Kisah Sang Kyai Guru Bagian 71 - 278 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 70. Jam menunjukkan jam 10 malam, baru saja buka internet, ada telepon masuk, katanya ada orang kesurupan yang mau datang dari Cirebon, tapi sekarang lagi ditangani di sebuah mushola, dan akan dibawa ke rumahku, sekarang lagi ngamuk-ngamuk di mushola dipegangi 8 orang, apa aku mau menerimanya jika dibawa kerumahku? Ku jawab tak apa-apa, dibawa saja datang, pasti ku terima.

Ku tunggu sampai jam 11 lebih, kenapa tak juga datang, padahal jarak mushola yang dimaksud dengan rumahku juga paling sejarak 1 KM, kenapa tak juga datang? Heran, padahal yang mengantar katanya ada 1 orang muridku. Tetap saja ku tunggu, akhirnya mobil yang membawa perempuan kecil yang kerasukan itupun datang, dan awalnya ku lihat pas datang sebelum masuk rumahku, dipegangi orang, segera ku tatakan tempat untuk tiduran yang nyaman, dan anehnya yang kerasukan kenapa anteng saja, dan diam saja seperti tiduran tak bergerak.

“Katanya tadi ngamuk-ngamuk?” tanyaku pada semua orang yang membawanya ada 9 orang.
“Iya pak, tadi ngamuk, malah di mobil juga ngamuk-ngamuk. kami kuwalahan” jawab salah satu orang yang memakai peci hitam.
“Kok sekarang anteng?”.
“Ya ngamuknya kalau ada yang memegang pak” jelasnya, “tadi juga sudah dipanggilkan kyai dan orang yang bisa mengobati, eh malah orangnya ditendang, dan dipanggilkan orang yang membacakan al-qur’an, malah dibilangin, sudah berapa kali kamu khatam qur’an kok berani-beraninya membacakan padaku? Juga pas di mushola tadi nantang-nantang, siapa yang punya ilmu ditantang mau diajak duel”.
“Wah kok sampai begitu?”.
“Iya pak, saya ayahnya, nama saya Sutono, iya pak memang kejadiannya begitu” jawab lelaki setengah baya yang mengaku sebagai ayah si anak yang kerasukan.
“Sebentar” ku ambil air dan ku suruh minumkan ke gadis kecil yang kerasukan.

Susah juga memasukkan air, karena bibirnya menutup rapat dan tak terbuka sama sekali, ku tempelkan saja tanganku di punggung gadis itu, sehingga konsentrasi jin biar ke tanganku, dan mulutnya bisa terbuka dan air bisa masuk ke mulutnya, Alhamdulillah mulutnya terbuka dan air pun bisa masuk.

Kontan terjadi reaksi, tubuh gadis itu menggeliat, dan mencoba berontak dia berusaha mencekikku, tapi tak sampai cekikannya ke leherku, berusaha menyerangku tapi seperti serangannya ada yang menahan. Ku tanya siapa di dalam? Tapi tak juga ada jawaban, berulang kali ku tanya tetap saja mulutnya terkatup rapat. Karena merasa tak ada manfaat yang bisa ku ambil, maka jin segera ku keluarkan. Dan gadis kecil itu pun sadar.

“Ini ceritanya bagaimana pak, awal mulanya seperti ini?” tanyaku kepada pak Sutono.
“Ini begini kyai awalnya, anak saya mau dikorbankan jadi tumbal pesugihan” jawab pak Sutono.
“Tumbal pesugihan?” tanyaku heran.

Walau dalam kenyataannya saya belum pernah mengalami sendiri bagaimana sebenarnya tumbal pesugihan itu, tapi kalau cerita apalagi cerita di Pekalongan ah cerita itu sepertinya sudah makanan sehari-hari dari mulut ke mulut, cuma secara prakteknya saya sendiri belum mengalami secara pengobatan maupun kejadian. Aneh juga dan hm masuk akal atau bukan ya sudah ikuti saja cerita yang terjadi.

“Bisa diceritakan lengkapnya pak?” tanyaku, “bagaimana awalnya dan bagaimana sampai dibawa kesini ini”.

Pak Sutono mulai bercerita.

“Awalnya terjadi kerasukan masal di sekolah SMA di daerah saya sana pak pas kejadian ada acara upacara, di mana anak saya ini sekolah, juga awalnya anak saya ini tidak ikut kerasukan, jadi dia yang malah mau bantu menolong kerasukan, eh malah anak saya yang kemudian kerasukan, dan yang lain sudah pada sembuh, anak saya malah yang gak ikut sembuh, sampai dibawa pulang juga gak sembuh, lantas saya carikan obat kesana kemari, untuk mengobati anak saya yang kerasukan gak sembuh-sembuh, saya sampai kemana-mana mencari obat agar anak saya sembuh dari kerasukan, berapa uang saja saya keluarkan agar anak saya sembuh, tapi tetap saja berganti-ganti orang kerasukan anak saya gak sembuh-sembuh, malah ada yang ditendang sampai pingsan, ada yang dicakar sampai berdarah-darah, juga ada yang disembur pakai darah, sama anak saya ini, saya sampai kewalahan, bagaimana lagi, dan kemana lagi mencari obat, sampai akhirnya anak saya sudah saya kira mati, karena nafasnya sudah gak ada, sudah tiga hari, semua tubuhnya juga sudah dingin, jadi saya menganggapnya sudah meninggal, maka akan saya kuburkan, eh ada datang seorang kyai yang datang ke rumah, gak tahu juga siapa yang ngundang saya gak tahu. Tahu-tahu saja dia datang ke rumah saya, mencegah saya menguburkan anak saya ini.

“Jangan kuburkan anakmu, dia belum meninggal, sukmanya sedang ditawan” kata kyai itu.
“Lalu bagaimana ini pak, anak saya sudah ndak ada nafasnya begitu” jawab pak Sutono.
“Gak apa-apa biar saya bantu menarikkan, sebentar saya akan memanggil teman-teman saya” kata kyai itu sampil bergegas pergi dan kembali dengan membawa sepuluh orang.

Kemudian sepuluh orang itu menjalankan lelaku ritual, menarik sukma anak saya. Setelah setengah harian menjalankan lelaku, maka alhamdulilah tangan anak saya bergerak-gerak, dan akhirnya bisa bergerak dan sadar, tapi aneh, seluruh tubuhnya menghitam. Saya kasihan sekali melihat keadaan anak saya, kata kyai tersebut anak saya mau dikorbankan pada pesugihan, sebenarnya awalnya juga saya tak tahu pak bagaimana kok ada tumbal pesugihan segala, tapi setelah dicermati memang ada orang yang bernama Bowo yang sebagai donatur sekolah dia kaya raya, usahanya di mana-mana, villa, hotel, dan berbagai usaha ditekuninya, secara logika ya tak heran kalau orang itu kaya, karena memang banyak usahanya, tapi apa mungkin, tapi memang di sekolah tempat anak saya sekolah ini memang sudah banyak anak sekolah yang meninggal, ya ada saja sebabnya kebanyakan karena terjadi kecelakaan, misal ada yang kemaren yang ada anak tiga dilindas truk pasir, lalu ada yang ditabrak kereta api padahal palang kereta sudah ditutup, herannya anak itu menerobos palang kereta, dan ditabrak kereta api, ada juga yang naik motor cuma nabrak spion angkot lantas begitu saja jatuh mati, pokoknya aneh-aneh lah pak kejadiannya, sampai tak masuk akal, dan kalau dihitung sudah korban kejadian itu ada 37 orang, jadi maunya 40 orang maka tinggal 3 orang, nah anak saya inilah yang nomor 38 pak”.

loading...

“Wah panjang juga ceritanya”.
“Nah setelah kyai yang menolong anak saya untuk sembuh itu selesai menyadarkan anak saya, anak saya pun cerita bahwa selama tiga hari itu dia dibawa ke kerajaan jin, ke rumahnya ibu Ratu Dewi, di Paliman, menurut anakku ini dia ditunjukkan nantinya tempatnya, yang akan ditempati setelah menjadi korban ini, setelah mengetahui itu, saya dengan kyai, temannya dan para aparat desa, kami bersama-sama mau mendatangi rumahnya Bowo, malam-malam kami datang pak, karena siangnya Bowo itu tidak ada, jadi kami datang malam, anehnya pak, rumah mewahnya yang luas sekali berhektar-hektar itu gak ada sama sekali, kami semua tak melihat rumahnya di mana, padahal jelas di sebelah jembatan, jadinya sebelah jembatan malah gak ada rumah, adanya hanya kebon semua, lalu kami pun meminta tetangganya yang dekat supaya mengantar agar kami bisa menemukan rumahnya, dan aneh tetangganya itu malah masuk ke kebonan, ya kami kehilangan dia, dan dia kembali-kembali sudah di ujung, lalu kami panggil katanya dia sudah masuk ke rumahnya sama saya, dan juga rombongan saya, padahal saya sama rombongan tidak ikut masuk, lalu keputusan kyai yang beserta saya, rumahnya sangat kuat perlindungannya jadi tidak bisa di tembus”.

“Aneh juga” kataku.
“Ya begitulah pak, nah setelah kejadian itu kami berusaha mendatanginya di siang hari, karena di rumah tak ada maka kami berusaha mencari kesempatan pas dia si Bowo itu ada di sekolah, dan saat di sekolah di hari-hari tertentu, pas hari itu kami dan aparat desa mendatanginya, maunya untuk meminta pertanggung jawabannya, dan anehnya ketika kami di depan dia semua mulut kami seperti terkunci kami tak kuasa berbuat apa-apa, kami diam mematung, malah diam saja ketika dia menanyakan keperluan, yang asalnya kami mau marah-marah ya seperti lulut saja kayak kerbau dicocok hidung, malah dia menunjukkan kalau dia bisa membaca qur’an, padahal kata semua guru bahkan kata istrinya Bowo itu ndak bisa baca qur’an sama sekali”.

“Lalu selanjutnya bagaimana?” tanyaku.

“Ya begitu pak, setelah kejadian itu dia malah berkata pada saya, soal sakit anakmu itu berapa biayanya, semua saya ganti, begitu katanya, ya saya gak mau sambil saya minta jangan mengganggu anak saya, eee malah akhirnya bukan anak saya saja yang kemudian jadi kerasukan istri saya pun akhirnya kerasukan, malah lebih ganas lagi, sampai sebelumnya kyai yang menolong anak saya sadar, awalnya mereka sanggup membantu, akhirnya mereka semua angkat tangan gak sanggup, dan menyerah. Maka saya kembali mencari orang pintar untuk mengobatkan istri saya, kemana mana saya cari, sampai saya putus asa rasanya, kalau anak saya sebelumnya kerasukan kan dipegang orang delapan saja masih kuat, kalau istri saya yang kerasukan kok orang delapan yang memegangi saja gak kuat, semua dimentalkan, sampai suatu malam saya bermimpi, yang bisa menyembuhkan anak saya itu orang yang rumahnya di Jogya, di suatu daerah dan saya pun berangkat mengikuti isyarat mimpi saya, seharian di Jogja saya tanya kesana kemari, sampai akhirnya sampai di daerah yang saya tuju. Saya ketemu orang namanya pak Giman, dia orang yang tubuhnya lumpuh separo, dan berjalan memakai tongkat.

“Ada apa?” tanya pak Giman,
“Ini pak saya mau minta tolong, soal istri saya yang kerasukan, sudah saya obatkan kemana-mana gak sembuh, bagaimana pak apa bapak mau membantu? Apa syaratnya?”.
“Sudah bapak di sini saja” jawab Pak Giman.
“Maksudnya pak?”.
“Ya biar saya yang kesana”.
“Ke rumah saya bareng saya saja pak”.
“Gak saya kesana sekarang”.

Lalu pak Giman masuk kamar, dan setengah jam kemudian menemui saya lagi.

“Sudah istrinya sudah sembuh, silahkan bapak pulang”.

Saya heran, dan saya pulang, memang istri saya sudah sadar dari kerasukannya, dan menurut yang saya serahi nunggu di rumah, memang pak Giman datang dan menebas-nebas istri saya dengan daun sampai istri saya sadar, aneh memang pak, tapi itulah yang terjadi”.

“Setelah istri saya sadar dan seminggu kemudian ternyata anak saya kerasukan lagi, dan saya bingung karena seperti semula anak saya tidak bisa diobati, sampai akhirnya saya mencari kyai yang dulu pernah membantu menyadarkan anak saya, dia dan teman-temannya tak sanggup. Dan hanya memberikan cincin, setelah anak saya memakai cincin, memang lantas tak kerasukan, dan saya disarankan untuk mencari orang yang bisa mengobati di daerah Pekalongan, katanya yang bisa mengobati orangnya adanya di Pekalongan, maka saya bawa anak saya ke Pekalongan, saya mencari kontrakan, sambil mecari siapa yang bisa mengobati katanya di Pekalongan tinggalnya, soalnya petunjuknya gak jelas pak, orangnya muda saja, begitu kata kyai itu”.

“Selanjutnya bagaimana?” tanyaku.
“Ya begitu, setelah seminggu ngontrak, ndak juga saya temukan mencari orang yang bisa mengobati yang katanya muda, sudah beberapa orang saya datangi semua kalah sama jin yang ada di tubuh anak saya, saya kan makin bingung. Sampai malam ini, anak saya kambuh, sudah banyak jin yang datang kata anak saya, akan mengeroyok dan menguasai, maka saya bawa anak saya ke mushola, di mushola malah semua orang ditantang, mau diajak tarung, jadi ramai, nah ternyata salah satu yang di mushola adalah murid bapak, lantas saya dianjurkan dibawa saja ke tempat bapak ini”.

Setelah selesai bercerita, akhirnya ku tangani anak yang bernama Ningsih itu, ku beri mimun air, dan tanganku tempel ke punggungnya, sebentar lantas tak sadar, dan setelah ku usahakan ku tanya ternyata tak mau jawab sama sekali jinnya, diam membisu, kadang hanya menatapku, kadang tak berani menatap tapi tetap diam seribu bahasa, akhirnya, jin yang tak bisa memberikan informasi apa-apa ku keluarkan, karena kurasa tak ada manfaat di dalam lama-lama.

Semalaman gonta ganti jin, ku keluarkan tapi sama sekali tak satupun memberikan informasi, sebenarnya kalau bicara paling tidak akan ada informasi yang bisa digali. Akhirnya di malam pertama walau sudah beberapa jin ku keluarkan hasilnya nihil tak ada informasi yang bisa ku dapat.

Siangnya bapak dan anak itu pulang, dan malamnya datang lagi karena biasanya memang malam jum’at kliwon atau malam sabtu kliwon, korban itu akan diambil sebagai persembahan, dan malamnya setelah datang ke tempatku, ku langsung beri minum air isian doa, dan ku tempel tanganku di punggungnya, sebentar kemudian sudah tak sadar dan satu dua jin seperti kemarin tak mau bicara, dan hanya diam seribu bahasa, akhirnya ku keluarkan, setelah 5-6 jin ku keluarkan, Alhamdulillah jin yang ke tujuh, ternyata menangis, wah ini bisa diajak komunikasi.

“Siapa ini?” tanyaku.
“Saya Bunga” jawab jin dalam tubuh gadis itu sambil masih terus menangis.
“Kamu dikirim?”.
“Ya”.
“Sama siapa?”.
“Bowo”.
“Untuk apa?”.
“Untuk menjemput anak ini”.
“Kamu muslimah?” tanyaku karena terdengar suaranya perempuan.
“Bukan”.

“Lalu apa agamamu?”.
“Seperti Bowo”.
“Apa Hindu?”.
“Bukan”.
“Budha?”.
“Kristen?”.
“Bukan”.
“Kafir?”.
“Ya”.

“Kamu tak kasihan dengan anak ini? Kok mau kamu ambil jadi korban?”.
“Kasihan, tapi saya tak bisa menolak perintah Ratu?”.
“Ratu siapa?”.
“Ratu dewi”.
“Siapa itu?”.
“Yang punya perjanjian dengan Bowo”.
“Perjanjian apa?”.
“Perjanjian pesugihan”.
“Sudah berapa korbannya?”.
“Banyak”.
“Banyak berapa?”.
“Ya ada 37 orang, termasuk ayahnya Bowo sendiri”.

“Ayahnya dikorbankan?”.
“Ya”.
“Yang lain dari mana yang dikorbankan?”.
“Dari sekolah yang di danai”.
“Jadi anak sekolah itu dikorbankan?”.
“Iya”.
“Apa yang merasuki teman sekolah anak ini kemarin itu juga ulahnya Bowo?”.
“Iya”.
“Yang merasuk itu semua teman-temamu?”.
“Iya semua temanku, atas perintah Bowo”.
“Berarti di sekolah itu banyak sekali jinnya?”.
“Banyak”.
“Ada berapa?”.
“Ratusan”.

“Kamu sendiri tinggal di mana?”.
“Saya tinggal di pohon asem, tapi di tebang, jadi saya pindah ke mushola sekolah”.
“Kamu keluar ya”.
“Gak mau”.
“Kenapa?”.
“Ya gak mau”.
“Sekarang kamu di sebelah mana tinggal di tubuh anak ini?”.
“Saya di kaki”.

Lalu aku menuju ke kaki gadis itu dan ku tarik keluar, lantas gadis itu sadar. Dan ku lihat sangat kelelahan, jadi ku biarkan saja agar istrirahat. Sampai besoknya malam akan ku selesaikan. Besoknya setelah maghrib gadis itu datang di antar lagi oleh ayahnya, sebenarnya aku sudah lelah sekali, karena disamping gadis itu aku seharian harus mengeluarkan jin yang ada di tubuh dua orang lagi tamuku, bahkan yang satu di dalamnya ada sampai hampir seratus jin dalam tubuhnya, energiku terkuras, maka ku putuskan memanggil murid-muridku membantu, agar bebanku agak berkurang, ku suruh murid-muridku mengeluarkan jin yang kapasitasnya ringan, sekalian mengajari mereka memakai ilmu yang ku berikan, sehingga kalau ada masalah yang sama jadi mereka sudah bisa. Sampai saat jin yang bernama Bunga itu yang kemarin ku keluarkan yang ternyata ada di dalam, tandanya dia menangis, ku segera menanyakan, karena rupanya jin ini lumayan ramah menurut pendapatku.

“Kamu Bunga?” tanyaku.
“Iya”.
“Kenapa ada di dalam lagi, bukannya kemarin sudah saya keluarkan?”.
“Iya saya disuruh masuk lagi”.
“Sama siapa?”.
“Sama Bowo”.
“Apa waktu di tempat lain, yang mencakar wajah orang yang mengobati, juga waktu ngamuk di mushola itu juga kamu Bunga?”.
“Iya”.
“Kenapa di tempat lain ngamuk, sedang di sini tidak?”.
“Saya dilarang melawan?”.

“Sama siapa?”.
“Sama gurunya Bowo”.
“Dia bilang apa?”.
“Ya saya dilarang jangan melawan”.
“Kenapa?”.
“Karena gurunya Bowo takut”.
“Takut dengan siapa?”.
“Takut denganmu”.
“Kenapa takut denganku?”.
“Tak tahu”.
“Apa bentukmu Bunga”.
“Saya perempuan cantik”.
“Sudah punya pacar“.

“Ya belum”.
“Kenapa belum?”.
“Karena umur saya baru 100 tahun”.
“Loh umur 100 tahun kok belum punya pacar?”.
“Ya kan jin umur 100 tahun masih kecil”.
“Sebesar apa?”.
“Sebesar anak kelas 1 SMP”.
“Oh begitu?”.
“Ya”.
“Lalu kenapa kamu menangis kalau muncul”.
“Karena saya sakit”.
“Sakit karena saya ini tidak bisa apa-apa”.
“Maksudnya?”.
“Ibu saya ditawan Ratu, dan saya dipaksa mengambil anak ini jadi tumbal, kalau saya tak melaksanakan ibu saya disiksa”.
“Kenapa ibumu tak kamu bebaskan?”.
“Saya sudah tak punya kekuatan, kekuatan saya diambil Ratu”.
“Kamu kasihan gak sama anak ini?”.

“Kasihan”.
“Kalau kasihan kenapa gak kamu lepaskan?”.
“Tidak bisa, karena saya kalau tidak mengambil anak ini ibu saya disiksa terus”.
“Di siksa bagaimana itu?”.
“Ya dirantai sama dicambuki”.
“Kasihan”.
“Kamu lepaskan anak ini ya”.
“Ya tapi saya ditolong melepaskan ibu saya ya”.
“Iya, saya insya Allah akan bantu”.
“Iya saya tak ganggu anak ini, anak ini akan saya bantu lepas dari menjadi tumbal”.
“Nah begitu”.

“Kamu saya Islamkan?”.
“Ndak mau”.
“Kenapa ndak mau”.
“Saya sudah pernah masuk Islam, di Islamkan oleh kyai yang mengislamkan saya, tapi saya kembali kafir”.
“Kenapa kembali kafir?”.
“Karena saya disiksa Ratu, diperintah jadi kafir”.
“Bagaimana kalau masuk Islam, tapi tinggal di sini, kan dalam perlindungan saya, jadi ibu Ratu itu gak berani ngapa-ngapain”.
“Tak bisa, ibu saya kan disiksa”.
“Ya kalau begitu, kamu keluar dulu ya, kasihan anak ini, kita ngobrolnya di luar saja, kamu sekarang di tubuh anak ini di sebelah mana?”.
“Saya di punggung”.

Ku arahkan tanganku ke punggung, dan ku tarik Bunga keluar, gadis itu pun sadar. Anak itu pun duduk, dan sebentar kemudian dia nangis lagi.

“Ini Bunga?” tanyaku.
“Iya” jawabnya pendek.
“Kok kamu masuk lagi?”.
“Saya tak masuk”.
“Lalu di mana?”.
“Saya di belakangnya anak ini”.
“Duduk apa berdiri?”.
“Duduk, saya hanya meminjam mulut anak ini untuk bicara”.
“Oh begitu”.

“Bunga”.
“Iya”.
“Kenapa kamu kok jadi pengikutnya Ratu?”.
“Saya diajak teman-temanku”.
“Apa kerajaannya luas Ratu itu?”.
“Iya”.
“Apa dia sakti”.
“Ya”.
“Sakti mana sama dengan ratu pantai selatan?”.
“Sama-sama saktinya”.
“Saya dibantu ya”.
“Bantu apa?”.

“Di dalam tubuh gadis ini ada berapa jin?”.
“Saya tidak bisa melihat mereka”.
“Kenapa?”.
“Saya dihalang-halangi penglihatan saya”.
“Sama siapa?”.
“Sama mereka”.
“Lhoh bukannya mereka temanmu?”.
“Bukan”.
“Lalu mereka siapa?”.
“Mereka kiriman orang yang diarahkan untuk mencelakai anak ini”.
“Oh begitu, jadi bukan temanmu?” tanyaku.
“Bukan”.

“Saya bantu melihat ya” kataku sambil menempelkan tangan ke kening gadis yang kerasukan.
“Ya, ada 7”.
“Apa saja bentuk mereka?”.
“Bentuknya macam-macam”.
“Yang mengirim siapa?”.
“Yang mengirim, orang yang rumahnya di pinggir laut”.
“Kenapa mereka sama sekali tak menyerangku?”.
“Semua takut”.
“Yang takut siapa?”.
“Yang takut jin dan juga dukun yang mengirim”.
“Aneh, kenapa mereka takut padaku?”.
“Tak tahu, gurunya Bowo, dan ratu juga takut”.
“Denganku?”.
“Ya”.
“Apa kamu juga takut denganku, coba pandang aku.”

Lama Bunga terdiam tak menjawab.

“Bagaimana?”.

Dia diam saja.

“Aku tak akan mengapa-apakanmu kok, jangan takut”.
“Ya”.
“Kamu mau di sini saja, jadi muridku?”.
“Mau, tapi saya kasihan sama ibu bapakku, yang ditawan ratu”.
“Sudah dulu ya Bunga, kasihan anak ini lelah, kamu pinjam lisannya”.
“Iya”.
“Jangan masuk lagi ke tubuh anak ini ya”.
“Iya”.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 72.

Whatsapp: 0852 1406 0632