Kisah Sang Kyai Guru Bagian 51 - 134 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 50. Malamnya aku nyantai saja, seperti biasa dzikir setelah jam 12 malam, biasanya sampai subuh, tapi baru saja setengah jam aku duduk dzikir, serasa udara di kamarku tak enak, dan serasa hawa murniku menerobos keluar lewat punggung, aku coba menyetop, tapi serasa seperti punggung bagian atas berlubang, dan hawa murni terus saja merembes keluar, seperti udara dingin, wah ada apa ini, kalau kayak gini aku bisa lemas kehabisan hawa murni, ku coba menahan dengan dzikir dan konsentrasi, tapi tetap saja tubuhku lemas, dan makin lemas, dan rasanya terserang kantuk yang dahsyat, seperti aku di sirep.

Berulang kali sampai tanpa sadar duduk tertidur, padahal aku bukan orang yang seperti itu, tapi rasa kantuk benar-benar tak bisa kutahan, kadang tasbih yang ku pegang telah jatuh, atau kepalaku sudah menekuk hampir menyentuh lantai, lalu sadar, dan ku kibas-kibaskan kepala, agar rasa kantuk terusir, tapi tetap saja aku mengantuk, ah ini tak beres, aku coba baca dzikir penolak serangan, karena aku merasa ada serangan yang diarahkan kepadaku. Lalu ku tahan nafas, dan ku pukul lantai, sebentar serangan buyar, dan mataku seperti seketika terbuka, dan rasa kantuk hilang.

Tapi itu hanya sementara, serangan yang ku buyarkan seperti asap yang berputar lalu bertaut kembali, aku tertekan kembali. Dan tiba-tiba seperti ada gumpalan asap hitam melesat masuk ke tubuhku, aku terjengkang, dan muntah, memuntahkan isi perutku. Aku berusaha menahan muntahan yang tersisa, dan lari ke kamar mandi, dan semua isi perut, ku muntahkan, sampai perut rasanya ngilu dan nyeri, badanku rasanya seperti di lolosi, gemetar, dan rasa tak karuan, baru sekarang aku terkena santet dengan telak, sebenarnya aku yang terlalu menganggap ringan permasalahan, padahal aku sudah ditunjukan dalam mimpi musuhku kali ini bukan orang sembarangan, yang melakukan lelaku memakan bayi yang digugurkan, tapi aku menganggap angin lalu, sehingga aku terhantam, ini juga karena kecerobohanku.

Tiba-tiba ku rasakan di seluruh tubuh clekat-clekit, kayak ribuan jarum menyerang tubuhku, benar apa yang dikatakan Sohib, aku tak mau minta tolong pada siapapun, aku harus bersandar pada Allah, iman itu harus di uji, keteguhan harus dibuktikan, tawakal itu bukan cuma bicara. Ribuan jarum yang ku rasakan merajam tak ku perduli, aku melangkah berpegangan tembok, dan kembali ke kamar.

Aku kembali ke kamar pelan-pelan, takutnya membangunkan istriku, dan perlahan meletakkan diri di kasur, ku tata nafas, semua persendian rasanya seperti lepas, aku tak boleh menyerah, aku bersandar pada Allah, kalau pada syaitan kalah, mau ku kemanakan imanku, keyakinanku? Aku turun di keramik, tidur, tangan ku tempelkan pada keramik, segala pikiran ku konsentrasikan, lalu ku sedot tenaga inti bumi, dari keramik ku rasakan tenaga prana mengalir, memasuki tubuhku seperti menambal karet yang berlubang, mengalir menjejali dan menjejali, terus aku konsentrasi, serasa tubuhku mulai enak dan menebal, seperti ku rasakan mengeras setiap urat-urat dan kulitku kaku seperti bumi yang mengering.

Setelah ku rasa cukup aku bangkit, dan duduk bersila, menyatukan segenap daya kepasrahan, pada pemilik segala kekuatan. Ku konsentrasikan total seluruh dzikir, terus konsentrasi, sampai tak bergerak beberapa jam, lalu ku rasakan seluruh kekuatan telah melingkupi diriku, seperti kekuatan atom. Ku lontarkan kekuatan yang mengeram, mengembalikan semua santet yang dikirimkan padaku kembali pada pengirimnya, dengan mengucap takbir yang mengendap seperti endapan kekuatan memecah berhamburan, ja’al haq, wazahaqol batil, datang kebenaran pasti kemungkaran akan musnah, sebab kebatilan itu pasti musnah.

Aku tak tahu yang terjadi selanjutnya, yang penting aku tak merasakan lagi santet yang mencoba menyerangku. Segala anasir jahat semua musnah, musnah tanpa bekas.

“Hallo!” suara Sohib menghubungi.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kok tetanggaku banyak yang mati ya?” tanya Sohib.
“Ya kalau sudah sampai kontraknya habis di dunia, ya pasti mati” kataku bercanda.
“Ini yang mati, orang yang suka menyantetku kok” kata Sohib.
“La memang kalau suka menyantetmu gak boleh mati? Ya kalau sudah pada waktunya ya tetap akan mati” jawabku.
“Ya yang aneh kok yang mati yang pada menyantetku, apa tak aneh?”.

“Ya tak aneh, la ndak nyantet kamu, rombongan se-Bus bisa mati kok kalau kecelakaan nyemplung jurang, itu tandanya kadang orang mati juga bisa rombongan, heheheh” aku berteori ngawur sambil ngetawai Sohib.
“Eh ingin ketemu Kyai gak?” tanya Sohib.
“Aku ndak tahu sekarang Kyai di mana, ya jelas ingin ketemu, aku kan juga muridnya, memang kamu saja, mentang-mentang kamu sudah punya majelis, dan sudah punya murid dan jama’ah banyak, dan aku belum punya”.

“Ayo kalau ingin ketemu, nanti bareng ke Jakarta” kata Sohib.
“Memang Kyai di Jakarta?”.
“Iya”.
“Di mana?”.
“Di bengkel Macan” jawab Sohib.
“Ya aku entar malam berangkat” kataku.

Aku segera menyiapkan tas, rasa rinduku pada Kyai tak tertahan, aku ijin pada istri malam itu berangkat. Ini di tahun 2010 dan cerita masih berlanjut 2012 masih panjang. Jam sembilan malam aku berangkat ke Ponolawen, perempatan biasa kalau mau ke Jakarta, tapi bus yang berkarcis sudah pada berangkat. Ah terpaksa harus menyetop bus dari arah Semarang, biasanya kadang apes dapat bus yang sudah sesak penumpang, atau dapat bus yang jelek, suka mogok di jalan dan tak layak jalan, ya Indonesia seperti itu memang kenyataannya.

Jakarta-Pekalongan harga tiket biasanya 45 ribu, ada bus berhenti, dan menawarkan arah Jakarta, sebenarnya enakan kalau aku turun terminal Kampung Rambutan, tapi karena adanya terminal Kalideres juga tak apa-apa, memang kalau ke tempat Macan di Bambu Apus enakan ke terminal Kampung Rambutan, tapi tak apa-apalah dari pada nanti makin malam malah tak mendapat bus.

Aku dapat tempat duduk di tengah, semua kursi banyak yang kosong, dan bus lumayan jelek banget, tak ber AC, suaranya berisik, karena kacanya sudah banyak yang lepas, jadi membayangkan kalau seandainya orang Indonesia itu punya jiwa bisnis seperti di luar negeri, pelayanan konsumen itu di utamakan, untuk mendapatkan pelanggan, tapi jiwa orang yang santun telak membalik, seperti nasi kuning yang di balik dari tumplek di tanah, semuanya kembali ke hati, orang komunis saja bisa baik hati, kalau hatinya baik, dan orang Islam sekalipun akan jahat kalau hatinya nifak atau munafik.

Sebenarnya untuk berbudi pekerti yang baik itu manusia tak perduli Islam atau bukan Islam, asal dia mengukur dengan dirinya sendiri, maka pasti berahlak baik, jika suatu perbuatan tingkah laku, jika akan sakit dirinya dibegitukan orang lain, maka pasti orang lain juga sama akan sakit jika dibegitukan, maka tak mau melakukan itu pada orang lain, maka pasti orang akan menjadi baik budi pekertinya. Karena semua manusia itu sama porsinya, dalam rasa sakit dan kecewanya.

Jika kita itu di gigit orang lain, merasa sakit, maka orang lain juga akan sakit jika kita gigit, maka jangan dilakukan pada orang lain, kalau kita di tipu orang lain, tak mau, maka jangan menipu orang lain. Kalau menggigit mau, di gigit tak mau, ya tak beda kita dengan anjing. Kalau memakan mau dan di makan tak mau, sama dengan Harimau. Manusia itu juga mudah di tebak, selalu suka menutupi kekurangan, dengan menunjukkan apa yang dia dalam kekurangan itu, orang yang keringetnya bau, akan suka memakai pewangi berlebih, orang yang pendek akan suka memakai sepatu berhak tinggi, orang yang minim bahasa arabnya akan suka bicara memakai istilah banyak bahasa arab, orang yang ilmunya cetek, setiap bicara akan mengait-ngaitkan dengan ilmu sare’at, orang yang kepahamannya dangkal akan suka manggut-manggut dan suka tertawa bila teman bicaranya tertawa. Orang miskin akan bergaya sok kaya.

Sebab orang yang tinggi itu tak akan menunjukkan ketinggian tubuhnya, orang yang paham bahasa Arab itu tak perlu menunjukkan kepahamannya, orang yang pintar agama, tak usah bicara juga orang akan tahu dari perbuatan wira’inya menjaga dari melanggar hukum agama. Jadi gampang sebenarnya mengetahui karakter kekurangan seseorang itu di bidang apa. Kondektur menghampiriku, ku berikan uang 45 ribu.

“Kurang mas” kata kondektur itu.
“La berapa?” tanyaku.
“75 ribu” jawabnya.
“Lho apa sesuai dengan nilai kerusakannya?”.
“Kerusakan apa mas?” tanya kondektur.
“Ah tak apa-apa” kataku lalu memberikan uang 30 ribu.

Kondektur berlalu, dan aku mengukur, jika terjadi tabrakan aku juga bertempat di tengah, tak apa-apa, pikirku. Lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, dan memilih tidur. Sampai di tol Cikampek, aku terbangun seperti ada yang membangunkan, lalu aku duduk agak merendahkan kepala, dan “dar! Dar!” suara tabrakan bus, dengan truk di depan, jadi bus menabrak belakang truk, benturan keras sampai 5 kali, kaca depan semua habis, berhamburan, ku dengar kaca beterbangan di atas kepalaku.

Kurasa uang 30 ribuku tak akan cukup menutupi kerusakan bus, dan kondektur yang menarik uang padaku yang terjepit, tak tahu bagaimana kakinya. Aku sih tak apa-apa jika di tipu atau di dzolimi, Allah itu maha melihat, maha cepat azabnya. Sekian waktu menjalani proses perjalanan kok masih belum bisa membuatku legowo jika di pukul orang, maka aku harus kembali jadi orang gila yang harus mengelilingi tanah Jawa. Jadi ingat, aku di rumah jualan bensin eceran, ada orang beli bensin, aku menuang, dan ada setetes dua tetes yang jatuh, pembeli bilang.

“Ya aku rugi mas kalau bensinnya diteteskan gitu” katanya.
“Ya ndak apa-apa aku ganti” jawabku, lalu mengambil bensin seliter dan ku tuang, sebagai ganti setetes dua tetes yang dia keluhkan.

Anehnya tiga hari orang itu sudah tak bawa mobil, katanya mobilnya hilang ketika di parkir. Ya kalau dia tahu mobilnya akan di tukar dengan seliter bensin, pasti dia akan menolak mati-matian waktu ku beri seliter bensin. Semua penumpang turun, dan sopir sama kondektur yang terjepit menjerit-jerit, aku tak bisa berbuat apa-apa, apalagi aku kalau melihat darah suka mau pingsan.

Mobil derek jalan tol datang, dan bagian depan bus di tarik baru kondektur bisa dikeluarkan, dan keluar dari bus dalam keadaan di papah, kaki satunya tak tahu patah apa tidak, aku hanya melihat dari jauh saja. Lalu penumpang di suruh naik bus lagi, dan bus jalan dengan di derek mobil derek. Kami diturunkan di pintu tol, enaknya pas ada bus jurusan Kampung Rambutan, aku segera naik.

Sampai di Kampung Rambutan langsung naik angkot ke arah Ciracas, dan sampai di Ciracas di jemput santri ke Bambu Apus, kata murid-murid internetku yang tinggal di dekat situ mau datang menemuiku, ada Budi, Joe, Asenk, dan entah siapa lagi, aku lupa namanya. Sampai di Bengkel, Kyai memanggilku ke kamar pribadinya, dan aku di ajak makan, di beri nasehat dan di ajak makan, juga di talkin, sejak sepuluh tahun, aku sudah di bai’at lama, tapi sesudah sepuluh tahun baru di talkin.

Aku itu murid mau di apakan atau di gimanakan Kyaiku, maka aku tak pernah sekalipun mempermasalahkannya, dan tak pernah memikirkan, tak mengejar apa-apa, dan menjalani saja apa yang ada, tak pernah meminta ilmu ini atau itu, dan tak pernah meminta amalan ini atau itu, apapun yang diberikan Kyaiku, akan aku jalankan berulang kali, tak pernah bosan, bukan orang yang suka meminta amalan baru dan amalan lama di lupakan. Sebab menurutku ilmu itu bernilai kalau kita benar-benar menguasai, mengistiqomahkan.

“Mas Ian buka toreqoh ya!” kata Kyai.
“Siap kyai, saya siapkan majelisnya dulu” kataku.

Kyai banyak memberikan petuah yang bersifat isyarat, dan aku selalu tak mau menerjemahkan apa yang kyai katakan padaku dengan seketika, ku biarkan saja mengendap di pikiran dan hatiku, ku simpan dan biar jika saatnya aku akan mengerti sendiri, bukan menerjemahkan dengan akal dan akal-akalan. Iman di pandang dari sudut ma’rifat itu bisa di peroleh dari dua jalan, yaitu jalan pikiran dan jalan hati.

Jalan pikiran kita, di pakai menerjemahkan apa yang terbaca indera, seperti orang melihat gumpalan kecil lalu pikiran membacanya dan mengatakan penerjemahan apa yang tertangkap oleh indera mata, dan mengatakan itu garam, lalu tangan meraba, dan lidah menjilat sebagai penguat apa yang di terjemahkan akal, ternyata asin. Tapi siapa yang tahu warna asin, tak ada yang bisa menjelaskan, asin warnanya bagaimana, dan ekpresi orang berbeda-beda jika merasakan warna asin.

Orang berekpresi merem ketika merasakan rasa asin, tak bisa orang lain mengatakan ekpresi itu salah, sebab itu hak setiap manusia. Yang jelas yang di butuhkan oleh manusia itu bentuk putihnya garam, atau rasa asin untuk membuat asin makanan, yang dibutuhkan adalah rasa asin, bukan bentuk butiran garam, buktinya bukan bentuk garam yang di makan manusia, tapi rasa asin yang sudah tak ada bentuknya garam, karena sudah menyatu dengan makanan. Tapi keringat juga kan asin, apa ada mau orang makanannya kurang asin, lalu di tetesi keringat biar asin?

Pasti tak akan ada yang mau. Berarti sekalipun asin, maka yang dibutuhkan manusia itu bukan asal asin saja, tapi penerjemahan indera di yakini kalau yang di campur makanan itu benar-benar asli garam, bentuk sare’atnya garam, yang dikeringkan dari air laut, dan mengkristal, berbentuk garam. Tak ada hakikatnya semua alam ini, sebab hakikatnya alam ciptaan ini adalah menunjukkan hakikatnya Allah.

Seperti pabrik mobil menunjukkan hakikatnya perusahaan mobil. Garam itu asin, tapi asin belum tentu garam, jadi sifat asin bukan hakikatnya garam. Tapi menjadi sifat, seperti batu itu keras, agar-agar itu lembek. Jadi akal itu bisa menguraikan apa yang di tangkap indera, dan penerjemahan akal orang yang berilmu itu akan menguraikan dan menterjemahkan apa yang asalnya cuma sifat menjadi zat, atau di setiap ada zat atau jisim, badan kasar ada badan halus, atau inti, dan di balik inti ada intisari, dan di balik intisari ada saripati.

Di umpamakan ada seekor semut yang melihat seseorang memilih-milih jeruk, si semut bertanya-tanya apa yang dilakukan orang tersebut, lalu si semut tahu setelah orang itu memilih jeruk yang matang, oh ternyata mau membeli jeruk yang berwarna kuning. Jadi dipilih yang berkulit kuning, semut menyangka bahwa orang tersebut mau memanfaatkan kulit jeruk, buktinya kulit jeruk sangat menentukan jatuhnya pilihan orang tersebut. Lalu jeruk di kupas, si semut heran karena kulit yang susah-susah di pilih warnanya itu ternyata hanya di buang ke tempat sampah, dan isinya di ambil, semut mengira, kalau ternyata yang mau di manfaatkan itu daging buahnya.

Tapi lagi-lagi semut heran, dengan sebab daging buah itu ternyata di peras airnya, ampasnya di buang. Dan airnya di taruh di gelas, baru si semut paham kalau yang di ambil manfaat ternyata airnya, tapi semut lagi-lagi heran, sebab air jeruk itu di minum orang itu, dan semut mengikuti ke dalam tubuh, di mana vitamin C di ambil dari air jeruk itu dan di manfaatkan tubuh, sementara yang tak berguna di buang bersama keringat dan kotoran.

Jadi proses panjang, dari intisari yang terdapat pada sebuah jeruk, hanya di ambil tubuh bagian terkecilnya, dan mampunya akal itu hanya menguraikan yang terlihat, dan bisa di akal oleh ketajaman akal. Sehingga kejadian itu di ketahui telah di rancang sedemikian rupa. Dalam setiap kejadian dan posisi suatu benda itu tak lepas dari kehendak yang mengatur, dan ketentuan yang tertanam. Atau sering di sebut qudroh irodah. Dan qudroh irodah atau qodo’ qodar itu harus kita imani keberadaannya, seperti kita imani adanya Allah dan malaikat.

Tapi itu semua tak terlihat, siapa orang yang tahu takdirnya? Maka tak ada yang tahu, sebab tak terlihat atau di sebut gaib.
Untuk mengimani hal yang gaib manusia perlu membuka mata hatinya, yang kasar itu bisa di lihat dengan mata dan yang gaib itu bisa dilihat dengan mata hati. Daging jeruk itu bukan gaib, karena jika di kelupas kulitnya maka itu bisa di lihat dengan mata telanjang.

Yang gaib itu, apa yang tak bisa di uraikan dengan jisim atau dalam bentuk zat padat, kecuali dengan pentakbiran, atau pemisalan, karena tak bisanya akal menerjemahkan kecuali membuat perumpamaan. Seperti ketika Nabi di tunjukan tentang bumi dalam keutuhan sifat, maka bumi itu seperti nenek tua yang jompo, sakit-sakitan dan memakai bedak yang tebal, juga perhiasan yang berlebihan. Penggambaran itu akan mewakili suatu keadaan, karena tidak ada bentuk untuk menjelaskannya, kecuali membuat permisalan untuk menjelaskannya.

Jika gaib itu bisa di ceritakan dengan menunjukkan zatnya, maka tidak gaib namanya. Makanya penceritaannya itu memakai perumpamaan, atau kata-kata penyerupaan. Dan akal harus di bendung di tutup dari menerjemahkan dengan logika akal, jika dilogikakan akal, akal pikiran akan terjebak dengan keraguan dan kemandekan pada batas logikanya akal, maka yang gaib itu hanya bisa di uraikan oleh yang gaib, yaitu ruh, alam hati dan mata hati.

Sebagaimana mata dzahir kita yang tak bisa melihat, karena kemasukan benda, maka mata hati juga akan tak bisa melihat jika di masuki berbagai kepentingan, dan keinginan, seperti semut yang melihat keinginan orang memilih jeruk dia berprasangka keinginan seseorang itu memilih warna jeruk itulah yang menjadi tujuan utama dari proses pencarian, karena keterperangkapannya akal, menilai mendahulukan logika. Dan logika itu selalu mencari yang dekat dalam penilaian dan yang termudah di lakukan. Itu sifat akal, selalu mencari solusi termudah untuk menyelesaikan masalah.

Sedang yang gaib itu perlu kejernihan hati untuk membaca. Sehingga yang benar tak asal di baca dengan akal-akalan, tapi dengan pemahaman. Seperti seorang perempuan yang memoleskan lipstik di bibir, kenapa tidak di telinga, juga kenapa warnanya merah, tidak coklat atau hijau, tujuan perempuan itu tak akan terlihat di saat memoleskan lipstik di bibir, padahal tujuan atau kehendak itu terjadi sebelum kejadian.

Murid yang lain selalu menerjemahkan dengan pikiran masing-masing, apa yang di sampaikan Kyaiku, atau anak-anak sering menyebutnya siloka, aku sendiri tak berani menerjemahkan apa yang di sampaikan Kyai, dan menunggu Allah memberi ilham kepahaman padaku, dan aku akan menerima kepahaman itu dengan kejernihan mata batin, sejernih aku mampu menjernihkan, karena aku sendiri yang masih bergelimang dosa dan keinginan.

Sepulang dari Jakarta, aku merancang pembangunan majelis dari dana yang ada, ku jualkan tiga sapi dan uang tabungan, maka terbangunlah majelis sederhana, sampai saat ini yang di tempati dzikir.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 52.

loading...

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET