Kisah Sang Kyai Guru Bagian 72 - 397 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 71. Mengajak kepada kebaikan, itu tugas kepada siapa saja yang sudah ingin menjalankan keislamannya dengan sempurna, orang mengajak kepada kebaikan itu tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi karakter manusia itu berbeda-beda, kalau ngajak di tempat pengajian, atau gembar gembor di tempat yang orangnya sudah dikumpulkan oleh panitia, dan mendapat undangan, ya gembar gembornya mudah, tapi apa ada yang mau ikut? Habis dipidatoni juga paling sudah lupa dengan apa yang dikatakan tukang pidatonya, seperti menyiram air pada keramik, ada debu menempel juga keramiknya sudah kotor lagi, menurutku mengajak itu harus dari hati, harus dari dalam pribadi manusia, dari kedalaman jiwa mereka, buat mereka tertarik dengan hatinya, baru diberi penjelasan kalau sudah ikut.

Dan memberi penjelasan itu tak mudah, apalagi menjelaskan kepada orang yang belum tau sama sekali apa yang akan kita jelaskan, dan dalam pikiran orang itu lepas menuju pemahaman yang bebas, akan makin sulit menjelaskannya, bisa bisa yang kita jelaskan akan mengalami kebingungan akhirnya setelah dijelaskan, bukannya akan paham, tapi malah bingung. Apalagi syaitan juga menghalangi kebaikan itu disampaikan, kebenaran itu dibuka, malah makin sulit lagi, yang kita jelaskan malah ngantuk, dan gak sabar mendengar penjelasan kita karena kata-kata kita yang tak menarik dan ndak ada hadiahnya kalau mendengarkan. Mengajak orang sampai orang itu ikut dan menjalankan yang kita arahkan, menurutku suatu keindahan dan kenikmatan tersendiri, apalagi sampai meneguhkan hati orang, dan merubah pandangan hidupnya, berubah total pada ke arah kebaikan, dan kebahagiaan kekal di sisi Allah.

Tapi bagiku kita mengajak saja ke arah kebaikan, orang perduli apa tak perduli, itu bukan urusan kita, kita lakukan saja dengan ikhlas, Allah pasti sudah mencatat amal ikhlas kita mengajak ke jalan kebaikan, menjadi amal ibadah, ikut atau tak ikut orang yang kita ajak, ndak usah memaksakan kehendak wong hidayah itu miliknya Allah, kita hanya menuruti saja perintah Allah semampunya, wa’mur bil urfi, mengajak ke dalam kebaikan, wanha anil mungkar, dan mencegah kemungkaran. Semampu kita. Nyatanya makin banyak orang yang kita ajak, akan makin banyak pahala yang kita petik, seperti manager bos perusahaan yang mengajak pada orang banyak untuk ikut bekerja di pabriknya, makin banyak orang yang bekerja, berarti makin banyak produksi dibuat.

Pak sutono dan anaknya yang kerasukan menginap di rumahku berhari-hari, banyak juga yang ku petik pelajaran dari orang setengah baya ini, selama bicara denganku, banyak yang diceritakan, kisahnya bermacam-macam, yah dari kisah seseorang itulah kita kadang memetik hikmah, dan pelajaran, tak mesti kita melakukan kesalahan sendiri, untuk memahami arti hidup dan kehidupan, sekecil apapun kita jadikan pelajaran.

“Maaf pak, apa ini mushola?” tanya pak Sutono padaku sambil menunggui anaknya yang sudah tenang setelah ku keluarkan jinnya.
“Bukan pak, ini majelis” jawabku singkat.
“Dzikir apa pak?” tanyanya lagi.
“Bapak lihat sendiri apa yang tertulis di dinding itu?” jawabku singkat lagi sambil mengambil rokok dan ku nyalakan.

Aku berusaha menghadapi tamu senyaman mungkin, agar tamuku juga merasa nyaman di depanku, ku tawarkan rokok pada pak Sutono.

“Oh ya, dzikir thoreqoh, apa ini sama yang Suryalaya itu?” tanyanya lagi.
“Ya bisa dikatakan sama, tapi juga beda”.
“Apa kita ini perlu to pak berthoreqoh ?” tanya pak Sutono.

Ku pandang wajah pak Sutono, dan ku angan-angan selama beberapa hari di rumahku, sebab percakapanku ini setelah beberapa hari pak Sutono ada di rumahku, jadi ku ketahui kalau pak Sutono tak pernah sama sekali menjalankan sholat selama tinggal di rumahku, tapi aku juga tak akan memerintahkannya, sebab bisa saja dia berkeyakinan lain, atau beragama lain, aku tak perduli, pertama aku menolong orang sebatas yang bisa ku tolong, entah agamanya apa, itu urusan masing-masing punya keyakinan. Tapi aku merasa kesulitan juga mau menjelaskan bagaimana menjelaskannya, setelah lama berpikir, dan rokok ku hisap berkali-kali aku buka suara, walau sekalipun pertanyaan pak Sutono padaku sekedar iseng saja atau bukan.

“Kalau orang Islam, bertharekat itu tidak harus, seperti sebagaimana makan, orang itu tak harus makan, tapi makan akan jadi butuh kalau perut lapar, juga makan tak harus makanan yang bersih, tapi kalau kemudian karena makan lalu sakit, dan berbagai sakit dalam tubuhnya bersarang, dari sakit perut sampai jantung, komplikasi dll, ya menurutku akhirnya juga harus menjaga pola makan yang bersih, agar dirinya sehat wal afiat, seperti bapak ini seumuran bapak tentu punya pengalaman yang banyak, nah masak di pengalaman itu bapak sendiri tidak timbul pertanyaan, kenapa saya kok hidup begini, apa bapak hidup tenang di saat ini?” tanyaku.

“Ya saya memang banyak pengalaman dan berbagai warna hidup ku jalani pak, dari pengalaman hidup saya, saya sendiri belum bisa memetik sedikitpun pelajaran” jawab pak Sutono.
“Ya itu bisa dilihat dari keadaan bapak yang maaf, masih ku katakan hidup kelihatannya penuh kesengsaraan dan sepertinya lelah dan penuh kekecewaan dan kegagalan”.
“Bener sekali pak, saya memang orang yang sangat-sangat gagal, kalau boleh saya cerita” kata pak Sutono sambil wajahnya menunggu persetujuanku.
“Ya silahkan pak” kataku sambil menyalakan rokok, karena kurasa kisahnya akan lama.

“Dari dulu tahun 80-an, saya sudah bekerja, sebelum saya punya istri dan masih muda, dan saya bekerja di Pekalongan, kerja serabutan, apa saja saya jalani asal dapat bekerja, sampai saya menemukan kerja saya yang sekarang ini sebagai penjual bubur kacang hijau, di antara kerjaan saya sebagai seorang penagih hutang, dulu, kalau nagih hutang, saya sering ke dukun, untuk minta syarat agar kerjaan nagih hutang saya lancar tanpa kendala, ada seorang dukun yang saya andalkan, namanya dalang Waskito, dipanggil ki Waskito, memang dari sarat ki Waskito saya sering mendapat sareat darinya sehingga waktu menagih hutang itu saya menjadi gampang, karena sering ke rumah ki Waskito, kami akhirnya seperti keluarga, ki Waskito tinggal di daerah Krapyak, suatu malam saya dan teman saya namanya Junaidi seperti biasa meminta sareat pada ki Waskito, dan malam itu jam baru saja habis magrib, sedang kami dalam keadaan ngobrol, tiba-tiba ada tamu yang datang, seorang berpakaian hitam-hitam, aneh pak, saya kok merinding melihat orang itu padahal ya orang biasa, otomatis pembicaraan saya, Junaidi dan ki Waskito terhenti, sementara ki Waskito mempersilahkan tamu itu untuk masuk, tapi tamu itu tetap berdiri tak mau duduk”.

“Ki, sampean saya minta untuk datang, ndalang di rumah saya” kata orang itu sambil berdiri, aku merasakan nada yang membuat bulu kuduk saya berdiri, padahal yang diucapkan kata biasa.
“Kapan?” tanya ki Waskito.
“Malam ini” jawab orang itu singkat.
“Wah kok mendadak sekali?” tanya ki Waskito.
“Ya karena anak perempuanku menikah, sudah ada rencana nanggap wayang, kok dalangnya sakit, sehingga pertunjukan gagal, jadi Aki ku minta menggantikan dalangnya, apa aki bisa?” ki Waskito menerawang, sebentar memandangi orang yang datang.
“Di mana daerahnya?” tanya ki Waskito.
“Di desa Keling”.
“Desa Keling kedung ombo?”.

“Di mana itu tempatnya?” tanya ki Waskito, setelah mikar mikir desa yang disebutkan tak ada dalam ingatannya, aku saja yang wira wiri, biasa nagih hutang juga gak tahu di mana ada desa seperti itu di ingatanku juga tak ku temukan.
“Berapa sampean minta, akan ku bayar ki, sebutkan saja” kata orang itu.
“Ya, ya, saya akan siap, lalu bagaimana saya kesana, karena kok saya asing dengan nama desa itu?” tanya ki Waskito.
“Sekarang juga barengan saya ki, saya antar”.
“Oh ya, ya, saya siap-siap dulu, silahkan sampean duduk, minum dulu” jawab ki Waskito sembari mempersilahkan tamunya yang terus berdiri itu, ku lihat orang itu tinggi besar, dengan pakaian hitam seperti pakaian jawara orang zaman dahulu.
“Tidak ki, biar saya menunggu di luar saja” kata orang itu tanpa menunggu persetujuan dan berbalik keluar rumah.

Setelah orang itu keluar rumah, Junaidi pamit ke kamar kecil, tak tau kenapa dia ingin kencing, sementara tinggal ki Waskito duduk bersama saya. Ku lihat kerutan yang dalam di jidat ki Waskito, dia seperti memikirkan hal yang sangat berat nampak dia mengelus-elus kumisnya dan jenggotnya yang sudah sebagian memutih.

“Pak Sutono, bagaimana ini, anak ikut saja denganku ya, untuk ikut ke orang yang sedang hajatan mantu itu” kata Ki Waskito padaku.
“Wah ramai tentu saya mau ki, wong saya juga tidak buru-buru, sekalian nyari hiburan” jawabku enteng.
“Eh tapi nanti kalau di sana kalau diberi makan, jangan dimakan” kata ki Waskito.
“Lhoh kenapa pak?”.
“Ya pokoknya jangan di makan, aku ganti baju dulu” kata Ki Waskito sambil beranjak dari tempat duduknya.

Sebentar kemudian Junaidi telah kembali dari kamar kecil, Junaidi adalah teman akrabku kemana aku berada selalu saja ada dia menemaniku.

loading...

“Jun, ini Ki Waskito mengajak kita untuk ikut menemaninya ndalang di daerah Keling kedung ombo, bagaimana Jun?” tanyaku pada Junaidi yang menyalakan rokoknya.
“Wah kebetulan kang, kita ada hiburan gratis, siapa tahu di desa itu ada ceweknya yang cantik, dan nyantol ke kita, hehehe” jawab Junaidi sambil menyalakan rokoknya.

Sebentar kemudian Ki Waskito sudah keluar dari dalam rumah dengan pakaian ala dalang plus keris yang terselip di pinggangnya bagian belakang. Dan kami segera berangkat, rupanya di luar ada kereta kuda, yang di atas kaisnya sudah ada orang yang tadi menjadi tamu, tanpa banyak bicara kami segera naik di kereta kuda, atau dokar, di Pekalongan disebut gelinding, juga tak ada yang aneh, atau saya sendiri yang tak tanggap, yang menurut saya aneh, kok sepengetahuan saya jalan di daerahnya Ki Waskito itu gak baik, tapi ini selama perjalanan seperti kereta berjalan dengan mulus tanpa ada goncangan, seperti layaknya mobil mewah saja, sebentar perjalanan sudah sampai di tempat keramaian di mana pertunjukan wayang di adakan… kami segera turun, dan berjalan di antara orang ramai untuk mencari tempat duduk, sementara Ki Waskito sudah diminta maju ke depan untuk memulai tampil sebagai dalang, saya dan Junaidi duduk di antara para tamu, di atas meja aneka makanan tersedia, sangat lezat-lezat dan mengugah selera, aku duduk terpisah dengan Junaidi karena biasa kami berdua kan masih muda jadi mencari perempuan di area pertunjukan, melihat makanan yang lezat rasanya ingin makan, tapi saya ingat pesan ki Waskito kalau ndak boleh makan makanan yang disajikan, wah saya sampai lupa memberi tau pada Junaidi, semoga saja tak terjadi apa-apa, sampai pertunjukan wayang selesai.

Mata terkantuk-kantuk, perut lapar, karena tak boleh makan makanan yang di sajikan, akhirnya pertunjukan wayang usai, akan pulang kami dibekali aneka makanan dan juga diberi amplop berisi uang, waktu mau pulang, kami bertiga dibilangi supaya pulang sendiri, dan disuruh jalan saja lurus jangan nengok, aneh baru beberapa langkah berjalan kami keluar dari dalam hutan Roban, bertemu dengan orang kampung yang sedang buang hajad di pinggir hutan, yang menatap kami dengan pandangan heran, apalagi melihat ki Waskito yang berpakaian dalang.

“Wah ini dari alam lelembut to ki? Pantesan semalem ramai dalam hutan ada suara pagelaran wayang” kata orang itu ditujukan kepada ki Waskito.
“Ini hutan mana?” tanya ki Waskito.
“Ya ini Alas Roban to ki”.
“Walah benar juga perkiraanku” dengus ki Waskito yang segera berjalan di antara pepohonan, sambil kami berdua ikuti.
“Waduh ki perutku mual!” suara Junaidi, di susul dengan muntah-muntah, dan yang dimuntahkan adalah beraneka ulat, singgat, kelabang, dan aneka binatang menjijikkan, ada cacing, kecoak, ada yang dalam keadaan mati ada juga yang masih hidup. Saya segera membuka daun pisang pembungkus makanan yang diberikan pada saya, dan isinya tak beda dengan yang dimuntahkan Junaidi, segera saya campakkan.

Sementara ki Waskito mengurut-urut punggung Juanaidi agar apa yang di makan bisa dimuntahkan semua, wajah Junaidi pucat pasi.

“Sampean gak ikut makan kan dek Sutono?” tanya ki Waskito.
“Tidak ki, maaf ki saya lupa mengingatkan pada Juanidi, sehingga dia makan di sana tadi, jadi semalam itu kita di alam lelembut ya ki?”.
“Ya begitulah, coba keluarkan uang yang diberikan padamu” kata ki Waskito.

Saya segera mengeluarkan uang yang diberikan padaku, ternyata hanya daun kering, segera ku buang, sungguh pengalaman yang aneh, kami akan selalu mengingat pengalaman itu” pak sutono mengakhiri ceritanya.

“Aneh juga sampean pengalamannya pak” kataku.
“Ya pengalaman orang itu aneh-aneh pak kyai” jawab pak Sutono.
“Saya juga pernah ketika menjual bubur kacang hijau, karena jualannya malam, jadi banyak juga bahkan sering pas jualan ada saja misal kuntilanak, yang menyerupai manusia yang ikut beli”.
“La sampean ndak takut pak, ada kuntilanak beli bubur kacang hijau yang sampean jual?”.
“Ya gak takut lah wong ndak tahu”.
“Lhoh katanya tadi ada kuntilanak yang beli, kok gak tahu?”.
“Ya tahunya kan setelah pulang, banyak uang yang jadi daun kering”.
“Oh begitu rupanya?”.
“Ya pak kyai”.
“Ya kalau dengan memedi saya ndak begitu takut pak yai, kalau lebih takut itu sama orang jahat, mereka kan bisa membunuh orang benaran”.

“Memangnya pernah punya pengalaman itu pak?”.
“Pernah juga pak kyai”.
“Bagaimana itu pengalamannya?”.
“Begini ceritanya, saya pernah bekerja di pengantaran barang, jadi sopir truk, Jakarta-Surabaya, untuk mengantarkan barang antaran, saat itu tahun 86, di mana Alas Roban masih banyak bajing loncat, dan pas kebetulan mobil truk yang saya bawa diserang bajing loncat, saya tidak berdaya, dan digiring ke dalam hutan, barang kiriman saya dipindah ke truk mereka, dan saya mau dibunuh, akan dilemparkan ke dalam jurang, saya sudah pasrah, wong di ikat dan di seret ke dalam hutan, ada geombolan bajing loncat, yang ditugasi membunuh saya, ketika saya mau dibunuh, kok kalau Allah belum menghendaki mati ada saja cara Allah menyelamatkan saya”.

“Bagaimana itu kok bapak bisa selamat?” tanyaku penasaran.
“Ya saat itu saya mau dipenggal, dan mayat saya mau dilempar ke dalam jurang, tapi ketika pedang mau diayunkan ke kepala saya, ada salah seorang yang menahan”.
“Eh sebentar, sebentar dulu Jo! Kok saya seperti pernah melihat orang ini” kata orang itu sambil menyenterkan senter yang dibawanya ke arah saya.
“Wah benar saja ini kang Sunoto, tetanggaku Jo” kata orang yang mengarahkan cahaya senternya ke arahku, sambil mengangkat wajahku yang menunduk pasrah.
“Dah lepaskan, lepaskan” kata bajing loncat yang mengenaliku, yang wajahnya masih tertutup dengan kain penutup wajah.
“Ini saya kang, tetanggamu, Wugiri.” kata pemuda di depanku yang membuka penutup wajahnya.

Aku hanya bengong.

“Wah kok bisa begitu kamu Wu? kok jadi garong begitu?”.
“Ya tuntutan utang kang” jawab Wugiri.
“Ya memang kalau Allah mau menyelamatkan orang ya akan diselamatkan, misal kok tetanggane sampean itu kok gak jadi salah satu bajing loncatnya, mungkin nyawane sampean juga sudah pergi ke akhirat, jadi segala sesuatu itu disyukuri saja, juga ndak perlu menyalahkan Wugiri itu, bisa saja dia awalnya menanggung banyak hutang, lantas kemudian masuk menjadi group bajing loncat, sebenarnya maksud Allah adalah agar dia dijadikan Allah jalan waktu sampean dirampok, maka sampean bisa diselamatkan, Allah itu mengatur segala sesuatu dengan rantai berantai, sambung menyambung” jelasku.

“Iya kyai, saya selama ini malah menyalahkan Wugiri, kenapa kok dia jadi rampok begitu, iya benar juga kata pak kyai, kalau Wugiri tak jadi perampok, bisa saja sekarang saya sudah mati” kata Sutono, matanya menerawang jauh, mungkin membayangkan Wugiri yang telah menolongnya, tapi malah selalu dia salahkan karena telah menjadi perampok.

Pak Sutono dan anaknya beberapa hari tidur di majelis, sehingga banyak waktu dia pakai mengobrol denganku, selama ku lihat di majlisku juga tak pernah ku lihat pak Sutono menjalankan sholat, tapi aku biarkan saja, walau banyak komplain dari para jamaah dzikirku, dan timbul antipati dari mereka, rasa kasihan yang awalnya ada pelan-pelan terkikis, rasa simpati juga mulai tipis melihat anak bapak itu tak melakukan sholat, tapi ku biarkan saja, setiap orang punya keyakinan masing masing.

“Dzikir di majelis ini dilakukan kapan saja pak kyai?” tanya pak Sutono di sela pembicaraan kami berdua.
“Tiap hari ada, tapi kalau mau ikut yang banyak orang ikut saja di malam minggu legi sama minggu kliwon” jawabku dengan setengah menjelaskan.
“Kok malam minggu legi sama malam minggu kliwon? Seperti ada unsur kejawennya?” tanyanya dengan enteng.
“Itu hanya penempatan waktu, untuk mempermudah saja, sebab cabangnya yang banyak, sehingga agar tidak bertabrakan dengan jadwal dzikir di cabang yang lain, dan bila dikehendaki kumpul bersama di majlis pusat, semua cabang tak meninggalkan jadwal dzikirnya” jelasku.
“Oh tak berkaitan dengan hitungan jawa?”.
“Tidak”.
“Saya dan teman-teman saya kemarin berembug, itu teman-teman yang kemaren menghantar kami kesini, mereka ingin ngajak kita ikut majlis dzikir ini, apa diperbolehkan?”.
“Ya boleh saja, silahkan saja datang, waktu ada jadwal dzikir”.
“Apa syaratnya?”.

“Ndak pakai syarat, pakai saja pakaian putih kalau punya, kalau ndak punya juga gak usah pakaian putih, pakai pakaian biasa saja asal rapi, dan bawa air untuk di isi doa, nanti untuk keperluan masing-masing”.
“Itu apa air bisa untuk keperluan kami yang kebanyakan jualan bubur kacang hijau”.
“Ya insya Allah akan berkah dan laris jualannya, di pakai saja nanti dibuktikan sendiri, kalau saya bicara muluk-muluk nanti juga apa gunanya kalau ternyata tak ada efeknya apa-apa, kan sama saja saya menipu, jadi ikut saja dzikir, bawa air, nanti airnya dido’akan sendiri untuk agar jualan bubur kacang hijaunya laris, nah dibuktikan sendiri, nanti laris apa gak?”.
“Apa dipungut biaya?”.
“Wah ndak sama sekali, sama sekali gak pakai biaya, malah di sini yang ikut dzikir itu dijuluki bajingan”.
“Lhoh kok dijuluki bajingan pak kyai?”.

“Iya soalnya BAr ngaJI maNGAN, itu bahasa jawa, artinya habis ngaji langsung makan”.
“Oh begitu”.
“Jadi boleh ya kami ikut?”.
“Boleh” jawabku singkat.

Ya karena aku juga tahu, pembicaraan kami hanya basa basi semata, seperti orang gak ada bahan pembicaraan jadi bicara yang bisa dibicarakan, karena pak Sutono juga tak pernah datang pada pertemuan pengajian sama sekali, itu hal yang wajar, dan mengajak seseorang pada kebaikan juga tak semudah itu, hidayah itu hanya Allah kehendaki pada orang yang Allah kehendaki mendapatkannya, kadang jauh juga dapat kadang dekat juga tak dapat. Yang kadang aneh malah jamaah dzikirku kadang yang datang dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, Bandung, Purwokerto, Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, tapi malah tetangga kanan kiri jarang ada yang mau ikut, nah itu yang kadang aku sendiri merasa aneh.

“Maaf pak kyai, saya boleh bertanya?”.
“Boleh, bukannya dari tadi kita tanya jawab?”.
“Ini soal istri saya”.
“Kenapa dengan istrinya?”.
“Istri saya itu suka kerasukan juga dari dulu”.
“Maksudnya pak?”.
“Ya istri saya itu suka sekali kerasukan, kalau anak saya ini yang kerasukan, orang 5 masih kuat memeganginya, tapi kalau istri saya yang kerasukan, orang 8 juga masih di lempar”.
“Kok kuat begitu?”.
“Iya kalau kerasukan itu suka menggereng-gereng seperti macan”.
“Begitu ya, coba dibawa kesini”.
“Sudah saya ajak kesini kyai, tapi gak mau.”

“Apa istrinya punya ilmu, maksudku pernah mempelajari ilmu yang aneh?”.
“Iya kyai, ayah istri saya kan dukun, yang biasa juga mengobati orang”.
“Oh la kok kenapa ndak mengobati anaknya sampean yang mau dikorbankan orang yang mengambil pesugihan”.
“Sudah berusaha tapi langsung kalah, dan sakit, jadi tak berani lagi”.
“Apa yang dipelajari istri sampean?” tanyaku.
“Itu kyai, ini menurut kyai benar apa salah?”.
“Bagaimana itu?”.

“Saya biasanya kalau sama istri, misalkan saja kami mau pulang ke Cirebon, sedang kami sama sekali ndak punya ongkos, kami tetap saja naik bus, dan nanti di bus mantra istri saya di baca, dan anehnya kami kemana saja tak akan di tarik ongkos”.
“Wah itu ya salah, gak benar seperti itu”.
“Tapi kami kepepet saja, tak kami pakai tiap hari kok kyai”.
“Ya kalau tiap harinya gak punya ongkos dan tiap hari kepepet ya kan di pakai tiap hari, malah tiap jam”.
“Iya juga ya, hehehe”.

“Itu kan kasihan sopir busnya gak dapat uang, la misal semua penumpang itu punya kebisaan seperti istri sampean, la semua bus di Indonesia akhirnya gulung tikar, gak ada yang operasi, sebab gak ada yang dapat uang, padahal sopir bus itu juga kondekturnya kan juga punya anak bini yang harus di hidupi, ini misal saja sampean, jualan bubur kacang hijau, la semua yang beli memakai ilmu kayak ilmu yang di pakai istri sampean, apa sampean gak bubar sehari dua hari jualan, soale bubur habis, tapi ndak ada sama sekali uang yang masuk, semua makan gratis”.
“Jadi ndak boleh ya pakai ilmu seperti itu?”.
“Ya boleh gak sampean bubur kacang hijuanya di makan banyak orang tapi gratis semua?”.
“Ya gak boleh, nanti bagaimana makan anak istri saya”.

“Nah tahu begitu, jadi sebenarnya kebaikan itu sangat mudah mempelajarinya, orang punya budi pekerti mulia dan baik itu mudah, lihat saja, kalau orang lain itu melakukan sesuatu perbuatan pada kita, kita gak mau, maka jangan lakukan perbuatan itu pada orang lain, ilmu itu bermanfaat kalau bisa bermanfaat untuk orang lain, apapun ilmu kok bermanfaat untuk banyak orang, maka itu dikatakan ilmu manfaat, kalau merugikan orang lain, sekalipun ilmu, ya tidak dikatakan bermanfaat, namanya merugikan, dan merugikan orang lain itu tetap dicatat oleh Allah, akan dimintai pertanggung jawaban, sekecil apapun, la kok mempelajari sesuatu kok yang nantinya akan menyusahkan diri sendiri, kalau mempelajari sesuatu itu kalau menurutku yang menguntungkan di dunia juga di akherat, sekalipun menguntungkan di dunia, tapi kok merugikan di akhirat, ya tetap saja itu namanya merugikan diri sendiri, misal pintar korupsi, sampai gak ketangkep, atau jagoan nyopet, tapi gak pernah ketangkep, atau jago menghamili anak orang dan gak pernah ketangkep, ya tetap saja nanti ada hukumnya Allah yang akan menghisap, memperhitungkan, malah di sana lebih hebat hukumannya” jelasku panjang lebar, gak tahu paham apa enggak.

Lanjutku, karena melihat pak Sutono terdiam.

“Sbenarnya apa saja keilmuan yang bersandarnya pada selain Allah itu merugikan, misal ilmu yang memakai khodam jin”.
“Maksudnya memakai khodam jin pak? Soale saya pernah mengikuti gemblengan, kata gurunya itu khodamnya malaikat”.
“Ya memakai tidak khodam jin bisa dilihat dari bentuk menjalaninya”.
“Ada berbagai ilmu, ilmu itu ada yang dipelajari ada juga yang diberikan langsung oleh Allah, ilmu yang dipelajari itu berasal dari hasil laku manusia atau warisan dari bangsa jin, segala ilmu yang dipelajari untuk memperoleh kelebihan atau kesaktian tertentu itu semua berkhodam jin, entah ilmu hikmah, ilmu kejawen, ilmu karuhun, aji-aji kesaktian”.
“Lhoh masa begitu to pak kyai? Apa ndak khodamnya malaikat juga ada? Misal saya itu berdzikir dari asma Allah apa saya juga dapatnya khodam jin, bukan malaikat?”.

“Nah itulah yang perlu dipahami dan dimengerti, bisa jadi malah syaitan yang masuk menjadi khodam kita tanpa kita sendiri tahu dan memahaminya, malah mengira syaitan itu adalah pertolongan Allah. Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”.

Setan jin menguasai manusia dengan cara mengendarai nafsu syahwatnya. Sedangkan urat darah dijadikan jalan untuk masuk dalam hati, hal itu bertujuan supaya dari hati itu setan dapat mengendalikan hidup manusia. Supaya manusia terhindar dari tipu daya setan, maka manusia harus mampu menjaga dan mengendalikan nafsu syahwatnya, padahal manusia di larang membunuh nafsu syahwat itu, karena dengan nafsu syahwat manusia tumbuh dan hidup sehat, mengembangkan keturunan, bahkan menolong untuk menjalankan ibadah.

Dengan melaksanakan ibadah puasa secara teratur dan istiqomah, di samping dapat menyempitkan jalan masuk setan dalam tubuh manusia, juga manusia dapat menguasai nafsu syahwatnya sendiri, sehingga manusia dapat terjaga dari tipudaya setan. Itulah hakekat mujahadah. Jadi mujahadah adalah perwujudan pelaksanaan pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya secara keseluruhan, baik dengan puasa, shalat maupun dzikir. Mujahadah itu merupakan sarana yang sangat efektif bagi manusia untuk mengendalikan nafsu syahwat dan sekaligus untuk menolak setan. Allah S.W.T berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka berdzikir kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat”. (QS.al-A’raaf.7/201)

Yang dimaksud dengan lafad “Tadzakkaruu” ialah, melaksanakan dzikir dan wirid-wirid yang sudah diistiqamahkan, sedangkan yang dimaksud “Mubshiruun”, adalah melihat. Maka itu berarti, ketika hijab-hijab hati manusia sudah dihapuskan sebagai buah dzikir yang dijalani, maka sorot matahati manusia menjadi tajam dan tembus pandang.

Jadi, berdzikir kepada Allah S.W.T yang dilaksanakan dengan dasar Takwa kepada-Nya, di samping dapat menolak setan, juga bisa menjadikan hati seorang hamba cemerlang, karena hati itu telah dipenuhi Nur ma’rifatullah. Selanjutnya, ketika manusia telah berhasil menolak setan Jin, maka khodamnya yang asalnya Jin akan kembali berganti menjadi golongan malaikat.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (30) Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”. (QS. Fushilat; 41/30-31)

Firman Allah S.W.T: “Kami adalah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat”, itu menunjukkan bahwa malaikat-malaikat yang diturunkan Allah S.W.T kepada orang yang istiqamah tersebut adalah untuk dijadikan khodam-khodam baginya. Jadi, bagi pengembara-pengembara di jalan Allah, kalau pengembaraan yang dilakukan benar dan pas jalannya, maka mereka akan mendapatkan khodam-khodam malaikat. Seandainya orang yang mempunyai khodam Malaikat itu disebut wali, maka mereka adalah waliyullah. Adapun pengembara yang pas dengan jalan yang kedua, yaitu jalan hawa nafsunya, maka mereka akan mendapatkan khodam Jin. Apabila khodam jin itu ternyata setan maka pengembara itu dinamakan walinya setan. Jadi Wali itu ada dua (1) Auliyaaur-Rohmaan (Wali-walinya Allah), dan (2) Auliyaausy-Syayaathiin (Walinya setan). Allah S.W.T menegaskan dengan firman-Nya:

“Dan orang-orang yang tidak percaya, Wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS.al-Baqoroh; 2/257)
“Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan sebagai Wali-wali bagi orang yang tidak percaya.“ (QS. Al-A’raaf; 7/27)

Seorang pengembara di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun wirid, mujahadah maupun riyadlah lelaku, kadang-kadang dengan melaksanakan wirid-wirid khusus di tempat yang khusus pula, perbuatan itu mereka lakukan sekaligus dengan tujuan untuk berburu khodam-khodam yang diingini. Khodam-khodam tersebut dicari dari rahasia ayat-ayat yang dibaca. Semisal mereka membaca ayat kursi sebanyak seratus ribu dalam sehari semalam, dengan ritual tersebut mereka berharap mendapatkan khodamnya ayat kursi.

Sebagai pemburu khodam, mereka juga kadang-kadang mendatangi tempat-tempat yang terpencil, di kuburan-kuburan yang dikeramatkan, di dalam gua di tengah hutan belantara. Mereka mengira khodam itu bisa diburu di tempat-tempat seperti itu. Kalau dengan itu ternyata mereka mendapatkan khodam yang diingini, maka boleh jadi mereka justru terkena tipudaya setan Jin. Artinya, bukan Jin dan bukan Malaikat yang telah menjadi khodam mereka, akan tetapi sebaliknya, tanpa disadari sesungguhnya mereka sendiri yang menjadi khodam Jin yang sudah didapatkan itu. Akibat dari itu, bukan manusia yang dilayani Jin, tapi merekalah yang akan menjadi pelayan Jin dengan selalu setia memberikan sesaji kepadanya.

Sesaji-sesaji itu diberikan sesuai yang dikehendaki oleh khodam Jin tersebut. Memberi makan kepadanya, dengan kembang telon atau membakar kemenyan serta apa saja sesuai yang diminta oleh khodam-khodam tersebut, bahkan dengan melarungkan sesajen di tengah laut dan memberikan tumbal. Mengapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila itu tidak dilaksanakan, maka khodam Jin itu akan pergi dan tidak mau membantunya lagi. Apabila perbuatan seperti itu dilakukan, berarti saat itu manusia telah berbuat syirik kepada Allah S.W.T. Kita berlindung kepada Allah S.W.T dari godaan setan yang terkutuk.

Memang yang dimaksud khodam adalah “rahasia bacaan” dari wirid-wirid yang didawamkan manusia. Namun, apabila dengan wirid-wirid itu kemudian manusia mendapatkan khodam, maka khodam tersebut hanya didatangkan sebagai anugerah Allah S.W.T dengan proses yang diatur oleh-Nya. Khodam itu didatangkan dengan izin-Nya, sebagai buah ibadah yang ikhlas semata-mata karena pengabdian kepada-Nya, bukan dihasilkan karena sengaja diusahakan untuk mendapatkan khodam.

Apabila khodam-khodam itu di buru, kemudian orang mendapatkan, yang pasti khodam itu bukan datang dari sumber yang diridlai Allah S.W.T, walaupun datang dengan izin-Nya pula. Sebab, tanda-tanda sesuatu yang datangnya dari ridho Allah, di samping datang dari arah yang tidak disangka-sangka, bentuk dan kondisi pemberian itu juga tidak seperti yang diperkiraan oleh manusia. Demikianlah yang dinyatakan Allah S.W.T:

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah. Allah akan menjadikan jalan keluar baginya (untuk menyelesaikan urusannya) (2) Dan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak terduga”. (QS. ath-Tholaq; 65/2-3)

Khodam-khodam tersebut didatangkan Allah S.W.T sesuai yang dikehendaki-Nya, dalam bentuk dan keadaan yang dikehendaki-Nya pula, bukan mengikuti kehendak hamba-Nya. Bahkan juga tidak dengan sebab apa-apa, tidak sebab ibadah dan mujahadah yang dijalani seorang hamba, tetapi semata sebab kehendakNya. Hanya saja, ketika Allah sudah menyatakan janji maka Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Di luar itu, orang-orang yang dengan sengaja menjalani laku untuk memperoleh keilmuan itu sudah dipastikan akan mendapat khodam jin, orang yang menjalankan laku dengan keikhlasan menjalani saja masih akan didatangi jin, untuk sekedar ingin menjadi khodam, apalagi yang menjalankan lelaku yang ada kehendak maksud tujuan pada selain Allah, yaitu kesaktian, kelebihan dalam hal tertentu, pasti jin sudah akan mendatangi, cuma orang yang menjalankan lelaku secara ikhlas, ketika dirinya didatangi jin untuk menolong membantunya, lantas dia tidak perduli, maka dirinya akan naik ke tingkatan level yang lebih tinggi, lantas para malaikat akan didatangkan Allah untuk menjadi khodamnya, dengan menjalankan apa yang menjadi kehendak dan keperluan orang itu, ketika orang itu tidak perduli, maka dia akan naik ke level yang lebih tinggi lagi sampai dirinya itu diijabah langsung oleh Allah tanpa harus dengan perantara atau sebab yang menjadikan hal itu terjadi.

“Jadi walau misal saya menjalankan wirid atau menjalankan laku dzikir itu tetap saja khodamnya adalah dari jin?”.
“Ya itulah proses yang sudah ku sebutkan”.
“Lalu bagaimana mengetahui khodam itu jin atau bukan?”.
“Kalau jin itu jelas, mudah diketahui, sebab jin itu juga punya nafsu, kehendak dan kepentingan, sekalipun dia itu adalah jin muslim”.
“Bagaimana cara mengetahuinya?”.
“Ya kan kalau amalan itu memakai ada kemenyan, kembang, sesajen, penyediaan minyak wangi atau ugo rampe persyaratan, jelas itu tak bisa dipungkiri itu adalah unsur khodam jin” jelasku.
“Lalu apa menulis rajah-rajah, itu juga sama?”.
“Ya sama itu juga jin, cuma bukan jin penghuni bumi ini, tapi dari jin penghuni tujuh bintang”.
“Jadi bukan malaikat?”.
“Bukan, malaikat itu hanya tunduk kepada Allah, tidak tunduk kepada manusia manapun, jadi khodam malaikat misal punya itu dari yang Allah anugerahkan, bukan dari belajar ilmu tertentu, dan yang jelas malaikat itu tak doyan makan, juga tak doyan sesembahan, atau sesajen apapun, la kalau malaikat itu doyan makan, akan terjadi cerita aneh, karena ada malaikat maut yang nongkrong di warung bakso, ketika mau mencabut nyawa seseorang yang rumahnya dekat warung bakso, karena mencium bau bakso jadi ngiler, dan ingin mencicipi, ndak pernah kan mendengar cerita seperti itu?”.

“Wah kyai bisa saja”.
“Lalu bagaimana dengan orang yang mengamalkan hizib? Dan dzikir yang macem-macem, apa juga khodamnya khodam jin?”
“Ya itu tadi, awalnya seseorang itu akan tetap didatangi khodam jin, sekalipun orang tarekat juga sama, yang menjalankan amaliyah thoreqoh, juga akan didatangi khodam jin, ya pertama untuk menjadi khodam kita, nah kita di saat itu kepincut tidak?”.
“Wah kalau begitu ya harus hati-hati, dan sulit juga membedakan mana yang khodam malaikat atau khodam jin”.

“Makanya sebaiknya menjalankan lelaku mendekatkan diri kepada Allah itu butuh guru pembimbing, sebagaimana orang mau ke Jakarta naik bus butuh sopir bus yang sudah tahu jalannya, sehingga orang tak salah jalan, dan kesasar kemana-mana, seorang sopir itu tak harus orang hebat, asal dia sudah hafal jalannya karena sudah biasa melewatinya, sekalipun seorang penumpang lebih pintar menyetir malah sebagai pilot pesawat, kalau dia tak tahu jalan yang di tuju, ya harus tetap jadi penumpang, ndak usah ngeyel jadi sopir, karena merasa pintar nyetir, jika naik bus juga harus mau dibawa belok kanan atau ke kiri oleh sopir, jangan komplain, karena bus dibelokkan ke kanan, atau bus dibelokkan ke kiri. Seorang guru pembimbing spiritual itu tak perlu orang hebat atau sakti mandraguna, asal orang itu sudah hafal jalan dan biasa melewatinya, maka sudah pantas dijadikan sopir”.

Ku lihat pak Sutono sudah ngantuk, aku suruh saja dia tidur.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 73.

Whatsapp: 0852 1406 0632