Kisah Sang Kyai Guru Bagian 73 - 264 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 72. Karena anaknya sudah sembuh pak Sutono pamit dan berjanji, akan bersama serombongan temannya penjual bubur kacang hijau minta ijin untuk ikut pengajian rutin, ku iyakan saja, padahal aku juga yakin itu hanya basa-basi, dan sampai cerita ini ku tulis juga tak nongol ikut pengajian sama sekali, aku tak memperdulikan, bagiku ajakanku sudah dicatat di sisi Allah menjadi amal ibadah, dan tak akan hilang atau terganggu dengan kedatangan atau tak datang, atau dusta atau tidaknya orang yang ku ajak.

Ketika kejadian soal anaknya pak Sutono itu ada banyak juga pasien di rumahku yang kebanyakan adalah soal serangan gaib dan soal jin, ada yang bertanya, kenapa kok orang tasawuf, atau orang thoreqoh itu selalu bersinggungan dengan klenik dan soal gaib dan jin? Sebenarnya secara pribadi, saya sama sekali tidak tau soal jin, dan aneka klenik, jadi memberi pertolongan semata mata bersandar pada Allah, jadi jangan dikira lantas saya sendiri tau soal jin, apalagi soal isi senjata, kalau di deteksi dengan ilmu trawang atau ilmu teropong, ya jelas akan gak ada apa-apanya, karena memang orang thoreqoh itu hanya belajar bagaimana membersihkan ruhani, sehingga ruhani itu pantas diisi oleh Allah sifat ikhlas, ridho, sabar, qonaah, menerima taqdir Allah, jadi kok kemudian ada kelebihan apapun dalam diri maka itu sama sekali saya sendiri tak tahu, tahunya setelah dipraktekkan, ooo ternyata saya diberi atau dianugerahi Allah kelebihan seperti ini, orang yang sudah menjalankan amaliyah dariku juga akan tau kalau yang dijalankan oleh orang thoreqoh itu sama sekali ndak ada unsur mempelajari ilmu gaib, dan mempelajari ilmu hikmah, semua hanya membersihkan diri dari budi pekerti tercela dan mengganti dengan budi pekerti terpuji, jadi kok kemudian ada orang yang minta pertolongan ini itu, sebenarnya secara hakikatnya juga tak tau, apa ini nanti bisa menolong apa enggak, ya pasrah saja pada pertolongan Allah. Datang seorang ibu-ibu, setengah baya, aku seperti pernah melihatnya tapi di mana lupa.

“Apa ada yang bisa saya bantu bu?” tanyaku, setelah duduk di depan ibu yang kurus kering tubuhnya.
“Saya ini sakit kyai” jawabnya lirih.
“Sakit apa?”.
“Sakit di santet orang”.
“Di santet?”tanyaku heran.
“Iya” jawabnya masih dengan nada lirih.
“Iya saya di santet sudah sejak 5 tahun silam, dan sudah saya obatkan kemana-mana, tapi tak sembuh juga”.
“Boleh di ceritakan bagaimana awal mulanya?”.

“Saya bekerja membuat rengginang (kalau Jawa Timur namanya krecek, makanan dari ketan yang di tanak, dikeringkan dan di beri rasa trasi, atau rasa gula merah), saya usaha meningkat pesat sampai saya titipkan ke Matahari, atau mall, juga Indomaret, banyak pesanan dari mana-mana, sampai saya punya banyak karyawan, dan bisa untuk menyekolahkan anak saya sampai tingkatan kuliah, namun 5 tahun yang lalu, awalnya di rumah kayak ada pasir yang ditaburkan, atau terdengar ledakan berkali-kali tiap malam, dan anehnya kemudian beras ketan yang saya masak jadi berwarna seperti warna batu bata yang dihancurkan, sehingga tak bisa saya jadikan rengginan, lama-lama usaha saya bangkrut, dan saya juga sakit, sakit saya ini seperti ada yang berjalan di dalam tubuh, ya seperti kelabang gitu, sehingga rasanya sakit sekali, tapi anehnya ketika saya ke rumah sakit kok gak ada apa-apa, tak ada penyakit di tubuh saya, sementara sakit saya makin parah saja, akhirnya saya bawa ke pengobatan orang pintar dan dari tubuh saya dikeluarkan ada paku, benang, rambut” kisahnya memelas.

“Lalu bagaimana setelah dikeluarkan, apa sembuh?” tanyaku.
“Ya sembuh, tapi cuma sekali, besoknya malah kambuh lagi malah semakin sakit dari sebelumnya, perut seperti ditusuk-tusuk, bahkan nafas rasanya sampai tak bisa, saya hanya tidur tak berdaya, anehnya kalau saya pakai shalat ada saja gangguannya”.
“Gangguannya bagaimana itu bu?”.
“Pernah saya sedang berdiri shalat, tiba-tiba di tempat saya sujud ada pocong yang sedang tiduran, ya saya kan jadi gak bisa sujud, saya mundur, pocong itu mengikuti merubah duduknya, saya akhirnya kabur, dan tak jadi shalat, saya sudah lelah berobat, sampai tetangga saya mengajak dzikir di majelis kyai ini”.
“Oh ibu pernah ikut dzikir di majelis to? Pantesan kayaknya saya pernah lihat, cuma saya lupa di mana, lalu bagaimana?”.

“Nah waktu dzikir ke sini kemarin kan saya membawa air yang di taruh di tengah jamaah itu, air itu saya pakai mengepel rumah, dan saya pakai mandi”.
“Lalu bagaimana kelanjutannya?”.
“Ya waktu rumah saya pel, terjadi banyak ledakan, entah di dalam tanah atau di atas genteng, suaranya seperti petasan sampai rumah saya bergetar, ya saya yakin saja, juga saya pakai mandi, dan alhamdulillah sakit saya berkurang banyak”.
“Syukur kalau begitu”.
“Juga saya sudah mulai membuat rengginang lagi, tapi dua hari yang lalu, kok sakit saya kembali lagi, bahkan beras ketan yang saya mau buat rengginang bukan hanya berwarna merah, tapi berwarna hitam seperti pasir aspal, ini bagaimana kyai, tolong saya di bantu”.

“Ya insya Allah saya akan bantu ibu ini, semoga Allah menolong kita dari orang-orang fasik, coba ibu minum air yang ku beri, biar yang dalam tubuh saya keluarkan dulu, kalau di rumah, itu harus di pagar, kalau ndak di pagar juga diobati, misal sembuh di hantam lagi juga akan kena karena tak di pagar, insya Allah nanti ku beri pagaran untuk rumahnya, semoga nanti akan selamat, dan usahanya berkah” kataku menghibur.

Setelah ibu itu meminum air yang ku doakan, dan ku suruh menempelkan jari di fotoku, sebentar kemudian pingsan, dan ku tarik satu persatu apa yang dikirim orang, setelah semua keluar dia sadar, dan ku berikan pagaran untuk rumahnya, dan setelah merasa tubuhnya enakan dia pamit pulang.

Sebenarnya lelah juga walau kelihatannya dalam praktek tidak banyak melakukan gerakan atau kerjaan berat, mengeluarkan penyakit atau jin, sangat menguras tenaga dan energi, tapi pengalaman sekian waktu sedikit banyak akhirnya tahu bagaimana agar ketika mengeluarkan jin atau kekuatan jahat dari tubuh seseorang tapi tak banyak menguras energi. Aku juga masih selalu belajar dan belajar, mengartikan anugerah Allah ini agar bermanfaat untuk menolong sesama, walau jika menolong orang yang kena jin kiriman, atau menolong orang yang kena santet, aku akan disantet atau diserang dukun yang mengirim jin, jika menolong 10 orang maka akan dikeroyok dukun 10, ya itu resiko, masak ada orang minta tolong lantas ku tolak, Allah sudah menggerakkan mereka datang kepadaku, artinya juga Allah pasti memberikan kekuatan padaku yang kenyataannya tak punya kelebihan apa-apa.

Seperti biasa, setelah mimpin dzikir rejeki, aku duduk selonjoran di teras rumah, untuk menyelonjorkan kaki biar tidak kena varises karena di pakai duduk bersila, sekalian sambil buka pesan yang masuk di pesan facebook, tengah santainya, ada dua mobil berhenti, dan seorang penumpang turun, ternyata tetangga belakang rumah yang juga muridku, namanya kang Ridwan.

“Bersama rombongan, dari mana kang?” tanyaku setelah kang Ridwan duduk di depanku, dia tertawa-tawa, ku tunggu saja selesai tertawanya.
“Kenapa tertawa?” tanyaku, karena dia makin senyam senyum penuh rahasia.
“Ini habis menyidangmu”.
“Kok menyidangku, maksudnya apa?” tanyaku heran.
“Lhoh kamu gak ngerti to kalau telah di buat ribut di masjid?” tanyanya makin membuatku bingung.
“Lhoh di buat ribut soal apa? Aku kan gak urusan sama masjid. Apa salahku?”.
“Biasa dari Askan yang memusuhimu”.
“Wah apalagi masalahnya? Coba ceritakan” aku makin penasaran.
“Begini ceritanya, kemarin Askan kan mengumpulkan para pengurus masjid, untuk di ajak menyerangmu, ya maksudnya kamu kan menyalur air dari masjid, jadi para pengurus di ajak untuk mengobrak abrik paralon yang kamu pasang”.
“Lhoh itu kan sudah 3 tahunan, selama ini tak apa-apa kok”.

“Ya pengurus masjid ada yang terpancing, ada juga yang tidak terpancing, soale Askan bilang yang kamu lakukan mengambil air di masjid itu haram, tidak boleh mengambil apa yang di masjid termasuk air, itu kata dia”.
“Kok aneh, kan saya ijin pada pengurus to kang, dan bagaimana orang yang berwudhu di masjid itu, bukannya mereka semua mengambil air di masjid, malah Masjidil Haram kan orang dari seluruh dunia datang mengambil air zam-zam, kalau itu salah kan Masjidil Haram itu sudah melarang orang mengambil air zam-zam, bagaimana itu?”.
“Kami orang bodo, makanya kami bingung atas pernyataan dari Askan itu, ya lantas kami tadi menghadap ke kyai Sofwan, meminta pertimbangannya, tadi kami semua pengurus masjid menghadap kyai Sofwan”.
“Lalu apa kata kyai Sofwan?” tanyaku.

“Ya malah kyai Sofwan, malah bilang tak apa-apa, apalagi air yang kamu pakai kan untuk keperluan jamaah, bukan untuk kepentingan diri sendiri, air masjid itu milik Allah, jadi bebas di pakai siapa saja, asal bukan listriknya, kan kamu tak memakai listrik masjid”.
“Lalu bagaimana ini kelanjutannya?”.
“Ya kamu boleh mengambil air masjid, tak apa-apa”.
“Ya Askan itu selalu berusaha mengerecoki aku, biarkan saja, satu masalah selesai, mencari masalah baru untuk dijadikan masalah, entah mau membuat saingan mendirikan majelis tandingan, ya aku malah senang saja, kan makin banyak orang yang mendakwahkan Islam, Islam makin subur, tapi seharusnya gak pakai mengerecoki diriku, bikin saja jamaah sendiri kan beres. Oh ya kalau dia ngajar ngaji di masjid itu yang pakai speaker itu yang datang berapa orang?”.
“Ya yang datang paling 4 orang, orang juga malas datang kalau datangnya selalu malah dijelek-jelekkan di depan jamaah yang lain” jawab kang Ridwan.

“Ya sudahlah kang, gak usah diperdulikan, biarkan saja apa yang dilakukan”.
“Iya, tapi ini soal air sampai diadakan sidang berkali-kali oleh pengurus masjid, ya voting gitu, apa saluran paralonmu dibongkar atau bagaimana, ya gak ada dicapai kesepakatan”.
“Ya kalau nantinya bikin ribut, biarlah nanti ku bongkar”.
“Ya gak usah, semua pengurus masjid gak apa-apa, juga sudah dijelaskan sama kyai Sofwan, kalau yang kamu lakukan boleh, gak apa-apa”.
“Ya nanti kalau misal jadi masalah, lebih baik ku bongkar saja”.
“Sudah jangan dipikirkan, kami siap membela” jelas kang Ridwan, sambil berdiri dari kursi duduk, dan minta diri.

Soal masalah orang diriku mengambil air di masjid makin ramai, walau sudah dimintakan batsul masail, dan keputusan menunggu kyai Sofwan menyiarkan di hari Senin, sampai akhirnya hari Senin tiba, para jamaah pengajian banyak yang datang, untuk mendengar pengumuman yang akan disiarkan, sekaligus dalil apa yang akan dipakai di keputusan batsul masail, dan orang semua menunggu dengan dag-dig-dug, sementara dari pertama diriku diributkan, malah aku sendiri tak tahu menahu kalau diributkan, ya karena di rumahku sendiri tiap hari banyak tamu, juga karena aku sudah disibukkan mengurusi pengajian di Pekalongan, Banten, kadang Jepara, malah mau di tambah Bogor.

Kesibukanku mengurus jamaah, memberi makan ketika jamaah sedang mengadakan dzikir bersama, sudah menyita pikiran dan tenagaku, otomatis aku harus wira wiri, dan tak ada waktu lagi mengurusi soal apa yang diributkan oleh Askan. Kyai Sofwan mengumumkan dengan jelas dan gamblang, di saat pengajian masjid, juga kitabnya juga disebut dari mana di ambil, bahkan kitab cetakan dari mana, dan kapan mencetaknya di sebut juga, menurut cerita orang yang mendatangi pengajian, karena aku sendiri tak pernah datang ke pengajian, karena urusanku beda, urusan pengajian di masjid desaku kan hanya sebatas, sedesa saja, kayak Askan saja kalau mengajar di masjid juga paling yang ikut 5 orang, sementara kalau aku memimpin dzikir di majelis Banten yang datang sampai dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Pandeglang, Serang, sampai ke Subang, sedang jamaah yang datang sampai 500-600 orang, kalau hanya urusan iri dengki seseorang lantas aku terseret kepikiran, dan mengenyampingkan jamaah yang ku urusi, kok rasanya aku ini harus belajar lagi menjadi orang yang bisa di percaya guruku.

Dan keputusan yang di umumkan, berdasarkan batsul masail, bahwa apa yang ku lakukan, sangat boleh dilakukan, dan tak ada dalil manapun yang melarang, sebab masjid adalah milik umum, siapa saja boleh mengambil manfaat untuk umum, dan tak ada yang melarang, ini bukan soal Kyai Sofwan mengenalku, bahkan kyai Sofwan bahkan sama sekali tak mengenalku, jadi dia tak memihak padaku sama sekali atas keputusan yang diambil, akhirnya permasalahan jelas, semua jamaah pun bernafas lega, yang asalnya pengurus karena terprovokasi oleh Askan, dan menyalahkanku, kemudian lantas tak mempermasalahkan.

Paginya kyai Sofwan, menyiarkan keputusan, sorenya Askan mengundurkan diri dari menjadi imam masjid, aneh juga kedengarannya, imam masjid kok ada yang mengundurkan diri, kayak jabatan presiden saja, dan itu disiarkan lewat pengeras suara, ya biarlah, yang penting aku bisa berusaha selalu istiqomah mengurusi murid, dan jamaahku, semua di urus masing-masing.

Kadang menulis itu timbul kekambuhan, dan tidak bisa di tahan rasa ingin menulis, tapi kadang jangka waktu lama tidak menulis lantas timbul kemalasan untuk menulis, apalagi menulis hanya dengan dua jari, sudah malas, eh setengah jadi juga malas lagi meneruskan, jadi heran kadang kalau melihat betapa banyaknya hasil karya Syaikh Nawawi, atau Imam Syafii, atau Imam Ghozali, heran juga kok mereka bisa menulis begitu banyaknya karya, apalagi karya mereka haruslah jauh dari kesalahan, tak seperti karya Kho Ping Ho, atau Wiro Sableng, atau Harry Potter, asal tulis juga gak akan ada yang komplain, beda dengan karya Imam Syafii atau Imam Ghozali yang penuh sarat dengan muatan ilmu, kayak tulisanku yang acak-acakan ini, juga gak akan ada yang komplain aku mau nulis apa juga.

Zaman dulu sebelum ada internet, atau internet belum begitu booming kayak zaman sekarang, jadi ingat waktu dimintai karya tulis di majalah al-Kisah, aku di minta tulisan dikirim lewat email, saat itu mau bilang terus terang email saja itu apa, aku gak tahu, aku gak berani, takut di bilang katrok, padahal itu tahun 2002 an, ya belum lama, ya aku iyakan saja, nanti karya akan ku kirim lewat email saja.

Saat itu, aku pergi ke warnet, masih ingat saat itu warnet juga masih pakai komputer kotak besar model lawas, la megang komputer saja gak pernah, sampai di warnet tengak tengok, tolah toleh kayak orang nyari jarum, padahal gak kehilangan jarum. Nyalain komputer saja gak bisa.

“Ini nyalainnya bagaimana mbak” kataku pada penjaga warnet, lalu penjaga warnet mendekat dan power komputer di pencet, setelah nyala, aku makin bingung, lah mau ngapain, apa yang di pencet, walah makin bingung saja, akhirnya klak-klik sana sini, gak karuan juntrungnya, dalam hati menggerutu, kenapa juga majalah al-Kisah kok minta hasil karyaku dikirim pakai email segala, la ini terus bagaimana kelanjutannya, email itu juga apa akhirnya hanya bingung saja, dan pulang dengan tangan hampa.

Sekarang, zaman sudah serba internet, dan sudah lazim malah sudah basi kalau main internet gak dipakai bisnis, bahkan di facebook, komunitas bermacam-macam, dan internet juga dipakai berbuat baik, juga akan menghasilkan kebaikan, dipakai berbuat jahat juga pintu gerbangnya terbuka lebar, lahannya juga subur, berdakwah lewat internet, dulu aku mulai di tahun 2007, setidaknya sampai tulisan ini ku tulis sudah 6 tahun berjalan, awalnya para teman seperguruanku sangat menyalahkanku, ya yang menyalahkan tentu saja mereka yang sudah beranggapan duluan kalau internet itu p*rno, internet itu tak benar, dan lain-lain, sehingga awalnya juga guruku melarang, sehingga aku sendiri berjalan dengan inisiatifku sendiri, dan ternyata sambutannya sangat bagus, setelah guruku tahu juga akhirnya cara dakwahku juga di dukung, apalagi setelah kemajuannya kedepan, murid-murid internetku lebih unggul dari murid biasa, malah dukungan dari guruku makin kuat, sampai beliau sendiri menekankan dengan tertulis, murid internetku adalah sudah di akui sebagai murid guruku.

Sekian lama waktu, tentu saja banyak kejadian-kejadian, apalagi orang di internet adalah bersifat umum dan bisa dari kalangan mana saja, sehingga hampir tiap hari, ada saja orang internet yang datang ke gubukku, dari mana saja, tapi aku sendiri yakin, sekalipun murid dari internet, itu tak lepas dari kehendak Allah memilihkan mereka menjadi muridku, karena aku sendiri berdoa pada Allah untuk memilihkan murid-murid pilihan yang bisa ku andalkan berjuang di jalan Allah, walau di satu kesempatan berbondong-bondong murid datang, dan nanti akan di sortir oleh alam, mereka yang tak seharusnya menjadi muridku akan perlahan mundur, dan patah di tengah jalan, dan ada yang bertahan yang ku yakin akan memetik buah manisnya ilmu, dan akan mempunyai kelebihan sebagaimana kelebihan yang di anugerahkan Allah padaku, mereka hanya perlu menjalankan amaliyah yang memang sudah ku paket dalam bentuk lelaku bertahap.

Dari berbagai macam orang yang datang dan ingin menjadi muridku, banyak juga yang awalnya hanya ingin keluar dari masalah yang dihadapi atau ingin mencari kebahagiaan hidup, atau alasan-alasan lain yang di bawa oleh masing-masing orang, juga banyak latar belakang kehidupan yang mereka lalui. Sehingga ketika bertemu denganku kemudian memunculkan berbagai cerita dan kisah, sebenarnya akan banyak jika ku tulis, dan akan memakan waktu yang lama. Akan ku tulis beberapa semoga ini bisa menjadi pembelajaran juga bisa diambil hikmah di balik kejadian yang terjadi. Maaf jika nama-nama mereka mungkin bukan yang sebenarnya, untuk menjaga rahasia masing-masing orang mungkin saja tak mau di publikasi.

Hari masih pagi, sebenarnya kalau pagi, waktuku tidur, kalau orang sekitar rumahku biasanya tak akan bertamu ke rumahku, karena tahu waktu pagi aku pasti tidur, karena semalam suntuk gak tidur, dan waktuku tidur adalah pagi, tapi pagi sudah ada tamu, istriku membisikiku, kalau ada tamu dari Semarang, mau ditemui atau nanti setelah shalat dzuhur, sebenarnya mata juga baru terpejam, jelas perih, ah mending ku temui dulu, mungkin setelah ku temui sebentar, baru aku bisa tidur dengan nyenyak.

“Dari mana?” tanyaku
“Semarang mas, saya Ibeng mas yang ada di facebook” jawab pemuda berpakaian rapi, ala pegawai negeri.
“Ada perlu apa?”.
“Ya pertama silaturahmi, kedua saya ingin minta dibersihkan dari gangguan jin yang ada di tubuh saya”.
“Sudah mengamalkan dzikir pondasi dariku?” tanyaku.

Karena selama ini sepengalamanku, kalau orangnya belum menjalankan dzikir pondasi, pengeluaran jin, biasanya akan lebih menguras tenagaku, karena jin di dalam tubuh orang yang belum mengamalkan pondasi dariku biasanya di dalam masih kerasan karena di dalam tak panas sama sekali, jadi kalau mau dikeluarkan harus menggunakan melulu tenagaku, dan kalau jinnya sampai 40 atau 50, aku cukup lelah.

loading...

“Alhamdulillah sudah mas, tapi anehnya tiap mengamalkan amalan dzikir pondasi kayak ada yang berjalan di dalam tubuhku, kayak ular gitu, juga di punggungku kayak di gelayuti sesuatu, jadi tubuh serasa berat”.
“Oh begitu”.

Ku ambil air lalu ku tiup doa minta jin dikeluarkan dari tubuh orang itu, dan ku suruh menempelkan jari di fotoku, selang beberapa saat tubuhnya mulai mengejang dan menggereng-gereng seperti suara macan, ku biarkan saja, lalu ku dekati ku tempel tanganku di punggungnya, dia mulai mengeluh panas, panas dengan suara yang bukan lagi suara lelaki itu tapi sudah berubah suara berat, tanda jin dalam tubuhnya sudah menguasi sebagian kesadarannya. Berulangkali ku tanya, jinnya menjawab dia tak tahu kenapa dia sampai ada di dalam, karena tak ku dapat jawaban jelas, lantas saja ku tarik keluar, dari pada kelamaan karena mataku juga lagi ngantuk-ngantuknya, setelah 3 jin ku keluarkan ku rasa sudah tak ada lagi,

“Dulu pernah mengikuti pengisian?” tanyaku pada Ibeng.
“Iya mas kyai, tapi sudah lama sekali”.
“Pengisian pakai apa?”.
“Saya disuruh menelan pelor oleh orang yang mengisiku, ya waktu itu lagi musim ada ninja-ninja itu, jadi untuk jaga-jaga, saya di ajak teman untuk mengikuti pengisian”.
“Oh begitu rupanya?”.
“Iya mas, apa sekarang sudah bersih?”.
“Sepertinya sudah”.
“Rasanya bagaimana?”.

“Ya rasanya sudah entengan mas kyai, juga rasa berat di punggung juga sudah tak ada”.
“Ya sudah, silahkan dipakai istirahat dulu, saya tinggal tidur, soalnya saya belum tidur”.
“Saya mau sekalian mohon diri saja mas kyai, maaf sudah mengganggu”.
“Lhoh gak istirahat dulu?” tanyaku.
“Tidak mas, soalnya saya juga ada perlu lain”.
“Oh ya sudah kalau begitu, kalau kesini waktu habis dzuhur saja, soalnya kalau pagi saya biasanya masih tidur” kataku sambil mengantarnya sampai pintu.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 74.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET