Kisah Sang Kyai Guru Bagian 76 - 814 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 75. Kami duduk berhadapan.

“Bagaimana kabarnya nyai?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Maaf kyai, saya baru bisa sowan kesini” jawab Dewi Lanjar halus.
“Ndak apa-apa, bagaimana nyai Dewi sudah masuk Islam?”.
“Alhamdulilah sudah kyai, sudah di Islamkan sama ratu”.
“Syukur alhamdulilah”.
“Apa masih ingat dengan saya?”.
“Masih kyai, kyai yang pernah ke tempat saya, waktu itu saya sambut dengan rakyat saya berjejer-jejer menyambut kyai”.
“Syukur kalau masih ingat”.

“Iya dulu kyai saya gandeng, saya ajak ke kerajaan saya, tapi kenapa kok sekarang saya takut sekali menghadap kyai, saya sungguh sungguh takut, saya silau sekali menatap wajah kyai, maaf saya kalau saya selalu menunduk, karena saya merasa panas dan perih kalau menatap kyai, padahal dulu kyai tidak seperti sekarang” kata Dewi Lanjar sambil menunduk.
“Ah mungkin belum terbiasa saja, nanti juga kalau sudah terbiasa akan biasa, gak silau lagi”.
“Kalau kyai mengijinkan, saya ingin menjadi pengikut dan murid kyai”.
“Hm, tapi saya ada syaratnya, apa nyai Dewi mau memenuhi syaratnya?”.
“Saya akan berusaha taat dan tunduk pada yang kyai perintahkan”.
“Syarat saya, nyai Dewi kan yang mengadakan pesugihan itu, orang pada minta pesugihan pada nyai Dewi, apa benar itu?”.
“Iya kyai, itu memang saya”.
“Nah syarat saya, itu harus dihentikan”.
“Tapi kyai, saya sudah membayar orang-orang itu, sudah banyak keluar uang”.

“Nyai kalau hal yang haram ditinggalkan, maka Allah akan mengganti yang halal, seperti sedekah itu, sedekah itu seperti menanam pohon di surga, akarnya di surga, tapi pohon dan buahnya di dunia, siapa yang banyak menanam sedekah maka akan memanen yang banyak di dunia, di surga itu sudah tak butuh lagi panen, yang butuh panen itu di dunia, di surga nanti panennya yang jariyah, jatuhannya buah sedekah, yang tumbuh menumbuhkan pohon sedekah lagi, terus begitu tak akan berhenti, dan akan menjadi hutan sedekah”.
“Ya kyai saya paham”.

“Tapi kyai, saya, saya sudah pernah punya perjanjian dengan nyai Roro Kidul, diperintahkan untuk mengembangkan pesugihan ini agar yang jadi tumbal bisa dijadikan bala tentara”.
“Segala bentuk perjanjian sesat, di kala sebelum Islam, itu tak berlaku lagi ketika seseorang telah menjadi muslim, misal orang sebelumnya mempunyai perjanjian dengan berhala, maka berhala harus ditinggalkan kala orang itu masuk Islam”.
“Tapi kyai, saya tak berani menyalahi nyai Roro Kidul”.
“Apa nyai Roro Kidul itu tinggi ilmunya?”.
“Tidak kyai, beliau biasa-biasa saja”.
“Bagaimana jika diukur denganku ilmunya?”.
“Masih tinggian kyai”.
“Nah nyai Dewi sudah menjadi muridku, maka sudah pasti saya melindungi, jika saya tak mampu, maka guru saya, jika tak mampu maka gurunya guru saya, terus sampai nabi SAW, sampai Allah, kurasa sesakti saktinya nyai Roro Kidul tak akan berani melawan Allah”.
“Iya kyai saya siap, saya siap setia, dan berbakti kepada kyai”.
“Anak buah nyai ada berapa?”.
“Ada 270 ribu kyai, yang 70 ribu sudah muslim, yang 200 ribu belum muslim kyai”.
“Nanti saja malam minggu ajak kesini semua”.
“Iya kyai”.

Tiba-tiba aku merasakan jin jahat di belakangku.

“Ini yang di belakangku siapa nyai Dewi?” tanyaku pada Dewi Lanjar.
“Ada kuntilanak, dia mau mendekat kirimannya Askan. Mau mendekat tapi takut sama kyai”.
“Nyai Dewi bisa menangkapnya?”.
“Saya ndak bisa kyai”.
“Aisyah saja bisa kok”.
“Iya kyai saya juga heran, kenapa Aisyah, baru beberapa hari saya tak ketemu dia, ketemu lagi kok dia malah sakti”.
“Nah itulah nyai, kalau mau belajar ilmu”.
“Coba nyai Dewi tangkap kunti itu, ku bantu energi”.
“Iya kyai” dan Dewi Lanjar menangkap kunti itu dengan susah payah akhirnya bisa.

Setelah bicara panjang lebar, nyai Dewi mohon diri, sambil berjanji akan membawa semua pengikutnya untuk ikut dzikir sambil sebelumnya masuk Islam dulu. Hari-hari tak ada cerita dan kisah tanpa canda tawa Aisyah, dalam dunia jin. Rupanya tak biasa memberi nama pada sesosok jin, seperti Aisyah punya dua adik perempuan, keduanya juga tak di beri nama, maka agar mudah membantu, ku beri nama adiknya Aisyah bernama Aminah, dan adiknya lagi bernama Latifah, sehingga kalau aku mau memanggil siapa akan mudah, dalam dunia jin sebenarnya tak beda dengan dunia manusia, cuma jin itu kebanyakan sering meniru bentuk-bentuk manusia, untuk menunjukan keberadaannya pada manusia, sebenarnya Aisyah dan saudaranya adalah berbentuk asli burung dara, sedang raja, berbentuk asli ular, ada juga yang berbentuk asli macan, elang, dan berbagai macam bentuk yang lain, tapi mereka cenderung merupakan bentuk manusia, seperti Aisyah berbentuk perempuan berjilbab biru, sedang Dewi Lanjar berbentuk perempuan berkerudung biru. Berbicara banyak jadi ingat masa laluku saat masih suka meraga sukma, dan menaklukkan kyai Cempli yang dari desa sebelah.

“Aisyah” panggilku.
“Iya kyai, ada perintah apa?”.
“Aisyah kenal dengan kyai Cempli?”.
“Iya kyai tahu, itu kyai edan”.
“Coba panggil kesini”.

Sebentar kemudian kyai Cempli sudah masuk ke tubuh Yaya yang ku jadikan mediator, tapi aneh, kenapa berlagak seperti mau menyerangku.

“Kamu kyai Cempli dari Secino Pakumbulan?” tanyaku.
“Iya, ada apa memanggilku?”.
“Masih ingat denganku?”.
“Ya” suaranya sambil menggereng-gereng.
“Hm, kok kamu galak denganku? Apa tak tunduk lagi denganku”.
“Aku sudah tak tunduk lagi denganmu”.
“Oh begitu rupanya, pantasan galak, apa mau membangkang denganku rupanya ya?”.
“Ya, aku sudah tak mau tunduk lagi denganmu”.
“Hm boleh, ayo serang aku, keluarkan semua ilmu yang kamu punya”.

Dia mulai menyerangku, mencoba menyerangku tapi mental dan menjerit-jerit minta ampun, tapi kemudian berusaha menyerangku lagi, dan mental dan jatuh lagi begitu berulang-ulang.

“Bagaimana, diteruskan? kalau masih penasaran, ayo di serang lagi, sebelum giliranku yang menyerang” kataku, dan dia berusaha menyerangku lagi, tapi terjatuh lagi.
“Nah sekarang giliranku yang menyerang” kataku sambil meremasnya dari jarak jauh, dia langsung melintir, “ingat lafatdz ini yang dulu ku gunakan untuk menaklukkanmu dulu”.
“Ya saya ingat, saya ingat, ampun, ampun” dia bergulingan, ketika bacakan ‘ya latif’. Karena memang dulu waktu aku menaklukkannya menggunakan ‘ya latif’.

Dia bergulingan, dan minta ampun, tapi ketika seranganku ku kendorkan, maka dia berusaha menyerangku lagi, begitu berulangkali, malah sudah ngaku mau masuk Islam, dan ku ajarkan dua kalimat sahadat, eh malah setelah selesai menirukan ajaran mengucap dua kalimat sahadat, dia mencoba menyerangku dari belakang. Karena ngeyelnya, ku ambil saja botol dan kyai Cempli ku masukkan dalam botol, kebetulan kok Aisyah juga sedang usil, jadi ku masukan botol jadi satu sama kyai Cempli, tapi sebentar kemudian Raja menghadapku, dan meminta maaf atas kelakuan Aisyah, dan memintaku agar Aisyah dikeluarkan dari dalam botol, dan aku segera mengeluarkan dari botol, alhamdulillah setelah itu Aisyah makin baik tingkah lakunya.

Di mana ternyata tak semua teman baik maksudnya, itu sudah jelas, makanya berteman juga harus pilih-pilih teman, salah memilih teman, bukan malah dapat teman, tapi malah menambah musuh, kenyataannya sekalipun kita baik sebaik apapun pada orang lain, juga belum tentu orang lain akan baik pada kita, kita di umpamakan senyum pada orang di jalan, belum tentu juga orang akan baik tanggapannya, bisa jadi kita dibilang “plengehen, kepedean, sawan, sok ganteng, cari perhatian dan lain-lain” sebenarnya pendapat orang pada kita, misal kita sudah berusaha baik, apa pendapat orang itu sebenarnya mewakili hati orang tersebut, kotoran manusia maka akan berbau kotoran manusia, kotoran kerbau juga akan berbau kotoran kerbau, kalau tak percaya, coba saja waktu pagi datangi kotoran kerbau yang masih keluar asap, ambil sedikit lalu di oleskan ke lubang hidung, nanti dirasakan bagaimana baunya, bahkan beda dengan kotorannya kucing, kalau masih tak percaya, setelah hidung di olesi, kotorannya kerbau, lalu pergi ke kamar mandi, cuci yang bersih hidungnya, usahakan sampai tak tercium sama sekali bau kotoran kerbau, lalu cari kotoran kucing, sama jejalkan ke hidung, nanti bagaimana baunya, pasti akan beda dengan kotoran kerbau.

Kalau masih belum percaya boleh di ulang beberapa kali, sampai percaya. Bukan maksudku untuk menyuruh mempraktekkan, itu hanya perumpamaan saja, jadi hati yang busuk itu akan menimbulkan uap, sebagaimana kotoran itu, hati yang busuk itu tak bisa di tipu, di lisan akan menimbulkan aroma, tingkah laku, dan pembicaraan buruk, jadi keburukan hati itu tak bisa di tipu perwujudannya dalam pergaulan, dan gerak-gerik seorang itu dipengaruhi hatinya sendiri.

Di mana saja, termasuk di facebook, kalau di pikir kadang juga tak masuk akal, bagaimana hubungannya, apa perlunya tingkah yang buruk itu mengganggu orang lain, kadang malah tak butuh satu alasan, seseorang tingkah lakunya jelek pada orang lain, jadi kalau di cari alasannya seringnya malah menemukan jalan buntu.

Daftar blokku di facebook termasuk banyak, dan amat banyak karena ternyata banyak sekali pesan yang masuk yang maksudnya apa juga saya gak tahu, yang jelas selalu mengajak ribut, bahkan mengirim jin ke rumahku untuk menyerangku. Kalau di pikir-pikir apa juga untungnya mengirim jin untuk menyerangku, itu juga kan bayar dukun, tapi itulah kenyataannya.

Sekali lagi ku tekankan, ceritaku ini bukan untuk di percaya, anggap saja hanya khayalanku saja, jika kok ada tempat kejadian atau nama yang kebetulan sama, ya nama juga dari A sampai dengan Z, jadi bisa saja sama, dan tak ada larangan nama orang itu sama dan bahkan wajah orang kok sama saja ndak ada larangan, jadi ini bukan untuk menjelek-jelekkan atau membongkar keburukan orang, ini hanya menulis apa yang menurutku ku alami. Anggap saja aku mengalami mimpi, dan di mimpiku ada orang yang kebetulan masuk dalam mimpiku, dari pada nanti apa yang ku tulis jadi perdebatan.

Jadi, jadikan saja bacaan ringan, yang bermanfaat silahkan di ambil yang merugikan jangan di tiru, dan dijadikan contoh melakukan perbuatan yang sama, atau menjadi inspirasi untuk melakukan perbuatan yang sama. Setelah maghrib, padahal aku sudah ada janji pada anak buahnya Dewi Lanjar untuk mengislamkan mereka, tapi malah dari seseorang banyak sekali jin yang dikirimkan, sehingga aku sibuk menangani jin, dan jam perjanjian jadi mundur.

“Siapa?” tanyaku pada jin yang merasuk pada Yaya.
“Aku jin kiriman diperintahkan untuk menggagalkan dzikir malam ini” jawab jin.
“Berapa temanmu?”.
“Ada beberapa ribu”.
“Berapa?”.
“Sepuluh ribu”.
“Wah sedikit sekali”.
“Sedikit bagaimana?”.
“Ya kenapa tak mengirim yang lebih banyak lagi?”.
“Nanti akan di kirim lebih banyak lagi”.
“Lalu kamu perintahan siapa?”.
“Saya disuruh Sengkuni”.
“Sengkuni siapa?”.
“Sengkuni temanmu, yang juga murid kyai Cilik”.
“Ah jangan ngarang kamu”.
“Saya tak ngarang”.
“Sengkuni itu tak bisa mengirim jin”.
“Dia menyuruh dukun, membayar dukun”.
“Bayar berapa?”.
“Membayar 500 juta”.
“Wah makin ngarang lagi kamu”.

“Tidak aku tidak mengarang, memang benar seperti itu. Aku di suruh menghancurkanmu, hemmm, grrrr” dia mendengus.
“Coba dulu, pandang aku, kuat gak?”.
“Hm, panas”.
“Kamu siapa, kenapa panas sekali tubuhmu”.
“Ya aku kan yang akan kamu serang”.
“Ya kenapa panas sekali, ampun”.
“Coba masih ada yang berani melawan tidak”.
“Hm, ada”.
“Coba saja suruh bergantian menatapku” jin pun bergantian menatapku.
“Ampun kami tak berani”.
“Sekarang bagaimana, mau melawan atau mau tunduk padaku?”.
“Ya kami tunduk, kami tunduk”.
“Kalian Islam bukan?”.
“Kami kafir semua”.
“Mau ku Islamkan?”.
“Mau, kami mau”.

Maka ku ajari mereka semua masuk Islam dengan membaca dua kalimah sahadat. Sementara anak buah Dewi Lanjar sudah menunggu, segera saja ku lakukan mediumisasi, kupakai dua orang, yang satu orang ku masuki Dewi Lanjar, dan satu orang lagi ku masuki panglimanya.

“Nyai Dewi” panggilku.
“Iya kyai”.
“Ini semua prajuritnya ada berapa yang hadir?”.
“Ada 270 ribu”.
“Tolong semua diperintahkan mengikuti saya melafadzkan dua kalimat syahadat”.
“Iya kyai, semua menunggu kyai bimbing”.

Maka ku ajari semua melafadzkan dua kalimat sahadat, dan setelah membaca dua kalimat sahadat semua ku perintahkan untuk mandi sebagai lepas dari kekafiran, masuk menjadi muslim. Semoga menjadi awal yang baik, dan kedepannya akan makin baik, juga akan di susul oleh jin di manapun berada. Pas dzikir malam minggu legi berjalan lancar, dan tak ada kendala apa-apa, malah syaikh Ibrohim al-Magrobi berkenan hadir dalam majelis mengikuti dzikir, dia disertai anak perempuannya yang cantik. Sampai orang kampung yang dilewatinya terheran-heran dengan kecantikannya, aku tak sempat memperhatikan kehadirannya, karena sibuk memimpin dzikir.

Besoknya santet yang di kirim Sengkuni padaku makin aktif dan makin sering, bukan hanya padaku juga pada istri, anak, juga murid-muridku, mungkin kebenciannya makin menjadi-jadi, apalagi setelah banyak jinnya yang ku tangkap, dan akhirnya ketahuan kalau selama ini yang mengerjai kyai Cilik adalah dia, membayar dukun-dukun, aku gak tahu apa juga motifnya, yang aku kadang timbul greget dan ingin marah, adalah ketika santet di kirim ke anak kecilku, yang baru kelas 3 SD, di kepalanya di tancapi beberapa paku, di matanya, di perutnya, bagaimana itu kalau anak orang lain, aku hanya bilang ke anakku.

“Sabar ya nduk, yang sabar, ini cobaan Allah” itu selalu ku katakan kalau anakku, meminta.
“Abah ini di kepalaku ada 5 paku, ini di mataku ada pakunya, ini di perutku ada pakunya” dan dia minta diambil, kadang aku berpikir sebenarnya Sengkuni itu manusia apa bukan? kok dia seperti itu.

loading...

Hari senin menghadap ke kyai, sebenarnya kyai sudah seminggu memanggilku menghadap, tapi karena tanggung jawabku memimpin dzikir maka aku baru bisa menghadap hari senin. Nyai Ratu, Dewi Lanjar, dan Aisyah ikut menghadap di sertai abdul jin yang takluk dari kirimannya Sengkuni, Aisyah sudah mahir mengobati, aku yakin kyai juga sedang dalam keadaan sakit sebagaimana denganku, jadi ku bawa Aisyah agar mengobati kyai, kyai itu sudah tingkatan di sakiti orang maka harus menerima, jadi beliau pasti masih dalam keadaan sakit dan ku bayangkan beliau menahan sakit dari santet yang dideritanya.

Aku dan rombonganku naik mobil, dan rombongan ratu dan Dewi Lanjar naik kereta kencana terbang di angkasa, mengiringiku, kadang Aisyah ku panggil turun naik mobil, jika Aisyah turun naik mobil maka dalam mobil akan jadi ramai, dan hidup, apa saja dia tanyakan, tapi dengan gaya yang kocak, kalau dia manusia pastilah dia gadis yang periang.

Perjalanan yang panjang, serasa cepat, dan sampai di tempat kyai, Sengkuni ternyata ada, dia kalang kabut, karena melihatku hadir, dan dalam keadaan sehat, mungkin dikiranya aku sudah tergeletak tak berdaya, sebenarnya aku di santet juga tembus, bukan berarti tak apa-apa, tapi kadang santet masuk semua ku kibaskan, sehingga lepas semua, yang paling sulit di tenggorokanku di tancapi paku, kawat yang ditancapkan melingkar, dan benang yang dijahitkan ke dalam tenggorokan, juga besi tiang antena yang ditancapkan di tenggorokan, ya walau di santet ku ambil dan berulang di santet ku ambil, tetap saja akhirnya tubuhku ada bekas lukanya, luka lain mungkin tak seberapa, yang parah adalah luka di tenggorokanku, karena suaraku jadi tak ada sama sekali, seperti pita suara putus saja rasanya, jadi dari tenggorokan tak keluar suaranya, dan rasanya sakit sekali, padahal aku harus memimpin dzikir di mana-mana, ya memang dia tak ingin dzikir ku pimpin, tak tahu apa maksudnya.

Sengkuni ke tempat sepi, ketika mengetahui kedatanganku, dia pergi ke tempat sepi untuk menelepon, dan SMS dukun yang diperintah menyantetku, dan ketika aku menghadap kyai di dalam kamar, maka santet di kirim menyerang tenggorokanku, agar aku tak bisa bicara sama kyai, dan tanpa Sengkuni sadari waktu dia nelepon, sopirku ada di dekatnya, menurut sopirku, dia bicara suruh cepat dikerjai, karena dia di dalam kamar dan sebelum cerita ke kyai.

Sementara itu, aku di dalam kamar, kyai dalam keadaan tak berdaya, tubuhnya sakit, dan di tangan kanan kirinya ada kayunya (gaib maksudnya), dan di kepalanya ada beberapa paku, juga ada di matanya, di telinganya di tembus besi dari kanan ke kiri, sehingga kyai tak dengar kalau di ajak bicara, Sengkuni itu murid kyai, cuma agar tak mendengar laporanku, apa ada murid tega menusuk telinga gurunya, kalau gak murid yang murtad, dan setan.

“Ini yang mengerjai Sengkuni, kyai” kataku dengan mata berkaca kaca.
“Bukan, bukan Sengkuni yang mengerjai, cuma yang mengerjai setan yang berupa Sengkuni” jawab kyai sambil menahan rasa sakit.

Aisyah segera ku transfer energi untuk mengambil segala macam santet yang bersarang di tubuh kyai, anehnya santetnya sama semua bentuknya dengan yang di kirim padaku, dan sama persis, menunjukan dukun yang sama yang mengirim. Ketika aku dalam mentransfer energi untuk mengobati kyai, tiba-tiba berduyun-duyun jin dikirim menyerangku, dan menguasai Aisyah agar tak bisa mengobati kyai, ada 800 jin yang dikirim, maka aku ajak semua bertarung, dan tak sampai 5 menit alhamdulillah semua takluk dan masuk Islam, lalu mengobati kyai ku lanjutkan.

“Kemarin di tenggorokanku juga ada benang jahitnya, ku keluarkan” kata kyai, setelah dapat lancar bicara.
“Ya kyai, sama santetnya yang di kirim padaku”.
“Hehehe kok bisa begitu ya” kata kyai, kurasa membayangkan kekejaman Sengkuni.
“Yang kirim Sengkuni kan kyai”.
“Bukan dia, tapi setan yang berupa Sengkuni, yang menyuruh tukang santet sebelah rumah, yang jadi RT itu, juga adiknya dari Surabaya, dan nyuruh orang Subang”.
“Lalu bagaimana baiknya kyai?”.
“Sudah biarkan saja, jadikan ini gemblengan menempa diri, thoreqoh itu menggembleng lahir batin kita, bukan saja menggembleng secara lahiriyah tapi juga secara batiniah, seperti yang ku ajarkan padamu dulu di Cilegon, sudah nanti gembleng muridmu dengan cara begini agar cepat kemajuannya”.
“Iya kyai”.

Aku keluar kamar, Sengkuni menemuiku, dan dengan agak kikuk tak seperti biasanya, dia bertanya.

“Bagaimana kang, heheheh, sudah ketemu dan bicara sama kyai?” tanyanya.
“Belum” jawabku pura-pura, “kyai sedang sakit, jadi aku tak bisa bicara dengannya” jawabku bohong, sengaja, agar dia tak rikuh.

Dia hanya bertanya itu dan pergi dengan wajah lega, setelah dzikir jamaah selesai, aku menghadap lagi pada kyai, dan lagi-lagi Sengkuni menelepon dukunnya, dan aku di berondong santet di leher lagi, agar tak bisa bicara. Padahal aku mau menghadapkan nyai dewi dan nyai ratu, untuk minta ijin menjadi murid thoreqoh, dan kyai mengijinkan, dan tak banyak bicara lagi, kami segera meminta diri, untuk pulang.

Sampai di Pekalongan, tak ada lagi hari damai, tiap hari aku di berondong santet tiada henti, dia membayar dukun beratus-ratus juta, dan di kirim jin setiap hari tanpa henti selalu di kirim, ada sampai 500 ribu jin, dan ngambilnya sembarangan, ada yang dari tepi laut, ada yang dari telaga, ada yang dari Alas Roban, ada pernah jin dari Alas Roban, yang dikirim dari sekian banyak jin.

“Ini to yang namanya kyai Nur?”
“Siapa kamu?” tanyaku pada jin yang merasuk pada mediatorku.
“Aku jin perintahannya Sengkuni, aku dari alas roban”.
“Apa kamu sudah tahu denganku?”.
“Sudah, walau aku sendiri di ambil dari Alas Roban, di Alas Roban namamu sudah jadi bahan pembicaraan antar jin, bahkan ada muridmu jin tua yang menyebarkan ajakan untuk masuk Islam pada jin di Alas Roban”.
“Siapa dia?”.
“Aku tak tahu namanya, dia itu anak buahnya Dewi Lanjar”.
“Lalu apa keperluanmu? Apa mau melawanku?”.
“Ah tidak, aku tak berani”.
“Lalu?”.
“Aku mau kembali saja”.
“Ya kalau begitu keluar sendiri, apa ku keluarkan?”.
“Biar saja saya keluar sendiri”.

Maka ku biarkan dia keluar.

“Kyai, tolong kyai” suara Aisyah, ”saya lemas”.
“Kenapa Aisyah”.
“Jin yang baru keluar itu mencuri ilmu dan energiku”.
“Lhah kok bisa?”.
“Gak tahu kyai, ilmu pemberian kyai di ambil dia semua”.
“Wah bahaya”.
“Bagaimana ini kyai, tubuhku tak berdaya”.

Wah aku panik sekali, bagaimana ini.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 77.

Whatsapp: 0852 1406 0632