kelihatan panik.

“Mas, aku mau minta tolong lagi” katanya panik.
“Minta tolong apa lagi? Apa tumor anaknya kambuh?” tanyaku.
“Tumornya sudah sembuh mas, tapi sekarang anak perempuanku di bawa kabur lelaki” kata Sodikun agak malu.
“Wah kalau itu aku ndak bisa nolong, ya di laporkan polisi saja, la aku sendiri walau di Indonesia juga belum tentu bisa nolong”.
“Apa ndak bisa dido’akan biar pulang mas”.

“Do’a itu senjatanya orang Islam, addu’au syaiful muslimin, karena do’a itu penggantungan diri pada Sang Pencipta, sehingga jika seseorang ditakdirkan buruk, dan tak bisa siapapun merubah menjadi baik, maka berdo’a saja minta pada Allah agar takdir di ubah oleh Allah menjadi baik, karena hanya Allah yang bisa merubah takdir, jadi secara tak langsung dengan do’a, takdir itu bisa di ubah, karena penyandaran permintaan pada Allah, tapi juga dalam hal tertentu kita tidak bisa menggantungkan do’a, karena Allah telah menetapkan syarat, sebab, contoh jika masak kurang asin, jangan di do’ai agar masakan jadi asin, ya di do’ai sehari semalam juga tak akan asin, sebab sudah ada sarat, kalau pingin asin ya di tambah garam, maka makanan yang kurang asin, kasih saja garam, pasti asin, ya kayak anakmu yang di bawa kabur pacarnya itu laporkan saja ke polisi, biar dicari”.
“Oh iya mas makasih” kata Sodikun.

Aku jadi berpikir mungkin Alloh memberikan penyakit tumor kandungan pada anak gadisnya Sodikun, dengan maksud agar tak menjalankan perbuatan maksiat yaitu zina, tapi aku telah memintakan kesembuhan, sehingga akhirnya malah pacaran kemudian hamil, ah entahlah, aku memang lemah, semoga Allah mengampuni kesalahanku. Ternyata banyak sekali maksud yang terkandung dalam segala kejadian, yang kadang tak aku mengerti sebelum semuanya terjadi. Memang akhirnya anak Sodikun akhirnya mengandung di luar nikah.

Akhirnya aku mulai kerja, walau semuanya serba manual, yang ku kerjakan membuat nama dan nomor semua villa yang diaplikasikan di viber, kalau di pabrik lama, pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat, karena sudah ada mesin pemotong, tapi kalau di sini, harus memotong satu demi satu memakai gergaji besi, jadi pekerjaan memakan waktu lama, apalagi tulisan yang harus ku bikin sampai ada seratus lebih. Kalau nulisnya sih paling beberapa menit juga jadi, tapi yang lama itu gergajinya.

Sebulan, kelar juga pekerjaanku, dan aku di tarik lagi ke pabrik lama. Kamar lamaku amat kotor, setiap kamar sebenarnya sudah tertutup dan tak ada angin yang masuk, jadi udara hanya masuk lewat AC, dan pembuangan lewat blower, tapi bagaimanapun debu tetap menerobos masuk, di Jizan itu kalau badai debu jarak pandang hanya dua meter, di tanah debu bisa setebal semata kaki, udara pekat oleh debu, dan jika sudah musimnya, bisa dipastikan, setiap hari siang sampai malam, udara di penuhi debu, jika keluar kamar harus memakai masker, atau tutup kepala, jika tidak rambut akan lengket, dan hidung akan penuh debu.

Untung di Saudi itu rumah semua di-cor, atap juga cor-coran, jadi sekalipun angin besar, tapi rumah tak goyah sama sekali, aku membayangkan kalau di Indonesia yang atap rumah terbuat dari genteng, pasti akan diterbangkan angin, kalau di Saudi lagi musim debu, kayu, sepeda pun bisa terseret angin, dan pohon bertumbangan. Sekalipun rumah tertimba juga tak masalah, karena rumah di-cor semen semua. Yatno masuk kamarku, wajahnya takut.

“Ada apa?” tanyaku sambil mengangkat masakan dari kompor listrik.
“Aku muntah darah kang” kata Yatno panik.
“Memangnya kenapa?”.
“Dadaku sakit sekali kang, tolong aku kang!” kata Yatno sambil duduk lemas memegangi dadanya.
“Coba sini ku lihat” kataku mendekat, lalu menempelkan tangan ke dadanya.
“Coba tarik nafas.” kataku, dan Yatno tarik nafas.
“Gimana masih nyeri?”.
“Alhamdulillah sudah enakan kang”.

“Syukur kalau begitu, awalnya bagaimana kok muntah darah?” tanyaku.
“Gak tahu kang, dadaku kayak di palu rasanya, dan tiba-tiba aku muntah, dan ku lihat kok darah” cerita Yatno.
“Mungkin kamu kebanyakan ngerokok, mbok ya di kurangi ngerokoknya”.
“Aneh kang aku selalu ingat dengan pacarku yang Semarang, rasanya kayak di pikiranku tak mau hilang”.
“La kamu selama ini bagaimana? Apa kamu masih aktif kirim uang? Lalu istrimu yang di Jawa Timur bagaimana?” tanyaku.
“Aku masih kirim uang ke pacarku kang, dan aku sudah cerai dengan istriku waktu cuti kemarin, jadi aku sekarang duda”.

“Rupanya kamu tak mau mendengar nasehatku dulu ya”.
“Maaf kang”.
“Jika ku katakan kalau pacarmu itu sudah punya kekasih di Semarang sana, dan uang yang kamu kirimkan itu dipakai modal yang-yangan tiap hari, dan pacarmu itu dalam waktu dekat ini akan menikah, apa kamu tak apa-apa?” kataku.
“Tak apa-apa kang, aku cinta dia kok”.
“Cinta dia? Wah ndak beres kamu, harus dibersihkan”.
“Di bersihkan bagaimana kang?”.
“Ya masa ada lelaki cinta perempuan, perempuannya nyeleweng, eh kok masih cinta dan mandah saja tetap kirim uang” kataku geleng-geleng kepala.
“Aku tak mengerti kang” kata Yatno.
“Ya kamu itu sudah didukunin” kataku, dan ku ambil air mineral, lalu ku tiup.
“Ini kalau tak percaya, minum air ini”.

Lalu Yatno meminum air yang ku berikan, lima menit kemudian,

“Kang, dadaku panas, panas sekali kang! Aduh tolong kang!” kata Yatno memelintir-melintir memegangi dadanya yang katanya panas.

Ku tempelkan tanganku di dada Yatno, lalu rasa panas di dadanya ku ambil, dia mulai tenang.

loading...

“Kamu itu di gendam sehingga kamu nurut saja, mau saja mengirimkan uang kepada pacarmu, itu sama sekali tak wajar, coba bayangkan ngirim uang tiap bulan tujuh juta rupiah kepada orang yang tak punya ikatan resmi, apa namanya wajar?”.
“Iya kang, malah aku sendiri sudah tahu kalau pacarku itu sudah punya lelaki dan dia akan menikah dengan lelaki yang disukainya, malah dia juga selalu cerita kepadaku, malah setiap selesai hubungan dengan lelaki itu dia cerita padaku, anehnya aku makin cinta, dan tak bisa membencinya”.
“Nah dari situ kan sudah kelihatan anehnya, kalau apa yang kamu alami ini tidak wajar”.

“Kalau begitu tolong aku kang, aku tak mau kalau diputuskan oleh pacarku itu, kalau diputuskan lebih baik aku mati” kata Yatno.
“Kata-kata yang kau ucapkan itu masih dalam pengaruh gendam, coba ambil air biar ku isi” kataku yang masih duduk di depan laptop.
“Ini airnya kang” kata Yatno menyerahkan air padaku.

Lalu air ku isi, dan ku serahkan lagi pada Yatno.

“Ini minum sebagian, dan sebagian lagi kamu pakai mandi” kataku, yang segera di praktekkan Yatno.

Selesai mandi dia datang lagi padaku.

“Aneh kang kok pikiranku sekarang plong, dan aku rasanya benci sekali dengan pacarku itu” katanya.
“Ya begitulah kalau sadar, tapi nanti dukunnya akan merasakan benturan kekuatan, sehingga dia akan berusaha menyerang balik, tak apa-apa asal kamu di dekatku insya Allah tak apa-apa” kataku.

Baru saja lampu ku matikan, dan aku mau berangkat tidur tiba-tiba “DAR!” ledakan dahsyat bola api pas di depanku jarak satu meter, api berhamburan seperti kembang api, jelas ini santet yang diarahkan padaku, aku tahu ini dukun yang mengerjai Yatno. Yatno datang mengetuk pintu, karena aku mau tidur jadi pintu ku kunci, Yatno masih memakai pakaian kerja, rupanya dia kerja malam.

“Aduh kang, badanku panas sekali” katanya.

Memang waktu Yatno masuk ku rasakan hawa panas dari tubuhnya.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 46.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET