Kisah Sang Kyai Guru Bagian 65 - 284 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 64. Setiap manusia itu akan di uji dengan kadar kesanggupan, dan selalu berhubungan dengan apa yang dijalani, semakin seseorang itu mau menjalani laku ujian sebelum diuji, maka ujian yang akan diterima akan makin ringan, walau sebenarnya sama kadarnya, tapi menjadi ringan karena telah membiasakan diri menjalani ujian itu, manusia itu akan diuji dengan lapar, ekonomi, huru-hara, kehilangan, istri, keluarga, anak, kedudukan, kecelakaan, dan berbagai penyakit, itu semua bisa dipastikan akan menimpa manusia, jika manusia itu tidak mempersiapkan diri, artinya tidak melakukan amaliyah riyadloh, entah puasa, entah menahan keinginan dari apa yang dikehendaki nafsu, dan selalu menuruti, bahkan cenderung mengejar apa yang terlintas dibisikkan nafsu selalu berusaha dituruti, maka ketika diuji dengan ujian, seketika rasa sakitnya akan berlipat-lipat, rasa kehilangannya seperti sebuah pohon yang terhujam dalam ke bumi, lantas dicabut dengan paksa, maka akan terjadi lubang di bagian jiwa yang menganga.

Sebaiknya seorang itu memang harus mempersiapkan diri, dan selalu mempersiapkan diri, sehingga ketika terjadi ujian itu datang, segala persoalan itu akan tenang dihadapi, dan dengan ketenangan segala sesuatu itu akan mudah dicari solusi terbaik.

Seringkali karena tanpa persiapan, dan hidup cenderung menuruti kesenangan, ketika ujian itu menimpa, maka seakan di dunia ini hanya kita sendiri yang mengalami perihnya cobaan itu, tak ada orang lain yang mengalami keperihan cobaan serupa kita, sehingga tangis sedih, seumpama mengeluarkan air mata darah belum cukup menuntaskan dan menjelaskan sakit yang kita derita, padahal tidak seperti itu, setiap manusia itu punya urat, dan punya rasa sakit yang sama, hanya orang yang sebelumnya mempersiapkan diri, dan orang yang selalu waspada yang akan memetik buah manis perjalanan hidupnya.

Jum’at kliwon, di tempat guruku di Banten selalu berkumpul para murid-murid lama yang masih punya waktu untuk saling mempererat jalinan silaturahmi, kadang aku juga selalu berusaha menyempatkan diri untuk datang kepada guru, sungkem dan menuang kerinduan dengan guru juga teman seperjuangan, dan saling bertukar kisah, ada saja kisah yang aneh di antara kami untuk diceritakan yang selalu mengiringi perjuangan kami.

Duduk mengitari kopi, kadang satu gelas diminum bareng-bareng, bukan karena tak ada kopi, sebab nilai kebersamaan itu lebih mempererat ikatan hati, ada si Amir yang tubuhnya kurus seperti lidi, padahal tiap hari juga porsi makanan juga sama, jadi heran kenapa tubuhnya kurus sekali juga tinggi, mungkin setiap makan langsung dibuang di kamar kecil, sehingga pengeluaran sama pemasukan jauh berbeda, ada si Ahsin, yang tubuhnya kurus lebih tipis dari triplek, memandangnya saja seperti merasa kasihan, sering dikasih uang orang karena dikira anak yatim piatu, atau si Lanang yang lebih suka memanjangkan jenggotnya, kali aja apa yang dimakan masuk semua dikonsumsi jenggotnya, sehingga untuk gizi tubuhnya tak kebagian, dan banyak teman-teman yang lain, yang semuanya mengambil tempat duduknya masing-masing, aku juga tak banyak yang kenal, karena kami murid dari angkatan di masa dan kurun berbeda-beda, kali ini yang banyak bercerita si Petruk, aku sendiri sampai lupa nama aslinya, karena banyak yang memanggil begitu, dia dari Bogor, si Petruk bercerita.

“Wah ini sudah mulai dekat bulan romadhon, jadi ingat dulu sama kyai waktu bulan romadhon” kata si Petruk sambil menyalakan rokok Djisamsoe kesukaannya.
“Memang ada cerita apa?” tanya Lanang.
“Dulu pas di gunung putri, sama kyai, kita semua mau buka, tapi ndak ada yang mau dipakai buka, kyai nanya sama kita semua, ada beberapa orang”.
“Ini enakan buka pakai apa?” tanya kyai.
“Enakan buka pakai sarden ikan kyai” jawab Mang Sanip.
“Yang lain sukanya makan pakai apa?” tanya kyai pada yang lain.

Yang lain ditanya juga bingung, karena memang tidak ada apa-apa untuk dimasak, atau dimakan, tapi kami jawab bareng, “Sarden juga boleh kyai”.
“Baik tunggu sebentar” kata kyai, lalu kyai masuk ke dalam kamar, dan sebentar kemudian keluar kamar, dengan memanggul berkaleng-kaleng sarden, masih hangat.

Semua heran dan bertanya. “Wah banyak banget kyai, sarden dari mana?”.
“Ini sarden dari pabriknya, ayo dimasak” kata kyai, dan yang tugas masak pun masak, sementara aku sama Mang Sanip.
“Mang Sanip, minumannya ini belum ya?” tanya kyai.
“Iya kyai” jawab Mang Sanip.
“Wah enakan kalau puasa itu minumnya pakai es kelapa” kata kyai.
“Sana ambil kelapa di pohon” perintah kyai sama mang Sanip.
“Wah tak enak kyai, kalau tidak ada sirupnya” jawab Mang Sanip.
“Enaknya pakai sirup apa?” tanya kyai.
“Paling enak pakai sirup marjan kyai, yang rasa strawberri” jawab mang Sanip mantap.
“Petruk, coba ambilin lilin merah di pojokan itu” kata kyai memerintahku.

Dan aku segera mengambil lilin besar berwarna merah yang ditaruh di pojokan ruangan yang biasanya untuk penerangan kalau lagi PLN mati. Sama Kyai lilin merah yang ku berikan kemudian diserut dengan pisau, menyerupai botol, dan setelah menyerupai botol, lalu kyai berkata.

“Sini mang Sanip, sudah jadi ini, coba dipegang ini” kata kyai, menyerahkan lilin yang menyerupai botol sirup, kepada mang Sanip, dan mang Sanip seperti orang bodoh saja mengikuti memegang apa yang diperintahkan kyai.
“Nah sekarang mang Sanip tutup mata” perintah kyai.

Mang Sanip pun menutup mata, dan tubuhnya yang sedang duduk bersila itu diputar sama kyai, dan aku sendiri memperhatikan, jadi heran karena lilin yang dipegang mang Sanip sudah berubah jadi sirup marjan yang rasa strawberri.

“Sudah buka mata” kata kyai. Mang Sanip lebih heran lagi, melihat apa yang dipegangnya, karena lilin telah berubah menjadi sirup dalam botol.
“Sudah sana, kelapanya diambil, dibuat minuman” kata kyai.
“Ah tak mau kyai, ini bukan sirup, ini lilin” kata mang Sanip benar-benar tak mau, sampai sudah dibuat sirup dan diminum sama yang lain, mang Sanip sama sekali tak mau meminumnya, karena dia yakin dia pegang kuat-kuat, kalau lilin itu bukan sirup, dan tak mungkin berubah menjadi sirup, walau kenyataannya berubah menjadi sirup.

Begitulah cerita dari Petruk soal sang kyai, cerita itu masih banyak dan akan selalu ku tulis, tapi kyai selalu mengatakan, itu bukan karomah, itu adalah anugerah Allah. Allah selalu memberi anugerah kepada hamba yang di inginkannya, tak siapapun bisa menolaknya.

Setahun silam, tepatnya sebelum puasa, ada seorang yang membawa anaknya yang lumpuh anak umur 8 tahunan, dibawa ke rumahku untuk dimintakan supaya dido’akan supaya sembuh, alhamdulillah anaknya sembuh, di cerita ini sudah pernah ku tulis, dan ceritanya dia orang tuanya juga mengeluhkan kalau rizqinya susah, maka dia ku tawari untuk ikut dzikir berjama’ah di majlisku, tapi dia menjawab kalau dzikir dan duduk lama-lama dia suka semutan dan tak kuat duduk berlama-lama, makanya dia tak mau, setelah dia menjawab tak mau itu, lama dia tidak kelihatan datang ke rumahku, sampai akhirnya istrinya datang minta air kepadaku untuk suaminya, istrinya menceritakan kalau suaminya tertangkap polisi, karena mengikuti judi TOGEL, dan dalam cerita istrinya dia akan dihukum 7-8 bulan, dan ternyata baru 4 bulan di penjara dia sudah bebas dari tahanan, dan cepat-cepat datang ke rumahku, dan menceritakan kisahnya.

Ceritanya dia: saya sebenarnya hanya membelikan nomer dititipi untuk membelikan nomer togel, sehingga saya ditangkap, ketika pertama saya masuk penjara, saya bingung sekali, makanya ketika istri saya menjenguk saya menyuruh istri memintakan air ke mas, dan setelah minum air dari mas saya jadi tenang, kemudian saya mulai aktif dzikir, amalan yang mas berikan.

Saya hanya menghabiskan waktu di mushola penjara, dan anehnya kok semua orang ku rasakan sangat baik padaku, sampai semua orang memanggilku pak De, di penjara ada banyak macam orang, ada perampok, ada pembunuh, koruptor, pemerkosa, dan lain-lain, suatu kali aku berkenalan dengan seorang pemuda yang dia masuk penjara karena merampok, dan anehnya ketika dia bersalaman denganku, dia begitu penurut padaku dan berniat bertaubat, dan ingin aku mengeluarkan semua ilmu hitam yang dimilikinya, dia merasa kalau bersamaku serasa semua tenaganya lemah, dan dia merasa kalau aku ini adalah seorang yang berilmu tinggi, pernah suatu hari di penjara terjadi ada yang kerasukan, karena memang penjara termasuk daerah yang angker, dan banyak orang yang melihat ada berbagai macam hantu menampakkan diri, tapi aku tak pernah melihat sekalipun.

loading...

Saat ada kerasukan itu, aku dimintai tolong, untuk menyembuhkan, aku bingung juga, karena mas tak pernah mengajariku bagaimana menolong kerasukan, tapi aku ingat selalu pesan mas, asal diri dimintai tolong konsentrasi, dan sebenarnya terjadinya orang minta tolong itu tak lepas dari kehendak Allah, lalu aku konsentrasi saja, ku bacakan segelas air dengan dzikir yang mas berikan, dan ku suruh minumkan, dan Alhamdulillah yang kerasukan langsung sembuh.

Karena kejadian itu, aku makin disegani di penjara, tapi ada juga yang merasa punya ilmu tinggi ingin mencoba, ada seorang yang mempunyai ilmu macan putih, dia menantangku duel, ya aku ndak menerimanya, dan dia menyerangku begitu saja, anehnya dia mental sendiri, sambil mengaor-ngaor, bertingkah seperti macan, dan berusaha menerkamku tapi berulang kali dia berusaha menerkam, maka berulangkali juga dia terpental, tak bisa menyentuhku. Padahal aku sendiri tak mengamalkan ilmu apa-apa selain dzikir dari mas.

Maka setelah itu aku makin disegani saja di penjara, selalu menjadi imam mushola, malah banyak yang meminta amalan dan ilmu, tapi aku makin malu dengan mas, kenapa dulu ndak nurut, padahal ilmu yang mas berikan dengan tanpa imbalan apa-apa, dan hanya untuk kepentinganku, alhamdulillah setelah sidang yang sebelumnya aku akan di hukum 7-8 tahun, aku akhirnya hanya di hukum 4 bulan. Ini sekelumit kisah dari tamuku hari ini, aku hanya mengubahnya dalam bahasa indonesia dan dia hanya mengamalkan ya latif dariku 664.

“Ya itulah Allah membuat orang percaya, kadang harus dimasukkan ke penjara dulu baru percaya dan yakin, dan itu salah satu cara Allah menyadarkan seseorang, mungkin jika tidak dimasukkan ke penjara, tapi tidak sadar juga kan mending dimasukkan ke penjara tapi kemudian mendapat hidayah, dan tau kegunaan hidupnya, yang penting diri harus bisa mengambil hikmah dari semua kejadian, jangan kendor menjalankan amaliyah, baru bisa seperti itu jangan lantas menyombongkan diri, pakai untuk menolong orang lain, agar ilmu itu makin tajam dipakai” jelasku.
“Iya mas, sekarang saya akan mengikuti apa saja yang mas sarankan, dan tak akan berani berani lagi membantah” jawab pak De.

Sebulan yang silam, waktu kliwonan ada seorang jama’ah baru, ketika yang lain telah pulang, seorang ini, tak juga beranjak, ku lihat wajahnya menyiratkan rasa gundah yang amat sangat.

“Ada masalah apa?” tanyaku, yang sudah tau karena melihat dari wajahnya yang menyimpan rasa gundah sekali.
“Maaf mas kyai, saya akan bercerita, kalau diperkenankan” kata lelaki itu.
“Cerita saja, kalau memang mau diceritakan, jika saya bisa membantu, insya Allah akan saya bantu, jika punya masalah”.
“Saya ini sebenarnya ditimpa masalah yang sangat berat”.
“Masalah apa itu?”.
“Saya ini sebelumnya seorang pengusaha, tapi sekarang saya bangkrut total, dan hutang saya menumpuk di mana-mana, saya jadi bingung, saya harus bagaimana, sementara saya sudah tak punya sumber penghasilan untuk membayar hutang saya”.
“Hutangnya sampai berapa?” gayaku seakan mau melunasi hutangnya, hehehe.
“Hampir semilyar mas”.
“Oh masih kecil”.
“Kecil mas?”.

“Ya kecil menurut Allah, hehehe, menurutku, hutang seribu perak, sama semilyar itu sama saja, karena aku sendiri belum pernah punya hutang segitu, ya moga saja tidak pernah, yang penting hutang itu jangan menjadi beban di dalam hati, dan ada niat untuk berusaha mengembalikan, daripada seribu perak juga tak ada niat mengembalikan, maka akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat”.
“Lalu solusinya bagaimana mas kyai?”.
“Masuk dan amalkan saja thoreqohku”.
“Lhoh saya ini sudah orang thoreqoh kok mas”.
“Oh sudah orang thoreqoh to?”.
“Iya, saya sudah mengamalkan thoreqoh sudah sepuluh tahun lebih, malah sebelum saya menikah”.
“Oh lama juga ya?”.
“Iya mas”.
“Bagaimana kalau menjalankan thoreqoh dariku?”.
“Wah, ndak tahu mas, lalu bagaimana dengan thoreqohku sebelumnya?”.
“Begini saja, ini ku kasih amalan thoreqoh dariku, sambil dipikirkan bagaimana selanjutnya, mau diamalkan atau tidak ya silahkan, terserah sampean”.

Maka lelaki itu pulang, tapi tiga hari kemudian dia datang ke rumahku, lelaki yang punya hutang hampir satu milyar itu datang, kita sebut saja namanya Hamzah biar gampang.

“Bagaimana?” tanyaku langsung ke poin masalah.
“Iya saya sudah menjalankan amalan dari mas, setelah beberapa hari ini saya uji” jawab Hamzah.
“Kok di uji?”.
“Begini ceritanya mas, pertama saya besok malamnya menjalankan amalan pondasi, saya jalankan di tanah lapang, karena pekerjaan saya menjadi pembantu mantri Alas/kepolisian hutan, maka saya sering ikut menjadi penjaga hutan, nah waktu saya menjalankan amalan pondasi itu, seperti ada angin dan ada berbagai makhluk mengitari saya, saya tak tahu apa itu, lalu saya besoknya diperintah atasan untuk melakukan tugas ke kampung”.
“Tugas apa itu?” tanyaku.
“Itu tugas meneliti, dan memata-matai, jika saja ada kayu yang dicuri di desa-desa pedalaman”.
“Oh mata-mata gitu?”.

“Iya mas kyai, nah saat tugas itu, saya harus melewati jalan yang tanjakkannya sangat curam, saya pernah melewati jalan itu, dan motor saya terbalik, sehingga saya trauma tak pernah berani melewati jalan itu, padahal jalan itu jalan terdekat, kalau lewat jalan lain harus memutar, apalagi waktu habis hujan, tapi saat itu saya nekat, saya pejamkan mata, dan berdo’a, ya Allah jika ilmu baru yang saya terima dari guruku itu benar, saya ingin ditolong diselamatkan melewati tanjakan ini, lalu saya mulai menjalankan motor, dan subhanalloh, motor seperti tak menginjak tanah, tanjakan yang jauhnya ratusan meter, dan penuh batu licin, dan lumpur, tak butuh waktu lama untuk sampai di atas, saya sampai heran”.

“Wah kok ada pengalaman seperti itu ya?”.
“Setelah itu saya makin mantap, dan biasanya saya itu kalau melakukan ekspedisi ke kampung-kampung, pasti tanggapan orang kampung tak enak, karena saya seperti musuh bagi mereka yang mencuri kayu, saat itu ketika saya berangkat, saya tidak punya uang bensin, dan saya ngutang orang 20 ribu, untuk beli bensin, di kampung yang akan saya datangi, saya sudah membayangkan akan disambut dengan buruk, tapi sebelum masuk kampung, saya berdo’a, ya Allah berilah bukti padaku, jika ilmu yang ku terima dari guruku ini lebih baik, maka tolonglah diriku, maka saya masuk kampung, dan subhanallah, semua orang kampung berjajar di tepi jalan menyambutku, seperti kedatangan pejabat penting, aku mengira mereka menyambut orang lain, ternyata mereka menyambutku, dan aku dijamu dengan mewah, dan bensin motorku di isi dengan penuh, dan pulangnya aku diberi amplop tebal, wah malah seperti seorang da’i saja, makanya aku makin yakin dengan ilmu dari mas, dan sekarang saya kesini ingin minta solusi bagaimana soal hutang saya itu mas, bagaimana solusinya, dan sekalian saya mau minta ijin menjalankan amalan puasa”.

“Syukur kalau sudah mantap, solusinya untuk hutang itu, amalkan saja dzikir rejeki, nanti ku beri bukunya, dan untuk puasa silahkan saja di amalkan, aku ijinkan, yang semangat”.

Minggu legi kemaren si Hamzah juga ikut dzikir jama’ah, dia pulang menunggu yang lain pulang, baru mengutarakan maksudnya padaku.

“Terima kasih mas, puasa dan dzikir rejeki sudah saya amalkan, dan hasilnya subhanallah, saya yang tak punya pemasukan yang bisa untuk membayar hutang, Alhamdulillah istri mendapat pekerjaan baru, menawarkan tanah dan rumah, untuk dibeli orang, di awal dzikir rejeki, istri mendapat 5 penawaran, yang jika dihitung jika mendapat komisi 1 juta, berarti sudah jelas dapat 5 juta, dan setelah seminggu menjalankan, istri sudah mendapat 12 penawaran, yang sudah bisa dipastikan, artinya, sebulan ini saya sudah bisa menutup tagihan di bulan ini untuk hutang saya, malah masih lebih, saya sangat berterima kasih sekali, karena sudah diberi jalan keluar dari masalah saya, yang terus terang bagi saya masih tak masuk akal, tapi benar-benar saya alami”.

“Nah sekarang, yang harus di-tes keistiqomahan diri, jalankan dengan istiqomah, sebab banyak orang yang kemudian, ketika susah mau menjalankan amaliyah, ketika berhasil amaliyah ditinggalkan, nanti kalau nol lagi, minta lagi amaliyah, jangan seperti itu, itu namanya kayak kerja di pabrik, dapat gaji, sudah tak mau kerja lagi, ya mana mau pabriknya gaji di bulan depan”.
“Do’akan saya bisa istiqomah mas”.
“Ya jangan minta do’a saja, supaya istiqomah itu diri sendiri harus ijtihad, bersunguh-sungguh, menjalankan” jelasku.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 66.

Whatsapp: 0852 1406 0632