Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 76. Aisyah kelihatan lemah tak berdaya, wajahnya sayu dan tangannya terkulai, aku bingung juga harus berbuat apa, di saat kebingunganku dan tak tau apa yang harus ku lakukan, jadi ingat dipanggil kyai bareng mas Bangun, aku diberi ilmu menarik ilmu orang lain, cuma sayang aku pas dikasih kok ya ketiduran, gak tahu ngantuk banget, malah aku dibangunkan mas Bangun, dan ditanya kyai, sudah hapal belum kuncinya, aku cuma jawab, “belum kyai”.

“Ya sudah nanti kapan-kapan lagi di ulang” kata kyai.
“Ya kyai”.

Terus terang aku tak mengerti kyai memberi ilmu itu, juga aku bukan orang yang kemaruk ilmu, jadi kurang memperhatikan kalau diberi ilmu. Ya itu, akhirnya diberi ilmu, malah gak tahu apa dan bagaimana ilmunya. Wes lah pasrah saja sama Allah.

“Mas, tadi hapal ilmunya?” tanyaku pada mas Bangun ketika di antar ke terminal Kampung Rambutan.
“Walah saya malah gak ngeh sama sekali je” jawab mas Bangun.
“Waduh bagaimana to, la saya malah tertidur”.
“La terus bagaimana?”.
“Lain kali kalau dikasih ilmu, siap-siap saja kita rekam”.
“Heheheh, saya dah minta ijin soal itu, soal merekam apa yang disampaikan kyai, tapi kyai gak membolehkan” jawab mas Bangun menjelaskan bergaya intelek.
“Ya ngerekamnya gak usah bilang, la wong ngasihnya saja sekali langsung di minta hapal, bagaimana otak yang low kayak saya ini bisa nangkap. Harusnya sayang kalau ilmu itu terbuang percuma, sayang sekali, yang aneh kenapa saya kok ngantuk buanget, ngantuk pakai buanget, masa di depan kyai duduk sambil tiduran, sampai ngorok lagi, jan gak bermutu”.
“Sudahlah kita terima dengan ikhlas saja”.

“Ya nerimanya sih ikhlas, yang ngasih kan sremet juga kalau dikasih ilmu tingkat tinggi jadi tidur kayak diriku, tapi aneh memang kok gak ketahan mau tidur itu, yo wes lah, semoga saja manfaat”.
“Manfaat dari mana, wong ilmu saja ndak di dapat, kok manfaat?”.
“Ya manfaat yang memberi kan Allah, Allah itu tak membutuhkan sebab untuk memberi suatu kemanfaatan, dan tak butuh alasan untuk wujudnya manfaat, wes gak usah dipikir, besok saja kalau diberi kita rekam diam-diam, heheheh”.
“Yo wes lah aku manut wae”.
“Wah lagu lama, mau enaknya gak mau susahnya, hehehe”.

Akhirnya kami pisahan dan aku naik bus ke Cirebon, karena bus yang ke Pekalongan sudah tak ada. Apa ilmu yang tak ku hapal do’a pembukanya itu akan bisa ku pakai, melihat keadaan Aisyah yang tak berdaya, sungguh aku kasihan sekali. Ku coba saja, tangan ku arahkan ke arah Alas Roban, tempat jin yang mencuri Aisyah pergi. Lalu ku tarik. Seperti menarik beras 1 kwintal, berat dan tanganku mengeras. Ku pegang, dan ku masukkan ke tubuhnya Aisyah lagi.

“Sudah pak kyai” terdengar suara Aisyah yang ceria. “Tapi hanya separuh” dan kelihatan lemas lagi.
“Ya sudah tak apa-apa, nanti kyai tambahi lagi”.
“Iya, iya, nanti di tambahi lagi ya kyai” wajahnya sudah ceria lagi.

loading...

Kejadian demi kejadian, ku buat selalu pelajaran, dan semoga aku bisa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya, dan atas kejadian ini, semoga makin mendewasakanku, mungkin ini cara Allah menggemblengku agar mampu menanggung tanggung jawab yang besar, entah juga tanggung jawab apa, aku hanya berusaha menjalaninya, sebagaimana jalannya air mengalir.

Aisyah sudah mulai ku latih menarik penyakit jarak jauh, dan alhamdulillah perkembangannya lancar, dia seperti tanah subur yang akan tumbuh bila di tanami apa saja. Yang ku suka dia tak pernah menolak jika di mintai tolong apa saja, tak pernah minta imbalan apapun.

“Aisyah. Aisyah apa gak ingin apa-apa?” tanyaku setelah mengobati beberapa orang, karena ku lihat dia kelihatan lelah.
“Gak kyai”.
“Bilang saja nanti ku beri apa maunya Aisyah”.
“Gak ingin apa-apa kok kyai, Aisyah hanya ingin membantu kyai, apa saja yang kyai perintahkan Aisyah siap, Aisyah siap mati untuk kyai” katanya sambil bercanda.
“Apa Aisyah gak ingin makan apa gitu”.
“Aisyah hanya makan pasir saja kyai”.
“La apa enaknya pasir to? Apa gak makan nasi saja?”.
“Ya kalau makan nasi Aisyah muntah, ya pasir yang di makan baunya saja kyai, bukan pasirnya”.
“Oh tak kira makan pasirnya sungguhan, sampai kyai lihatin terus pasir di depan rumah, dah berapa kurangnya, kok ku lihat gak kurang-kurang itu pasir, masih tetap saja utuh”.

“Ya yang di makan baunya saja kyai, nanti pasir yang hitam itu akan agak berwarna keputihan”.
“Apa semua prajuritnya makan pasir?”.
“Ya kyai, kadang Aisyah juga makan kembang. Ratu makannya juga kembang”.
“Oh rupanya begitu, la kembang, mau ku belikan kembang?”.
“Ah tidak lah kyai, Aisyah nyari sendiri saja”.
“Benar tak mau ku belikan?”.
“Tidak ah”.
“Aisyah sudah puasa kan, juga nyai ratu?”.
“Sudah kyai, puasa 21 yang kyai berikan itu, cuma Aisyah tak pernah selesai dzikirnya, banyak sekali, paling sampai bismillah, jadi ngutang deh, heheh. Aisyah pegel duduknya, semutan. Tapi kalau ratu selesai dzikirnya, malah kalau raja pergi, ingin menyendiri mengamalkan amalan dari kyai, dia bertapa”.

“Besok tak belikan kembang ya? Sukanya kembang apa?”.
“Ah gak usah lah kyai, kami sudah sangat bersyukur di angkat jadi murid sama kyai”.
“Kyai bukan memberikan karena pamrih, kyai memberikan untuk memberi makan orang yang berpuasa, karena memberi makan orang yang berpuasa itu mendapatkan pahalanya puasa orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala puasanya orang yang berpuasa, nah bagaimana?”.
“Ya terserah kyai saja, kyai kan guru saya, gurunya ratu, gurunya Dewi, semua akan taat apa yang kyai ajarkan, kami tahu kyai tahu apa yang terbaik”.

Maka ku belikan kembang, untuk berbuka puasa, seminggu ku berikan 2 kali. Sementara itu serangan dari Sengkuni makin menjadi-jadi saja, aku gerakan murid dari internet untuk ikut andil dalam perang melawan kemungkaran, banyak sekali pengalaman yang mereka alami, memang itu juga perintah kyaiku, agar dijadikan alat menggembleng murid, sebenarnya momen saat seperti ini itu seperti momen merobohkan gunung dengan ledakan bom, kalau amaliyah biasa, puasa biasa itu seperti meruntuhkan gunung dengan cangkul, jadi siapa yang andil kemajuan ilmunya akan seperti roket, sebagaimana aku dulu ketika melawan 900 tukang santet, dan perkembangan ilmuku amat pesat sampai aku sendiri tak masuk akal, dan setengah tak percaya dengan kejadian demi kejadian setelahnya setelah melewati ujian berat.

Tapi di kejadian itu juga akan jadi penyaring, siapa yang akan terbentuk dengan bentuk yang di inginkan atau siapa yang akan tumbang dan berlalu menjadi murid yang laman berkembangnya, siapa yang pantas dijadikan paku bumi, dan siapa yang hanya jadi rumput, itu berlaku juga untuk murid kyaiku.

Aneh memang didikan seperti ini, kayak gak masuk akal, tapi kyaiku selalu menekankan, biar alam yang menyeleksi murid yang jadi dan yang hanya berlalu saja, dan muridku yang asli sini malah semua tak ada yang perduli sama sekali, hanya 80% yang jadi, yang lebih mengherankan malah ada murid kyai yang dulu kena santet saja sering ku bantu, eh kok sekarang malah ikut Sengkuni menyerangku, seringnya malah mengikat Aisyah dan seringnya berusaha agar majelisku tak ada pengunjungnya, memang banyak sekali yang akan jadi penghianat, dan akan jadi duri dalam daging, di-kiranya Allah tak tahu, malah ada juga yang menuduhku tertipu dengan jin, mungkin tak pernah membaca Al Qur’an atau bagaimana, apa tak pernah membaca surat jin, bagaimana nabi SAW mengislamkan jin, dan nabi adalah sebaik-baiknya suri tauladan, contoh yang harus kita tiru, bukan pendapat sendiri, aku tak henti berdoa pada Allah, jika ilmu yang ku berikan pada orang yang salah, ku minta di cabut dari orang itu dan dikembalikan pada lauhil mahfudz.

Alhamdulillah, Aisyah sudah bisa mengobati jarak jauh, kalau kyai guruku sakit maka ku perintah dia menarik sakitnya dari jarak jauh, dan juga kemarin pas ibu kyai kena santet juga ku minta mengobati jarak jauh, tapi hal itu makin membuat Sengkuni terbakar hatinya, sekarang yang di tuju dan di arah adalah Aisyah, bagaimana menangkap Aisyah, aku sendiri tak bisa menjaganya selalu, penggemblengan ini yang dikatakan kyaiku sungguh sangat unik.

Dari pagi Aisyah mengobati, siang dia ikut istriku belanja, biasa dia ingin lebih tahu banyak tentang manusia, jiwanya mungkin sangat haus akan dunia manusia, dia juga makin rajin melihat televisi, aneh jadinya kalau ada jin hapal iklan, dan hapal cerita sinetron, dia juga suka mengubah chanel televisi yang disukai. Jin yang dikirimkan padaku dan yang ku taklukkan mungkin keseluruhannya aku tak tahu lagi berapa, tapi ada perkiraanku sampai 600 sampai 700 ribu lebih, pernah ku tanyakan Aisyah.

“Ada berapa banyak jin yang ada di sekitar rumahku?”.
“Wah tak terhitung kyai, semua atap rumah sudah penuh, sampai atap rumah tetangga dan pohon-pohon, dan di jalan berjajar ada penuh sampai ke sawah yang berjarak 1 kilo meter, semua penuh jin”.
“Tapi tak ada yang jahil kan”.
“Tak ada kyai, semua taat beribadah, kalau ada yang tak shalat di tegur sama ratu”.

Memang ku rasakan walau rumahku penuh jin, tapi hawanya adem, tak panas, atau terasa merinding, semua adem ayem. Memang ku sengaja semoga aku banyak bisa mengislamkan banyak jin, setiap ada kesempatan, atau laporan ada tempat angker ku tarik dan ku mediumisasi dari rumah. Seperti siang itu, ada yang cerita kalau ada sebuah pabrik yang angker, ku coba memediumisasi. Ku tarik jin dari rumah, dan ku masukkan ke mediator.

“Siapa?” tanyaku.
“Saya jin raja yang tinggal di pabrik, assalamualaikum”.
“Waalaikum salam”.
“Kamu muslim”.
“Iya”.
“Apa semua yang tinggal di pabrik itu muslim?”.
“Tidak semua, hanya anak buahku yang muslim kyai”.
“Kamu tahu tentang diriku?”.
“Ya kyai, saya tahu, kalau boleh saya ingin mengabdi dan menjadi murid kyai”.
“Ada berapa temanmu?”.
“Ada 20 ribu”.
“Yang masih kafir coba panggil menghadap padaku”.

“Ya kyai” sebentar mediator diam dan bergerak lagi, bergaya ingin menyerangku.
“Apa mau menyerangku?”.
“Hiya”.
“Coba di serang” kataku pasrah diam saja.
“Ampun, saya nyerah”.
“Lhoh kenapa?”.
“Ada yang menekanku, aku menyerah, habis tenagaku, aku mau nakluk saja, aku sebenarnya dari Malaysia”.
“Kok jauh amat dari Malaysia?”.
“Iya di kirim dari sana, orang yang punya pabrik bekerja sama dengan orang Malaysia dan aku di kirim untuk memantau pabrik ini”.
“Oh begitu rupanya, lantas bagaimana mau menjadi pengikutku atau bagaimana?”.
“Iya kalau boleh, saya mau dijadikan murid”.
“Ya sudah semua temannya di ajak jadi muridku. Ikuti ku ajarkan membaca dua kalimat sahadat”.

Maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat. Kejadian hal seperti itu, hampir tiap hari terjadi, kadang ada jin dari jauh, berombongan, dan minta di Islamkan, lalu setelah masuk Islam ada yang tinggal, ingin ikut mengaji, ada juga yang datang setelah di Islamkan kemudian mereka pergi lagi, itu hampir tiap hari, kadang sehari sampai beberapa kali.

Kadang kita ikhlas membantu orang lain, bahkan tak meminta bayaran apa-apa sama sekali, kadang sudah menolong juga memberi makan juga memberi apa saja yang dibutuhkan si sakit, tapi balasannya malah sebaliknya, seperti ada orang yang kena santet, sudah berobat kemana-mana tak sembuh, dan dibawa kerumahku sembuh, keluarganya menjenguk, itu bukannya berterima kasih, eh malah menuduh aku yang menyantet, dan aku yang mengerjai, yang membuatnya sakit, agar aku bisa mengobatinya, heran juga, apa untungnya juga bagiku, kecuali aku menyuruhnya membayar, la ngobatinya saja gratis kok gak di pungut biaya serupiah pun, kok malah menuduhku katanya yang menyantet, atau wajar jika di tuduh seperti itu jika aku mensyaratkan membayar sekian-sekian, la serupiah saja tak ku minta, lalu keuntunganku membuat orang sakit itu ada dimana? Anehnya lagi ngajak ribut, menuduhku sesat dan lain-kain, walah kok orang ya macam-macam begitu, kadang kalau ketemu orang seperti itu jadi down mau menolong orang, sudahlah masing-masing saja. Kadang sekilas lintas terbersit rasa seperti itu, namanya juga aku manusia biasa, tapi Allah seperti memperingatkanku, sudahlah anggap itu ujian, untuk makin mendekatkanku pada-Nya, jadikan ladang amal.

Ya memang harus berpikiran jernih, dan selalu menimbang, mengembalikan segala sesuatu pada Allah, Allah juga kan yang membolak balikkan hati manusia, hatinya buruk atau baik, Allah juga yang menjadikan, jika hati seseorang itu kemudian buruk padaku itu sebenarnya atas ijin Allah, dan jadi ujian padaku, atau seseorang itu melakukan keburukan padaku, itu Allah mengujiku, melatihku menanggung beban berat, agar aku terbiasa dengan beban berat, dan jika menanggung beban berat, aku tak merasa keberatan malah akan merasa ringan jika beban itu bobotnya di bawah beban yang biasa aku tanggung. Yakin seyakin yakinnya saja kalau Allah pasti menolong, dan Allah maha mengetahui dan maha menolong pada orang yang bertawakal dan berserah diri pada-Nya.

Kita juga diberi kesempatan oleh Allah, kalau kita diserang terus menerus, maka kita boleh balas menyerang untuk membela agama, mati juga akan mati sahid, bersama Allah jangan ragu melangkah. Tempaan yang ku terima memang saat cerita ini ku tulis, memang tiada sangat beruntun, aku juga cuma menjalani, apa maksud Allah, aku juga tak tahu, yang penting aku selalu berusaha dalam koridor istiqomah memegang amanah dan amaliyah.

Tamu yang minta tolong silih berganti, sekalipun aku menghadapi permasalahan sendiri, tetap juga ku dahulukan permasalahan orang lain, kadang ngadepi tamu sambil mencabuti santet yang entah berupa paku, bambu, yang ditancapkan ke tubuhku. Datang tamu dari MTS Walisongo, dulu tempat Aisyah mengganggu, bersama prajuritnya, katanya masih banyak kerasukan terjadi, sebenarnya kalau mereka tahu, mereka tak akan minta bantuan dukun atau paranormal, yang memang menawarkan diri untuk menolong kerasukan itu, karena jin yang merasuk ke siswa itu adalah jin yang memang malah kirimannya dukun, kalau motif dan tujuan aslinya sendiri aku tak tahu apa itu. Tapi kalau menurut pendapatku itu motifnya dukunnya ingin dapat pekerjaan agar dapat uang, atau namanya jadi tenar karena mengobati kerasukan itu, tak tahu juga.

“Maaf pak kyai mengganggu” kata dua orang guru MTS.
“Ada perlu apa bu?” tanyaku.
“Ini pak, kami mau minta solusi, sudah beberapa bulan ini anak didik kami mengalami kerasukan, jadi kami ingin minta solusi pada bapak, bagaimana baiknya?”.
“Sejak kapan bu, ada terjadi kerasukan?”.
“Sudah ada 3-4 bulan pak”.
“Sebentar ya bu” ku tarik Aisyah ke mediator.
“Ini dulu yang mengganggu anak didik ibu, ini jin yang dulu bertempat di jembatan yang di bangun itu”.
“Maksudnya pak, apa di dalam orang ini ada jinnya?”.
“Iya bu guru, bu guru yang sebelah itu kalau mengajar lembut sekali, iya saya yang dulu mengganggu murid ibu, dulu saya bersama teman-teman saya yang tinggal di jembatan yang diperbaiki, karena waktu memperbaiki jembatannya tak minta ijin, jadi raja kami marah, dan membuat murid ibu kami rasuki, maaf ya bu, saya sekarang sudah jadi muridnya pak kyai”.

Kedua guru itu terbengong-bengong, gak tahu paham apa tidak dengan apa yang di ucapkan Aisyah, mungkin gak ngerti, apalagi ini soal gaib, sulit di cerna dengan logikanya orang yang masih memakai akal.

“Begini lo bu, jadi dulu saya mendengar kalau sekolah MTS itu banyak kerasukan, maka saya kemudian membantu dari sini, jinnya yang merasuki anak sekolah itu saya tarik, dan saya taklukkan”.

Kedua guru itu makin senyam-senyum, mungkin gak paham atau bagaimana, atau kesengsem sama wajahku yang ganteng. Walah memang susah menjelaskannya.

“Saya dulu itu yang menganggu murid bu guru, saya itu jin yang ada di tubuh ini bu” jelas Aisyah lagi karena melihat kedua guru itu makin bingung.
“La kok bisa di dalam tubuh anak ini pak?” tanya salah satu guru.
“Ya kayak di televisi itu lo bu, di acara dua dunia, jadi jinnya dimasukan ke manusia, di mediumisasi”.
“Tapi ini sekarang masih banyak kerasukan kok pak” kata bu guru satunya, sambil memperbaiki tempat duduknya, mungkin agak mulai paham.
“Ya kalau sekarang yang merasuki itu bukan dari kelompok saya bu” jelas Aisyah lagi.
“La terus dari mana?” tanya bu guru.
“Dari yang sengaja di bawa dukunnya” jelas Aisyah.
“La kok bisa, kan mereka mau menolong” kata bu guru heran.
“Begini saja bu, biar jinnya dari sekolahan ku tarik ke sini, ku mediumisasi, nanti bu guru tanya saja sendiri” jelasku.
“Apa bisa?”.
“Ya nanti di lihat saja” ku tarik salah satu jin, dan ku masukkan ke dalam tubuh mediator. Dia menggereng-gereng mau menyerangku.

“Siapa ini?” tanyaku. Jin diam saja.
“Siapa? Kamu tak mau bicara?”.

Dia menggeleng.

“Benar tak mau bicara?”.

Dia tetap menggeleng.

“Baik kalau begitu, ku penggal saja” kataku lantas mencabut pedang gaib, dan ku tempel ke lehernya.
“Iya, iya ampun jangan bunuh aku. Aku mau bicara”.
“Kamu kenapa, mengganggu di sekolah MTS, kenapa merasuki siswa?”.
“Aku di suruh”.
“Di suruh siapa?”.

Dia diam.

“Di suruh siapa?” ku ulangi pertanyaan.

Tapi dia tetap diam, ku tempel saja pedang yang ku pegang ke lehernya, dia baru mengaku di suruh dua dukun yang biasa di mintai tolong mengeluarkan kerasukan di sekolah.

“Nah ibu tahu sendiri kan” kataku pada kedua guru.

Kedua guru itu masih setengah percaya setengah tidak. Lalu keduanya untuk meyakinkan diri mereka sendiri, menanyakan ini itu. Setelah keduanya ku rasa cukup bertanya, aku mengambil alih pembicaraan.

“Berapa temanmu yang di suruh mengganggu anak sekolah?” tanyaku pada jin.
“Ada 100 orang”.
“Seratus itu apa semua ada di sekolah?”.
“Yang ada di sekolah 70, yang lain masih merasuk di tubuh siswa”.
“Apa kamu mau melawanku atau mau menakluk padaku?”.
“Aku tak berani melawan, aku menakluk saja”.
“Apa tak coba melawan dulu, dari pada nanti penasaran”.
“Ampun aku tak berani”.
“Coba tanya yang 70 jin itu apa mau melawanku, atau mau takluk?”.
“Memangnya kamu bisa menaklukan mereka?”.
“Ingin lihat?” tanyaku.
“Hehehe, iya” dia tersenyum meremehkanku, biasa jin itu seperti itu.

Ku panjangkan pedang gaib yang ku pegang, dan sampai tembus langit. Setelah pedang ku panjangkan, ku tebaskan ke jin yang ada di MTS, segera saja datang jin masuk lagi ke mediator.

“Siapa kamu menyiksa anak buahku?” tanya jin yang masuk.
“Ada apa? mau melawan?”.
“Ya” jawab dia sambil menggeram, dan mau mengeluarkan jurusnya.

Pedang ku ganti dengan cambuk, dan segera jinnya ku cambuki, sampai minta ampun.

“Ampun, ampun, saya menyerah”.
“Benar menyerah?”.
“Coba lagi, cambukmu tak akan mempan”.

Ku lecutkan lagi cambuk dan ku tambah kekuatan, kembali dia menjerit minta ampun.

“Bagaimana?” tanyaku.
“Ya, ampuun, saya menyerah”.
“Bagaimana dengan temanmu di sana, apa mau menyerah semua?”.
“Aku tak tahu, aku cari selamat sendiri saja”.
“Ku lecutkan lagi cambukku”.
“Ya, ya semua ku ajak menyerah”.
“Ada berapa?”.
“Ada 70”.
“Mau takluk padaku?”.
“Ya kami mau”.

Segera ku ajari mengucap dua kalimat sahadat.

“Nah bagaimana bu, sudah lihat sendiri kan”.
“Iya pak”.

Aku tak tahu apa mereka percaya atau tidak, yang penting aku sudah menunjukkan, mau mengatakan ini rekayasa atau bagaimana itu urusan mereka, saya juga tak di untungkan atas apa yang ku lakukan, mereka berjanji akan membawa yang kerasukan ke rumahku, tapi saat tulisan ini ku tulis, yang kerasukan malah di bawa kerumah sakit akhirnya malah ribut di rumah sakit, menjerit-jerit tak karuan. Ya sudah biarkan saja, lebih baik tak ku pikirkan, biar saja mungkin Allah mempunyai rencana lain, hanya Allah yang tahu.

Urusanku bukan hanya Sengkuni, aku sendiri heran apa maunya dia, jika orangnya jujur sebenarnya ingin ku tanya langsung, apa maunya, tapi sayang dia bukan orang yang jujur, jadi jika ku tanya juga akan sia-sia, mungkin orang yang membaca tulisanku ini juga bertanya-tanya siapa sebenarnya Sengkuni itu, kalau di tanya secara pasti, aku sendiri tak kenal dengan jelas siapa dia, Sengkuni itu menjadi murid kyai, aku sendiri tak tahu pasti kapan pertama kali, mungkin tahun 2006, atau 2007, aku tak tahu pasti, sementara aku sendiri tahun 2006 sampai tahun 2010 sama sekali tak pernah berhubungan dengan kyai, karena aku bekerja di Saudi, dan aku sendiri tipe orang yang tak akan menghadap guru kalau tak di panggil menghadap, sebagai tanda tawadukku pada guru, karena aku tahu urusan guruku sudah banyak sekali, aku tak mau merecokinya, jadi aku tak akan menghadap kalau tak di panggil kyai, di samping aku sangat takut berbuat kurang tata krama kalau ada di dekat kyai, yang penting bagiku ilmu dari kyai aku jalankan dengan istiqomah, bahkan aku orang yang tak pernah meminta ilmu sama sekali pada kyai, kalau di kasih ya saya terima, sebab bagiku kyai lebih tahu, apa yang ku perlukan dari pada diriku sendiri. Tapi walau aku tak minta, selalu saja kalau kyai memanggilku berarti akan memberikan ilmu. Satu ilmu di beri maka aku berusaha ku jalankan sampai ku dapatkan buah manisnya ilmu. Baru ilmu itu akan ku berikan kepada orang lain.

Jadi aku kenal Sengkuni tahun 2011, lupa aku kapan tepatnya, tapi selama tahun 2006 sampai 2011, ku rasakan perkembangan jamaah thoreqoh yang ku ikuti kok tak ada sama sekali, malah ku tahu mengalami kemunduran, belum lagi kyai Cilik dalam keadaan sakit, aku di panggil tiap dua minggu sekali, menghadap untuk mengobati beliau, beliau di santet juga di racun, heran juga, kenapa beliau di santet dari segala penjuru demikian rupa, dan waktu itu, aku sendiri baru kenal santet sampai menghadapi 900 tukang santet, hari-hari hanya menghadapi santet, dimana-mana, di bus bahkan santet tetap memburu, tidur tak tenang, dan ketika aku di perintah kyai untuk memimpin dzikir, maka santet menyerangku di tenggorokan, sehingga suaraku habis, juga menusuk ke perutku sampai rasanya sakit minta ampun, pernah dulu di majelis Cilegon, aku merasakan sakit yang teramat sangat, di perut sampai sakitnya tak karuan, sampai aku tidur melintir-lintir menahan sakit, anehnya sakitnya mulai jika aku mau berangkat ke Cilegon, dan aku sama sekali tak mengira kalau itu sakit kena santet, ku kira hanya sakit batu ginjal biasa, malah waktu itu mas Bangun ku ajak menemaniku beli batugin, untuk mengobatiku, tapi tetap saja sakitku tak juga sembuh, rasanya mau mati saja, karena teramat sakitnya, dan baru di obati kyai baru sembuh, dan baru belakangan ku ketahui itu santet dari dukun yang di bayar Sengkuni.

Sebab hari-hari belakangan ini, ketika semua telah jelas, apa yang ku rasakan dulu, sekarang hampir tiap hari ku rasakan, cuma sekarang aku bisa menariknya, dan kadang Aisyah yang ku minta mengeluarkannya, sekarang juga kyai Cilik sering menghubungiku, juga kadang ku pantau dari jarak jauh, apa ada santet yang masuk ke tubuh kyai atau tidak, kalau ada ku tarik dari jarak jauh, kadang kyai menghubungiku lewat telepati dan minta santetnya ku keluarkan dari tubuh beliau, ya memang keadaannya seperti ini, kasihan juga kalau kyai jauh dariku, beliau sering mengatakan tak ada murid yang bisa di andalkan, karena muridnya masih cenderung mementingkan kepentingannya sendiri-sendiri, tak ada yang serius memperjuangkan thoreqoh, kebanyakan masih memikirkan bagaimana saya bisa hidup enak, dari doa kyai, ah entahlah, kadang malas kalau membahas para murid kyai, apalagi kalau yang dikehendaki kepentingan masing-masing, lebih baik ku putuskan memperbesar jamaah dengan caraku sendiri. Itu saja mereka bukannya membantu, malah kebanyakan menjelek-jelekkan di belakang. Seakan tak mau jamaah menjadi besar dan berkembang pesat.

Sepertinya aku sendirian, maka aku harus kuat sendirian, dan Allah hanya yang tak berhianat bila ku jadikan teman, memang aku seharusnya sendirian, sendirian berjuang, dan tak akan berhenti sebelum Allah menghentikanku, dan mencabut nyawaku. Serangan dari Sengkuni, tak juga berhenti, dengan berbagai cara dia melakukan, yang lebih aneh lagi semua muridku yang ada di rumah, yang tinggalnya di daerahku, sama sekali tak ada sedikitpun perduli, malah menuduhku mengada-ada, ya ini menunjukkan hanya cobaanku, ujianku, dan ujian orang yang dikehendaki maju oleh Allah, maju memperjuangkan thoreqoh yang ku pimpin, dan yang mendukungku malah murid dari internet, makanya kenapa kyai Cilik mengacungkan jempol untuk mereka, walau dari internet yang tak bertemu langsung, ternyata Allah memilih mereka untuk berjuang bersamaku, dan mereka orang-orang yang di pilih dari berbagai kawasan, dan daerah, bukan orang yang asal-asalan, tapi memang orang yang di pilih Allah untuk berjuang bersamaku.

Waktu maghrib, keadaan kenapa sepi, aku merasakan ada yang aneh, kenapa biasanya juga Aisyah hadir, ini kok gak ada, biasanya aku mengajari dia berbagai ilmu, dan ku suruh mempraktekkan, tapi ini kok tak muncul, aneh. Aku tarik Aisyah untuk ku masukkan ke mediator. Malah yang masuk latifah adiknya Aisyah,

“Kok Latifah ya? Mana mbak Aisyah?” tanyaku.
“Hu-huu” Latifah menangis, Latifah itu umurnya sekitar 250 tahun, ya sekitar seumuran anak kelas 6 SD untuk seumuran manusia.
“Kenapa nduk, kok nangis?”.
“Hu-huu” dia malah nangis makin kencang.

Aku jadi khawatir terjadi apa-apa terhadap Aisyah, bagiku semua jin yang sudah masuk thoreqoh adalah keluargaku sendiri, itu ajaran kyai, jadi siapa saja yang sudah masuk thoreqoh adalah saudara kita, kita harus menyayanginya lebih dari menyayangi diri sendiri. Dan aku berusaha menerapkannya benar-benar dalam kehidupanku. Apalagi Ratu sudah menitipkan Aisyah padaku, bagiku tanggung jawab, amanah itu akan di mintai pertanggung jawaban di sisi Allah. Akan dipertanyakan nanti di pengadilannya Allah, jika kok aku tak bisa menjaganya, bagaimana aku menghadap Allah nanti.

“Nduk, ndak usah nangis, ada apa dengan mbak Aisyah?” tanyaku menghibur.
“Ayo cerita sama kyai, kalau ada apa-apa, nanti kyai akan minta pada Allah untuk minta jalan kelurnya”.
“Hu-huu, kyai, mbak Aisyah, di tangkap sama jinnya Sengkuni, dia, dia dimasukkan kerangkeng, sekarang dia di siksa” jawab Latifah di sela tangisnya.
“Yang benar nduk?”.
“Iya kyai, huu”.
“Lalu dia di kerangkeng dimana?”.
“Di Surabaya, di rumahnya adiknya Sengkuni”.

Aku menarik nafas, bingung, bagaimana menolongnya? Tengak-tengok tak tahu apa yang harus ku lakukan.

“La tadi bagaimana mbak Aisyah kok bisa di tangkap?”.
“Huu, tadi mbak Aisyah ikut bu nyai jalan-jalan, dia di atas, dan ada di ikuti jinnya Sengkuni, dan akhirnya dia di tangkap dan dimasukkan ke dalam kerangkeng, sekarang sedang di siksa, bagaimana ini kyai, kasihan mbak Aisyah”.

Wah aku makin panik. Ku kumpulkan saja jamaah yang ada di majelis ada beberapa orang untuk ku ajak dzikir bersama, dan menolong Aisyah yang sedang di penjara. Aku berdoa semoga Allah mengirimkan bala tentara malaikat untuk menolong Aisyah, dan mengembalikan Aisyah, suasana tegang, karena kami tak tahu apa nanti hasilnya. Tapi ini juga menjadikanku makin teguh dan yakin untuk selalu berserah dan bertawakal pada Allah, yakin akan pertolongan Allah.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 78.

Whatsapp: 0852 1406 0632