Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 77. Kami semua dalam kepanikan, karena Aisyah sudah seperti keluarga, aku sendiri yang tak paham 100% metode, cara, waktu, dan semuanya dari alam jin, yang tentu berbeda dengan alam manusia, padahal kalau bahas jin, harusnya logika kita membuat ukuran alam mereka, bukan lagi alam kita, sebagaimana kalau bahas malaikat, seharusnya logika kita harusnya dimasukan ke alam mereka agar pembahasan itu tepat, sebagaimana juga orang mau goreng tempe, tahu kan goreng tempe, orang mau goreng tempe itu harus logikanya masuk ke membuat adukan tepung dan ukuran air dan bagaimana menggoreng sehingga dihasilkan gorengan yang tepat.

Tak beda sebenarnya dengan hal yang lain apapun di dunia ini, jika mau melakukan sesuatu apapun akal kita harus masuk ke dalam bidang yang akan kita lakukan, jangan di campur aduk, misal mau goreng tempe memakai resep cara nyangkul sawah, sudah pasti tak akan jadi, semoga paham dengan apa yang saya maksudkan. Karena tak paham bagaimana dunia jin itu, ya setidaknya dari pengalaman demi pengalaman yang ku alami, sedikit banyak membuka cakrawala kepahaman baru saya dengan dunia jin, walau aku tahu masih banyak lagi yang belum ku tahu, dan masih banyak lagi yang ingin ku ketahui.

Murid ku ajak dzikir, dan aku berdoa, semoga Allah mengirim petir untuk menghancurkan kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan tak sampai sepuluh menit Aisyah sudah masuk ke tubuh Yaya, dan hati kami berbareng merasa ploong, lega, tapi Aisyah dalam keadaan lemah, dan kesakitan.

“Aduh pak kyai. Sakit, saya di kurung, ini tubuh saya ditancapi bambu sampai tembus”.

Aku segera bertindak, walau sedang memimpin dzikir, aku segera menarik bambu yang menancap di tubuh Aisyah, dan ku tanya Aisyah ternyata sudah tak sakit lagi, cuma tubuhnya masih lemah, tapi tetap saja dia ngoceh.

“Pak kyai, pak kyai saya di tangkap Sengkuni” celoteh Aisyah.
“Bagaimana menangkapnya nduk?” tanyaku sambil terus memutar tasbih.
“Saya pas pulang menemani ibu belanja di pasar, saya terbang pulang dahulu, lalu ada beberapa rombongan jin, yang membawa jaring, dan kurungan, menangkap saya, saya jadi tak berdaya, dan saya di tangkap”.
“Lalu saya di bawa ke Surabaya, ke rumah adiknya, dan saya di kurung dalam kerangkeng, saya di siksa, tubuh saya di tusuk-tusuk pakai bambu dari perut tembus ke punggung, rasanya sakit sekali pak kyai”.
“Kok Aisyah bisa lepas bagaimana ceritanya”.
“Nyai ratu” oceh Aiyah kebiasaan kalau di ajak ngomong kemana, perhatiannya kemana.
“Apa nduk”.

“Nyai ratu pak kyai, itu ikut dzikir sama prajurit semua, nyai ratu mengomeli saya, saya dilarang terbang-terbang lagi, di suruh di dekat pak kyai saja, biar tak ada yang menangkap”.
“Ya nduk, sebaiknya ndak terbang lagi untuk sementara, biar suasananya aman dulu, biar suasananya kondusif dulu, baru nanti terbang lagi”.
“Apa kondusif pak kyai?”.
“Kondusif? Apa ya kondusif? Ya itu kata yang di pakai orang-orang pintar itu untuk mengucapkan kata aman dan damai mungkin” jawabku sekenanya saja.
“Wah berarti pak kyai pintar hayo”.
“Kok pinter”.
“La itu memakai kata kondusif?”.
“La Aisyah kan baru saja juga mengucapkan kata kondusif, berarti juga pintar kan”.
“Iya ya pak kyai, Aisyah juga baru mengucapkan, berarti Aisyah juga pintar”.
“Wes lah nduk, bagaimana kok Aisyah bisa lepas dari kurungan?”.
“Itu kok pak kyai, saya juga tak tahu”.
“Kok tak tahu?”.

“Ya tahu-tahu ada bola cahaya dari langit, menyambar kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan kerangkeng jadi hancur lebur jadi cair, juga jin yang menjaga semua terpental mati”.
“Oh begitu ceritanya?”.
“Ya pak kyai dan saya terbang kesini, karena pak kyai memanggil, padahal saya sudah bingung”.
“Bingung kenapa nduk?”.
“Ya bingung lah pak kyai, kan Aisyah sedang dalam kerangkeng, dan pak kyai memanggil Aisyah, kan Aisyah tak bisa datang, nanti Aisyah jadi murid yang tak berbakti pada guru, jadi Aisyah sedih sekali, eh kok ada bola api yang menyambar kerangkeng Aisyah, sehingga Aisyah jadi bisa memenuhi panggilan kyai”.
“Ndak kok nduk, kyai tidak menyalahkan Aisyah, ini kyai lagi dzikir ini untuk menolong Aisyah dari kerangkeng Sengkuni”.
“Jadi yang menolong Aisyah itu kyai ya?”.
“Tidak nduk, yang menolong Aisyah itu Allah taala, kyai hanya meminta pada Allah agar menolong Aisyah, dan Allah membebaskan Aisyah dengan mengirim cahaya malaikat itu”.
“Terima kasih ya Allah. Engkau telah menolong Aisyah”.
“Bagaimana lukamu nduk?”.

“Sudah sembuh kyai, setelah kyai obati”.
“Itu juga pertolongan Allah nduk, kyai hanya berdoa supaya sakit Aisyah disembuhkan, musnah hilang”.
“Iya kyai”.
“Ingat Aisyah jangan terbang-terbang lagi”.
“Tapi Aisyah jadi tak bebas no kyai”.
“Ya kalau di tangkap lagi bagaimana, apa Aisyah mau?”.
“Hiii ngeri, masa tubuh Aisyah di tusuk-tusuk, leher di tusuk sampai tembus, perut di tusuk sampai tembus”.
“Nah kan, apa Aisyah mau seperti itu lagi?”.
“Ya gak mau lah kyai”.

Akhirnya malam itu kami lega dengan kejadian yang kami alami, dan bagiku ada pelajaran yang ku ambil manfaat. Jam 8 pagi, karena dalam perut seperti ada yang mengganjal, jika di pakai bernafas, atau batuk terasa menusuk-nusuk, seperti sebuah bambu lancip, aku panggil Aisyah ingin ku tanya sebenarnya apa yang dalam perutku. Tapi ku panggil-panggil tak juga datang, ku tarik saja dengan daya penarik, ku masukkan ke tubuh Yaya. Malah yang masuk jin lain, dia menggereng-gereng.

“Siapa?” tanyaku.
“Hem, grrr” jawab dia menggereng, biasa mungkin menggertak, jin selalu begitu, suka main gertak.
“Siapa?”.
“He-he-he, kau mencari Aisyah muridmu?”.
“Iya”.
“Muridmu sudah dibawa teman-temanku”.
“Kemana?”.
“Terbang ke Surabaya”.
“Ke tempat Sengkuni?”.
“Ya”.
“Apa maunya Sengkuni, kenapa selalu menggangguku, dan membawa Aisyah?”.
“Hmm, karena dia kau ajari mengobati”.
“Kan dia ku ajari menolong orang”.
“Tak boleh”.
“Kenapa tak boleh?”.

“Ya tak boleh berbuat baik, tak boleh menolong orang, tak boleh mengobati”.
“Kenapa?”.
“Nanti thoreqohmu terkenal, banyak pengikutnya”.
“Sekarang bawa Aisyah kembali”.
“Hahaha, tak bisa, dia akan kami kurung, akan kami bunuh”.
“Suruh temanmu bawa kembali”.
“Tak bisa, hahaha, bawa kembali sendiri kalau mampu”.
“Baik”.

Segera ku membaca doa minta sama Allah diberi pedangnya malaikat maut, padahal aku sendiri tak tahu, apa malaikat maut punya pedang apa tidak, heheheh, yang jelas aku membayangkan pedang di tanganku menembus langit, dan ku tebaskan pada jin yang membawa kabur Aisyah, dan.

“Ampun” terdengar jin lain.
“Siapa?”.
“Kami yang membawa Aisyah”.
“Sekarang dia dimana?”.
“Sekarang dia di penjara di sangkar burung”.

Perlu diketahui, Aisyah itu berbentuk asli burung merpati berwarna putih.

“Ayo bebaskan”.
“Tak bisa”.
“Kenapa? Apa kamu tak takut denganku?”.
“Ya kami semua takut”.
“Kenapa tak mau membebaskan?”.
“Kami di ancam”.
“Sama siapa?”.
“Sama Sengkuni, kalau kami tak menangkap Aisyah dan membebaskannya, kami akan di siksa”.
“Takutan mana sama Sengkuni, apa denganku?”.
“Takut denganmu”.
“Nah bebaskan, apa kamu ku penggal kepalamu?”.
“Jangan, jangan, jangan kami di bunuh”.
“Nah sekarang bawa kesini”.
“Kami tak bisa membuka sangkar burungnya, karena di kunci dengan ilmu”.
“Ini pegang pedangku, dan tebas sangkar burungnya” ku berikan pedangku padanya.
“Aduh berat sekali”.
“Sudah tebas, sini ku bantu tenaga”.

Lalu dia melakukan gerakan menebas.

“Pak kyai, saya bebas” suara Aisyah.
“Ampun, kami ingin menjadi murid kyai” terdengar suara jin yang tadi.
“Iya, kalian sudah Islam?” tanyaku.
“Belum”.
“Ayo tirukan aku membaca dua kalimat sahadat”.
“Iya”.

Lalu dia ku ajari membaca dua kalimat sahadat, dan setelah itu ku suruh mandi sebagai tanda masuk Islam.

“Pak kyai ada jin lagi yang membawa kerangkeng ingin menangkapku”.
“Wah benar-benar keterlaluan, ada di mana nduk?”.
“Itu pak kyai ada di bawah pohon mangga”.

Segera ku bentuk bola api di tangan dan ku hantamkan ke arah jin.

“Wah meledak pak kyai”.
“Apanya yang meledak nduk?”.
“Ya kerangkengnya pak kyai, tapi jinnya kabur”.
“Wah gak ketangkap”.

Saat itu aku belum paham, kalau jin kabur, aku tak bisa menangkapnya, seiring perkembangan waktu, dan sampai sekarang, setelah berjalannya waktu, ternyata jin langit, atau jin di mana saja bisa ku tarik dengan tanganku, subhanallah, maha besar ilmu dari Allah, benar memang semakin kita banyak tahu, maka akan makin banyak yang belum kita tahu, dan haus akan ilmu, makin tak terbendung, ingin terus nambah saja ilmu.

Apalagi akhir-akhir ini, makin banyak kejadian ku alami, beruntun dan serasa berat menanggungnya, makin aku sadar kalau itu semua adalah cara Allah menggemblengku untuk menjadi orang yang sanggup memegang amanah yang dibebankan ke pundakku, setelah tahu itu, segala ujian itu malah serasa ringan, dan malah ketagihan ingin di-uji dan di-uji, jika mengingat anugerah yang diberikan padaku, maka segala ujian itu tak memberatkan sama sekali, pantesan guruku begitu senangnya menerima ujian, dan tak mau menolaknya sama sekali.

Yang ku rasakan manfaat dari ujian yang bertubi-tubi yang ku terima itu adalah, para guru besar, seperti syaikh Abdul Qodir Jailani RA, syaikh Nawawi, syaikh Abdul Karim Tanahara, dan ahli silsilah TQNS semua hadir ketika ada pengajian thoreqoh di rumahku, dan malaikat yang hadir berlapis-lapis, sampai tembus langit, berbaris, malah sering ketangkap kamera yang memotret, dan yang hadir dari dunia jin juga sampai memenuhi semua tempat, yang aneh malah yang dari manusia jarang ada yang ikut. Tetangga saja jarang ada yang ikut, ya biarkan saja. Sebenarnya aku sendiri juga tak tahu kalau mereka ikut, tahuku di beri tahu Aisyah, biasanya Aisyah akan memberitahu siapa saja yang hadir di pengajian.

“Kyai, wah Aisyah tak berani ikut di dalam majelis kyai”.
“Kenapa nduk?”.
“Aisyah silau”.
“Silau kenapa nduk?”
“Di samping kanan kiri kyai, dari syaikh Abdul Qodir, syaikh Abdul Karim, syaikh Tolkhah, syaikh Nawawi, syaikh saya tak tahu lagi kyai, banyak sekali semua hadir, dan yang sering hadir syaikh Magrobi dengan anaknya”.
“Siapa syaikh Maghrobi?”.
“Itu kyai yang tinggal di Gresik”.
“Apa mereka dari bangsa jin?”.
“Bukan kyai, mereka dari roh, wah silau sekali kyai, belum lagi para malaikat yang hadir, sampai tembus langit tujuh berbaris”.
“Apa benar nduk?”.
“Ya benar lah kyai, masa Aisyah bohong, nanti masuk neraka, juga kuwalat kalau bohong sama guru, Aisyah siap di perintah kyai, Aisyah siap mati untuk kyai”.

Aku jadi terharu, mendengar ucapan Aisyah.

“Kyai”.
“Ada apa nduk?”.
“Anu anaknya syaikh Magrobi, cantik sekali”.
“Cantik mana sama Aisyah?”.
“Wah cantik dia kyai, pakaiannya hijau, kerudungnya hijau, wajahnya putih seperti susu, dan hidungnya mancung”.
“Coba tanya dia, apa mau jadi istri kyai?”.

Aisyah terdiam.

“Ah kyai, la bu nyai mau di kemanakan?”.
“Ya kan boleh saja punya istri 2, 3, 4”.
“Iya deh Aisyah tanyakan”.

Sebentar dia diam.

“Kyai, dia katanya masih mau sama abinya, katanya kalau mau melamarnya, di minta sama abinya”.
“Iya deh nanti kyai minta sama abinya”.
“Dia malu kyai”.
“Ya biar, dia sendiri yang nyuruh kyai minta sama abinya”.
“Eh dia kabur, malu heheheh, lucu manusia, heheheh”.

Pagi-pagi habis hujan gerimis, serasa malas sekali mau tidur, padahal semalaman belum tidur, Aisyah memanggil.

“Kyai”.
“Ada apa nduk” kataku.
“Ada yang mencari kyai”.
“Di mana?”.
“Di sumur sana”.
“Mau apa, coba tanya nduk siapa dia, mau apa?”.
“Dia bernama syaih Tolkhah dari Kalisapu Cirebon”.
“Syaikh Tolkhah, gurunya Syaikh Mubarok bin Nur Muhammad?”.
“Iya kyai”.
“Mau apa dia di situ”.
“Dia bilang ingin memberi ilmu pada kyai”.
“Oh ya kyai siap”.
“Kyai” panggil Aisyah, biasa dia kalau omong sambil matanya kesana kesini.
“Ada apa nduk”.
“Tadi syaikh Tolkhah mengisi sumur”.
“Mengisi dengan apa nduk”.
“Di isi karomah kyai, air sumurnya jadi bergolak”.
“Oh ya ndak apa-apa, ini kyai sudah siap”.
“Iya syaikh Tolkhah sudah ada di belakang kyai”.

Ku rasakan tangan dingin, menempel di punggungku, dan aliran energi masuk ke tubuhku, tubuhku serasa panas. Dan pengisian selesai.

“Kyai, syaikh Tolkhah berpesan supaya ilmu yang diberikan di pakai berjuang di jalan Allah. Semua guru akan mendukung kyai di belakang”.
“Iya katakan pada syaikh Tolkhah, kalau kyai insya Allah siap lahir batin memperjuangkan dan insya Allah menjalankan amanah yang diberikan sekuatnya”.
“Iya kyai, syaikh Tolkhah akan kembali, kyai di minta mencium tangannya”.

Aku segera melakukan seperti mencium tangan, ya memang repot memang kalau mata batinku tertutup. Aku lagi makan siang.

“Kyai, ada syaikh Abdul Qodir Jailani”.
“Mana?”.
“Itu di belakang kyai, wah saya tak berani menatap kyai”.
“Kenapa?”.
“Silau sekali”.
“Salam ta’dzim kyai, sampaikan pada syaikh Abdul Qodir RA”.
“Ya kyai, beliau menjawab salam dan tersenyum ke kyai”.
“Kyai dia memberi ilmu ke Aisyah dan ke kyai”.
“Ilmu apa nduk?”.
“Ilmu untuk menarik jin dari jarak jauh, kalau jinnya fasik, kata beliau, suruh di remas saja, jadi bubuk, nanti jinnya akan mati”.
“Iya nduk kyai siap menjalankan”.
“Kyai, syaikh Abdul Qodir mau membuka mata batin kyai”.
“Iya kyai siap, dan sami’na wa ato’na”.

Serasa di dadaku ada yang bergerak, serasa dingin, beberapa menit berlalu.

“Kyai, syaikh Abdul Qodir mau pergi, kyai di minta mencium tangannya”.
“Kok aku belum terlihat jelas alam gaib?”.
“Kata syaikh Abdul Qodir, nanti bisa dipakainya, 4 hari kemudian”.
“Oh ya, ya, katakan, kyai mengucapkan terima kasih”.

Aku segera melakukan seperti mencium tangan beliau yang mulia. Hening, aku dan Aisyah diam lalu Aisyah nyeletuk kembali.

“Kyai, ada yang datang ah Aisyah pergi saja”.
“Kenapa kok pergi?”.
“Silau pak kyai”.
“Sudah di sini saja, siapa yang datang?”.
“Bertiga kyai”.
“Siapa?”.
“Ada Raden Rohmad Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri, sekarang mereka ada di depan kyai semua”.

Aku segera menyalami mereka bertiga.

“Ada apa nduk, tanya keperluan mereka”.
“Mereka mau memberi ilmu pada kyai, mereka mengatakan kyai untuk siap menerima ilmu”.

Aku segera siap, dan serasa aliran anergi bergulung-gulung memasuki tubuhku, dan beberpa menit kemudian, aliran energi menggumpal dalam tubuhku, berputar-putar.

“Kyai, kata Kanjeng Sunan Ampel, para Wali Songo, nitip salam pada kyai, agar kyai meneruskan perjuangan menegakkan kebenaran, dan bersikap tegas, dan yakin akan pertolongan Allah”.
“Insya Allah kyai siap”.
“Sudah mereka mau pamit”.

Aku dan Aisyah terdiam mengantar kepergian ketiga Wali Songo, tapi kemudian Aisyah ngomong lagi, tapi sambil menjauh dariku, sehingga aku tak jelas dengan pembicaraannya.

loading...

“Kenapa nduk?”.
“Aisyah takut kyai”.
“Takut kenapa? Apa ada jin jahat?”.
“Bukan kyai, tapi yang hadir sekarang, silau sekali, dan Aisyah takut sekali”.
“Yang datang bagaimana dia nduk?”.
“Dia tinggi sekali, sampai kepalanya sampai atas”.
“Dari golongan jin?”.
“Bukan kyai”.
“Lalu?”.
“Dia nabi”.
“Nabi, nabi siapa?”.
“Pakaiannya hijau tua, juga memakai sorban besar hijau tua, dia mengatakan beliau nabi Khaidir, beliau uluk salam kepada kyai”.
“Waalaikum salam. Tanyakan apa keperluan beliau?”.
“Beliau ingin memberi ilmu ke kyai, tapi kata beliau, ini sekuatnya kyai saja menerima, nanti di tambah lagi, dan beliau menyuruh agar kyai siap”.

Aku segera siap, dan aliran panas dingin berpadu memenuhi punggungku, mengalir deras seperti banjir dalam seluruh tubuhku, dan pengisian selesai.

“Kyai, beliau berpesan agar ilmu yang diberikan di pakai seefektif mungkin, gunakan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan menumpas kebatilan”.
“Insya Allah”.
“Beliau berpesan, dzikirnya kyai lebih di perbanyak lagi, agar rohani kyai kuat menerima ilmu dari para wali dan nabi yang ingin menitipkan amalnya pada kyai”.
“Insya Allah”.
“Beliau mau pamit, dan Aisyah diperintah untuk mendampingi kyai”.
“Ya”.

Aku segera melakukan salam takdzim kepada nabi Khaidir AS. Nyai Ratu, kakaknya Aisyah, sudah selesai puasa, dan ingin ku perintahkan untuk mendatangi Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan. Maksudku kalau mau, mau ku ajak masuk Islam, sebagaimana aku mengislamkan Dewi Lanjar. Nyai Ratu sudah siap berangkat, tinggal menunggu perintah dariku. Aku sedang berbicara dengan Aisyah, lalu cuci tangan ke dapur, kok aku merasa ada jin fasik yang datang, apa mungkin Nyai Roro Kidul, jin fasik dan jin yang baik itu beda, walau mata batinku tertutup, tapi ketajaman indra perasaku tak terpengaruh, jadi siapa yang datang, jin benar atau bukan tetap ku rasakan kehadirannya.

Jika itu jin fasik, maka akan serasa menebal amat tebal, bagian arah tubuh yang menghadap ke jin, tapi jika jinnya baik, muslim yang taat, maka hanya ada rasa tahu kalau ada yang datang, tapi tak tahu dan tak melihat siapa yang datang. Kali ini yang ku rasakan, rasa tebal di kepala sangat tebal, perkiraanku adalah jin fasik, apa mungkin Nyai Roro Kidul. Sementara Aisyah sudah memangil-manggil, kyai ada yang datang, dari laut selatan. Dan sudah masuk ke tubuh Aisyah.

“Siapa? Apa Nyai Roro Kidul?” tanyaku lumayan tegang.

Dia melihatkan matanya kesana kesini, meneliti seluruh rumahku.

“Ini rumah siapa?” suaranya seperti anak kecil.
“Ini rumahku” jawabku.
“Kamu siapa?”.
“Aku orang biasa, kamu sendiri siapa?”.
“Aku anaknya Nyai Roro Kidul”.
“Kok datang ke sini?”.
“Ya karena ada yang membicarakan ibuku, maka aku ingin tahu siapa, ternyata ada di sini, dan aku terbawa sampai kesini”.
“Ibumu yang jadi ratu lautan selatan kan?” tanyaku.
“Iya, kenapa?”.
“Agamanya apa?”.
“Hindu, kenapa?”.
“Apa dia mau masuk Islam?”.
“Tak akan mau”.
“Kenapa?”.
“Karena kami benci dengan orang Islam”.
“Benci bagaimana?”.
“Orang Islam sering membuat kerusakan”.
“Kerusakan bagaimana?”.

“Ya mereka sering merusak laut, sering meminta kekayaan”.
“Jangan menuduh apa yang dilakukan segelintir orang, lantas menuduh yang lain sama saja”.
“Ah kenyataannya begitu”.
“Ada pencuri yang dari kampung A, apa semua kampung A adalah pencuri?”.
“Aku tak perduli, ibu selalu mengatakan padaku kalau orang Islam itu jahat”.
“Bisa kamu panggil ibumu kesini?”.
“Bisa”.

Sebentar dengan hitungan sepersekian detik, Nyai Roro Kidul sudah datang dan masuk ke tubuh mediator.

“Ada apa kau memanggilku?”.
“Aku ingin nyai mau masuk Islam”.
“Tak mau, aku tahu kau siapa, hm ya aku tahu sekali kamu siapa, kamu murid kyai Cilik”.
“Setelah tahu diriku, apa masih tak mau masuk Islam?”.
“Hehehe, aku tak mau”.
“Apa mau coba adu kesaktian denganku”.
“Ya, kau akan ku hancurkan” katanya dengan mendengus marah, dan mulai melakukan jurus menyerang.

Berbagai macam penggambaran Nyai Roro Kidul, mimik yang sering ku baca di cerita-cerita sungguh amat menakutkan, juga banyak di bahas di televisi dan media lain, selalu berbau mistik dan serba menakutkan, itu membuatku ingin tahu lebih banyak.

“Tunggu dulu, kenapa buru-buru menyerang?”.
“Hee, eh, apa lagi?”.
“Apa sampean ini yang benar-benar menguasai samudera yang terkenal itu?” tanyaku berusaha tenang. Kayak orang lagi duduk jagong, menghabiskan cemilan jagung goreng.
“Hiya” jawabnya sambil tangannya masih bersiap menyerang, dan yang kiri menekuk di dada.

Gak tahu jurus apa yang di pakai, tapi ku rasa hebat juga dia, biasanya jin jika bertatap muka denganku, saling menatap mata pasti tak kuat, tak tahu juga apa yang di mataku, kata Aisyah sih mataku kalau memandang seringnya mengeluarkan percikan api, aku juga gak tahu, kali saja Aisyah yang ngarang.

“Apa sampean benar-benar tak mau ku Islamkan?”.
“Tak mau, saya sudah bersumpah untuk tak masuk Islam”.
“Sumpah sama siapa?”.
“Dengan yang memberi ilmu padaku, ah tak usah banyak tanya”.
“Lo kan biar kita saling tahu”.
“Pokoknya aku tak mau di Islamkan, orang Islam semua jahat, jelek perangainya”.
“Jelek bagaimana?”.
“Mereka sering meminta padaku yang tidak-tidak, dan sikapnya hanya merusak samudra saja”.
“Lhoh kok begitu?”.
“Ya”.
“Berarti kata gampangnya nyai tak mau ku Islamkan?”.
“Ya”.
“Jadi kita adu kekuatan”.
“Ya”.

Kami pun adu kekuatan, dan berkali-kali kami saling serang, kadang aku keluarkan cambuk api, ku serang bertubi-tubi, awal serangan dia tergetar, tapi kedua, ketiga dia sudah mempan, ku ganti dengan pedang, juga pertama kali dia mampu ku lukai, tapi kedua kali dan ketiga dia kebal, berulang kali benturan energi, aku makin semangat, rasanya langka bisa bertarung dengan Ratu Kidul, sekalian nyoba ilmuku, yang sebenarnya aku juga gak tahu, aku ini punya ilmu atau bukan, yang jelas keringatan juga, bertarung dengan berbagai ilmu ku ganti untuk menggempurnya, dan berulang kali dia jatuh terhantam pukulanku, jadinya kayak latihan saja, soalnya Nyai Roro Kidul tak pernah sampai jika menyerangku, selalu saja dapat ku gempur duluan, sampai dia ngos-ngosan, mungkin dipikirnya, kok ilmuku gak habis-habis, banyak banget koleksi ilmuku, padahal itu hanya khayalku saja, ilmu yang ku ciptakan di khayalku. Dia terdiam, ngos-ngosan tak berdaya, lalu berusaha memperbaiki duduknya, dan menyembah padaku.

“Aku menyerah, dan takluk, dan siap mengabdi padamu” katanya berubah lembut, tak seperti pertama kali datang.
“Aku ini tak butuh pengabdian, aku hanya ingin nyai masuk Islam, jadi mengabdi padaku mau, tapi kalau masuk Islam tak mau?”.
“Ya, aku tak bisa masuk Islam”.
“Kalau tak mau masuk Islam, ya sudah kita bertarung lagi”.
“Tidak, aku menyerah kalah, kamu sakti sekali”.
“Hehehe, aku tak sakti, aku biasa saja”.
“Tidak, selama ini tak ada yang bisa mengalahkanku, hanya kamu yang bisa mengalahkanku”.
“Itu kebetulan saja, bagaimana ini, tak mau masuk Islam?”.
“Tidak, sekali tidak ya tidak, aku tak mau masuk Islam”.
“Kalau begitu kamu mati saja dan ku masukkan ke neraka, apa kamu tak takut”.
“Hehehe, silahkan kalau bisa membunuhku dan memasukanku ke neraka”.
“Baik kamu yang minta”.

Segera saja ku berdoa, dan ku minta pada Allah diberi kekuatannya malaikat maut ke tanganku, di tanganku serasa mulai memberat, tanda kekuatan malaikat maut sudah terkumpul di tangan, rasanya udara juga serasa pekat, dan padat, sepertinya tanganku mengeluarkan cahaya hitam menggidikkan, segera saja ku arahkan energi menyerang ke kepalanya, ku tangkap rohnya, dan ku cabut, ya hanya khayal saja, jangan dikira ini serius, tapi efeknya nyata, roh Nyai Roro Kidul lepas, dan serasa ada di tanganku, rasanya dingin, menggeliat, dan segera saja ku lempar ke neraka jahanam. Suasana sunyi, mediator sadar, tapi segera kemasukan lagi.

“Siapa?”.
“Aku suami Nyai Roro Kidul, dia telah kamu masukkan ke neraka”.
“Iya”.
“Kamu harus mengadu nyawa denganku”.

Dia langsung menyerangku, tanpa pikir panjang karena kekuatan malaikat maut masih terpegang di tanganku, maka segera saja ku tarik nyawanya dan ku lempar ke neraka. Kembali suasana tenang, tapi kembali, datang jin lain yang masuk.

“Siapa?”.
“Aku orang tuanya Nyai Roro Kidul”.
“Lalu mau apa?”.
“Kau telah melemparkan nyai Roro Kidul ke neraka. Aku mau menuntut balas”.
“Silahkan” kataku, dan siap-siap mencabut nyawanya.

Kalau dia menyerang, dan memang dia menyerang, aku tak mau banyak bahasan, juga bertarung dengan sia-sia, maka ku cabut nyawanya dan ku lempar ke neraka. Mediator kemasukan lagi.

“Kamu nakal, kenapa ayah ibuku, dimasukkan ke neraka?”.
“Oh kamu anaknya yang tadi?”.
“Hu-huu, ya aku anaknya tadi, huu aku sekarang sendirian, aku dengan siapa? Ayah ibu, kamu masukkan ke neraka, aku ikut”.
“Hah, kamu mau ikut? Mereka disana di siksa”.
“Di siksa bagaimana?”.
“Kamu ingin melihat?”.
“Iya”.

Lalu ku buka penglihatannya.

“Ibu, ayah, kasihan mereka di bakar, di cambuki, sampai hancur”.
“Bagaimana? Apa masih mau ikut?”.
“Tidak, tapi aku sendirian, aku tak punya ayah ibu”.
“Ya ayah ibumu akan dikeluarkan dari neraka, kalau mereka bertaubat, dan mau masuk agama Islam”.
“Kau jahat, orang Islam jahat”.
“Aku melakukan ini, agar ayah ibumu nanti bahagia, masuk surga, bagaimana kamu mengatakan aku jahat?”.
“Pokoknya kamu jahat”.
“Bagaimana, kamu mau masuk Islam”.
“Tak mau, karena ayah ibuku mengatakan kalau orang Islam jahat”.
“He dengar, kamu masuk Islam, nanti berdoa pada Allah, agar ibumu, diberi hidayah sama Allah, agar mau masuk Islam, nanti beliau di ambil dari neraka”.
“Apa bisa?”.
“Ya bisa”.
“Kalau begitu saya mau masuk Islam”.
“Benar”.

Ku minta pada malaikat maut, melihat hatinya, jika hatinya mau masuk Islam, ku minta untuk tak di cabut nyawanya, tapi kalau tidak mau masuk Islam, ku pinta mencabut nyawanya. Dan malaikat maut pun mencabut nyawanya, tanda kalau dia hanya pura-pura masuk Islam. Setelah nyawa anak Nyai Roro Kidul di cabut dan di bawa ke neraka, maka silih berganti berdatangan prajurit Nyai Roro Kidul menyerangku. Aku sudah lelah, segala urusan aku serahkan pada malaikat maut yang melakukan perlawanan, sementara syaikh Abdul Karim di sebelah kananku dan kyai guruku di sebelah kiriku, dalam wujud sukma.

Alhamdulillah semua lancar, walau anak buah Nyai Roro Kidul, masih banyak yang mau menyerang, dari pada aku di gempur duluan, maka ku kirim malaikat untuk menggempur kerajaan samudra. Setelah sepersekian menit berlalu, aku berpikir, wah bisa jadi kerajaan sana tak ada pemimpinnya, bagaimana ini.

“Aisyah”.
“Ya kyai, Aisyah takut, karena pak kyai menyeramkan, galak sekali”.
“Aisyah tahu tidak dengan nyai Ratu Pantai Selatan”.
“Tahu pak kyai, kenapa pak kyai?”.
“Dia Islam kan?”.
“Iya dia Islam pak kyai”.
“Ku panggil ya”.
“Ya kyai, terserah bagaimana kyai saja lah”.

Maka ku panggil nyai Ratu Pantai Selatan, dan tak sampai 1 menit dia sudah datang. Lagak lugunya sangat halus, dia menghormat padaku dengan menaruh tangan di dada, dan wajah menunduk, serta mengucap salam.

“Ada perlu apa, pak kyai memanggil saya?”.
“Kenal siapa saya”.
“Ya saya tahu, siapa pak kyai”.
“Sampean sudah Islam kan?”.
“Alhamdulillah sudah pak kyai, kenapa?”.
“Dulu yang mengislamkanmu siapa?”.
“Itu pak kyai, yang mengislamkanku, wali songo”.
“Sunan Kali Jaga?”.
“Iya pak kyai”.
“Ini begini nyai ratu, sekarang samudra selatan, kan tak ada yang menjadi ratu. Nah nyai ini saya serahi menjadi pemimpin disana mau tidak?”.
“Saya siap menjalankan”.
“Apa tak ingin jadi muridku?”.
“Mau kyai, kalau kyai sudi mengangkat hamba menjadi murid, hamba akan sangat senang”.
“Baiklah, kalau begitu, ini ku beri cambuk untuk menjaga, menjadi ratu di laut” dia ku suruh menerima cambuk yang ku berikan.
“Kyai saya mau mohon diri dulu, sekali lagi terima kasih telah mengangkatku menjadi murid kyai”.
“Nanti belajar cara dzikirnya, nanti minta ajar pada mbakyunya Aisyah”.
“Iya kyai, saya mohon diri dulu” nyai ratu pun keluar.

Esoknya aku di keroyok, dukunnya Sengkuni, dan anak buahnya Nyai Roro Kidul, pasukannya ada 1 juta jin. Bersama roh manusia yang menyembah Nyai Roro Kidul. Aku jadi harus menghadapi 3 kelompok, yang ketiganya ingin menggencetku dengan serangan, serasa merinding, tapi aku harus tabah dan kuat, Alhamdulillah, guru silsilah dari mulai syaikh Abdul Qodir, sampai pada guruku, semua dalam keadaan siaga. Semua mendampingiku, 1 juta jin anak buahnya Nyai Roro Kidul sekaligus datang, masuk semua ke mediator. Mereka menatapku semua, dengan tatapan mata benci dan dendam.

“Dari pasukannya Nyai Roro Kidul?” tanyaku.
“Iya, kami akan menyerang semuanya”.
“Apa masih ada yang belum datang?”.
“Ada para arwah dukun yang menyembah nyai, sekarang masih di atas”.
“Suruh sekalian masuk, sekalian mengeroyokku” kataku.

Maka masuk ada sekitar 600 roh para dukun yang menyembah Nyai Roro Kidul. Suasana menjadi tegang, dan udara juga di sekitarku juga mulai memadat, aku sengaja ajak mediator mojok, agar serangan tak mengenai orang lain.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 79.

Whatsapp: 0852 1406 0632