Kisah Sang Kyai Guru Bagian 7 - 131 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 6. Aku tak memperdulikan Muhamad yang kerasukan dan di urusi oleh para tukang suwuk, termasuk pamanku Muhsin, ku salurkan energi lagi, menyalurkan energi? Ah lebih tepatnya aku menghayal seakan-akan menyalurkan energi, hayalan tingkat tinggi. Tubuh paman Mursid sudah tidak kejang-kejang, gumpalan di perutnya juga sudah tak ada, jangan di kira walau cuma ngayal menyalurkan energi, tapi huh keringatku sebesar kacang polong, luber sampai bajuku basah, tanganku yang kanan, ku arahkan ke atas dada berjarak sepuluh senti, tanpa menyentuh kulit, yang kiri ku arahkan ke kepala juga tanpa menyentuh kepala, terasa energi bergulung-gulung ke arah kedua tanganku, perlahan tapi pasti, kedua mata paman Mursid terbuka, lalu melihatku.

“Oh dek Ian, terima kasih” suaranya pelan tapi, efeknya semua orang yang ada di situ menangis, bibi Asiah memelukku erat sekali, menangis nggugak guguk, dia tumpahkan syukurnya yang tiada terkira, betapa selama ini dia pontang-panting mencari obat untuk menyembuhkan paman Mursid yang tak pernah sadar selama tiga bulan, bahkan dokter juga telah tak sanggup, eh tanpa ku sentuh bisa begitu saja sembuh.

“Kenapa tak dari kemarin-kemarin dek Ian, dek Ian, sudah habis air mataku” kata bik Asiah, masih menangis, dia melepaskan pelukannya, kemudian mencium pipi kiri kananku, lalu bersimpuh di tepi ranjang suaminya, memegang erat tangan suaminya yang lemah. Baru sekarang aku tahu sebenarnya dalam tubuhku telah mengalir ilmu pengobatan yang aku tak tahu bagaimana dan dari mana ilmu itu ada dalam diriku. Aku masih berpikir ketika tiba-tiba paman Muhsin menepuk pundakku,

“Itu bagaimana si Muhamad, semua orang kuwalahan!” ku lihat wajah pamanku itu kuatir.

Memang Muhamad yang sedang kerasukan benar-benar mengamuk, kursi meja pada patah, kang Wiji dan kang Nur yang ahli beladiri, serta dua pemuda di mentalkan begitu saja, kang Nur coba menerjang dengan menotok bagian-bagian tertentu dari tubuh Muhamad, tapi segala serangannya seperti mengenai batu, hingga jari-jarinya terasa nyeri. Bahkan kakinya ketika menendang kena di tangkap Muhamad, dan dia di putar bagaikan gasing, lalu tubuhnya di lempar, untung kang Nur orangnya jago sehingga ketika menghantam tembok dia dahulukan punggungnya, dan ketika mental kembali dia berputar miring dan jatuh di tanah tangan dan kakinya menahan hempasan badannya. “Hua-haha ilmu kroco macam itu di banggakan di depanku” kata Muhamad dengan suara dalam dan berat.

Kang Wiji pun tak mau kalah, dia maju menyerang dengan bogem yang telah di lambari aji lebur sekti, tangannya yang besar berotot menderu, tapi plep! Pergelangan tangannya dapat di tangkap Muhamad. Dan oleh Muhamad kepalan kang Wiji di adu dengan bogemnya . Dugh! Kang Wiji menjerit, jari-jarinya seperti patah semua, lalu tangan kang Wiji yang masih di genggaman Muhamad itu di angsurkan ke mulutnya yang terbuka menganga, “sudah matang huahaha” tangan kang Wiji di gigit, aku sudah sampai disitu “hentikan!” bentakku tak sadar.

Muhamad kaget, tangan kang Wiji di lepaskan, yang segera di peganginya dan wajahnya meringis-ringis, sementara Muhamad melihatku, dia mundur-mundur. Takut, aku beranjak maju, dan Muhammad mundur-mundur. Untung saja aku mempunyai daya hayal yang tinggi karena setelah ku pelajari, ilmu dalam tubuhku ini perlu di bangkitkan dengan memerlukan daya hayal yang tinggi, melihat Muhamad yang kerasukan mundur-mundur takut padaku, bertambahlah keberanianku, tanganku terangkat dengan jari telunjuk membuat coretan-coretan di udara ke arah tubuh Muhamad, setelah itu tapak tanganku terbuka, kubayangkan aku menyedot jin yang ada di dalam tubuh Muhamad, dengan menggunakan telapak tanganku, hasilnya, tubuh Muhamad lemas menggelosor ke bawah, pertanda jin telah keluar.

Saat yang menegangkan telah berlalu, Bibi Asiah tak menangis lagi, dan Muhamad juga telah sadar, sementara tak hentinya orang-orang memberikan ucapan selamat atas keberhasilanku mengobati. Para tukang suwuk memuji-muji ilmu yang ku miliki.

“Mas Ian, benar-benar luar biasa, belum pernah saya melihat ilmu sehebat itu, mengeluarkan jin dari seseorang tanpa jurus-jurus” kata kang Nur.
“Ah jangan di lebih-lebihkan, biasa saja” jawabku yang memang belum tahu pasti akan ilmu dalam tubuhku.
“Benar sampean kang Nur” tandas paman Muhsin.
“Aku saja kalau mengeluarkan jin harus pakai syarat atau jurus tertentu, setidaknya harus pakai bacaan Ayat tertentu dari Al Quran” kang Nur dan kang Wiji manggut-manggut. Kang wiji nampak memegangi tangannya yang biru lebam.

“Kenapa kang tangannya?”.
“Ini mas tadi, beradu jotos dengan Muhamad yang kerasukan” jawab kang Wiji meringis menahan sakit.
“Coba lihat” tangan kang Wiji yang lebam segera di angsurkan kepadaku.
“Saya akan coba obati, kalau sembuh ya syukur, kalau tak sembuh ya sabar” kataku, karena sekalian mau mencoba ilmu yang ada di dalam tubuhku.

Kusuruh kang Wiji meletakan tangannya yang lebam membiru di atas tapak tangan kiriku yang terbuka, lalu tapak tangan kananku ku taruh di atas tangan kang Wiji, berjarak sepuluh sentian, kubayangkan tenaga mengalir dari pusarku hangat bergulung berkumpul di tapak tanganku, menyerbu masuk ke tangan kang Wiji mengangkut segala sakit derita, nyeri terangkat seperti udara hitam berkumpul terangkat dan ku tangkap di tapak tanganku, kemudian ku buang.

“Sudah!” kataku, sambil melepaskan penahanan napasku, semua mata yang memandang pun ikut bernapas lega, yang saat aku mengobati kang Wiji semua menatap tegang.
“Bagaimana kang rasanya?” tanyaku yang tak yakin akan ilmuku sendiri.

Kang wiji menggenggam lalu membentangkan jarinya, di lakukan berulang-ulang, “sudah enak, tak sakit lagi” katanya girang.

“Ah yang benar kang?” kata kang Nur tak percaya.
“Tadi apa yang kau rasakan, saat di obati?”.
“Seperti banyak semut yang masuk ke dalam tubuhku, lalu seperti ada yang terbetot keluar dari tanganku, wah, makasih banyak mas Febri!” kata kang Wiji haru.

Malam itu aku benar-benar tak habis-habisnya di puji. Besoknya jadi pembicaraan di setiap mulut, sekaligus menambah keyakinanku akan ilmu pengobatan dari Kyai. Dan di malam aku mengobati itu, dalam tidurku tiba-tiba aku mendengar ledakan teramat keras membahana. Aku kaget dan terbangun. Betapa terkejutku, karena kamarku penuh asap. Dan ternit kamarku jebol. Yang lebih menakutkanku apa yang ku lihat. Ku lihat tubuh yang teramat besar dalam kamarku, aku beringsut mundur, melihat penampakan yang memiriskan hati, tubuh yang tinggi besar sampai kepalanya tembus ke internitku, padahal ternit dalam kamarku tingginya empat meter dari tanah.

“Kau siapa?” tanyaku gemetar.
“Ampun tuan, mohon saya di lepaskan dari belenggu ini tuan!” kata suara makhluk besar itu memelas, mengiba-iba. Baru kuperhatikan tubuh makhluk besar itu terbelit-belit rantai yang hampir membungkus tubuhnya.

“Hei, siapa yang membelenggumu?” tanyaku keheranan.
“Oh kenapa tuan lupa? Bukankah tuan yang membelengguku? Huhu, tolong tuan lepaskan saya, ampuni saya tuan, huhu” kata makhluk itu menangis.
“Hus, cengeng, masa begitu saja nangis” aku mulai berani.

“Tapi tuan, kalau belenggu ini tak di lepas, saya akan sengsara seumur-umur, huhu, bagaimana kalau saya makan, bagaimana saya buang air besar, huhu, bagaimana aku buang air kecil? Tak ada yang memegangi, pasti buang air kecilnya kemana-mana, huhu”.

“Nanti dulu, nanti dulu, aku mau melepaskanmu, tapi kau tunjukkan dulu asalmu dan kenapa sampai di tubuh paman Mursid, awas jangan bohong, sudah jangan nangis! Jadi jin cengeng amat sih” kataku agak jengkel juga karena jin itu nangis haha-huhu.

“Tuan, aku ini adalah jin penghuni Telogo Wungu, daerah Pati, aku sampai di tubuh Mursid karena aku di kirim orang”.
“Di kirim lewat pos? Atau paket kilat?”.
“Ya enggak lah, masa jin di kirim lewat pos huhuhu”.

Lalu jin itu menceritakan tentang siapa yang mengirimkan dan karena masalah apa. Aku pun melepaskan rantai yang membelit tubuh jin, dengan menjulurkan tanganku, dan bilang “lepas!”, maka rantai yang membelenggu jin itu pun hilang, entah kemana.

Setelah belenggunya tak ada, tiba-tiba jin itu menggelosor bersimpuh di depanku, aku kaget tapi ingin ketawa juga, karena melihat ukuran jin itu duduk aku masih sepinggangnya kalau berdiri, yang membuat aku pengen ketawa karena wajahnya yang tak menyeramkan dan lucu. Mata jin itu bulat besar, mengerjap-erjap, kepalanya gundul, tapi bekas cukurannya kurang bersih, hidungnya mbengol, dan bibirnya tebal sekali, seperti bibir keledai.

“Hei kenapa kau belum pergi?” tanyaku heran.
“Apakah tuan tak ingin menjadikanku pelayan?”.
“Ah pelayan apa? Aku tak biasa di layani, aku biasa nyuci baju sendiri”.
“Bukan itu maksudku tuan, tapi kalau tuan mau aku bisa mengambilkan nasi gandul dari Pati, enak lo tuan”.

“Ah apa enaknya nasi gandul tak usah promosi, lagian aku tak punya kerjaan tetap, tak kan sanggup membayarmu, sudah sana pergi”.
“Baiklah tuan, kalau begitu aku mohon diri”.
“Eh tunggu dulu, betulkan dulu ternitku yang kau jebolkan”.
“Baik tuan” lalu jin itu menjentikkan tangan dan ternitku kembali seperti semula.

Begitulah, setelah kejadian aku menyembuhkan paman Mursid, aku makin di kenal dan tiap hari ada saja yang datang dari anak yang rewel, orang sakit gigi, sakit kepala, penyakit dalam, penyakit luar, semua datang minta di obati, juga aku sering di ajak lek Muhsin untuk menolong orang yang kerasukan jin. Namun aku sudah janji kepada Kyai bahwa aku hanya di rumah dua bulan, aku sudah kangen pada Kyai dan kedamaian pondok lereng gunung Putri. Apalagi setelah mengalami suatu kejadian yang membuatku amat merasa betapa masih dangkalnya ilmu yang ku miliki.

“Yan” suara lek Muhsin memanggilku, ketika ku utak-atik internet, melihat pesan di emailku.
“Ada apa lek?”.
“Nanti sore temani aku ke Kalitidu Bojonegoro ya?”.
“Mau apa lek ? Mau nyambangi saudara apa?”.
“Ah, biasa ada orang minta tolong, keluarganya ada yang kesurupan” aku mantuk saja.

Dan selepas Ashar, aku dan lek Muhsin pun pergi ke Bojonegoro. Perjalanan ke Kalitidu dari rumahku hanya memakan waktu dua jam setengah, yaitu dari rumahku, naik angkot, kemudian ganti bus jurusan ke Bojonegoro, terus naik mobil ke Kalitidu, ini kalau lewat utara, sebenarnya melewati selatan lebih dekat, yaitu dari rumahku ke Cepu, Bato’an lalu nyeberang, sampai deh, cuma akan makan waktu lebih lama, karena dari rumahku ke Cepu jarang ada kendaraan, mungkin seharian menunggu belum tentu ada kendaraan.

Jadi untuk lebih gampangnya harus lewat Bojonegoro, walau jalannya mutar, tapi kendaraan selalu ada. Sampai di rumah yang kami tuju, hari sudah sore tapi matahari masih enggan ke peraduan, suasana amat sepi, kami mengucap salam, berulang kali, baru muncul seorang lelaki setengah tua. Peci kain bundar bermotif kotak-kotak kain sarung ada bertengger di kepalanya. Wajah lelaki itu sedikit murung. Namun ketika berhadapan dengan lek Muhsin dia langsung tersenyum.

“Oh lek Muhsin, mari-mari, silahkan di enak-enakkan dulu” setelah menerima kami berdua dengan ramah maka lelaki itu pergi ke dalam, menyuruh istrinya mengambilkan minuman dan makanan ala kadarnya.

Setelah itu kedua suami istri itu pun mengobrol dengan kami, saat berkenalan denganku lelaki itu bernama pak Soleh. Dan istrinya bernama Hamidah, karena istrinya adalah orang sedesaku maka mengenal lek Muhsin, kemudian tahu lek Muhsin biasa menyembuhkan orang yang kerasukan jin, jadi lek Muhsin di panggil.

“Awal-awalnya gimana to di, kok si Marjuki itu bisa berpenyakit seperti itu?” pak Soleh pun bercerita:
“Benar Ki kamu mau mesantren?” tanya pak Soleh suatu malam kepada Marjuki yang sedang makan.
“Benar pak’e, aku sudah jenuh di rumah terus, tak ada perkembangan” jawab Marjuki sambil mengunyah nasi di mulutnya.

“Mondok itu berat lho, kalau kamu mbangkong di rumah bapakmu ini tak ngapa-ngapain kamu, tapi kalau kamu mbangkong tak mau subuhan, bisa di pecuti sama Kyainya, kalau kamu melanggar peraturan pondok kamu akan di beri hukuman, apa kamu siap? Tirakat di pondok?”

“Pokoknya aku siap pak’e”.
“Lalu kamu mau mesantren di mana?”.
“Bagaimana kalau di Tegalrejo, Magelang, pak’e?”.
“Di mana saja tak masalah kalau memang kamu siap”.

Marjuki adalah anak tunggalnya pak Soleh, sifatnya ceria dan rajin bekerja, kadang membantu orang tuanya di sawah, kadang juga bekerja di tempat orang lain, pekerjaan apa saja, Marjuki siap melakukan asalkan halal, umur Marjuki telah menginjak sembilan belas tahun. Akhir-akhir ini Marjuki merasa kesepian, sebab teman-temannya yang selama ini menemaninya nyangkruk telah pergi semua, mencari pengalaman hidup, ada yang mesantren ada juga yang pergi merantau ke Jakarta, ada yang ke Malaysia, bahkan ada yang ke Saudi Arabia, Marjuki bingung mau kemana. Tapi setelah berpikir, maka Marjuki memutuskan mesantren saja, maka dia pun bercerita pada ibunya supaya keinginannya di sampaikan pada ayahnya. Dan terjadilah dialog malam itu, sekarang dia telah pergi ke Magelang.

Setahun di pesantren, Marjuki pulang keadaannya telah berubah, dulu dia periang dan giat bekerja, kini sering kelihatan diam dan amat malas, bahkan dia suka pergi menyepi di kuburan-kuburan, dan melakukan puasa yang aneh-aneh, bahkan kamarnya di cat warna hitam. Pak soleh melihat hal yang seperti itu, mau menegur, tapi takut Marjuki marah, tak jarang karena kesalahan sedikit saja, Marjuki marah membanting piring.

Ternyata Marjuki telah terseret mempelajari ilmu sesat, yang berhubungan dengan Nyai Roro Kidul. Telah beberapa hari, Marjuki tak keluar kamar, tidak makan, tidak melakukan aktivitas apa-apa, dari dalam kamarnya bau menyan jawa. Tiap malam menyengat hidung, ibunya sangat kuatir, maka setelah ada lima harian di kamar ibunya mengetuk pintu, memintanya untuk makan karena takut terjadi apa-apa yang menimpa anak semata wayangnya. Setelah lama mengetuk, terdengarlah lenguhan dari kamar, dan pintu terbuka. Terkejutlah perempuan itu, melihat Marjuki yang tak seperti anaknya. Mata Marjuki semerah darah, di lingkar matanya warna hitam angker, hidungnya mendengus-ndengus, dari mulutnya keluar air liur yang membanjir.

“Hmmm, siapa kau perempuan tua? Mengganggu saja” suara Marjuki, berat mendirikan bulu roma. Sangar!
“Nak ayo makan, nanti kamu sakit” suara ibu Marjuki, di antara rasa takut melihat keadaan anaknya.
“Jebleng, jebleng, apa sudah kau sediakan darah ayam dan darah kambing?”.
“Sudah ibu masakan sambal terong kesukaanmu”.
“Sialan, memang aku apa? Di masakan suambel terong mati saja kau” tiba-tiba tangan Marjuki bergerak cepat menyambar leher ibunya dan mencekiknya.

Untung ibunya masih sempat teriak, sehingga teriakan itu di dengar pak Soleh yang sedang membersihkan rumput di depan rumah, yang segera berhambur ke dalam rumah, melihat istrinya di cekik anaknya, sampai kelihatan matanya mau keluar, maka pak Soleh segera memukul tangan anaknya itu sehingga cekikan lepas. Melihat ada yang memukul tangannya Marjuki pun mengalihkan serangan ke leher pak Soleh, dengan mudahnya dia menangkap leher pak Soleh dan mencekiknya, tubuh pak Soleh sampai terangkat dari tanah.

Dia mencoba melepaskan dengan segala daya, tapi tangan Marjuki yang kerasukan itu teramat kuat sehingga pak Soleh hanya menendang-nendangkan kakinya, nyawanya benar-benar telah di ujung tanduk, sementara istrinya yang tadi di lepas oleh Marjuki, ngos-ngosan di tanah, melihat suaminya dalam keadaan sekarat, segera mengambil kursi kayu, dan mengemplangkan ke kepala Marjuki sekuatnya. Sampai kursi kayu patah-patah. Dan untung cekikannya di lepaskan, sehingga pak Soleh pun menggelosor jatuh di tanah.

Aneh, Marjuki sama sekali tidak berdarah, malah tertawa bergelak-gelak, lalu mengamuk menghantam meja kursi sampai semuanya hancur. Lalu dia berlari keluar rumah mengamuk di jalan, segera gemparlah semua tetangga, orang yang lewat segera lari ketakutan, lalu Marjuki meloncat ke atas genteng. Melempar-lemparkan genteng pada orang yang lewat di jalan. Ibu Marjuki menangis melihat keadaan anaknya seperti itu.

Para orang pintar telah di datangkan untuk membujuk Marjuki turun dari genteng, tapi malah di sambitin pakai genteng, dia hanya mau turun kalau di beri minum darah ayam dan kambing. Sudah dua hari Marjuki ada di atas genteng, dia mau turun kalau ada darah ayam dan kambing di sediakan, dan setelah minum darah itu maka dia meloncat lagi ke atas rumah, dan menyambitin orang yang lewat.

Kelakuan Marjuki yang menyambiti orang yang lewat dengan genteng rumahnya ini benar-benar membuat panas hati, maka para pemuda kampung pun bermusyawarah untuk menangkap Marjuki, dan nantinya akan di pasung, setelah di pancing dengan darah, Marjuki pun turun, ketika sedang menikmati darah yang di kasih obat bius itu, para pemuda pun bergerak meringkusnya, yang mau meringkusnya dari belakang ada tiga orang itu kecele, walau Marjuki tak melihat kebelakang, tapi dengan mudahnya dia menjatuhkan diri dan berguling sehingga yang menubruknya dari belakang hanya menangkap angin.

Pemuda dan orang desa pun melakukan pengepungan, dari kiri kanan, depan belakang, dengan susah payah tujuh orang dapat memegang tangan kaki, namun semua dapat di sentak lepas, dan banyak yang terpental di lemparkan oleh Marjuki yang kerasukan, yang memang tenaganya berlipat-lipat, kembali tujuh orang berusaha mendekap memiting kaki tangan Marjuki, namun kali ini para penduduk tak mau usaha mereka sia-sia, maka segera berbagai macam tambang di jeratkan ke tubuh Marjuki.

Rupanya saat itu obat bius yang di campurkan darah pun mulai bekerja. Kelihatan sebentar-sebentar, Marjuki melengut ngantuk siut, lalu meronta lagi, begitu berulang kali, dan orang-orang tak mau kecolongan tetap mendekapnya erat, sampai akhirnya Marjuki terbius. Perjuangan yang melelahkan, Marjuki kelihatan tergolek di pelataran rumah pak Soleh, semua orang yang meringkusnya semua mandi keringat, bahkan ada yang luka berdarah dan salah urat.

Orang-orang yang tidak ikut meringkus Marjuki, telah membuatkan pasung dari kayu sebesar sedekapan manusia, Marjuki pun di pasung. Tangannya masih di rantai, para dukun paranormal di datangkan, para Kyai di mintai tolong, untuk membantu penyembuhan, sawah lima petak pun telah terjual sebagai biaya pengobatan, tapi kesembuhan tak kunjung datang. Sampai hampir setahun Marjuki di pasung. Tapi penyakit gilanya makin parah saja.

Kami berdua di ajak melihat keadaan Marjuki, ternyata pemuda itu di letakkan di ruangan terpisah di belakang rumah dalam satu ruangan. Berdinding gedek, pintu di buka dan bau busuk segera menampar hidung, bangunan berukuran lima meter persegi itu gelap, karena tak ada jendela juga tak ada penerangan, penerangan hanya dari lampu ublik yang di bawa pak Soleh, nampak lapat-lapat seorang pemuda dewasa tengah duduk terpasung, wajahnya mengerikan, matanya yang hitam ke atas, tapi yang putih mencorong merah menatap kami, wajah pemuda itu tak bisa di bilang bersih lagi, wajahnya menghitam penuh daki, rambutnya awut-awutan kribo panjang, bagian atas tubuh tak berpakaian dan nampak bekas darah ayam dan kambing yang mengering menempel di tubuhnya. Orang yang melihat keadaan Marjuki, pasti akan ngeri sekaligus iba, siapakah orangnya yang mempunyai cita-cita menjadi orang gila. Karena penerangan yang tak memadai, maka oleh pak Soleh kami di minta mengobatinya besok hari saja, malam ini kami menginap, beristirahat.

“Yan bagaimana menurutmu, gila kerasukannya Marjuki?” tanya paman Muhsin, ketika kami berdua telah rebahan dalam kamar.

“Ya gilanya karena mempelajari ilmu, tanpa dasar yang kuat, tarekat misalkan, juga karena mempelajari ilmu tanpa guru pembimbing, sungguh berbahaya sekali, karena belajar ilmu tanpa guru, maka gurunya adalah syaitan, bagaimana menurut lek Muh sendiri?” tanyaku balik.

“Apa yang kamu katakan, tepat sekali, tapi terus terang aku ragu akan bisa menyembuhkannya” nampak lek Muhsin mengerutkan keningnya.

“Yah sebelum kita mencoba, kenapa harus ragu lek? Itu sama saja dengan kita kalah satu langkah, kita hanya berusaha, kesembuhan hanyalah di tangan Tuhan semata, jangan sampai kita tertindih oleh keharusan, seakan-akan sembuh dan sakit itu kuasa kita, hidup dan mati kuasa kita, kita hanya berusaha saja” dan kami pun tidur tanpa beban.

Esoknya, kami berdua di antar pak Soleh ke tempat Marjuki di pasung, jam di tanganku baru menunjukan jam tujuh seperempat, matahari yang kuning keemasan memantulkan sinarnya yang hangat, terasa hangat di tubuh yang baru mandi, membayangkan hal yang seperti itu, betapa damai dunia, seakan di dunia ini tak ada kejadian yang seperti di alami Marjuki.

Setelah masuk ke tempat Marjuki, uh jijik sekali, rupanya bau yang menyengat di malam itu, adalah baunya kotoran dan buang air kecilnya Marjuki, juga bau bangkai tikus dan binatang-binatang lain yang di makan mentah-mentah oleh Marjuki. Oh, sungguh menggidikkan bulu roma. Rupanya di tempat pemasungan, telah berjejal-jejal orang desa yang ingin menonton, tua muda, perawan, janda, remaja, jejaka, duda, semua pada datang menonton, sampai kebun belakang rumah pak Soleh benar-benar lebek, ah kayak ada tontonan dangdutan saja, atau bioskop misbar, gerimis bubar, orang-orang itu ada yang mengintip dari gedek, ada yang berdesakan di pintu masuk, dan ada yang dari luar pagar saja, rupanya pengobatan Marjuki, tanpa di siarkan dengan mikrofon keliling kampung, telah terdengar dari telinga ke telinga.

Lek Muhsin mulai mengobati, sementara aku mempersiapkan yang di perlukannya. Lek Muhsin memang sudah profesional, segala macam cara mengobati orang kesurupan dia kuasai. Dari yang model kejawen, ilmu tao, ilmu tenaga dalam, dan ilmu rukyah. Lek Muhsin mulai mengobati dengan ilmu tao, bajunya di ganti jubah kuning, dan ada simbol tao di punggungnya, semua mata menatap tegang ketika dia beraksi, dengan uang logam Cina kuno yang dengan cepat di bentuk pedang, dan tangan kirinya memegang pedang dari kayu setigi, tubuh lek Muhsin mulai berloncatan kesana kemari, membuat jurus mengelilingi Marjuki, tiba-tiba Marjuki yang sedari tadi diam, menatap kosong, serentak ramai, “ayo, ayo menari, bang Rhoma menarinya kurang seru, kenapa tak pakai gitar?” semua yang ada di situ kontan ketawa, karena memang lek Muhsin adalah penggemar Rhoma Irama, jadi biasalah kalau dari potongan rambut, jenggot, dia upayakan mirip dengan Rhoma.

Tapi lek Muhsin ini tak terlalu, malah ada tetanggaku yang mirip sekali, namanya Joni, saking ngidolain banget sama Rhoma, bukan hanya rambut dan jenggotnya yang di buat mirip Rhoma tapi juga suaranya, pernah kulihat Joni lagi naik sepeda, eh ada lagunya Rhoma di putar kencang-kencang, maka si Joni turun dari sepeda, lalu sepedanya di sandarkan di pohon, dia nyamperin ke rumah yang lagi mutar lagu, “bang, numpang joget ya?” kata si Joni, tanpa tunggu jawaban si Joni langsung joget, sampai lagu selesai, dan setelah lagu selesai, dia pun permisi, tak lupa mengucapkan terima kasih, dengan dialek Rhoma.

Karena dengan jurus tao tidak ada perubahan apa-apa, lek Muhsin pun segera mengubah pengobatan dengan tenaga dalam dan ilmu kejawen, tapi juga tak menghasilkan apa-apa, malah Marjuki bilang katanya permainan sandiwara lek Muhsin untuk menghiburnya teramat membosankan, Marjuki minta di ganti lakon yang lain saja, dan di sambut ketawa oleh penonton yang menyaksikan, karuan saja membuat lek Muhsin malu bukan kepalang. Dan keringatnya mengalir deras sampai lehernya basah, dan pakaiannya juga basah. Seperti orang yang habis nyangkul di sawah, aku memahami perasaan lek Muhsin.

Kali ini lek Muhsin mengobati dengan rukyah, membaca ayat-ayat Al Quran, ayat satu di gabungkan dengan ayat yang lain, tapi pengobatan rukyah ini rupanya juga tak begitu ada hasilnya, Marjuki malah siat-siut mengantuk, ayat-ayat Al Quran itu seperti menina bobokannya, melihat gelagat yang tak baik ini, aku segera ikut membantu, seluruh wirid yang biasa ku baca, ku baca dalam hati tiga kali, sambil menahan napas. Serasa hawa aneh mengalir bergeletaran dari pusarku, ku salurkan ke tanganku ku arahkan ke tubuh Marjuki, ku bayangkan tubuh jin yang ada di tubuh Marjuki terlingkupi dan berusaha ku sedot ke tanganku, tiba-tiba tubuh Marjuki yang siat-siut ngantuk itu membuka matanya, liar dan “krimpying, kretekkriet” Marjuki berdiri tegak, kayu yang di pakai memasungnya sebesar dekapan manusia itu berderak membalik. “hah, siapa yang mencoba menarikku keluar dari tubuh ini, hrrr-brr-bedebah, belum tahu siapa aku?!”.

“Aku iki panglimane Nyai Roro kidul, ayo sopo pengen adu ilmu, huahaha” aku grogi juga mendengar yang masuk ke tubuh Marjuki adalah anak buah ratu pantai selatan, keringatku pun mulai keluar, aku segera meminta tikar kepada pak Soleh, sementara keadaan semakin menegangkan. Sementara lek Muhsin rupanya juga takut, dia mencengkeram lenganku.

“Bagaimana ini yan?”.
“Tenang lek, aku akan berusaha, nanti bantu wirid Basmalah sebanyak-banyaknya” kataku, sambil melihat wajah lek Muhsin yang ketakutan.

Setelah pak Soleh datang membawa tikar. Aku pun menggelar tikar di tempat yang bersih, mengingat lawan yang berat, aku pun berinisiatif membaca fatihah kepada Nabi dan silsilah tarekat kodiriah nahsabandiah, sampai ke Kyaiku, Kyai Lentik. Sementara Marjuki masih ketawa sesumbar. Tiba-tiba salah seorang penonton, seorang setengah baya kesurupan, dan maju ke depan ke arah Marjuki yang masih tertawa bergelak. Mendadak saja tertawa Marjuki berhenti, aku masih membaca wirid, dengan khusuk, tak urung suara orang yang kesurupan itu terdengar di telingaku. Suara itu suara Kyai. Aku pun membuka mata, nampak orang yang kesurupan itu petentang-petenteng, di depan Marjuki yang tertunduk, takut-takut.

“Kau tahu siapa aku?” suara Kyai berwibawa.
“Ampunkan saya, saya tahu tuan Kyai Lentik” suara Marjuki dengan nada takut.

“Lalu kalau kau tahu siapa aku kenapa tak cepat keluar, apa aku sendiri yang akan mencabutmu, dan menjadikanmu debu” suara Kyai membentak. Tiba-tiba tubuh Marjuki lemas. Dan menggelosor ke tanah. Kyai yang ada di tubuh orang lain itu segera mengusap tubuh Marjuki yang segera sadar. Dan memanggil ayah ibunya. Sementara Kyai mendekatiku dan membisiki telingaku.

“Kalau mau kembali ke pondok, kalau sakit biar sembuh dulu” lalu orang desa yang kerasukan itu sadar. Lelaki yang sebelumnya di pinjam wadagnya oleh Kyai itu tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Hari itu Marjuki benar-benar telah sembuh, dan segera di mandikan, aku dan lek Muhsin pun mohon diri. Setelah mengalami pengalaman di Bojonegoro, aku pun memutuskan untuk kembali ke pesantren, setelah selang dua hari di rumah aku pun memutuskan kembali ke pesantren. Maka aku mempersiapkan segala sesuatunya, karena besok siang aku pergi dengan bus malam jurusan Kampung Rambutan.

Tapi malam harinya tiba-tiba tubuhku terserang demam teramat tinggi, batuk, kepala pening, dada ampeg, perut seneb. Dan nafasku sesak sekali, sampai kalau aku menarik napas akan terdengar suara ngiik, ngiik, suaranya seperti sempritan atau sumur pompa. Yang jelas aku merasa tersiksa dan seakan aku telah dekat kepada mati. Bahkan ketika aku bangun dan mau keluar kamar, tubuhku begitu saja terbanting ke belakang, dan tanganku yang mencoba menahani tertindih punggungku sendiri, dan salah urat, makin lengkaplah penderitaanku.

Aku ingat kata-kata Kyai waktu di Bojonegoro, kalau aku sakit, keberangkatan ke pondok di tunda dulu. Rupanya Kyai memperingatkanku. Dan kini, aku tergeletak begitu saja. Tiada daya, Dokter di panggil untuk mengobatiku, aku di suntik dan di beri obat yang banyak sekali macamnya, tapi tak membuatku sembuh. Tanganku juga di bawa ke dukun pijat tapi, sama saja masih salah urat.

Aku belum pernah mengalami penyakit separah ini, paling-paling biasanya pusing, atau sesak napas, karena terlalu banyak cat yang kuhirup, karena melukis air brush, ya cat yang partikelnya teramat kecil tetap saja masuk ke hidungku, dan melekat di rongga hidung dan rongga mulutku, sehingga kalau meludah akan serwarna dengan cat yang ku semprotkan, dan hidungku kaku karena terlalu banyak cat yang menempel. Tapi sekarang penyakit ini lain, kalau mau wudhu saja kakiku gemetaran, dan tangan harus berpegangan.

Ketika ibuku menangis di sampingku, ”bu, jangan menangis…” kataku yang lemah tidur tak berdaya, “kalau Tuhan memang telah memanggilku, nanti tolong pada Hanni, pintakan maaf, aku tak bisa menikahinya, katakan pada Diyah, supaya mencari lelaki yang lebih baik dariku” aku nyerocos tak karuan menyebut semua bekas pacarku, yang telah ku kecewakan, seakan aku ini terlampau banyak dosa, telah menyia-nyiakan banyak wanita, tak mensyukuri atas ketampananku, tak mensyukuri kelebihan-kelebihan yang telah Tuhan berikan padaku.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 8.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632

loading...
Agen Bola SBOBET