Kisah Sang Kyai Guru Bagian 48 - 310 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 47. Di tempat kerja, seorang pekerja bertubuh tinggi masuk ke ruanganku. Aku sering memanggilnya Towil, karena tingginya, aku sendiri cuma seketiaknya.

loading...

“Ya syaikh, bagaimana kabarnya?” kata Towil menyapaku.
“Baik, kamu sendiri bagaimana kabarmu Towil?” tanyaku balik.
“Baik syaikh”.
“Syaikh apaan?”.
“Ya syaikh ya guru besar, seorang guru besar saja belum tentu bisa seperti kamu bisa, setahuku kamu apapun bisa, dari ilmu kitab, ilmu bekerja, ilmu komputer, bahkan ilmu mengobati” kata Towil.

“Aku sebenarnya tak semua bisa, tapi aku hanya mungkin lebih percaya diri dari orang lain, orang yang percaya diri itu selalu kelihatan bisa karena percaya diri itu akan menimbulkan aura keyakinan di wajah, sehingga menjadikan orang lain yang memandang menjadi yakin karena terpengaruh oleh kepercayaan diri yang kita bawa, orang percaya diri yang bukan dari kelebihan yang di miliki tapi percaya diri karena Allah, percaya Allah akan melindunginya, akan menjaganya, la khaufun alaihim walahum yakhzanun, tak ada rasa takut, kuatir, sedih, susah, tentu beda dengan orang yang percaya diri karena harta, kedudukan, kepintaran, ketampanan, skill, ketinggian”.

“Wah nyindir aku nih”.
“Tidak juga, itu kenyataan”.

“Mungkin kalau kau pendek, mungkin tak sepercaya diri, karena kau tinggi, lalu membuatmu bersikap beda karena merasa tinggi, benar tidak? Jujur saja, kita itu tak akan menjadi berkembang maju, jika tak jujur pada diri, untuk memperbaiki perubahan ke depan, pertama, sadari kekurangan, lalu maju ke depan, jika sudah tidak mau mengakui kekurangan, bagaimana mau menutup kekurangan, hanya membanggakan apa yang dimiliki saja, sehingga sibuk membanggakan diri, dan tak sempat mau menambah pengetahuan, dan menolak kemauan dari luar, ya jadinya seumur-umur begitu-begitu saja”.
“Ya Syaikh! Aku di angkat jadi murid ya” kata Towil.
“Datang saja ke kamarku kalau mau belajar”.
“Pasti Syaikh, saya akan sering datang” kata Towil yang asli dari Yaman itu.

Hampir waktu istirahat siang, bulan Romadhon, sebenarnya ini cuti ketigaku, tapi aku tak mengajukan cuti, karena aku akan langsung mengajukan pengunduran diri, jadi ingat cutiku di tahun kemarin tepatnya setahun silam, beberapa hari aku mau cuti lagi beres-beres ruang kerja, Munif masuk ke ruanganku.

“Lagi beres-beres mau cuti?” tanya Munif.
“Iya”.
“Aku mau nitip boleh?” tanya Munif lagi.
“Nitip dari sini apa dari sana ke sini, asal jangan nyuruh bawain istrimu kesini” candaku.
“Aku mau nitip dari sini” jawab dia.
“Ya di bungkus saja yang rapi, kalau tak terlalu berat pasti ku bawa”.
“Ringan kok. Kamu enak ya?”.
“Enak apanya?”.
“Ya enak, kerjanya di ruangan, ber AC, gak kepanasan kayak aku”.

“Di syukuri saja, aku ber AC, dalam ruangan tapi kan gajiku kecil, tak ada lemburan, kalau kamu banyak lemburan, pendapatan lemburannya saja di atas gajiku, jadi kalau merasa kurang, selamanya manusia itu terasa kurang saja, wong kui sawang sinawang, melihat orang lain enak, kalau menurutku di syukuri saja, semua ada bagiannya, manusia itu tak akan mati sebelum menghabiskan rejekinya, sebelum menghabiskan jatah nafasnya, kalau sudah jatahnya habis, setengah nafas juga tak akan bisa di beli, walau dengan uang seberapapun, makanya di syukuri”.

“Rejeki, ajal, itu ketentuan Allah, tak bisa dimajukan dan tak bisa di undur, semua sudah pasti”.
“Yang tak bisa memajukan dan memundurkan menambah dan mengurangi itu manusia, tapi kalau Allah ya bisa” jelasku.
“Lho kalau bisa dimajukan dan dimundurkan itu berarti Allah membantah firman-Nya?”.
“Lho kan yastaqdimuna sa’atan wala yasta’khiruna, itu kan rujuk jamak, maksudnya manusia semua itu tak bisa memajukan dan tak bisa memundurkan, kalau Allah ya terserah Allah, mau memajukan atau memundurkan itu kan hak mutlak Allah, karena sifat Dia ‘ala kulli syai’ing qodir, jadi Allah tidak membantah pada firman-Nya, sebab firman itu ditujukan pada manusia, jadi harus di pahami itu”.

“Berarti apa perlunya firman kalau ajal itu tidak bisa dimajukan dan dimundurkan walau sesaat?” tanya Munif.
“La Qur’an itu kan turun untuk memberi petunjuk bagi orang yang bertaqwa, ya jelas maksudnya untuk memberi petunjuk bagi orang yang bertaqwa, memberi petunjuk kalau ajal itu hal yang sudah di tulis, ditentukan, digariskan, jadi manusia itu pasti mati, dan kematiannya sudah dipastikan, tapi bukan berarti Allah tak bisa merubah apa yang telah dia tentukan, ya kalau tak bisa lagi merubah sekehendak-Nya, ya berhenti jadi Allah, kekuasaan Allah itu tak terbatas, tak bisa di ganggu gugat, dan apapun yang akan Allah lakukan maka tak salah, karena Dia yang menciptakan, mau menghancurkan atau membuat itu terserah Dia”.

“Kalau menurutku ya tidak begitu, kalau umur yang sudah ditentukan ya sudah tak bisa di ubah” kata Munif ngotot.
“Ya kalau Allah tak bisa merubah, kan waman aroda syai’an aiyaqula lahu kun fayakun harus di hapus dari ayat Qur’an”.
“Menurutku rejeki, ajal, jodoh, itu sudah tak bisa di ubah” otot Munif.
“Gini saja, jika kataku ini benar, bahwa Allah itu mampu memajukan ajal, dan memundurkannya sekehendak-Nya, berani tidak kamu bulan depan mati, dan jika menurut pendapatmu bahwa Allah itu tak sanggup memajukan dan memundurkan ajal, moga-moga aku bulan depan mati” kataku agak emosi.
“Ya tak bisa seperti itu, itu tak bisa di buat ukuran kebenaran” katanya.
“Ya kita lihat, bulan depan” kataku.

Malamnya seperti biasa bila ada yang cuti semua pada main untuk mengucapkan selamat jalan. Dan saat malam telah larut, jam satu malam, tinggal dua tamu di kamarku, yaitu Muhsin dan Umam, di malam itu Munif mengetuk pintuku.

“Aku minta maaf” kata Munif
“Wah dramatis banget ada apa?” kataku melihat wajah Munif yang sedih.
“Iya siapa tahu kita tak ketemu lagi”.
“Wah aneh- aneh saja kamu Nif”.
“Iya siapa tahu kamu tak kembali lagi ke Saudi.”
“Aku kembali lagi kok, kan aku belum hajian, rugi lah jauh-jauh dari Indonesia ke Saudi kalau tak hajian”.

Baru setengah bulan di rumah, aku mendengar kabar Munif meninggal dalam kecelakaan, ceritanya, para pekerja di kirim ke pabrik satunya, sebenarnya Munif bukan salah satu pekerja yang di kirim, jadi dia tak tercatat sebagai salah satu pekerja yang di kirim, tapi salah satu pekerja yang di kirim mengalami halangan, maka Munif yang dijadikan ganti, semua pekerjaan sudah diselesaikan, dan pekerja akan pulang ke pabrik asal, tapi busnya mogok, maka di sewalah bus lain, di saat menuruni jalan gunung yang curam, bus remnya blong, sopir membanting setir agar bus tak menghantam jurang, tapi bus malah menghantam dinding gunung.

Lalu terguling ke arah dinding gunung, dan terbanting lagi ke aspal, dan terseret sampai dua ratusan meter, karena terbanting-banting, sehingga penumpang menimpa penumpang lain, sehingga yang di bawah, terkena aspal dan pecahan kaca, ada yang tangannya hancur sampai siku, ada yang semua jarinya lepas, ada yang sebagian wajahnya terkelupas, Munif tak terluka sama sekali, tapi dia yang meninggal, setelah aku kembali cuti, jasad Munif tak bisa di urus kembali ke Indonesia, dan dimakamkan di Saudi, itu juga menunggu tiga bulan, sebab cutiku tiga bulan, aku menyesal telah berkata yang keras kepada Munif, tapi nasi sudah menjadi bubur, memang seharusnya aku bisa menjaga lisan, walau semua adalah ketentuan Allah, tapi aku amat merasa bersalah sekali, semoga amal ibadahnya di terima di sisi Allah.

Ponsel berdering, ku lihat nomor yang tak ku kenal, ku angkat, suara seorang wanita.

“Siapa ini?” tanyaku.
“Aku Ibu Sarah”.
“Ibu Sarah siapa?” tanyaku lagi.
“Aku seorang TKW” katanya.
“Oh, maaf bu, aku tak ada waktu bicara yang tak perlu” kataku dan ponselku matikan.

Aku tak mau terjebak oleh telepon-teleponan dengan TKW, hanya melakukan perbuatan yang sia-sia saja. Tapi ponsel berdering lagi, dan ku lihat masih nomor yang sama.

“Iya bu, ada apa?” tanyaku dengan nada tak suka.
“Anu nak, ibu mau minta tolong”.
“Minta tolong apa bu?” tanyaku.
“Terus terang aku tak tahu lagi harus minta tolong pada siapa, maka aku coba mengacak nomor telepon, kok yang keluar nomor anak ini, namanya siapa?”.
“Saya Febrian” jawabku.

“Nak Febrian, saya minta tolong, ya setidaknya minta do’a, saya sangat tertekan sekali dengan majikanku, yang orang si’ah, yang suka memukulku, menyiksaku, bagaimana ini nak”.
“Oh, ibu tenangkan diri, coba perbanyak dzikir basmalah, nanti ku bantu supaya majikan ibu menjadi baik, dan tak suka menyiksa” kataku.
“Berapa kali saya harus wirid basmalah nak?”.
“Ya sebanyak yang ibu mampu, dua belas ribu juga boleh kalau mampu, atau lebih, nanti ku do’akan dari sini” kataku menghibur.
“Iya nak, ternyata tak salah aku mengacak nomor telepon, terima kasih nak” kata Sarah.
“Tapi ingat ya bu, jangan menyumpahi majikan ya”.

Ponsel mati, sepertinya pulsa habis. Jika Allah menjamin sesuatu, maka berarti Allah telah menempatkan segala sesuatu sebagai pelengkapnya, itu suatu perencanaan Allah atas segala kejadian, sehingga semua sesuai dengan yang Allah kehendaki, dan Allah tak pernah membutuhkan sebab tapi Allah selalu membuat segala sesuatu seakan kejadian yang wajar yang masuk akal jika di cerna dengan ilmu pengetahuan, seperti garam yang asin, dan tersedia air laut yang bila di uapkan akan menjadi garam, kejadian dan kejadian lain itu saling berkaitan dan saling melengkapi, saling mendukung dan menyempurnakan, seperti orang membuat sambal tanpa garam tak enak.

Semua kejadian di rancang untuk bergerak dan saling membutuhkan, satu saja kurang kelengkapan itu maka tak akan terjadi, kita manusia yang wajib mempelajari maka tertemukan teori dan ilmu pengetahuan, walau sekedar membuat sambal, sambal tanpa cabe, maka tak akan enak, atau membuat mobil, mobil tanpa roda maka tak jalan.

Begitu juga jika Allah membuat syarat ubudiyah, penyembahan, penundukan hati dan ketundukan atas perintah, tak ada seorang pun yang akan bisa mengakali Allah, kecuali akan mengakali dirinya sendiri, tidak ada seorang pun yang menipu Allah, kecuali hanya akan menipu dirinya sendiri, sebab Allah telah melihat hati bahkan nasib seseorang, tembus terlihat jelas, maka dari pada menipu lebih baik jujur, kejujuran itu lebih menyelamatkan.

Pagi-pagi baru bangun tidur ponsel sudah berdering, dan kulihat ternyata Sarah.

“Ada apa bu?” tanyaku.
“Amalan dari anak sudah ku amalkan” kata Sarah.
“Lalu?” tanyaku.
“Ini nak, ibu kok jadi takut” kata Sarah.
“Takut apa bu?”.

“Gini, kemarin kan aku di marah-marahi sama majikanku lagi, sampai matanya melotot-lotot, lalu aku sumpahi, matamu copot, ya aku juga tak sadar bilang itu dengan bahasa Indonesia, dan majikanku tak tahu, la tadi pagi, aku nyapu, kok ku lihat di lantai menggelinding seperti kelereng, setelah ku teliti ternyata kok mata, mata majikanku itu lepas satu, ini bagaimana nak, ibu merasa berdosa, huu, ibu berdosa pada Allah” kata Sarah sambil menangis.

“Sudah bu, sudah yang terjadi ya biar terjadi, sekarang saya minta ibu berhati-hati menggunakan lisan, walau cuma bacaan basmalah, kelihatan sepele, dan anak kecil juga bisa, tapi basmalah yang ku berikan pada ibu itu ada sanadnya menyambung sampai Nabi, dari guruku, jadi ada kekuatannya, jadi saya minta ibu di jaga lisannya” jelasku.
“Ya maafkan aku nak” kata Sarah.
“Sudah bu, yang penting jangan di ulangi”.

Setiap manusia itu khalifah, pemimpin, dan setiap hati itu menjadi khalifahnya tubuh, sungai-sungainya adalah urat, patihnya adalah pikiran, dan tentaranya adalah semua indra, jika hati buruk, dengkian, sombong, angkuh, fanatik, pemaksa, ingin menang sendiri, pemarah, keras, jorok, cabul, maka di sungai-sungai urat akan mengalir berbagai limbah, dan pikiran juga akan mengupayakan kejahatan terencana dengan sempurna, dan orang lain yang berdekatan pasti merasa tak aman, semua akan tergaris jelas kepalsuan dan kecabulan juga kejahatan di wajah, makanya tak semua orang lantas dekat polisi merasa aman, dan tak semua orang dekat pengemis merasa takut.

Siapa saja yang belum bisa mengendalikan dan membersihkan dunia dalam tubuhnya, pasti akan menyebabkan orang lain yang berdekatan akan merasa tak nyaman. Jika seseorang telah mampu menjadikan hatinya jadi khalifah yang adil atas dirinya, maka orang lain yang di dekatnya akan merasa nyaman, dan senang berlama-lama di dekat orang tersebut, lebih nyaman dari berada di tepi aquarium ikan yang di dalamnya berbagai ikan berenang, sebab orang yang telah menjadikan segala gerak laku menjadi bersih dari pamrih dan selalu ikhlas, maka akan seperti pertamanan yang indah, keindahan memancar dari gerak, lisan yang penuh hikmah, ilmu yang mengalir seperti sungai bening, yang kelihatan dasarnya, dan angin yang bersahabat menjadi penenang tanpa obat.

Damai tanpa ujung pangkal, setiap pemikirannya adalah mutiara yang tak ternilai harganya, karena tiada keberpihakan pada kepentingan, dan keuntungan yang semu, dan semua orang itu bisa, menjadikan hatinya sebagai khalifah, sebagai pemimpin yang mengayomi dan menjaga seperti pohon yang jika di pakai berteduh akan menurunkan buah agar si peneduh melepas dahaga, tak usah menyalahkan orang lain, agar diri menjadi benar, dan tak perlu memerintah agar di ikuti, jadikan saja khalifah hatimu, mengatur benar semua perilaku, makanya belum dikatakan orang yang beriman, jika orang lain masih tak selamat dari perilaku dan prasangka burukmu, Allah itu dzat yang suci, bagaimana jika diri mau menggantungkan diri pada Allah, sementara hati masih di kotori oleh keinginan selain-Nya.

Musim haji telah tiba, dan Alhamdulillah perjalanan hajiku lancar, dan banyak hikmah ku petik di dalamnya. Setelah Hajian aku pulang ke Indonesia, semua sahabatku di Saudi ku tinggalkan, perjalanan panjang akhirnya sampai di bandara kepulangan. Aku beserta pak Ibrahim. Sampai di bandara Riyad, ternyata pesawat sudah mau berangkat.

Padahal harus booking tiket, sementara temanku pak Ibrahim sudah tua, dia sudah 20an tahun di Saudi, dan ini adalah kepulangannya yang terakhir, aku suruh pak Ibrahim di depanku, agar selesai lebih dulu booking tiketnya, tapi ternyata tiket di minta semua, dan anehnya tiketku yang di berikan dahulu, aku tunggu pak Ibrahim, tiketnya belum juga diberikan, setengah jam menunggu, seperti ada yang memberitahuku, kalau sebentar lagi pesawat akan berangkat.

“Pak aku tunggu dulu di ruang tunggu ya!” kataku pada pak Ibrahim.
“Iya tak apa-apa” jawabnya.

Aku segera bergegas ke ruang tunggu, sampai di ruang tunggu yang biasanya ramai banyak TKW, ini tak ada satupun yang duduk, seorang pilot yang biasa mengecek tiket pesawat menghampiriku.

“Mau pergi ke mana?” tanyanya dengan logat bahasa Arab.
“Mau ke Indonesia” jawabku.
“Ayo cepat sebentar lagi pesawat akan berangkat” kata pilot itu.

Dan aku segera bergegas ke pesawat, memang lima menit kemudian pesawat telah tinggal landas, aku tak tahu bagaimana nasib pak Ibrahim, dan ku tahu setelah sampai di Indonesia, kalau pak Ibrahim ketinggalan pesawat, dan menginap di hotel Riyad, di ikutkan pada penerbangan berikutnya. Sampai di Indonesia dengan selamat, dan bau rumah, serta kehangatan keluarga, baru dua harian di rumah, ada banyak tamu datang, ku kira tetanggaku, ternyata orang yang mau minta tolong, dengan berbagai keluhan sakit dan aneka macam masalahnya.

Ku pandangi laptop putihku, ada banyak kenangan di dalamnya, tapi sekarang di Indonesia, baru ku rasakan keberadaannya tak banyak memberi manfaat, dan aku jika di pakai nulis pun enakan memakai ponsel, jadi bisa di bawa kemana-mana, dan bisa nulis sambil tiduran.

Tapi bagaimanapun laptop ini telah banyak memberikan kenangan, teman-teman facebook yang seperti bintang gemintang, berkerlap-kerlip dengan beraneka ragam latar belakang kehidupannya, dan dari laptopku dulu ku berikan jawaban atas masalah di pesan facebook, atau di wapsite, dan websiteku, juga ku bimbing banyak orang yang menjadi murid internetku, walau kami tak pernah bertemu.

Ada banyak kisah dan cerita dari teman-temanku di internet, kisahku dan kisah mereka kadang seperti susu dan warna putih, tak bisa dipisahkan, walau tak di akui atau di akui, kita seperti air yang mengalir kemudian bertemu di satu sungai bernama persahabatan, lalu dipisahkan oleh kepentingan.

Tapi kami seperti para penjaga yang saling memperingatkan ketika lena, walau kadang bertemu itu seperti mimpi, mimpi mendapat selembar daun emas, yang tak laku kami belanjakan ketika terjaga, sebab daun emasnya hanya di mimpi saja. Ada banyak kisah, walau hanya sahabat Facebook, teramat banyak kisah, sampai aku kadang bingung mau menulis dari mana? Seperti teman wanitaku yang bernama Inayah, mengeluhkan karena lama sudah nikah tapi tak juga punya anak.

“Mas saya bisa di do’akan agar bisa dikaruniai momongan, saya sudah belasan tahun menikah tapi belum punya momongan” pesannya di facebookku.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 49.

Whatsapp: 0852 1406 0632