Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 78.

“Siapa ini?” tanyaku.
“Kami para dukun yang mengabdi pada nyai roro kidul” jawab roh para dukun.
“Dari mana saja?”.
“Kami dari mana-mana, kami ada 600 orang”.
“Kalian berani melawan ini yang bersamaku?”.

Mereka melihat pada yang di sampingku, ada syaikh Abdul Qodir Jailani RA, syaikh Nawawi, syaikh Abdul Karim, syaikh Tolkhah, dan kyai Cilik, dalam bentuk sukma, dan mereka silau, sambil menyembunyikan wajahnya.

“Aku tak berani, tapi kami berani melawanmu, apa kamu berani melawan kami semua?”.
“Boleh, ayo aku di lawan”.

Para prajurit jin, sebanyak 1 juta dan para arwah dukun segera mempersiapkan diri menyerang, aku tak mau repot, segera ku panggil malaikat Malik penjaga neraka jahanam dan malaikat maut untuk membantuku, beratus-ratus juta yang datang, semua siap sedia (siapa saja boleh tak percaya dengan cerita ini, mungkin lebih baik kalau yang tak percaya, bisa memediumisasi jin, ke tubuh manusia, dan ditanyakan apa ceritaku soal melempar nyai Roro Kidul ke neraka dan apa yang ku tulis ini benar atau tidak, sebab aku sendiri juga tak melihat, hehehe).

Mungkin akan timbul pertanyaan kok tahu yang datang malaikat beratus juta, itu namanya pertanyaan bodoh, kan aku yang minta pada Allah, supaya didatangkan malaikat beratus juta malaikat, dan siapa saja boleh meminta pada Allah, semilyar malaikat juga boleh ndak ada yang melarang. Para malaikat yang datang ku perintahkan untuk mencambuk pada pasukan jinnya nyai Roro Kidul dan ku suruh mencambuki para arwah dukun yang akan menyerangku, dan mediator pun menggeliat kesana kemari, aku tinggal duduk santai.

“Bagaimana, menyerah tidak?” tanyaku di antara geliat mereka karena kena cambukan.
“Hah, kau curang, siapa mereka?”.
“Curang bagaimana, kalian satu pasukan, kan aku juga punya pasukan malaikat”.
“Kami tak akan menyerah”.
“Cabut nyawanya dan lempar ke neraka yang tak mau menyerah, dan mau masuk Islam” kataku pada malaikat, dan semua segera diboyong ke neraka oleh malaikat Malik.

Pertarungan hanya sebentar hampir hanya sekitar 5 menit atau 10 menit, tapi belum lama berselang, datang lagi pasukan dari kirimannya Sengkuni, walau tak banyak hanya beberapa ribu jin, yang berupa kera, mereka semua tak bisa bicara. Hanya aa-uu, aa-uu, dan menggaruk-garuk, jin di ambil dari tempat Situ di daerah Bandung, dan semua tak berani melawanku, ku suruh masuk Islam juga tak mau, maka dari pada di belakang hari merepotkan, semuanya ku minta malaikat maut yang masih menunggu perintah, ku minta mencabut nyawanya.

Akhir-akhir ini kejadian yang ku alami, seperti roda kereta api yang berkejaran, susul menyusul, waktu serasa teramat cepat dan kejadian di dalamnya teramat banyak, seperti aku sendiri masuk ke dimensi waktu yang bukan manusia, cobaan beruntun, tindih menindih, dan kadang sepertinya aku ini amat sendirian, sangat sendiri, harus menghadapi sendirian, semua serasa menjauh dan meninggalkanku hanya bisa berharap pada Allah, jika Allah juga tak memperdulikanku, maka jadinya apa dengan diriku, aku seperti panglima tanpa tentara, tanpa senjata, tanpa apa-apa yang dijadikan kekuatan dalam berperang, hanya Allah dan Allah tempat bersandar, di keroyok dari mana-mana, hm, rasanya tak mungkin akan menang, kecuali Allah menolongku, dan aku yakin Allah menolongku.

Cuma pertolongannya bagaimana itu aku yang tak tahu, tapi sekalipun tanpa pasukan dan tanpa senjata, aku akan terus maju ke medan laga, syukur tak apa-apa mati sahid, semua orang hidup juga akan mati, mati sebagai orang yang gugur di medan laga, selalu siap insya Allah. Kembali lagi datang sisa-sisa pasukan nyai Roro Kidul, segera ku tangkap dan aku sudah tak mau banyak tarung-tarungan yang tak ada perlunya, ada seribu yang sedang melayang di udara, ku tangkap saja semua, dan ku masukkan botol, siapa tahu ada yang ingin di beri oleh-oleh jin.

Sementara itu juga, serangan dari Sengkuni juga masih terus menggebu, lebih sering lagi kepada anak istriku, juga pada murid internetku yang ketahuan membantuku, ada murid internetku yang takut karena serangan itu ada yang tetap bertahan, memang iman sedang diuji, ketahanan sedang dipertaruhkan, maju terus atau berhenti, memang banyak juga yang memilih berhenti, jadi ingat kata guruku, “sama muridku atau muridmu, nanti akan disaring oleh waktu dan kejadian, orang-orang pilihan akan jadi orang pilihan, akan maju menjadi orang yang utama, yang gagal memang sebaiknya mundur dari sekarang, dari awal, dari pada nanti hanya akan menjadi beban di perjalanan” terngiang selalu pesan itu.

Sengkuni itu, kyaiku juga selalu memanggilnya setan, walau beliau kadang menyebutnya dengan bercanda, tapi berulang kali, dan kadang dengan kata mendadak “Setan Sengkuni” seperti kata sumpahan, ya aku tak tahu apa yang di ucapkan beliau, itu dari dulu, saat beliau masih di santet, dan aku yang mengobati di sebelah beliau, beliau selalu menyumpahi Sengkuni, padahal orangnya tak ada, tak terpikir sama sekali apa maksudnya, padahal itu tahun 2011, baru sekarang aku pahami maksudnya, kyai di santet, yang nyantet Sengkuni, sementara Sengkuni itu tak ada, dan juga sering hadir di depan kyai, bagaimana perasaan orang yang tahu jelas siapa yang nyantet, karena terbuka hijab penglihatannya, sementara yang nyantet itu selalu hadir di depannya, dengan pura-pura baik, kalau aku tak kemplang kepalanya, tapi kyai tetap tersenyum, bahkan selalu bersikap baik, seperti tak terjadi apa-apa, bahkan kalau aku mengatakan: ini yang berbuat Sengkuni kyai, kyai jawab, bukan, bukan Sengkuni, tapi setan yang berupa Sengkuni, seakan mau membuat perumpamaan, dengan kata yang membingungkan, kalau orang yang tak paham akan mengatakan yang melakukan adalah orang lain.

Kalau berhadapan dengan guruku, dan membahas sesuatu kadang beliau melarang yang jelas-jelas itu menurutku sangat menguntungkan, tapi malah beliau melarang, dan memang kemudian di akhirnya, ketahuan itu adalah hal yang merugikanku di suatu saat nanti, kita seperti berjalan ke depan dengan orang yang paham akan ada jalan begini dan begitu yang kita lewati, dan kita di tuntun agar selamat sampai tujuan, di suruh belok kanan dan kiri, sementara tanpa penjelasan kenapa ke kanan kenapa ke kiri? Jadi seringnya sangat membingungkan, paling baik adalah berlagak seperti orang tidur, dan menjadi penumpang yang yakin akan di bawa kemana oleh sopir, pasti sopir tak akan memasukan kendaraan ke jurang, karena itu sama saja memasukkan diri sopirnya ke dalam jurang.

“Kyai ada yang mau menangkapku lagi kyai” kata Aisyah di satu kesempatan, dan saat Sengkuni makin getol untuk menyerangku, biasanya di waktu-waktu akan ada dzikir di majelisku. Ku tarik saja jin yang mau menangkap Aisyah dan ku mediumisasi.
“Apa maksudmu mau menangkap Aisyah, apa maksudnya Sengkuni?” tanyaku pada jin yang sudah ku masukkan ke tubuh orang.
“Ya agar dia tak membantumu” jawab jin dalam tubuh mediator.
“Aneh, aku tak di bantu dia juga tak apa-apa”.
“Tapi dia yang selalu membantumu, mengobati penyakit”.
“La apa urusannya dengan Sengkuni?”.
“Dia benci, kamu mengobati orang”.
“Benci bagaimana? Aku kan menolong orang yang minta tolong”.
“Apa urusanmu menolong orang?”.

“Ya menolong orang itu kan sifat orang muslim saling tolong menolong, mati saja tak akan berangkat ke kuburan menggali kuburan sendiri, tapi harus digalikan orang tanah, juga orang mati tak bisa berangkat ke kuburan sendiri, tapi harus di bawa dengan keranda, coba kalau gak ada yang membawa keranda, gak ada yang mau ngubur, kan membusuk di makan belatung, dan baunya kemana-mana”.
“Aku tak perduli, pokoknya kamu di larang menolong orang, dan aku di perintah menghalang-halangi”.
“Oh rupanya begitu, makanya kamu mau menangkap Aisyah dengan jaring yang kamu bawa dengan teman-temanmu itu?”.
“Iya”.
“Ya kalau begitu memang kamu harus mati saja”.
“Hehehe, apa kamu bisa membunuhku?”.
“Kenapa tak bisa?”.
“Halah ilmumu sekukuku”.
“Ya dengan ilmuku sekukuku, aku apa bisa atau tidak membunuhmu di lihat saja, kita buktikan saja”.

Ku keluarkan pedang gaib, dan ku ambil dari neraka jahanam, pedang yang dipakai anak buah malaikat Malik menyiksa di neraka jahanam, (orang yang memakai logika sebaiknya tak usah ikut baca, sebab yang kutulis ini daya hayal), setelah pedang kupegang dan kutusukkan ke perutnya, dia menjerit, dan ku tebaskan pada lehernya dia menjerit.
“Ampun, ampun, tobat, aku menyerah”.
“Menyerah benaran?”.
“Ya, aku menyerah, aku mau masuk Islam dan menjadi pengikutmu”.

Ku panggil malaikat maut untuk mencabut nyawanya jika jin ini bohong, dan tak mencabut nyawanya jika jin ini jujur dari hatinya mau masuk Islam. Tapi ternyata malaikat maut mencabut nyawanya, tapi sebelum mencabut nyawanya, ku minta malaikat maut mencabut nyawa jin sebanyak 450 ribu yang ada di tempat Sengkuni, dan dipersiapkan Sengkuni untuk menyerangku. Jin itu tidak bisa dipercaya 100%, jadi kita jangan begitu saja melepaskan kepercayaan padanya.

Sebab beberapa hari yang lalu, Aisyah tertipu mentah-mentah karena aku percaya dengan jin kirimannya Sengkuni yang ku tangkap, dia ku beri nama Abdul, karena seakan berniat baik, dan seakan mau menjadi pengikutku, malah seakan mau bersaksi atas apa yang dilakukan Sengkuni, Abdul termasuk tampan, dan dia berbentuk elang, dengan keluarga Aisyah juga sangat baik, dengan Latifah adiknya Aisyah dia juga baik dan suka membantu dan mengajari Latifah yang masih belajar terbang, karena sikapnya yang baik itu, sampai Aisyah jatuh hati pada Abdul yang seakan berbudi pekerti baik, Aisyah pun pacaran dengan Abdul, dan dia meminta ijin padaku menikah dengan Abdul, dan hari pernikahan pun sudah di rancang, di umpamakan di alam manusia itu undangan sudah di sebar.

Untungnya Allah Maha Adil, pernikahan masih seminggu lagi, hujan sangat deras, aneh, kenapa semua atap majelis bocor, dan majlis basah semua, heran juga aku, juga banyak genteng yang bergeser tak wajar, juga jalur air di sumpal. Aku heran ketika hujan deras naik ke genteng, karena di atas jalur air di sumpal pakai kertas semen yang disumpalkan kayak oleh manusia, kayaknya gak mungkin, sebab selama ini juga tak ada kebocoran, heran, aku turun.

“Aisyah siapa yang melakukan ini, yang menyumpal jalur air?” tanyaku pada Aisyah, dan Aisyah menangis.
”Lihat semua majelis banjir seperti ini, ini kalau pas hujan lagi ada dzikir bersama bukannya jamaah akan buyar? Kamu jangan menangis, siapa yang melakukan?”.
“Hu-huu, Abdul kyai, Abdul penghianat” jawab Aisyah sambil menangis.
“Jadi dia yang melakukan menyumbat saluran, dan membuat genteng pada longsor ke bawah?”.
“Iya kyai, ternyata dia hanya pura-pura baik, dan seakan baik sama Aisyah, padahal dia sebenarnya penghianat, ampun kyai, ampuni Aisyah”.
“Jadi dia selama ini pura-pura?”.
“Iya kyai, dia setiap hari laporan pada Sengkuni kejadian di sini, sehingga Sengkuni tahu keadaan di sini” jelas Aisyah sambil menangis.
“Dia menyumbat saluran itu atas perintahnya Sengkuni, agar kalau pas ada pengajian, pas ada hujan nanti pengajiannya bubar, karena bocor”.
“Sekarang dia di mana?”.
“Sekarang dia terbang, menjauh dari sini”.

Aku sudah marah, ku minta pada Allah kekuatan malaikat maut di tanganku, dan Abdul langsung ku tarik nyawanya dan ku lempar ke neraka jahanam.

“Ampuni Aisyah kyai, Aisyah menyusahkan kyai”.
“Sudah nduk tak apa-apa, itu bukan salah Aisyah”.

Sepeninggal Abdul, Aisyah beberapa hari dirundung murung, mungkin patah hati. Aku coba menghiburnya, dengan memenuhi permintaannya, dia ingin kambing dari surga, maka ku mintakan pada Allah kambing dari surga ada 3 (ingat ini hanya hayalan saja, jadi jangan diartikan yang sesungguhnya). Dia agak terhibur, tapi serangan dari Sengkuni ada saja, kadang merantai tangan Aisyah, sehingga tangannya tak bisa untuk mengobati orang, heran juga apa maunya orang itu, karena sering aku tak bisa menjaga Aisyah, maka Aisyah lantas ku beri cambuknya malaikat pemecah mendung, malaikat Khamlatul Barqi, malaikat pembawa petir, dan ku berikan Aisyah ku perintahkan kalau ada jin yang akan menangkapnya supaya di pukul saja dengan cambuknya, dan alhamdulillah, pengalaman demi pengalaman di dunia jin itu membuatku menemukan berbagai solusi, yang awalnya tak tau, kemudian jadi tau, Aisyah setelah punya senjata cambuk juga lebih aman, dia selalu mencambuk jin kirimannya Sengkuni yang mau mendekat, dan ingin menangkapnya.

Kenapa kok aku urusannya jin mulu, atau santet, kadang ada yang bertanya seperti itu, sebenarnya kalau orang pemikirannya luas, tentu tak akan bertanya, tapi tak semua orang yang memahami apa kandungan atau kenapa bisa begitu, mungkin bisa ku berikan beberapa alternatif jawaban. Seperti orang yang sakit gigi, ada gak orang yang bercita-cita sakit gigi? Kurasa tak ada, kecuali orang bodoh, yang bercita-cita sakit, walau cuma sakit gigi seumur hidup, orang yang waras akalnya akan berharap selalu sehat, lalu bagaimana kalau sakit gigi? Tentu yang di urusi ya gigi, bahkan dibawa ke dokter untuk di cabut paksa kalau gigi rewel, sakit terus.

Di santet, dikirimi jin, itu kan bukan kehendak saya, tapi kalau saya dikirimi santet ya jadi urusannya jadi ngurus santet, sebagaimana orang yang sakit gigi, tentu yang di urus sakit giginya, ya tak mungkin kalau orang sakit gigi malah yang dicabuti jari kakinya. Jawaban kedua kenapa kok yang di urusi jin mulu, mungkin ada yang membaca bukan orang Islam, jadi biar ku jelaskan sedikit dalam kitab kami orang Islam, orang Islam itu di perintah untuk mengikuti nabinya, menjadikan nabinya sebagai suri tauladan, contoh segala perbuatan baik. Dan dalam surat Al Qur’an nabi memberi contoh bagaimana nabi mengislamkan sekumpulan jin, jadi kita kalau bisa juga meniru nabi, bukan hanya mengaku-aku ahli sunah, yang paling menjalankan sunnah nabi tapi hanya ngaku-ngaku.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan” (QS. Al Jin: 1).
“(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami” (QS. Al Jin: 2).
“Dan bahwasannya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak” (QS. Al Jin: 3).
“Dan bahwasannya: orang yang kurang akal dari kami sebelumnya selalu mengatakan (kata) yang melampaui batas terhadap Allah” (QS. Al Jin: 4).
“Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah” (QS. Al Jin: 5).
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al Jin: 6).

Semoga kita bisa mengislamkan jin yang kafir, dan bisa mentauladani nabi Muhammad SAW, bukannya malah menyembah mereka, tapi mengajak mereka untuk melakukan kebaikan beramal sholeh, tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah. Jadi jin juga beribadah, sebagaimana manusia beribadah. Jin itu mendapat pahalanya sendiri, dan manusia itu mendapat pahalanya sendiri, tidak ada jin mencuri pahala manusia, atau sebaliknya, tak ada manusia mencuri pahala jin. Pahala itu akan hilang, dan di ambil orang lain, kalau kita ghibah, membicarakan keburukan orang lain, keburukan itu boleh dibicarakan yang bukan ghibah, sebagaimana Al Qur’an memberi contoh, di dalamnya ada membicarakan Fir’aun, Namrud, orang munafik, orang kafir, orang bani siroil, dan Al Qur’an malah memberi contoh, boleh membicarakan mereka, karena keburukan mereka itu melampaui batas.

Kembali ke topik cerita, di MTS Wali Songo, ada kerasukan lagi, heran juga awalnya, karena yang awalnya mengganggu MTS adalah jin yang sekelompok dengan Aisyah, tapi kenapa kok sudah ku bersihkan masih saja ada kerasukan, setelah ku selidiki lewat terawang yang ku transfer pada Aisyah, ternyata itu ulah dukunnya sendiri yang punya kepentingan dengan mengirimi siswa jin yang merasuk, nanti dia akan tampil mengobati, dengan harapan, banyak yang tau, jadi kalau ada apa-apa akan minta bantuan padanya, jadi kata gampangnya iklan, memang ada-ada saja hal seperti itu, ku biarkan saja berlalu, karena itu urusan sekolah, kalau mereka berjodoh dan ada kemauan mau datang ke tempatku ya ku tolong, kalau tidak, ya biarkan saja.

Ternyata gurunya datang juga walau tak bawa muridnya yang kerasukan, hanya ingin konsultasi, dan ku beri arahan, kalau ingin mengobatkan yang kerasukan sebaiknya dibawa saja menghadapku, dan diiyakan, tapi untuk meyakinkan, ku tarik jin yang ditaruh di sekolahan sebanyak 75 jin, yang semua diperintah dukun untuk merasuki siswa. Para jin ku tanya setelah ku tarik 1 jin pemimpinnya.

“Kenapa kamu merasuki siswa?” tanyaku setelah jin ku masukkan ke siswa. Dia diam saja. Cuma menunduk tak berani menatapku.
“Kenapa diam saja, apa mulutmu di kunci?”.

Dia manggut-manggut pertanda mulutnya di kunci agar tak buka suara. Lalu ku buka kunci yang mengunci mulut jin itu.

“Kenapa kamu merasuki siswa?” ku ulangi pertanyaanku.
“Saya di suruh”.
“Sama siapa?”.
“Sama dukun yang memerintahkan kami”.
“Siapa?”.

Dia diam.

“Tak mau ngaku, takut?”.
“Ya”.
“Takut mana denganku?”.

Dia mencoba menatapku tapi tak berani.

“Apa mencoba melawanku dulu, biar tahu kadar ilmu”.

Dia segera siaga, mau menyerangku. Aku langsung mencabut pedang gaib, dan ku arahkan ke lehernya, dia minta ampun.

“Ampun aku mau masuk Islam”.
“Benar mau masuk Islam?”.
“Ya”.
“Siapa dukun yang memerintahmu?”.
“Kami masing-masing di perintah sama dukun masing-masing, supaya merasuki siswa, ada yang karena dukunnya suka sama salah satu siswa, ada yang kepentingan agar perdukunannya laku”.
“Siapa saja nama dukunnya?”.

Lalu jin itu menyebut satu persatu nama dukun yang memerintah jin agar masuk ke siswa, guru yang hadir gak percaya dengan apa yang di dengarnya karena menurut mereka, para dukun itu malah yang selalu menolong kerasukan.

“Ah apa mungkin pak kyai, la mereka yang selalu menolong kalau ada kerasukan di sekolah kok” kata bu guru yang bertubuh pendek gemuk.
“Ya percaya atau tidak itu urusan bu guru sendiri, saya hanya menunjukkan yang benar”.
“Ya setengah tak percaya lah pak, soalnya mereka baik semua”.
“Ada berapa temanmu?” tanyaku pada jin yang ada di dalam tubuh mediator.
“Ada seratus”.
“Seratus ribu?”.
“Tidak hanya seratus saja”.
“Coba panggil kesini semua”.

Dia diam dalam memanggil temannya.

“Mereka tak mau datang”.
“Kenapa?”.
“Ya tak mau datang”.
“Apa tak takut denganku?”.
“Tidak”.
“Baik kalau begitu”.

Pedang di tanganku ku panjangkan sampai ke sekolah MTS yang berjarak 1 KM, dan ku tebas kepala jin yang ada, tiba-tiba ada yang datang dan langsung masuk ke mediator.

“Siapa kau, kenapa menyerang semua temanku, kenapa menebas kepala mereka dengan pedang?”.
“Aku orang biasa”.
“Hmmm heh” dia menyerangku, segera pedang ku tebaskan ke tubuhnya, sehingga badannya terbelah, dan ku ulang-ulang.
“Ampun, ampun”.
“Mau terus menyerangku?”.

Dia berusaha menyerang lagi, dan ku tebas sampai puluhan kali. Berulang-ulang seperti itu, maka sekalian ku bunuh. Kembali yang muncul jin yang pertama masuk, “sudah, Islamkan aku” katanya.

“Ajak temanmu yang lain”.
“Ah perduli dengan temanku, yang penting aku selamat, aku cari selamat saja sendiri”.
“Ya kalau begitu kamu ku bunuh saja”.
“Ya, ya, aku akan memanggil temanku” maka dia memanggil temannya.
“Bagaimana, apa ada yang mau melawanku?” tanyaku memastikan.
“Tidak, kami semua takluk dan minta di Islamkan”.

Lalu ku tuntun mereka semua masuk Islam, mengucapkan dua kalimat sahadat, setelah selesai, ku tanya.

“Ada berapa jin ini?”.
“Ada 75 jin, jawab mereka”.
“Loh kok 75 jin? Yang 25 di mana, katanya ada 100 jin?”.
“Yang 25 masih ada di dalam tubuhnya siswa, ikut pulang ke rumah siswa”.
“Oh begitu, ya, ya, sudah kalian keluar semua”.
“Baik kami mohon diri, dan kami minta maaf kalau kami mengganggu”.
“Ya sudah tak apa-apa.” mereka segera keluar dari tubuh mediator.

Hari itu selesai dengan lancar, membereskan jin yang masuk pada siswa, semoga ini jadi pelajaran bagi siapa saja yang membaca kisah ini, jadi misal ada kerasukan massal itu bisa saja hanya permainan dukun, sebab hal seperti itu sangat mudah, tak perlu punya ilmu tinggi juga bisa melakukan, misal memakai batu akik yang punya power, atau memakai keris yang di dalamnya ada jinnya yang lebih kuat. Jadi memasukan jin dalam pabrik atau sekolah, itu bisa di rekayasa, dan amat mudah. Semoga ini bisa menjadi pelajaran. Beberapa hari setelah kejadian di rumahku, ternyata masih ada kerasukan lagi, tapi kali ini ku dengar kabar di bawa kerumah sakit, ya jelas tak sembuh, ku biarkan saja, mungkin sekolah punya aturan sendiri, sampai akhirnya, karena tak sembuh dibawa lagi ke rumahku.dalam keadaan pingsan.

“Ini pak kyai ada kerasukan lagi” kata mbak Sun yang kebagian memboncengkan siswi.

Segera ku ambil semua, ternyata di dalam ada ratusan jin, untung dengan perkembangan waktu, metode yang ku miliki untuk mengambil jin dari tubuh seseorang tak seperti dulu lagi, yang harus mengambilnya satu demi satu, sekarang sekali tarik 50, sampai 100 jin sekaligus juga bisa. Dan segera anaknya sadar.

Lalu anak yang kedua dan ketiga. Pertama ku mediumisasi, dan ketahuan dari kata jin yang masuk bahwa yang memasukkan masih dukun yang sama. Ketika pengobatan selesai, dukunnya ternyata mengirim jin, mungkin di anggapnya aku ini sekelasnya, sehingga dia begitu semangat menyerangku, sekali ku tarik jinnya yang di pakai menyerang, setelah 3 kali, maka semua jinnya yang dia simpan ku kirim malaikat maut, jinnya ada 600 ribu lebih, semua ke perintahkan malaikat mau mencabutnya dengan ijin Allah, maka semua jinnya mati, seharusnya seseorang itu mengaca diri, eh beberapa hari ke depan dia masih berusaha menyerang dengan mengambil jin dari beberapa tempat, awalnya ku biarkan paling jin yang berbentuk macan yang dia kirim ku tangkap dan ku remas menjadi tepung, tapi dia masih mengirim juga, maka ku cabut ilmunya, dan dia berhenti, kalau masih juga dengan ijin Allah, ku mintakan saja malaikat maut mencabut nyawanya, orang seperti itu tak akan kapok kalau tak masuk neraka.

Aku selalu memberi tempo, tak asal serang dan hancurkan, sebab dukun santet sekalipun juga punya keluarga, jadi tak asal bunuh, selalu memberi tenggang, dan memberi waktu buat dia untuk berpikir jernih, tapi kadang orang yang sudah di pengaruhi setan, akan membabi buta. Segala permasalahan harus sebijak mungkin menyelesaikan, dan aku juga manusia biasa kadang juga marah jika orang yang sudah keterlaluan, melakukan kemungkaran sudah sangat terlalu, merusak banyak orang, ingat ini hanya cerita, jadi bacalah dengan santai. Jangan terlalu tegang terbawa alur ceritanya. Semoga saja permasalahan di sekolah MTS Walisongo segera selesai.

Ada kejadian lagi di sekolah Safi’i Akrom, karena sekolah banyak di tambah ruangnya, sehingga banyak bangunan yang harus di bangun, untuk menambah ruang sekolah yang masih kurang karena bertambahnya siswa. Sehingga dibutuhkan membuka lahan baru, dan harus memotong pohon, dan tanpa disadari di pohon itu ada sekerajaan jin. Tentu saja banyak siswa yang dirasuki.

Jadi perlu di ingat, kita ini berdampingan dengan jin, walau dengan dimensi dan alam berbeda, tapi kita ini berdampingan, jadi bisa saja siapa saja, akan bisa dirasuki jin tanpa diri sendiri merasa, bisa siapa saja, belum lagi karena belajar keilmuan yang melenceng kita akan mudah dirasuki jin, yang jelas jin itu kalau selalu di dalam tubuh manusia jelas akan mengganggu manusia, karena mereka tak seharusnya di dalam tubuh manusia.

Anak perempuan yang dibawa ke rumahku ini juga kesehariannya biasa saja, tak ada yang aneh, juga secara tingkah laku juga tak aneh sama sekali, sama sebagaimana anak perempuan lain, namun ketika dibawa ke rumahku ternyata di dalam tubuhnya ada ribuan macan, yang pindahan dari sekolahnya. Semua macan mengamuk ketika akan ku keluarkan, dan berusaha menyerangku, lalu ku panggil pemimpinnya, yang datang malah ratunya, dan ketika adu kekuatan denganku dia menyerah dan mau masuk Islam, tapi rajanya dan anak buahnya tak mau masuk Islam, dan lebih memilih melawanku, maka aku dikeroyok ribuan macan, karena melayani mereka aku lelah sendiri, walau banyak jin yang mati, sempat juga aku kena cakar, akhirnya ku buat latihan muridku, dan menemukan metode-metode baru mengeluarkan jin, sampai akhirnya ratunya sendiri yang datang, dan mengeluarkan satu persatu anak buahnya dari tubuh anak yang kerasukan, setidaknya itu membantu tugasku. Malah berlanjut pada ratu mau mengobati orang yang hadir di majlis, ya sedikit ada manfaatnya. Cuma sayang dia tak mau berkomunikasi, hanya diam saja. Sambil melakukan gerakan-gerakan mengobati orang. Aneh juga.

Setelah kerajaan Samudra laut selatan ku taklukan, laut menjadi kosong, dan ku perintahkan Ratu pantai selatan memimpin, ku coba melihat Aisyah, aneh nyai Ratu pantai selatan tak ada di singgasana laut, maka ku panggil beliau. Sebentar sudah masuk ke tubuh mediator, dan mengucapkan salam, sambil tangannya di taruh di dada menghormat.

“Ada apa kyai memanggil saya?”.
“Nyai ratu, kok nyai tak terlihat duduk di singgasana samudra selatan, kenapa tetap di pantai selatan?”.
“Ampun saya kyai, saya tak kuat duduk di singgasana laut selatan”.
“Kenapa?”.
“Bagi saya amat berat kyai”.
“Ku beri kekuatan tambahan ya?”.
“Iya kyai”.

Lalu ku salurkan energi ke tubuh nyai Ratu laut selatan.

“Bagaimana sekarang? Apa siap?”.
“Insya Allah kyai, doakan saya mampu menjaga amanah ini”.
“Silahkan nyai Ratu berangkat ke laut selatan”.

Nyai Ratu pantai selatan segera pergi setelah mengucapkan salam dengan menghormat sebagaimana biasanya. Setelah dua hari menaklukan laut selatan, kok gunung merapi meletus, dengan letusan intensitas ringan, dan tanpa terjadinya tanda-tanda sebelumnya. Aku tak perduli, dan tidak membaca berita kecuali setelah teman-teman memberitahu, aku juga tak menduga itu ada hubungannya dengan apa yang ku lakukan.

“Kyai. Ki Semar ayahnya Permono marah kyai” kata Aisyah di waktu sore.
“Ki Semar siapa nduk?”.
“Ki Semar itu ya ayahnya Permono, Permono itu penguasa gunung Merapi kyai, Permono itu yang menjadi kusir kereta kencananya nyai Roro Kidul kyai” jelas Aisyah.

Wah baru tahu aku, memang aku sendiri tak perduli dengan siapa jadi penguasa mana, karena sama sekali tak ada urusannya.

“Oh jadi gunung Merapi itu ada penguasanya to nduk?”.
“Ya kyai, yang jadi penguasanya itu Permono, nah karena kyai melempar nyai Roro Kidul ke neraka, maka ki Semar marah, dan di bawah sekali di dalam merapi dia menggerakkan anak buahnya untuk membakar lahar dan meledakkan merapi”.
“Wah kok ada kejadian seperti itu, berarti Merapi itu sebenarnya bisa dikendalikan ledakannya?”.
“Iya lah kyai, kan di dalam ada para jin yang bekerja membakar lahar, panas itu kan tidak bisa menyala kalau tidak ada yang menaruh sesuatu yang bisa menyala mencampurnya menjadi lahar yang panas, dengan komposisi yang pas, kyai kan tahu sendiri, masak nasi kalau kurang air, nasinya tak akan matang, nyalakan kompor tanpa bahan bakar juga tak akan nyala apinya”.

“Oh ya, ya, jadi di dalamnya ada jinnya pada bekerja?”.
“Iya kyai, banyak jin yang bekerja”.
“Wah jadi meletusnya Merapi kemarin itu juga ada yang melakukannya?”.
“Ya begitulah kyai, sebenarnya gunung-gunung juga semua begitu, jika tidak di bakar di bawah juga tak akan meledak, dan hanya akan menjadi gunung yang dijadikan Allah sebagai paku bumi”.
“Wah makin banyak pengetahuanku, rasanya makin banyak yang belum ku ketahui, terus nyai Blorong itu, tuan mana dan sakti mana dengan nyai Roro Kidul?”.
“Ya saktian nyai Blorong lah kyai, kan nyai Roro Kidul itu yang menjadikan ratu di samudra selatan adalah nyai Blorong” jelas Aisyah.
“Lhoh kok dalam cerita yang sering ku baca, kalau nyai Blorong itu anak angkat nyai Roro Kidul?”.
“Ah ya gak lah kyai, kan nyai Blorong itu lebih tua dari nyai Roro Kidul, nyai Roro Kidul itu yang mengangkat jadi ratu samudera ya nyai Blorong”.
“Wah bingung aku soal gaib begini, lalu”.
“Lalu apa pak kyai?”.
“Lalu nyai Blorong itu Islam bukan?”.
“Nyai Blorong itu bukan Islam, dulu pernah menjadi Islam, tapi murtad, lalu dia menjadi sumber segala ilmu hitam, dan juga yang dijadikan memberikan pesugihan”.
“Oh begitu”.
“Ya kyai”.

“Bagaimana kalau ku hancurkan nyai Blorong? Apa ilmuku mampu”.
“Ya jelas nyai Blorong kalah kalau melawan kyai, tapi”.
“Tapi kenapa?”.
“Tapi kyai apa siap dikeroyok semua dukun ilmu hitam seluruh Indonesia? Misal kyai mampu, bagaimana dengan anak istri kyai, bagaimana dengan Aisyah?”.
“Ya, ya, lalu bagaimana dengan ki Semar? Siapa dia?”.
“Dia awalnya dari jin di atas angin, di planet lain kyai, yang turun ke sini, dan kemudian jadi menakluk pada nyai Ratu kidul, dan diserahi untuk menguasai gunung Merapi”.
“Oh begitu rupanya?”.
“Menurut cerita itu nyai Roro Kidul itu nikah sama Senopati? Apa benar begitu?”.
“Ah tidak kyai, itu hanya cerita yang dibuat-buat orang, ya tidaklah, kan kyai sendiri sudah melawan suami nyai Roro Kidul, bukan Senopati”.
“Kata cerita juga nyai Roro Kidul itu dari manusia, apa benar begitu?”.
“Tidak kyai, dia dari bangsa jin”.
“Asli jin”.

“Asli, kan bentuk aslinya ular, cuma dia sering membuat bentuk sebagai perempuan cantik, kayak Aisyah sering menyerupai bentuk wanita cantik, tapi bentuk Aisyah adalah burung dara, atau Dewi Lanjar asli bentuknya ular, tapi sering menyerupai bentuk wanita cantik, itu kan hanya bentuk yang di sukai kyai”.
“Wah makin bingung aku dengan soal gaib, ya sudahlah, memang namanya juga gaib”.
“Kyai, ada yang melarang Aisyah”.
“Melarang Aisyah untuk apa?”.
“Untuk banyak bercerita soal dunia jin yang sesungguhnya pada kyai”.
“Siapa yang melarang nduk?” kadang risih juga memanggil Aisyah dengan panggilan nduk, padahal Aisyah itu sudah ada sebelum kakek nenekku ada, karena dia sudah berumur ratusan tahun, tapi kalau melihat lagak lugunya yang secara manusia berumur manusia 20-an tahun, maka dengan sendirinya aku memanggil nduk, padahal umurnya sudah 300-400 tahunan. Makin aneh saja.

“Yang melarang tak tahu pak kyai”.
“Oh ya tadi ki Semar bagaimana?”.
“Apa kyai mau menariknya?”.
“Ya”.
“Silahkan kyai”.

Aku segera menarik ki Semar ku masukkan ke tubuh mediator.

“Apa ini ki Semar?”.
“Ya, hm”.
“Apa ki Semar yang membuat gunung Merapi meletus?”.
“Iya, hm kamu yang melempar nyai Roro ke neraka”.
“Iya aku yang melemparkan”.
“Hm” ki Semar pasang kuda-kuda mau menyerangku.
“Aku lagi malas bertarung ki, kalau ki Semar memaksa, maka akan ku lempar ke neraka” jelasku disertai ancaman, tapi ki Semar tetap menyerangku. Maka ku pegang kepalanya, dan ku tarik ruhnya ku lemparkan ke neraka.

Permono pun datang tanpa bilang ba-bi-bu langsung menyerangku setelah masuk ke mediator, maka tanpa peringatan juga, ku tangkap dan ku lemparkan ke neraka.

“Sudah” suara Aisyah.
“Sudah apa Aisyah?”.
“Sudah wassalam semua, semua mati, pak kyai kalau marah galak ya. Aisyah jadi takut, tubuh pak kyai diliputi cahaya dari neraka, hii takut, hawanya malaikat maut sama hawanya malaikat Malik penguasa neraka nyatu, hii Aisyah takut sekali kyai, kalau kyai marah”.
“Kyai kan gak marah sama Aisyah”.

Makin hari, makin banyak jin dari segala penjuru yang datang ingin masuk Islam, ada yang datang sendiri-sendiri, ada yang datang bergerombol, ada serombongan sebanyak ratusan ribu jin, ada juga berombongan jin berbentuk kera putih, yang berombongan sebanyak ratusan ribu, mengakunya lewat menulis di kertas, mereka dari langit ke empat, ah tak tahu juga, semuanya tak bisa bicara, hanya ha-hu-ha-hu. Setelah ku Islamkan, mereka ku suruh tinggal bersama Dewi Lanjar, yang memang sudah ku pesan sebelumnya kalau ada jin yang masuk Islam, akan ku kirim ke sana, karena tempatku sudah penuh.

Sementara itu Sengkuni makin gencar saja serangannya, karena menangkap Aisyah berulang kali gagal, maka dia memakai strategi lain, dia memakai jurus pelet jaran goyang, yang di pelet adalah mbaknya Yaya, yang biasa ku pakai mediumisasi Aisyah, mbaknya Yaya merasa rindu dan ingin bertemu Sengkuni, siang malam yang dibicarakan ingin ke tempatnya Sengkuni di Surabaya, dan ingin bersama Sengkuni, dan membawa Yaya, untuk diserahkan Sengkuni. Sama suaminya lalu dibawa ke rumahku.

“Ini bagaimana mas, ini istri saya mau terus ketemu Sengkuni” kata kang Slamet.
“Di tempel saja kang, biar jinnya bangkit” jelasku.

Maka kang Slamet segera menempel tubuhnya mbak Sun, agar jinnya bangkit.

“Ampun panas, ampun panas” kata jin dalam tubuhnya mbak Sun.
“Siapa, dari mana, dan perintahan siapa?”.

Si jin diam, dan tak bicara.

“Aisyah”.
“Iya pak kyai”.
“Ayo Aisyah melatih cambuk api yang kyai berikan pada Aisyah. Cambuk jin itu yang ada di tubuhnya mbak Sun”.
“Iya kyai”.

Aisyah segera mengeluarkan cambuk sesuai kunci mengeluarkan cambuk api yang ku ajarkan, dan mulai mencambuk jin yang ada di tubuh mbak Sun.

loading...

“Aduh ampun, panas, panas! Iya, iya aku mengaku. Aku jangan di cambuk lagi”.
“Jawab pertanyaanku tadi”.
“Aku di perintah Sengkuni”.
“Siapa dukunnya?”.
“Dukunnya adiknya sendiri, yang ada di Surabaya, yang tinggalnya dekat tugu”.
“Di perintah apa?”.
“Di perintah mempengaruhi perempuan ini, agar mau membawa adiknya menghadapnya, nanti mau di bunuh, agar tak bisa membantumu”.
“Kamu dari mana?”.
“Aku dari Alas Roban, aku saudaranya jin yang mencuri ilmunya Aisyah itu”.
“Ha jadi kamu saudaranya dia?”.
“Ya”.

“Di mana sekarang saudaramu? Coba panggil kesini”.
“Saudara saya sedang sakit kyai, dia ada di Alas Roban”.
“Panggil kesini”.
“Hm, panggil kesini, sakit juga panggil kesini”.
“Ya akan saya panggil”.

Sebentar kemudian jin yang di panggil datang.

“Kamu yang mencuri ilmunya Aisyah dulu”.
“Iya, ampun kyai”.
“Hm, aku akan cabut nyawamu, atas kelancanganmu mengambil ilmu aisyah”.
“Ampun kyai”.

Aku lalu berdoa pada Allah agar nyawa jin ini di cabut dan alhamdulillah Allah mengabulkan, dan nyawa jin itu pun tercabut dan dilempar ke neraka. Kembali yang muncul jin yang tadi di kirim Sengkuni.

“Ampun kyai saya jangan dimatikan”.
“Dengan ilmu apa Sengkuni mengirimmu?”.
“Dengan ilmu jarang goyang, ilmu pelet”.
“Apa dia bisa ilmu pelet?”.
“Tidak kyai, dia membayar dukun, dan menyuruh adiknya”.
“Memang adiknya bisa?”.
“Sengkuni itu mencari ilmu sebanyaknya di Banten, dan yang di suruh mengamalkan adiknya, dia juga banyak meminta ilmu pada kyai Cilik lalu diberikan pada adiknya untuk di amalkan, cuma kemudian di amalkan dengan cara sesat”.
“Bagaimana kamu keluar sendiri?”.
“Ya saya mau keluar sendiri, tapi saya ingin di Islamkan sama kyai”.
“Baik tirukan saya membaca dua kalimat sahadat. Ada berapa temanmu di dalam yang di suruh Sengkuni?”.
“Ada tiga kyai”.
“Apa semua mau masuk Islam?”.
“Ya kyai”.
“Suruh semua menirukan ucapanku”.

Maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat sahadat. Ingat cerita yang ku tulis tanpa pakem cerita, atau mengekor pada cerita siapa saja, ku tulis hanya sekedar pengalaman, bisa saja benar, dan juga bisa saja salah, jadi apa yang terjadi pada cerita ini bisa saja tak sama dengan cerita siapa saja, karena bukan meniru, atau mengekor pada cerita siapa saja atau cerita yang sudah menjadi mitos.

Ini hanya kejadian yang ku alami, yang lantas ku tulis menjadi satu kisah, malah cenderung yang ku anggap kok terlalu di luar nalar, aku memilihnya tak ku tulis saja, dari pada nantinya menjadi polemik, karena ketidak percayaan orang dan menjadi perdebatan panjang, apa yang ku tulis ini yang ku anggap masih dalam kepatutan untuk dikisahkan, jadi masih banyak yang belum dan tak ku tulis, yang akan menjadi konsumsi pribadiku, semoga apa yang ku tulis ini bisa membawa manfaat, dan yang membaca tak bosan dengan tulisan-tulisanku.

Dan maaf jika ada salah kata dan tulisan selama ini, yang mungkin bahasa yang ku pakai tanpa adanya aturan bahasa yang benar, dan cenderung ku tulis dengan tulisan apa adanya. Karena juga tulisan ini ku tulis di saat-saat waktu luangku. Jadi kadang ceritanya gak nyambung antara satu yang lainnya, endingnya tak jelas, sebab bukan kisah yang dengan memakai sutradara, ini hanya kejadian keseharian, tak ada yang hebat, karena setiap orang pasti juga punya kisah hariannya, asal orang itu hidup, pasti tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, pasti punya kisah, mungkin kisahnya lebih dahsyat dariku dan kisahku ini masih berlanjut.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 80.

Whatsapp: 0852 1406 0632
Whatsapp: 0822 3243 7363