Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 5. Sebenarnya untuk menikah, pemuda seumuranku dua puluh tiga tahun, menurutku juga belum matang, masih banyak yang harus di gapai, sebenarnya alasan itu kubuat-buat sendiri, kalau tak mau membohongi jawaban yang pas, jawabannya adalah aku takut memberi nafkah, akan ku kasih makan apa nanti istriku? Kerjaan tetap tak ada, kalau membanggakan sebagai pelukis ah tak cukuplah, rokok saja aku kadang harus ngelinting dari puntung. Apa jadinya nanti istriku?

Pikiran seperti itu tentu timbul dan ada sebelum aku menjalani laku nggembel, jadi pengemis dan orang gila untuk melihat dengan ainul haq, bahwa segala rejeki segala makhluk yang bergerak merayap di atas bumi ini adalah di dalam kekuasaan Tuhan. Kalau aku sudah mengamalkan ilmu tawakal, tentu aku di tawari nikah he-eh saja.

Aku berjalan cepat karena sudah ngantuknya mataku, jam di tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh siang, aku berhenti ketika mau menyeberang jalan raya, menunggu mobil yang lewat sepi, tiba-tiba suara kecil merdu terdengar di belakangku.

“Mas Ian, tunggu!” suara Juwita berlari sambil membawa kresek hijau, menyusulku.
“Ini mas, nanti untuk berbuka puasa”.
“Makasih banyak” seraya mengulurkan tangan untuk menerima.

Tapi gadis itu menariknya menjauhi tanganku, “Biar aku saja yang bawakan” kata Juwita, seraya berlari mendahuluiku, menyeberang, aku pun mengikutinya dari belakang, kulihat Juwita dari belakang, tak terasa aku menelan ludah, ah dasar setan, sukanya menggoda manusia, tapi tak usah di goda setanpun, ini nyata benar-benar gadis yang sempurna, lincah, periang, ah glek uhuk, wah terlalu banyak ludah ku telan, jadi agak tersedak.

“Mas Ian, aku ingin melihat hasil karyanya, boleh kan?” aku ngangguk saja, gimana mau nolak, senyum yang merekah, gigi yang putih, lesung pipi, mata yang berpijaran, aduh runtuhlah pertahanan, dadaku benar-benar di aduk seperti bergolaknya lahar menggelegak, tapi tak punya jalan keluar dari tebing hatiku karena takut dengan jurang dan tebing bayangan buatanku sendiri, Juwita berjalan di sampingku.

Mungkin lima tahun yang lalu, aku ketemu Juwita, sebelum aku jadi murid Kyai, ah pasti sudah ku pacari, tapi kini keadaannya lain, aku telah jadi murid Kyai, mungkin aku lebih senang kalau orang-orang seperti Juwita tak ada di dekatku, karena teramat susah melawan nafsu, teramat berat berperang dengan nafsu sendiri.

“Mas Ian maafkan Abah ya, memang Abah selalu begitu, kalau punya mau ceplas ceplos saja tanpa di pikir, main jodoh-jodoh saja, memangnya ini zaman apa?” kata gadis itu mbesengut.

“Ah, tak apa-apa kok” mungkin Juwita sudah punya pacar di sekolahnya sehingga tak mau di jodohkan, aku maklum akan gadis sekarang, apalagi gadis secantik Juwita, aku cemburu? Ya enggak lah, “Tapi kalau memang benar mau milih,” suara gadis itu terdengar manja, “Mas Ian pilih Juwita ya?!” pletar! Seperti petasan di nyalakan di telingaku, kaget nginggg, sebebas lepas benar gadis ini. Hampir saja jantungku copot, untung setelah tarik napas kurasakan masih ada.

Untung Juwita tak lama ada di tempat kerjaku dan berkali-kali dia berdecak mengagumi lukisanku, aku senyum nyengir saja, sampai saat mau pulang, gadis itu tiba-tiba memencet hidung mancungku, “kamu memang hebat” katanya gemas, perbuatannya yang mendadak itu sungguh mengagetkanku, tapi aku tak bisa menghindar. Ah sudahlah, kulihat dia berlari-lari kecil meninggalkanku, aku segera pergi tidur mengingat malam nanti aku harus kerja.

Malamnya aku hanya kuat kerja sampai jam setengah dua dini hari, karena siang kurang istirahat, aku pun beranjak tidur, lampu ku matikan, tapi lampu penerangan di luar masih bisa menerobos masuk lewat lubang angin. Belum sampai lima menit aku tertidur, kurasakan tubuhku lengket di keramik tak bisa di gerakkan dan dari pintu musholla nampak gadis-gadis berjalan, sekarang ini mereka ada lima orang. Aku mencoba menggerakkan tubuh, tapi sia-sia. Ah aku benar-benar tiada daya, tak mampu melawan apa-apa, mereka memperkosaku habis-habisan, mereka ini apa? Aku tak mengerti, jika aku menangis, kemudian mengatakan aku di perkosa, pasti jadi bahan tertawaan. Maka besoknya aku pun memutuskan pulang ke pesantren, mau meminta solusi kepada Kyai. Setelah pamit pada pak Kosasih aku pun pulang.

Sampai di pesantren Kyai hanya tersenyum melihat aku yang loyo, “gak apa-apa cuma jin-jin perempuan yang nakal” kata Kyai,

“Tapi Kyai”.
“Sudah nanti ajak saja si Jauhari, sama si Majid, untuk menemani” kata Kyai menghiburku.

Besoknya aku berangkat lagi ke tempat pak Kosasih. Hari itu aku tak langsung kerja, jadi malamnya aku di suruh istirahat dulu, setelah ngobrol dengan pak Kosasih sampai jam dua belas malam, kami pun beranjak tidur berdampingan. Sekarang akan kulihat apa reaksi perempuan itu. Tentu kejadian yang menimpaku tak ku ceritakan pada ketiga temanku. Rupanya kami bertiga mengalami hal yang berbeda-beda. Majid kakinya di angkat dan di putar-putar, sementara Jauhari di jatuhi anak kecil kira-kira umur sembilan tahunan di duduki dadanya dan di pukul sampai wajahnya pada lebam, wajahnya yang hitam makin tambah hitam, sementara aku masih tetap di perkosa.

Sebenarnya kedua temanku ini sudah takut, dan mengajak aku kembali ke pondok, tapi tanggung lukisanku tinggal sedikit, maka ku bujuk mereka untuk menemaniku semalam lagi, karena paginya saling bercerita jadi kami tahu kisah masing-masing.

“Entar malam aku yang tidur di tempat kamu saja mas, biar aku ngerasain bagaimana rasanya di perkosa, masa aku di bikin lebam kayak gini” Jauhari protes, dan ku iyakan saja.

Maka setelah kerja, kami pun berangkat tidur, dengan perasaan tegang. Sesuai permintaan Jauhari aku pun menempati tempatnya Jauhari, dan Jauhari menempati tempatku tidur, jam setengah empat kami semua bangun, kulihat muka Jauhari makin jontor. Wajahnya yang jelek makin jelek saja, dan aku lemas sekali karena melayani lima wanita, pinggangku benar-benar sakit, dengkul kayak tak ada olinya lagi, sementara Majid ngos-ngosan karena semalaman kakinya di angkat-angkat dan di putar-putar.

Tapi aku mengajak mereka berdua untuk neruskan tidur saja karena waktu subuh masih lama, saat itulah aku melihat dari pintu musholla masuk lima belas wanita cantik, beraneka warna bajunya juga anak kecil bersisik ular, di giring seorang kakek bongkok membawa cambuk, nampak kelima belas wanita dan anak kecil itu takut, tunduk. Ctar! Suara cambuk dilecutkan, para perempuan itu menjerit.

“Ayo minta maaf, kalian telah mengganggu para santri Kyai Lentik, cepat minta maaf” bentak kakek tua itu, dengan takut-takut para perempuan itu minta maaf, kemudian mereka di giring kakek itu, keluar musholla, aku segera terbangun.

Besoknya mencari tempat mandi. Di sumur dekat musholla, lalu ikut shalat shubuh di musholla, dan ketika Kyai Mashuri mengajakku main kerumahnya aku menolak dengan halus. Karena pekerjaan telah selesai maka aku dan teman-temanku pun pamit pulang kepada pak Kosasih.

loading...

Aku di pesan kalau membutuhkan pekerjaan harap sudi datang, karena masih banyak yang harus ku lukis. Saat berpamitan inilah pak Kosasih bercerita tentang riwayat masa lalunya rumah makan ini. Menurut kisahnya dulu sebelum menjadi rumah makan tempat ini adalah jurang yang lumayan dalam, dan sering kali terjadi kecelakaan, kadang rombongan pengantin satu mobil masuk jurang, semuanya meninggal dalam kecelakaan, ada satu keluarga dalam mobil semua meninggal dalam kecelakaan masuk jurang.

Ada juga truk rombongan kampanye masuk jurang, walau tak semua mati, tapi akhirnya dari orang yang tak mati dalam kecelakaan inilah, di ketahui, bahwa setiap mobil yang celaka sebetulnya jalannya tetap biasa saja, lurus, tapi entah kenapa tiba-tiba mobil ada di awang-awang dan meluncur ke jurang.

Melihat banyaknya kecelakaan itu, pak Kosasih pun membeli jurang dan tanah di sekitarnya, lalu di bangunlah rumah makan yang besar, dengan harapan termanfaatkannya tanah yang kosong dan yang lebih penting tak ada lagi kecelakaan. Tapi harapan pak Kosasih, hanya harapan saja, buktinya sampai sekarang kecelakaan di daerah itu tetap saja terjadi. Entah berapa kali tembok pagar rumah makan itu di ganti, karena ambrol di seruduk mobil yang mengalami kecelakaan. Juga para pelayan rumah makan itu tak ada yang kuat bertahan lebih dari tiga bulan, ada saja masalahnya, karena takut, karena kesurupan. Tapi rumah makan itu tetap berjalan dan ramai pengunjungnya.

Setelah pulang ke pesantren Pacung, aku menyelesaikan puasa empatpuluh satu hari, dan setelah selesai, aku minta ijin pada Kyai untuk pulang sebentar ke Tuban menengok kampung halaman, Kyai pun mengijiniku, tanpa menunggu lama aku berangkat pulang, walau telah hampir setahun aku mesantren di tempat Kyai, tapi aku masih tak tahu aku ini mendapatkan apa di pesantren. Sebab Kyai tak pernah mengajariku apa-apa. Puasa juga baru dua puluh satu hari, dan empat puluh satu hari.

Sampai di desaku sendang rumahku adalah lingkungan pesantren, ada sekitar tujuh pesantren di sekitar rumahku, kalau di hitung dalam satu desaku ada sepuluh pesantren. Semua pengasuhnya masih ada hubungan saudara denganku, ada yang pamanku, ada yang saudara sepupu ayahku. Maka desaku terkenal dengan desa santri. Dan kehidupan masyarakatnya kebanyakan bertani. Ketika teman-temanku tahu, aku datang ke rumah semua pada datang berkunjung, ada yang dari teman pesantren dekat rumah, tapi ada juga para gank kampung, maklum aku dulu anak yang paling nakal di desaku, bagiku sebenarnya kenakalan remaja, tapi bagi orang lain kenakalanku melampaui batas.

Aku ingat bersama teman-temanku mencuri semangka berkarung-karung, dan penjaganya ku ikat dengan tambang. Ku ingat menguras empang ikan orang yang ada di depan rumah orang sementara yang punya rumahku pantek semua pintunya hingga tak bisa keluar. Dulu orang mending ngasih upeti kepadaku, dari pada di habiskan anak buahku. Siapa sih cewek cantik di desaku dan desa-desa tetanggaku yang tak pernah ku pacari? Ya itulah masa lalu, tapi apa yang telah terjadi di masa lalu memang tak bisa hilang dan akan tetap bagian dari lembaran hidup kita. Habis shalat maghrib teman-temanku sudah pada pulang, ibuku memanggil aku pun segera memenuhi panggilannya,

“Ada apa bu?” ketika sampai di dekat ibuku yang memasukkan buah-buahan ke tas plastik.
“Ayo antarkan ibu ke rumah paman Mursid”.
“Kenapa dengan paman Mursid, bu?”.
“Paman Mursid sakit, sudah tiga bulan makannya lewat jarum infus, dokter sudah tak sanggup, makanya dua hari yang lalu di bawa pulang” aku cuma manggut-manggut dan mengerutkan kening.

Aku segera menuju motor Jupiter, sebelumnya mengambil kunci kontak yang tergantung di balik pintu kamarku. Setelah menyalakan motor untuk memanaskan mesinnya aku kembali ke tempat ibuku duduk.

“Sakitnya sebenarnya sakit apa to bu?”.
“Awalnya ya tak tahu lah nang” panggilan nang adalah panggilan orang Tuban kepada anak lelakinya, kalau masih kecil di panggil cong, kalau sudah gede di panggil nang.

“Paman Mursidmu itu di temukan pingsan di pematang sawah dekat dam ratan. Sejak itu d itemukan ya sampai sekarang ini tak pernah sadar, kasihan pamanmu juga istrinya bibi Asiah, dia sudah kemana saja untuk mencarikan obat suaminya tapi tak mendapatkan hasil apa-apa”.

“Apa dulu waktu di temukan tak ada tanda gigitan ular, bekne di gigit ular” tanyaku heran.
“Tak ada, tak ada tanda sakit apa-apa itulah yang aneh”.
“Terus menurut pemeriksaan dokter sakit apa bu?”.
“Ah banyak kalau menurut dokter, ada komplikasi, ah pokoknya banyak gitu sih gak mudeng aku, mungkin juga karangan dokter, nyatanya pamanmu tak sembuh”.

“Kalau dukun gimana?”.
“Sudah banyak dukun di datangkan, syaratnya aneh-aneh, tapi semua percuma tak ada faedahnya, malah membuang buang uang saja”.
“Terus paman Muhsin sudah nyoba? Kyai Kyai sudah di mintai sareat?”.
“Sudah semua, paman Muhsin juga tak sanggup”.
“Wah kalau gitu ya berat” kataku mengakhiri pertanyaan.

Ku bonceng ibuku menuju rumah paman Mursid, pelan-pelan aku jalankan motor, melewati jalanan paping blok, di dunia ini yang paling ku sayangi dan ku hormati adalah ibuku, bukan hanya karena hadits Nabi mengatakan derajat ibu lebih mulia dari pada ayah. Tapi karena ibu adalah orang yang sayang dan paling pengertian kepadaku, dulu saat aku masih nakal-nakalnya ibuku tak pernah menyalahkanku, tak pernah melarangku, malah kalau aku mau pergi nonton konser musik, ibuku lah yang memasangkan anting di telingaku, yang menyisirkan rambut panjangku, soal cewek ibu selalu memesanku, punya cewek banyak tak masalah, karena memang aku dulu punya pacar tak pernah kurang dari sepuluh, tapi kata ibuku, jangan mencemarkan nama orang tua, jangan sampai kau menghamili wanita, yang bukan istrimu, ibumu juga wanita.

Ah ibu memang bijaksana. Sampailah motorku di depan rumah paman Mursid. Setelah mengucap salam, kami segera masuk, nampak di dalam juga banyak orang, dengan para lelaki aku segera bersalaman, ternyata juga banyak tukang suwuk (mungkin di tempat lain di sebut dukun, tapi di daerahku di sebut tukang suwuk) ada kang Nur. Aku sebenarnya lebih mengenal orang ini adalah pelatih pencak silat, aku ingat waktu kecil orang ini suka menunjukkan keterampilannya, berjalan di atas pedang, bergulingan di atas duri salak, makan pecahan kaca dan melengkungkan besi menggunakan lehernya, di saat keramaian tujuh belasan Agustus.

Lalu yang ku salami yang kedua adalah kang Widji, orang ini sering di mintai oleh pemuda desa ilmu-ilmu pukulan, seperti lebur sekti, lembu sekilan dan lain-lain. Yang ku salami ketiga adalah pamanku, adik sepupu dari ayahku, namanya Muhsin, dia terkenal di daerahku sebagai orang yang menyembuhkan penyakit karena kerasukan jin, kesurupan, serta suka memagar rumah, mengambil wesi aji, yang lain adalah orang biasa. Aku juga menyalami Muhamad anak terbesar dari pamanku Mursid. Setelah menyalami aku pun mencari tempat duduk yang nyaman. Memang setelah melihat keadaan paman Mursid, sungguh orang siapa saja melihat pasti akan kasihan karena memang keadaannya sangat memprihatinkan.

Wajahnya kelihatan tua, padahal umurnya tak lebih dari lima puluh tahun tapi wajah paman Mursid seperti ketarik ke dalam, pipinya seperti masuk ke dalam, rongga matanya juga menjorok ke dalam, sampai seperti kubangan hitam, lehernya mengecil, seakan-akan mengkerut. Semua tulang iganya menonjok keluar, kulihat wajah paman Mursid seperti menahan penderitaan yang tak tertahan. Karena tubuh paman Mursid tak berbaju mungkin syarat dari dukun, karena banyak kembang aneka warna di sekitar tubuhnya, jadi aku bisa melihat perutnya. Oh ada gumpalan dalam perut sebesar kepalan tangan, aku tak berani bertanya, apa itu?

Tiba-tiba tubuh paman Mursid mengejang-ngejang, semua orang ribut, bibi Asiah menangis karena melihat suaminya seperti merasa sakit yang amat dasyat, para tukang suwuk pun berupaya menolong dengan segala daya, ada yang mengeluarkan jurus, ada yang meniup-niup, ada yang menyiprat-nyipratkan air, suasana tegang sekali, dan aku tetap duduk di kursi, melihat dari jauh, oh nampak olehku gumpalan di perut paman Mursid hidup dan bergerak kesana kemari, paman Mursid melenguh-lenguh kakinya menjejak-jejak tapi tubuhnya tetap di tempat. Ah ngeri aku.

Namun usaha para tukang suwuk ini sama sekali tak ada manfaatnya. Bibi Asiah menangis menggerung-nggerung melihat keadaan suaminya, juga Muhamad anak tertua paman Mursid juga menangis di sebelah kiri paman Mursid. Tiba -tiba bibi Asiah menghampiriku, dan mencengkeram lenganku,

“Dek Ian, ayolah bantu dek Ian huhu, jangan melihat saja. Siapa tahu kesembuhannya dititipkan kepada dek Ian, huhu, dek Ian kan dari Banten pasti bisa mengobati”.

Aku kaget.

“Aku?” seperti orang bego menunjuk hidung dengan jari telunjukku sendiri.

“Aku tak bisa apa-apa, wong di Banten itu tak di ajari apa-apa” kataku jujur, tapi mana mau orang panik mendengar. Aku main tarik-tarikan dengan bibi Asiah. Tiba-tiba kudengar suara ibuku di dekatku, “Cobalah nang. Tak ada salahnya di coba” aku tak pernah membantah ibuku maka aku pun maju ke tempat paman Mursid di tidurkan, tubuhnya masih mengejang-ngejang.

Sungguh aku tak tahu, harus berbuat apa? Pura-pura mencak-mencak, ah kayaknya kurang bijak, di tempat orang sakit. Ku ingat-ingat aku sering melihat Kyai mengobati orang, ah salah satu cara saja yang kupakai, setidaknya ada yang kulakukan. Andai tak berhasilpun, aku tak akan di salahkan, wong orang yang telah punya nama sebagai tukang suwuk saja, tak berhasil apalagi aku yang bekas bocah ndugal. Tanpa ragu aku melangkah maju, duduk di samping kanan paman Mursid, sementara di sebelah kirinya paman Mursid adalah anaknya yang bernama Muhamad.

Aku segera duduk bersila, wirid yang selama ini kubaca, satu persatu kubaca tiga kali dengan menahan napas, segala cipta rasa ku kerahkan, akal ku konsentrasikan, rasa getaran halus berpendaran mengalir dari pusarku ke arah tapak tanganku, kupikirkan keluar dari tapak tanganku masuk ke tubuh paman Mursid membelitnya, mengikatnya kemudian menarik keluar, ku genggam dalam tanganku, lalu kubuang. Buk! Suara gedebukan dari tubuh Muhamad yang tadi ada di samping kiri paman Mursid, tempat aku membuang apa yang kuambil, aku tak menyangka akan berakibat seperti itu. Sekarang pemuda itu terjengkang ke belakang, kemudian berdiri dan tertawa-tawa, suaranya berat menyeramkan,

“Hua-haha, keluarga ini akan ku habiskan, huahaha”.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 7.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632