Kisah Sang Kyai Guru Bagian 69 - 242 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 68. Pengalaman atau apa yang kita alami itu adalah pelajaran paling baik, tak perduli orang lain tak percaya, karena mereka tak mengalaminya, atau pengalaman kita di anggap naif, ya siapa saja boleh berpendapat apapun, tapi kita yang mengalami yang penting pengalaman itu adalah hal yang nyata, dan yang penting lagi pengalaman itu menambah keimanan kita, keyakinan kita pada Allah, juga rasa tawakal kita pada Allah makin kukuh kuat, dari pada bicara yang tak ku ketahui atau menulis yang aku tak mengerti, lebih baik menulis apa yang ku mengerti dan ku alami.

Melanjutkan cerita yang lalu, membahas tentang latifah, jadi jika satu saja latifah kita terbuka maka akan mengucur kekuatan dari Allah ke tubuh kita dari lubang latifah itu, lhoh bagaimana kok bisa di dalam tubuh kita, ya ndak beda dengan kita gali tanah kok tanah lantas ada airnya.

Seperti matahari yang mengeluarkan energi, mengeluarkan cahaya menerangi jagat, kita tak percaya juga matahari tetap akan menerangi jagat, tak menunggu kita percaya dulu baru matahari itu akan menerangi jagat, akal kita tak nyampai dari mana keluarnya energi matahari tetap saja matahari akan menerangi jagad dan tak habis energinya walau dipakai oleh orang seluruh dunia.

Yang ku tulis juga tidak ingin dan sama sekali tak ada maksud agar siapapun supaya percaya dengan ceritaku, dan penulisanku juga tak menunggu orang percaya baru aku menulisnya. Ketika latifah itu sudah terbuka, maka dengan sendirinya jika dikonsentrasikan akan mengalir kekuatan dari Allah, dan itu bisa dites dan dibuktikan, ketika ada jin merasuk ke tubuh seseorang atau orang kerasukan, dan dipegangi banyak orang, jin itu akan mementalkan siapa saja yang memegangnya maka cukup dengan seorang yang latifahnya terbuka itu menempelkan jarinya ke orang yang kerasukan itu, maka jin di dalam tubuh orang itu akan tak punya daya, seperti ditindih sebuah gunung, padahal hanya ditempeli jari.

Memang aneh, tapi itulah kenyataannya, dan siapa saja bisa mempraktekkannya, jika sudah tertembusi latifahnya, lalu bagaimana tanda seseorang itu tertembusi latifahnya, yaitu ketika dia mengkonsentrasikan dzikir pada titik latifah, maka akan merasa ada aliran dingin dari titik latifah itu mengaliri seluruh urat di tubuh, seperti layaknya bendungan yang dibuka dan airnya mengaliri parit dan sungai sungai.

Bahkan bukan hanya itu, saat kita konsentrasikan titik latifah dengan zikir yang biasa kita zikirkan maka jika ada jin yang merasuk pada seseorang, nantinya tak akan tahan melihat wajah kita atau dada kita, karena pancaran nur ilahi yang menyelimuti kita, jadi bukan kita yang sakti sampai jin takut, tapi karena nur ilahi yang memanar itulah yang membuat jin takut, ingat ini bisa dilakukan siapa saja, jadi jangan sekali-kali beranggapan saya hebat, wong murid saya juga banyak yang bisa. Kita hanya perlu memproses diri dengan cara yang benar dengan amaliyah yang benar sehingga menghasilkan hasil yang benar dan bermanfaat. Jadi tak ada sakti atau hebat, yang sakti dan hebat hanya Allah.

Ini pengalaman, ada yang membuatku heran dan aneh, kenapa setiap jin di rumahku lantas jin itu tidak berdaya, padahal contoh, ada seorang yang banyak jin di tubuhnya dia datang ke rumahku minta jinnya dikeluarkan, kata dia yang banyak jinnya itu dia cerita, kalau sudah dicoba dikeluarkan di beberapa orang yang bisa juga kyai yang bisa, mereka pada tak sanggup kebanyakan dibanting semua sampai tidak berdaya, ada yang dicekik dan ada yang diajak adu ilmu sampai muntah darah, heran juga dan merinding juga mendengar cerita muntah darah begitu, tapi aku madep mantep saja, kalau Allah di belakangku tempat aku bertawakal, masak lah kalah sama jin.

Singkat cerita orang itu ku suruh minum air untuk mendorong jinnya keluar, dan ku suruh menempelkan jari di fotoku, dan sebentar kemudian dia sudah menggereng gereng seperti macan, dan bergaya mendekam.

“Assalamualaikum, siapa ini?” tanyaku.
“Waalaikum salam”.
“Kamu siapa?”.
“Saya bangsa jin”.
“Kok di tubuh orang ini?”.
“Saya dikirim“.
“Siapa yang mengirimmu?”.

“Saya tidak tahu”.
“Kok tidak tahu?”.
“Ya saya ditaklukkan dan dimasukkan”.
“Kamu kok gereng gereng gitu apa kamu macan?”.
“Ya, bentuk saya macan”.
“Coba duduk yang benar, kok ndekem gitu”.
“Ya saya kan macan, ya duduk saya kayak begini” ketawa juga dengar jawabannya.
“Apa kamu muslim?”.
“Ya saya muslim”.

“Sampean muslim kok mau dikirim ke tubuh orang ini?” tanyaku lagi dengan heran.
“Ya kan sudah ku katakan saya ditaklukkan”.
“Ada berapa jin temanmu di dalam?” tanyaku menyelidik.
“Ya banyak, saya tak tahu semua”.
“Kalau yang bentuknya macan sepertimu ada berapa?” tanyaku lagi.
“Ada 7 sampai 10 tepatnya aku ndak tahu”.
“Kamu keluar ya”.
“Ya saya mau keluar, tapi saya tak bisa”.

“Lhoh bagaimana kamu kok ndak bisa keluar, apa kamu sengaja mau bangkang sama aku?”.
“Ndak saya tak berani, saya kamu apakan kok saya tak punya daya seperti ini”.
“Saya ndak mengapa -akan kamu, wong megang saja enggak”.
“Ya tapi tubuh saya linu semua, tubuhku sakit semua”.
“Kamu ajak ya teman-temanmu keluar” kataku dengan nada perintah.
“Aku tak berani, mereka lebih kuat dariku”.
“Bagaimana kalau kamu ku pinjami kekuatan, apa kamu mau memaksa yang lain untuk keluar?”.
“Ya aku mau”.

Ku tempelkan tangan ke tubuh orang yang dikuasai jin di depanku dan ku salurkan energi dengan konsentrasi. Terasa guncangan di tubuh orang yang di depanku yang dikuasai jin.

“Sudah, sudah aku tak sanggup, mereka semua mengeroyokku” kata jin macan yang tadi ku ajak bicara.
“Bukankah sudah ku bantu dengan kekuatan”.
“Iya tapi mereka mengeroyokku, aku kalah, mereka mencakarku, aku terluka”.

Karena sudah tak bisa ku harapkan bantuannya maka jin itupun ku keluarkan. Kemudian ganti jin yang lain, ku lihat gayanya membungkuk.

“Assalamualaikum” kataku.
“Waalaikum salam”.
“Saya bicara dengan siapa?”.
“Saya semar”.
“Semar? Semar siapa? Apa semar yang seperti di pewayangan itu?”.
“Iya benar”.
“Wah aneh, bagaimana simbah ini bisa di dalam? Apa simbah ini juga dari golongan jin?”.
“Benar saya dari golongan jin dan saya tinggal di kayangan”.
“Kayangan itu di mana?”.
“Ya di planet bukan di bumi ini”.

“Wah aneh juga, sampean muslim?”.
“Saya beragama tauhid”.
“Sampean umurnya berapa?”.
“Saya sudah ribuan tahun”.
“Kok sampean ada di tubuh orang ini bagaimana?”.
“Tak tahu, saya tahu-tahu ada di dalam, seperti di tarik kekuatan sampai saya masuk kedalam”.
“Jadi tak tahu siapa yang memasukkan?”.
“Ya saya tak tahu”.
“Di dalam sudah berapa lama?”.

“Sudah lama juga saya juga tidak tahu, saya tahunya di perintah menghancurkan orang ini, tapi saya kasihan dengan orang ini, dia kan orang benar, masa saya hancurkan”.
“Lalu kenapa sampean tak keluar saja dari tubuh orang ini?”.
“Ya karena saya tak berdaya pada orang yang mengirim saya, saya kalah”.
“Kalau saya perintah keluar kamu mau?”.
“Mau, tapi saya ndak bisa keluar, tolong saya di keluarkan gus”.
“Ya saya keluarkan, kamu tempatnya di bagian mana?”.
“Saya di punggung bagian bawah” jawabnya sambil menunjukkan tempat keberadaannya.

Lalu ku arahkan tenaga ke tempat itu, lumayan susah mengeluarkannya, walau akhirnya keluar juga, setidaknya membuatku keringatan juga. Selanjutnya jin yang lain pun memunculkan diri, ada berupa anjing atau ular, tapi aku sudah tak tertarik mengorek keterangan dari mereka, yang membuatku heran adalah kenapa jin walau tak ku apa-apakan mereka lantas tak berdaya jika di rumah?

Sebab jika mengeluarkan jin di luar rumahku, ada sedikit melakukan perlawanan, walau akhirnya juga tak berdaya, yang jelas mereka tak berani memandang wajahku, dan merasa silau, tapi yang membuatku heran adalah kenapa jika dalam rumahku jin itu merasa kesakitan malah ada yang merasa dirantai ketika berhadapan denganku walau aku sendiri tak mengapa-apakan, setelah sekian waktu ku pelajari, aku mengambil kesimpulan ini mungkin karena pagaran rumah yang ku tanam, sehingga membuat mereka tak berdaya.

Memang sering kali pengalaman itu terjadi tanpa kita merencanakannya sekalipun, setidaknya kemudian itu menjadi tambah keyakinan pada Allah karena mengalami pengalaman yang dijalani, dan banyak sekali pengalaman dari pengalaman itu didapat dari hal yang tak disangka-sangka sama sekali.

Dan sebenarnya aku sendiri juga tak tahu ketika pengalaman itu terjadi dan ku alami, bagaimana kok bisa begitu, jadi bukan aku tahu, tapi pengalaman itu terjadi begitu saja, kemudian ku ambil sebagai pelajaran. Misal pengalaman yang terjadi ketika orang yang chating denganku kemudian banyak yang muntah, ketika di tubuh orang itu ada jinnya.

Awalnya setengah tahun yang silam, ada teman facebook yang ingin muntah ketika sedang chat ngobrol di facebook, aku heran, apa wajahku menjijikkan? Atau ada hal lain, sampai orang itu benar-benar muntah, aku makin heran, bagaimana bisa begitu, karena tidak hanya satu orang, kenapa yang interaktif denganku kok ingin muntah? Kenapa? Apa ada yang salah? Aku coba menyelidiki dengan bertanya pada yang mengajakku ngobrol itu.

“Iya ini kyai, saya muntah sampai banyak”.
“Apa kamu jijik melihatku?” tanyaku heran.
“Ya ndak lah kyai, masa saya jijik, ya gak berani”.
“La kok muntah?”.
“Gak tahu ini kenapa, kenapa tiap chating sama kyai saya muntah”.
“Apa chat sama orang lain gak muntah?”.
“Tak pernah kyai, hanya chat sama kyai saja saya muntah”.

“Kok aneh ya?” aku terheran-heran, ya memang juga saya tak tahu sama sekali kenapa kok bisa seperti itu.
“Apa yang dirasakan lagi?”.
“Kepalaku pening, dada sakit, juga perut sakit sekali” jawab teman chatku itu.
“Aneh” tulisku terheran-heran.
“Hm, dulu pernah mengamalkan apa?” tanyaku menyelidik.
“Saya sendiri pengamal thoreqoh kyai, dari jalur suryalaya”.
“Kalau jalurnya sama denganku ya gak akan lah muntah-muntah gitu, kalau pengamal thoreqoh masa ada jinnya?”.
“Ya gak tahu juga kyai, tapi di samping saya mengamalkan thoreqoh, saya juga banyak mengamalkan ilmu hikmah”.
“Wah kalau itu bisa jadi, mungkin di tubuhmu ada jinnya, setelah muntah bagaimana rasanya?”.
“Ya badan enteng kyai, sampai rasanya lega, tapi tubuh pada pegal semua”.

Maka ku ambil kesimpulan kalau orang yang di dalam tubuhnya ada jinnya jika chat denganku, dia akan muntah, karena berkali-kali terjadi, dan kejadian itu kemudian ku tes dan ku buat mengobati orang yang dalam tubuhnya ada jinnya, dan berulang-ulang ku pakai mengeluarkan jin dari tubuh orang lewat jarak jauh dengan lewat chating, dan ini sama sekali tak ku pelajari, Allah saja yang memberi anugerah, dan secara jujur aku sendiri tak tahu kenapa kok terjadi seperti itu, jadi itu pengalaman saja, bukan mistik atau ada unsur magis, gaib, terus terang aku sendiri tak mempelajari ilmu jin atau ilmu soal cara mengeluarkan jin, apalagi ilmu perdukunan, bahkan yang terjadi kenapa kok terjadi seperti itu, saya sendiri tak tahu.

loading...

Dan pengalaman itu berlanjut, ingat saya sendiri mengalami pengalaman ini sama sekali bukan tak ku rencanakan, dan saya sama sekali tak punya kelebihan apa-apa, tak ada yang bisa dibuat kebanggaan, dan pengalaman ini ku tulis juga bukan untuk menunjukkan kelebihan diri, yang kenyataannya sama sekali saya tak tahu kok bisa terjadi seperti itu, jadi jika ada yang menganggap salah, ya silahkan, namanya juga pengalaman, bukan pegangan hidup, siapa saja boleh menulis pengalaman hidupnya, tak ada yang melarang, lebih baik menjelek-jelekkan diri sendiri daripada menjelek-jelekkan tetangga atau orang lain. Mungkin banyak teman facebook yang berteman denganku sudah banyak yang tahu soal ini, yaitu kejadian “siapa saja yang memandang foto profil facebookku jika di dalam tubuhnya ada jin maka orang itu akan muntah karena jin dalam tubuhnya kepanasan dan ingin keluar.

Aneh? ya saya sendiri merasa aneh, apalagi orang lain, mungkin orang berprasangka kalau itu karena aku punya kelebihan, kelebihan apa? la aku sendiri gak tahu kenapa kok terjadi seperti itu. Awal kejadian ada beberapa pesan masuk ke inbox ku, yang isinya, banyak laporan, banyak orang yang muntah-muntah karena memandang foto profil facebookku, terus terang aku sendiri heran, masak bisa begitu? aku sendiri yang punya foto gak tahu kenapa bisa begitu, tapi makin hari makin banyak laporan yang masuk, bukan hanya laporan di facebook, tapi juga laporan dari tetanggaku yang menjadi muridku, padahal selama ini sudah 1 tahun tetanggaku itu juga tak merasakan apa-apa selama itu menjadi muridku, ya anteng anteng saja, eh kok belakangan melihat foto profilku kok jadi pening kepala dan mau muntah. Heran juga aku dibuatnya.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 70.

Whatsapp: 0852 1406 0632