Kisah Sang Kyai Guru Bagian 74 - 266 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 73. Sebaiknya memang orang apalagi yang dari internet, kalau ke rumahku harusnya konfirmasi dulu, karena banyak juga yang terlanjur datang, sedang saya sendiri tak ada di rumah, kan sayang sudah jauh-jauh datang, pernah juga orang sudah jauh-jauh datang dari Jakarta, naik pesawat, mungkin orang sibuk, sebab ada juga seorang ayah, karena anaknya berteman denganku di internet lantas meminta ayahnya yang datang ke rumah, pernah sudah jauh naik pesawat, sampai di Semarang baru konfirmasi, padahal aku sendiri sedang lelaku gak nemui orang dan puasa bisu, ya kan akhirnya balik lagi ke Jakarta, kasihan juga, tapi mau bagaimana lagi, saya juga masih tahap belajar, harus menjalankan banyak lelaku amaliyah mendekatkan diri pada Allah. Setelah shalat dzuhur ada tamu perempuan di antar oleh dua lelaki, karena habis dzuhur aku sudah menebak, pasti orang Pekalongan saja, bukan orang jauh, memang orang Pekalongan sendiri.

“Ada keperluan apa?” tanyaku.
“Ini mas, saya mau mengantar adik saya yang selama ini merasakan keanehan” jawab lelaki yang agak hitam.
“Keanehan apa?”.
“Ini setiap dia tidur, di bawah tubuhnya, di ranjangnya, banyak ditemukan singgat dan belatung”.
“Kok aneh, sejak kapan itu?”.
“Sudah ada 3 mingguan ini”.
“Apa tak ada yang dirasakan sakit?”.
“Tidak mas, hanya saya merasakan mudah marah, emosi tak terkontrol, dan suka malas kalau ibadah” jawab perempuan.
“Ini begini mas ceritanya” jelas salah satu lelaki yang tubuhnya agak hitam.

“Adik saya ini kan punya pacar, sudah sekitar dua tahun pacaran, nah pacarnya itu memutuskan untuk memutuskan hubungan, dan tak mau menikah dengan adikku ini, maka adikku akan di nikah oleh mas ini” jelasnya sambil menunjukkan lelaki yang satunya.
“Nah kok pacarnya yang sudah memutuskan hubungan itu tak terima dengan rencana adikku mau menikah itu, lantas dia mengancam tak akan membiarkan adikku ini menikah, dan akan mengganggunya, lantas kok kejadian kemudian di tempat tidur adikku ini tiap malam banyak sekali belatungnya, sudah dibersihkan juga ada ada terus, jadi saya khawatir ada apa-apa dengan adikku ini, jadi saya minta bantuan sama mas”.

“Oh jadi pacarnya mengancam?” tanyaku.
“Iya, padahal dia itu orang thoreqoh mas”.
“Hm, tharekat juga banyak yang gak bener kok, tharekat atau tidak kalau jahat dan berbuat dengan menggunakan santet juga tetap sama namanya juga sesat, karena bersekutu dengan jin dan setan” jelasku.
“Iya mas, tolong di bantu bagaimana adik saya ini”.
“Ya insya Allah” jawabku sambil mengambil air, ku tiup dan ku suruh minum, dan baru juga minum, perempuan itu langsung pingsan.
“Siapa ini?” tanyaku.

Jin dalam tubuh gadis itu diam saja, hanya bersuara lirih.

“Kamu kiriman kok ada di dalam tubuh perempuan ini?” tanyaku lagi.
“Ya, aku kiriman”.
“Di kirim siapa?”.
“Di kirim pacar gadis ini”.
“Di kirim makai dukun atau di kirim sendiri?”.
“Di kirim sendiri”.
“Kamu keluar ya”.
“Tak mau” jawab jin dalam tubuh si gadis.
“Hm, kamu berani denganku, kok ku suruh keluar gak mau?”.
“Tak berani, saya panas, saya takut”.

“Kok gak mau keluar?”.
“Saya takut dengan yang mengirim saya”.
“Lebih takutan denganku atau dengannya?”.
“Lebih takut denganmu”.
“Coba pandang aku”.
“Tak berani”.
“Kenapa?”.
“Panas, silau”.
“Keluar ya”.
“Aku tak bisa keluar”.
“Ku keluarkan ya”.
“Ya”.
“Kamu di mana tinggalnya?”.
“Saya di kaki”.

Lalu ku tarik jinnya dari kakinya. Sebentar kemudian sudah ganti jin lain, menggereng-gereng, seperti ganas, dan mau menunjukkan keganasannya.

“Kamu siapa?”.
“Aku tak mau jawab” jawab jin dalam tubuh si gadis.

Ku tempel tanganku di tubuh si gadis, dan jin dalam tubuhnya menjerit kepanasan.

“Kamu ingin melawanku?”.
“Ampun, tak berani”.
“Lalu kamu kiriman siapa?”.
“Saya kiriman ayahnya pacar gadis ini”.
“Kok bisa dia?”.
“Iya dia dukun, sering dimintai orang untuk mencelakai orang lain”/
“Apa yang membawa belatung itu kalian?”.
“Iya”.
“Ada berapa teman kamu di dalam?”
“Tinggal saya, tadi ada dua, yang satu sudah kamu keluarkan”.
“Kamu mau ku keluarkan atau keluar sendiri?”.
“Saya tidak bisa keluar”.
“Tempatmu di mana?”.
“Saya di punggung”.

Segera ku tarik jin dari punggung si gadis, aku berpesan sebaiknya mereka berhati-hati, karena bisa saja lelaki pacar si gadis akan mengirim lagi, eh malah besoknya aku sendiri yang dikirim banyak belatung, pagi-pagi depan kamarku banyak sekali belatung, di lemari dan pakaian, jaket, juga di mana-mana banyak sekali belatung sebesar kelingking pada merayap, ya begitulah resikonya kalau menolong orang kena santet, pasti akan diserang oleh dukun santetnya, kalau menolong 10 orang juga akan dikeroyok dukun santet 10, jadi jangan dikira orang yang berurusan dengan hal seperti ini, hanya enak-enakan, hal seperti ini kalau lengah sedikit akan celaka, dan bisa saja saya celaka, kalau tidak dalam lindungan Allah, apalagi sebenarnya saya ini tak punya apa-apa yang bisa diandalkan, hanya berserah saja pada Allah.

Merenungi perjalanan yang terjadi, sebelum terjadi kadang sama sekali tak terbersit setitik pun, perjalanan akan terjadi seperti ini, kadang yang akan terjadi kemudian sama sekali tak kita duga sebelumnya, yang kita duga banyak melesetnya, yang kita rancang bisa juga akan terjadi, tapi tak sedikit yang meleset dari perkiraan, apa juga yang terjadi sebenarnya bukanlah masalah jika kita masih tetap teguh berjalan di kaidah keimanan dan ketaqwaan, sama sekali tak lepas dengan tali aqidah, dan selalu bersikukuh menjalankan amaliyah.

Banyak kejadian sehari-hari terjadi, kejadian-kejadian yang aku rasa sangat bermanfaat sekali ku jadikan pelajaran, untuk diriku sendiri, momen-momen berharga kadang amat sayang dilewatkan untuk menyimpannya dalam suatu data atau file, bisa berupa video atau foto, karena kejadian yang sama juga belum tentu juga terulang terjadinya. Mungkin bagi orang lain tak sebegitu berharga, tapi bagiku sangat berharga, makanya selalu ingin ku simpan dalam bentuk video, foto dan tulisan, kadang video dan foto masih belum bisa menjelaskan secara panjang lebar, momen yang terjadi, sehingga membutuhkan uraian kata, rasa menulis sebenarnya tak terbendung, tangan dan jari terasa tergelitik geli, ingin sekali menulis yang banyak, sebanyak-banyaknya, tapi kadang baru mau nulis sudah ada tamu, dan kalau sudah ada jadi tak henti, silih berganti, ya sudah nulis terpaksa ditunda.

Ketika ada kesempatan saja jadinya tulisan dapat ku tulis, dan karena waktu mepet, jadi tulisan juga mana saja yang dapat ku ingat paling cepat, tak ada runtut-runtutan cerita, tulisan ini kadang ku tulis waktu senggang, misal waktu tamu lagi makan, kan senggang itu, nah tulisan lalu ku tulis, tamu selesai makan, tulisan ku lanjutkan lagi. Mbak Sun SMS istriku, isinya, minta ijin adiknya katanya ada jinnya ketika di suruh melihat fotoku lantas menangis, dan ada jin di tubuhnya, yang sudah semalaman dikeluarkan tapi kok masih banyak saja jin dalam tubuhnya jadi minta ijin untuk di bawa ke majelis, adiknya bernama Yaya, perempuan, padahal baru juga sebulan dua bulan ini pulang dari kerja di Indomaret di Semarang, kok sudah tak kerasan, dan akhirnya pulang, aku juga masih ingat, perasaan sebelum di terima di Indomaret di Semarang minta air doa kepadaku, dan esoknya sudah dapat panggilan kerja.

Paginya Yaya di bawa ke rumahku dalam keadaan di gotong, karena tidak sadar tapi jerit-jerit, “pak Kyai, pak Kyai, tolong aku pak, tolong dikeluarkan” begitu jeritnya sambil nangis, segera ku suruh menidurkan dan mulai ku tangani, segera ku tempel dengan tangan, langsung saja menjerit kepanasan dan jadi orang lain, yang mengaku adalah jin kiriman, dan setiap satu ku keluarkan, maka berganti dengan jin lain, dan dari satu jin dengan jin lain itu tak kenal, karena masing masing di kirim oleh orang yang berbeda, anehnya itu adalah yang di kirim dari permasalahannnya orang yang saingan dengan Mbak Sun soal dagang, setelah seharian ku keluarkan, entah berapa puluh, jin ada di tangan dan kaki ku tarik keluar, setelah selesai, maka berganti jin yang dalam bentuk kelompok, kebanyakan mereka dari kuntilanak, dan pocong, dan semua ku tanya dikirim oleh satu orang, banyaknya sampai 1000 jin, sehingga aku sendiri kelelahan mengeluarkannya, sehingga ku suruh muridku untuk bergantian mengeluarkannya, Yaya sendiri sampai 3 hari sudah sama sekali tak sadar, dan jika jin 1 dikeluarkan maka akan berganti jin lain, anehnya, jin itu antrian minta dikeluarkan, jadi mereka di dalam sudah tak tahan ingin dikeluarkan, karena di dalam mereka merasa panas, dan merasa panasnya itu karena Yaya ini semenjak menjalankan amalan dzikir pondasi yang ku berikan, itu menurut kata jinnya.

Jika ku tulis dalam bentuk dialog, akan amat panjang penulisannya, makanya ku tulis dalam bentuk simpelnya saja, kalau ingin tahu kisahnya dengan lengkap, waktu kejadian mungkin bisa datang langsung ke rumahku membawa usb driver, atau memory card, agar bisa ku beri video lengkapnya, sebab setiap jin selalu ada saja dialognya, kok dialognya sama, maka akan cepat ku keluarkan sehingga dengan dialog baru. Sampai memori ponsel istriku yang 16 giga penuh untuk merekam video, ternyata jinnya belum setengahnya ku keluarkan.

Aneh juga jin bisa sebanyak itu di dalam tubuh, dan mereka cenderung yang terbanyak itu tinggal di hati, dan latifah yang lain, seperti latifah ruh, akhfa, kalau di punggung dan tempat lain paling yang tinggal satu dua, tapi kalau di hati sampai yang tinggal 3000 jin, jin itu ku tanya katanya di dalam sangat luas, jadi masih banyak tempat bisa di pakai tinggal.

Yang membuatku heran juga ribuan jin itu dikirim dari pengamalan ilmu pelet seperti pelet semar mendem, semar mesem, jaran goyang, dan pelet mahabbah, ya anehnya walau peletnya beda-beda atau pengamalannya adalah unsur Al Quran yang di pakai, kok ya sama jinnya tetap yang masuk itu sebangsa pocong, kunti, gendruwo, ular, kera, anjing dan lain-lain, ternyata apa juga ilmu peletnya, sebenarnya sistem kerjanya sama saja. Ini beberapa dialog yang mungkin agak penting sekedar baca saja.

“Kamu siapa?” tanyaku pada jin.
“Saya pocong” jawabnya.
“Kok pocong?”.
“Ya bentukku pocong”.
“Bentuk memang asli pocong apa bagaimana?”.
“Pura-pura jadi pocong”.
“Oh sebenarnya hanya pura-pura ya?”.
“Iya”.
“Kok pura-pura, lalu bentuk aslimu apa?”.
“Gak tahu”.
“Lalu pakai putih-putih itu di ambil dari mana?”.
“Ya dari kain kafannya orang mati”.

“Untuk apa kok mengambil bentuk serupa pocong?”.
“Ya agar orang takut, hihihi”.
“Masih banyak yang di dalam yang berupa pocong?”.
“Masih banyak”.
“Berapa?”.
“Masih terlalu banyak, aku tak bisa menghitung”.

Ku tarik keluar saja jinnya, karena sudah tidak ada dialog yang bisa diambil pelajaran. Ganti lagi jin baru,

“Kamu siapa?” tanyaku.
“Saya kuntilanak” jawabnya jin yang ku ajak bicara.
“Perempuan kalau begitu?”.
“Ya saya perempuan”.
“Kok kamu sampai masuk di dalam?”.
“Saya dikirim, saya sendiri tak tahu kenapa saya dikirim di dalam tubuh gadis ini”.
“Apa untuk menaklukkan hati gadis ini?”.
“Ya”.
“Memakai amalan?”.
“Ya, yang mengirimku dukunnya, tapi anaknya disuruh mengamalkan amalan”.
“Amalan apa?”.
“Tak tahu” jawab kuntilanak.
“Apa jaran goyang?”.
“Ya seperti itu”.
“Terus kamu asalnya tinggal di mana?”.
“Saya tinggal di bambu di pinggir sungai, dekat jembatan”.
“Daerah mana?”.
“Warung asem”.
“Bagaimana prosesnya kok kamu di kirim ini?”.

“Saya di tangkap sama dukunnya, saya dimasukkan botol, banyak juga teman-teman saya dari tempat-tempat angker yang di ambil oleh dukun itu dari segala penjuru mana saja yang di anggap angker, lalu dimasukkan kedalam botol, nanti kami akan di kirim kalau ada orang yang minta pada dukun itu untuk di kirim pada seseorang”.
“Kamu muslim?”.
“Saya muslimah” jawab kuntilanak.
“Coba baca fatekhah”.

Dia mulai membaca fatekhah sampai selesai.

“Kamu muslim kok mau di kirim untuk menjahati orang?”.
“Saya tidak berdaya”.
“Jadi kamu tak bisa menghindari untuk tidak di tarik kedalam botol, dan dikirim?”.
“Ya saya tak bisa menghindar, karena saya di beri makan”.
“Apa makanmu?”.
“Kembang”.
“Apa semua temanmu, makan kembang semua?”
“Tidak, ada yang makan pasir, tanah, lumut”.
“Kok pakaianmu itu warnanya putih, ngambil dari mana kok gak warnanya merah?”.
“Hihihihi dari kain kafan orang yang meninggal”.
“Di jahitkan di mana?”.
“Ya gak dijahitkan lah”.
“Apa gak lepas kalau di pakai, jadi di pakai kemulan saja begitu”.

“Kok wajahmu pakai bedak tebal begitu, bedak dari apa? Apa dari kapur?”.
“Ya tidaklah, masak dari kapur, nanti perih, ya dari tepung singkong”.
“Nyuri ya singkongnya?”.
“Hihihi, tahu saja”.
“Kok memakai wajah yang rusak ada darahnya begitu? Maksudnya apa?”.
“Ya saya kan dari orang yang meninggal ketabrak mobil di jembatan, perempuan hamil, yang melewati jembatan, lalu ketabrak mobil dan mati”.
“Coba pandang wajahku”.
“Ampun panas, maaf, ampun, saya bohong, itu cuma serita akal-akalan yang saya buat, agar orang mengira saya arwah penasaran”.
“Jangan bohong di depanku”.
“Ya saya tak berani. Saya dikeluarkan saja”.

Maka kuntilanak itu saya keluarkan, dan berganti dengan jin yang lain, sampai 3000 jin, sehingga sampai seminggu lebih Yaya harus menginap di majelis. Walau memakan waktu lama, akhirnya pengeluaran jin pun sampai tuntas, yang heranku, kenapa jinnya ada yang masuk pada sebuah batu kerikil di kamarku, pernah aku heran waktu guruku pernah memberiku batu kerikil kecil sebesar jempol tangan, batu itu tak ada bagusnya sama sekali, karena sebagaimana batu kerikil biasa, tapi karena pemberian guruku, ya batu kerikil itu ku simpan, sebagai rasa takdzim pada guruku, pas banyak jin ada di tubuh Yaya, ku ambil batu, karena aku sendiri tak tahu sama sekali soal batu, entah batu untuk bangunan atau batu mulia, di mataku tetap sama, walau secara lahiriyahnya satu batu biasa dan yang satu batu mulia, yang warnanya menurut sebagian orang ada keindahannya, ya di mataku gak ada yang indah.

Aku ingat kadang di saat-saat tertentu, guruku sangat menyukai batu, dan suka membuat mainan batu, batu dikumpulkan yang indah dan aku sama sekali tak ada ketertarikan ingin tahu, karena memang tak tertarik dengan batu, batu ku tunjukkan pada salah satu jin yang ada di dalam tubuh Yaya.

“Ada yang tahu soal batu tidak jin yang di dalam?” tanyaku, dengan nada rendah, karena kami walau mereka yang di dalam adalah jin, kami sudah seperti teman saja.
“Sebentar saya tanyakan”.

Lalu ku tunggu Yaya yang tengah dikuasai jin terdiam, mungkin jin di dalam pada mencari yang tahu soal batu.
“Saya tahu” suara salah satu jin.
“Coba lihat batu ini? Apa isinya, ada gak isinya?” tanyaku.
“Wah berat sekali batu ini”.
“Apa ada isinya?”.
“Iya ada… hah kenapa teman-temanku yang kemarin di dalam tubuh ini dan sudah keluar, kenapa ada di dalam batu ini”.
“Yang benar?”.
“Iya benar, mereka pada berpegangan pada besi”.
“Besi? Besi apa?”.
“Besi penjara, di dalam ada penjaranya, dan mereka semua di dalam penjara”.
“Apa benar seperti itu?”.
“Benar kyai, saya tak berani membohongi kyai”.
“Jadi teman-temanmu di dalam?”.
“Iya”.
“Apa kamu mau ku masukkan kedalam?”.
“Jangan kyai, saya dikembalikan saja pada yang mengirim saya”.
“Untuk apa?”.
“Ya biar saya hajarnya biar kapok”.
“Ya sudah, ku keluarkan” maka jin ku keluarkan.

Kejadian ribuan jin ini, banyak sekali ku ambil manfaat, dan pelajaran, juga sangat baik ku pakai mengetes murid-muridku yang baru menerima kunci doa, setelah menyelesaikan puasa 41 harinya, sehingga bisa tidak ilmunya di pakai, ku tes dengan ku suruh menarik jin dalam tubuh, dan alhamdulilah semua yang ku tes memuaskan, dan ilmunya dapat di pakai.

Setelah pengeluaran jin selesai, dan Yaya sudah sehat seperti sedia kala, dia mulai pulang, dan bekerja di pabrik lagi, tapi baru bekerja di pabrik, dia sudah kemasukan jin kiriman lagi, padahal rumah Mbak Sun sudah di pagar, cuma karena magarnya di tancap di dinding, jin yang di dalam di tanya, kenapa bisa masuk? Mereka menjawab, bahwa masuk lewat bawah tanah.

Lagi-lagi ku keluarkan jin yang masuk, sekali waktu ku tanya, kadang ku suruh melihat ada tidaknya jin di dalam tubuh tamu yang datang, juga kadang jika jinnya bisa ilmu urat, ku suruh mengobati orang yang salah urat, sebelum ku keluarkan, jinnya sendri sebenarnya gak mau di kirim, tapi mereka tak berdaya, bahkan dukunnya sebenarnya kata jinnya tak mau mengirim, tapi karena di bayar mahal, dan jika tidak bekerja jadi dukun, yang di makan tidak ada, ya terpaksa tetap saja dijalankan profesi dukun, kata jinnya, sebenarnya si dukun sudah terlentang, tak berdaya, dan berulangkali muntah darah, dan badannya sakit, tapi ya karena butuh obat terpaksa terima di bayar dan menjalankan tugas mengirim jin lagi.

Aku mengambil hikmahnya saja, pada kejadian yang terjadi, ambil manfaatnya, berpikir tentang manfaat, ada kejadian kesurupan massal di MTS Wali Songo, awalnya begini, anak MTS ada kegiatan biasa, setiap jumat mengadakan pembacaan shalawat di salah satu siswa, nah kebetulan pas saat itu ada sebuah jembatan yang diperbaiki, yang dekat dengan sekolah, orang awam juga tak tahu kalau di jembatan itu ada kerajaan jinnya, karena jembatannya diperbaiki, dan otomatis kerajaan yang di jembatan itu ambruk, maka jinnya pada marah, dan merasuki pada anak sekolah yang kerasukan.

Pas kerasukan terjadi di tempat rumah siswa yang di pakai baca shalawat bersama, maka terjadilah ramai orang kampung menonton, biasa setiap ada kejadian orang yang merasa punya ilmu, ingin menunjukkan punya ilmu, lantas eksien, ya ada yang kyai, guru silat, sesepuh desa, bahkan para dukun ramai ingin menunjukkan kebisaannya mengeluarkan jin, ada yang dengan main pencak dulu seperempat jam, baru mengeluarkan jin, ada yang mengambil air, lalu duduk bersila membaca yasin, ditiupkan air, lantas air disemburkan ke yang kerasukan, ada juga yang shalat dulu, lalu mengeluarkan jin, semua memakai cara-cara masing-masing bahkan ada yang menyembah-nyembah ke arah utara, baru mengeluarkan jinnya, ya namanya juga bermacam orang yang mengeluarkan, jadi bermacam-macam juga cara yang di pakai. Tapi tak satupun membuahkan hasil.

Suasana jadi ramai, karena jinnya menjerit-jerit, yang kerasukan dipegangi orang banyak, aku bercerita ini dari cerita kang Slamet, yang memang rumahnya bersebelahan dengan kejadian, jadi aku tak tahu sendiri, kang Slamet sendiri, karena rumahnya dekat dengan kejadian maka dia pun datang, melihat orang pada kerasukan, dia juga langsung mempraktekkan apa yang ku ajarkan, dan dua anak bisa dikeluarkan jinnya, yang kerasukan ada 5 anak, jadi masih 3, dukun yang melihat kang Slamet mengeluarkan dengan mudah, merasa gak enak mungkin, maka mereka melarang kang Slamet mengeluarkan jin yang masih di 3 siswa, ya kang Slamet mundur, karena si dukun ingin tampil mengeluarkan jinnya, kerasukan terjadi jam 9 pagi, dan sampai jam 10 malam, 3 siswa yang kerasukan masih belum juga bisa dikeluarkan, sudah di banting, di piting, di geleng-gelengkan kepalanya, di pencet jempolnya, di pencet hidungnya, di bolak balik, juga di kitik-kitik, tetap saja jin gak mau keluar, dan bertahan di dalam. Akhirnya siswa di bawa pulang, dalam keadaan masih kerasukan.

Besok-besoknya kerasukan makin parah saja, makin banyak yang kerasukan, sehingga sampai terjadi pembicaraan di pasar, di toko, di warung lesehan Megono, semua membicarakan kerasukan yang menimpa siswa MTS Wali Songo, ada guru yang bicara mau di bawa ke rumahku, tapi ku tunggu tak juga ada yang datang, sampai sekolah diliburkan, tiap hari hanya para dukun dan paranormal dari segala penjuru didatangkan untuk menyelesaikan kejadian kerasukan itu, tapi tak juga ada hasilnya apa-apa, malah masing-masing ingin menunjukkan kalau merekalah yang mampu, walau akhirnya sama sekali tak ada hasil apa-apa, yang ku dengar terakhir ada yang cerita sampai di telingaku, sebulan sudah berlalu, dan kerasukan masih juga tetap terjadi, dan yang terakhir ku dengar yang kerasukan ditangani dengan diulekkan bawang dan dikeceri jeruk nipis, prihatin juga. Tapi masa aku datang menawarkan diri menolong, kok rasanya kayak cari nama dan ketenaran saja.

Sementara Yaya, yang ketika itu ku tinggal memimpin dzikir di Jepara, dia yang sudah sembuh di bawa pulang oleh mbaknya, eh ada kabar pas waktu aku di Jepara, kalau Yaya di kirim lagi, setelah di tanya katanya karena kyainya pergi ke Jepara, jadi dukunnya berani mengirim jin lagi, wah-wah rupanya nyari peluang kepergianku, setelah aku pulang dari Jepara, malamnya ku suruh kerumahku, biar ku bersihkan lagi. Jadi ingat dengan MTS Wali Songo yang siswanya kerasukan, maka ku tanya jin yang di dalam.

“Tahu MTS Wali Songo?” tanyaku, “yang sedang terjadi kerasukan masal”.
“Iya tahu” jawab jinnya, “itu jin dari kerajaan jin yang tinggal di jembatan, karena jembatannya diperbaiki, jadinya jinnya pada marah, dan merasuki anak sekolah”.
“Oh begitu rupanya?”.
“Ya”.
“Kalau kerajaan berarti ada raja dan ratunya?”.
“Ya ada”.
“Bisa kamu memanggilkan raja dan ratunya”.
“Wah saya tak berani”.
“Ya kalau bisa rakyatnya, atau punggawanya”.
“Ya kalau itu saya berani, sebentar saya panggilkan”.
“Ya”.

Sebentar jin yang ada di tubuhnya Yaya memejamkan mata, kemudian.

“Ada apa memanggil saya?”.
“Kamu siapa?” tanyaku yang tak tahu yang datang masuk ke tubuhnya Yaya ini siapa.
“Saya punggawa kerajaan” jawab jin.
“Yang pada memasuki anak-anak sekolah itu?”.
“Iya”.
“Kamu bisa memanggilkan ratumu ke sini?”.
“Bisa, akan saya panggilkan”.

Sebentar Yaya memejamkan mata, tak sampai 2 menit ganti lagi suara.

“Siapa yang memanggil saya?”.
“Saya”.
“Kamu siapa?”.
“Saya orang biasa” jawabku.
“Kenapa memanggilku?” tanyanya.
“Karena saya ingin tahu masalahnya apa kok anak sekolah MTS Wali Songo pada kerasukan, apa itu ulah kalian?”.
“Iya itu ulah anak buahku”.
“Alasannya apa?”.
“Karena kerajaanku yang ada di jembatan itu di rusak”.
“Kan mereka hanya mau memperbaiki jembatan”.
“Tapi kenapa tak minta ijin?”.
“Mau minta ijin pada siapa, kan mereka tak ada yang tahu kalau di jembatan itu ada kerajaanmu”.
“Kan bisa dari para kyai minta ijin”.
“Wah kyai di sini juga gak ada yang tahu alam gaib”.
“Kalau begitu, anak sekolah itu akan saya suruh rasuki terus oleh anak buahku”.

“Kamu muslimah?”.
“Ya saya muslimah”.
“Kok begitu dengan muslim lain?”.
“Ya karena kami di ganggu”.
“Lah kalau saya yang mengatasi kerasukan massal itu apa akan kamu lawan?”.
“Saya tak berani”.

Tiba-tiba Yaya ada tanda adanya jin yang masuk lagi, tubuhnya mengejang, lalu diam.

“Siapa yang memanggil-manggil istriku”.
“Saya”.
“Kamu siapa?”.
“Coba di pandang saya”.
Dia menatapku, “ah ilmumu kecil, tak ada apa-apanya” katanya meremehkan,
“Ya memang saya tak punya apa-apa, apa kamu yang memerintah anak sekolah itu di rasuki?”.
“Ya saya yang memerintah”.
“Bagaimana kalau kita adu kesaktian, biar kita saling kenal”.

loading...

Dia mulai menyerangku, namun berulang kali menyerang serangannya hanya mental akhirnya dia pergi keluar dari tubuh Yaya.

“Suamiku sudah pergi”.
“Bagaimana, apa urusan sekolah itu keputusannya bagaimana?”.

Sebentar Yaya diam dan mengejang, tanda kalau ada jin lain yang masuk.

“Siapa?”.
“Aku, aku anaknya yang memimpin merasuki anak sekolah itu”.
“Lalu bagaimana, apa akan terus di rasuki?”.
“Ya akan terus ku rasuki ku obrak-abrik semua”.
“Bagaimana kalau kita adu kesaktian dulu?”.
“Ya!”.
“Serang aku, kalau kamu merasa punya ilmu apapun, silahkan dikeluarkan semua”.

Dia mulai menyerangku dari segala penjuru, tapi tak satupun serangannya bisa mengenaiku, malah secara batin membuatnya terlempar dan terlempar lagi.

“Bagaimana, masih dilanjutkan?” tanyaku, melihatnya berhenti menyerangku.

Dia mencoba menyerang lagi, tapi tetap saja tak berdaya melawanku,

“Ya aku menyerah”.
“Lalu bagaimana, apa masih dilanjutkan merasuki anak sekolah?”.
“Ya”.
“Kok iya, berarti mau melawanku?”.
“Tidak berani”.
“Kalau saya yang mengurusi kerasukan itu, apa kamu mau melawanku?”.
“Tidak” lalu jin itu pun pergi.

Yaya mengejang.

“Saya punggawanya” dia menangis.
“Kenapa kamu menangis?”.
“Ratu di siksa suaminya”.
“Lhoh kok begitu?”.
“Iya kasihan ratu”.
“Coba panggil suaminya kesini” kataku.
“Ya” dia terdiam, dan Yaya mengejang.
“Ada apa lagi memanggilku?”.
“Apa benar kamu suka menyiksa istrimu?”.
“Ya urusanku, mau menyiksa istriku, itu istriku sendiri”.
“Tidak bisa begitu, aku yang melarang”.
“Apa urusanmu melarangku?”.
“Karena kerajaanmu ada di wilayah kekuasaanku, aku penguasa Jawa Tengah, semua gaibnya, jadi urusanmu itu jadi urusanku”.

Dia mendengus marah.

“Ayo kita adu ilmu lagi”.
“Tidak, aku tak bisa melawanmu”.
“Lalu apa kamu tetap akan menyiksa istrimu?”.
“Ya aku akan tetap meyiksa”.
“Apa kamu Islam?”.
“Tidak, saya kafir”.
“Hm, pantas”.

Kami terdiam.

“Jadi tak mau ku larang untuk tak menyiksa istrimu?”.
“Ya aku akan tetap menyiksanya”.
“Apa kamu harus ku tebas dengan pedang” aku malah terbawa emosi.
“Silahkan”.

Ku cabut pedang gaib, lalu ku tebaskan padanya, dia terjengkang.

“Ah pedangmu tak mempan padaku” katanya.

Lalu pedang ku arahkan ke lehernya.

“Ampun, ampun, iya, iya aku tak akan menyiksa istriku”.
“Benar?”.
“Benar”.

Pedang ku tarik baru ku masukkan dia sudah ngoceh lagi.

“Ah pedangmu tak mempan padaku”.

Pedang ku cabut lagi dan ku acungkan pada lehernya, dan dia minta ampun lagi, dan tak berdaya. Lalu pedang ku masukkan.

“Bagaimana?”.
“Ya aku taat, aku tunduk”.
“Masih mau menyiksa istrimu?”.
“Tidak saya ingin masuk Islam”.
“Benar?”.
“Benar, angkat aku jadi murid”.
“Tapi kamu harus taat dan tunduk padaku juga semua anak buahmu dan kerajaanmu”.
“Ya saya siap tunduk dan taat”.
“Ikuti bacaan sahadat yang ku ajarkan”.
“Ya”.

Lalu ku ajarkan dia dua kalimat sahadat, dan setelah itu lukanya ku obati, dan dia mohon diri. Yaya mengejang lagi tanda ada jin masuk lain.

“Siapa?”
“Saya, Ratu”.
“Apa suamimu sudah tak menyiksamu?”.
“Iya sudah tidak, saya rela kok di siksa, tak apa-apa”.
“Ya tak bisa seperti itu”.
“Siapa namamu?”.

Dia menyebutkan nama.

“Bagaimana sekarang soal tinggal anak buahmu?”.
“Ya tak tahu, karena istana kami sudah rusak”.
“Tinggal di rumah sebelahku itu mau”.
“Di mana?”.
“Di rumah sebelah itu”.
“Ya mau”.
“Nah rakyatnya semua diajak ke rumah sebelah itu ya”.
“Ya”.
“Jadi muridku yang taat”.
“Ya”.
“Jaga tempat sekitar rumahku, dan kalau ada pengajian ikut ngaji ya”.
“Ya”.
“Kalau ku panggil, harus datang”.
“Ya kami semua siap sedia, tunduk dan taat pada kyai”.
“Rakyatmu yang belum Islam, di-Islamkan”.
“Ya insya Allah, kyai doakan kami”.
“Ya, ingat yang taat padaku”.
“Kami akan tunduk dan taat, apapun kyai butuhkan kami siap memberikan bantuan”.
“Nah begitu”.

Alhamdulillah semua permasalahan kerasukan masal di sekolah semua selesai.

“Besok ke sini lagi, saya akan ajari dzikir yang benar, nanti diamalkan, ajak shalat berjamaah rakyatmu yang muslim”.
“Ya kyai, kami berterima kasih sekali”.

Malam jam 9, suasana hening, ada tamu juga dan aku sedang mengajari ratu untuk menjalankan dzikir pondasi, alhamdulillah sekali ku ajarkan caranya semua langsung bisa melakukan, gak kebayang, banyak punya murid dari bangsa jin, yang bukan hanya seribu dua ribu, bahkan sampai ratusan ribu, ini amanah dari Allah, semoga saja aku kuat menjaga amanah yang dibebankan di pundakku, aku yakin, Allah maha bijak, dan aku yakin Allah akan memberikan kekuatan untuk menjaga amanah ini, sehingga memberikan amanah ini, sebab aku sendiri tak berdaya, tiada daya upaya apa-apa, kecuali hanya atas pertolongan Allah semata.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 75.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET