Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 59.

“Lalu solusinya bagaimana mas?” tanya Furqon.
“Ya solusinya, taubat, lalu kembali hidup secara wajar, hidup secara jalan yang di ridhoi Allah, kalau mau di ijabah do’anya ya mendekatkan diri pada Allah, jangan malah melanggar dan meninggalkan-Nya, percayalah segala amalan yang tidak Islam itu merugikan diri kita sendiri” jelasku.
“Saya ingin tanya mas?” tanya Zamrozi, temannya Furqon.
“Tanya apa?”.
“Tanya soal mengirim fatekhah, dan orang sering tawasul, apa itu ndak sama dengan apa yang dilakukan Furqon, meminta pada jin, cuma bedanya itu orang yang sudah mati?” tanya Zamrozi.

“Itu sama sekali beda. Ku contohkan saja, kita ini mau pergi ke masjid, menjalankan shalat jum’at, kita naik motor untuk sampai ke masjid, memakai sandal, memakai peci, memakai pakaian, juga memakai pengetahuan atau ilmu bagaimana cara shalat yang benar. Tak bisa kan sandal lengkap, pakaian lengkap, peci ada, tapi pas mau shalat kita yang nghadap ke timur sendiri, sementara orang lain menghadap ke barat, karena kita tak tahu kalau shalat itu menghadap ke barat, karena ilmu cara shalat itu tak sampai ke kita, karena tak adanya yang menyampaikan ke kita, ini bisa dibenarkan tidak, misal kita menghadap ke timur, jelas malah adu kepala dengan orang lain, ya nggak?”.

“Iya, tak benar. Lalu apa hubungannya dengan kirim fatekhah”.
“Ya sebentar ku jelaskan pelan-pelan” kataku.
“Kita pergi ke masjid naik motor itu kira-kira motornya bayar tidak sama pabriknya, kita bayar gak sama dealernya? Tentu bayar kan, artinya kita tidak lantas minta motor lalu di kasih begitu saja”.
“Iya kita bayar” jawab Zamrozi.
“Juga kita pakai pakaian, kita bayar kan sama pabrik pakaian atau penjual pakaian?” tanyaku.
“Iya kita bayar”.

“Juga kita pakai sarung kita membayar pada penjual sarung, juga pada pabriknya, juga kita memakai sendal, kita bayar pada penjual sandal dan pabriknya, membayar pabriknya itu langsung atau tidak langsung, itu kita bayar, apalagi ilmu yang kita peroleh. Ilmu cara jum’atan yang benar, yang sebenarnya adalah pokok dari tujuan orang pergi ke masjid di hari jum’at, kenapa ku katakan pokok, ya coba saja di-tes, tanya orang yang pergi ke masjid di hari jum’at itu mau pergi kemana? Pasti semua akan menjawab mau pergi shalat jum’at, bukan mau memakai pakaian, atau sandal, atau sarung, berarti pergi ke shalat jum’at itu adalah pekerjaan pokok, sedang pakaian dan segala apa yang di pakai, cuma pendukung.

La yang jadi pendukung saja bayar, apalagi yang pokoknya, kita shalat jum’at juga tanpa ilmu yang kita tahu tentang shalat jum’at kan jadinya berabe, shalatnya bisa ada yang ngadep ke timur ada yang ngadep ke barat, utara, selatan. Nah, ilmu itu bisa sampai ke kita adalah melewati guru yang menyampaikan kebenaran dengan sebenar-benarnya, Islam sampai ke kita itu sampai dengan sebenar-benarnya sama dengan apa yang disampaikan Rosululloh, itu karena kejujuran dan kesadhiqan guru kita.

Coba kalau gurunya pada pembohong, lalu ngawur menyampaikan ilmu, apa di dalam masjid akan ramai terjadi tawuran, karena kiblatnya beda, dan shalatnya juga beda-beda, jadinya shalat pakai cara masing-masing sesuai ilmu yang diterima, apa ndak jadi ramai, karena yang gurunya suka dangdutan, shalatnya isinya jadi jogetan melulu, dan kenyataannya, shalatnya orang semasjid semua sama, menunjukkan kalau yang menyampaikan ilmu ke kita itu semua bertanggung jawab, dan ilmu sampai ke kita itu masih sama dengan ilmu yang disampaikan Nabi, apa kita tidak berterimakasih?

Man lamyaskurinnasa, fahua lam uaskurilloh, siapa tidak bersyukur pada manusia, maka berarti tidak bersyukur pada Allah, la kita itu kalau sama penjual pakaian, sepatu, sarung, peci, bayar pakai uang, maka sama penyampai ilmu pada kita yang sudah meninggal kita syukurnya pakai apa? Mau dikasih uang, mereka sudah meninggal, mau dikasih roti, mereka sudah tak doyan roti, maka dikirimi fatekhah, pahalanya kita kirim ke mereka, sebagai rasa terima kasih kepada mereka, jadi kita bukan meminta pada mereka, agar kita bagaimana atau bagaimana.

Kenyataannya kita terima atau tidak kita terima, ilmu kita itu lewat Nabi SAW, dan lewat para guru kita, kalau di Jawa ya lewat wali songo, kalau di tempat lain ya lewat ulama’ lain, itu kan kenyataan, maka dinamakan wasilah, wasilah itu kan bahasa arab, namanya lantaran, sebab lantaran Nabi, ilmu, ayat Qur’an itu sampai kepada kita, makanya dikatakan kalau seseorang itu seandainya tak mau mengakui Nabi dan semua guru kita kalau ilmu itu sampai ke kita karena mereka, jika seandainya orang itu berhak masuk surga sekalipun, maka dia tak akan tau jalannya, atau sekalipun dia itu fasih dalam melafadzkan do’a, maka do’anya tak akan sampai ke Alloh, artinya do’anya akan tertolak”.

“Ternyata seperti itu ya? Jadi bukan kita meminta pada mereka?” tanya Zamrozi.
“Tidak sama sekali, malah kita yang mendo’akan mereka, ya kayak baca shalawah, Allohumma sholli ala muhammad, semoga rahmat selalu tercurah pada Nabi Muhammad, kata semoga itu kan do’a, jadi jangan sampai dibolak balik makna dan maksudnya”.

“Ya. Sekarang baru mengerti aku”.
“Lalu saya bagaimana kyai?” tanya Furqon.
“Ya nanti ikut saja dzikir aktif di toreqoh, sudah tak usah ikut aliran yang tak jelas, wong dalam thoreqoh itu lengkap, mau kaya, banyak harta, ya minta saja sama Allah, la Allah kan lebih kaya dari pada jin manapun”.

Kedua orang itupun pulang, dengan semangat baru. Esoknya istriku cerita, “Bah, kemarin orang yang minta air, untuk kakek yang sakit dan menjerit-jerit itu, kakeknya sekarang meninggal dunia”.
“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun, semoga Allah mengampuni dosanya, dan menerima amal ibadahnya”.
“Kemarin katanya habis di kasih minum, langsung diam, diam saja, tak mengaduh-aduh lagi, baru kemudian malamnya meninggal” jelas Husna.

Sore-sore Nanang sudah datang ke rumah, dengan wajah yang kelihatannya ada masalah.

“Ada apa?” tanyaku.
“Saudaraku kena santet, perutnya mengeras” jawabnya.
“Ya sudah bawa kesini saja, sekarang di mana?”.
“Di rumah, ku bawa kesini ya”.
“Ya bawa kesini” jawabku.

Lalu Nanang pulang, aku duduk di teras rumah menunggu Nanang mengambil saudaranya, dua orang berboncengan sepeda motor datang dan berhenti tepat di depan rumahku.

“Maaf mas, mau nyari rumah kyai Nur?” tanya yang bonceng padaku.
“Ya kalau Nur ya aku ini, tapi bukan kyai” jawabku.
“Tapi orang yang nyuruh kesini, bilangnya kyai Nur”.
“Mungkin orang lain” kataku.
“Soalnya aku bukan kyai”.

Pas ada orang belakang rumah lewat, seorang tukang kayu.

“Pak, numpang tanya, tahu rumahnya kyai Nur tidak?” tanya yang boncengkan kepada orang yang lewat itu.
“La yang sampean ajak bicara itu kyai Nur” jawab tukang kayu.
“Oh makasih pak” kata yang boncengin motor.
“Maaf mas, kami agak ragu, soalnya mas ini masih muda, la masak punya kebisaan yang macam-macam, menurut yang menyarankan kami kesini” kata yang di bonceng motor yang lebih tua umurnya.

“Mari silahkan duduk di sini, ada keperluan apa sebenarnya?” tanyaku mempersilahkan mereka berdua duduk di teras rumah.
“Anu mas saudara kami kerasukan, dan tadi kami ada yang bilangi, kami diminta ke sini untuk meminta air” jelas yang lebih muda.
“Oh gitu, ya kalau gitu tunggu sebentar” kataku lalu masuk ke dalam, dan mengambil air aqua.
“Namanya siapa?” tanyaku.
“Romdona mas”.
“Bin siapa?”.
“Bin Mujaid”.

Air lalu ku tiup, lalu ku memberikan air aqua yang selesai ku tiup kepada mereka berdua.

“Nanti air ini diminumkan saja yang kerasukan, dan diusapkan ke wajahnya” jelasku.
“Ya kalau begitu terima kasih mas, sekalian kami pamit dulu”.
“Monggo-mongo silahkan” kataku.

Pas Nanang datang membawa saudara perempuannya yang kena santet, kelihatannya sih sehat-sehat saja, tak kelihatan sama sekali kalau ada penyakit di badannya.

“Ayo ke dalam saja” kataku karena tak enak dengan perempuan di depan teras rumah.
“Sakitnya bagaimana mbak?” tanyaku kepada kakak perempuannya Nanang.
“Awalnya sakit biasa saja mas, aku juga ndak ngira kalau aku akan di santet, ini di perutku, kayak ada lempengan besi, keras dan kayak papan, dan rasanya sakit sekali, sebenarnya sudah diobatkan kemana-mana, malah pernah dikeluarkan ada beling, silet dan jarum, tapi kok ya ndak sembuh” jelas Hadijah, nama kakak perempuan Nanang.

“Walah kalau aku ya ndak bisa mengeluarkan yang kayak gitu mbak, yang bisa mengeluarkan kayak gitu yang punya ilmu, la saya ini orang bodoh, ndak punya kelebihan yang aneh-aneh, bisanya berdo’a” kataku.
“Maaf coba ku do’akan ya, ini masih sakit perutnya?”.
“Masih mas, sakit sekali”.
“Maaf”.

Aku arahkan tanganku ke perut Hadijah jarak 10 cm, lalu aku mulai berdo’a, setelah 3 menit berlalu.

“Sekarang coba di pakai nafas pakai perut, masih sakit apa tidak?”.

loading...

Hadijah pun bernafas pakai perutnya.

“Masih sakit?” tanyaku.

Dia menggeleng, “sudah tak ada rasa sakit mas”.
“Coba di raba perutnya, masih kerasa ada lempengannya apa tidak?”.

Dia pun meraba perutnya, dan menekuk nekuk badannya.

“Alhamdulillah sudah hilang mas” jawab Hadijah dengan wajah senang.

Aku lalu ke dalam, mengambil air putih dan ku bawa ke depan Hadijah, ini nanti air putih ini di pakai mandi di guyuran terakhir, orang di santet itu kalau di obati sembuh, ya kalau ndak di pagar pasti di santet lagi ya kena, makanya ini nanti di pakai mandi, insya Allah akan menjadi pagar” jelasku.
“Iya mas terima kasih” jawab Hadijah.

Nanang mendekat.

“Ada apa Nang?” tanyaku.
“Kemarin di tempat sekolahku, ada kerasukan lagi, yang merasuk jin Islam, malah dibacakan yasin, dan ayat kursi jinnya ndak mau keluar, aku pas keluar sekolah, sedang menjalankan tugas di luar sekolah, lalu di panggil kembali ke kelas, dan akhirnya aku yang bisa mengeluarkan jinnya” jelas Nanang.
“Ya sudah, itu sudah baik” kataku.

“Masalahnya bukan itu, masalahnya ada guru yang tak suka, dia sebelumnya sudah cerita ke orang-orang, kalau dia itu punya ilmu kesaktian macam-macam, nah pada saat aku ndak ada kan dia ikut mencoba mengeluarkan jinnya, sudah di sembur pakai air, sudah di pencet jarinya yang kerasukan, di banting, di apa-apakan tapi jinnya tak keluar juga, makanya dia malu, ya karena malu itu, saat aku bisa mengeluarkan jinnya, eh malah dia menuduhku bahwa yang merasuk itu jin milikku, makanya hanya aku yang bisa mengeluarkan, sebab sudah di setting seperti itu, akhirnya aku kan ndak terima di tuduh seperti itu apalagi di depan orang banyak, kami jadi ramai, dia nantang-nantang, malah bilang siapa nanti yang lebih dulu masuk surga, la kok ya aneh, yang mati duluan juga belum tentu masuk surga duluan, kok dia nantang-nantang kayak gitu kami sampai debat lama”.

“Kamu juga salah, ndak usah debat-debat segala, ndak usah banyak bicara yang ndak ada manfaatnya, segala sesuatu itu kan yang penting buktinya, kenyataannya, ya kalau bicara, anak SD juga bisa, harusnya kamu tinggal saja ndak usah di layani”.
“La wong saya kan panas, di tuduh tanpa bukti, di fitnah”.
“Ya kalau begitu kamu musti lebih giat lagi menata hatimu, kalau masih keseret pada hal-hal yang sia-sia, pada hal yang tak ada manfaatnya sama sekali, tong itu kalau kosong kan ya keras bunyinya”.
“Ya saya juga kan punya gengsi, martabat”.
“Gengsi dan martabat yang bagaimana?”.

“Gini lo Nang, manusia itu meyakinkan dirinya melalui dua cara, pertama dengan akal dan keduanya dengan hati. Bidang akal ialah ilmu dan liputan ilmu sangat luas, bermula dari pokok kepada dahan-dahan dan seterusnya kepada ranting-ranting. Setiap ranting ada ujungnya, yaitu penilaian, pemahaman, dan pengertian. Ilmu itu secara mendasar selalu sama pada perkara pokok, bertolak ansur pada cabangnya dan berselisih pada rantingnya atau penyelesaiannya. Jawaban kepada sesuatu masalah selalunya berubah-ubah menurut pendapat baru yang di temui. Apa yang di anggap benar pada mulanya bisa jadi salah pada akhirnya. Oleh sebab sifat ilmu yang demikian orang awam yang berlarut-larut memperdebatkan pada sesuatu perkara bisa jadi mengalami kekeliruan karena mengalami kekacauan pikiran dan keterbatasan pemahaman pada dirinya, di dunia ini kan banyak juga orang yang idiot, atau lemah akalnya.

Salah satu perkara yang mudah mengganggu fikiran misal saja masalah takdir atau Qada dan Qadar. Jika persoalan ini diperbahaskan hingga kepada yang halus-halus seseorang akan menemui kebuntuan karena ilmu tidak mampu mengadakan jawaban yang konkrit. Qadak dan Qadar diimani dengan hati. Tugas ilmu ialah membuktikan kebenaran apa yang diimani. Jika ilmu bertindak menggoyangkan keimanan maka ilmu itu harus disekat dan hati di bawa kepada tunduk dengan iman akal pikiran di tutup dari membuat penilaian sendiri. Sehingga tercipta membimbing ke arah itu agar iman tidak di campur dengan keraguan sebab tiada tercampuri oleh pendapat akal yang pada kenyataannya selalu terbatas, makanya banyak orang yang mengatakan, ah tak masuk akal, sekalipun tak masuk akal kan kenyataannya terjadi, seperti saudara perempuanmu ini yang kena santet sekalipun akal tak mau menerima, kan kenyataannya sudah terjadi di depan mata, lalu aku mendo’akannya, juga kan tak masuk akal, jadi segala sesuatu itu tak harus masuk akal dulu baru terjadi.

Dan selama manusia bersikukuh pada akalnya sendiri, maka dia hanya mutar-mutar pada hitung-hitungan yang kenyatannya sering meleset dari perkiraan, mau ke Jakarta, sudah disediakan uang sekian rupiah, eh di jalan ternyata tak cukup, karena ada kejadian-kejadian yang di luar perhitungan akal. Dan apapun yang tak kita ketahui itu dinamakan gaib, juga hari esok yang belum kita ketahui itu dinamakan gaib.

Selama nafsu dan akal menjadi hijab, beriman kepada perkara gaib dan menyerah diri secara menyeluruh tidak akan di capai. Qada dan Qadar termasuk dalam perkara gaib. Perkara gaib disaksikan dengan mata hati atau basirah. Mata hati tidak dapat memandang jika hati di bungkus oleh hijab nafsu. Nafsu adalah kegelapan, bukan kegelapan yang zahir tetapi kegelapan dalam kegaiban. Kegelapan nafsu itu menghijab dan menutupi sedangkan mata hati memerlukan cahaya gaib untuk melihat perkara gaib. Cahaya gaib yang menerangi alam gaib adalah cahaya roh karena roh adalah urusan Alla. Cahaya atau nur hanya bersinar apabila sesuatu itu ada perkaitan dengan Allah”.

“Jadi egomu, rasamu merasa disakiti dan merasa di fitnah, itu hanya akan menutupi batinmu dari keterbukaan, bathinmu jadi tak terbuka, dan tidak mau menerima, kalau segala sesuatu itu sebenarnya telah dalam perancangan Allah, nur Allah yang melintasi hatimu tak akan meninggalkan jejak pemahaman jika hatimu masih di liputi rasa benci dendam, dan sibuk dengan hitung-hitungan, coba kau angan-angan, jika kamu di tuduh ini-itu, yang tak kamu lakukan, kamu kemudian terseret oleh tuduhan itu, bukankah itu akan merugikan dirimu, seperti orang yang punya tanah, lalu di lempari kotoran orang lain, lalu balas melempar kotoran itu kembali pada orang yang melempar, ada yang bayar sekalipun menurutku itu bukan sesuatu yang pantas dilakukan, karena hanya akan membuang waktumu sia-sia, juga kerugian terbesar, hati akan di penuhi limbah kebencian, yang jelas-jelas akan membuatmu tak tahan dengan keadaan itu, misalkan kamu bertemu dengan orang yang kamu benci itu, segala gerak gerikmu akan tak bebas, percayalah, kalau kamu masih mempertahankan keadaan seperti itu, sepuluh tahun kemudian kamu tak akan makin dekat dengan Allah, hanya akan menjadikanmu makin jauh saja, biarlah orang lain itu mengumbar kebenciannya, kalau bisa kita itu menebar kasih sayang, agar kedamaian di dalam diri itu terpupuk, ketenangan dan ridho pada keadaan akan menjadikan diri tenang dalam setiap langkah, sekalipun di sekitar kita banyak orang yang melakukan perbuatan tercela, setiap manusia itu menjalani takdirnya sendiri, jika diburukkan orang di fitnah, bisa jadi itu jalan Allah mengurangi dosa kita yang menggunung”.

“Iya mas, saya mohon selalu di bimbing”.
“Sudah sana bawa kakakmu pulang” kataku dan Nanang dan Hadijah pun mohon diri.

Pagi-pagi, orang yang kemarin datang minta air untuk mengobati yang kerasukan sudah datang.

“Bagaimana, sudah sembuh?” tanyaku.
“Belum mas, malah airnya tak ada efeknya sama sekali” jawabnya.
“Lhoh kok aneh?” kataku heran.
“Ya ndak tahu mas” jawab mereka berdua.
“Oh ini yang saudaranya kerasukan di pabrik, la sudah mengandung masih kerasukan, jadi ngeri” kata Kang Din yang kebetulan lewat.

“Lhoh memangnya yang kerasukan perempuan? La kok ndak bilang kalau perempuan, ku tanya bin nya siapa jawab saja”.
“Iya perempuan, malah mengandung” jawab Kang Din.
“Walah, gimana to, ya jelas ndak ngefek, la wong airnya ku do’akan untuk mengobati lelaki yang bernama Romdona, wah khodamnya bingung itu pasti ubek-ubekan mencari mana lelaki yang bernama Romdona”.
“Lha saya ndak tahu mas, kalau seperti itu ada bedanya” kata salah seorang yang meminta air.
“Ya jelas beda, kan lelaki sudah jelas beda sama perempuan, bodi tubuhnya saja kelihatan kalau tak sama, sudah nanti ku kasih air lagi, kalau minta obat itu yang jelas, jadi ndak kesalahan”.
“Ya maaf mas”.

Maka ku kasihkan air isian lagi, dan di bawa pulang, dan Alhamdulillah, langsung sembuh ketika di kasih air.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 61.

Whatsapp: 0852 1406 0632