Kisah Sang kyai Guru Bagian 8 - 374 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 7. Kalau Dokter di panggil berkali-kali tapi tak ada perubahan pada penyakitku, semua makanan yang ku telan, ku muntahkan kembali, lalu siapa lagi yang ku harapkan mengobatiku. Kalau orang lain sakit, begitu mudahnya aku memberi solusi, tapi ketika aku sendiri yang sakit, ah memang berat kalau kita mengalami sendiri, seperti teman yang sakit gigi, lalu kita melihat, ah sakit gigi gitu saja merengek-rengek, eh, setelah kita yang sakit gigi, maka kita mengaduh lebih dari teman kita. Keadaanku makin kritis, aku sudah sering mengigau, mataku membalik, tinggal kelihatan putihnya saja, ibuku tiap hari menungguiku dengan sabar, mengompresku, tidur di sampingku, ku dengar ayahku marah-marah.

“Ini karena sering bermain dengan jin, jadi dapat balasannya, mungkin anaknya jin yang dia tawan atau bunuh, telah membalasnya”. Ya begitulah ayahku, selalu menyalahkanku, seakan aku berdiri salah, duduk juga salah, bahkan aku mungkin setahun ngomong dengan ayahku bisa di hitung dengan jari, tapi memang harus begitu satu sisi ada yang selalu menyayangiku yaitu ibuku, juga ada yang selalu ada yang menyalahkanku yaitu ayahku, jadi aku ada kendali kadang melaju, kadang juga berhenti, jadi tak manja. Walau ayahku selalu bersikap seperti itu, aku tetap mencintainya, karena tak ada ayah yang ingin anaknya sengsara, jadi maksud ayahku itu demi kebaikanku juga.

Malam telah larut, mungkin saat itu jam dua dini hari, aku mendengar ada suara memanggilku, menyuruhku bangun, dan kubuka mata, kulirik ibuku masih tidur miring di sebelahku. Ah, lalu siapa yang tadi membangunkanku? Aku mau memejamkan mata lagi, terdengar jelas di sampingku.

“Iyan bangun ngger!” karena suara itu kudengar di samping kiriku, aku pun membuka mata, dan mencoba menengok orang itu dengan leher yang sakit, ngilu.

Aku heran ada lelaki teramat tua duduk di sampingku, tersenyum, dan senyumnya terasa mendamaikanku. Wajah lelaki itu lembut seperti bayi, dan ada cahaya kuning tipis menyelimuti, sejuk di pandang seperti matahari mau tenggelam. Juga memancarkan wibawa yang menyilaukan, alis orang tua itu tebal melengkung indah, kedua matanya bening lembut memandangku, seakan-akan menembus sampai dasar hatiku.

Hidungnya mancung, seperti hidung orang-orang Arab, kumis dan jenggotnya tebal memutih, namun terawat rapi, ikat kepalanya seperti gambar di wali-wali songo. Berwarna putih juga bajunya berwarna putih.

“Siapakah tuan?” tanyaku.
“Apakah tuan yang akan mencabut nyawaku? Baiklah aku sudah siap” lalu ku pejamkan mata dan melafadkan dua kalimat sahadah.
“Anak baik, aku bukan malaikat yang akan mencabut nyawamu, Allah mencintai orang-orang yang bertaubat” kata lelaki itu lemah lembut.
“Lalu siapakah tuan ini?” tanyaku, kembali membuka mata.
“Ngger, aku Abdul kadir”.

Gemuruh rasa dadaku, takdim, takut, cinta, rindu, semua teraduk dalam dadaku, bagaimana tidak, manusia yang ku cintai ku kagumi akan amaliahnya, ku yakini akan karomahnya, selalu ku kirimi fatihah, karena bersyukur atas ilmunya, sekarang ada di depanku, aku mencoba bangun tapi tak kuasa, tubuhku terlampau lemah.

“Sudah ngger, tak usah bangun, kau sedang sakit, biar aku mencoba menyembuhkanmu,” tangan Syaih di ulurkan ke atas tubuhku, aku seperti merasakan hawa damai tiada tara, ku dengar letupan kecil halus, dari dalam tubuhku, dan semua sakitku serasa hilang tak tahu entah kemana, tubuhku nikmat, ringan, dan seketika aku bersujud mencium tangannya, menumpahkan cintaku, rinduku.

“Sudah ngger, sebaiknya engkau jangan memberikan pertolongan di atas kemampuanmu, sempurnakanlah ilmumu, nanti nabi Isa alaihi salam akan mengajarkan ilmu pengobatan padamu, sebagaimana dia mengajarkan kepada Kyaimu, aku pergi ngger” terdengar suara salam, dan tangan yang ku pegang telah hilang, meninggalkan bau harum yang tiada tara.

Aku segera menuju kamar mandi mengambil air wudhu dan menjalankan shalat dua rakaat, kemudian melakukan sujud syukur. Ibuku terbangun, melihatku sedang shalat, setelah aku selesai, dia bertanya.

“Lho sudah sembuh to nang?”.
“Alhamdulillah sudah bu”.
“Wah bau apa ini nang kok wangi sekali? Kamu makai minyak apa nang, kok baunya harum?” kata ibu sambil hidungnya kembang kempis lucu.
“Jangan-jangan, ah tak mungkin, dulu aku juga mencium bau harum seperti ini waktu kakekmu meninggal, tapi kau kulihat sehat, seperti tak sakit lagi?” wajahnya kuatir.
“Ah, ibu jangan berpikir yang aneh-aneh”.

Besoknya aku pun kembali ke pesantren, naik bus malam Pahala Kencana. Ibuku sebenarnya tak mengijinkanku kembali dulu ke pesantren, tapi aku memaksa, karena rinduku kepada Kyai. Sekarang aku telah berada dalam bus yang melaju tak terlalu cepat, karena hujan mengguyur deras di setiap perjalanan.

Penumpang dalam bus tak terlalu banyak mungkin sekitar dua belasan orang, karena bus ini nantinya mengambil penumpang di agen-agen penjualan tiket di setiap perjalanan, aku duduk di tengah sebelah kiri bus. Dan dari pada melamun, aku selalu membaca wirid di setiap perjalananku. Bus melaju kadang oleng kanan kiri, ketika rodanya masuk ke jalan yang berlubang dan penuh genangan air hujan, sehingga air di kubangan muncrat menyiram para pejalan kaki atau pengendara motor, pasti terdengar jiancok, atau jiamput, sumpahan khas, ah mengapa tak subhanallah.

Entahlah, di daerah Lasem bus berhenti di agen penjualan tiket, para penjual makanan segera masuk menyerbu, takut pembelinya kedahuluan penjual lain, kulihat pembeli tua melangkah pelan, menawarkan dagangan, ku lihat makanan kesukaanku, yaitu jagung muda yang di parut kemudian di uleg dengan bumbu di kasih telur lalu di goreng, di makan dengan cabe, huh enak sekali, di daerahku makanan itu namanya pelas.

“Berapa nek?”
“Tiga ribu nak” ku keluarkan uang tiga ribuan, nenek itu menerimanya dengan jari gemetar.
“Nenek sakit?” tanyaku. Perempuan itu mengangguk.

Ku keluarkan uang dua ratusan ribu, lalu ku jejalkan di telapak tangannya, mungkin uangku ini lebih berguna di tangan nenek ini dari pada di tanganku, ini adalah uang gajiku melukis di rumah makan. Lumayanlah dua minggu aku mendapat tiga jutaan. Nenek itu terkejut.

Tapi aku segera berkata, ”sudahlah nek, tak usah terima kasih, sekarang nenek tak usah kerja, nenek pulang, dan uang itu untuk membeli obat, sana nenek turun, terus pulang”. Nenek itu menuruti kata-kataku kemudian dia turun, sampai di bawah kulihat dia melihat uang yang kuberikan. Lalu menatapku dari bawah dan air matanya berkaca-kaca. Kulihat dia mengangkat kedua tangannya berdoa. Sementara aku mulai menikmati apa yang ku beli.

Beberapa penumpang naik, dan juga dua penumpang pasangan setengah tua, ku perkirakan umurnya lima puluh tahunan, setelah mencari-cari nomor kursi ternyata yang lelaki duduknya di sebelahku, sementara yang perempuan di kursi dua kursi deretan sebelah kanan arah depan kursiku. Bus pun melaju, jam butut di tanganku telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Tiba-tiba perempuan istri lelaki di sampingku, bangkit dari kursi dan berjalan ketempat aku duduk.

“Nak, bisa enggak kita gantian tempat duduk, biar saya duduk di sebelah suami saya, dan anak duduk di kursi saya”.
“Oh nggak apa-apa bu, silahkan, silahkan” kataku segera memberesi tas dan barangku. Untuk pindah tempat duduk.

Aku segera pindah tempat duduk yang di tempati perempuan tua itu. Oh rupanya disitu ada penumpangnya, seorang gadis berjilbab, cantik? Entah aku belum melihat wajahnya, aku mengucap permisi lalu duduk, menempatkan tasku, di tempat yang aman. Nah, saat mengucap permisi itulah gadis itu menengokku dan mempersilahkanku, kulihat wajahnya terkejut melihatku, tapi aku duduk saja.

Terus terang aku orangnya tertutup, walau ada gadis di sampingku cantiknya sundul langit, aku tak akan bertanya, juga tak akan mengganggu. Kecuali di tanya. Walau dalam hati dag-dig-dug, tak karuan, ya namanya tetap juga manusia, ketertarikan lelaki pada wanita, wajar saja, tapi aku bukan tipe lelaki yang petentang-petenteng membawa pedang asmara, lalu kalau ketemu gadis ayu, menusukkan pedang ke dadanya, dan memberikan serangan rayuan yang berbunga-bunga, ah aku hanya pemuda dingin, kadang aku sendiri merasa kedinginan, tapi mungkin karena rambutku panjang anting ada di telinga, jadi orang lebih mengira aku ini anak nakal. Untuk beberapa saat kami terdiam, sampai gadis itu bertanya padaku.

“Mau kemana mas?” pertanyaan yang wajar, tak wajar kalau dia bertanya mau makan apa mas? Sebab ini dalam bus bukan dalam warung.

“Mau ke Jakarta” jawabku juga wajar, kalau ku jawab ke Surabaya, tentu aku makin jauh, sebab bus ini menuju ke barat. Kulihat gadis itu, ah pasti waktu mau bertanya padaku tadi dia berusaha mati-matian membasahi bibirnya. Sebab kulihat bibirnya basah sekali, seperti di kasih madu. Rasanya pasti… ah setan, menggoda saja.

“Mbak sendiri mau kemana?” tanyaku sambil melihat hidung mungilnya yang seperti cabe merah besar.
“Sama mau ke Jakarta”.
“Oh, kalau begitu bisa sama-sama dong” kataku, ah kenapa dialognya tak bermutu begini, tapi di teruskan juga.
“Boleh kenalan mas? Nama saya Rosalia” cewek itu mengulurkan jemarinya yang lentik halus.

Oh Tuhan maafkan aku, sebenarnya aku tak boleh menyentuh tangannya, tapi kalau aku tak menyentuhnya, aku rugi nantinya.

“Iyan, Febrian.”
“Ah, tak salah dugaanku, pasti mas orangnya, benar-benar tak nyangka”.

Tiba-tiba gadis ini girang bukan main, dan tanganku, di tariknya di tempel ke pipinya yang putih kemerahan, aku buru-buru menarik tanganku, takutnya di gigit.

“Ah, mbak pasti salah orang” kataku takut, jangan-jangan maniak xxx, wah kalau di perkosa, aku bisa tak perjaka lagi.
“Tak mungkin salah, aku begitu lama menyanjungmu, begitu merindumu, memujamu, tak akan pernah salah mengenali dirimu”.

Dia mengatakan bersemangat sampai air liurnya muncrat kemana-mana, apa mungkin dia ngiler ya ngelihat aku?

“Dulu aku berpikir apakah engkau itu benar-benar nyata? Ternyata engkau benar-benar nyata” tangannya yang halus membelai pundakku. Ah sial aku jadi merinding, mengapa jadi serumit ini.
“Benar mbak ini salah orang, nanti mbak menyesal”.
“Bagaimana aku akan salah orang, fotomu saja selalu ku bawa” katanya sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah majalah, dan kliping tulisan dan fotoku.

Aduh, aduh, rupanya ini penggemarku, yang begitu memujaku, memang dulu aku aktif menulis di berbagai majalah. Tapi itu sudah lama aku fakum, kenapa penggemarnya masih ada? Kulihat foto yang di tunjukan, dari pertama aku menulis di majalah Jawa penyebar semangat, sampai majalah Anita, dan majalah Alkisah. Ah benar-benar deh aku tak nyangka akan ada yang mengidolakan aku.

“Benar kan ini mas Ian?” tanyanya, matanya yang seperti artis Jeklin itu menyelidik.

loading...

Dan aku mengangguk. Aku tak kuasa ketika lenganku tiba-tiba di rengkuh dalam pelukannya.

“Mas, aku telah mencoba menjadi gadis idamanmu, aku yang sebelumnya tak berjilbab, sekarang telah berjilbab, lihatlah mas. Apakah aku kelihatan cantik, aku siap menjadi pacarmu bahkan istrimu” wah aku bertemu dengan penggemar yang tak bisa membedakan dunia fiksi dan dunia nyata, ah aku harus bisa lepas dan melepaskan dia dari dunia hayalnya. Ah semakin sulit saja.

“Mas, em aku boleh ya minta ciumnya” wah semakin ngawur saja, kalau aku tinggalkan gadis ini, ah betapa tak bertanggung jawabnya aku atas cerita fiktif yang ku buat. Aku berusaha menenangkan diri.
“Eh, gini ya dek Rosa, soal cium itu nanti mudah deh. Waktu kita kan masih panjang, jadi baiknya kita ngobrol dulu, jadi pasangan kan harus mengenal lebih jauh calon pasangannya?” kataku mencoba setenang mungkin.
“Dek Ros, asli orang Jakarta ya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, sambil mencari akal untuk keluar dari krisis multidimensi, ah di besar-besarkan saja.

“Iya mas, aku dari Cipinang Muara” katanya kemudian menggelayut, merebahkan kepalanya di pundakku, ah bisa gawat nih, suara dadaku makin bergeladukan saja.
“Terus tadinya dek Ros ini dari mana?” tanyaku mencoba mengusir keinginan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Ih, mas Ian ini, kayak tak tahu saja, kan dalam novel itu wanita pujaan mas, mondok di pesantren, jadi saya ya jelas dari pondok pesantren, dari nama pondok, desanya, kotanya dah aku cocokin semua, aku akan menjadi gadis yang mas Ian inginkan”.

Wah sudah sejauh itu? Waduh makin kacau saja. Ruwet, ruwet, walau bus ini ber-AC keringat tak urung membasahi punggungku. AC dalam bus hanya mengeringkan keringat yang ada di wajahku. Tapi tak mengeringkan keringat di dalam bajuku. Sementara gadis di sampingku yang masih memeluk tangan kananku dan kepalanya rebah di pundakku, tertidur. Ah aku mungkin tak bisa menyelesaikan masalah ini, biarlah aku berserah, pada penyelesaian Tuhan. Maka akupun membaca wirid dan mencoba tidur.

Aku berharap setelah tidur gadis ini tak ada, atau masalah ini hanya mimpi saja, bagiku terlampau sulit untuk mencari jalan keluarnya. Aku benar-benar tak menyangka hanya karena cerita fiktif, bisa menimbulkan masalah sebegini peliknya. Setelah wirid dan hatiku tenang maka aku pun tertidur. Malam mulai merambat, dan gadis di sampingku masih lelap dalam tidurnya, lagu Setasiun Balapan mengalun dari speaker mendayu-mendayu, di susul lagu Sri Minggat, lagu Jawa itu kadang membuatku sedikit tertawa, tapi aku segera memejamkan mata lagi. Ingin sedapat mungkin berlari dari kenyataan ini, sampai besok saja sampai aku terlepas dari gadis di sampingku ini.

Ah kenapa begitu susahnya, dadaku terasa sesak akan himpitan, aku segera memenuhi illalloh, ku ulang-ulang untuk mencari pegangan atas kegelapan yang mulai membutakan mata hati, ya Allah lindungi aku dari kenistaan nafsu, dan segala macam tipu dayanya. Aku telah tertidur lagi dengan lelap. Sampai kurasakan ada tangan menepuk pundak kiriku.
Tepukan itu kurasakan keras, jadi tak mungkin aku bermimpi. Aku tengak tengok, semua penumpang tertidur, lalu siapa yang menepuk pundakku? Ku menengok ke kanan kiri ingin tahu bus ini sampai di mana, dan betapa terkejutnya aku ketika kulihat ke sebelah kiri bus.

Bus ini sedang membelok ke kiri, dan di sebelah kiri ada warung tepi jalan yang kayu gentengnya menjorok ke jalan, sehingga kalau bus terus membelok tak di ragukan lagi kaca kirinya akan menghantam kayu warung itu. “Stop!” aku menjerit sekencangnya. Sampai gadis di sampingku melonjak kaget bukan alang kepalang. Tapi rupanya supir bus tak memperdulikanku, mungkin mengira aku sedang mengigau. Dan tak bisa di elakkan lagi. “Duar, kratakkkreek, tar, tar!” suara kaca bus sebelah kiri pecah berhamburan. Jerit penumpang ramai, juga jerit mengaduh dari penumpang yang terkena pecahan kaca.

“Stop” suara ku keraskan untuk mengalahkan ribut suara panik penumpang, karena aku takut sopir bus akan memundurkan busnya, tapi kekawatiranku langsung terjawab, mungkin karena paniknya sopir, bus pun di mundurkan ke belakang, “dar, tarrk, kkrrk” kembali terdengar, kaca bus yang tadi menghantam kayu pojok warung dan kayu yang masuk ke dalam bus begitu saja menyapu kaca yang tersisa dan masih menempel karena scotlet bening melapisi kaca. Terdengar lagi jerit penumpang. Sekarang semua orang meminta bus berhenti.

Para penumpang berebut turun, kulihat tiga kotak kaca bobol pecah tak karuan, banyak orang terluka wajahnya karena terkena pecahan kaca, termasuk suami istri yang sekarang menempati kursi yang tadinya kududuki, dan mereka berdua lukanya paling parah, sehingga harus di bawa ke rumah sakit. Seandainya aku yang masih duduk disitu, apa jadinya aku? Tuhan mempunyai rencana tuk menyelamatkanku, aku tak membayangkan bagaimana seandainya aku ngotot tak mau pindah tempat duduk, walau aku mendapatkan cobaan gadis yang duduk di sampingku.

Ah, mana gadis tadi? Aku tak melihatnya, ah kenapa aku harus mencarinya? Bukankah dari rumah awalnya juga berangkat sendiri-sendiri, aku membetulkan letak tas punggungku, ketika dua bus cadangan datang untuk menampung penumpang, aku segera masuk ke dalam satu bus, dan mencari kursi yang masih kosong, karena bus ini telah terisi penumpang. Bus yang ku tumpangi pun melaju lagi, para penumpang ramai membicarakan kecelakaan yang terjadi.

Jam tangan bututku ku lirik, menunjukan jam sepuluh seperempat. Aku menyandarkan tubuh di kursi dan menempatkan badan senyaman mungkin lalu biasa memulai wiridku. Ah rupanya kecelakaan tadi jawaban atas doaku agar aku selamat dari gadis yang mati-matian mengidolakanku. Entahlah? Aku pun tertidur, sampai bus berhenti di rumah makan. Aku segera turun menyusul penumpang yang lain. Ku baca tulisan di rumah makan itu Nikki Subang, kiranya telah sampai di Subang.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 9.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632