Kisah Sang Kyai Guru Bagian 55 - 127 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 54.

“Ya Allah, abdi minta di beri kekuatan untuk sabar ya Allah” suara Kyai menahan sakit yang dideritanya. Terdengar berulang-ulang.

Sekali waktu pakaian dan sarung yang Kyai pakai harus ganti karena sudah basah oleh keringat, dan keringat itu berbau kelabang dan kalajengking, dan kasur juga bawahnya di beri koran sebentar-sebentar di ganti, karena telah basah oleh keringat, sementara aku yang bagian menarik panas di tubuh Kyai, sebentar-sebentar tanganku yang memerah kepanasan ku tempel ke lantai untuk menetralisir panas dengan kekuatan inti bumi, jika aku lena sedikit, dan tertidur dalam dzikir, maka aku terjengkang, terhantam kekuatan yang tak terlihat.

“Kyai, biar saya memagar rumah ya” kataku.
“Ya apapun yang kau anggap perlu dan bisa, ini sudah menjadi tanggung jawab santri, aduh ya Allah beri hamba kuat menjalani” jawab Kyai.

Aku pun beranjak, keluar dari kamar dan menyiapkan pagaran. Setelah selesai, maka pagar kerikil ku tanam di setiap sudut rumah. Setelah ku tanam, suasana agak mereda, tapi hanya untuk sehari dua hari, begitu banyaknya yang menyantet, pagaranku jebol, bahkan tembok luar rumah, terhantam ambrol, sudah tiga tembok yang ambrol, mau dikatakan tak masuk akal, kenyataannya terjadi.

Kadang rumah kayak di goncang gempa, dan aku terjengkang terhantam kekuatan yang tak terlihat. Sudah dua minggu aku mengobati Kyai, segala daya upaya telah ku lakukan, tapi hasilnya tak banyak, begitu banyak tukang santet yang harus kami hadapi. Sering ketika tidur, tubuhku terangkat beberapa senti dari lantai, karena tidur kami di lantai, dan terhempas, semua santri sadar yang di hadapi bukan main-main, ada yang menyerang memakai santet, ada juga yang memakai hizib, ada tukang santet dari orang dayak, orang badui, leak dari Bali, dari gunung himalaya, juga perguruan santet seIndonesia, yang tak bisa ku sebut daerahnya, padahal guru besarnya pernah datang, dan minta maaf, tapi kadang ketakutan mereka, karena kami bersebrangan dengan mereka, dan jika orang-orang yang menjalankan ilmu hitam, maka dengan sendirinya kami akan menjadi penghalang, walau kami sama sekali tiada maksud menghalangi sekalipun.

Sebenarnya secara di lihat dari apa yang kami amalkan, maka tiada satupun yang berhubungan dengan segala macam tetek bengek santet, kami hanya menjalankan ibadah yang berusaha ikhlas, menjalankan ibadah yang sesuai syari’at yang di bawa Nabi, bahkan hanya menjalankan yang ada sanad menyambung pada Nabi SAW, karena kemurnian aqidah itulah setiap amalan langsung keluar efeknya, langsung keluar sawabnya, bahkan orang-orang prewangan (yang memakai ilmu dengan bantuan jin) akan kepanasan jika berdekatan dengan kami, bahkan murid terendah dari toreqoh qodiriyah wa naqsabandiyah.

Seperti pengaduan muridku di rumah, yang baru puasa 21 hari, dia punya saudara perempuan yang mengobati orang dengan bantuan jin, jadi sebelum mengobati, adiknya itu makan kembang dan menyan, lalu bisa mengobati, jika muridku itu main ke rumah saudarinya itu, saudarinya itu kepanasan, dan lari, sampai muridku tak boleh ke rumahnya, karena kepanasan.

Juga batu, atau keris, atau benda bertuah, jika di pegang orang lain, misal tahan cukur, atau tahan bacok, orang lain di iris rambutnya tak akan putus, karena jin yang ada di benda yang di pegang, tapi jika ku pegang, aku di cukur rambutku ya tetap putus, karena jin yang ada di benda kabur, jadi benda sudah tak ada kekuatannya.

Apa aku atau kyaiku sakti? Ya malah ndak sakti wong di bacok saja megang benda bertuah tetap luka, berarti kan gak sakti, tapi kami lebih mengutamakan keikhlasan dan kebenaran amaliyah, kemurnian aqidah, keutamaan sanad shohihnya amalan, yang kami terima dari guru-guru besar kami, seperti Tubagus Qodim Asnawi Caringin, syaih Asnawi, syaih Nawawi Banten, syaih Abdul Karim, syaikh Tolkhah, dan syaikh Ahmad Khotib Sambas, karena murninya akidah yang kami terima dari Rasulullah, penyambungannya juga shohih atau kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan, maka dengan sendirinya amaliyah yang kami jalankan sangat menghambat dan menghalangi segala ilmu hitam, walau kami hanya melulu ibadah, dan ibadah kami secara lahirnya sama dengan ibadah orang lain, tapi ibadah orang lain itu tak menyambung ke Rasulullah, dan ibadah kami itu menyambung ke Rasulullah, sebenarnya hanya itu perbedaannya.

Sehingga ibadah orang lain yang tak menyambung ke Rasulullah itu seperti orang yang punya paralon tapi sanyonya tak menyambung ke sumur, dan paralon kami, sanyonya nyambung ke sumur. Orang yang berakal tentu akan lebih memilih cara ibadah, yang menyambung pada Allah lewat malaikat jibril, ke Rasulullah, dari pada melakukan ibadah mengandalkan itak-ituk diri sendiri, tak jelas hanya dari mempelajari mujarobat, makanya dikatakan ilmu thoreqoh itu ilmu tertinggi, dari segala macam cabang ilmu, karena bukan masalah pengamalnya, tapi sambungan ilmu itu dari Allah, dan apa ada yang tingginya melebihi kedudukan Allah? Tentu tak ada. Sebab sampai sekarang, sejak bumi dan langit diciptakan, belum ada yang mampu membuat bumi, matahari, dan langit tandingan.

Aku pamit pulang, karena bagaimanapun aku juga punya kewajiban menafkahi anak istri. Jadi selama setengah tahun aku wira-wiri, ke tempat Kyai, untuk mengobati Kyai, bukan aku yang bisa mengobati, tapi karena Kyai tak mau mengobati diri sendiri, dan selalu saja santet di terima masuk ke tubuhnya dijadikan cobaan agar lebih dekat dengan Allah. Juga tentunya tubuh Kyai seperti sarana praktek untuk ilmu kami, apa ada seorang guru yang menyediakan diri untuk praktek muridnya? Kalau aku sendiri belum pernah menemui selain guruku ini, yang mau saja di santet orang, di terima dengan lapang dada, dengan kesabaran yang sudah tak masuk akal, padahal kalau mau menuntaskan, ya tinggal berdo’a, paling tak sampai 5 menit ijabah akan datang, tapi Kyai tak melakukan.

Di perjalanan, aku membayangkan andai aku punya majelis yang besar, yang terbuka dan tak terbatas seperti sekarang, untuk semua murid toreqohku yang entah ingin mampir ke majelisku dengan keluarganya atau rombongannya, maka tempat tersedia, kamar menginap ada, dan bisa untuk transit jika ada yang pulang ke Jawa dari Jakarta, sekalian berkumpul menuangkan rindu, hati yang terikat saling mencintai karena Allah, aku selalu ingat kata-kata Kyaiku, murid-muridku adalah keluargaku.

Aku juga ingin seperti Kyai, kesusahan mereka juga berarti kesusahanku, bahagia mereka berarti kebahagiaanku, kasih kami melebihi kasih saudara, ketika berkumpul, tak ada sama sekali saling merasa lebih baik, atau lebih tinggi, semua sama, kekerabatan karena Allah, kecintaan karena Allah, dan aku ingin menjadi fasilisator, tempatku yang dijadikan berkumpul, tapi sepertinya jika mengandalkan himah kemauan kuatku, rasanya masih jauh, apalagi soal dana, aku termasuk minim, sering juga menolong orang hanya di beri terima kasih saja, bahkan kalau ada orang minta tolong, jika miskin aku usahakan memberinya apa-apa yang bisa ku berikan.

Sebenarnya tempat membangun majelis yang besar, yang bisa dijadikan tempat semua murid internetku berkumpul, sudah ada, tapi dana pembangunan yang mungkin akan sulit aku mendapatkannya, ya harus dari mana aku bisa mendapatkan? Ada tanah juga dulu mau diwakafkan padaku, lalu ku jawab nanti saja, belakangan malah tanah mau di jual, tak jadi di wakafkan. Tak apa-apa, mungkin belum rejeki toreqohku.

Malah kemarin waktu kyai Askan menjelek-jelekkanku, dia mengatakan, orang toreqoh itu miskin, tak punya apa-apa. Aku sempat panas juga, tapi aku segera istighfar, ya tak apa-apalah miskin, asal berguna bagi orang lain, sebab kebahagiaan bisa mendo’akan orang sakit, yang kemudian sembuh, itu tak bisa dirasakan orang yang seperti kyai Askan itu. Yang di pikirannya takut kesaingan, la kok agama kok saing-saingan, memangnya ada.

Yang terakhir ini dia mau membuat jama’ah dzikir tandingan, katanya untuk umur panjang, memangnya orang bisa memulur panjang pendekan umur, ada-ada saja, lagian orang umur seratus saja tak mati-mati, juga jadi jompo dan tersiksa, kemana-mana sudah jalan susah, makan jagung goreng satu biji saja bisa sebulan tak hancur-hancur, cuma di emut saja. Apalagi kalau umur sampai 300-an tahun, gak kebayang lah, kecuali orang-orang yang memang di beri keutamaan oleh Allah.

“Dar! Dar” terdengar ledakan berkali-kali, di sampingku, di luar bus, seperti petasan, bus pun berhenti dan menepi, kondektur memeriksa roda, lalu masuk lagi.
“Apa ada yang meletus rodanya?” tanya sopir.
“Ndak ada, tak tahu apa yang meledak, mungkin di lempar petasan sama bonek” jawab kondektur.

Aku diam saja, tentu tak bilang, kalau itu adalah santet yang diarahkan padaku, ya kalau aku bilang bisa-bisa diturunkan, demi keselamatan penumpang lain, aku hanya konsentrasi, mengitari bus dengan kekuatan prana, dan do’a, agar bus selamat sampai tujuan. Di jalan ada dua orang naik bus, seorang tua dengan anak gadisnya yang seperti pincang mengaduh-aduh. Duduk di kursi berseberangan di kursi yang aku duduki.

“Sudah jangan mengeluh, nanti setelah sampai kita pijitkan ke tukang urut, agar keseleonya dibetulkan” kata bapaknya.
“Tapi sakitnya minta ampun pak” kata anak perempuannya.

Aku segera konsentrasi, dengan kekuatan do’a dan prana, ku raba kaki perempuan itu, lalu ku betulkan tanpa menyentuh barang sedikitpun.

“Lho kok sakitnya hilang pak” kata perempuan itu bahagia.
“Ah jangan ngayal kamu”.
“Iya pak benar sudah sembuh” jawab anaknya, dan berdiri melompat-lompat di dalam bus.
“Sudah-sudah jangan ribut” kata bapaknya.

Aku hanya senyum bahagia, syukur alhamdulillah, Allah memberi anugerah kebisaan padaku. Sampai juga Bus di Pekalongan, Kota yang menurutku sangat tak bersahabat udaranya, karena pencemaran yang telah melewati batas, sungai yang menghitam, dan udara yang berdebu, juga membawa angin yang kental berisi obat pewarna kimia, sungai yang airnya menghitam di serap matahari menjadi uap, dan di hembus angin menjadi udara yang di hisap manusia, aneh aku kalau di Pekalongan pastilah terkena Asma, tapi kalau keluar dari Pekalongan asma kok sembuh. Sampai di rumah, Husna istriku mengatakan, kalau banyak orang yang mau minta di do’akan tapi pulang lagi, karena aku tak di rumah.

“Lho kenapa tidak telepon, ngasih kabar, kan do’anya bisa di transfer” kataku.
“Ya Abah sebelumnya ndak bilang gitu, ya aku ndak berani ganggu, takutnya di Banten sibuk” jawab Husna.
“Ya sudah tak apa-apa, nanti juga pada kembali ke sini, kalau memang butuh” kataku, tak mempermasalahkan.

Dan memang benar, pagi-pagi aku belum lama tidur, sudah ada tamu yang datang, suami istri yang membawa anaknya yang lumpuh.

“Kenapa anaknya bu?” tanyaku.
“Ini pak kyai, anak saya lumpuh” jawab ibunya.
“Awalnya kenapa?” tanyaku lagi.
“Awalnya tak tahu, tiba-tiba jatuh dan lumpuh, dan sudah lima bulan, jadi sudah kami bawa berobat kemana-mana tapi kok ya ndak sembuh juga, lalu ada orang yang menyarankan untuk meminta do’a pada pak kyai, siapa tahu jodoh” jelas ibu itu.
“Coba kesinikan anaknya” kataku sambil mengambil anaknya dan ku pangku, lalu ku sentuh kakinya perlahan, kemudian malah akan bingung sendiri.

loading...

Setelah selesai ku berikan lagi ke ibunya, dan ku berikan air mineral sambil menjelaskan cara pakainya, setelah di rasa cukup, suami istri itu pamitan. Seminggu kemudian sudah datang lagi, sambil membawa satu dus oleh-oleh.

“Ini untuk pak Kyai” kata perempuannya.
“Wah apa ini bu?” tanyaku.
“Ini hanya sekedar rasa terima kasih kami”.
“Wah kok ngerepotin diri to bu, la bagaimana adik kecilnya sudah bisa jalan?”.
“Sudah, tapi tertatih-tatih” kata ibunya.
“Coba adik kecil jalan ayo! Ayo paman ditunjukin bagaimana jalannya” kataku.

Ibunya pun menegakkan anaknya, dan perlahan mulai jalan.

“Hm ya sudah bagus perkembangannya”.
“Iya pak kyai, makasih sekali pak kyai, tak terbayangkan jika anak kami tak bisa jalan sampai dewasa, dan kami sekeluarga tak bisa memberi apa-apa”.
“Walah ibu kok jadi dramatis gini, saya malah bisanya cuma do’a bu, jadi ya cuma bisa do’a, orang lain juga bisa” kataku.

Tanda Allah itu menghendaki seseorang itu agar dekat dengan-Nya, maka akan ditanamkan di hati orang tersebut berkeinginan dekat dengan Allah, dan keinginan itu amat kuat, tak bisa di tahan, dan ada kerinduan seperti rindu pada kekasih, dalam menjalankan amaliyah. Sebaliknya jika Allah menghendaki seseorang itu celaka, maka akan dijauhkan dari keinginan berbuat baik, bahkan sekalipun Nabi Muhammad SAW sendiri menceramahinya, maka akan dimentahkan. Makanya hidayah itu mahal, sebab akan menjadi awal seseorang itu celaka atau untung, bejo.

Dan sebodoh-bodohnya orang jika di hatinya timbul niat berbuat baik, kemudian menunda-nunda, karena disibukkan mencari hari yang lebih baik. Atau karena alasan yang menjadikan perbuatan baik itu tertunda, dan akhirnya tak pernah dilakukan sama sekali. Sore hari datang pasangan suami istri, yang juga membawa anaknya yang lumpuh.

“Anaknya kenapa ini pak?” tanyaku.
“Ini mas kyai, anak saya lumpuh” jawab si lelaki, yang bernama Parman.
“Lumpuhnya kenapa pak?” tanyaku.
“Tak tahu kyai” jawab istrinya Parman.
“Apa tak pernah di bawa ke dokter”.
“Oh boro-boro ke dokter pak kyai, makan saja kami susah, tak punya uang untuk membawa ke dokter” jawab Parman.
“Oh ini dulu tinggal di rumah yang angker ya?”.
“Kok mas kyai tahu?”.
“Wah aku hanya mengira-ngira saja”.

“Ini dulu tinggal sama neneknya di rumah dekat pasar?”.
“Iya kyai”.
“Hm, pantas”.
“Pantas kenapa kyai?”.
“Ya lumpuhnya hanya tempat tinggalnya ada jin yang berbentuk ular, nah jin itu yang menghisap saripati bayi, sehingga jadinya tumbuhnya tak wajar, ini umur berapa?”.

“Ini umurnya sudah 8 tahun kyai” jawab Parman.
“Iya nanti saya kasih air, tolong diminumkan kalau mau tidur, dan kalau bangun tidur, juga di usapkan ke kakinya” jelasku.
“Maaf kami tak bisa memberi apa-apa kyai” kata Parman.
“Apa aku ini kelihatan minta apa-apa to pak Parman?”.
“Tidak kyai, oh ya saya juga ingin di do’akan, agar saya dimudahkan dalam mencari rejeki, sebab selama ini kok hidup saya susah terus” kata pak Parman.
“Ikut saja dzikir di majelis dzikirku, insya Allah rejekinya akan di mudahkan”.
“Wah maaf kyai, saya kalau duduk lama suka kesemutan”.
“Lho kalau suka kesemutan kurasa semua orang mengalami kesemutan to pak Parman, la wong saya saja kesemutan”.
“Iya kyai, kapan-kapan saja”.
“Ya tak apa-apa”.

Sebulan kemudian istri Parman datang ke rumah. Dia menangis-nangis.

“Lho kenapa bu?” tanyaku heran.
“Tolong saya kyai”.
“La kenapa? Anaknya sudah bisa jalan belum?”.
“Sudah kyai, tapi ini bukan masalah itu”.
“Terus masalah apa?”.
“Ini masalah Bapaknya”.
“Kenapa dengan suaminya?”.
“Kang Parman ditangkap polisi, dan sekarang di penjara”.
“Lhoh masalahnya apa?”.

“Ya saya juga sudah memperingatkan ke bapaknya, jangan suka main judi togel, tapi bapaknya itu tak mau dengar, waktu ada penggrebekan, lalu bapaknya tertangkap, tolong kyai, tolong hanya dia sandaran keluarga kami, kalau dia di penjara, kami harus bagaimana”.
“Maaf bu, saya kan cuma berdo’a pada Allah, jadi saya itu tak bisa apa-apa, kayak anak ibu bisa jalan yang asalnya kakinya lumpuh itu, itu sama sekali bukan perbuatan saya, tapi pertolongan Allah, dan Allah itu maha suci, dia melarang perbuatan yang merusak, seperti judi, zina, jadi kalau Allah kemudian membantu orang berjudi, atau membantu orang yang menggugurkan kandungan karena perbuatan zina, maka bukan lagi namanya Allah yang suci dari cela” kataku.

“Jadi Kyai tak bisa menolong?”.
“Ya aku juga tak punya kedudukan di kepolisian, tentu aku tak bisa menolong bu, maaf” kataku.

Jika seseorang diperingatkan dengan cara halus, yaitu puasa, dzikir, uzlah, duduk istiqomah, tak mau, maka seseorang akan diperingatkan dengan cara kasar, seperti makan tak bisa, bisa karena sakit, atau tak punya uang, atau dalam penjara, atau lari dari desanya, di gulung banjir, di guncang gempa. Dan Allah itu sanggup membolak-balikkan hati, juga sanggup membolak-balikkan bumi. Itulah, hidayah itu amat mahal, jika sebelumnya orang tahu akan nasib yang di alami, ku kira seperti Parman juga akan lebih memilih duduk semutan dari pada duduk di balik terali besi.

Pagi jam 8, sebenarnya aku juga baru sebentar tidur, tapi sudah ada tamu, maka aku tetap harus menemui, menjadi pelayan Allah, maka siapapun yang datang, dan kapanpun waktunya kita harus siap, ketika kyaiku memintaku melatih diri menjadi lima, aku masih takut-takut, dan aku belum berani, tapi saat jiwa dan raga lelah, rasanya ilmu menjadikan diri menjadi lima perlu juga, jadi aku bisa satu sedang dzikir, satu sedang melayani tamu, satu sedang mencari maisyah, satu memijit satunya, dan satu membantu yang lain, sering sekali terlintas, tapi rasa takut menjadi lima lebih mendomisili pikiran dan hatiku. Ku temui seorang perempuan muda dengan ibunya.

“Ada apa bu?” tanyaku masih dengan mata dihinggapi kantuk yang sangat.
“Anu ini anak saya” kata ibunya, jawil ibu kepada anak gadisnya.
“Ada apa to?” tanyaku.

Mata si gadis berlinang.

“Saya minta do’anya guru, agar saya bisa tenang menjalani pernikahan yang rumit”.
“Rumit bagaimana?” tanyaku.
“Tolong kyai ini air di tiup dulu, biar saya minum biar saya tenang” kata gadis itu sambil mengeluarkan botol aqua.
“Wah saya belum sikat gigi hehehe, baru bangun tidur, nafas saya kan bau” kataku bercanda.
“Tak apa-apa kyai, biar saya dapat berkahnya”.
“Wah bukan berkah nanti yang di dapat, malah penyakit” kataku
“Tidak kyai, monggo kyai tiup, biar saya minum” kata gadis itu lagi, sambil mendekatkan air mineral ke depanku.

“Monggo to kyai, biar anak saya dapat barokah dari kyai” kata ibunya.
“Ini benar saya tiup?” tanyaku.
“Ya iya, saya sudah dari tadi menunggu” kata gadis di depanku.
“Baiklah” kataku ngalah.

Sebenarnya nafasku asli bau, walau semalaman dzikir sampai pagi, dan pagi habis subuh dzikir sebentar, dan baru mau tidur sudah ada tamu. Air selesai ku tiup dan ku serahkan, lalu di minum oleh gadis yang bernama Laila Lataifa, dan air diletakkan di dekatnya, eh ibunya langsung mengambil air dalam botol mineral itu dan ikut meminum airnya.

“Ibu! Jangan di habiskan”.

Dunia aneh-aneh saja, dan ku lihat Laila Lataifa pun tenang.

“Terima kasih mas kyai, hatiku jadi tenang” kata Laila Lataifa.
“Ini masalahnya sebenarnya apa?” kataku.
“Ya saya mau menikah dengan orang di luar Jawa kyai, dan calon suamiku itu ingin aku ikut dengannya, sementara ayahku ingin aku di sini dan suamiku di sini, ayah kalau aku tidak di sini, maunya pernikahanku dibatalkan saja” jelas Laila.
“Hanya soal seperti itu?”.
“Iya kyai” kataku.
“Lalu Laila ini apa sudah cinta lahir batin dengan calon suami?” tanyaku.

“Saya sudah sangat mencintainya, dan saya tak tahu jika harus tak menikah dengannya, hubungan kami juga sudah berjalan enam tahunan, kami sama-sama kuliah di jurusan yang sama, yaitu kedokteran”.
“Jadi sampean ini dokter to?”.
“Iya kyai”.
“Aneh”.
“Apa yang aneh kyai?”.
“La dokter kok minta air untuk di tiup apa ndak aneh?” kataku.
“Tapi nyatanya saya langsung merasa tenang” jelas Laila.
“Biasanya dokter kan tak percaya hal yang seperti ini”.
“Ah tidak juga kok kyai, kami juga percaya” jelas perempuan itu.

“Pernikahan itu tidak hanya sekedar cinta, upayakan menyandarkan cinta pada suami, karena mencintai Allah, karena cinta disandarkan pada Dzat yang kekal, maka cinta akan kekal, jauh dari kepentingan ego nafsu, Allah memerintahkan seorang istri tunduk pada suami, jadi tunduklah dan layani suami karena Allah memerintah, bukan karena siapa suaminya, siapa yang melayani suami, dengan ikhlas dan cinta karena Allah maka bila di ajak tidur, pahalanya akan seperti pahala haji dan umroh, yang di terima, wanita itu. Jadi istri itu menjadikan suami sebagai ladang pahala, tempat istri mencari keridhoan Allah. Jika perkawinan didasarkan bukan karena cinta nafsu, wajah tampan, maka cinta itu akan kekal, istri akan berusaha sekuat daya membahagiakan suami dengan pelayanannya yang maksimal, karena harapan untuk memperoleh ridho Allah. Jika istri takut tak bisa membuat suami bahagia, dan dalam hatinya tertanam rasa takut akan murka Allah, karena tidak bisa menjaga keutuhan bahtera rumah tangga, istri yang suaminya selalu ridho dan senang, maka istri seperti itu akan diperintah memilih dari pintu mana dia mau masuk surga” jelasku.

“Begitu juga seorang suami, yang mencintai istri karena Allah, bukan karena sekedar kecantikan, yang selalu melindungi dan memberi bimbingan. Ingat memberi bimbingan bukan mengalahkan atau menguasai, tapi memberi contoh dengan akhlak mulia. Memerintah dengan dialog cinta dan kasih sayang. Bukan memaksakan kehendak segala kemauan dan perintah wajib di ikuti, sebab seorang yang ikhlas memerintah itu sama sekali tak ingin perintahnya di ikuti. Kalau ingin perintahnya di ikuti, di taati, maka dia telah gagal menjadi suami, dan upayanya menjadi Tuhan atas istrinya tak akan terlaksana, sebab sejak dulu manusia yang berusaha menjadi Tuhan itu tak pernah sukses kecuali pasti di tentang, sebab kodrat manusia itu sebagai hamba, bukan sebagai Tuhan”.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 56.

Whatsapp: 0852 1406 0632