Kisah Sang Kyai Guru Bagian 47 - 212 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 46.

“Kalau di masjid, banyak orang yang tak ku kenal menyalamiku” kata Muhsin.
“Ya sudah jangan di pikirkan, anggap saja biasa, mengalami hal apapun yang paling aneh sekalipun anggap saja biasa, sebab tujuan diri bukan menemukan hal aneh atau ganjil, tapi tujuan diri adalah penghambaan pada Allah dalam setiap tarikan nafas” jelasku.
“Iya mas, mohon selalu di bimbing”.

Setiap kesempatan, setiap waktu berbuat baik jika bisa, itu yang selalu ku pegang, entah apa hasil akhirnya, yang penting kita berusaha berbuat baik, seikhlas kita mampu ikhlas, orang lain entah berpendapat apa, itu urusan orang lain, yang penting kita berusaha selalu di jalur yang di ridhoi Allah, jika keluar jalur dan cepat-cepat kembali, selalu membiasakan diri bertaubat, membiasakan diri selalu merasa bersalah di hadapan Allah, karena kenyataannya kita itu manusia yang selalu salah, tempat salah dan dosa, jadi selama kita manusia pastilah masih ketempatan salah, seperti kita kalau mandi selama kita manusia jika mandi wajarlah ada dakinya, asal kita tak bosan menggosok diri, selamanya menggosok diri, seperti besi pasti berkarat, asal kita tak malas mengasah, karat juga pasti akan hilang, dan timbul lagi, kecuali kita sudah jadi Tuhan, dan kita bukan Tuhan, kita itu manusia yang selalu berusaha menjadi manusia yang menghamba sampai akhir hayat kita.

loading...

“Sudah mas, sudah di sediakan airnya” kata Yono.
“Lalu soal tulang anjing itu bagaimana mas, soalnya ini kata istri yang sakit malah sampai ke saudara-saudaraku” cerita Yono.
“Ya kalau itu harus di hilangkan kekuatan hitamnya, ya nanti ku buatkan pagar batu untuk di tanam sebagai pelawan dari kekuatan hitam tulang anjing itu” kataku.
“Iya makasih mas sebelumnya”.

Pulang dari jum’atan, aku ketemu Yono.

“Gimana mas Yon, anaknya sudah sehat?” tanyaku.
“Belum mas, la airnya sama mertua lelakiku ndak boleh di minumkan ke anakku, katanya terlalu kuat” jawab Yono.
“Terlalu kuat bagaimana?”.
“Ya mertua lelakiku kan juga biasa di mintai tolong orang, dia biasa mengamalkan nyepi-nyepi gitu mas, la kata dia air transferan mas itu katanya terlalu kuat, takutnya bahaya ke si anakku”.
“Hm aneh, itu kan sudah ku perkirakan untuk anak kecil, sudah di minumkan saja, setutupnya, ya kalau mertuamu memang bisa, kenapa ndak dia yang nolong, aneh-aneh saja”.
“Maaf mas, jadi ndak enak”.

Habis maghrib, Yono main ke kamar,

“Ini ada rokok Indonesia mas” katanya menaruh rokok di meja.
“Kok dapat rokok Indo dari mana?” tanyaku.
“Tadi ada sopir truk dari Indonesaia, pengangkut semen, dia bawa rokok” jelas Yono.
“Bagaimana kabar istri dan anaknya? Sudah sehat?” tanyaku.
“Alhamdulillah, setelah minum air yang dari mas, kata istri langsung enakan, juga si kecil langsung di bawa pulang dari rumah sakit” jelas Yono lagi.
“Ya syukur kalau gitu”.

Kamar di ketuk lagi.

“Masuk!” kataku.
“Wah ada mas Yono” kata Romadhon, pekerja dari NTT.
“Ada apa Dhon, tak biasanya main ke kamarku?” tanyaku.
“Biasa mas, kayak yang lain, mau minta tolong” jawab Romadhon.
“Soal apa?”.
“Soal ibu saya mas”.
“Kenapa ibunya?”.
“Sakit mas”.
“Apa sakitnya, wah aku jadi malah kayak dokter, hahaha”.
“Wah kalau dokter manapun ndak ada yang bisa ngobati dari jarak jauh” sela Yono.
“Sakitnya di kepala mas”.
“Pusing gitu?”.
“Iya”.
“Ya minum saja panadol” kataku.

“Sakitnya terus menerus mas, sudah di bawa ke dokter juga tetap tak sembuh” jelas Romadhon.
“Wah bahaya itu”.
“Bahaya bagaimana mas?”.
“Ya bahaya, apa kamu punya masalah soal tanah di rumah, maksudku tanah rebutan keluarga gitu?”.
“Iya mas, tanah warisan jadi rebutan”.
“Bisa kamu sekarang telepon ibumu?” tanyaku.
“Sebentar biar ku hubungi”.
“Coba hubungi, lalu suruh duduk menghadap ke barat, biar penyakit di kepalanya ku tarik dari sini”.
“Apa bisa mas ditarik dari sini”.
“Ya bisa tidak bisanya kan belum tahu, nanti saja di lihat perkembangannya” kataku.
“Baik mas saya hubungi” kata Romadhon.

Aku menunggu Romadhon menghubungi ibunya, sementara aku ngobrol sama Yono.

“Wah aneh sekali ya kelebihan mas Ian?” tanya Yono.
“Ah tak aneh, sebenarnya semua orang juga bisa, asal mau menjalankan lelakunya, aku sendiri juga tak memiliki kelebihan apa-apa” jawabku.
“Apa mungkin semua orang juga bisa mempunyai kelebihan seperti itu?”.

“Semua orang bisa, syaratnya jelas Islam, mau menjalani lelaku, dan mau menuruti apa saja yang di tunjukkan oleh guru pembimbingnya, sebenarnya teorinya cuma mendekatkan diri pada Allah, lalu Allah mengijabah do’a kita, jadi kalau seperti aku sendiri, jelas tak punya kelebihan apa saja, do’a itu kan kekuatan kita, karena meminta pada Allah, dan murni meminta pada Allah, tidak lewat jin, atau khodam, atau malaikat sekalipun, makanya ijabah tak menunggu hari atau bulan atau tahun, tapi bisa seketika di ijabah, tergantung kedekatan diri pada Allah, jadi kuncinya mendekatkan diri pada Allah, jika sudah dekat, maka ijabah Allah itu tidak terhalang, kalau berhalangan namanya bukan Allah, Allah itu ‘ala kulli syai’ing qodir, sanggup melakukan apapun, jadi tak terhalang mengijabah do’a kita, kok do’a kita tak terijabah, berarti bukan Allah yang terhalang, tapi kitalah yang tak ikhlas, tak mau mendekatkan diri pada Allah”.

“Mendekatkan dirinya itu yang sulit mas” kata Yono.
“Ya kan sudah ada guru yang mengarahkan, jika diri mengikuti arahan guru, maka proses juga tak akan lama. Proses menjadi lama itu karena diri masih tertawan dengan nafsu, dengan ego, merasa diri sok mulia, merasa diri lebih dari orang lain, punya suara merdu saja sudah gaya, punya kegantengan sedikit sudah engkek, punya kekayaan sedikit sudah petentang-petenteng, dan berbagai macam kelebihan yang akhirnya menjadikan diri malah punya banyak kekurangan, tak ada manusia yang mulia, kecuali manusia yang terpilih memang mulia, seperti Nabi Muhammad, kalau diri merasa lebih dari orang lain, ya susahlah di ajak maju”.
“Sudah mas, ibu saya sudah duduk menghadap ke barat” Kata Romadhon.

Aku segera konsentrasi, menyatukan daya, do’a, dzikir, menyatukan ingatan pada sang pemberi kesembuhan yaitu Allah, lalu mengirim konsentrasi dalam satu titik, yaitu sakit di kepala Ibunya Romadhon, dan meminta pada Allah agar penyakit di kepalanya di buang. Setelah selesai penarikan, aku berkata pada Romadhon.

“Coba sekarang, kamu telepon ibumu, tanyakan sudah enakan belum” kataku pada Romadhon.

Lalu Romadhon menelpon pada Ibunya, dan kemudian selesai.

“Sudah enakan mas katanya, katanya kayak ada hawa dingin masuk ke kepalanya, dan ada sesuatu yang seperti tertarik keluar”.
“Benar sudah enakan?”.
“Benar mas”.
“Ya syukur kalau gitu, moga saja sembuh” kataku.

Malam sudah makin larut, ada beberapa ledakan di luar kamar, menghantam tembok, risih juga sering-sering mendengar ledakan, walau santet tak mengenaiku, tapi kadang pas tidur ada ledakan bikin kaget juga. Suara ketukan pintu, pasti si Yatno, biasa pasti dia kesakitan. Benar dugaanku, Yatno masih memakai pakaian kerja, dan masih penuh debu.

“Ada apa lagi No?” tanyaku setelah membukakan pintu dan membiarkannya masuk kamar.
“Aku rasanya tak kuat kang!” kata Yatno memelas.
“Sakit lagi?” tanyaku.
“Dadaku rasanya kayak di remas-remas kang, aku ingin bunuh diri saja, aku ingin mati saja, aku tak kuat kang!” kata Yatno.
“Hehehe, dulu, sudah ku katakan kalau kamu akan mengalami masalah seperti ini, kamu juga tak mau percaya, memangnya mati akan menjadikan masalahmu selesai? Kamu akan malah di siksa sampai hari kiamat No” kataku.
“Tapi aku tak kuat kang, di dalam pikiranku selamanya kok ya bayangan cewek itu melulu”.

“Ah kamu ini cemen, cengeng”.
“Ya tapi ini juga gak wajar kang”.
“Makanya kamu jangan kalah, permasalahan sebenarnya bukan dari luar dirimu No, tapi dari dirimu sendiri”.
“Lho kok malah sampean nyalahkan aku to kang”.
“La kalau tak menyalahkanmu, memangnya aku nyalahkan kambing, ayam, bebek” kataku.
“Ya maksudku kan aku yang di kerjain kang”.
“Ya kamu kan tak akan di kerjai, jika batinmu kuat, keteguhanmu mantap, la kamu cengeng, sok main cewek, tapi tak tahan banting, aku dulu cewekku banyak tapi ndak seribut kamu” kataku agak jengkel.

“Ya sudah aku nurut sampean” kata Yatno.
“Nah kalau nurut aku, ini ku kasih dzikir, ini amalkan, kalau tak kau amalkan, jangan salahkan kalau kamu benar-benar jebol di santet” kataku.
“Baik akan ku amalkan kang” kata Yatno.
“Jangan baik-baik, ini serius”.
“Iya kang, tapi di bantu ya”.
“Apa aku kelihatannya tak membantumu? Coba lihat siapa orang Indonesia yang perduli dengan nasibmu?”.

“Coba lihat, aku ini bukan saudaramu, kenal juga di Saudi sini, bukan sanak, bukan kadang, bahkan hubungan kerabat sama sekali tak ada, mau membantumu, kira-kira apa yang aku harap darimu? Ndak ada kan? Juga aku membantu pada yang lain, apa aku agar tenar, terkenal? Coba di angan-angan, apa aku pernah meminta pada yang ku tolong? Se-real saja tak minta kan? Kemana-mana juga aku bayar sendiri, sebab aku yakin, yang aku lakukan akan mendapat balasan dari Allah, jadi bukan karena harapan yang tak seberapa dari manusia”.

“Iya kang, aku ngerti, kalau ku mintai bantuan lagi mau gak kang?”.
“Aku ada teman perempuan, yang sering di pukuli suaminya, karena suaminya sering main saham, awalnya sih kaya karena main saham, tapi belakangan malah bangkrut, dan karena itu malah sering mukuli dan membentak-bentak istrinya, di bilangnya istrinya membuat dia sial lah” cerita Yatno.

“Sekali ini aku mau membantu, tapi lain kali tidak, bukan aku tak mau, tapi aku juga manusia biasa No, bukan seorang superman yang semua masalah bisa ku selesaikan, kalau mau membantu orang lain, bantulah semampumu, misal kamu melihat seorang nenek-nenek membawa sekarung beras, lalu kamu ingin membantu, lalu kamu menyuruhku mengangkut karung itu, la kalau jalan sama kamu, ketemu nenek-nenek seratus bawa karung beras semua, lalu semua karung beras kamu suruh mengangkat aku semua, bukankah aku akan mati ketiban karung?”.
“Iya juga yo kang”.

“Semua orang punya problem No, aku sendiri juga punya keluarga, aku punya anak, dan tentu anakku tak mau ku kasih makan angin, jadi ya aku membantu selama aku bisa, aku sendiri kan juga ngurus keluargaku, semua orang punya problem dan punya masalah dalam keluarganya, dan Allah tak membebankan masalah di atas kesanggupan seseorang, jadi sudah cukup kamu mampu menyelesaikan masalahmu, jangan lantas kamu mencari masalah orang lain kau timpakan masalahnya kepadaku, sekalipun aku kuat, aku kan butuh juga menghidupi keluarga, bekerja, sebab aku bukan Allah, mintalah penyelesaian masalah pada Allah, jangan padaku” kataku panjang lebar.

“Lalu bagaimana temanku itu kang?”.
“Suruh saja sedia air, nanti ku transfer ke air, kalau lelakinya sedang marah siram saja dengan air itu, ingat jangan mencari masalah orang lain, lalu kau timpakan padaku”.
“Iya kang!” jawab Yatno.
“Jangan iya-iya, jangan menjadi calo, kalau kamu memang tak bisa menolong orang lain, maka tak usah sok-sokan bisa menolong tapi menggunakan tangan orang lain, biar kamu dapat nama”.
“Aku ndak mencari nama kang”.

“Ya tak mencari nama juga, kamu menyusahkan aku, walaupun aku tak mengharap apa-apa juga, aku ini kan juga manusia wajar, butuh makan, butuh keperluan untuk hidup, jadi aku juga butuh menjalankan pekerjaanku sendiri, walau aku ikhlas, tapi bukan berarti kamu boleh kemana-mana mencari orang yang perlu kamu tolong, lalu menimpakan padaku, itu namanya calo, ya kalau kamu mau menolong orang lain, tolong dengan kedua tangan dan kemampuanmu, ayahmu saja kamu ajak kemana-mana, lalu kamu suruh kalau ada orang punya hutang, ayahmu kamu suruh bayarin, apa ayahmu mau, sekalipun ayahmu kaya tujuh turunan, uangnya pasti habis, Raja Saudi yang kaya raya, kamu ajak ke Indonesia, lalu ngasih makan seumur hidup semua gelandangan di Indonesia, tak akan mau”.

“Wah kok sampai raja Saudi segala kang, aku kan gak ngajak raja Saudi”.
“Ya namanya juga perumpamaan, aku mau memperumpamakan siapa kan asal kataku saja”.

Memang kadang banyak dan sering ku temukan, seseorang yang mengambil kesempatan, biasanya akan menyodorkan tetangganya, mas ini ada tetanggaku yang sakit, ada temanku, ada orang desaku, ada teman satu kantorku, ada, ada, ya di mana tempat juga ada, jika satu orang yang kenal aku kemudian membawa 100 orang untuk aku do’akan, dan temanku ada seribu, bukankah aku bisa ndak kerja, seharian berdo’a juga belum cukup bisa menyelesaikan semua. Ck-ck dan kenyataannya sampai sekarang teman-temanku seperti itu ada, entah untuk mencari nama untuk pribadinya, atau entahlah.

Memang di dunia ini banyak sekali orang berpikiran aneh, pantas Kyaiku sendiri selalu menghindar, menyembunyikan diri, karena banyak orang yang memanfaatkan kelebihan yang di miliki, aku malah pernah orang membawa kartu undian, minta di tiup, agar undiannya menang, atau orang minta di do’akan agar ayam aduannya menang, edan, gak berotak, memang kebanyakan orang selalu menilai orang lain dengan porsi akalnya, dan nyatanya banyak orang yang berpikiran dangkal, masa ya minta pada Allah hal-hal yang di haramkan, malah ada yang minta agar bisa menaklukan hati si cewek ini, untuk istri kedua.

Aku sendiri sering mengalami hal itu, di mintai seperti itu, ya kalau untuk kesenangan kenapa ndak usaha sendiri.
Ingin mendapatkan jabatan, menjadi DPR, ah memang manusia yang tamak, selalu menilai orang lain dengan dosis ketamakannya. Lalu berusaha orang lain di berusahakan membantu apa yang di tamakkannya akan tercapai.

“Mas aku kecelakaan” suara Muhsin di ponsel, dia sedang cuti dan berada di Indonesia.
“Kecelakaan di mana, kecelakaan motor?”.
“Bukan, tapi kesetrum listrik”.
“Bagaimana ceritanya kok sampai kesetrum listrik?” tanyaku.

“Aku kan bersih-bersih rumah baru, ya ku siram semua pakai air, rumah yang tak ku tempati kan semua kabelnya di curi orang, jadi minta ijin PLN listriknya ngambil langsung dari lonceng, untuk sementara, terus kabel semua yang masang pamanku, kok masang kabel sanyo pasangannya kebalik, yang ada setrumnya kok colokan yang lelakinya”.
“Maksudnya yang lelakinya?”.

“Ya itu yang ada colokannya, yang kabel tak ada colokannya malah tak ada listriknya, pas aku cabut jeknya, langsung tanganku kesetrum, apalagi di bawahku penuh air menggenang karena di tengah dapur, aku kibas-kibaskan kabelnya nempel di tanganku, aku terbanting di lantai yang penuh air, montang manting ndak karuan, lalu aku ingat mas, aku ingat mas pernah bilang, jika mengalami apapun yang berbahaya, atau membahayakan diri, maka upayakan ingat Allah, dan minta pertolongan padanya, lalu aku ingat saja pada Allah, aku membaca takbir sekuatnya, dan aku pingsan, tapi kok aneh, aku sadar sudah menggeletak di tempat yang kering, tapi tubuhku penuh luka, dan di tanganku ada bekas menancap lubang bekas colokan, ini aku di rumah sakit” cerita Muhsin.

“Syukur kalau masih selamat” hiburku.
“Aku di do’akan ya mas, biar lekas sembuh, dan biar bisa selekasnya kembali ke Saudi” kata Muhsin.
“Iya insya Alloh, semoga Allah memberi kesembuhan”.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 48.

Whatsapp: 0852 1406 0632