Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 60. Apa yang datang dari Allah, entah peraturan, ilmu, cara hidup, dari yang terkecil, dari masalah sepele, sampai masalah yang besar, dari cara mencari pekerjaan, sampai cara beragama, apa yang diwariskan Nabi itu sudah cukup dan sempurna untuk di ikuti, tanpa menambah atau mengurangi, kita hanya perlu tau semua apa yang diwariskan, jangan karena tahu sedikit lalu membutakan mata pada pengetahuan yang lain, sebab apa yang diwariskan Nabi itu sudah kelengkapan yang tak terbantah, sekalipun karena kita lebih memenangkan nafsu, dan hati masih tertutup untuk menerima kebenaran, karena ketakutan hilangnya entah kenikmatan, kedudukan, nama besar, lalu kita mementahkan kebenaran, sama sekali Nabi itu tak menyembunyikan ilmu yang di miliki, tapi ada kalanya ilmu itu di peroleh setelah menjalankan suatu amalan, seperti seorang yang bisa merasakan manisnya daging jeruk, setelah mengupas kulitnya.

Nabi memberikan jeruk, lalu kita tak pernah mau melakukan amaliyah mengupas kulitnya, maka sampai tua pun, daging jeruk yang manis, mustahil kita rasakan, apa itu salah Nabi? Jelas bukan, itu salah kita sendiri, karena maunya dikupaskan, padahal kita punya nyawa, punya hati, punya pikiran, punya urat yang menggerakkan tangan karena dapat sinyal perintah dari hati, dan pikiran membuat cara terbaik menyelesaikan tugas, agar hasil akhir memuaskan dan banyak manfaat yang di peroleh.

Majelis dzikir secara resmi ku buka, pertama aku ragu, apa nantinya akan banyak yang akan ikut dzikir, dan keraguan itupun sirna. Pertama kali Majelis dzikir ku buka, dan tak ada yang ku undang, artinya aku tak memakai kartu undangan. Dan pertama kali yang datang hanya tetangga kanan kiri, dan itu pun tak semuanya ikut, karena kenyataan di dunia ini ada orang yang anti dzikir, dan hanya anti saja, entah kenapa mereka anti, jika di tanya juga mereka tak akan mampu menjawab, sebab ilmu ke sana juga tak ada, yang jelas mereka anti, sekalipun Allah memerintahkan wadzkurulloha katsiro, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya.

Dan yang jelas, orang yang anti dzikir itu pasti hatinya tak akan tenang, dzkir bagi hati itu seperti air bagi ikan, atau air bagi tanah, wa anzalna minassama’i ma’an, fa akhya bihil ardho ba’da mautiha, lalu kemudian Allah menurunkan hujan, maka hiduplah karena hujan itu bumi yang sebelumnya telah mati, sebagaimana tanah yang mati, tanah akan tandus, gersang, kering, panas, marah, suntuk, ya kayak kita ada di tengah-tengah padang pasir di panas yang terik, apa yang kita rasakan, kuat tidak kita bertahan di keringnya panas dan angin panas.

Begitulah hati yang mati, seperti tanah yang mati, di mana rumput tak mau hidup, dan manusia tak kerasan berada di dalam dirinya sendiri, selalu tak kerasan duduk dalam satu dudukan, karena rasa suntuk, panas hati, sumpek, mudah tersinggung dan marah, di manapun tak nyaman, karena hati sebagaimana tanah padang yang gersang ada di dalam tubuhnya, segala penyakit dan kesempitan pandangan hidup meraja, dan semakin parah lagi jika kemudian apa yang menjadi permasalahannya sendiri itu dia sendiri tak menyadari, kalau itu adalah dari dirinya sendiri, dari hatinya sendiri.

Kegersangan itu sebenarnya tak jauh dari apa yang keluar dari perut bumi, jika yang keluar dari perut bumi itu limbah dan minyak, batu dan kerikil, racun dan lumpur yang mengandung bahan berbahaya, maka dengan sendirinya bumi akan kering, sebenarnya tak beda dengan hati kita, karena kita ini kenyataannya tercipta dari tanah, maka segala persifatan kita ini tak akan jauh beda dengan tanah.

Apa yang terjadi dan menimpanya sehingga menjadi amat mengenaskan, sebenarnya bermula dari perut, dan apa yang menjadi isi perut itu bermula dari apa yang kita makan, dan apa yang kita makan itu bermula dari rizqi yang kita cari, jadi halal haram itu sangat berpengaruh pada hati.

Ketika makanan yang kita peroleh dari rejeki yang haram, itu kita makan, dimakan keluarga kita, dimakan anak-anak kita, maka rejeki itu tertelan, lalu di proses oleh pencernaan, dasarnya rejeki yang tak halal, maka sarinya kemudian mengaliri darah, lalu saripatinya menjadi sperma dan menetesi hati, menjadi racun yang menggersangkan hati, maka jangan heran jika kemudian rejeki yang tak halal itu kemudian menjadikan anak kita menjadi anak yang sangat buruk prilakunya, sebab persifatannya kita bangun hatinya dari makanan yang tak halal, juga kita teramat mudah suntuk, marah, sesak, keras kepala, pemarah, mudah tersinggung, irian , dengkian, tak pernah kerasan jika di ajak berbuat baik, dan bersemangat jika di ajak berbuat jahat, itu semua karena hati kita terbangun dari makanan yang haram, seperti tanah yang di dalamnya mengalir minyak dan menumpahkan lumpur beracun.

Jika hanya menjadikan kita berbuat jahat untuk diri sendiri itu tak apa. Tapi jika kemudian yang kita sudah mempunyai sikap melahirkan keburukan kepada orang lain, maka siapapun kita itu adalah telah menggolongkan diri dalam syaitan bergolongan manusia, yang disebut dalam surat Annas, yaitu setan dari golongan jin dan setan dari golongan manusia.

Apakah kita itu seperti itu? Yang selalu berusaha mencegah orang lain berbuat kebaikan, yang selalu merasa iri dengki ketika orang lain melakukan kebaikan, dan orang lain mendapat anugerah dari Allah, apakah kita selalu sekuat daya menghalangi orang lain melakukan kebaikan, jika diri melakukan kajahatan maka dibenarkan, jika orang lain melakukan kebaikan maka disalahkan, jika kita sudah seperti itu maka sifat syaitoniyah kita telah mendarah daging. Karena makanan yang kita konsumsi, dan telah meracuni segala darah, pikiran, hati, perasaan, sehingga apapun yang dilakukan orang lain sekalipun itu kebenaran, maka itu di anggap sebagai suatu kesalahan, karena mata juga telah teraliri racun saripati dari makanan haram yang kita makan.

Alhamdulillah Dzikir pertama semua berjalan lancar, dan jama’ah pertama langsung mengikuti talkin, untuk menjadi pengurus, tapi besoknya ada laporan yang masuk kepadaku, katanya Kyai Askan menemui salah satu pengikut majelis dzikirku yang bernama ibu Anisah.

“Bu Anisah, kamu semalam ikut dzikir di rumahnya Ian?” tanya kyai Askan.
“Iya, hampir semua orang dekat pada ikut” jawab Bu Anisah.
“Halah Ian itu anak kemarin sore, dia itu bisa apa, tahu apa, kok kamu ikuti, yang diajarkan ya kitab apa? Paling-paling aliran sesat, nanti kamu ditangkap polisi, kalau mengikuti alirannya, paling juga yang di bakar menyan, nanti kamu di penjara Bu, awas hati-hati Ian itu sekolah saja paling tingkat berapa, orang tak tahu apa-apa kok di ikuti, dia juga miskin, tak punya apa-apa, ngikuti kok orang miskin, nanti kamu ketularan miskin” kata Kyai Askan.

loading...

“La banyak orang yang ikut ngaji di sana, la yang tak pernah mengaji saja juga ikut, bagaimana dikatakan sesat, la kami bersama-sama menghatamkan Al-Qur’an, ya kalau Ian sesat, berarti Al-Qur’an juga sesat, la dia tak punya apa-apa, ndak sekolah tinggi, Nabi juga kan miskin, tak punya apa-apa, juga tak kuliah, apa Nabi juga tak boleh di ikuti?” bantah Bu Anisah.

“Wah baru ikut ngaji, kamu sudah keminter, sok pintar”.
“Ya bukan masalah pintar, memang sampean yang pintar, tapi itu kan kenyataan, la Ian itu juga ndak pernah utang sama sampean, ndak pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah sampean, juga ndak pernah nyolek sampean sedikitpun, la kok sampean urus, sampean benci, apa salah dia?”.
“Ah kamu akan melarat kalau begitu”.
“Melarat bagaimana, la ini lihat sendiri, biasanya jualanku sehari baru habis, sekarang karena semalam ikut pengajian di tempat Ian, sekarang lihat satu jam semua terjual habis, orang datang seperti semut, ini tak aku saja, juga yang lain, la melarat bagaimana, malah aku ingin diadakan pengajian tiap hari, kalau daganganku laris, kan aku juga bisa naik haji”.

“Itu namanya pamrih, ngaji tapi pamrih”.
“Pamrih bagaimana? Malah sebelum kami ngaji, Ian menjelaskan kalau ngaji itu yang ikhlas, jangan punya keinginan apa-apa, upayakan hati hanya melulu memenuhi perintah Allah, itu kata Ian sebelum pengajian di mulai, dia juga bilang kalau mau meminta, ada tempatnya sendiri, yaitu saat berdo’a, tapi juga perlu di ingat do’a itu kita melakukan do’a, bukan agar di ijabah, karena ijabah itu haknya Allah, dan kita hamba, jadi berdo’a karena melulu memenuhi perintah Allah, tiada yang lain, soal nanti isinya do’a itu apa dan bagaimana, maka itu sekedar do’a”.
“Wah kamu akan sesat benar Bu, sudah mengajari aku sebagai Kyai, sok pintar, pasti kamu itu sudah di minumi air, agar menjadi budaknya Ian”.

“Wong aku ini ikut ngaji, kemauanku sendiri”.
“Alah nanti juga kamu di mintai uang”.
“Malah tidak, aku sering meminta do’a supaya disembuhkan dari sakit, tapi aku tak pernah di mintai uang sama sekali, malah tak pernah bayar, sudah dapat air mineral gratis”.
“Ya ikut orang bodoh, jadinya ikut bodoh, air saja di percaya mengandung khasiat obat”.
“Ya dari pada minum obat dari dokter, yang banyak efek sampingnya, ya aku lebih memilih minum air putih, kalau sama-sama sembuhnya”.
“Itu namanya syirik”.

“Syirik yang bagaimana? La air itu dido’akan, dimintakan kepada Allah, la kalau minta kepada Allah di bilang syirik, lalu yang tak syirik itu yang bagaimana?” tanya Ibu Anisah.
“Ah ngomong sama orang bodoh susah” kata Kyai Askan, sambil menggebrak meja jualannya Ibu Anisah.
“Lhoh kok gebrak-gebrak meja orang, kalau rusak, kamu mau mengganti?” kata Bu Anisah jengkel melihat tingkah Askan.
“Nanti akan ku buat tandingan wirid untuk menandingi wiridnya Ian, akan ku buat wirid panjang umur” kata Askan dengan bentakan.

“La kenapa musti membuat tandingan, la sampean mengadakan wirid jama’ah sendiri saja tak ada yang melarang”.
“Pokoknya akan ku buat tandingan”.
“Wirid kok tandingan, aku yang bodoh saja tahu itu tak benar, masa ada wirid tandingan, la dzikir itu kan harus kalau tanding-tandingan apa bisa ikhlas”.
“Iya kamu sudah ikut wirid di tempatnya Ian, jadi kamu belain dia”.
“Aku bukan belain Ian, Ian itu juga tidak mengajak orang wirid, tapi semua yang ikut itu tak ada yang keberatan, malah pada senang, soalnya ada efeknya” jelas Bu Anisah.

Dan memang yang ikut wirid di majelisku semua punya cerita aneh-aneh sendiri. Kayak Bu Anisah sendiri, yang katanya biasanya dia yang uangnya banyak di pinjam orang, kalau sebelumnya walau di datangi dan di tagih utangnya saja orang yang ngutang-ngutang pada marah, tapi sekarang malah orang yang pada punya hutang itu datang sendiri untuk membayar utang, bahkan yang sudah 10 tahun juga membayar, dan yang lebih membuat senang jualannya laris. Ada juga cerita Maskur, yang jualan jajanan di pinggir jalan, awalnya Maskur ragu mau ikut, tapi dia ikut, dan menyediakan air yang biasanya di taruh di tengah orang pada wirid, besoknya airnya diciprat-cipratkan ke tempat dagangannya,
Istri Maskur yang memang tak suka suaminya ikut dzikir bersama melihat apa yang dilakukan suaminya, berkata.

“Ah tak ada efeknya sama sekali mas” kata istri Maskur.
“Ya ada tidaknya efek kan juga tak bisa langsung seketika” jawab Maskur yang juga makin ragu.

Tapi kemudian sebentar tapi pasti, orang-orang datang, dan terus berdatangan, terus berdatangan, bahkan membeli dalam partai besar, dan anehnya hampir semua bukan pelanggan lama, tapi orang yang tidak di kenal, sampai Maskur dan istrinya tak terlihat, karena banyaknya pembeli yang mengerubung padanya. Sekarang bukan Maskur yang harus ngomong ke istrinya dulu kalau mau ikut dzikir, tapi malah istrinya yang selalu ingin Maskur ikut dzikir, memang kadang kecendrungan nafsu pada sesuatu itu sah saja di pakai penarik agar diri menjadi senang dan cenderung pada jalan Allah. Seperti Maskur dan istrinya yang semangat mendekatkan diri pada Allah, dan keikhlasan itu bisa dilatih dari kebiasaan dan keseharian.

Hanya orang-orang yang mau meminum buah fadhilah yang akan mengecap manisnya buah fadhilah, dan anugerah Allah itu hanya diberikan kepada orang-orang yang mau mendekatkan diri, tanda Allah menginginkan kita itu menjadi kekasihnya, adalah Allah menumbuhkan rasa di hati kita untuk mendekatkan diri, dan jika Allah itu tak menghendaki kita itu dekat dengan-Nya, sekalipun Nabi muhammad SAW itu ada di depan kita dan mengajak sampai menangis air mata, maka tak sedikitpun kita akan tertarik, sebab hidayah itu milik Allah. Tak bisa kita paksakan pada siapa saja.

Tidak ada kesusahan (bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar) dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. (Ayat 11 : Surah at-Taghaabun).

Tanda kebodohan seseorang itu adalah ketika telah merasa bahwa segala sesuatu itu bisa dikendalikan akal, dan bukan seorang yang pintar, jika telah merasa karena akal pikirannya telah bisa melakukan sesuatu yang orang lain tak bisa, padahal jelas jika ada orang mati itu sama sekali tak bisa akalnya bisa mengantarkannya ke kuburan, yang gotong mayatnya tetap saja tetangganya, maka semakin seseorang itu merasa dirinya bisa, dan merasa orang lain tak bisa seperti dirinya, maka jelas orang tersebut makin tak paham akan keberadaan siapa dirinya.

Dalam perjalanan menuju Allah S.W.T ada sebahagian orang yang tertinggal di belakang walaupun mereka sudah melakukan amal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang lain yang lebih maju. Satu halangan yang menyekat golongan yang tertinggal itu adalah kebodohannya yang tidak mau tunduk kepada ketentuan Allah. Dia masih dipermainkan oleh nafsu dan akal yang menghijab hatinya dari pada melihat Allah pada apa yang dilihat. Pandangannya hanya tertuju kepada alam benda dan perkara lahir saja. Dia melihat kepada keberkesanan hukum sebab-musabab dan meletakan pergantungan kepada amalnya.

Dia yakin yang dia boleh mendapatkan apa yang dia ingini melalui usahanya. Sehingga atas apa yang dilakukan adalah melulu ukurannya akal pikiran, bahkan karena akalnya itu, kemudian manusia itu terseret pada akal-akalan. Mengakali diri dan mengakali orang lain, jika sakit sekalipun, maka akan diakali biar sembuh, dan tak di baca kenapa aku sakit, sehingga Allah berulang kali memberikan peringatan, itu di anggapnya karena sesuatu sebab yang menimpa, karena ketergantungannya pikirannya pada hitung-hitungan akal, dan tak mau mengakui bahwa apapun di dunia ini nyata adalah ciptaan Allah, dan entah besok, lusa, atau kapan pasti mati.

Ada seorang muridku yang bernama Suhandi, masa lalu Suhandi amat gelap, dan suram yang di kejar adalah bisnis yang menyandarkan pada akalnya, memang kadang perhitungan akal itu kadang benar, tapi tak sedikit yang kemudian meleset, karena hal yang di luar perhitungan akal, di saat perhitungan akal itu berjaya, dan mendapat hasil yang maksimal dari jerih payah, maka akal akan cenderung merasa berkuasa, dan mempunyai power lebih, tapi ketika ternyata perhitungan salah, maka akal tak bisa berlari dari tubuh, keberadaannya tak bisa mencerna sesuatu yang tak bisa di logika, dan logikanya tak mau percaya itu telah terjadi, lalu dia berusaha mencari solusi di luar akal karena akal sudah terlanjur percaya pada apa yang terlihat dan bisa di akal, maka dia pun akan mengutamakan mencari yang akan bisa menerima, paling tidak terlihat oleh kedua mata, sehingga akal akan merasa ditenangkan.

Suhandi adalah pekerja yang ulet di masa mudanya, ulet dan tahan banting, juga akalnya penuh perhitungan matang, tapi sekalipun telah diperhitungkan dengan matang, apa yang diperhitungkan ternyata kemudian meleset, dan dalam waktu sekejap kebangkrutan pun mencengkeram perjalanan karir bisnisnya, lalu dia mencari solusi ke dukun, ya dalam akal pikirannya, dukun lebih jelas terlihat dari pada Allah yang tak terlihat, maka dukun itu dia jadikan meminta suatu penyelesaian atas masalah yang dia hadapi. Dan pas saja, ternyata setiap solusi yang diberikan dukun itu selalu membawa kebangkitan atas bisnisnya yang ambruk, entahlah, setiap kejadian itu memang sudah di rancang oleh Allah dengan perancangan yang rapi, agar kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran di dalamnya, dimana akan menjadikan kita lebih hati-hati mengambil kesimpulan, dan tak tercebur dalam lubang yang orang lain jelas-jelas kita tahu ceritanya.

Suhandi pun mulai menapaki lagi usahanya, dan setiap waktu dia ke dukun itu dan juga punya dukun cadangan, yang bisa di mintai saran, dan masukan akan rejekinya lancar, bahkan Suhandi telah di minta berhenti shalat pun dia lakukan, karena dia merasa apa yang diperolehnya dari limpahan materi sangat membuat hatinya senang, walau tidak bisa dikatakan hatinya tentram, oleh dukun itu, Suhandi ditunjukkan dengan cara melihat kedepannya bagaimana bisnis Suhandi kedepannya, dan dukun itu memakai alat seperti lampu ublik, yang memakai sumbu, lalu lampu itu diletakkan di tengah air, dan secara sendirinya katanya si dukun itu kemudian tahu akan apa yang akan dilewati Suhandi dalam mengurus bisnisnya, sehingga bisa memberikan solusi atas apa yang seharusnya dilakukan Suhandi.

Jika seorang dukun bisa melihat masa depan, ternyata dia meninggal di kamarnya dengan orang lain termasuk anak istrinya tak ada yang tahu, karena dukunnya Suhandi itu punya kamar semedi sendiri, yang tak siapapun berani masuk, kalau si dukun sedang menjalani semedi, eh tahu-tahunya si Dukun sudah meninggal, karena keluarganya mencium bau busuk, setelah di dobrak pintunya, maka ditemukan dukun itu telah menjadi mayat, bahkan sudah ada singgatnya yang sebesar jali kelingking, sedang memakani tubuh dukun itu.

Di tinggal si Dukun meninggal dunia, mungkin yang paling sedih adalah Suhandi, dari pada istrinya dukun, bukan masalah sedih karena kasihan atau iba, tapi karena kemudian Suhandi tak ada lagi yang akan menunjukkan solusi masalahnya. Itu artinya bisnisnya akan bangkrut lagi, padahal Suhandi telah terlanjur membuat produk banyak, karena memperhitungkan kalau si dukun akan berumur panjang, dan segala permasalahan dagangnya akan selalu ada yang memberi solusi atas apa yang dilakukannya, tapi kenyataannya dukun itu manusia, walau di bilang bisa melihat ke masa depan, la kok umurnya sendiri dia tak tahu kapan masa kontraknya di dunia ini habis.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 62.

Whatsapp: 0852 1406 0632